Bingung ? Ke Jalan2.com Aja !
Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 20 of 39

Sejarah Dewa-Dewi

Tho Ti Kong ( Fu De Zheng Shen ) Dewa Tho Ti Kong atau Fu

  1. #1
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default Sejarah Dewa-Dewi

    Bosen ?? Ke Jalan2.com Aja Skrg !
    Tho Ti Kong (Fu De Zheng Shen)


    Dewa Tho Ti Kong atau Fu De Zheng Shen adalah Dewa Bumi, Beliau merupakan salah satu dewa yang tertua usianya. Oleh karena itu beliau sering disebut juga sebagai Hou Tu. Tho Ti Kong lahir pada tahun 1134 SM pada zaman Dinasti Zhou (Masa Kaisar Zhou Wu Wang ). Di semua tempat, Tho Ti Kong ditampilkan dalam bentuk yang hampir sama, yaitu seorang tua, berambut dan berjenggot putih, dengan wajah yang tersenyum ramah. Biasanya Tho Ti Kong tampak menggenggam sebongkah uang emas di tangan kanannya.

    Sejak kecil telah menunjukkan bakat sebagai orang pandai dan berhati mulia. Beliau menjabat Menteri Urusan Pemungutan Pajak Kerajaan. Dalam menjalankan tugasnya Beliau selalu bertindak bijaksana dan tidak memberatkan rakyat, sehingga rakyat sangat mencintainya. Beliau meninggal pada usia 102 tahun, Jabatannya digantikan oleh Wei Chao, seorang yang tamak dan kejam. Rakyat sangat menderita karena Wei Chao tidak mengenal kasihan dalam menarik pajak. Karena derita yang tak tertahankan, rakyat banyak yang pergi meninggalkan kampung halamannya, sehingga sawah ladang banyak yang terbengkalai. Dalam hati mereka amat mendambakan seorang bijaksana seperti Tho Ti Kong yang telah wafat itu. Lalu mereka memuja Tho Ti Kong sebagai tempat memohon perlindungan.
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  2. #2
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    Thien Shang Sheng Mu (Mak Co)

    Thien Shang Sheng Mu ( Thian Sang Sen Mu/Thian Siang Sing Bo) dikenal dengan sebutan Ma Zu ( Mak Co) atau Tian Hou. Tian Shang Sheng Mu adalah seorang wanita yang pernah hidup di daerah Fujian, tepatnya di Pulau Mei Zhou (Meizhou) dekat Pu Tian. Nama aslinya Lin Mo Niang ( Lim Bik Nio). Ayahnya Lin Yuan pernah menduduki jabatan sebagai pengurus di Propinsi Fujian.

    Karena kehidupan yang sederhana dan gemar berbuat kebaikan, orang menyebut diriNya sebagai Lin San Ren, yang berarti Lin orang yang baik. Lin Mo Niang dilahirkan pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zu dari Dinasti Song Utara, tahun Jian-long pertama, tanggal 23 bulan 3 imlek, tahun A.D 960.

    Selama sebulan sejak dilahirkan, Ia tidak pernah menangis sama sekali. Sebab itulah sang ayah memberi nama Mo Niang kepadaNya. Huruf “mo” berarti diam.

    Sejak kecil Lin Mo Niang telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Pada usia 7 tahun Ia telah masuk sekolah dan semua pelajaran yang telah diterima tidak pernah dilupakan.

    Kecuali belajar, Ia juga tekun sekali bersembahyang. Ia sangat berbakti pada orang tua dan suka menolong tetangga-tetangga yang sedang ditimpa kemalangan.

    Sebab itu penduduk desa sangat menghormatiNya Kehidupan di tepi laut menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tidak gentar menghadapi dahsyatnya gelombang dan angin taufan yang menghantui para pelaut.

    Selain itu, Ia dapat juga menyembuhkan orang sakit. Kemahirannya dalam pengobatan ini menyebabkan orang-orang di desa menyebutNya sebagai ling nu ( gadis mukjijat), long nu ( gadis naga ) dan shen gu ( bibi yang sakti ).

    Dalam legenda diceritakan bahwa pada usia 23 tahun, Ia berhasil menaklukkan 2 siluman sakti yang menguasai pegunungan Tao Hua Shan. Kedua siluman itu adalah Qian Li Yan yang dapat melihat sejauh ribuan li, dan Sun Feng Er yang dapat mendengar ribuan pal. Setelah dikalahkan akhirnya mereka menjadi pengawalNya.

    Pada usia 28 tahun, yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zong, tahun Yong Xi ke 4 , tanggal 16 bulan 2 Imlek , bersama sang ayah, Ia berlayar. Tapi di tengah jalan perahunya dihantam gelombang dan badai lalu tenggelam. Tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri, Ia berusaha menolong sang ayah.Tapi akhirnya keduanya tewas bersama-sama. Sebuah versi lain mengatakan bahwa Ia tidak tewas tetapi “diangkat ke langit” bersama raganya.

    Dikisahkan bahwa pagi itu, penduduk Meizhou melihat bahwa awan warna-warni sedang menyelimuti pulaunya. Di angkasa terdengar musik yang sangat merdu dan terlihat Lin Mo Niang perlahan-lahan naik ke angkasa untuk dinobatkan menjadi Dewi.

    Pada masa Dinasti Song, perdagangan maritim dari Propinsi Fujian sangat berkembang. Tapi para pelaut sadar bahwa hidup di tengah lautan selalu penuh dengan mara-bahaya yang bisa mengancam setiap saat. Untuk memohon perlindungan dan keselamatan, mereka menganggap Lin Mo Niang sebagai Dewi Pelindung Pelaut. Dan kemana-mana patung Nya selalu dibawa serta.

    Penduduk dengan tulus hati lalu mendirikan sebuah kelenteng di tempat Lin Mo Niang diangkat ke surga setahun kemudian. Kelenteng yang didirikan di Meizhou ini merupakan kelenteng Tian Shang Mu yang pertama di Tiongkok.

    Pada tanggal 23 bulan 3 Imlek tahun A.D. 1989, bertepatan dengan hari kelahiran Tian Shang Sheng Mu, patung Dewi pelindung Pelaut yang sangat dihormati itu sudah berdiri tegak di puncak Mei-feng Shan menghadap ke Selat Taiwan.Tian Shang Sheng Mu selalu ditampilkan sebagai dewi yang cantik dan berpakaian kebesaran seorang permaisuri, dan dikawal oleh kedua siluman yang pernah ditaklukkan, yaitu Qian Li Yan ( Si Mata Seribu Li ) atau bergelar Sui Cing Ciang Cin dan Sun Feng Er ( Si Kuping Angin Baik ) atau bergelar Cing Cin Ciang Cin. Adapun hari peringatan perayaan bagi Qian Li Yan , pada tanggal 15 bulan 1 Imlek dan untuk Sun Feng Er pada tanggal 16 bulan 1 Imlek. Qian Li Yan dapat melihat jauh sekali, berkulit hijau kebiru-biruan , mulutnya bertaring, senjatanya tombak. Sun Feng Er berkulit merah kecoklatan, mulutnya juga bertaring, bersenjata kapak bergagang panjang, dan dapat mendengar sampai jauh sekali.
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  3. #3
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    XUAN TIAN SHANG TI / HIAN THIAN SHIONG TE / SHIONG TE KONG / TA KU TA CUA

    Dalam dongeng rakyat Cina, Xuan Tian Shang Ti atau Xuan Wu adalah Dewa Langit Pengusir Setan. Xuan Wu, yang juga dikenal sebagai Zhen Wu adalah Dewa TAO yang sangat tinggi tingkatannya.

    Menurut buku-buku kuno, Xun Tian Shang Ti berasal dari udara sorga dan tubuhnya dari alam semesta. Dalam zaman Kaisar Kuning (2500-2100 S.M.), beliau terinkarnasi sebagai putera Ratu Shan Sheng dari Kerajaan Jingle. Ia lahir pada tengah hari dihari ketiga, bulan ketiga. Xuan Wu berada dalam kandungan ibunya selama 14 bulan. Pada suatu hari, saat berumur 14 tahun, Xuan Wu berada diluar istana, menikmati festifal lentera. Ia melihat bagaimana sulitnya bagi manusia untuk melepaskan diri dari beban keberuntungan, sex, minuman keras dan temperamen atau tabiat manusia.

    Dilihatnya orang berkelahi karena berebut wanita, seorang penjambret dihajar oleh massa sampai babak belur, orang kaya dengan segala kemewahannya berpesta-pora, sedang dijalan-jalan orang miskin mati kelaparan. Ini semua menggugah keinginannya untuk menjadi dewa dengan meninggalkan keduniawian, seperti pada penitisan yang lalu.
    Medengar keinginannya itu, sang raja ayahnya menjadi sangat marah dan memerintahkan agar anak muda itu dijebloskan kedalam penjara. Tapi kemudian datang dewa yang menolongnya dan membawanya ke gunung Wu Dang Shan (Bu Tong San). Di gunung ini Xuan Wu belajar TAO dan bertapa.
    Lebih kurang 20 tahun kemudian, dewa yang menolongnya itu diam-diam menyuruh dewa penguasa gunung Wu Dang untuk mengujinya. Sang dewa penguasa gunung menyaru sebagai seorang wanita cantik, yang mencoba dengan berbagai cara untuk merayu sang pertapa.

    Xuan Wu kehabisan akal untuk menolaknya, lalu bangkit dari meditasi dan meninggalkan tempat itu. Dikaki gunung ia melihat seorang wanita tua mengasah sebatang besi diatas batu. Ketika Xuan Wu bertanya apa maksudnya mengasah besi, nenek itu menjawab ia sedang membuat jarum untuk cucunya.
    Xuan Wu termenung mendengar ucapan nenek itu, kemudian sadarlah ia akan makna dari perkataannya yang terdengar sederhana itu. Dengan keteguhan hati, sebatang besi pun dapat diasah menjadi jarum. Xuan Wu segera kembali ketempat bertapanya, berlatih lagi dengan tekun, selang 20 tahun lagi, mengatasi berbagai macam cobaan dan godaan. Kemudian dewa penolongnya membawanya menghadap Ie Huang Ta Tie, yang mengangkatnya menjadi dewa dengan gelar Xun Tian Shang Ti, yang berkuasa disebelah utara dan bertugas memerangi kejahatan serta menangkap siluman dan iblis yang mengacau dunia.
    Sebetulnya Xuan Wu telah beberapa kali menitis ke dunia. Dibagian atas tulisan ini, saat menikmati festifal lentera diluar istana itu, ia adalah sorang anak raja dengan nama Xuan Yuan.

    Setelah diangkat menjadi dewa dengan gelar Xun Tian Shang Ti, Xuan Wu turun kebumi menaklukkan berbagai siluman, antara lain siluman ular dan siluman kura-kura, yang kemudian menjadi pengikutnya. Disamping itu, seorang tokoh dunia gelap Zheo Gong Ming / Tio Kong Sing juga ditaklukkan dan menjadi pengawalnya, sebagai pembawa lentera berwarna hitam.
    Xun Tian Shang Ti ditampilkan sebagai seorang dewa yang memakai pakaian perang keemasan, tangan kanannya menghunus pedang penakluk iblis, dan dengan kedua kakinya yang tanpa sepatu menginjak kura-kura dan ular. Wajahnya gagah berwibawa, dihias dengan jenggot panjang dan rambutnya terurai lepas kebelakang, tidak diikat atau dikonde sebagai umumnya rambut pria pada jaman itu. Patung-patung Xuan Wu yang terdapat didalam kelenteng-kelenteng di gunung Wu Dang Shan semuanya juga bergaya demikian.
    Demikianlah sekelumit mengenai hikayat Xiun Tian Shang Ti, Dewa Besar yang beberapa kali menitis kebumi sebagai anak manusia, terakhir kali dengan kesadaran yang tinggi dan ketekunannya melaksanakan ajaran TAO berubah dari manusia menjadi dewa.
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  4. #4
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    BA XIAN GUO HAI / PA SHIAN KE HAI / DELAPAN DEWA

    Ba Xian [Delapan Dewa / Pa Shien] adalah Dewa-Dewi Tao yang hidup pada masa yang berbeda dan dapat mencapai kekekalan hidup. Mereka sering dilukiskan pada benda-benda porselen, patung, sulaman, lukisan dan sebagainya.

    Dewa-Dewi Ba Xian menggambarkan kehidupan yang berbeda, yaitu Kemiskinan, Kekayaan, Kebangsawanan, Kejelataan, Kaum Tua, Kaum Muda, Kejantanan dan Kewanitaan.

    Ba Xian dihormati dan dipuja karena menunjukkan kebahagiaan.

    Kisah Ba Xian menunjukkan bahwa kita dapat mencapai kehidupan abadi dalam kebahagiaan, melalui tindakan-tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri dan melakukan perbuatan-perbuatan baik.

    Mereka adalah :

    01. ZHONG LI QUAN
    Memiliki nama keluarga Zhongli dan hidup pada masa Dinasti Han, karena itu ia
    juga dikenal sebagai Han Zhongli. Zhongli Quan adalah seorang Jenderal dalam
    kerajaan pada masa Dinasti Han. Pada hari tuanya dia menjadi petapa dan
    mendalami ajaran Tao.Biasa digambarkan sebagai laki-laki gemuk bertelanjang
    perut dan membawa kipas bulu yang dapat mengendalikan lautan.

