Bingung ? Ke Jalan2.com Aja !
Results 1 to 15 of 15
Like Tree2Likes
  • 1 Post By SanifSentosa
  • 1 Post By hadisantoso

Mencari diri sendiri

hmm..uda sekian lama ngga buka thread baru. nah yg ini utk melengkapi post yg ke

  1. #1
    SanifSentosa's Avatar
    SanifSentosa is offline Siswa Sang Buddha
    Join Date
    Nov 2004
    Location
    Indonesia
    Posts
    321
    Thanks
    0
    Thanked 1 Time in 1 Post
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default Mencari diri sendiri

    Bosen ?? Ke Jalan2.com Aja Skrg !
    hmm..uda sekian lama ngga buka thread baru. nah yg ini utk melengkapi post yg ke 300, dan beranjak menjadi Siswa Sang Buddha, hehe...selama ini hanya sebagai siswa guru di sekolah aja. (tp apakah peraturannya masih sama gak ya? )

    Ada yang tau gak cara mencari jati diri dalam diri seseorang? kadang kala saya ini tidak tau saya akan menjadi apa (maksudnya tujuan hidup). trus kadang kala saya ditawari suatu bisnis yang baik, tapi saya sendiri kadang tidak terlalu agresif, karena saya berpikir, toh kekayaan itu ujung2nya juga hampa, setelah meninggal, juga tidak akan dibawa. dan lagian, jika uda bener2 kaya, apa hebatnya, toh juga akan tetap bisa meninggal, bisa sakit, bisa sedih, de el el. apakah pemikiran saya ini terlalu pesimis? kadang saya merasa saya ini adalah sungguh orang yg sangat pesimis.

    mohon pencerahannya, dan jangan menertawai daku ini ya.
    yoh***s likes this.
    Hidup adalah bagaikan roda yang berputar, ada kalanya menderita ada kalanya bahagia.

    Taman Alam Lumbini

  2. The Following User Says Thank You to SanifSentosa For This Useful Post:

    yoh***s (02-04-13)

  3. #2
    dark02 is offline Siswa Sang Buddha
    Join Date
    Mar 2006
    Posts
    396
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Quote Originally Posted by SanifSentosa
    hmm..uda sekian lama ngga buka thread baru. nah yg ini utk melengkapi post yg ke 300, dan beranjak menjadi Siswa Sang Buddha, hehe...selama ini hanya sebagai siswa guru di sekolah aja. (tp apakah peraturannya masih sama gak ya? )

    Ada yang tau gak cara mencari jati diri dalam diri seseorang? kadang kala saya ini tidak tau saya akan menjadi apa (maksudnya tujuan hidup). trus kadang kala saya ditawari suatu bisnis yang baik, tapi saya sendiri kadang tidak terlalu agresif, karena saya berpikir, toh kekayaan itu ujung2nya juga hampa, setelah meninggal, juga tidak akan dibawa. dan lagian, jika uda bener2 kaya, apa hebatnya, toh juga akan tetap bisa meninggal, bisa sakit, bisa sedih, de el el. apakah pemikiran saya ini terlalu pesimis? kadang saya merasa saya ini adalah sungguh orang yg sangat pesimis.

    mohon pencerahannya, dan jangan menertawai daku ini ya.
    Setauku jati diri bukan dicari, tapi dibentuk.

    Dari Buddha : Jika ingin tau apa kelakuan anda di masa lalu, lihatlah kehidupanmu sekarang. Jika ingin tau kehidupan anda di masa depan, lihatlah kelakuan anda di masa sekarang.
    Setiap mahluk adalah calon Buddha
    Oleh sebab itu, perlakukan semua mahluk sebagai Buddha
    Dengan sendirinya, kita adalah Buddha

  4. #3
    vlasherz's Avatar
    vlasherz is offline Senior
    Join Date
    Jun 2005
    Location
    Jakarta
    Posts
    207
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Lightbulb

    Quote Originally Posted by SanifSentosa
    hmm..uda sekian lama ngga buka thread baru. nah yg ini utk melengkapi post yg ke 300, dan beranjak menjadi Siswa Sang Buddha, hehe...selama ini hanya sebagai siswa guru di sekolah aja. (tp apakah peraturannya masih sama gak ya? )

    Ada yang tau gak cara mencari jati diri dalam diri seseorang? kadang kala saya ini tidak tau saya akan menjadi apa (maksudnya tujuan hidup). trus kadang kala saya ditawari suatu bisnis yang baik, tapi saya sendiri kadang tidak terlalu agresif, karena saya berpikir, toh kekayaan itu ujung2nya juga hampa, setelah meninggal, juga tidak akan dibawa. dan lagian, jika uda bener2 kaya, apa hebatnya, toh juga akan tetap bisa meninggal, bisa sakit, bisa sedih, de el el. apakah pemikiran saya ini terlalu pesimis? kadang saya merasa saya ini adalah sungguh orang yg sangat pesimis.

    mohon pencerahannya, dan jangan menertawai daku ini ya.
    pertama" selamat atas pencapain sdr.SanifSentosa menjadi Siswa Sang Buddha

    kalau saya bole memberi komentar sepertinya anda terlalu berpikir pesiis dan menuju kearah pemikiran bhante
    cthnya
    toh kekayaan itu ujung2nya juga hampa, setelah meninggal, juga tidak akan dibawa. dan lagian, jika uda bener2 kaya, apa hebatnya, toh juga akan tetap bisa meninggal, bisa sakit, bisa sedih, de el el.
    menurut saya jikalau diberi kesempatan bisnis baik berarti karma baik anda sedang berbuah dan alangkah baiknya anda memanfaatkan kesempatan ini.

    ilustrasi step:
    1.join di bisnis
    2.sukses
    3.untung banyak

    ----------------> nah di step ini jgn balik berpikr kembali ke pemikiran anda dimana toh ujung"nya juga meninggal,etc
    -----> sebaiknya mari kita melanjut ke tahap selanjutnya...
    4.Berdana
    5.Menabung karma baik
    6.... di step ini ya...tidak bisa ditentukan apakah di kelahiran anda sekarang atau di kelahiran selanjutnya
    7.Menuai karma baik


    nah,kan kalau begitu
    hidup lebih indah dan berguna bagi saudara" kita yang lebih kurang beruntung dari kita.

    karena seperti kata Sang Buddha : Berdana adalah perbuatan yang paling mulia

    good luck! semoga membantu
    "sabbe satta bhavantu sukhitata"
    -voz

  5. #4
    Dhammapala's Avatar
    Dhammapala is offline Moderator Wihara
    Join Date
    Oct 2005
    Location
    Middle Earth
    Posts
    816
    Thanks
    0
    Thanked 5 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Selamat... selamet.. udah dapet title baru di wihara.com.. semoga mensupport untuk lebih mendalami ajaran Sang Buddha.

    Kalo menurut saya pemikiran sdr Sanif itu cenderung realistis, harus dibedakan dengan pesimis. Seorang yang mempunyai pandangan pesimis cenderung melihat dunia ini kelabu, tanpa melihat sisi kebaikannya, bahkan meragukan apakah adanya kebaikan di dunia ini. Tapi bagi seorang yang realistis, dia melihat dunia ini ibarat adanya dua sisi mata uang. Ada kebaikan namun terkadang tidak bisa dielakkan adanya penderitaan yang harus diterima.. Tapi, sebagai siswa Sang Buddha, kita sangat beruntung sekali mendapatkan ajaran dari Sang Guru, bahwasanya inilah realitas. Bahwa : dengan adanya Dukkha, barulah ada Jalan untuk mengakhiri semua itu.. Inilah yang memantapkan kira sebagai seorang Buddhis untuk mencari tahu lebih banyak lagi bagaimana caranya itu.. Sebagai seorang Buddhis, kita memang sebaiknya mempunyai pandangan Naiskramya (pelepasan keduniawiaan) dengan begitu kita baru mempunyai keinginan untuk tidak melekat lebih dalam lagi dalam hal2 yang bersifat duniawi. Dan faktanya adalah kita sendiri masihlah seorang siswa Buddhis biasa (belum menuju totalitas seperti Bhante2), masih ada hal2 prinsipil keduniawian yang harus kita urus dengan baik. Dan hal ini seperti : kehidupan, pekerjaan, rumah tangga, dll.. semuanya akan makin baik dan sempurna dalam Dhamma bila kita melakoninya sesuai dengan ajaran Sang Guru. Perlu diperhatikan, Sang Buddha tidak pernah melarang pengikutNya untuk menjalankan suatu usaha. Apabila sdr Sanif berkebetulan bisa menjalani suatu usaha yang baik, kenapa tidak menghargai dan berusaha sebaik2nya? Saya setuju dengan sdr Voz, dengan adanya usaha yang baik, kita bisa mendukung penyebaran Dhamma dan untuk membantu para sesama yang menderita..

    Selamat menemukan jati diri Anda, sdr Sanif, jangan lupa untuk mengasahnya dengan Dhamma sempurna yang dibabarkan oleh Sang Buddha.. Saddhu..

    Amitabha,


    GATE, GATE, PARAGATE
    PARASAN GATE, BODHI! SVAHA!
    Menyeberang, menyeberanglah
    Menyeberanglah ke Pantai Seberang
    Selamatlah mencapai Pantai Seberang nan Bahagia
    Terpujilah Sang Maha Sadar! Semoga demikianlah hendaknya!

  6. #5
    SanifSentosa's Avatar
    SanifSentosa is offline Siswa Sang Buddha
    Join Date
    Nov 2004
    Location
    Indonesia
    Posts
    321
    Thanks
    0
    Thanked 1 Time in 1 Post
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    wah...tak disangka dalam waktu yg cukup singkat, uda banyak respon dari temen2 se-Dhamma. saya sangat terharu, sekaligus bangga sebagai penghuni Wihara.com. hidup Wihara.com!

    hmm...maksudnya begini, saya ini kurang berani untuk bermimpi yg gede2 dan juga kurang berambisi dalam hidup. potensial sebenarnya dari dalam diri saya ini hanya keluar jika bener2 dibawah tekanan, seperti kuliah dulu. jika tidak, ya saya biasa2 aja. lebih condong ke arah "Yi Qie Sui Yuan" (bener gak ya?), yg artinya membiarkan segala sesuatu terjadi apa adanya. apakah termasuk pemikiran org malas yg tidak mau berusaha?

    trus...masalahnya lagi, utk memulai usaha tersebut, memerlukan komitmen yang kuat, pengorbanan dan lain2. nah...disini pemikiran saya ini begini, mungkin juga karena saya tdk suka mengambil resiko, apakah dengan pengorbanan saya ini, saya nantinya akan berhasil, tak satu pun yang tau kan?
    Hidup adalah bagaikan roda yang berputar, ada kalanya menderita ada kalanya bahagia.

    Taman Alam Lumbini

  7. #6
    Dhammapala's Avatar
    Dhammapala is offline Moderator Wihara
    Join Date
    Oct 2005
    Location
    Middle Earth
    Posts
    816
    Thanks
    0
    Thanked 5 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Quote Originally Posted by Sanifsentosa
    hmm...maksudnya begini, saya ini kurang berani untuk bermimpi yg gede2 dan juga kurang berambisi dalam hidup. potensial sebenarnya dari dalam diri saya ini hanya keluar jika bener2 dibawah tekanan, seperti kuliah dulu. jika tidak, ya saya biasa2 aja. lebih condong ke arah "Yi Qie Sui Yuan" (bener gak ya?), yg artinya membiarkan segala sesuatu terjadi apa adanya. apakah termasuk pemikiran org malas yg tidak mau berusaha?
    Kenapa tidak berani sdr Sanif? Sebagai seorang Buddhis, jangan sekali-kali meremehkan kekuatan "keinginan", bukankah segala sesuatu terjadi karena adanya suatu "keinginan"?
    Dari tulisan Anda diatas, saya melihat Anda belum menemukan suatu titik dorongan atau pencetus agar Anda mau berusaha menjadi yang terbaik.. Saran saya, coba Anda beri sedikit waktu bagi diri sendiri untuk merenungi.. apa yang Anda inginkan? Selanjutnya, apa yang bisa Anda lakukan bisa hal demikian tercapai?
    Yi Qie Sui Yuen (segalanya berpulang kepada jodoh) memang prinsipil Buddhisme, namun disitu juga tidak menyampingkan Usaha.. Dengan Virya (usaha dengan semangat yang tinggi) yang kuat, apa yang kita inginkan akan mudah terlaksana.
    Mengenai malas atau tidaknya pemikiran Anda, hanya diri sendiri yang mengetahuinya. Apakah yang Anda lakukan sekarang membahagiakan diri Anda sendiri? Bila tidak, jangan sungkan untuk mengubahnya. Anda pasti bisa!

    Quote Originally Posted by Sanifsentosa
    trus...masalahnya lagi, utk memulai usaha tersebut, memerlukan komitmen yang kuat, pengorbanan dan lain2. nah...disini pemikiran saya ini begini, mungkin juga karena saya tdk suka mengambil resiko, apakah dengan pengorbanan saya ini, saya nantinya akan berhasil, tak satu pun yang tau kan?
    Menurut saya, disini prinsip Yi Qie Shui Yuen paling cocok diterapkan disini. Pertanyaannya adalah : Sudahkah saya berusaha? Sudahkah saya menjalankannya dengan penuh tanggung jawab, berusaha sebaik2nya? Yang penting yang kita lakukan adalah sesuai dengan Dhamma, yang terpenting adalah bisa membahagiakan semua makhluk... Dengan begini, Anda akan semakin bahagia menjadi diri Anda sendiri, merasa sukacita dalam menapaki jalan Anda, karena Anda mengetahui dengan jelas tujuan daripadanya. Memang tidak ada yang bisa menjamin suatu keberhasilan, namun setidaknya apa yang Anda lakukan pada detik ini, sekarang juga, akan menjadi suatu tolok ukur sampai dimana Anda akan melangkah. Mari berusaha dengan giat bersama-sama (saya juga sedang merintis usaha saya), Amituofo..

    Amitabha,


    GATE, GATE, PARAGATE
    PARASAN GATE, BODHI! SVAHA!
    Menyeberang, menyeberanglah
    Menyeberanglah ke Pantai Seberang
    Selamatlah mencapai Pantai Seberang nan Bahagia
    Terpujilah Sang Maha Sadar! Semoga demikianlah hendaknya!

  8. #7
    vlasherz's Avatar
    vlasherz is offline Senior
    Join Date
    Jun 2005
    Location
    Jakarta
    Posts
    207
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    hehehe dapet vocab baru ni....Naiskramya
    btw Yi Qie Shui Yuen itu apa ya,koko-koko sekalian??

    sekalian nanya ni
    dan mau menambahkan jangan pernah takut untuk bercita-cita karena dengan cita" itulah kita ada disini...

    bukannya kita discuss di sini juga dengan cita agar bisa menjadi siswa Sang Buddha yang penuh kebijaksanaan dan dijauhkan dari lobha serta moha?

    jadi teringat kata Albert Einstein
    yang sudah sekitar 5 tahun menjadi motto dalam hidup saya...
    "imagination is more important than knowledge" - Albert Einstein

    bagai mana Thomas Alfa Edison bisa menciptakan lampu....jika dia tidak berimaginasi bisa melihat dalam gelap saat malam.....apa yang terjadi kalau dia takut untuk berimajinasi demikian yang pada saat itu memang di anggap tidak mungkin

    satu kata!
    JIa Yo!
    "sabbe satta bhavantu sukhitata"
    -voz

  9. #8
    Zhou_wenhan's Avatar
    Zhou_wenhan is offline Senior
    Join Date
    Jun 2005
    Location
    Kelapa Gading, Jakarta
    Posts
    283
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Quote Originally Posted by vlasherz
    hehehe dapet vocab baru ni....Naiskramya
    btw Yi Qie Shui Yuen itu apa ya,koko-koko sekalian??
    "yi qie sui yuan" artinya "segalanya mengikuti karma" CMIIW

    Di dunia ini,
    Tiada orang yang tidak kukasihi,
    Tiada orang yang tidak dapat kupercaya,
    Tiada orang yang tidak dapat kumaafkan!
    (Jing Si Xiao Yu - Master Zhengyan)

    Om Mani Padme Hum

  10. #9
    SanifSentosa's Avatar
    SanifSentosa is offline Siswa Sang Buddha
    Join Date
    Nov 2004
    Location
    Indonesia
    Posts
    321
    Thanks
    0
    Thanked 1 Time in 1 Post
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Dhammapala: saya tidak mengeluh ttg apa yg telah saya miliki sekarang, walaupun tidak berlebih, tetapi setidaknya tidak kekurangan. saya cukup puas. bukankah kebahagiaan tertinggi adalah dapat mensyukuri dan puas akan apa yg dimiliki?

    vlasherz: imaginasi sih selalu ada bahkan banyak dan bagus2 ...hehe..., cuma kalo sebuah mimpi yg membuat saya untuk berambisi mati2an, kayaknya gak ada deh.

    Zhou_wenhan: yup, you are totally rite!
    Hidup adalah bagaikan roda yang berputar, ada kalanya menderita ada kalanya bahagia.

    Taman Alam Lumbini

  11. #10
    Zhou_wenhan's Avatar
    Zhou_wenhan is offline Senior
    Join Date
    Jun 2005
    Location
    Kelapa Gading, Jakarta
    Posts
    283
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Quote Originally Posted by dark02
    Setauku jati diri bukan dicari, tapi dibentuk.
    sepanjang pemahamanku, jati diri/hakikat diri bkn dicari maupun dibentuk,
    tapi disadari

    Quote Originally Posted by SanifSentosa
    hmm...maksudnya begini, saya ini kurang berani untuk bermimpi yg gede2 dan juga kurang berambisi dalam hidup. potensial sebenarnya dari dalam diri saya ini hanya keluar jika bener2 dibawah tekanan, seperti kuliah dulu. jika tidak, ya saya biasa2 aja. lebih condong ke arah "Yi Qie Sui Yuan" (bener gak ya?), yg artinya membiarkan segala sesuatu terjadi apa adanya. apakah termasuk pemikiran org malas yg tidak mau berusaha?
    "yi qie sui yuan" saya setuju dgn istilah itu. memang benar bhw smua adalah krn karma. knp saya bilang smua adalah krn karma? ya, krn smua hukum2 niyama bersifat dependen satu dgn yg lain.
    tapi kita jg hrs ingat bhw karma membutuhkan kondisi utk berbuah, ini yg harus kita usahakan. bila kita hny "membiarkan" segala sesuatu terjadi, memang benar bhw semua yg akan terjadi tdk akan luput dari hkm karma. tapi pada kondisi demikian, buah karma yg mana yg memiliki kemungkinan utk berbuah? bila memang dirasa keadaan/kondisi sudah cukup baik, ya mungkin boleh2 saja berpikir yi qie sui yuan. berbelit2 n ga nyambung ya?

    Di dunia ini,
    Tiada orang yang tidak kukasihi,
    Tiada orang yang tidak dapat kupercaya,
    Tiada orang yang tidak dapat kumaafkan!
    (Jing Si Xiao Yu - Master Zhengyan)

    Om Mani Padme Hum

  12. #11
    Dhammapala's Avatar
    Dhammapala is offline Moderator Wihara
    Join Date
    Oct 2005
    Location
    Middle Earth
    Posts
    816
    Thanks
    0
    Thanked 5 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Quote Originally Posted by SanifSentosa
    Dhammapala: saya tidak mengeluh ttg apa yg telah saya miliki sekarang, walaupun tidak berlebih, tetapi setidaknya tidak kekurangan. saya cukup puas. bukankah kebahagiaan tertinggi adalah dapat mensyukuri dan puas akan apa yg dimiliki?
    Dengan demikian itulah jati diri Anda. Apa yang membuat Anda ragu untuk menjalaninya?

    Sedikit tambahan dari saya mengenai Yi Qie Shui Yuen, dimaknakan sebagai segala mengikuti jodoh, namun tidak bearti kita berpangku tangan dan mengecilkan arti untuk berusaha. Bila kita merasa kurang puas dengan apa yang kita dapatkan sekarang, berusahalah untuk menjadi semakin baik. Mengenai hasil akhirnya... Yi Qie Shui Yuen.. yang penting kita telah menjalankannya dengan semangat Virya.

    @Zhou : Penjelasan yang baik, sdr Hendry.

    Amitabha,


    GATE, GATE, PARAGATE
    PARASAN GATE, BODHI! SVAHA!
    Menyeberang, menyeberanglah
    Menyeberanglah ke Pantai Seberang
    Selamatlah mencapai Pantai Seberang nan Bahagia
    Terpujilah Sang Maha Sadar! Semoga demikianlah hendaknya!

  13. #12
    schatan's Avatar
    schatan is offline Siswa Sang Buddha
    Join Date
    Dec 2004
    Posts
    374
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Downloads
    1
    Uploads
    0

    Default

    Mau sharing dikit artikel yang saya dapet ttg "Mengenal Lebih Jauh Tentang Jati Diri"

    Takdir atau karma yang sudah masak tak dapat diubah. Tetapi, nasib atau perjalanan hidup dapat diperbaiki bila kita berkehendak dan mau melatih diri. Ketekunan, ketulusan, kemauan kuat yang dibarengi dengan kehidupan beragama yang benar akan berbuahkan keberuntungan dan kebaikan. Untuk itu, mari menatanya.

    Ketika bertandang ke rumah salah seorang adik, saya sempat melihat sebuah iklan layanan masyarakat yang menceritakan bahwa mereka yang pernah hidup di dalam kegetiran kehidupan pengungsi pun bisa memiliki masa depan yang baik. Yang sempat terlihat dan teringat oleh saya adalah Madelyn Albright, Menteri Luar Negeri negara adikuasa Amerika Serikat. Selain itu, ada novelis, peraih penghargaan perdamaian, rapper, dan sebagainya. Tayangan yang sangat menyentuh itu pantas untuk kita jadikan bukti bahwasanya nasib memang dapat diperbaiki meski membutuhkan perjuangan yang tidak kenal lelah.

    Mewarnai Kehidupan

    Ketika seseorang dilahirkan, ia ibarat secarik kertas putih yang masih bersih tanpa noda dan coretan atau goresan apapun. Bertambahnya usia, kertas itu akan diwarnai oleh berbagai guratan, coretan, maupun tulisan yang didapat dari lingkungan seorang anak. Pendidikan agama dan budi pekerti akan tercermin dalam keindahan ahklak dan moral sehingga teguh dan tidak mudah terpengaruh. Bangku sekolah akan memberikan bekal ilmu pengetahuan yang kelak berguna dalam menjalani kehidupan ini. Lingkungan akan mewarnai tingkat kepedulian dan kemampuan bersosialisasi dengan sesama. Kesemuanya itu akan membentuk sebuah jati diri yang jelas dan kuat dengan buah berupa keberuntungan dan kebahagiaan.

    Sadarkah kita akan kesemuanya itu? Mungkin, jawabannya 'ya'. Tetapi, mengapa tidak dijalankan, dilatih, atau dipraktekkan? Karena itu tak lebih hanya sebuah kesadaran, yang seharusnya ditindaklanjuti untuk menjadi sebuah ikrar atau janji dalam menjalani dan menata kehidupan di dunia ini, baik untuk diri sendiri maupun keluarga maupun anak-anak serta keturunannya yang akan meneruskan kehidupan kita di dunia yang fana ini.

    Lihat saja, begitu banyak pasangan suami-istri yang yang tidak atau kurang mampu memfokuskan hal tersebut di atas bagi keturunannya karena merasa tidak memiliki kekuatan lagi untuk memberikan jati diri yang tepat dan benar bagi anak-anaknya. Kehidupan duniawi dinomorsatukan, sedang kehidupan beragama terabaikan. Sentuhan kasih dipercayakan kepada orang lain atau baby-sitter, bangku sekolah diharapkan bertanggung jawab pula untuk pendidikan agama dan budi pekerti, anak bebas merdeka atau mungkin terpenjara di rumah dan hanya boleh bersosialisasi dengan orang-orang tertentu pilihan saja.

    Dapat kita bayangkan, jadi diri yang nampak, tercermin, atau menjadi perilaku si anak dalam menjalani kehidupan ini. Anak menjadi tidak berakhlak dan bermoral, sangat egois dan mau menangnya sendiri, tidak perduli terhadap sesama, tidak memiliki kreativitas, sangat tertekan, memiliki temparamen yang meletup-letup, tidak berbudi pekerti, nakal, tidak mampu bersosialisasi dengan sesama, kurang kasih-sayang, dan mudah terpengaruh atau dipengaruhi sehingga memiliki kecenderungan terseret ke dalam jurang kehancuran karena tidak memiliki keteguhan dan kekuatan hati.

    Yang lebih menyedihkan, perkembangan perilaku seorang anak yang negatif tidak dianggap sebagai kesalahan dalam mengasuhnya, melainkan cuma sekedar gangguan kejiwaan. Sang orangtua sibuk mencari psikolog atau psikiater untuk mengobati gejala itu, tetapi tidak melakukan refleksi diri mengapa itu semua terjadi pada diri anaknya. Yang lebih celaka, ada yang menggunakan pembenaran dengan berkata bahwa itu mungkin karma buruk terdahulu yang masih terbawa pada sang anak atau karma buruk dari diri mereka berdua atau salah seorang dari mereka. Atau, untung cuma seperti ini dan tidak seperti itu.

    Jati Diri Yang Kuat dan Teguh

    Di dalam ajaran Buddha, kita sebenarnya sudah diingatkan agar melatih diri untuk lebih mengenal, memahami, dan mengasihi diri ini sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi diri kita. Karena memahami, kita akan tahu dan mengenal kelebihan dan kekurangan diri ini, baik jasmani, penyakit bawaan, maupun kondisi jiwa. Lalu, sampai sejauh mana perbuatan baik yang sudah kita lakukan, dari mana nafkah yang kita dapatkan, kesulitan apa yang kita temukan ketika hendak melatih atau menjalankan ajaran Dharma di dalam kehidupan ini, kondisi akhlak dan moral, dan sebagainya. Dengan demikian, secara utuh, kita benar-benar sadar siapa diri ini, dapat meniti kehidupan di dunia dengan lebih baik, dan mampu memfokuskan diri pada perbuatan , perkataan dan pikiran, yang hanya akan berbuahkan kebaikan saja.

    Keseimbangan hidup akan mewarnai kehidupan. Kita sadar bahwa di dalam menjalani kehidupan di dunia ada saling ketergantungan dan saling membutuhkan dengan sesama.

    Kita mengakui bahwa binatang – burung walet, ikan, kodok, ular, kambing, babi, ayam, dan binatang lainnya – yang selama ini telah menjadi sumber nafkah kehidupan sudah saatnya tidak dilakukan lagi dengan mencari sumber nafkah kehidupan lain yang tidak mengorbankan sesama makhluk.

    Lalu, kehidupan kita yang selalu atau suka memanfaatkan dewa-dewa, asura, dan setan-setan untuk memenuhi keinginan-keinginan pribadi yang muskil dilakukan secara manusiawi itu sudah seharusnya ditinggalkan. Kepekaan diri akan memberikan kesadaran bahwa perbuatan itu sebenarnya bukanlah perbuatan baik dan tak lebih hanya untuk memuaskan keinginan nafsu semata.

    Kemudian, kita akan mendapat kepekaan dan kebijaksanaan pula dalam melihat hubungan kita dengan alam semesta ini. Kita dapat memahami bahwa begitu besar jasa alam semesta ini – bumi, angin, hujan, badai, api, air, tetumbuhan, matahari, bulan, dan sebagainya – bagi kita dalam memenuhi kebutuhan dan menjalani kehidupan ini. Dari bumi kita mendapatkan makanan. Di atas bumi, kita mencari nafkah. Kita mendapatkan udara yang segar untuk bernapas. Angin memberikan kesejukan dan kesegaran. Matahari hadir untuk memberikan terang dan bulan menyinari kegelapan di maLan hari.

    Berbagai pemahaman akan fenomena kehidupan dan relasinya dengan dengan diri kita pun akhirnya dapat dilakoni dengan baik dan benar sesuai ajaran Dharma. Kehidupan menjadi lebih memiliki makna yang diwarnai dengan ketenangan, kedamaian, dan keberuntungan. Keseimbangan pun hidup terjadi, yang berarti kita telah berhasil menata diri dengan memiliki jati diri yang jelas. Indah, bukan?!

    Kesadaran Melalui Fungsi Otak

    Secara biologis, kita dibekali otak untuk berpikir dan menyimpan memori, yang terbagi dua, yaitu otak kiri dan kanan. Kedua otak ini memiliki fungsi yang bertentangan atau sangat berbeda seratus delapan puluh derajat. Fungsi otak kiri adalah hal-hal yang berhubungan dengan segala sesuatu yang eksak, seperti untung-rugi, satu tambah satu sama dengan dua, dan lainnya yang berbau dengan kepastian. Sedang, fungsi otak kanan adalah merekam hal-hal yang berhubungan hati sanubari, seni, ajaran Dharma atau segala sesuatu yang bersifat absurd lainnya yang tidak dapat dijabarkan secara eksak.

    Ketika fungsi otak kiri mendominasi jalannya kehidupan karena memori otak sangat terbatas mendapatkan input atau masukan untuk menjalankan fungsi otak kanan, itu akan tercermin dari begitu tingginya ilmu pengetahuan yang kita miliki, lulus dengan cum laude, mendapat julukan otak encer, lihai dalam berbisnis dan mengukur untung-rugi, serta menonjol di dalam diskusi yang bersifat matematis dan eksak. Selain itu, ini yang sangat disayangkan, tidak terlatihnya fungsi otak kanan menyebabkan seseorang memiliki ego yang sangat tinggi dan mudah sekali terpuruk ke dalam loba , dosa, dan moha.

    Sebaliknya, karena hanya otak kanan yang terasah dan merekam begitu banyak ajaran Dharma dan hal-hal lain yang tempatnya memang berada di otak kanan tadi sehingga fungsi otak kiri tidak terlatih, kita dapat terlilit oleh kebodohan dan kemiskinan karena segala sesuatu yang dilakukannya tidak memiliki referensi sehingga selalu mengalami kegagalan. Pada akhirnya, kita tidak mampu melihat dan membaca fakta kehidupan, cuma menjadi pemimpi dalam melihat kesuksesan atau keberhasilan duniawi orang lain, dan memvonis diri bahwa ketidakberdayaan itu adalah karma .

    Kehidupan ini sendiri menurut Hyang Buddha membutuhkan keseimbangan agar dapat berjalan secara harmonis. Bila kebutuhan dari kedua fungsi otak berjalan secara seimbang atau mendapatkan input atau masukan yang setara, maka kita akan bisa menciptakan keharmonisan kehidupan. Dengan demikian, secara biologis, kita akan dapat mengontrol emosi menjadi lebih baik, ilmu pengetahuan yang bisa menyebabkan kita terjerembab di dalam loba, dosa, dan moha dapat dikelola secara sehat, dan kita dapat mengarahkan kehidupan ini untuk sesuatu yang lebih berguna untuk tumimbal lahir kita di kelak kemudian hari.

  14. #13
    schatan's Avatar
    schatan is offline Siswa Sang Buddha
    Join Date
    Dec 2004
    Posts
    374
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Downloads
    1
    Uploads
    0

    Default

    Melatih Sad Paramita

    • Berikrar untuk selalu berbuat baik.
    • Tidak ingin berbuat jahat, apalagi untuk mengulanginya.
    • Menjalani kehidupan ini dengan penuh kesabaran dan pengertian.
    • Memiliki semangat dalam menjalani kehidupan.
    • Menjalani samadhi sebagai sarana untuk refleksi atau pembenahan secara mental-spiritual.
    • Mau memahami dan menahan diri.

    Enam Cara Hidup Secara Harmoni

    • Dengan saling hormat menghormati.
    • Mengeluarkan kata-kata yang baik, memuji secara tulus, dan mementingkan ketentraman, ketenangan, dan keutuhan relasi dengan sesama.
    • Membuang jauh-jauh pikiran negatif.
    • Tidak kikir dan mau berbagi ilmu dan kemewahan duniawi yang dimiliki.
    • Berjanji untuk selau menyenangkan orang lain karena dari sanalah datangnya kebahagiaan.
    • Tidak memaksakan pendapat, tetapi lebih mengutamakan obyektif atau tujuan yang ingin dicapai untuk kepentingan dan kebahagiaan bersama.

    Melatih Panca Dvara Smirthi (U Nien Men)

    Latihan ini bertujuan agar terbinanya hubungan vertikal antara kita sebagai manusia dengan yang Esa, Hyang Tathagatha,Tuhan Yang Maha Esa sumber kesucian para Buddha dan para Bodhisattva dalam bentuk:

    • Li Pai Men , menggunakan kesucian karma perbuatan badan untuk bersujud dengan kesungguhan hati, menghormati, dan bernamaskara pada Amitabha Buddha dengan tekad untuk terlahir ke Sorga Sukhavati.
    • Chan Han Men , menggunakan kesucian karma perbuatan mulut atau ucapan untuk memuja dan memuji para Tathagatha, jasa pahala, sinar vidya membentuk kebijakan, secara nyata menjalani latihan ini , memohon terlahir di Sorga sukhavati

    Ada kata kata yang baik untuk disimak ” sau ciang hua , tuo nien fo ” artinya dalam kehidupan ini kurangi mengeluarkan kata – kata yang tidak bijak, banyaklah menlafal nama Buddha Amitabha , bila hal ini dapat kita praktekan dalam kehidupan ini , kata –kata yang keluar dari mulut kita selalu kata – kata pujian baik pujian kepada para Buddha, Bodhisattva atau para dewa pelindung Dharma juga kepada orang lain yang memang pantas untuk mendapat pujian dan didalam batin selalu tertanam benih welas asih yang begitu mendalam serta mempunyai prasetya yang agung untuk bersama-sama dengan para mahkluk lainnya terlahir ditanah suci Surga sukhavati Amitabha Buddha. Perlu kita ketahui bahwa melafal nama Amitabha Buddha mempunyai kekuatan spritual yang luar biasa.

    • Cuo Yen Men , dalam batin selalu mempunyai tekad, membangkitkan maha prasetya , cara ini melatih dengan Samantha.

    Maha prasetya yang diajarkan Hyang Buddha untuk selalu membangkitkan tekad :

    • Bertekad menolong para mahkluk yang tiada batasnya.
    • Bertekad memutuskan kilesa yang tiada batasnya.
    • Bertekad mempelajari Buddha Dharma yang tiada taranya.
    • Bertekad selalu berada dijalan ke-Buddha-an.
    • Hanya diri sendiri yang dapat menolong diri sendiri.
    • Hanya diri sendiri yang dapat memutuskan kilesa/kekotoran batin.
    • Hanya diri sendiri yang dapat mempelajari Buddha Dharma.
    • Hanya diri sendiri yang dapat berjalan di jalan ke-Buddha-an

    Cara melatihnya dengan menjalani 10 macam kebenaran :

    • selalu melatih pandangan yang benar.
    • selalu melatih pikiran yang benar.
    • selalu melatih mengeluarkan kata – kata yang benar.
    • selalu melatih perbuatan badan yang benar.
    • selalu melatih mencari nafkah yang benar.
    • selalu melatih berdaya upaya yang benar.
    • selalu melatih perhatian yang benar.
    • selalu melatih konsentrasi yang benar/selalu melakukan intropeksi kedalam dalam.
    • selalu melatih pengetahuan yang benar.
    • selalu melatih kearah pembebasan yang benar.

    Tanpa mau melakukan pelatihan ini kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki diri dan karma kita.

    • Kuan Cha Men , dengan kebijakan selalu melakukan intropeksi, dengan 3 cara : -menggunakan kondisi batin dengan Vipasyana yaitu mengintropeksi jasa pahala

    negeri Buddha yang penuh dengan keagungan ;
    -mengintropeksi jasa pahala dan keagungan dari Amitabha Buddha;
    -mengintropeksi jasa pahala dan keagungan dari para Bodhisattva dan memohon terlahir di Sorga Sukhavati.

    Dengan selalu melakukan intropeksi seperti diatas secara otomatis kita telah mengintropeksi diri kita sendiri, dalam arti kata kita akan selalu bertanya pada diri kita, apa yang telah kita perbuat ? apakah perbuatan, perkataan dan pikiran kita sudah berubah dan atau sudah mendekati seperti perbuatan, perkataan dan pikiran para Buddha, dan Bodhisattva.

    • Hui Siang Men , seluruh jasa pahala dan akar kebajikan disalurkan kepada semua machkluk, bertekad terlahir ke negeri Sorga Sukhavati, semua bersama-sama mendapat penerangan jalan dijalan ke Buddhaan ;
    Setiap mahkluk terutama manusia dalam bentuk jati dirinya (yang semula) selalu berisikan Brahma Vihara yaitu maitri karuna mudita dan upeksha, hati yang penuh dengan welas asih, cinta kasih, selalu ingin membantu orang lain, rasa simpatik yang mendalam dan penuh dengan keseimbangan batin. Karena itu didalam setiap melakukan perbuatan , perkataan dan pikiran yang baik , selalu menyalurkan jasa pahala ini kepada semua machkluk, semoga semua machkluk juga mempunyai tekad dan keinginan yang sama , artinya kita selalu membagi kebahagiaan, merasakan kepedihan serta berusaha menolong orang lain, rasa simpatik kepada sesamanya baik kepada machkluk yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.

    Salah satu contoh jasa pahala yang baik untuk limpahkan setiap melakukan perbuatan, perkataan dan pikiran yang baik adalah :

    “ semoga jasa pahala ini memperindah tanah suci para Buddha ;bertekad membalas empat budi besar, menolong para machkluk di tiga alamsamsara ;
    bila hal ini terdengar oleh para machkluk, para machkluk dapat membangkitkan benih Bodhicitta ;Memperoleh kekuatan kesucian Amitabha Buddha, bersama-sama terlahir ditanah suci Surga Sukhavati.”

  15. #14
    yoh***s is online now Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    Apr 2012
    Posts
    731
    Thanks
    689
    Thanked 91 Times in 82 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Quote Originally Posted by SanifSentosa View Post
    hmm..uda sekian lama ngga buka thread baru. nah yg ini utk melengkapi post yg ke 300, dan beranjak menjadi Siswa Sang Buddha, hehe...selama ini hanya sebagai siswa guru di sekolah aja. (tp apakah peraturannya masih sama gak ya? )

    Ada yang tau gak cara mencari jati diri dalam diri seseorang? kadang kala saya ini tidak tau saya akan menjadi apa (maksudnya tujuan hidup). trus kadang kala saya ditawari suatu bisnis yang baik, tapi saya sendiri kadang tidak terlalu agresif, karena saya berpikir, toh kekayaan itu ujung2nya juga hampa, setelah meninggal, juga tidak akan dibawa. dan lagian, jika uda bener2 kaya, apa hebatnya, toh juga akan tetap bisa meninggal, bisa sakit, bisa sedih, de el el. apakah pemikiran saya ini terlalu pesimis? kadang saya merasa saya ini adalah sungguh orang yg sangat pesimis.

    mohon pencerahannya, dan jangan menertawai daku ini ya.
    aku belum bisa mencerahkan siapa pun ,karena aku belum tercerahkan juga wkwkwkwkwkwkwk ,tapi jika sdr SanifSentosa mau pendapat aku tentang tulisan diatas ,maka menurut ku , sdr adalah seseorang yg memang sdh pesimis dengan kehidupan duniawi , so... dicoba aja jadi bikkhu ,mungkin sdr bisa jadi optimis _/\_

    salam metta _/\_

  16. #15
    hadisantoso's Avatar
    hadisantoso is online now NATURAL
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    surabaya
    Posts
    2,246
    Thanks
    278
    Thanked 1,128 Times in 704 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Bosen ?? Ke Jalan2.com Aja Skrg !
    Apakah perlu Mencari diri sendiri?
    Jawabnya adalah-----amat sangat perlu.
    Kenapa?
    Karena bila seseorang tidak tahu atau mengenal diri sendiri----apakah saya paling pandai/bodoh,sabar/emosi an, santun/kasar dsb-----maka orang itu cenderung tak tahu diri atau lupa diri.
    Dan yang pasti orang itu akan menjadi sok,angkuh dan selalu ingin menang sendiri,-----
    Karena dia tidak menyadari bahwa akan ada dan banyak yang lebih pandai,santun,sabar,pengertian dari dirinya.
    Maka sering di katakan ---carilah cermin buat ngaca, lihatlah sekelilingmu. Dsb
    yoh***s likes this.

  17. The Following User Says Thank You to hadisantoso For This Useful Post:

    yoh***s (02-04-13)

Similar Threads

  1. Kisah Vasavattimaradhiraja -- maharaja dari para dewa Mara
    By usnisha in forum Kisah-Kisah Sang Buddha
    Replies: 16
    Last Post: 12-05-11, 08:09
  2. Cakraphala - Pengembangan Citta Mahayana
    By usnisha in forum Tantrayana
    Replies: 5
    Last Post: 01-08-09, 23:06
  3. Sekilas Info - Macam Macam Pengetahuan Ringan
    By yuliabenata in forum Topik Umum
    Replies: 59
    Last Post: 15-07-06, 00:42
  4. Bincang-bincang mengenai Moralitas
    By Dhammapala in forum Conference Log
    Replies: 8
    Last Post: 20-04-06, 01:08
  5. Belajar Agama Buddha Belajar Diri Sendiri
    By mul in forum Tantrayana
    Replies: 6
    Last Post: 27-12-05, 17:24

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •