Jump to content


Most Liked Content


#800974 Arti Ayah di Kehidupanmu

Posted by TjaoXiuLing on 11 August 2014 - 03:40 PM

Bagi seorang yang sudah dewasa yang sedang jauh dari orangtua, akan sering merasa kangen dengan mamanya.

 

Bagaimana dengan ayah????

 Mungkin karena mama lebih sering nelpon untuk menanyakan keadaanmu

 

Tapi taukah kamu,

Jika ternyata ayah lah yang mengingatkan mama untuk meneleponmu?

 

Saat kecil,

Mamalah yang sering mendongeng, Tapi taukah kamu bahwa sepulang ayah bekerja dengan wajah lelah, beliau selalu menanyakan pada mama, apa yang kamu lakukan seharian??

 

Saat kamu batuk dan pilek, ayah kadang membentak ”Sudah dibilang jangan minum es!!”

 

Tapi taukah kamu bahwa ayah khawatir??

 

Ketika kamu remaja, kamu menuntut untuk dapat izin keluar malam, ayah dengan tegas berkata “Tidak Bolehhh!!!”

 

 

Sadarkah kamu bahwa ayah ingin menjagamu??

Karna bagi ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat berharga, Ayah pun melonggarkan peraturannya. Kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

 Maka yang dilakukan ayah adalah menunggu di ruang tamu dengan sangat khawatir,

 

Ketika kamu dewasa dan harus kuliah di kota lain, ayah harus melepasmu.

Tahukah kamu bahwa ayah terasa kaku untuk memelukmu??

 

Dan ayah sangat ingin menangis, di saat kamu memerlukan ini-itu, untuk keperluan sekolahmu, ayah hanya mengernyitkan dahi, tapi tanpa menolak beliau memenuhinya.

Ayah sangat menyayangimu, tetapi seorang ayah sulit mengungkapkan dalam perbuatan dan perkataan seperti ibu…

 

Sampai ketika teman pasangamu datang untuk meminta izin mengambilmu dari ayah

Ayah akan sangat berhati-hati  dalam memberi izin

 

Dan akhirnya,,

Saat ayah mellihatmu duduk dipelaminan bersama seseorang yang dianggapnya pantas, Ayahpun tersenyum bahagia..

 

Apa kamu tahu bahwa ayah pergi kebelakang dan menangis??

 Ayah menangis karna ayah sangat bahagia.

“Semoga putra/i kecilku yang manis berbahagia bersama pasangannya”

 

Setelah itu ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk dengan rambut yang memutih dan badan yang tak lagi kuat untuk menjagamu..

 

Love you dad..

Ayahku adalah kekuatanku untuk menjalani hidup ini.

 


  • muni, yan, hadisantoso and 4 others like this


#802888 perdebatan tidak sehat

Posted by djoe on 13 October 2014 - 07:11 PM

Berhubung sering terjadinya perdebatan perdebatan tidak sehat dikarenakan perbedaan pandangan ataupun kesalah pahaman maka melalui postingan ini mengajak agar teman teman menjaga ketertiban dan ketenangan berdiskusi di forum ini.

Dan melalui kesempatan ini juga jika ada salah kata dan perbuatan yg baik disadari atau tidak disadari yg mengakibatkan ketidak tenangan di forum ini sehingga memberi contoh yg tidak bermanfaat selama di forum ini sehingga menimbulkan keresahan di forum ini mohon dimaafkan
  • hadisantoso, The One, yoh***s and 2 others like this


#800976 Terima Kasih Ibu

Posted by TjaoXiuLing on 11 August 2014 - 03:43 PM

Engkau selalu melindungi dan menjagaku

Ketika aku akan dilahirkan

Engkau mempertaruhkan nyawamu

Ketika aku sudah lahir

Engkau merawat dan membesarkanku

Dengan penuh cinta dan kesabaran

Ketika aku masih bayi, Engkau menyusuiku

Engkau selalu menggendongku

Dan aku selalu ada dalam pelukanmu

 

Ibu.....

Ketika aku kedinginan, Engkau menghangatkanku

Ketika aku sedang sakit, Engkau merawatku sampai aku sembuh

Ketika aku belum bisa mandi sendiri, Engkau memandikanku

Ketika aku belum bisa makan sendiri, Engkau menyuapiku

Ketika aku belum bisa membersihkan kotoranku sendiri

Engkau yang membersihkannya

Ketika aku masih kencing dan buang kotoran dicelana

Engkau yang membersihkannya

Ketika aku lapar, Engkau memberikan makanan yang enak untukku

Ketika aku ketakutan dan menangis, Engkau menenangkanku

 

Oh, Ibu... engkau selalu memberikan yang terbaik untukku

Terima kasih ibu...

 

Ketika aku belum bisa berjalan, Engkau mengajariku berjalan

Ketika aku belum bisa berbicara, Engkau mengajariku berbicara

Ketika aku belum bisa menulis, Engkau mengajariku menulis

Ketika aku belum bisa membaca, Engkau mengajariku membaca

Ketika aku berbuat kesalahan, dengan sabar

Engkau selalu menasihatiku

Engkau selalu mengajari dan menyuruhku untuk berbuat baik

Dan selalu menasihatiku supaya menjadi anak yang baik

Oh Ibu.... sungguh, engkau adalah guru pertamaku

 

Di dunia ini hanya ibu yang terbaik

 

Terima kasih ibu.. atas jasa-jasa baik

Yang telah engkau berikan kepadaku

Aku tahu, aku belum bisa membalasa semua jasa-jasa baik ibu

Aku mohon, maafkanlah segala kesalahan-kesalahan

Yang telah anakmu lakukan kepadamu

Ibu..... Aku selalu berdoa,,

Semoga Ibu selalu sehat dan bahagia

 

 

Terima kasih ibu..

 

 


  • golden lotus, yoh***s, tumult077 and 2 others like this


#820047 Konsep dan realitas

Posted by tumult077 on 15 July 2016 - 06:10 PM

Jika senang dgn mimpi dan khayalan silahkan lanjutkan mimpinya,tulisan Einstein pas utk org yg senang bermimpi dan berhayal, karena dalam dunia mimpi dan khayalan apapun bisa mau law attraction , mau imaginasi semua tetaplah dalam mimpi dan khayalan.. karena itu apapun bisa terjadi
  • danny1878, kasina, i mei and 1 other like this


#820026 Konsep dan realitas

Posted by danny1878 on 14 July 2016 - 08:57 PM

Gerald wrote:

Kalo gitu, Albert Einstein termasuk Master-Master Delusif, Master Khayali. Dari yang khayal akhirnya menjadi Hiroshima dan Nagasaki.

Itu dia, Terlalu pinternya mengkonsep. Sampai2 kelewatan, ibarat orang meditasi, memang kita harus berpatokan ada dan tiada itu cuma ilusi, Tapi harus mengenali ciri2 ilusi, yakni tidak permanen, berubah2, ada sebabnya, ada awal-akhirnya. Tapi begitu sampai tingkatnya sang Buddha, Beliau melihat sesuatu yg tidak pernah dilahirkan, tidak dibentukan, tidak memiliki awal dan akhir, tidak berubah rubah, realita actual, realita yg eksis dan bukan konsep, disitulah Beliau berhenti, jadi gak ekstrim spt mereka.

ini Nibbana sutta :

-Ud 8.3
PTS: Ud 80
Nibbāna Sutta: Unbinding (3)

translated from the Pali by
Thanissaro Bhikkhu




"I have heard that on one occasion the Blessed One was staying near Sāvatthī at Jeta's Grove, Anāthapiṇḍika's monastery. And on that occasion the Blessed One was instructing, urging, rousing, & encouraging the monks with Dhamma-talk concerned with unbinding. The monks — receptive, attentive, focusing their entire awareness, lending ear — listened to the Dhamma.
Then, on realizing the significance of that, the Blessed One on that occasion exclaimed:
There is, monks, an unborn[1] — unbecome — unmade — unfabricated. If there were not that unborn — unbecome — unmade — unfabricated, there would not be the case that escape from the born — become — made — fabricated would be discerned. But precisely because there is an unborn — unbecome — unmade — unfabricated, escape from the born — become — made — fabricated is discerned.[2]"

sumber: Tipitaka : Nibbana Sutta (Ud 8.3) - Diterjemahkan oleh Bhikkhu Thanissaro


Gini djoe itu benar, cuma sebatas/hanya untuk pandangan orang biasa yg bergantung pada khandanya.

Tapi kemampuan sang Buddha sudah melampaui semua kualitas/batas/mundane experiencenya manusia, Beliau bisa melihat impermanent nya 33 alam, dan semuanya itu tidak permanen, tapi sang Buddha menemukan sesuatu yg ada, realita actual, realita yg eksis, realita yg tidak tergantung pada sebab, tidak dilahirkan, tidak dibentuk, tidak berubah (permanen) dan timeless(kekal). Yaitu Nibbana-Buddha-Dhatu-State, Jadi kalau kita masih dibentuk, memiliki asal, berubah2, itu masih ilusi. Makanya saya dukung anatta.

Nature yg dilihat kita kita cuma menurut khanda, nature nya sang Buddha itu transcendent (melampaui/melebihi keterbatasan khanda). jadi lain

Efek super konsep "ada & tiada adalah ilusi" itu bisa mempengaruhi meditasi, dan mantra. Paling gampang tes efek mantra. Kalau meditasi biasanya menghilangkan kemampuan batin/supranatural. (cuma pendapat pribadi sih, soalnya gak ada pembanding)
  • golden lotus, kasina, i mei and 1 other like this


#820025 Konsep dan realitas

Posted by tumult077 on 14 July 2016 - 08:48 PM

Gerald wrote:

Imagination (konsep, daya khayal) is everything. It is the preview of life’s coming attractions. (Albert Einstein)

Reality is merely an illusion, albeit a very persistent one. (Albert Einstein)

The true sign of intelligence is not knowledge but imagination. (Albert Einstein)

Kalo gitu, Albert Einstein termasuk Master-Master Delusif, Master Khayali. Dari yang khayal akhirnya menjadi Hiroshima dan Nagasaki.

Apa sebabnya Einstein tidak mengatakan "Reality is everything." Namun Einstein mengatakan "Imagination is everything" ?
  • danny1878, kasina, i mei and 1 other like this


#813379 Sebagaimana - adanya

Posted by hariyono on 03 November 2015 - 10:44 AM

598799_226420404170409_994453175_n.jpg?o

 

 

Sebagaimana - adanya

 

Kata sebagaimana - adanya ( suchness ) menjelaskan kenyataan apa adanya.

Konsep dan gagasan tidak mampu menjelaskan kenyataan apa adanya .

Nirwana, realitas utama,

tidak dapat digambarkan,

karena ia terlepas dari semua konsep dan gagasan .

Nirwana adalah meleburnya semua konsep.

 

Semua penderitaan kita muncul dari gagasan dan konsep.

Kalau kamu dapat membebaskan diri dari konsep-konsep ini ,

kegelisahan dan kecemasan akan hilang.

Nirwana, realitas utama, atau Tuhan,

bersifat tiada kelahiran dan tiada kematian.

Kebebasan total.

 

 

Semoga semua makhluk berbahagia.


  • golden lotus, djoe, Hendora Yap and 1 other like this


#812832 surat terbuka untuk @ Legend

Posted by hadisantoso on 22 October 2015 - 09:02 AM

@ Legend

 

minggu2 lalu anda "mengeluh" bahwa anda tidak punya kuasa untuk mengunci atau banded member "nakal",maka anda menyatakan lebih baik non aktif.

tapi

kemarin anda WA ke saya,bahwa anda sudah menemukan cara untuk membungkam member yang "nakal".

 

maka melalui surat terbuka ini ,saya sarankan atau usulkan kepada anda-----

 

1,aktif kembali sebagai moderator dan KENDALIKAN  forum ini dengan kuasa yang anda temukan.

2,menyatakan atau buat pengumuman terbuka untuk menyatakan AKTIF.

3,menyatakan ---bahwa kesalahan(pelanggaran) semua member ,terutama tentang menulis/posting dengan kata dan kalimat tidak benar SEBELUMNYA,---DIPUTIHKAN,--dianggap tidak ada..atau tidak di usut.

4,untuk berikutnya laksanakan tugas sesuai aturan forum yang sudah ada dengan tegas,misalnya ada pelanggaran lakukan teguran sampai 3 kali dan eksekusi bila masih melanggar.-----aturan yang ada sudah cukup sebagai "payung hukum" untuk digunakan.

5,tidak perlu ada rembukan musyawarah tentang aturan BARU..

6,dalam melaksanakan tugas, anda tidak perlu bertanggung jawab kepada member, tanggung jawab anda HANYA kepada admin. maka bila ada yang tidak puas----silahkan mereka lapor ke admin, biar admin yang ambil tindakan pemecatan terhadap anda sebagai moderator(bila dianggap perlu oleh pemilik forum).

7,menyatakan kepada moderator lain,bila ada yang ingin membantu silahkan anda buat thread sendiri di forum moderator.

8. anggap saja forum ini milik anda. dalam kekuasaan anda dan curahkan semua energy anda untuk MENJAGA forum ini sesuai dengan misi dan visi WDC.

 

salam

Hadi

 


  • freedom, viper, The One and 1 other like this


#809526 Filosofi Kecoa.

Posted by freedom on 23 September 2015 - 01:52 PM

Saya dapat postingan dari teman.

 

Tapi tak tahu, ini cerita karangan atau tidak, karena menyebut nama seseorang.

 

Hanya sekedar share saja.

 

======================================================================================================

 

CEO Google memiliki kisah insiratif tentang kecoa. Ah masa iya sih! Kecoa yang menjijikan itu ? Yap.betul! Kecoa yang lantas mengubah banyak hal dari dirinya tentang bagaimana memandang setiap tantangan dalam kehidupan.

 

Nama Sundar Pichai kini mulai banyak dikenal orang ketika menjabat pimpinan tertinggi raksasa perusahaan Google. Pichai terlahir di Tamil Nadu, India pada tahun 1972. Pichai dikenal oleh karyawan Google sebagai seseorang yang selalu berhasil merealisasikan rencana menjadi kenyataan. Beberapa proyek dia yang sukses yakni browser Chrome, Chrome OS, dan Chromebook.

 

Sundar Pichai memang dikenal sebagai orang yang ramah, cerdas, dan pekerja keras. Ada sebuah kisah inspiratif dari pidato yang indah oleh Sundar Pichai - seorang alumni IIT-MIT dan mantan Global Head dari Google Chrome. Apa isi pidato tersebut ?

kisah inspiratif

Sundar Pichai berpidato tentang kecoa. Kisah inspiratif dibalik kecoa yang menjijikkan.

 

Teori kecoa untuk Pengembangan Pribadi.

 

Di sebuah restoran, seekor kecoa tiba-tiba terbang dari suat tempat dan mendarat di seorang wanita.

 

Dia mulai berteriak ketakutan.

 

Dengan wajah yang panik dan suara gemetar, dia mulai melompat, dengan kedua tangannya berusaha keras untuk menyingkirkan kecoa tersebut.

 

Reaksinya menular, karena semua orang di kelompoknya juga menjadi panik.

 

Wanita itu akhirnya berhasil mendorong kecoa tersebut pergi tapi ... kecoa itu mendarat di pundah wanita lain dalam kelompok.

 

Sekarang, giliran wanita lain dalam kelompok itu untuk melanjutkan drama.

 

Pelayan bergegas ke depan untuk menyelamatkan mereka.

 

Dalam sesi saling lempar tersebut, kecoa berikutnya jatuh pada pelayan.

 

Pelayan berdiri kokoh, menenangkan diri dan mengamati prilaku kecoa dikemejanya 

 

Ketika dia cukup percaya diri, ia meraih kecoa itu dengan jari-jarinya dan melemparkannya keluar dari restoran.

 

Menyeruput kopi dan menonton hiburan itu, antena pikiran saya mengambil beberapa pemikiran dan mulai bertanya-tanya, apakah kecoa yang bertanggungjawab untuk perilaku heboh mereka ?

 

Jika demikian, maka mengapa pelayan tidaj terganggu?

 

Dia menangani peristiwa tersebut dengan mendekati sempurna, tanpa kekacauan apapun.

 

So, para hadirin.. CEO dari India ini kemudian bertanya:

 

"Lalu apa yang bisa saya dapat dari kejadian tadi?"

 

Ia melanjutkan pidatonya..

 

"Dari tempat saya duduk, saya berpikir..

 

Kenapa 2 wanita karir itu panik, sementara wanita pelayan itu bisa dengan tenang mengusir kecoa?

 

Berarti jelas bukan karena kecoanya, tapi karena respon yang diberikan itulah yang menentukan.

Ketidakmampuan kedua wanita karir dalam menghadapi kecoa itulah yang membuat suasana cafe jadi kacau.

 

Kecoa memang menjijikkan. 

Tapi ia akan tetap seperti itu selamanya.

Tak bisa kau ubah kecoa menjadi lucu dan menggemaskan.

 

Begitupun juga dengan masalah.

 

Atau macet dijalanan, atau istri yang cerewet, teman yang berkhianat, bos yang sok kuasa, bawahan yang tidak penurut, deadline yang ketat, tetangga yang mengganggu, dsb.

 

Sampai kapanpun semua itu tidak akan pernah menyenangkan.

 

Tapi bukan itu yang membuat semuanya kacau. Ketidakmampuan kita untuk menghadapi yang membuatnya demikian."

 

Yang mengganggu wanita itu bukanlah kecoa, tetapi ketidakmampuan wanita itu untuk mengatasi gangguan yang disebabkan oleh kecoa tersebut.

 

Disitu saya menyadari bahwa, bukanlah teriakan ayah saya atau atasan saya atau istri saya yang mengganggu saya, tapi ketidakmampuan saya untuk menanggani gangguan yang disebabkan oleh teriakan merekalah yang mengganggu saya.

 

Bukanlah kemacetan lalu lintas di jalan yang mengganggu saya, tapi ketidakmampuan saya untuk menangani gangguan yang disebabkan oleh kemacetan yang mengganggu saya.

 

Reaksi saya terhadap masalah itulah yang sebenarnya lebih menciptakan kekacauan dalam hidup saya, melebihi dari masalah itu sendiri.

Apa hikmah dibalik kisah inspiratif dari pidato ini ?

 

Kita mengerti, kita tidak harus bereaksi dalam hidup. Akan lebih baik kita harus selalu merespon.

 

Para wanita bereaksi, sedangkan pelayan merespon.

 

Reaksi selalu naluriah sedangkan respon selalu dipikirkan baik-baik.

 

Sebuah cara yang indah untuk memahami ............ HIDUP.

 

Orang yang BAHAGIA bukan karena Semuanya berjalan dengan benar dalam Kehidupannya..

 

Dia BAHAGIA karena Sikapnya dalam menanggapi Segala sesuatu di Kehidupannya Benar..!

 

Itulah kira-kira hikmah yang dapat diambil dari sebuah kisah inspiratif dari pidato CEO Google, Sundar Pichai.

 

Apakah kita juga sama memandang kecoa ? Semangat Terus

 

======================================================================================================


  • hariyono, golden lotus, whitepadma and 1 other like this


#809271 Mengenali kelemahan diri

Posted by hariyono on 18 September 2015 - 08:24 AM

Mengenali Kelemahan diri

 

 

 

 

Tidak sombong/ rendah-hati intelektual adalah mengembangkan sikap tahu diri akan luasnya kebebalan diri sendiri.

Secara demikian, rendah-hati intelektual mencakup keinsafan mendalam bahwa egosentrisme bawaan mungkin berfungsi menipu diri-sendiri (sehingga menyangka lebih tahu daripada yang sebenarnya).

Kesadaran ini berarti sadar akan bias, prasangka, dan keterbatasan sudutpandang diri-sendiri.

Kesadaran ini meliputi kesadaran yang tajam akan luasnya kebodohan diri ketika memikirkan persoalan apa pun,

terutama kalau persoalan itu bermuatan emosi.

Rendah-hati intelektual adalah mengakui bahwa kita seharusnya tidak mengklaim lebih daripada yang sebenarnya kita ketahui.

Ini bukan sekadar menyiratkan kemauan untuk menerima,

melainkan juga mencekal diri dari bersikap sok tahu, berbicara muluk, membual, atau pun congkak.

Untuk itu, kita perlu mengenali dan menilai landasan keyakinan-keyakinan kita,

terutama yang tidak bisa didukung dengan alasan-alasan yang baik.
 

 

Lawan dari rendah-hati intelektual adalah arogansi intelektual, suatu kecenderungan alamiah untuk menyangka bahwa diri sendiri lebih tahu daripada yang sebenarnya.

Arogansi intelektual itu kurang atau tidak melakukan perenungan tentang penipuan diri-sendiri atau pun keterbatasan sudutpandang diri-sendiri.

Orang yang secara intelektual sombong itu sering tergerogoti oleh bias dan prasangkanya sendiri dan sering mengklaim tahu walau sebenarnya kurang tahu.
 

 

Orang yang secara intelektual sombong itu tidak selalu kelihatan angkuh, besar mulut, muluk, atau pun merasa serba cukup.

Bisa saja orang yang arogan ini tampak rendah-hati.
 

 

Sayangnya, kita mampu meyakini bahwa kita mengetahui hal-hal yang tidak kita ketahui;

berbagai kepercayaan sesat, miskonsepsi, prasangka, ilusi, mitos, propaganda, dan kebebalan kita sendiri terlihat bagi kita sebagai kebenaran nyata yang sesungguhnya.

Bahkan, bila ditentang, kita sering enggan untuk menerima bahwa pemikiran kita tidak sempurna.

Bukannya mengakui keterbatasan pengetahuan kita, justru kita mengabaikan atau menutup-nutupi keterbatasan ini.

Dengan demikian, kita menjadi sombong intelektual walaupun merasa rendah-hati.
 

 

Arogansi intelektual tidak selaras dengan keadilan pikiran karena kita tidak bisa menilai dengan adil bila kita berada dalam keadaan bebal tentang apa yang kita nilai.

Jika kita bebal mengenai suatu agama, maka kita tidak bisa menilainya secara adil;

kalau kita memiliki miskonsepsi, prasangka, atau pun ilusi mengenai agama ini, maka kita akan secara semenang menang melakukan penilaian yang menyimpang.

Kita cenderung salah paham.

Pengetahuan keliru, miskonsepsi, prasangka, dan ilusi kita akan merintangi kita untuk bersikap adil.

Kita akan cenderung menilai terlalu cepat dan terlalu subjektif dalam melakukan penilaian.

Semua kecenderungan ini umum dalam pemikiran manusia.
 

 

Mengapa rendah-hati intelektual itu sangat penting untuk pemikiran level-tinggi kita?

Disamping mendorong kita untuk menjadi pemikir yang adil,

mengetahui kebebalan kita itu dapat meningkatkan pemikiran kita dengan berbagai cara.

Sikap rendah-hati intelektual itu bisa memungkinkan kita untuk mengenali prasangka,

kepercayaan sesat, dan kebiasaan pikiran diri-sendiri yang menimbulkan pembelajaran yang cacat.

Sebagai misal, bayangkan kecenderungan kita untuk belajar secara dangkal:

Kita belajar sedikit, tetapi mengira tahu banyak;

kita mendapat informasi yang terbatas, tetapi dengan tergesa-gesa melakukan generalisasi berdasarkan itu;

kita menganggap bahwa belajar itu berarti menghafal;

kita menerima begitu saja apa yang kita simak dan kita baca--terutama bila yang kita simak atau kita baca itu selaras dengan kepercayaan yang secara mendalam dianut oleh kelompok kita atau pun oleh kita sendiri.
 

 

Berpikir Kritis ini mendorong rendah-hati intelektual dan turut menyadarkan Anda perihal arogansi intelektual.

Perhatikanlah apakah sejak saat ini,

Anda bisa mulai mengembangkan kesadaran diri bahwa pengetahuan Anda terbatas.

Teruslah mendeteksi arogansi intelektual Anda dalam kehidupan Anda (yang mestinya bisa dijumpai setiap hari).

Setiap kali terdeteksi, rayakanlah kesadaran tersebut.

Berilah ganjaran kepada diri-sendiri lantaran menemukan kelemahan pemikiran Anda.
 

 

Anggaplah bahwa mengenali kelemahan diri itu merupakan kekuatan yang penting,

bukan kelemahan.
 

 

Dapatkah Anda menyusun daftar prasangka-prasangka Anda yang paling signifikan?

(Pikirkanlah apa yang Anda percayai mengenai negeri Anda, agama Anda, sahabat Anda, dan keluarga Anda, hanya karena orang-orang lain menyampaikan hal-hal itu kepada Anda.)
 

Pernahkah Anda mendukung atau pun menentang argumen ketika Anda memiliki bukti yang sedikit sebagai landasan pertimbangan Anda?
 

Pernahkah Anda menganggap bahwa kelompok Anda (keluarga Anda, agama Anda, bangsa Anda, sahabat Anda) benar (ketika bertentangan dengan kelompok lain) walaupun Anda tidak punya informasi yang memadai untuk menentukan bahwa itu benar?

 

 

Semoga berguna

Semoga semua berbahagia


  • freedom, hadisantoso, msc and 1 other like this


#806274 Harapan Itu Bagian Dari Buah Karma??

Posted by i mei on 13 July 2015 - 08:26 PM

setelah sekian banyak tulisan saya disini , sudah cukup kiranya contoh-contoh tanya jawab dan prilaku sikap serta komentar yg bisa memberikan kejelasan kepada segenap silence reader di forum ini untuk melihat dan waspada gejala dan struktur pikiran para penulis Dhamma yg mengatasnamakan Buddha .

 

terima kasih kepada kalian semua yg sudah berpartisipasi, untuk memberikan contoh-contoh sifat tercela,memalukan, dan tidak pantas dari orang-orang yg mengatasnamakan Ajaran Sang Buddha  

 

:namaste:


  • kasina, msc, Mr.Jack and 1 other like this


#801021 merawat HAK MILIK

Posted by hadisantoso on 13 August 2014 - 01:02 PM

Hak milik=inventaris=aset kekayaan.

Apa saja yang bisa dimiliki manusia ?

 

Anda punya rumah ? Hak guna bangunan ? Katanya lebih baik diurus menjadi hak milik,agar lebih mantap dan berharga tinggi.

 

Hampir semua orang atau pada umumnya,manusia selalu ingin memiliki ,menjaga,merawat,mengembangkan ,memperbanyak hak miliknya(harta bergerak maupun tak bergerak).

Termasuk hakmiliknya --raga,badan ,tubuh termasuk organ tubuh,pada umumnya manusia sering check up ,periksa jantung,ginjal dan organ lainnya.

 

Contoh diatas adalah yang umum terjadi,atau istilahnya pengetahuan dan kejadian umum.

Tentu saya tidak akan membahas yang terurai diatas,tapi saya ingin membahas segala sesuatu yang “TERLEWATI” atau yang sering 'DISEPELEKAN” dalam hal HAK MILIK MANUSIA.

 

Lalu ---apa saja yang SERING dilupakan dan disepelekan HAK MILIK manusia pada umumnya ?

 

1,manusia pada umumnya pasti punya keluarga(orang tua,suami/istri,anak,saudara dsb), teman/sahabat dan komunitas(misalnya wdc)-----disini setiap manusia pasti MEMILIKI ikatan kasih kekeluargaan dan kasih persahabatan yang juga harus dijaga,dirawat dan dikembangkan.----manusia sering MELUPAKAN poin ini.

 

2,setiap manusia pasti memiliki----HARGA DIRI(wibawa,kharisma,karakter dsb)-----ini jauh lebih penting ,lebih berharga dan perlu lebih ada perhatian untuk menjaga ,merawat dan memperbaikinya.dari hakmilik yang dicontohkan diatas.

Anda punya harga diri ?? apakah ID anda cukup terhormat ? ----tidak suka marah dan mencela ? (misalnya).-----manusia sering MELUPAKAN poin ini.

 

3,poin yang ini adalah inti dari thread ini, yang memang ingin saya move dan minta pendapat dari teman2 semua.

Yaitu tentang hak milik kita yang masih misterius, misterius dalam arti bisa benar ada dan bisa juga tidak ada.bila ada sebagai hak milik kita,maka juga perlu dijaga,dirawat dan dikembangkan.----banyak yang “tidak tahu” tentang poin ini.

 

Apa itu ?

 

INDRA KE 6(bisa menerawang---katanya).

HATI NURAINI(sumber kasih---katanya),

BATHIN( bisa dapat firasat---katanya).

AKU(ego---bisa jadi jahat kalau gak dirawat secara teratur---masih katanya).

SEDULUR KEMBAR(khusus versi kejawen---bisa banyak membantu manusia kalau dirawat—juga katanya).

 

Coba tanya pada diri masing2, apakah anda “MEMILIKI” 5 macam hal diatas(indra6,hati nuraini,bathin,ego dan sedulur kembar) ?

 

bila memang anda PUNYA .

Lebih berharga yang mana ? --rumah,mobil atau EGO ?

Pernahkah anda merawatnya?

 

Silahkan di koreksi.

 

 


  • golden lotus, yoh***s, tumult077 and 1 other like this


#799617 Apa Yang Kita Cari Dalam Hidup Ini?

Posted by hadisantoso on 12 July 2014 - 08:48 AM

Apa Yang Kita Cari Dalam Hidup Ini?

Oleh Bhikkhu Chandavīro

Sabbe sattā sadā hontu, Averā sukhajivino.
Khemappadañca pappontu, Tesāsā sijjhatamṁ subhā.

Semoga semua mahluk senantiasa bebas dari kebencian
serta hidup dalam kebahagiaan. Semoga mereka mendapatkan jalan kedamaian.
Semoga cita-cita luhur mereka tercapai.
(Pattidāna)

Selama ini kita tidak pernah menyadari dan membuat ke-simpulan untuk bertanya, apa yang kita cari dalam hidup ini? Memang pertanyaan yang mudah dan sederhana tapi memerlukan jawaban yang luas. Sebetulnya dalam pengertian umum kita hidup mempunyai banyak tujuan dan cita-cita. Setiap orang mempunyai tujuan hidup yang berbeda. Demikian juga setiap orang mem-punyai cita-cita yang bermacam-macam, ada yang ingin jadi artis, ingin jadi penyanyi, ingin jadi pilot, ingin jadi dokter, ingin jadi polisi, ingin jadi orang terkenal, ingin jadi orang hebat dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana menurut Dhamma yang telah di ajarkan oleh guru Agung kita? Di dalam Aṅguttara Nikāya, Sang Buddha menyebutkan manusia memiliki tujuan, ada yang dicari, ada pe-nopang, ada keinginan dan juga cita-cita. Sang Buddha me-ngelompokkan manusia menjadi enam kelompok, yaitu:

1. Ksatria

Keyakinan adalah tujuan dari seorang ksatria. Yang dicari adalah pengetahuan, penopangnya adalah kekuatan, keinginannya adalah meng-atur bumi, dan cita-citanya adalah kedaulatan.

2. Brahmana

Kekayaan adalah tujuan dari seorang brahmana. Yang di-cari adalah pengetahuan, pe-nopangnya adalah teks-teks suci, keinginannya adalah kurban-kurban, dan cita-cita-nya adalah pencapaian ke-hidupan alam brahma.

3. Perumah tangga

Kekayaan adalah tujuan dari seorang perumah tangga. Yang dicari adalah pengetahu-an, penopangnya adalah ke-terampilan, keinginanya ada-lah bekerja, dan cita-citanya adalah menyelesaikan pe-kerjaannya.

4. Wanita

Seorang pria adalah tujuan dari seorang wanita. Yang dicari adalah perhiasan, pe-nopangnya adalah putra-putri (anak), keinginannya adalah tidak dimadu, dan cita-citanya adalah mendominasi.

5. Pencuri

Mencuri adalah tujuan dari seorang pencuri. Yang dicari adalah tempat persembunyi-an, penopangnya adalah sen-jata-senjata, keinginanya adalah kegelapan, dan cita-cita-nya adalah tidak ditangkap.

6. Petapa

Kesabaran dan kemurnian adalah tujuan dari seorang petapa. Yang dicari adalah pengetahuan, penopangnya adalah moralitas, keinginanya adalah tidak terhalang, dan cita-citanya adalah pe-realisasian Nibbāna.

Dari semua cita-cita manusia di atas tidak ada kelompok orang yang bercita-cita menjadi sengsara. Semua bercita-cita untuk men-dapatkan yang terbaik di antara yang baik-baik, apa pun kehidupan orang itu.

Dengan demikian dapat kita tarik kesimpulan bahwa dari semua hal di atas tujuan dan cita-cita manusia adalah untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan.

Kadang-kadang untuk men-capai yang ingin diraih, manusia menggunakan berbagai macam cara. Ada dengan cara baik dan ada juga dengan cara yang kurang baik.

Sedangkan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai Sang Buddha menerangkan di dalam Maṅgala Sutta yaitu: Hendaknya kita memiliki pengetahuan luas dan berketerampilan, bekerja dengan sungguh-sungguh, tidak melakukan pekerjaan tercela, terlatih baik dalam tata susila, dan bertutur kata dengan baik, itulah berkah utama.

Selanjutnya masih dalam Aṅguttara Nikāya, Sang Buddha menjelaskan bahwa sebagai pe-rumah tangga umumnya adalah ingin mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Di sini disebut-kan bahwa untuk mencapai ke-sejahteraan dan kebahagiaan se-bagai perumah tangga hendaknya memiliki (Empat Iddhipāda) atau empat syarat agar tercapai ke-suksesan dalam bekerja atau berusaha yaitu:
1. Chanda yaitu merasa puas dan gembira ketika mengerja-kan sesuatu atau pekerjaan.
2. Viriya yaitu usaha yang ber-semangat dalam mengerjakan sesuatu atau pekerjaan.
3. Citta yaitu memperhatikan dengan sunggug-sungguh ke-tika melakukan suatu pekerja-an, tanpa melalaikannya.
4. Vimaṁsā yaitu yang terbaik dari pekerjaan yang sedang dikerjakan. (A.IV.285)

Selain hal di atas untuk men-capai kebahagiaan duniawi selanjutnya Sang Buddha me-nyampaikan berkenaan dengan empat macam kebahagiaan yaitu:
1. Atthi – Sukha : kebahagiaan karena dapat bekerja dan bahagia karena memiliki harta kekayaan.
2. Bhoga – Sukha : Kebahagiaan karena dapat mempergunakan kekayaan.
3. Anaṇa – Sukha : Kebahagiaan karena terbebas dari utang.
4. Anavajja – Sukha : kebahagia-an karena tidak didapat dari hasil kejahatan. (A.IV)

Sebagai kesimpulan dari se-mua apa yang kita kerjakan dan perjuangkan tadi tujuanya adalah untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagian hidup. Tapi yang di anjurkan oleh Sang Buddha hendaknya kita tidak saja hanya untuk mencapai kebahagiaan duniawi tetapi juga selalu berjuang untuk mencapai kebahagian ter-tinggi di atas duniawi yaitu men-capai pembebasan atau Nibbāna.

Sabbe Sattā Bhavantu Sukhitattā.

 


  • muni, golden lotus, msc and 1 other like this


#799090 Meluhurkan Batin

Posted by hadisantoso on 20 June 2014 - 12:14 PM

Meluhurkan Batin

Oleh (Alm) Yang Mulia Bhikkhu Girirakkhito Mahathera

Saya akan menjelaskan tentang bagaimana kita harus betul-betul berdiri di atas kaki sendiri, untuk mencari Dhamma, mempelajarinya, menghayatinya kemudian mengamalkan, mengembangkan sampai menjadi orang yang sukses melaksanakan Dhamma, yaitu minimal mencapai pannya atau kebijaksanaan.

Sekarang saya mengamati ternyata orang yang miskin Dhamma, miskin pengertian yang benar tentang Dhamma itu masih banyak sekali. Kalau ada hal-hal yang baru, mungkin karena dipropagandakan dengan hebat sekali, seperti orang buta kalau diberkahi bisa melihat, yang tangannya bengkok diberkahi bisa menjadi lurus, yang lumpuh diberkahi bisa kembali berjalan seperti biasa, dan sebagainya. Kemudian banyak orang datang untuk meminta berkah rejeki, berkah keselamatan, berkah umur panjang dan sebagainya. Jadi saya nilai hal yang demikian itu tidak beda dengan pengemis. Dalam hal ini yaitu pengemis keselamatan, pengemis keejahteraan, pengemis macam-macam. Saya bandingkan demikian, karena untuk meraih kesejahteraan kehidupan di bidang materi dan rohani, memang jarang sekali orang yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Kebanyakan dari mereka itu mau bergantung, minta tolong, minta belas kasihan dari yang dianggap lebih daripada dirinya.

Nah, bagaimana kalau kebetulan hidup saudara sedang susah, menderita kekurangan, dll, lalu ada yang menawarkan atau menjanjikan, "Ah kamu jangan repot-repot, diberkahi saja oleh orang yang hebat ini pasti beres!" Apakah mental saudara akan goyah kalau terjadi yang demikian? Ingatlah bahwa Sang Budha pernah memberikan nasehat kepada kita yang bunyinya, "Atta hi attano natho", artinya, "Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri". Jadi kita harus berjuang untuk meraih sukses, dengan mempraktekkan Dhamma, berusaha berdiri di atas kaki sendiri, percaya kepada diri sediri. Berusaha berdiri di atas kaki sendiri dan percaya kepada diri sendiri itu dengan apa?

Sang Buddha sudah memberi petunjuk yang jelas sekali agar kita dapat berdiri di atas usaha kita, yang sudah terang dan jelas sekali akan membawa kepada kesuksesan. Apa itu? Yaitu: saddha, viriya, sati, samadhi, dan pannya. Dengan 5 bala atau Panca Bala ini, kita akan berjuang sampai 'ajimat' yang akan kita jadikan pelindung yang betul-betul pelindung, tumbuh secara alamiah di dalam batin kita. Bukan dengan menengadahkan tangan meminta berkah keselamatan, berkah rejeki, dll kepada siapa-siapa.

Pada waktu di Muntilan, saya dikunjungi oleh seorang umat dari daerah lain. Katanya, "Bhante, saya rindu sekali dengan Bhante. Sekarang saya minta berkah kepada Bhante". Saya berkata, "Bagaimana romo?" "Saya minta supaya selamat sepanjang hidup, istri saya juga selamat, anak saya lulus, pekerjaan saya (sebagai tukang las) bisa maju, anak-anak saya semuanya menurut, baik-baik, nanti kalau kawin dapat istri yang baik", Pokoknya yang serba selamat, serba baik, dan serba tidak kekurangan. Itu yang diminta. Bagaimana saya tidak tertawa cekikikan di belakang panggung saya. tetapi toch saya berkahi juga. Nah, inilah tipe orang menggantungkan diri kepada orang lain, bukan berdiri di atas kaki sendiri. Andaikata romo itu, mengembangkan Panca Bala, yaitu saddha, viriya, sati, samadhi, dan pannya, pasti harapannya akan tercapai; minimal yang disebut "Nekkhamma Sankappa". Nekkhamma-sankappa itu sudah merupakan wujud permulaan dari 'ajimat' pelindung diri kita yang sebenarnya.

Saddha itu akan tumbuh dari melakukan sila dengan baik. Saya kira kalau saudara melakukan sila dengan sungguh-sungguh, keyakinan saudara akan berkembang, karena saddha itu memang harus tumbuh melalui sila. Kemudian Viriya, artinya tidak jemu-jemunya berjuang, melatih diri, tekun, ulet, rajin, tidak putus asa dan bahkan lebih dari itu, berani menghadapi resiko apapun untuk menjalani kebaikan. Kemudian Sati, adalah penuh waspada, berhati-hati sekali, sadar selalu. Kalau ada gejala yang tidak baik jangan cenderung. Itu bisa diatasi dengan kewaspadaan, kesadaran penuh, dan juga tentunya pengertian, sehingga baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam meditasi kita tetap memiliki perhatian, kewaspadaan, dan kesadaran. Itu faktor yang sangat menunjang, menjaga jangan sampai batin melamun, berkeliaran atau berkelana kepada keasyikan gerak-gerik pikiran yang selalu ada pada kita. Yang disebut keasyikan itu adalah ngelantur kepada masa lampau atau ngelantur kepada cita-cita yang akan datang.

Sedangkan kalau samadhi, itu adalah usaha untuk memusatkan batin kepada satu obyek, sehingga kesadaran dengan obyek itu manunggal jadi satu. Ketiga unsur ini yaitu viriya, sati, dan samadhi dikatakan sebagai sarana untuk meningkatkan pikiran kita, meningkatkan batin kita. Bukan dengan minum obat mencerdaskan otak atau vitamin-vitamin, bukan! Tetapi untuk meningkatkan batin, yang paling utama adalah: viriya, sati, dan samadhi. Apalagi kalau kita sudah bisa mengembangkan pannya. Pannya biasanya dikembangkan denngan Vipassana. Dan memang, pannya itu tumbuh dari sila dan samadhi. Kalau saudara-saudara pada lain kesempatan sempat melaksanakan latihan vipassana, ini adalah baik sekali untuk mengembangkan kebijaksanaan. Di sana saudara akan melihat bahwa segala sesuatu, jasmani/materi, batin, perasaan, ingatan, bentuk-bentuk pikiran itu nampak jelas selalu mengalami perubahan. Dia timbul karena ada syarat, sebab, dan kondisinya. Tetapi setelah dia timbul dia tidak bisa bertahan, kemudian memudar dan akhirnya lenyap. Dalam vipassana, kita akan berusaha melihat ini dengan jelas. Ini menjadi syarat tumbuhnya pannya atau kebijaksanaan.

Andaikata kita sudah dapat memiliki viriya, sati, samadhi, pannya, maka di situlah akan tumbuh secara alamiah apa yang disebut Nekkhamma Sankappa. Jadi batin saudara secara alamiah akan mampu bersikap melepaskan kemelekatan kepada benda-benda, kepada jasmani, kepada istri/suami, kepada harta, kepada apa saja. Kemelekatan akan jauh berkurang. Dengan istilah lain, batin saudara sudah mampu melepaskan, tidak lagi terikat. Kalau batin sudah mencapai yang demikian maka saudara akan mampu berdiri di atas kaki sendiri, tidak lagi tertarik untuk berebutan minta berkah keselamatan atau berkah apapun. Karena berkah yang sebenarnya itu sudah dapat direalisasi secara alamiah di dalam batin yang sudah dikembangkan hingga mencapai Nekkhamma Sankappa. Kita akan membuktikannya nanti. Kalau belum sampai yang demikian, sulit untuk membayangkan. Nekkhamma Sankappa ini akan muncul secara alamiah sekali.

Oleh karena itu, kita harus sadar bahwa kita harus berjuang dengan sungguh-sungguh, dengan penuh mengerahkan tenaga, untuk melepaskan segala bentuk-bentuk racun yang paling dahsyat yang paling hebat itu. racun atau api yang paling dahsyat adalah kebodohan dan kemelekatan. Dari situlah asal mulanya. Itulah yang sebenarnya rajanya racun, rajanya magic, rajanya jin, rajanya setan, yang memiliki kekuatan amat dahsyat. Rasanya kita orang tidak mampu menghadapinya. Namun Sang Buddha sudah memberikan petunjuk: kembangkan pannya/kebijaksanaan dengan mencoba melihat bahwa segala bentuk-bentuk pikiran itu hanyalah anicca, dukkha, anatta, sunyata, tathata, paticcasamuppada. Artinya mereka selalu berubah-ubah, mereka hanya problem, hanya masalah yang tiada habis-habisnya. Memang kadang-kadang mereka memberikan kepuasan, tetapi sering sekali tidak memuaskan. Dan bagaimana pun indahnya sesuatu itu, tetap ia tidak bisa dimiliki, karena ia hanya sesuatu yang timbul karena ada sebab, ada kondisi, dan dia tidak mungkin bertahan, ia akan lenyap, lebur.

Kebanyakan dari kita umumnya 'kesengsem', melekat sekali dengan cara-cara kehidupan duniawi ini, seolah-olah kita tidak bisa lepas dari kondisi duniawi ini. Kita menyenanginya dan kita melekat padanya. Begitulah pada umumnya keadaan kehidupan kita. Tetapi tahukah, sadarkah kita bahwa sesungguhnya kita tidak akan selamanya hidup di dunia ini? Hidup ini hanya sementara. Orang bijaksana mengatakan bahwa kita ini hanya melancong, hidup ini hanya kesempatan untuk belajar mengerti tentang hidup dan kehidupan. Bukan hidup untuk makan, untuk bersenang-senang, untuk berfoya-foya, untuk plesir, umpamanya kawin terus, mumpung masih hidup, mumpung ada uang, dan sebagainya. Bukan itu tujuannya! Kehidupan ini mempunyai tujuan yang jauh lebih mulia daripada itu. Kehidupan ini bertujuan untuk meningkatkan batin kita, dari bodoh menjadi bijaksana, dari rendah menjadi luhur.

Letak kebahagiaan itu adalah pada lenyapnya kebodohan dan kemelekatan. Di mana sang aku lenyap, di situlah bahagia. Jadi ini harus disadari. Karena itu kita harus bangkit, meningkatkan kehidupan kita agar menjadi luhur. Itu tujuannya.

Untuk mendewasakan batin, jelas adalah dengan sila, samadhi, pannya. Dengan meditasi ketenangan (samatha) atau dengan vipassana. Itu jelas demikian!

Pada hakikatnya, Dhamma itu dapat ditinjau dari 2 sudut. Dari sudut yang pertama, dia merupakan makanan atau obat bagi kita untuk menyembuhkan kotoran-kotoran batin, kejahatan-kejahatan pikiran untuk disembuhkan menjadi baik, menjadi suci, menjadi bersih. Alat satu-satunya adalah Dhamma. Ditinjau dari sudut lainnya, Dhamma ini adalah alam semesta dengan segala isinya. Maka oleh karena itu kita perlu mengetahui 4 aspek daripada Dhamma. Aspek yang pertama dari Dhamma adalah Alam semesta dengan segala isinya. Aspek kedua adalah Hukum-hukum Alam. Aspek yang ketiga adalah sikap perbuatan kita yang sesuai atau tidak sesuai dengan hukum-hukum alam. Aspek yang keempat adalah Buah atau akibat yang terjadi karena tingkah laku tersebut di atas. Kalau sesuai maka buahnya adalah kebahagiaan. Tetapi kalau tidak sesuai atau bertentangan, buahnya adalah penderitaan.

Mengapa kita melakukan sila? Karena sila itu menggiring kita supaya perbuatan kita sesuai dengan hukumalam. Mengapa meditasi? Karena meditasi itu menggiring kita supaya batin kita sesuai dengan hukum alam. Inti daripada Dhamma itu terletak pada sang hati. Jadi walaupun diri kita ini adalah Dhamma, dunia itu adalah Dhamma, tapi inti dari Dhamma itu terletak pada sang hati. Maka oleh karena itu kita harus mengerti tentang sang hati, tentang inti dari Dhamma ini. Seperti apa yang telah saya katakan tadi, sang hati ini mempunyai 2 aspek. Aspek yang pertama yaitu hati yang terombang-ambing oleh perasaan; sekarang girang, sebentar sedih; sekarang benci, nanti hilang kebenciannya, sekarang rindu, nanti bermusuhan. Itu semua diombang-ambingkan oleh kondisi duniawi. Sang hati yang demikian itu tergolong sankhara. Sedangkan satunya lagi adalah sang hati yang tidak diombang-ambingkan oleh keadaan yang berubah-ubah atau kondisi duniawi. Seperti yang saya katakan, jasmani boleh tua, tapi kita tidak sedih karena tua, tidak kecewa, menyesal. Itulah yang disebut aspek visankhara.

Sebagai penutup, cita-cita kita untuk mencapai Nirwana atau Nibbana, kelihatannya memang tidak mungkin, apalagi yang sudah berkeluarga dan berkecimpung dalam duniawi, kelihatan sepintas lalu tidak mungkin. Dan ada yang mengkhayalkan bahwa Nibbana itu kosong, tidak ada, seperti kekosongan. Itu pandangan yang keliru. Di dalam Nibbana segalanya masih utuh, saudara masih utuh. Kalau pun Dhamma itu utuh tapi dia bisa mengalami Nibbana sekarang, tidak usah menunggu mati, dan segala sesuatu masih utuh tidak perlu hilang, tapi tentu ada pengecualiannya. Yang hilang hanyalah kebodohan, rasa kemilikan, keakuan, dan kemelekatan tentang keakuan. Sang hati tidak goyah mengalami rugi, mengalami untung, mengalami dipisuhi, mengalami difitnah, hati tidak tergoyahkan. Hati yang tidak tergoyahkan itu sejuk. Kalau kebencian, dendam, dan sebagainya itu hilang maka saudara mengalami Nibbuto. Batin tidak lagi panas membara, tetapi sejuk, damai. Itulah Nibbuto, atau sama dengan Nibbana yang sebentar-sebentar.

Latihan ini bukanlah untuk kepentingan orang lain tapi untuk kepentingan diri sendiri. Kita sendirilah yang akan mencicipinya. Ingat, berdirilah di atas kaki sendiri, jangan menjadi pengemis Dharma, jangan menjadi pengemis keselamatan, pengemis rejeki, dan sebagainya. Harus bersikap apa adanya. Kalau mengerti bahwa dunia ini fana, tidak kekal, berubah-ubah, ada kalanya muda, sehat, ada kalanya sakit, itu wajar. Terimalah dengan baik. Inilah berkah yang sebenarnya.

 


  • muni, yan, golden lotus and 1 other like this


#816832 coeda - Ukuran dunia adalah duniawi. Pikiran adalah imajinasi, bukan kenyataa...

Posted by coedcoed on 02 April 2016 - 12:29 PM

Ruang hanyalah kesimpulan konsep
Wujud hanyalah kesimpulan konsep
Ruang tak bisa dibicarakan tanpa wujud
Wujud tak bisa dibicarakan tanpa ruang.
Keduannya saling bergantungan.
Ketika anda melihat ruang anda sedang melihat wujud
Ketika anda melihat wujud anda melihat ruang
Ruang merupakan kontrast yg memberi wujud dan wujud memberikan kontrast pada ruang
Keduanya hanyalah merupakan satu realitas, tidak realitas yg namanya ruang dan tidak ada namnya realitas yg namnya wujud terpisah dr satu samq lain
Ketika anda membicarakan ruang yg qnda bqhas adalah kesatuan dr ruang dan wujud yg merupakan satu keadaa satu realitas. Kemudian anda membedah dan membedakan ini ruang kosong ini wujud.
Tetapi sebenarnya tidak ada ruang dan wujud seperti yg kita bahas karena keduanya merupakan satu keadaan yg diblkotak kotak dibatasi utk konseptual dan komunikasi.
Jadi kalau anda mengatakan ini adalah ruang kos9ng secara pasti maka anda sedang terselusif.
Kalau anda mengatakan ini adalah wujud dgn pasti maka anda juga sedang terdelusif.
Karena tidak ada realitas yg seperti itu.
Kenapa??
Karena tidak ada realitas yg terpisah seperti iu yg namanya ruang ataupun wujud.
Keduanya merupakan satu realitas dan kita memot9ng meotong realitas tersebut dan mengkonsepnya.
Jadi apa yg anda luhat sebenarnya hanyalah permainN pikiran anda konseptual anda sendiri bukan realitas.
Jadi jika anda percaya realitas seperti itu maka anda sedang terdelusif

I.
Duhai Sariputra, rupa (bentuk jasmani) adalah kekosongan (sunyata) dan sunyata itu rupa; sunyata tidak berbeda dari rupa, rupa juga tidak berbeda dari sunyata; rupa apapun juga, itulah sunyata; sunyata apapun juga, itulah rupa. Ini pun berlaku bagi vedana (perasaan), samjna (pencerapan), samskara (bentuk-bentuk mental), dan Vijnana (kesadaran).

Disinilah, duhai Sariputra, segala sesuatu (dharma) bercorak sunyata; mereka tak muncul, juga tak berakhir; tidak kotor. juga tidak murni bersih, tidak kurang, tidak lengkap/bertambah.

II
Maka itu, duhai Sariputra, dimana terdapat sunyata, di situ tiada rupa, tiada vedana, tiada samjna, tiada samskara, tiada vijnana; tiada mata, telinga, hidung, lidah, badan, dan bathin; tiada bentuk-bentuk suara-suara, bau-bauan, rasa-rasa, sentuhan-sentuhan, bentuk-bentuk pikiran; tiada unsur (dhatu) penglihatan dan selanjutnya, hingga kita tiba pada tiada unsur kesadaran (vijnana-dhatu); tiada kegelapan bathin (avidya), tiada akhir kegelapan bathin dan seterusnya, hingga kita sampai pada tiada hari tua dan kematian, tiada akhir hari tua dan kematian; tiada derita (dukha), tiada asal mula derita (dukkha-samudaya), tiada akhir derita (dukha-nirodha), tiada jalan (marga), tiada pengetahuan (jhana), tiada pencapaian dan tiada bukan pencapaian.

Sama dengan,
II.
“ Para bhikkhu, ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan, Yang Mutlak. Para bhikkhu, bila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak dijelmakan, Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, dan pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, dan pemunculan dari sebab yang lalu. “

...............

PENJELASAN Coeda :
I. Mengapa pada tulisan romawi I, menunjuk/mengenali rupa sebagai sunyata, sunyata adalah sebagai rupa,

II. Lalu di tulisan romawi II, disitu dinyatakan bahwa dimana terdapat sunyata, tiada rupa, tiada kewujudan dan segala ciri.

Tahukan kawan-kawan, bahwa segala yang dikatakan tiada rupa atau kewujudan atau segala ciri yang ada atau muncul adalah menyatakan ciri dari ukuran (pewujudan/kewujudan/bentuk-bentuk) duniawi?

Kenyataannya adalah semua keberadaan atau kewujudan di semesta tidak ada yang tidak terlingkupi atau terluput dari kualitas Sunyata.
Tetapi Sunyata bukanlah kewujudan/perwujudan pada kualitas duniawi. Dan itu bukan diistilahkan kekosongan. (Menurut penilaian makhluk awam/yang duniawi)
Ingat seperti perumpamaan ikan yang hidup di dalam lautan. Mau mengenali air.
Air melingkupi (sekeliling/seluruh) kehidupan ikan dan biota laut (bahkan terkandung di dalam tubuhnya.) Tetapi ikan bukanlah air. Bukan juga batu karang atau tumbuhan atau apapun juga pada bentuk-bentuk kewujudan yang ada pada lautan tersebut.

SUNYATA ITU MUTLAK, BUKAN ADA KEBERGANTUNGAN TERHADAP ATAU PADA KEWUJUDAN/PEWUJUDAN DUNIA, ATAU MENURUT UKURAN PANDANG KEWUJUDAN DUNIAWI. TETAPI UTUH MUTLAK (MELINGKUPI SEMUA YANG ADA.)

Itu mengenai kualitas kehidupan (dari) TUHAN.

Sunyata itu kualitas Nibanna. Tetapi bukan dari sisi cara pandang manusia duniawi/umat awam.
Jika seseorang yang masih belum mengalami realisasi mengenali kualitas keberadaan hakekat kehidupan dirinya yang sejati ini/sunyata kualitas Nibanna,
Dari ukuran manakah seseorang umat/awam/duniawi menilai kebenaran dan menjelaskannya, kualitas kesunyataan/Nibanna ini?

Bukankah seperti judul yang coeda berikan....,
'Ukuran dunia adalah duniawi. Pikiran adalah imajinasi, bukan kenyataan kebenaran. Itu juga hanyalah KONSEP.'
SAMA DENGAN PERMAINAN PIKIRAN JUGA.

Salam, coeda.
JESUS loves all. (The WAY, the TRUTH, and the LIFE. Tthe RESSURECTION and The LIFE. WORD of GOD
  • hariyono, legend and djoe like this


#813077 Yoh***s menyampaikan wkwkwkwk

Posted by legend on 23 October 2015 - 02:04 PM

sayang sekali, thread ini cuma perpanjangan provokasi. Karena itu akan saya tutup.

 

Satu hal lagi @ kasina , saya berikan peringatan pertama. Masalah imei sudah selesai dan keputusan sudah diambil oleh moderator, tidak perlu diperpanjang di thread lainnya. Apa yang tertulis di sini cuma ungkapan ketidakpuasan atas keputusan yang sudah diberlakukan kepada imei

 


  • kasina, djoe and Top1 like this


#809161 Kelekatan Dogma

Posted by CahayaPelita on 14 September 2015 - 10:30 PM

Kelekatan dogma

Seseorang yang belum terbebas dari ke berpihak an maka sebaiknya berusaha untuk terbebas .. sudut pandang tentang kebenaran yang di dasari oleh ke tidak berpihak an itu asli .

Air jernih adalah air yang tidak ber warna , tidak ber rasa dan tidak ber bau .

Air jernih di campur susu menjadi air susu , di campur teh menjadi air teh.

Kurang tepat apabila air susu mengatakan air teh melekat dogma , di saat yang sama air susu juga melekat dogma ... Keduanya keluar dari air jernih ... tapi keduanya baik menurut peminat masing2 .

Pelajar belajar matematika di sekolah dan di ajar oleh guru A . Pelajaran yang di dapat 1 + 1 = 2 ... Suatu Hari pelajar di tanyai oleh ibunya tentang 1 + 1 .. Pelajar menjawab dengan lantang " guru A berkata bahwa 1 + 1 = 2 " tanpa berusaha mandiri memahami kenapa 1 + 1 = 2 .

Semoga berbahagia semua makhluk di seluruh alam .
  • hariyono, legend and coedcoed like this


#808949 Perasaan TAKUT

Posted by Handi Wijaya on 08 September 2015 - 01:23 PM

Cerita dari Chan

Ada seorang suci,  dia membawa patung kayu Budha,, pergi ke hutan untuk bertapa 

Tiap hari dia menyembah atau sembayang pada patung Budha iit 

Suatu hari cuaca dingin ,  dia kedinginan sekali, lalu dia membelah patung kayu buddha itu, dan membakar untuk menghangatkan tubuhnya.  

 

Contoh 2 

Ada seorang mengantar istrinya yg  mau melahirkan  emergency,  suami nya mengantarkan ke rumah sakit, jam 2 malam,  jalan sepi tidak ada kendaraan,  pas lampu merah,  karena mengikuti aturan, menunggu sampai lampu hijau,  akhirnya istrinya melahirkan dijalan,  kalau saja lebih cepat sedikit, istrinya melahirkan dd rumah sakit.  

 

Memang kita harus mengikuti moral. aturan,  tapi ada pada suatu kondisi situasi, maka kreatif harus keluar,  tidak menerima begitu saja.  Persis Sesuai aturan 

 

Ada juga pesawat jatuh di hutan, untuk mempertahankan hidup, terpaksa  menjadi kanibal.  


  • hariyono, danny1878 and stream386 like this


#800972 Ada masalah Penghinaan agama Buddha

Posted by TjaoXiuLing on 11 August 2014 - 02:57 PM

Kasian sebenernya yang suka menghina-hina, baik menghina agama buddha ataupun yang lain.. dengan kata lain dia sudah menanamkan buah buruk yang akan dipetiknya nanti..

betapa indahnya jika saling menghormati dan menghargai semua pemeluk agama. 

lagian dia (yang menghina) itu tidak mengerti ajaran guru kita, jadi kita ga usah repot marah-marah, anggap saja kalo dia sedang terganggu dengan otaknya,, dibuat lucu aja kita mikirnya. wkwkwkwk


  • hadisantoso, yoh***s and 李雪丽~Lee Xue Li like this


#800815 Renungan pagi jilid 4

Posted by hadisantoso on 09 August 2014 - 09:26 AM

Berwelas asih pada diri sendiri

Ketika seorang praktisi Zen sedang bermeditasi di tepi sungai, dia mendengar suara meronta-ronta di air. Dia membuka matanya dan menyaksikan seekor kalajengking sedang berjuang untuk bertahan hidup di dalam air. Dia lalu mengulurkan tangan untuk meraih kalajengking dan tangannya pun tersengat oleh kalajengking itu, setelah meletakkan kalajengking di tepi sungai, dia lalu melanjutkan meditasinya.

Beberapa saat kemudian, dia kembali mendengar suara meronta-ronta itu, dia membuka matanya dan menyaksikan kalajengking itu kembali terjatuh ke dalam air. Dia sekali lagi menolong kalajengking itu, tentu saja tangannya sekali lagi tersengat. Namun dia tetap melanjutkan meditasinya.

Tak berapa lama kemudian, dia kembali mengalami nasib buruk yang sama.

Seorang nelayan yang ada di sampingnya berkata: “Anda benar-benar bodoh, apakah anda tidak tahu kalau kalau kalajengking bisa menyengat orang?”

Praktisi Zen menjawab: “Saya tahu dan sudah disengat tiga kali.”

Nelayan: “Lalu mengapa anda tetap mau menolongnya?”

Praktisi Zen menjawab: “Menyengat orang adalah sifat alaminya, sedangkan welas asih adalah sifat alamiku. Sifat alamiku tidak akan berubah dikarenakan sifat alaminya.”

Pada saat ini, dia kembali mendengar suara meronta-ronta itu. Begitu melihat ke sana, ternyata adalah kalajengking itu juga.

Dia melihat pada tangannya yang sudah bengkak, lalu melihat pada kalajengking yang sedang meronta di air, tanpa ragu kembali ingin mengulurkan tangan untuk menolongnya.

Pada saat ini, nelayan menyerahkan sebuah ranting kering ke tangan praktisi Zen, praktisi Zen mengangkat kalajengking dengan ranting ini dan menaruhnya di tepi sungai.

Nelayan berkata sambil tersenyum: “Memiliki kewelas asihan adalah hal yang benar, namun selain harus berwelas asih terhadap kalajengking, juga harus berwelas asih terhadap diri sendiri. Oleh karenanya, kewelas asihan harus memiliki metode yang welas asih juga”

Kita harus melindungi diri sendiri dulu, baru memenuhi syarat untuk memperlakukan orang lain dengan baik.


  • golden lotus, msc and legend like this