    02. ZHANG GUO LAO
    Zhang Guolao adalah kepala akademi kerajaan, namun dia mengundurkan diri untuk
    menjadi petapa di Gunung Chuang Tiao di Shanxi. Memiliki keledai ajaib yang
    dapat membawa dirinya berjalan ribuan kilometer setiap hari. Ketika mencapai
    tujuan, dia mengubah keledai tersebut menjadi kertas dan Zhang Guolao melipatnya
    untuk dimasukkan dalam sakunya. Untuk menghidupkannya dia membuka lipatan
    tersebut dan meniupnya. Kaisar Tang Ming Huang ingin mengangkat Zhang Guolao
    bekerja di istana, tetapi dia tidak bersedia meninggalkan kehidupan
    pengembaraannya. Setelah dua kali menghadap kaisar, pertapa ini pun menghilang
    entah kemana. Sering digambarkan sedang menunggangi keledai secara terbalik.
    Simbolnya adalah tempat ikan yang terdiri dari batang bambu dengan tabung kecil
    yang muncul di ujungnya. Ia dipuja sebagai pembawa keturunan laki-laki.

    03. LU DOMG BIN
    Seorang sastrawan dan petapa yang mempelajari Tao dari Zhongli Quan. Di tangan
    kanannya sering membawa kebutan suci pendeta Tao. Simbol Lu Dongbin adalah
    pedang Pembunuh Roh Jahat dan dengan gerakan terbang yang cepat. Sebelum
    mempelajari Tao, Lu Dongbin diuji dengan berbagai ujian berat oleh Zhongli Quan,
    yang berhasil diatasi semuanya. Lu Dongbin dapat dikatakan sebagai salah satu
    Dewa yang paling tersohor dari Delapan Dewa. Ia dianggap sebagai penolong orang
    miskin dan pembasmi roh-roh jahat.

    04. LI TIE GUAI
    Memiliki nama asli Li Xuan dan hidup pada masa Dinasti Sui. Dia melambangkan
    cacat dan keburukan. Dia berusaha untuk meringankan beban penderitaan umat
    manusia. Li Tieguai memiliki sebuah tongkat besi dan bermuka hitam. Dia membawa
    sebuah labu yang digunakannya untuk menolong umat manusia. Suatu hari, ketika
    rohnya pergi ke Huashan, dia memberitahukan muridnya, Lang Ling, untuk menjaga
    badannya dan membakarnya apabila dia tidak kembali dalam tujuh hari. Dalam hari
    keenam, Lang Ling mendapat kabar bahwa ibunya sakit keras dan sebagai seorang
    anak dia harus merawat ibunya. Maka dia membakar badan tersebut satu hari lebih
    awal. Ketika roh Li Tieguai kembali keesokan harinya, dia tidak dapat menemukan
    badannya sehingga dia memasuki badan seorang tua yang baru saja meninggal.Namun,
    orang tua tersebut ternyata cacat. Pada saat pertama, Li ingin meninggalkan
    badan tersebut, tetapi Lao Zi / Lao Tze membujuknya dengan mengatakan bahwa
    penerapan dari ajaran Tao tidak tergantung penampilan. Lao Zi lalu memberi
    tongkat besi kepada Li Tieguai. Li Tieguai kadang digambarkan sedang berdiri di
    atas kepiting atau ditemani seekor menjangan.

    05. CAO GUO JI
    Hidup pada masa Dinasti Song dan merupakan putra dari Cao Bin, seorang komandan
    militer, dan saudara laki-laki dari Ratu Cao Hou, ibu dari Kaisar Yin Zong. Cao
    Guojiu digambarkan memakai jubah kebesaran dan topi pengadilan. Di tangannya ada
    kertas catatan kerajaan dan sepasang alat musik kastanyet. Suatu hari Zhongli
    Quan dan Lu Dongbin bertemu dengannya dan menanyakan apa yang sedang dia
    lakukan. Dia menjawab bahwa dia sedang belajar Tao. "Apakah itu dan dimanakah
    itu?", mereka balik bertanya. Pertama-tama dia menunjuk ke langit dan kemudian
    ke hatinya.

    06. LAN CAI HE
    Sering ditampilkan berpakaian biru dengan tidak bersepatu. Sambil melambai-
    lambaikan sepasang tongkat, ia mengemis sepanjang jalan. Lan Caihe terus menerus
    membacakan syair-syair yang menggambarkan kehidupan yang tidak kekal beserta
    kesenangan-kesenangan yang hampa. Ia berkelana ke seluruh negeri sambil menyanyi
    dan membawa keranjang bunga. Lan Caihe terkadang terlihat seperti wanita.

    07. HAN XIANG ZI
    Han Xiangzi melambangkan masa muda. Dia adalah keponakan dari Han Yu, seorang
    menteri pada pemerintahan Kaisar Hsing Tung dari Dinasti Tang. Simbolnya adalah
    sebuah suling. Seorang pecinta kesunyian, mewakili orang ideal yang senang
    tinggal ditempat alamiah. Han Xiangzi sering menyusuri desa sambil meniup
    seruling dengan merdu sehingga menarik perhatian burung-burung dan binatang
    lainnya. Han Xiangzi tidak mengenal nilai uang dan bila diberi uang akan dia
    sebarkan di tanah.

    08. HE XIAN GU
    Satu-satunya wanita diantara Delapan Dewa. Berpenampilan halus dan lemah lembut,
    dan sering terlihat membawa bunga teratai yang dapat dipakai untuk mengobati
    orang sakit. Kadang-kadang dia digambarkan berada di atas kelopak teratai yang
    terapung sambil memegang pengusir lalat.
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  5. #5
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    Cai Sen Ye

    Di antara sekian banyak dewa-dewa, seandainya diadakan pemilihan dengan pemungutan suara: “Dewa apakah yang paling disukai?” Barangkali Cai Shen Ye {Hok Kian = Cai Sin Ya} akan terpilih dengan mendapatkan suara terbanyak. Biar bagaimanapun, realitas hidup di dunia ini, kebutuhan/tuntutan manusia akan uang/harta, selamanya tidak akan ada habis-habisnya. Sementara baik apakah Cai Shen bisa sungguh-sungguh memberikan kekayaan atau tidak, maupun keberadaan Dewa Harta (Dewa Kekayaan) itu sendiri, sedikit banyak dapat memuaskan fantasi orang banyak terhadap kekayaan.

    Dewa Harta yang diyakini di kalangan rakyat jelata sangat banyak macamnya, ada Wen Wu Cai Shen {Bun Bu Cai Sin} – Dewa Harta Sipil & Militer, Wu Lu Cai Shen {Ngo Lo Cai Sin} – Dewa Harta dari Lima Jalan, Zheng Fu Cai Shen {Tiam Hok Cai Sin} – Dewa Kekayaan Penambah Rezeki, dan lain-lain. ??? Tu Di Gong {Tho Tek Kong} – Dewa Bumi adalah Cai Shen yang paling dikenal oleh semua orang. Cai Sin Ya memiliki wilayah penghormatan yang luas. Sembahyang kepada Cai Shen, selain terdapat di kelenteng-kelenteng, juga terdapat di rumah-rumah penduduk. Wu Cai Shen (Dewa Kekayaan Militer) adalah Xuan Tan Yuan Shuai Zhao Gong Ming {Hian Tan Gwan Swe Tio Kong Beng} dan ?? Guan Gong {Kwan Kong}.

    Latar belakang kisah Cai Shen Ye ada beberapa macam versi. Yang paling terkenal adalah Riwayat Zhao Gong Ming {Tio Kong Beng} yang tertulis dalam Feng Shen Bang (Daftar Penganugerahan Dewa-Dewa). Dalam Feng Shen Bang ini diceritakan sebagai berikut:Kaisar Zhou Wang {Tiu Ong} dari Kerajaan Shang memerintahkan Wen Zhong {Bun Tiong} jendralnya yang terkenal, untuk menyerbu Xi Chi, basis pertahanan pasukan Wen Wang {Bun Ong}. Untuk mencapai tujuannya tersebut, Wen Zhong minta bantuan 6 orang sakti untuk membentuk formasi barisan yang disebut Shi Jue Zhen {Si Ciap Tin} – Sepuluh Barisan Pemusnah. Tapi Jiang Zi Ya berhasil menghancurkan 6 di antaranya. Melihat kekalahan di pihaknya, Wen Zhong meminta bantuan Zhao Gong Ming yang pada waktu itu sedang bertapa di gua Lou Fu Dong, pegunungan E Mei Shan {Go Bi San}.

    Zhao Gong Ming menyatakan kesanggupannya untuk membantu. Pada waktu ia turun gunung, seekor harimau besar menerkam. Harimau itu tak berkutik di bawah tudingan 2 jari tangannya. Kemudian ia mengendarai harimau yang telah diikat lehernya dengan angkin (sejenis kain). Pada dahi si raja hutan tersebut ditempelkan selembar Hu (Surat Jimat). Selanjutnya harimau itu menjadi tunggangannya & tunduk pada perintahnya.

    Dengan mengendarai harimau, Zhao Gong Ming bertempur dengan Jiang Zi Ya. Setelah beberapa jurus, Zhao Gong Ming mengeluarkan ruyung saktinya & menghajar Jiang Zi Ya hingga roboh & tewas. Tapi, datanglah Guang Cheng Zi {Kong Sheng Cu} yang lalu menolong Zi Ya sehingga ia hidup kembali. Huang Long Zhen Ren {Wi Liong Cin Jin} keluar untuk bertempur dengan Zhao Gong Ming, tapi ia tertawan oleh tali wasiat Zhao Gong Ming. Chi Jing Zi & Guang Cheng Zi juga terpukul jatuh oleh pertapa dengan banyak kesaktian tersebut.

    Kemudian Jiang Zi Ya mendapat bantuan dari Xiao Sheng, seorang sakti dari pegunungan Wu Yi Shan. Semua wasiat dari Zhao Gong Ming berhasil dirampas. Karena merasa malu Zhao Gong Ming kabur ke pulau San Xian Dao (Pulau 3 Dewa) untuk menemui Yun Xiao Niang Niang, seorang petapa wanita yang sakti. Zhao Gong Ming meminjam sebuah gunting wasiat kepada Yun Xiao Niang Niang untuk merebut kembali wasiat-wasiatnya yang dirampas musuh.

    Ternyata gunting wasiat itu adalah 2 ekor naga yang berubah wujud, dengan kemampuan yang luar biasa. Banyak dewa-dewa sakti dari pihak Jiang Zi Ya terpotong menjadi 2 bagian & tewas karena pusaka ini. Jiang Zi Ya menjadi gelisah, para prajuritnya juga menjadi gentar. Pada saat yang kritis ini datanglah seorang Taoist dari pegunungan Gun Lun Shan {Kun Lun San} yang bernama Lu Ya. Lu Ya menyuruh Jiang Zi Ya membuat boneka dari rumput. Pada tubuh boneka rumput tersebut diletakkan selembar kertas yang dituliskan nama Zhao Gong Ming. Pada bagian kepala & kaki dipasang masing-masing sebuah pelita kecil. Di depan boneka Zhao Gong Ming tersebut diadakan sembahyangan selama 21 hari berturut-turut. Jiang Zi Ya atas nasehat Lu Ya bersembahyang di situ beberapa hari. Ia terus bersembahyang sampai suatu hari Zhao Gong Ming merasakan jantungnya berdebar-debar, badannya terasa panas dingin tak menentu. Semangat & tenaganya lenyap. Pada hari ke-21, setelah mencuci rambutnya, Jiang Zi Ya mementang busur & mengarahkan anak panah ke mata kiri boneka rumput tersebut. Zhao Gong Ming yang berada di kubu pasukan Shang, mendadak merasa mata kirinya sakit sekali & kemudian menjadi buta. Panah Jiang Zi Ya berikutnya diarahkan ke mata kanan boneka Zhao Gong Ming & panah ketiga diarahkan ke jantungnya. Akhirnya Zhao Gong Ming yang sakti ini tewas terpanah oleh Jiang Zi Ya.

    Setelah Wen Wang berhasil menghancurkan pasukan Shang & mendirikan dinasti Zhou, Jiang Zi Ya melaksanakan perintah gurunya untuk mengadakan pelantikan para malaikat. Zhao Gong Ming dianugerahi gelar Jin Long Ru Yi Zheng Yi Long Hu Xuan Tan Zhen Jun yang secara singkat disebut Zheng Yi Xuan Tan Zhen Jun {Ceng It Hian Than Cin Kun}. Xuan Tan Zhen Jun mempunyai 4 pengiring yang disebut Cai Shen Shi Zi, Duta Dewa Kekayaan, yaitu :

    1. Zhao Bao Tian Zun Xiao Sheng (Malaikat Pemanggil Mestika)
    2. Na Zhen Tian Zun Zen Bao (Malaikat Pemungut Benda Berharga)
    3. Zhao Chai Shi Zhe Chen Jiu Gong (Duta Pemanggil Kekayaan)
    4. Li Shi Xian Guan Yao Shao Si (Pejabat Dewa Keuntungan)

    Xuan Tan Zhen Jun bersama 4 pengiringnya ini sering ditampilkan secara bersama-sama dalam bentuk gambar & disebut Wu Lu Cai Shen {Ngo Lo Cai Sin} – Dewa Kekayaan dari Lima Jalan.

    Dewa Kekayaan ini sering ditampilkan sebagai seorang panglima perang berwajah bengis dengan pakaian perang lengkap, 1 tangan menggenggam ruyung & tangan yang lain membawa sebongkah emas, mengendarai seekor harimau hitam. Ini merupakan gambaran berdasarkan buku Feng Shen Bang tersebut.
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  6. #6
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    DA YE ER YE (DEWA JANGKUNG & PENDEK)


    di vihara ada arca dewa yang bentuknya agak aneh; 1 tinggi 1 pendek. Arca dewa yang satu terlihat pucat & kurus, mata yang menonjol dengan lidah yang

    terjulur ke luar, memakai topi kertas panjang yang bertuliskan Yi Jian Da Ji, yang berarti Sekali bertemu akan mendapat keberuntungan. Arca dewa yang satu

    lagi agak kecil & pendek, hidung pesek dengan bibir yang tebal, tangan kanan memegang kipas, tangan kiri memegang lempengan bertuliskan Shan E Fen Ming, yang

    berarti Membedakan dengan jelas baik & jahat.

    Kedua dewa ini adalah Qi Ye Ba Ye (Kakek ke-7 & Kakek ke-8) yang diketahui oleh banyak orang. Di kalangan rakyat juga terkenal dengan sebutan Gao Zi Ye (Dewa

    Cermat yang Jangkung) & Ai Zi Ye (Dewa Cermat yang Pendek). Di Jakarta mereka berdua populer dengan sebutan Da Ye Er Ye (Kakek Tertua & Kakek Kedua).

    Da Ye Er Ye adalah bawahan pejabat kehakiman alam akhirat yaitu Yan Luo Wang {Hok Kian = Giam Lo Ong = Raja Yama}. Da Ye Er Ye bertugas secara khusus

    mengawasi perbuatan baik buruk manusia di dunia.

    Da Ye adalah Jendral Xie Bi An, sedangkan Er Ye adalah Jendral Fan Wu Jiu. Asal usul mereka adalah sebagai berikut:

    Jendral Xie Bi An & Jendral Fan Wu Jiu hidup pada masa Dinasti Tang [618 ? 907 M]. Pada saat pemberontakan An Lu Shan, pihak musuh melancarkan serangan

    mendadak ke kota Chang An. Kaisar Tang Ming melarikan diri sampai ke Propinsi Xi Chuan Barat. Tentara musuh mengepung sampai ke kota Sui Yang. Penjaga kota

    Sui Yang yaitu Xu Yuan & Zhang Xun berusaha mempertahankan benteng kota dengan sekuat tenaga. Pemberontakan An Lu Shan berlangsung lama. Zhang Xun mengutus

    kedua Jendral Xie Bi An & Jendral Fan Wu Jiu keluar benteng kota untuk meminta bala bantuan.

    Jendral Xie Bi An dengan postur tubuh yang tinggi (kira-kira 3,33 meter) & kaki yang panjang dengan derap langkah yang lebih cepat, bertemu musuh terlebih

    dulu & kemudian tertangkap. Oleh pihak musuh Jendral Xie Bi An digantung di atas tembok kota. Jendral Fan Wu Jiu melihat dari jauh Jendral Xie Bi An telah

    mati digantung di atas tembok kota, lalu bersembunyi di tepi sungai. Tanpa terduga, karena tidak hati-hati ia terjatuh ke sungai & akhirnya mati tenggelam.

    Kedua Jendral tersebut tidak bisa menembus pengepungan musuh yang ketat. Akhirnya kota Sui Yang jatuh ke tangan musuh karena para prajurit yang telah letih &

    kehabisan ransum. Kedua Jendral Xie & Fan mati demi membela Negara, kemudian dianugerahi gelar sebagai Jendral Pelindung.

    Konon, jika bertemu Da Ye yang sedang pergi berwisata, asal saja orang tersebut sudi berlutut, berterima kasih & memohon rezeki, pasti akan mendapat berkah &

    perlindungan. Maka beliau disebut juga sebagai Yi Jian Da Ji ? Xie Bi An, yang berarti Sekali Bertemu akan mendapat kemujuran besar & pasti selamat ? Xie Bi

    An.

    Tapi jika bertemu Er Ye yang sedang tugas berpatroli, wah itu celaka tiga belas ! Berarti akan menghadapi kemalangan/kesialan, tamatlah riwayat orang

    tersebut, sehingga Er Ye disebut juga sebagai Fan Wu Jiu, yang berarti Tuan Fan yang tidak tertolong lagi.

    Hari Se Jit (ulang tahun) Da Ye Er Ye diperingati setiap tanggal 13 bulan 2 Imlek.
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  7. #7
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    CAO KUN KONG / DEWA DAPUR

    Dikisahkan, bahwa Dewa dapur (atau dlm Konghucu disebut Malaikat Dapur), merupakan seseorng yng bernama Thio Teng Hok. Thio teng hok adalah penjudi yang tak pernah mujur (selalu kalah main), hingga seluruh hartanya habis. Selain penjudi, Ia juga seorang pemabuk dan pemalas. Kemudian Ia membujuk isterinya utk menjual diri pada seorang hartawan utk dijadikan gundik/selir, karena mereka sudah tak punya apa-apa lagi. Isterinya pun akhirnya menyetujui hal itu.Uang hasil penjualan isterinya itu pun digunakan pula sbg taruhan di meja judi. Beberapa waktu sekali, ia menghampiri mantan isterinya dirumah sang hartawan, saat sang hartawan sedang tak ada di tempat.
    Saat bahan makanan dan uang habis, ia pun menghampiri mantan isterinya. Suatu ketika Ia kembali lagi ke rumah hartawan itu, dan Isterinya memberikannya sejumlah Kue Ang Kui Ko, yang didalamnya disisipkan sejumlah uang emas. Isterinya berharap dengan memberikan uang emas pada Teng Hok, ia akan hidap layak. Namun malahan Teng Hok menjual Kue-kue itu, dan hasil penjualannya dijadikan Taruhan di meja judi. Setelah uang hasil penjualan kue tsb sdh habis utk berjudi, ia kembali lagi ke rumah hartawan itu. Dengan marah, mantan isterinya mengatakan bahwa dalam kue-kue yang tak seberapa harganya itu terselip sejumlah uang emas yang sangat mahal nilainya.
    Saat itu, insaflah Thio Teng Hok atas segala kesalahannya. Ia pun takut dan tak tega bila mantan isterinya yang baik dan bijak itu dituduh berzinah. Sekonyong-konyong, Teng Hok Membenturkan kepalanya ke Tembok dapur di rumah sang Hartawan. Otak dan isi kepala Teng Hok hancur, dan berceceran ke mana-mana. Untung pada saat itu tak ada orang yang melihatnya. Kemudian Mantan isterinya menguburkan Jenazah Teng Hok di dapur sang hartawan. selain itu, iapun membuatkan papan nama (papan abu) untuk Almarhum mantan suaminya dengan tulisan "Teng Hok Sien Ci". Setiap hari-hari Uposata (Ce it - Cap Go) dan menjelang Tahun Baru Imlek, ia menyembahyangi Almarhum Mantan Suaminya.
    Para tetangga yang heran mengapa selir sang hartawan rajin bersembahyang, menanyakan siapa yang ia semabhyangi. Dengan cerdik, ia mengatakan bahwa ia menyembahyangi Dewa Dapur. Para tetangga yang puas mendengar jawaban selir sang hartawan hanya berkata " Pantas, Orang itu semakin kaya, ternyata ia memuja Dewa Dapur.
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  8. #8
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    MEN SHEN / MENG SIN / DEWA PINTU

    Asal usul keberadaan Men Shen {Hok Kian = Mui Sin} Dewa Pintu sudah sangat lama. Hal ini membuktikan bahwa dari

    zaman dulu, rakyat sangat menaruh perhatian pada keamanan pintu. Fungsi Dewa Pintu walaupun tidak bisa dibandingkan

    dengan sistem keamanan berteknologi canggih seperti zaman sekarang, namun peranan yang bisa dikembangkan yaitu

    memberikan rasa tenang & tentram, bahkan tidak bisa diharapkan dari sistem keamanan. Biar bagaimanapun rakyat

    Tionghoa percaya bahwa Dewa Pintu bisa mengusir hantu atau setan. Hal ini juga tidak dapat dilihat atau dihadapi

    bahkan oleh sistem keamanan dengan teknologi canggih sekalipun.

    Dewa Pintu ada beberapa macam: ada Wu Jiang Men Shen (Dewa Pintu Militer), Wen Guan Men Shen (Dewa Pintu Sipil), Qi

    Fu Men Shen (Dewa Pintu Memohon Rezeki), dan lain-lain. Di berbagai tempat Dewa Pintu yang dihormati tidak sama.

    Selain Dewa Pintu ?? Shen Tu & Yu Lei yang paling kuno dikenal orang, Qin Shu Bao {Hok Kian = Cin Siok Po} alias

    Qin Qiong {Cin Kiong} & Yu Chi Gong {Ut Ti Kiong} alias Yu Chi Jing De {Ut Ti Keng Tek} adalah Dewa Pintu yang

    pengaruhnya paling besar, & tersebar paling luas.

    Qin Shu Bao {Cin Siok Po} & Yu Chi Gong {Ut Ti Kiong} adalah salah satu dari Dewa Pintu Militer. Cin Siok Po & Ut

    Ti Kiong adalah 2 Jendral terkenal pada masa Dinasti Tang [618 ? 907 M] yang membantu Kaisar Tang Tai Zong {Tong

    Thai Cong} ? Li Shi Min {Li Se Bin} mendirikan Dinasti Tang {Tong}. Bagaimana mereka berdua bisa menjadi Dewa Pintu

    Berdasarkan buku Li Dai Shen Xian Tong Jian, pada masa-masa awal Kaisar Li Se Bin naik tahta, beliau sering kali

    merasa tidak enak badan, pada malam hari sering bermimpi bertemu dengan hantu/setan yang datang mengganggu. Mungkin

    hal ini disebabkan karena pada masa awal berjuang mendirikan kekuasaan negara, beliau telah membunuh banyak orang.

    Dalam buku tersebut diceritakan : ?Di luar pintu kamar tidur dilempar batu bata & genteng, setan & siluman

    berteriak-teriak, 36 bangunan istana, 72 pekarangan, tiada malam yang tenang?. Kaisar Tong Thai Cong diganggu

    sampai makan tak enak, tidur tak nyenyak.

    Setelah Jendral Cin Siok Po & Jendral Ut Ti Kiong mengetahui peristiwa ini, lalu memohon untuk dapat menjaga

    keamanan dengan berdiri di kedua sisi pintu istana dengan memakai pakaian militer. Pada malam tersebut, benar-benar

    tidak terjadi apapun, tidak ada suara-suara dari roh-roh jahat yang mengganggu. Kaisar Tong Thai Cong merasa amat

    gembira. Namun kalau menyuruh mereka berdua berdiri sepanjang malam di depan pintu sampai langit terang (pagi

    hari), juga terlalu meletihkan (kasihan juga mereka berdua).

    Kaisar Tong Thai Cong lalu menitahkan ahli lukis untuk menggambar mereka berdua dalam ujud ?Memakai baju besi &

    memegang tombak bersabit, nampak berwibawa dengan sorot mata yang tajam.? Setelah selesai, kedua gambar tersebut

    digantung di kedua daun pintu istana. Sejak itu, Kaisar Tong Thai Cong ? Li Se Bin tidak diganggu lagi oleh roh-roh

    halus itu lagi. Peristiwa ini tersebar luas di kalangan masyarakat. Oleh orang-orang pada generasi kemudian, Cin

    Siok Po & Ut Ti Kiong menjadi Dewa Pintu yang dihormati di rumah-rumah penduduk.

    Khusus kelenteng yang bercorak Buddhisme, sering memakai gambar 2 orang Bodhisatva yang berpakaian perang lengkap,

    sebagai Dewa Pintu yaitu Qie Lan Pu Sa & Wei Tuo Pu Sa.

    Pemasangan gambar Dewa Pintu ini, kemudian tidak terbatas hanya pada pintu kelenteng saja, tapi sudah umum terdapat

    di tiap bangunan, baik itu rumah penduduk maupun kantor-kantor. Sekarang hal ini dapat kita lihat di Taiwan,

    Hongkong & Singapura, bahkan di Jepang & Korea. Di antara beberapa macam Dewa Pintu, dewasa ini yang sering

    dipasang gambarnya di rumah-rumah penduduk, adalah Cin Siok Po & Ut Ti Kiong. Cin Siok Po & Ut Ti Kiong ini pulalah

    yang gambarnya kita lihat sekarang pada daun pintu sebagian besar kelenteng yang ada.
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  9. #9
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    Te Cong Ong Pho Sat - Bodhisatva Ksitigarbha

    Sumpah Agungnya yang penuh rasa welas asih berbunyi : “Kalau bukan aku yang pergi ke Neraka untuk menolong roh-roh yang tersiksa di sana, siapakah yang akan pergi? …… Kalau Neraka belum kosong dari roh-roh yang menderita, aku tidak akan menjadi Buddha.”

    “Kalau bukan aku yang ke Neraka, siapakah yang akan pergi ke Neraka?” Kalimat ini sering dipakai untuk melukiskan semangat & tekad Kalau bukan saya siapa lagi, hanya satu-satunya yaitu diri sendiri menghadapi dengan keberanian, suatu keadaan yang luar biasa sulit, di mana orang lain satu demi satu akan menghindar dari hal tersebut. Sebenarnya, kalau kita mengerti betapa menakutkan & menderitanya berada di Neraka, yang bisa mengucapkan & bisa melaksanakan sekaligus, barangkali hanya Te Cong Ong Pho Sat.

    Di Zang Wang Pu Sa {Hok Kian = Te Cong Ong Pho Sat} atau disebut juga Di Zang Pu Sa {Te Cong Pho Sat}. Dalam bahasa Sansekerta disebut Bodhisatva Ksitigarbha, adalah dewata Buddhisme yang paling banyak dipuja oleh masyarakat di samping Guan Yin Pu Sa.

    Di berarti bumi yang amat besar. Zang berarti menyimpan. Ini menunjukkan bahwa hati Te Cong Ong Pho Sat seperti bumi yang amat besar, yang dapat menyimpan apa saja, termasuk manusia yang tak terhitung jumlahnya, terutama yang memiliki akar kebajikan.

    Te Cong Ong Pho Sat adalah salah satu dari 4 Bodhisatva yang amat dihormati oleh umat Buddhis Mahayana. Keempat Boddhisatva tersebut masing-masing memiliki 4 kwalitas dasar :
    1. Guan Yin Pu Sa sebagai lambang Welas Asih.
    2. Wen Su Pu Sa sebagai lambang Kebijaksanaan.
    3. Pu Xian Pu Sa sebagai lambang Kasih & Pelaksanaan.
    4. Di Zang Pu Sa sebagai lambang Keagungan dalam sumpah untuk menolong roh-roh yang sengsara.

    Sumpah Agungnya yang penuh rasa welas asih berbunyi : “Kalau bukan aku yang pergi ke Neraka untuk menolong roh-roh yang tersiksa di sana, siapakah yang akan pergi? …… Kalau Neraka belum kosong dari roh-roh yang menderita, aku tidak akan menjadi Buddha.”

    Di dalam hati orang Tionghoa, Te Cong Ong Pho Sat adalah Dewa Pelindung bagi arwah-arwah yang mengalami siksaan di Neraka, agar mereka dapat terbebas & terlahir kembali (tumimbal lahir). Beliau sering dikaitkan dengan 10 Raja Akhirat (Shi Tian Yan Wang). Ke sepuluh Raja Akhirat adalah bawahan langsung dari beliau, sehingga beliau bergelar You Ming Jiao Zhu (Pemuka Agama di Akhirat). Beliau menjadi pelindung para arwah, membimbing mereka agar insyaf dari perbuatan buruknya di masa yang lalu, & tak akan mengulangnya lagi, agar dapat terbebas dari karma buruk pada penitisan yang akan datang.

    Sejarah Te Cong Ong Pho Sat tercatat dalam Kitab Suci Buddhis sebagai berikut: Ketika Buddha Sakyamuni telah menyelesaikan tugasnya & masuk Nirwana, 1.500 tahun kemudian ia menitis kembali ke dunia & terlahir di Korea, dengan nama Jin Qiao Jue {Kim Kiauw Kak}, seorang pangeran dari keluarga Raja di negeri Sin Lo. Setelah banyak orang mengetahui bahwa ia adalah penitisan Buddha, mereka memanggilnya Jin Di Zang. Beliau berwatak sederhana, welas asih & berbudi, tidak serakah akan harta & tahta. Ia amat gemar mendalami ajaran Kong Hu Cu & Buddha.

    Pada tahun 653 M, tahun Yong Wei ke-4, yaitu masa pemerintahan Kaisar Tang Gao Zong, Jin Qiao Jue yang pada waktu itu berusia 24 tahun dengan membawa seekor anjing yang diberi nama Shan Ting (arti harfiah : “Pandai Mendengar”) berlayar menyeberangi lautan, kemudian sampai di pegunungan Jiu Hua Shan, propinsi An Hui.

    Gunung Jiu Hua Shan sebenarnya adalah milik Min Gong {Bin Kong}. Min Gong adalah orang yang sangat berbudi, suka menolong orang-orang yang tertimpa kemalangan. Ia berjanji untuk menyediakan makanan vegetarian untuk 100 orang Bikkhu. Namun, setiap kali ia hanya bisa mengumpulkan 99 orang, tidak pernah berhasil memenuhi jumlah 100 orang.

    Oleh karena itu, kali ini ia pergi sendiri ke gunung untuk mencari Bikkhu yang ke-100. Ketika melihat Jin Qiao Jue sedang bersemedi di sebuah gubuk, ia segera menghampirinya & mengundangnya datang ke rumah untuk makan bersama. Jin Qiao Jue yang melihat Min Gong kelihatannya berjodoh dengannya, lalu memenuhi undangannya, tapi dengan mengajukan 1 permintaan. Permintaannya sederhana: ia hanya menginginkan sebidang tanah di Jiu Hua Shan seluas baju Kasa-nya (Jubah Suci Bikkhu) yang ditebarkan. Melihat permintaan yang sepele itu, Min Gong langsung menyetujuinya. Namun keanehan terjadi. Ketika Jin Qiao Jue menebarkan baju kasanya ke udara, ternyata baju pusaka tersebut berubah menjadi luar biasa besar sehingga dapat menutup seluruh pegunungan itu.

    Demikianlah Min Gong lalu menyerahkan Jiu Hua Shan kepada Jin Qiao Jue yang digunakan untuk mendirikan tempat ibadah & mengajar Dharma. Min Gong bahkan menyuruh putranya untuk menemani Jin Qiao Jue menjadi Bikkhu. Putra Min Gong ini kemudian disebut Dao Ming He Sang {To Bing Hwe Sio}. Selanjutnya Min Gong pun meninggalkan kehidupan-nya yang penuh kemewahan untuk ikut menjadi penganut Jin Qiao Jue & mengangkat Dao Ming He Sang, putranya sendiri, menjadi gurunya, & mensucikan diri di gunung Jiu Hua Shan.

    Dewasa ini, gambar ataupun arca Te Cong Ong Pho Sat biasanya dilengkapi dengan seorang Bikkhu muda yang berdiri di sebelah kiri & seorang tua berdiri di sebelah kanannya. Itu adalah Dao Ming He Sang & Min Gong.

    Jin Qiao Jue bertapa di Gunung Jiu Hua Shan selama 75 tahun, dengan ditemani oleh anjingnya yang setia. Te Cong Ong Pho Sat wafat di usia 99 tahun, tahun 728 M, pada masa pemerintahan Kaisar Xuan Zong dari Dinasti Tang, pada bulan 7 tanggal 30 penanggalan Imlek. Inilah sebabnya mengapa setiap tanggal tersebut orang Tionghoa banyak membakar hio yang disebut Di Zang Xiang {Te Cong Hio} atau Dupa Te Cong.

    Jenazah Jin Qiao Jue ditempatkan pada sebuah gua batu kecil. Sampai pada suatu ketika jenazah dikeluarkan, tapi masih dalam keadaan baik & tidak membusuk, & wajahnya seperti orang tidur.

    Pada masa pemerintahan Kaisar Xiao Zong, para umatnya membangun sebuah pagoda di Nan Tai (salah satu puncak di Jiu Hua Shan) & menempatkan abunya di sana. Tatkala pagoda tersebut selesai dibangun & abu telah ditempatkan, ternyata dari pagoda itu mengeluarkan sinar yang terang-benderang, sehingga mengherankan orang-orang yang ada di situ. Tempat itu lalu diubah namanya menjadi Shen Guang Ling yang berarti Bukit Cahaya Dewa. Sejak itu Jiu Hua Shan menjadi salah satu gunung suci umat Buddha.

    Di Tiongkok terdapat 4 Gunung Suci untuk umat Buddha :
    1. Jiu Hua Shan di propinsi An Hui.
    2. Wu Tai Shan di Propinsi Shan Xi.
    3. E Mei Shan di propinsi Si Chuan.
    4. Pu Tuo Shan di propinsi Zhe Jiang.

    Jiu Hua Shan yang merupakan Gunung Suci umat Buddha, sebenarnya adalah salah satu cabang dari pegunungan Huang Shan, dengan tinggi + 1.000 m. Karena 9 puncaknya berbentuk seperti bunga yang sedang mekar, maka orang-orang lalu menamakannya Jiu Hua Shan (Gunung 9 Bunga). Di sini terdapat 108 buah Kuil Buddha. Yang tertua adalah Hua Cheng Si.

    Zaman dulu setiap bulan 7 tanggal 30 Imlek, para umat banyak yang berbondong-bondong ke Kelenteng Hua Cheng Si untuk merayakan ulang tahun Di Zang Wang. Bangunan Kelenteng ini sangat indah, penuh ukiran kayu & batu yang bermutu tinggi sehingga para pengunjung dapat menikmati suatu karya seni Tiongkok Kuno yang amat bernilai. Selain itu patut dinikmati pula peninggalan sejarah berupa tulisan & prasasti yang ditulis oleh para Kaisar zaman dulu yang berkunjung ke Kelenteng ini. Ruang utama kelenteng ini disebut Yue Shen Bao Dian, adalah tempat wafatnya Te Cong Ong Pho Sat. dalam ruang ini terdapat batu yang tercatat telapak kakinya. Para pengunjung yang memasuki ruangan ini selalu berdoa sambil membakar dupa.

    Dalam masyarakat pemujaan Te Cong Ong Pho Sat amat populer, tidak hanya di kalangan Buddhis saja. Selain dipuja di kelenteng yang bercorak Buddha, Te Cong Ong banyak terdapat di kelenteng-kelenteng keluarga, rumah-rumah abu atau tempat pembakaran mayat. Tujuannya agar roh leluhur mereka memperoleh perlindungan dari Te Cong Ong Pho Sat sehingga dapat lebih cepat terbebas dari siksaan di Neraka & terlahir kembali. Kadang kala upacara di tempat itu dilakukan secara Taoisme, tapi bagi masyarakat umum hal ini tidak penting. Yang penting bagi mereka adalah sembahyang itu sendiri, tanpa perduli apakah itu dari Taois atau Buddhis.

    Menurut Buku “Catatan dari Beijing”, pada malam peringatan hari lahir Te Cong Ong Pho Sat, diadakan sembahyang & diadakan pembacaan paritta di kelenteng-kelenteng di Beijing & sekitarnya. Dipersiapkan juga sebuah perahu dari kertas & bambu, di dalamnya ditempatkan arca Te Cong Ong & 10 Raja Akhirat yang juga terbuat dari kertas. Tengah malam setelah selesai upacara sembahyang, lilin di tengah perahu itu dinyalakan & perahu itu diturunkan ke air & dibiarkan mengalir ke mana saja. Masyarakat yang menunggu di tepi sungai juga melepaskan lilin kecil yang diapungkan di atas piring kertas & mengalir mengikuti perahu tersebut. Upacara ini disebut Liu Hua Deng (Mengalirkan Lentera Bunga). Propinsi-propinsi lain di Tiongkok seperti Jiang Su, Zhe Jiang juga mempunyai kebiasaan seperti ini, walaupun dengan variasi yang berbeda.

    Te Cong Ong Pho Sat ditampilkan dalam keadaan duduk di atas teratai, memakai topi Buddha berdaun 5 dengan wajah yang memancarkan sinar kasih, membawa tongkat bergelang. Pada saat dibawa berjalan, gelang-gelang yang ada di ujung tongkat ini akan berbunyi gemerincing. Bunyi ini diharapkan dapat membuat serangga atau hewan kecil lainnya menyingkir agar tidak terinjak Sang Bikkhu, sebab salah satu Sila Dasar agama Buddha adalah tidak membunuh makhluk hidup.

    Marilah kita mengucapkan doa "NAMO KSITIGARBHA BODHISATTVAYA / NAMO TA YEN TI CHANG WANG PHU SAT" artinya saya berlindung kepada Bodhisattva Ksitigarbha Yang Memiliki Niat Suci yang Maha Besar dan Maha Mulia.

    Untuk Memperoleh pahala yang berlimpah dan ketenangan Bathin, Para Umat dapat Mengucapkan Mantra Penghapus karma buruk :
    " OM PO LA MO LIN THUO NING SOU HA "
    Atau dalam bahasa Palinya :
    " OM PRALANI DHANI SVAHA "
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  10. #10
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    Kwan Yin Niang-Niang (Miao Shan)

    Kwan Im Pho Sat / Guan Yin Phu Sa / Kwan Si Im Pho Sat / Guan Shi Yin Phu Sa (Tiongkok)
    Avalokitesvara Bodhisatva (Lokeshvara, Sansekerta)
    Spyan ras gizgs (Tibetan)
    Kannon Bosatsu (Kanjizai / Kanzeon / Kwannon, Jepang) & Quan Am (Vietnam)

    Jauh sebelum masuknya agama Budha menjelang akhir Dinasti Han, Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok purba dengan sebutan Pek Ie Tai Su yaitu Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih (Dewi Welas Asih). Di kemudian hari, Beliau identik dengan perwujudan dari Budha Avalokitesvara. Secara absolut, pengertian Avalokitesvara Bodhisatva dalam bahasa Sansekerta adalah : Avalokita (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi) yang bermakna Melihat ke Bawah atau Mendengarkan ke Bawah. Bawah disini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (lokita). Asvara (Im / Yin), berarti suara. Yang dimaksud adalah suara dari makhluk-makhluk yang menjerit atas penderitaan yang dialaminya. Oleh sebab itu Kwan Im adalah Bodhisatva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang. Di negara Jepang, Kwan Im Pho Sat terkenal dengan nama Dewi Kanon. Dalam perwujudanNya sebagai pria, Beliau disebut Kwan Sie Im Pho Sat. Dalam Sutra Suddharma Pundarika Sutra (Biauw Hoat Lien Hoa Keng) disebutkan ada 33 (tiga puluh) penjelmaan Kwan Im Pho Sat. Sedangkan dalam Maha Karuna Dharani (Tay Pi Ciu / Ta Pei Cou / Ta Pei Shen Cou) ada 84 (delapan puluh empat) perwujudan Kwan Im Pho Sat sebagai simbol dari Bodhisatva yang mempunyai kekuasaan besar. Altar utama di Kuil Pho Jee Sie (Pho To San) di persembahkan kepada Kwan Im Pho Sat dengan perwujudan sebagai Budha Vairocana, dan di sisi kiri atau kanan berjajar 16 (enam belas) perwujudan lainnya. Perwujudan Beliau di altar utama Kim Tek Ie*), salah satu Kelenteng tertua di Indonesia adalah King Cee Koan Im (Koan Im Membawa Sutra Memberi Pelajaran Buddha Dharma Kepada Umat Manusia. Disamping itu, terdapat pula wujud Kwan Im Pho Sat dalam Chien Chiu Kwan Im / Jeng Jiu Kwan Im / Qian Shou Guan Yin. (Kwan Im Seribu Lengan / Tangan) sebagai perwujudan Beliau yang selalu bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatNya. Julukan Beliau secara lengkap adalah Tay Cu Tay Pi, Kiu Kho Kiu Lan, Kong Tay Ling Kam, Kwan Im Sie Im Pho Sat.

    Sejarah Klasik Seputar Avalokitesvara Bodhisatva.
    Ketika agama Budha memasuki Tiongkok (Masa dinasti Han), pada mulanya Avalokitesvara Bodhisatva bersosok pria. Seiring dengan berjalannya waktu, dan pengaruh ajaran Taoisme serta Khong Hu Cu, menjelang era Dinasti Tang, profil Avalokitesvara Bodhisatva berubah dan ditampilkan dalam sosok wanita. Dari pengaruh ajaran Tao, probabilita perubahan ini terjadi karena jauh sebelum mereka mengenal Avalokitesvara Bodhisatva, kaum Taois telah memuja Dewi Tao yang disebut Niang-Niang (Probabilitas adalah Dewi Wang Mu Niang-Niang). Sehubungan dengan adanya legenda Puteri Miao Shan yang sangat terkenal, mereka
    memunculkan tokoh wanita yang disebut Kuan Yin Niang Niang, sebagai pendamping Avalokitesvara Bodhisatva pria.
    Lambat laun tokoh Avalokitesvara Bodhisatva pria dilupakan orang dan tokoh Guan Yin Niang-Niang menggantikan posisiNya dengan sebutan Guan Yin Phu Sa. Dari pengaruh ajaran Khong Hu Cu, mereka menilai kurang layak apabila kaum wanita memohon anak pada seorang Dewata pria. Bagi para penganutnya, hal itu dianggap sesuai dengan keinginan Kwan Im sendiri untuk mewujudkan diriNya sebagai seorang wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum wanita yang membutuhkan pertolonganNya. Dari sini jelas bahwa tokoh Avalokitesvara Bodhisatva berasal dari India dan tokoh Guan Yin Phu Sa berasal dari Tiongkok. Avalokitesvara Bodhisatva memiliki tempat suci di gunung Potalaka, Tibet, sedangkan Kwan Im Pho Sat memiliki tempat suci di gunung Pu Tao Shan di kepulauan Zhou Shan, Tiongkok. Kesimpulan atas hal ini adalah tokoh Avalokitesvara Bodhisatva merupakan stimulus awal munculnya Kwan Im Pho Sat. Terdapat beberapa legenda lainnya terkait tentang asal-usul Dewi Kwan Im. Dalam kitab Hong Sin Yan Gi / Hong Sin Phang (Penganugerahan Dewa) disebutkan bahwa sebelum Beliau dikenal dengan sebagai Dewi Kwan Im, Beliau bernama Chu Hang salah 1 (satu) murid dari Cap Ji Bun Jin (12 Murid Cian Kauw Yang Sakti).

    Selain itu, menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Too yang disusun oleh Chiang Cuen, Dewi Kwan Im dilahirkan pada jaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 SM terkait dengan legenda Puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang Penguasa Negeri Xing Lin (Hin Lim), kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad III SM. Disebutkan bahwa Raja Miao Zhuang sangat mendambakan seorang anak lelaki, tapi yang dimilikinya hanyalah 3 (tiga) orang puteri. Puteri tertua bernama Miao Shu (Biao Yuan), yang kedua bernama Miao Yin (Biao In) dan yang bungsu bernama Miao Shan (Biao Shan). Setelah ketiga puteri tersebut menginjak dewasa, Raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil, yang kedua memilih seorang jendral perang sedangkan Puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah. Beliau malah meninggalkan istana dan memilih menjadi Bhiksuni di Kelenteng Bai Que Shi (Tay Hiang Shan). Berbagai cara diusahakan oleh Raja Miao Zhuang agar puterinya mau kembali dan menikah, namun Puteri Miao Shan tetap bersiteguh dalam pendirianNya. Pada suatu ketika, Raja Miao Zhuang habis kesabarannya dan memerintahkan para prajurit untuk menangkap dan menghukum mati sang puteri. Setelah kematianNya, arwah Puteri Miao Shan mengelilingi neraka. Karena melihat penderitaan makhluk-makhluk yang ada di neraka, Puteri Miao Shan berdoa dengan tulus agar mereka berbahagia. Secara ajaib, doa yang diucapkan dengan penuh welas asih, tulus dan suci mengubah suasana neraka menjadi seperti surga.

    Penguasa Akherat, Yan Luo Wang, menjadi bingung sekali. Akhirnya arwah Puteri Miao Shan diperintahkan untuk kembali ke badan kasarNya. Begitu bangkit dari kematianNya, Budha Amitabha muncul di hadapan Puteri Miao Shan dan memberikan Buah Persik Dewa. Akibat makan buah tersebut, sang Puteri tidak lagi mengalami rasa lapar, ke-tuaan dan kematian. Budha Amitabha lalu menganjurkan Puteri Miao Shan agar berlatih kesempurnaan di gunung Pu Tuo, dan Puteri Miao Shan-pun pergi ke gunung Pu Tuo dengan diantar seekor harimau jelmaan dari Dewa Bumi.

    9 (Sembilan) tahun berlalu, suatu ketika Raja Miao Zhuang menderita sakit parah. Berbagai tabib termasyur dan obat telah dicoba, namun semuanya gagal. Puteri Miao Shan yang mendengar kabar tersebut, lalu menyamar menjadi seorang Pendeta tua dan datang menjenguk. Namun terlambat, sang Raja telah wafat. Dengan kesaktianNya, Puteri Miao Shan melihat bahwa arwah ayahNya dibawa ke neraka, dan mengalami siksaan yang hebat. Karena rasa bhaktiNya yang tinggi, Puteri Miao Shan pergi ke neraka untuk menolong. Pada saat akan menolong ayahNya untuk melewati gerbang dunia akherat, Puteri Miao Shan dan ayahNya diserbu setan-setan kelaparan. Agar mereka dapat melewati setan-setan kelaparan itu, Puteri Miao Shan memotong tangan untuk dijadikan santapan setan-setan kelaparan. Setelah hidup kembali, Raja Miao Zhuang menyadari bahwa bhakti ketiga putrinya sangat luar biasa. Akhirnya sang Raja menjadi sadar dan mengundurkan diri dari pemerintahan serta bersama-sama dengan keluarganya pergi ke gunung Xiang Shan untuk bertobat dan mengikuti jalan Budha. Rakyat yang mendengar bhakti Puteri Miao Shan hingga rela mengorbankan tanganNya menjadi sangat terharu. Berbondong-bondong mereka membuat tangan palsu untuk Puteri Miao Shan. Budha O Mi To Hud yang melihat ketulusan rakyat, merangkum semua tangan palsu tersebut dan mengubahNya menjadi suatu bentuk kesaktian serta memberikannya kepada Puteri Miao Shan. Lalu Ji Lay Hud memberiNya gelar Qian Shou Qian Yan Jiu Ku Jiu Nan Wu Shang Shi Guan Shi Yin Phu Sa, yang artinya Bodhisatva Kwan Im Penolong Kesukaran Yang Bertangan Dan Bermata Seribu Yang Tiada Bandingnya. Dalam kisah lain disebutkan bahwa pada saat Kwan Im Phu Sa diganggu oleh ribuan setan, iblis dan siluman, Beliau menggunakan kesaktianNya untuk melawan mereka. Beliau berubah wujud menjadi Kwan Im Bertangan dan Bermata Seribu, dimana masing-masing tangan memegang senjata Dewa yang berbeda jenis. Kisah Kwan Im Lengan Seribu ini juga memiliki versi yang berbeda, diantaranya adalah pada saat Puteri Miao Shan sedang bermeditasi dan merenungkan penderitaan umat manusia, tiba-tiba kepalanya pecah berkeping-keping. Budha O Mi To Hud (Amitabha) yang mengetahui hal itu segera menolong dan memberikan Seribu Tangan dan Seribu Mata, sehingga Beliau dapat mengawasi dan memberikan pertolongan lebih banyak kepada manusia.

    Dalam legenda Puteri Miao Shan, disebutkan bahwa kakak-kakak Miao Shan bertobat dan mencapai kesempurnaan, lalu mereka diangkat sebagai Pho Sat oleh Giok Hong Siang Te. Puteri Miao Shu diangkat sebagai Bun Cu Pho Sat (Wen Shu Phu Sa) dan Puteri Miao Yin sebagai Po Hian Pho Sat (Pu Xian Phu Sa). Disebutkan juga bahwa pada saat pelantikan Puteri Miao Shan menjadi Pho Sat, Puteri Miao Shan diberi 2 (dua) orang pembantu, yakni Long Ni dan Shan Cai. Konon, Long Ni diberi gelar Giok Li (Yu Ni) atau Gadis Kumala dan Shan Cai bergelar Kim Tong (Jin Tong) atau Pejaka Emas. Pada mulanya, Long Ni adalah cucu dari Raja Naga (Liong Ong), yang diberi tugas untuk menyerahkan mutiara ajaib kepada Kwan Im, sebagai rasa terima kasih dari Liong Ong karena telah menolong puterinya. Namun ternyata Long Ni justru ingin menjadi murid Kwan Im dan mengabdi kepadaNya. Khusus untuk Shan Cai ada 2 (dua) versi legenda. Versi pertama berdasarkan legenda Puteri Miao Shan yang menceritakan bahwa Shan Cai adalah pemuda yatim piatu yang ingin belajar ajaran Budha. Ia ditemukan oleh To Te Kong dan diserahkan kepada Kwan Im untuk dididik. Versi lain dalam cerita Se Yu Ki (Xi You Ji) menyebutkan bahwa Shan Cai adalah putera siluman kerbau Gu Mo Ong (Niu Mo Wang) dengan Lo Sat Li (Luo Sa Ni). Nama asliNya adalah Ang Hay Jie (Hong Hai Erl) atau si Anak Merah. Karena kenakalan dan kesaktian Ang Hay Jie, Sang Kera Sakti Sun Go Kong / Sun Wu Kong meminta bantuan kepada Kwan Im Pho Sat untuk mengatasiNya. Akhirnya Ang Hay Jie berhasil ditaklukkan oleh Kwan Im Pho sat dan diangkat menjadi muridNya dengan panggilan Shan Cai. Dalam hal ini, banyak orang yang salah mengerti dan menganggap bahwa salah 1 (satu) pengawal Kwan Im Po Sat adalah Lie Lo Cia (Li Ne Zha), yang penampilanNya memang mirip dengan Ang Hay Jie. Secara khusus terdapat perbedaan diantara keduaNya, Lie Lo Cia menggunakan senjata roda api di kakiNya, sedangkan Ang Hay Jie menggunakan semburan api dari mulutnya. Lie Lo Cia adalah anak dari Lie King dan Ang Hay Jie adalah anak dari Gu Mo Ong.

    Dalam sejumlah kitab Budhisme Tiongkok klasik, disebutkan ada 33 (tiga puluh tiga) rupa perwujudan Kwan Im Pho Sat, antara lain :
    1. Kwan Im Berdiri Menyeberangi Samudera;
    2. Kwan Im Menyebrangi Samudera sambil Berdiri diatas Naga;
    3. Kwan Im Duduk Bersila Bertangan Seribu;
    4. Kwan Im Berbaju dan Berjubah Putih Bersih sambil Berdiri;
    5. Kwan Im Berdiri Membawa Anak;
    6. Kwan Im Berdiri diatas Batu Karang/Gelombang Samudera;
    7. Kwan Im Duduk Bersila Membawa Botol Suci & Dahan Yang Liu;
    8. Kwan Im Duduk Bersila dengan Seekor Burung Kakak Tua.

    Selain perwujudan Beliau yang beraneka bentuk dan posisi, nama atau julukan Kwan Im (Avalokitesvara) juga bermacam-macam, ada Sahasrabhuja Avalokitesvara (Qian Shou Guan Yin), Cundi Avalokitesvara, dan lain-lain. Walaupun memiliki berbagai macam rupa, pada umumnya Kwan Im ditampilkan sebagai sosok seorang wanita cantik yang keibuan, dengan wajah penuh keanggunan .Selain itu, Kwan Im Pho Sat sering juga ditampilkan berdampingan dengan Bun Cu Pho Sat dan Po Hian Pho Sat, atau ditampilkan bertiga dengan : Tay Su Ci Pho Sat (Da Shi Zhi Phu Sa) O Mi To Hud Kwan Im Pho Sat.
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  11. #11
    tanhadi's Avatar
    tanhadi is offline Hanya Sebuah Fenomena
    Join Date
    Mar 2008
    Location
    Waru, Jawa Timur, Indonesia, Indonesia
    Posts
    5,040
    Thanks
    537
    Thanked 1,350 Times in 749 Posts
    Downloads
    10
    Uploads
    7

    Default

    Bagus...bagus......buat nambah pengetahuan kita semua yang belum tau banyak soal Dewa-Dewi.., masih banyak lagi kan ?:goodjob:
    Bodhisattva yang saya Puja sampai saat ini adalah : Ksitigarbha Bodhisattva (Di Zang Wang Pu Sa) dan Kwan Si Im Pho Sat, karena sudah ada pembuktian dalam hidup saya.
    Last edited by tanhadi; 17-09-09 at 09:34.
    Salam Metta,

    Sabbe satta bhavantu sukhitatta
    Semoga semua makhluk berbahagia


    Jika berkenan, silahkan teman-teman berkunjung ke Blog saya :
    -------------------------------------------------------------------
    http://tanhadi.blogspot.com/

  12. #12
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    THAI YIN NIANG (DEWI BULAN)

    Hari Raya Zhong Qiu {Hok Kian = Tiong Ciu} yang diperingati setiap tahun pada bulan 8 tanggal 15 Imlek {Peh Gwe Cap

    Go}, dianggap sebagai hari lahirnya Dewi Bulan. Umumnya rakyat bersembahyang dengan menyediakan sebuah meja kecil

    di halaman rumah pada saat bulan purnama, dengan menyajikan buah-buahan, bunga segar & tak lupa kue bulan.

    Pemujaan terhadap matahari & bulan telah ada sejak zaman purba, & tidak hanya dilakukan oleh bangsa Tiongkok saja.

    Pemujaan ini termasuk pemujaan kenegaraan di mana para pegawai kerajaan bersujud & menyediakan sesaji ke hadapan

    Dewa Matahari. Sedangkan pemujaan terhadap Dewi Bulan diadakan bertepatan dengan pesta panen saat bulan purnamanya,

    yaitu bulan 8 tanggal 15 Imlek. Pada saat ini biasanya orang-orang bersama keluarganya menyalakan Hio & bersujud

    kepada Dewi Bulan di halaman rumah mereka.

    Ri Shen {Jit Sin}, Dewa Matahari dikenal juga dengan nama Tai Yang Di Jun (disingkat Tai Yang Gong). Yue Shen {Gwat

    Sin} Dewi Bulan sering disebut juga Tai Yin Huang Jin Tai Yin Niang) atau Yue Fu Chang E (Chang E dari Istana

    Bulan).

    Tai Yang Di Jun yang terkenal dengan nama Hou Yi adalah seorang pemanah ulung. Dikisahkan pada masa itu adalah

    tahun XII pemerintahan Kaisar Yao (2346 SM). Bencana besar sedang menimpa negerinya, kekeringan menghancurkan

    seluruh lahan pertanian sehingga kelaparan terjadi di mana-mana. Malapetaka itu disebabkan karena ada 10 matahari

    yang muncul bersama-sama di angkasa. Konon ke-10 matahari tersebut adalah putra-putri Dong Hua Di Zun {Tong Hua Tek

    Kun}, yaitu Dewa Penguasa Langit Timur.

    Karena tidak dapat mentolelir lagi ulah putra-putrinya, & juga karena doa-doa permohonan yang terus menerus

    dilakukan oleh Kaisar Yao, Dong Hua Di Jun merasa perlu bertindak untuk menghentikan perbuatan mereka. Ia lalu

    memanggil Hou Yi, seorang malaikat sakti, untuk turun ke dunia. Tapi ia berpesan supaya putra-putranya itu diberi

    pelajaran saja, jangan sampai dibunuh. Hou Yi lalu turun ke dunia bersama istrinya, Chang E {Siang Go}, seorang

    dewi yang cantik jelita.

    Hou Yi lalu menemui Kaisar Yao. Melihat keadaan dunia yang kacau pada waktu itu, Hou Yi sangat marah. Tanpa

    menghiraukan pesan Dong Hua Di Jun, dipanahnya matahari itu satu per satu, & akhirnya hanya tinggal satu saja.

    Melihat Hou Yi tidak menuruti perintahnya, Dong Hua Di Jun merasa kesal. Sejak itu Hou Yi tidak bisa kembali ke

    langit lagi. Walaupun demikian Hou Yi masih terus melanjutkan usahanya menyelamatkan rakyat dari malapetaka dengan

    membasmi berbagai macam binatang buas & aneh yang mengganggu rakyat. Karena kegagahan & keberaniannya ini,

    menjadikan Hou Yi dipuja sebagai pahlawan.

    Chang E karena perbuatan Hou Yi ini, tidak dapat kembali ke langit untuk menjadi Dewi. Ia menjadi amat kesal. Sejak

    itu hubungannya dengan Hou Yi menjadi dingin & renggang.Pada suatu hari Hou Yi pergi ke Gunung Kun Lun Shan menemui

    Xi Wang Mu (Dewi Penguasa Langit Barat) untuk meminta obat hidup abadi. Xi Wang Mu mengabulkan permintaannya. Hou

    Yi amat gembira, sebab dengan obat tersebut ia berkesempatan untuk menjadi dewa lagi.

    Pada suatu hari sewaktu Hou Yi tidak ada di rumah, Chang E melihat seberkas sinar putih yang menyorot turun dari

    sebuah tiang penyangga atap, bersamaan dengan itu bau harum semerbak memenuhi ruangan. Dengan tangga, dicarinya

    sumber cahaya & bau harum tersebut. Chang E menemukan obat hidup abadi yang disimpan Hou Yi. Tanpa pikir panjang

    ditelannya obat itu. Lalu ia merasa badannya menjadi ringan dan dapat melayang di angkasa. Malam itu bulan bersinar

    amat terang. Chang E terus terbang melayang kearah bulan tersebut, dan tinggal di sana.

    Istana rembulan di luar dugaan Chang E, ternyata sangat sunyi. Di sana hanya ada seekor kelinci yang tak pernah

    berhenti menumbuk obat di lumpang & sebatang pohon kayu manis. Chang E amat kesepian, tapi ia tak bisa turun ke

    dunia & bertemu suaminya lagi. Ia merasa menyesal & mulai mengenang kebaikan suaminya. Chang E tinggal selamanya di

    bulan & menjadi lambang Yin (unsur negatif / wanita).

    Hou Yi ketika menyadari bahwa obat kekal abadinya telah dicuri istrinya, lalu mengejar ke angkasa. Tapi angin topan

    membawanya terhampar di atas sebuah gunung. Di puncak gunung itu terdapat sebuah istana yang dihuni Dong Wang Gong

    (Dong Hua Di Jun). “Tak usah kau resah. Sekarang istrimu telah menjadi dewi di bulan. & kamu sendiri karena

    kegagahan & keberanianmu pantas untuk menjadi dewa. Untukmu telah disiapkan sebuah istana di matahari untuk menjadi

    tempat tinggalmu. Sejak sekarang Yang & Yin akan bersatu selamanya”, kata Dong Wang Gong. Lalu ia memberi sebuah

    kue & sebuah jimat yang bisa menyebabkan Hou Yi tahan terhadap dinginnya bulan bila datang mengunjungi Chang E.

    Di bulan, ia melihat Chang E sedang termenung kesepian. Hou Yi mengatakan bahwa ia tidak akan mempersoalkan masalah

    pencurian obat, karena keduanya sekarang sudah menjadi dewa. Di bulan, Hou Yi mendirikan sebuah Istana Guang Han

    Gong (Istana Kesejukan Abadi) untuk tempat tinggal Chang E.

    Sejak itulah Dewa Matahari & Dewi Bulan mempunyai wilayah masing-masing.

    Kaisar Yao kemudian mengangkat Hou Yi menjadi Zhong Bu Shen, yaitu Malaikat yang bertugas menghindarkan penduduk

    dari bencana alam & musibah lain. Lama-kelamaan Zhong Bu Shen dianggap pelindung rumah tangga & mampu menguasai

    roh-roh jahat & menolak bala. Gambarnya dipasang di rumah-rumah penduduk. Jadi Hou Yi dianggap sebagai Tai Yang

    Gong (Dewa Matahari), juga disebut sebagai Zhong Bu Shen. Sedangkan Chang E disebut sebagai Tai Yin Niang (Dewi

    Bulan).

    Hari ulang tahun Tai Yang Gong diperingati setiap tanggal 19 bulan 3 Imlek. Sinar matahari dianggap sebagai lambang

    Ming (terang) & panasnya dianggap sebagai lambang Zhu (merah). Dengan memuja Tai Yang Gong berarti rakyat tetap

    mengenang Dinasti Ming dengan Kaisarnya dari keluarga Zhu.

    Pemujaan terhadap bulan & matahari ini hanyalah sebagai penghormatan terhadap keduanya, jarang diwujudkan dalam

    bentuk arca atau gambar. Umumnya orang-orang menghadap ke arah matahari & bulan pada saat bersembahyang, jarang ada

    kelenteng yang didirikan untuk mereka.
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  13. #13
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    Quote Originally Posted by tanhadi View Post
    Bagus...bagus......buat nambah pengetahuan kita semua yang belum tau banyak soal Dewa-Dewi.., masih banyak lagi kan ?:goodjob:
    masih ada lagi.. hehe..
    bahkan ada yg saya ga pernah tahu, tp ternyata ada.. :blushing:
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  14. #14
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    WEI TUO PHU SA (BODHISATVA PELINDUNG KELENTENG)

    Wei Tuo Pu Sa {Hok Kian = Wi To Pho Sat} bergelar Hu Fa Pu Sa, yaitu Bodhisatva Pelindung Dharma. Wi To Pho Sat disebut juga Wei Tuo Tian, adalah Bodhisatva Pelindung Wihara-Wihara, Kelenteng-kelenteng, dan bangunan-bangunan suci. Beliau juga adalah Pelindung Kitab Suci Buddha.

    Wi To Pho Sat berasal dari Dewa agama Brahmana di India. Menurut legenda, Wi To Pho Sat memiliki 6 kepala & 12 lengan. Beliau menunggang burung merak dengan tangan memegang busur & anak panah. Setelah Wi To diserap (diterima masuk) agama Buddha, beliau menjadi Bodhisatva Pelindung Kelenteng/Wihara & menjadi salah satu dari 8 Jendral Langit bagian Selatan. ???? Si Da Tian Wang (4 Raja Langit) masing-masing memiliki 8 Jendral Langit, sehingga seluruhnya ada 32 Jendral Langit. Wi To Pho Sat adalah pemimpin dari 32 Jendral Langit tersebut.

    Sebagai Penjaga Dharma, biasanya Kim Sin (arca) beliau ditempatkan di ruang utama sebuah kelenteng, beradu punggung dengan ???? Mi Le Gu Fo {Bi Lek Ko Hud = Buddha Maitreya}. Pratima beliau digambarkan dengan pakaian perang lengkap dan tangannya membawa Hang Mo Pian (Ruyung Penakluk Iblis).

    Menurut buku Buddhis, Wei Tuo adalah putra seorang Tian Wang (Raja Langit) yang karena kebajikannya, Buddha Sakyamuni mengangkat Wei Tuo sebagai Pelindung Buddha Dharma ketika menaiki Nirwana. Oleh karena itu beliau bertugas melindungi Dharma Sang Buddha, melindungi anggota Sangha dari gangguan Mara, dan mendamaikan apabila terjadi perselisihan antar sekte. Apabila seorang Sangha (Mahayana) melanggar Vinaya (Peraturan Kebhiksuan), maka ia dihadapkan kepada Wei Tuo Pu Sa untuk Pertobatan.

    Wi To Pho Sat kadang kala ditampilkan sebagai Men Shen {Mui Sin = Malaikat Pintu) yang menjaga kelenteng-kelenteng bersama-sama dengan Jia Lan Pu Sa {Ka Lan Pho Sat = Bodhisatva Pelindung Bangunan-bangunan Suci}.
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  15. #15
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    WEN CE PHU SA - MANJUSRI BODHISATVA


    Agama Buddha menganggap bahwa sumber dari semua penderitaan dalam kehidupan manusia adalah Kesesatan (Tidak bisa

    sepenuhnya melihat kebenaran sejati dari suatu masalah / benda). Untuk mengatasi kesesatan ini, harus mengandalkan

    kearifan / kebijaksanaan.

    Wen Shu Pu Sa {Hok Kian = Bun Cu Pho Sat} adalah perwujudan dari kebijaksanaan. Oleh sebab itu, walaupun beliau

    bukan tokoh dalam sejarah, tapi karena beliau bisa menampilkan ciri khas dari ideologi agama Buddha secara jelas &

    nyata, maka kedudukannya dalam agama Buddha sangat tinggi. Beliau adalah Bodhisatva pertama yang disebut dalam

    kitab-kitab suci. Bahkan ada kitab suci tertentu yang menyatakan bahwa Wen Shu Pu Sa adalah guru dari semua Buddha

    pada 3 masa kehidupan.

    Wen Shu Pu Sa disebut juga Wen Shu Shi Li (baca: Wen Su Se Li), diterjemahkan secara bebas menjadi Miao Ji Xiang

    (Keberuntungan Yang Mukjizat), Fa Wang Zi (Putra Raja Dharma), dsb. Wen Shu Pu Sa yang mewakili kebijaksanaan, &

    ???? Pu Xian Pu Sa yang mewakili Budi Pekerti, di kelenteng-kelenteng di Tiongkok & Jepang seringkali ditampilkan

    di samping Sang Buddha Sakyamuni.

    Manjusri adalah Bodhisatva Kebijaksanaan & Pengetahuan, & dianggap sejajar dengan Bodhisatva Avalokitesvara atau

    Guan Yin Pu Sa {Kwan Im Pho Sat} yang merupakan Bodhisatva Welas Asih. Manjusri dalam bahasa Sansekerta berarti

    “Keagungan Yang Lemah Lembut”. Orang Tionghoa menganggap Manjusri adalah Bodhisatva yang memberi penerangan &

    kebijaksanaan bagi siapa saja yang giat menjalankan Dharma.

    Tempat suci Bun Cu Pho Sat adalah di Gunung Wu Tai Shan, propinsi Shan Xi. Di tempat ini Bun Cu Pho Sat sering

    menampakkan kemukjizatannya. Gunung Wu Tai Shan ini adalah salah satu dari 4 gunung suci Buddhisme di Tiongkok, &

    menjadi tempat berkumpul para penganut Bun Cu Pho Sat. Walaupun untuk mencapai puncak Wu Tai Shan harus melalui

    perjalanan yang sulit & berliku-liku. Mereka ingin merasakan suatu ketentraman bathin dengan mencapai kelenteng Wen

    Shu Pu Sa yang berada di puncak gunung tersebut.

    Ada banyak kesaksian tentang penampakan sinar-sinar ajaib yang disaksikan oleh banyak umat di puncak gunung suci

    tersebut. Oleh orang awam mungkin hal ini dianggap sebagai “hallusinasi” dari mereka yang mengalami kelelahan

    karena mendaki gunung tersebut. Namun harus diingat bahwa orang-orang yang naik ke sana umumnya adalah mereka yang

    ingin mencari “Kebijaksanaan”, & mereka telah menjalani meditasi dengan tekun, sehingga mempunyai pikiran yang

    tidak akan mudah goyah atau tidak stabil, atau mudah terpengaruh oleh gejala-gejala yang dapat menimbulkan

    hallusinasi tersebut.

    Bentuk Bun Cu Pho Sat yang paling sering dilihat adalah tangan kanan memegang pedang mestika, tangan kiri memegang

    gulungan kitab suci, menunggang seekor singa berbulu hijau. Pedang mestika melambangkan kearifan yang dapat

    memutuskan semua kilesa (kegelisahan bathin). Gulungan kitab suci melambangkan kearifan yang seperti lautan &

    menuntun umat manusia memasuki gudang kitab suci. Singa yang ditunggangi dihargai sebagai Raja Hewan, & disebut

    juga Auman Singa, menyebarkan Dharma Buddha. Maka Bun Cu Pho Sat menunggang singa mengandung arti mengembangkan

    Buddha Dharma & menyelamatkan umat manusia.

    Dalam kisah Miao Shan, singa hijau Wen Shu Pu Sa diceritakan sebagai penjelmaan Dewa Api, sedangkan gajah putih Pu

    Xian Pu Sa adalah Dewa Air. Kedua Dewa ini menangkap rombongan Raja Miao Zhuang yang akan berziarah ke Xiang Shan,

    tempat Miao Shan. Kemudian keduanya ditaklukan oleh para Panglima Langit. Setelah Miao Shan menjadi Bodhisatva,

    kedua kakak perempuannya juga diangkat mendampinginya. Miao Shu (dalam versi yang lain disebut sebagai Miao Qing)

    diangkat sebagai Wen Shu Pu Sa & Miao Yin diangkat sebagai Pu Xian Pu Sa. Walaupun Wen Shu Pu Sa & Pu Xian Pu Sa

    berasal dari India, akhirnya mempunyai bentuk Tionghoa 100 %.

    Kelenteng yang khusus untuk menghormati Bun Cu Pho Sat jarang ada, kecuali yang di Wu Tai Shan tersebut. Namun

    arca-arcanya banyak terlihat di kelenteng-kelenteng yang bercorak Buddhisme. Bun Cu Pho Sat sering ditampilkan

    dalam bentuk 3 Serangkai bersama dengan Buddha Sakyamuni & Pho Hian Pho Sat. Atau bersama dengan Kwan Im Pho Sat &

    Pho Hian Pho Sat.

    Dalam bentuk 3 Serangkai dengan Kwan Im, biasanya Bun Cu Pho Sat & Pho Hian Pho Sat ditampilkan dalam wujud wanita.

    Kwan Im sebagai lambang Maha Pengasih & Penyayang, Bun Cu melambangkan kebijaksanaan, Pho Hian sebagai lambang

    pelaksanaan cinta kasih. Ketiganya merupakan kesempurnaan dari ajaran Buddhisme.

    Hari lahir Wen Shu Pu Sa diperingati setiap tanggal 4 bulan 4 Imlek, & diperingati secara khusus setiap tahun oleh

    umat Buddhisme Zen.
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  16. #16
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    JIU TIAN XUAN NU / KIU TIAN NIU NIU

    Seperti yang sudah umat TAO ketahui, Jiu Tian Xuan Nu merupakan salah satu Dewi Besar TAO. Jiu Tian Xuan Nu adalah Dewi yang sering membantu pahlawan-pahlawan. Konon, cerita pada jaman raja satria Huang Ti yang pernah mengajarkan rakyat menanam palawija.

    Sebelum Huang Ti menyatukan negara, Beliau pernah perang dasyat melawan Je Yu. Je Yu itu adalah sebangsa hewan yang aneh, badannya merupakan binatang tapi dia memakai bahasa manusia, juga makan batu dan pasir untuk hidup. Je Yu ini biasa disebut badan kuningan kepala besi.Pada waktu perang di daerah Juk Luk, Je Yu ini membuat kabut besar yang menyebabkan tentara-tentara Huang Ti menjadi kehilangan arah. Tetapi untungnya para anak buah itu menciptakan kereta kompas. Dengan kereta tersebut, mereka baru bisa lolos dari kepungan kabut tadi.

    Sedang pusing dengan taktik perang, malamnya Huang Ti bermimpi bertemu dengan Dewi SI WANG MU dan berkata padanya: "Saya akan mengirimkan utusan untuk membantu kamu, kamu akan menang perang". Lalu Huang Ti membuat altar dan berdoa / sembahyang tiga hari tiga malam. Hasilnya, nampaklah Jiu Tian Xuan Nu, memberinya Kitab Suci, Pusaka, Buku Perang dan lain-lainnya; hingga Huang Ti dapat mengalahkan Je Yu dan dapat menyatukan negara. Waktu itu, yang Huang Ti dapatkan adalah Buku Suci HUANG TI YIN FU CING yang dihargai oleh generasi selanjutnya.

    Konon, Jiu Tian Xuan Nu pernah mambantu Sung Ciang. Sung Ciang ini merupakan Ketua daerah Liang San Be yang sering membantu orang-orang miskin yang kekurangan. Dalam cerita buku "SUI HU JUAN", pada waktu Sung Ciang dalam perjalanan menuju Liang San Be, dia dikejar-kejar oleh musuh. Lalu dia bersembunyi di dalam sebuah kuil, ternyata dia diketahui oleh musuhnya, kelihatan maut sudah menunggu. Namun, pada saat detik-detik bahaya, di belakang altar dalam kuil tersebut timbul gumpalan awan hitam dan meniupkan seuntai angin keras yang dingin. Musuh yang mengejar ketakutan melihat keadaan aneh mendadak itu dan lari tunggang langgang.

    Tidak lama kemudian, tampak dua anak perempuan berbaju hijau di hadapan Sung Ciang dan mengajaknya pergi untuk menemui Seorang Dewi. Dewi tersebut adalah Jiu Tian Xuan Nu. Kemudian, Sung Ciang diajak makan kurma dari DIAN dan minum arak yang harum. Jiu Tian Xuan Nu juga berkata padanya: "Saya akan memberitahu kamu tiga jilid Buku Langit, kamu harus bisa menjalankan TAO dengan baik, jadi orang harus jujur, setia kawan, setia pada negara, yang jelek dan yang sesat dikikis semua dan dikembalikan pada kebenaran". Dewi Jiu Tian Xuan Nu juga berpesan bahwa buku-buku itu tidak boleh diperlihatkan pada orang lain, sesudah mantap, bakarlah buku-buku tersebut. Dewi juga menurunkan empat kata-kata langit yang cocok menjadi ramalan hidup Sung Ciang di kemudian hari.

    Sesudah kejadian itu, Sung Ciang masih pernah bertemu lagi dengan Dewi Jiu Tian Xuan Nu, yaitu pada waktu dia jadi Jendral Dinasti Sung yang sedang perang sengit dengan tentara-tentara negeri Liaw. Dewi Jiu Tian Xuan Nu mangajarkan tehnik perang yang kongkrit. Dewi Jiu Tian Xuan Nu selalu mengulurkan tangan waktu raja kesatria dan pahlawan-pahlawan sedang mengalami kesulitan, sehingga boleh dikata sebagai "DEWI MEMBANTU". Selain itu Dewi Jiu Tian Xuan Nu juga mengajarkan cara-cara perang yang kongkrit. Oleh karena itu, ada orang yang menganggap Dewi Jiu Tian Xuan Nu sebagai "DEWI PERANG".
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  17. #17
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    SENG HONG YA (DEWA PELINDUNG KOTA)

    Di dalam hati rakyat banyak, Seng Hong Ya adalah pejabat pengadilan di akhirat (alam baka), yang bisa mengisi kelemahan pengadilan di dunia, sehingga Seng Hong Ya sangat dihormati di kalangan rakyat jelata. Kepercayaan kepada Seng Hong Ya berasal dari pemujaan terhadap terhadap Shui Yong Shen (Dewa Pengawas Saluran Air), yaitu salah satu dari Ba Zha Shen (Dewa Palawija yang terdiri dari 8 Dewata).

    Dalam kepercayaan di kalangan rakyat Tionghoa, Seng Hong Ya adalah satu-satunya Dewa yang memiliki perbedaan tingkatan (kelas). Yang mengepalai seluruh negeri disebut Tian Xia Dou Cheng Huang. Yang mengurus sebuah propinsi disebut Dou Cheng Huang. Yang mengurus sebuah karesiden adalah Fu Cheng Huang.

    Cheng Huang Ye {Hok Kian = Seng Hong Ya} adalah Dewa Pelindung Kota. Secara harfiah Cheng Huang berarti parit pelindung benteng kota (Cheng = tembok kota. Huang = parit yang kering di luar tembok kota ).
    Upacara sembahyang untuk menghormati Ba Zha Shen dimulai oleh Kaisar Yao [2357 SM ? 2258 SM]. Shui Yong Shen sebagai salah satu dari Ba Zha Shen menduduki tempat penting di antara kedelapan dewa itu. Lama-kelamaan arti saluran air diperluas meliputi saluran atau parit pelindung benteng yang disebut Cheng Huang.

    Pada zaman San Guo { Hok Kian = Sam Kok } [221 M ? 265 M] di negeri Wu {Hok Kian = Gouw }, Cheng Huang mulai dihormati tersendiri, terlepas dari Ba Zha Shen. Pada tahun 239 M didirikan kelenteng Cheng Huang Miao {Seng Hong Bio}, yaitu Kelenteng Seng Hong Ya yang pertama.

    Pada masa dinasti ? Tang [618 M ? 907 M] di tiap ibukota propinsi mulai banyak didirikan kelenteng untuk menghormati Seng Hong. Sejak itu Seng Hong secara resmi menjadi Dewa Pelindung Kota, dengan panggilan yang umum Cheng Huang Lao Ye {Seng Hong Lo Ya} atau Cheng Huang Ye {Seng Hong Ya}.

    Setelah Ming Tai Zu {Beng Thai Cou} ? Zhu Yuan Zhang Kaisar pertama Dinasti Ming berkuasa, dia lalu mengangkat Cheng Huang di ibukota Negara (waktu itu di Nan Jing) sebagai Tian Xia Dou Cheng Huang yang berarti Dewa Pelindung Ibukota Negara dengan gelar Ming Ling Wang. Lalu, semua Cheng Huang dari tiap ibukota propinsi diangkat sebagai Du Cheng Huang yang berarti Dewa Pelindung Ibukota. Kemudian Cheng Huang dari tiap ibukota karesidenan dianugerahi gelar Wei Ling Gong. Sedangkan pada tingkat kabupaten dianugerahi gelar Ling Ying Hou dan pada tingkat kecamatan diberi gelar Xian You Bo. Oleh karena ini Cheng Huang Ye menjadi memiliki corak kedaerahan yang khas.

    Pada masa Kaisar Ming Tai Zu ini, kelenteng-kelenteng untuk menghormati Seng Hong Ya di Tiongkok, bentuknya menyerupai kantor pejabat pemerintah & tingkat kepangkatannya pun mengikuti urutan kepangkatan pejabat pemerintah.

    Pada masa Dinasti Qing [ 1644 - 1911 ] setiap kantor pemerintah baik sipil maupun militer, diharuskan membangun sebuah kelenteng untuk memuja Cheng Huang di dekatnya, sebagai lambang Yang (pemerintahan yang nyata, kantor pemerintah) dan Yin (pemerintahan oleh roh, yang berwujud klenteng Cheng Huang). Para pejabat yang bertugas di situ diwajibkan bersembahyang setiap Ce It & Cap Go (tgl 1 & 15 penanggalan Imlek) di klenteng Cheng Huang tersebut, sebagai penghormatan kepada penguasa dari alam baka itu.

    Rakyat banyak percaya bahwa orang yang telah meninggal dunia, arwahnya akan dibawa ke hadapan Seng Hong Ya untuk diperiksa, lalu diputuskan akan masuk surga atau ke neraka. Seng Hong Ya memiliki banyak anak buah, di antaranya adalah Wen Wu Pan Guan {Bun Bu Pwan Kwan} yaitu jaksa sipil & militer, Niu Tou Ma Mian {Gu Thou Be Bin} yaitu Si Kepala Sapi & Si Muka Kuda, Qi Ye Ba Ye atau disebut juga Da Ye Er Ye lalu ada lagi 24 pejabat yang disebut Er Shi Si Si {Ji Cap Si Su}.

    Seng Hong Ya adalah penguasa dari alam baka namun kekuasaannya juga termasuk di dunia fana. Beliau dipuja sebagai contoh pejabat tinggi yang jujur dan ideal. Bila ada dua belah pihak yang saling berselisih, mereka akan pergi ke Kelenteng Seng Hong Bio untuk saling bersumpah. Pada peringatan hari ulang tahunnya diadakan upacara Gotong Toa Pe Kong dengan thema Seng Hong Ya menginspeksi rakyatnya.

    Ada beberapa kelenteng Cheng Huang yang bersambung langsung dengan Dong Yue Miao (kelenteng tempat pemujaan Dong Yue Da Di, Dewata Penguasa Pegunungan Timur). Di samping Dong Yue Da Di, dipahatkan 10 Raja Akhirat dan 18 tingkat Neraka. Ini menggambarkan bahwa di akhirat pun ada urutan pemeriksaan. Setelah diperiksa secara teliti di tempat Cheng Huang, roh akan dibawa ke hadapan Dong Yue Da Di, dan diteruskan ke tempat Raja Neraka, Yan Luo Wang { Hok Kian = Giam Lo Ong } untuk dijebloskan ke Neraka.

    Kepercayaan kepada Seng Hong Ya tersebar secara turun-temurun di kalangan rakyat. Orang-orang percaya bahwa para pahlawan yang telah gugur, orang-orang yang bajik atau telah berjasa bagi masyarakat, akan diangkat menjadi Seng Hong Ya. Oleh karena ini, di berbagai kota Seng Hong Ya yang dihormati tidak sama. Misalnya di kota Hang Zhou, ibukota propinsi Zhe Jiang, tokoh yang dianggap Seng Hong Ya adalah Zhou Xin. Zhou Xin adalah gambaran seorang pejabat pengadilan yang jujur & tegas dalam usahanya menegakkan keadilan, tidak bisa disuap & tidak takut digertak, bahkan oleh orang yang amat berkuasa sekalipun. Di kota Gun Ming, ibukota propinsi Yun Nan, yang diangkat sebagai Seng Hong Ya adalah Yu Qian, seorang tokoh pada zaman Dinasti Ming yang pernah menjadi perdana menteri.

    Suasana Kelenteng Cheng Huang biasanya berwibawa. Ada papan besar yang bertuliskan kata-kata : Anda juga akan kemari kalau harinya tiba. Ada pula yang dilengkapi dengan sempoa ? abakus (alat hitung) besar, yang menyatakan bahwa para malaikat di sini adalah lurus, tidak bisa disuap. Apa yang anda perbuat selama kehidupan di dunia, akan diperhitungkan dengan teliti.

    Kelenteng untuk pemujaan Cheng Huang Ye merupakan salah satu kelenteng yang paling besar dan tersebar luas di Tiongkok. Hampir di tiap kota besar atau kecil terdapat Cheng Huang Miao.

    Di Tainan, Taiwan terdapat 3 buah Cheng Huang Miao. Kota-kota di Asia Tenggara juga banyak kelenteng yang memuja Cheng Huang Ye. Antara lain di Singapura, pemujaan terhadap Cheng Huang Ye terdapat di Kelenteng Hong San Si di Sultan Muhammad Road.

    Demikianlah asal mula sembahyang kepada Seng Hong Ya sudah dimulai sejak lebih dari 4.300 tahun yang lalu.
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  18. #18
    vj 907's Avatar
    vj 907 is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    May 2009
    Location
    earth
    Posts
    825
    Thanks
    12
    Thanked 176 Times in 119 Posts
    Downloads
    2
    Uploads
    11

    Default

    ER LANG SHEN / JI LONG SIN

    Menurut sejarah, Er Lang Shen (Ji Long Sin) adalah putra dari seorang gubernur dari propinsi Sichuan yang hidup pada jaman Dinasti Qin, dengan nama Li Bing. Pada waktu itu Sungai Min (Min-jiang, salah satu cabang Sungai Yang Zi yang bermata air di wilayah Sichuan) seringkali mengakibatkan banjir di wilayah Guan-kou (dekat Chengdu). Sebagai gubernur yang peka akan penderitaan rakyat, Li Bing segera mengajak putranya Li Er Lang meninjau daerah bencana dan memikirkan penanggulangannya. Rakyat Guan-kou yang sudah putus asa menghadapi bencana banjir yang selalu menghancurkan rumah dan sawah ladang, tampak pasrah dan mengandalkan para dukun untuk menghindarkan bencana. Para dukun menggunakan kesempatan ini untuk memeras dan menakut-nakuti rakyat.

    Dikatakan bencana banjir itu diakibatkan karena Raja Naga ingin mencari istri. Maka penduduk diharuskan setiap tahun mengirimkan seorang gadis untuk dijadikan pengantin Raja Naga di Sungai Min itu. Maka tiap tahun diadakan upacara penceburan gadis di sungai yang dipimpin oleh dukun dan diiringi oleh ratap tangis orang tua sang gadis. Li Bing bertekad mengakhiri semua ini dan berusaha menyadarkan rakyat bahwa bencana dapat dihindari asalkan mereka bersedia bergotong-royong memperbaiki aliran sungai. Usaha ini tentu saja ditentang keras oleh para dukun yang melihat bahwa mereka akan rugi apabila rakyat tidak percaya lagi pada mereka.

    Untuk menghadapi mereka, Li Bing mengatakan bahwa putrinya bersedia menjadi pengantin Raja Naga untuk tahun itu. Dia minta sang dukun untuk memimpin upacara. Sebelumnya Li Bing memerintahkan Er Lang untuk menangkap seekor ular air yang sangat besar, dimasukkan dalam karung dan disembunyikan di dasar sungai. Pada saat diadakan upacara mengantar pengantin di tepi sungai, Li Bing mengatakan pada dukun kepala, bahwa ia ingin sang Raja Naga menampakkan diri agar rakyat bisa melihat wajahnya. Sang dukun marah dan mengeluarkan ancaman. Tapi Li Bing yang telah bertekad mengakhiri praktek yang kejam dan curang ini bersikeras agar sang dukun menampilkan wujud Raja Naga.

    Pada saat yang memungkinkan untuk bertindak, Li Bing memerintahkan Er Lang untuk terjun ke sungai dan memaksa sang Raja Naga untuk keluar. Setelah menyelam sejenak Er Lang muncul kembali sambil menyeret bangkai ular air itu ke tepi. Penduduk menjadi gempar. Li Bing menyatakan bahwa sang Raja Naga yang jahat sudah dibunuh, rakyat tidak usah risau akan gangguannya lagi dan tidak perlu mengorbankan anak gadis setiap tahun. Setelah itu Li Bing mengajak rakyat untuk bergotong-royong membangun bendungan untuk mengendalikan Sungai Min. Usaha ini akhirnya berhasil dan rakyat di daerah itu terbebas dari bencana banjir. Untuk memperingati jasa-jasa Li Bing dan Er Lang di tempat itu kemudian didirikanlah klenteng peringatan.

    Pendapat lain mengatakan bahwa sebetulnya Er Lang Shen adalah Zhao Yu yang hidup pada jaman Dinasti Sui (581-618 SM). Kaisar Sui Yang Di (605-617 SM) mengangkatnya sebagai walikota Jia Zhou. Ia pernah membunuh seekor naga yang ganas di sungai dekat kota itu. Oleh penduduk kota Ia kemudian diangkat menjadi Er Lang Shen. Pada saat itu Ia berumur 26 tahun. Setelah kerajaan Sui runtuh, Ia menghilang tidak tentu rimbanya. Pada suatu ketika Sungai Jia Zhou kembali meluap, di antara halimun dan kabut yang menyelimuti daerah itu, terlihat seorang pemuda menunggang kuda putih, diiringi beberapa pengawal, membawa anjing dan burung elang, lewat di atas sungai itu. Itulah Zhao Yu yang turun dari langit. Untuk mengenang jasa-jasanya penduduk mendirikan klenteng di Guan-kou dan menyebutnya Er Lang dari Guan-kou. Oleh Kaisar Zheng-zong dari dinasti Song, Ia diberi gelar Qing Yuan Miao Dao Zhen Jun (Ceng Goan Biau To Cin Kun) atau malaikat berkesusilaan bagus dari sumber yang jernih.

    Hari besarnya diperingati pada tanggal 28 bulan 8 Imlek. Er Lang Shen banyak dipuja di Propinsi Sichuan. Beberapa klenteng besar yang didirikan khusus untuknya terdapat di Chengdu yaitu Er Lang Miao, di Guan Xian dengan nama Guan Kou Miao, di Baoning, Ya-an dan beberapa tempat lain dengan nama Er Lang Miao. Kecuali Sichuan, Propinsi Hunan juga memiliki beberapa klenteng Er Lang yang cukup kuno. Er Lang Shen ditampilkan sebagai seorang pemuda tampan bermata tiga, memakai jubah keemasan, membawa tombak bermata tiga, diikuti seekor anjing, kadang-kadang ditambah dengan seekor elang. Dia dianggap sebagai Dewa Pelindung Kota-Kota di tepi sungai dan sering ditampilkan bersama Maha Dewa Tai Shang Lao Jun sebagai pengawal.Bagi kita umat Tao, Er Lang Shen mempunyai kesaktian yang luar biasa untuk menghadapi roh atau setan yang jahat.
    Sabbe sattā maranti ca marimsu ca marissare, Tath'evāham marissāmi, n'atthi me ettha samsayo

  19. #19
    Panatpata is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    Jun 2009
    Posts
    725
    Thanks
    30
    Thanked 137 Times in 106 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Namo Buddhaya.

    :thumbup::thumbup::thumbup:

    Bagus sekali. Biarkan ini menjadi pengetahuan bagi umat keyakinan lain bahwa sudah terjadi pencampuran aliran Konghucu, Tao dan Budddhist (Mahayana) dalam kepercayaan tradisional Tiongkok yang masih ada sampai sekarang.

    Sekaligus meluruskan bahwa tradisi Tiongkok tidak bisa dianggap sama dengan Agama Buddha. Sampai saat ini masih banyak yang salah kaprah di masyarakat, seperti pandangan : Orang Tionghua pasti beragama Buddha atau Tradisi Tiongkok bersumber dari Agama Buddha.

    Namo Buddhaya.

  20. #20
    Vajra Mudra's Avatar
    Vajra Mudra is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    Jul 2009
    Posts
    907
    Thanks
    0
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Bosen ?? Ke Jalan2.com Aja Skrg !
    Quote Originally Posted by tanhadi View Post
    Bagus...bagus......buat nambah pengetahuan kita semua yang belum tau banyak soal Dewa-Dewi.., masih banyak lagi kan ?:goodjob:
    Bodhisattva yang saya Puja sampai saat ini adalah : Ksitigarbha Bodhisattva (Di Zang Wang Pu Sa) dan Kwan Si Im Pho Sat, karena sudah ada pembuktian dalam hidup saya.
    Di share dong suhu pengalamannya..
    SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATTA.

Page 1 of 2 12 LastLast

Similar Threads

  1. Maha Brahma ( Se Mien Fo )
    By Liao_fan in forum Mahayana
    Replies: 20
    Last Post: 10-06-12, 12:23
  2. Kisah Vasavattimaradhiraja -- maharaja dari para dewa Mara
    By usnisha in forum Kisah-Kisah Sang Buddha
    Replies: 16
    Last Post: 12-05-11, 08:09
  3. Riwayat Dewa Ankura & Dewa Indaka
    By visakha in forum Kisah-Kisah Sang Buddha
    Replies: 4
    Last Post: 26-07-09, 01:29
  4. Dewa dewi Tiongkok
    By usnisha in forum Tri Dharma
    Replies: 5
    Last Post: 25-04-09, 10:33
  5. Namo Maha Govinda Suttram
    By sen in forum Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist
    Replies: 2
    Last Post: 01-09-08, 10:22

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •