<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1"?>

<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
	<channel>
		<title>Wihara.com - Forum Diskusi Agama Buddha - Artikel Buddhist</title>
		<link>http://www.wihara.com/forum/</link>
		<description />
		<language>en</language>
		<lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2010 08:59:03 GMT</lastBuildDate>
		<generator>vBulletin</generator>
		<ttl>60</ttl>
		<image>
			<url>http://www.wihara.com/forum/images/misc/rss.png</url>
			<title>Wihara.com - Forum Diskusi Agama Buddha - Artikel Buddhist</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/</link>
		</image>
		<item>
			<title>Berhenti menjadi pengemis</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8752-berhenti-menjadi-pengemis.html</link>
			<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 14:16:40 GMT</pubDate>
			<description>Selama ini, Budi selalu menyediakan beberapa uang recehan untuk berjaga – jaga kalau melewati pengemis atau ada pengemis yang menghampiri. Satu lewat, kuberi, kemudian lewat satu pengemis lagi, kuberi. Hingga persediaan receh di kantong habis, baru lah aku berhenti dan menggantinya dengan kata...</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Selama ini, Budi selalu menyediakan beberapa uang recehan untuk berjaga – jaga kalau melewati pengemis atau ada pengemis yang menghampiri. Satu lewat, kuberi, kemudian lewat satu pengemis lagi, kuberi. Hingga persediaan receh di kantong habis, baru lah aku berhenti dan menggantinya dengan kata “maaf” kepada pengemis yang ke sekian.<br />
Tidak setiap hari Budi melakukan itu karena memang pertemuan dengan pengemis juga tidak setiap hari. <br />
<br />
Sahabat Budi, Metta, punya cara lain. Awalnya Budi merasa bahwa dia pelit karena Budi tidak pernah melihatnya memberikan uang recehan kepada pengemis. Padahal kalau ditaksir, gajinya lebih besar dari gaji Budi.<br />
<br />
Bahkan mungkin gaji Budi itu, besarnya hanya setengah dari gaji Metta. Tetapi setelah apa yang Budi lihat sewaktu bersama – sama berteduh dari kehujanan, anggapan itu ternyata salah.<br />
<br />
Seorang ibu setengah baya sambil menggendong anaknya menghampiri Budi dan Metta seraya menengadahkan tangan. Tangan Budi yang sudah berancang – ancang mengeluarkan uang recehan, ditahan Metta. <br />
<br />
Kemudian Metta mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya, satu lembar seribu rupiah, satu lembar lagi seratus ribu rupiah. Sementara si ibu tadi ternganga, entah apa yang ada di pikirannya, sambil memperhatikan dua lembar uang itu.<br />
<br />
“Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana, yang seribu rupiah atau yang seratus ribu…?” tanya Metta.<br />
<br />
Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan memilih yang lebih besar. Termasuk ibu tadi yang serta merta menunjuk uang seratus ribu.<br />
“Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus dikembalikan. Tetapi kalau ibu pilih yang seratus ribu, saya tidak memberikannya secara cuma – cuma. Ibu harus mengembalikannya dalam waktu yang kita tentukan, bagaimana…?” terang Metta.<br />
<br />
Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu, untuk menjawabnya. Terlihat dia masih nampak bingung dengan maksud Metta. Dan, “Maksudnya…yang seratus ribu itu hanya pinjaman…?”<br />
<br />
“Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini, kalau saya berikan seribu rupiah ini untuk ibu, paling lama satu jam mungkin sudah habis. Tetapi saya akan meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu agar esok hari dan seterusnya ibu tidak perlu meminta – minta lagi” katanya.<br />
<br />
Selanjutnya Metta menjelaskan bahwa dia lebih baik memberikan pinjaman uang untuk modal bagi seseorang agar terlepas dari kebiasaannya meminta – minta. Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan membuat gado – gado. Di rumahnya, dia masih memiliki beberapa perangkat untuk berjualan gado – gado, seperti cobek, piring, gelas, meja dan lain – lain. <br />
<br />
Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami bersama – sama ke rumah ibu tadi, yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berteduh. Hujan sudah reda dan kami mendapati lingkungan rumahnya yang lumayan ramai. Cocok untuk berdagang gado – gado, pikirku.<br />
<br />
Metta sering menyempatkan diri untuk mengunjungi penjual gado – gado itu. Selain untuk mengisi perutnya dengan tetap membayar, dia juga berkesempatan untuk memberikan masukan bagi kelancaran usaha ibu penjual gado – gado itu.<br />
<br />
Belum tiga bulan dari waktu yang disepakati untuk mengembalikan uang pinjaman itu, dua hari lalu saat Metta kembali mengunjungi penjual gado – gado. Dengan air mata yang tidak bisa lagi tertahan, ibu penjual gado – gado itu mengembalikan uang pinjaman itu ke Metta. “Terima kasih, Nak. Kamu telah mengangkat ibu menjadi orang yang lebih terhormat.”<br />
<br />
Metta mengaku selalu menitikkan air mata jika mendapati orang yang dibantunya sukses. Meski tidak jarang, dia harus kehilangan uang itu karena orang yang dibantunya gagal atau tidak bertanggung jawab. Menurutnya, itu sudah resiko. Tetapi setidaknya, setelah ibu penjual gado – gado itu mengembalikan uang pinjamannya berarti akan ada satu orang lagi yang bisa dia bantu. Dan akan ada satu lagi yang berhenti meminta – minta.</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/">Artikel Buddhist</category>
			<dc:creator>hariyono</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8752-berhenti-menjadi-pengemis.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>Apa yang Membuat Anda Bahagia?</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8719-apa-yang-membuat-anda-bahagia.html</link>
			<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 11:23:53 GMT</pubDate>
			<description>*Apa yang Membuat Anda Bahagia? 
* 
 
Apa yang membuat Anda bahagia? Setiap orang memilih jawaban tersendiri dalam meraih kebahagiaannya. Suatu hari pada saat rapat mingguan di sekolah tempat saya bekerja, kepala sekolah saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada para guru dalam bahasa Inggris....</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font size="5"><font color="blue">Apa yang Membuat Anda Bahagia?</font></font></div></b><br />
<br />
Apa yang membuat Anda bahagia? Setiap orang memilih jawaban tersendiri dalam meraih kebahagiaannya. Suatu hari pada saat rapat mingguan di sekolah tempat saya bekerja, kepala sekolah saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada para guru dalam bahasa Inggris. Kurang lebih pertanyaan seperti ini “Hal apa yang membuat Anda bahagia?” <br />
<br />
Orang pertama yang menjawab pertanyaan ini dengan mantap menyebutkan bahwa pacarlah yang membuatnya bahagia. Maklum orang yang bersangkutan memang belum mempunyai pacar, sudah tentu jika saat ini dia sangat berharap agar dapat menemukan wanita yang mau jadi pacarnya, dan hal itulah yang akan membuatnya bahagia. <br />
<br />
Lalu sebagian besar dari para guru menjawab bahwa hal yang membuat mereka bahagia adalah bisa berkumpul dengan keluarga atau orang-orang yang dicintainya, seperti orang tua, anak, suami, dll. <br />
<br />
Tentunya jawaban ini memang umum diutarakan oleh setiap manusia, karena pada dasarnya manusia akan merasa nyaman jika dapat hidup dan berkumpul dengan orang yang mereka sukai dan cintai. Namun, jawaban tersebut tidaklah mutlak diutarakan oleh semua orang. Tidak selamanya keluarga sendiri menjadi prioritas dan membuat mereka bahagia. Ada kalanya berkumpul dengan orang lain membuat diri mereka merasa nyaman dan bahagia. Begitu juga dengan sebagian guru yang menjawab kalau temanlah yang membuatnya bahagia.<br />
<br />
Lalu hal apa yang membuat saya bahagia? Dari sekian banyak guru-guru yang ditanyakan, akhirnya tibalah giliran saya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Awalnya saya tidak tahu hal apa yang benar-benar membuat saya bahagia, karena saya pikir semua jawaban dari guru-guru sebelumnya memanglah hal yang membuat saya juga bahagia. Akan tetapi, semua itu tidaklah selamanya benar, karena terkadang saya merasa tidak bahagia, walaupun saya sedang berkumpul dengan teman-teman atau keluarga saya. (Lagi pula kalau jawabannya sama nanti dikira ikut-ikutan J).<br />
<br />
Perlu beberapa detik bagi saya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sampai kemudian saya teringat akan sesuatu, dan serentak saya menjawab dalam bahasa Inggris, “I’ll be happy if I can sleep well” yang artinya “Saya akan bahagia, jika saya dapat tidur dengan nyenyak.” <br />
<br />
Memang jawabannya agak sembarang, sampai-sampai sebagian guru yang lain ada yang tertawa setelah mendengar hal tersebut. Si kepala sekolah pun mungkin sedikit bingung, dan menanyakan apakah saya pernah punya masalah susah tidur. Walaupun saya memang pernah punya masalah tidak bisa tidur nyenyak selama 3 bulan dan itu adalah saat-saat dimana saya tidak bahagia, namun semata-mata bukan itu alasan atas jawaban saya.<br />
<br />
Karena menurut saya orang yang pasti bahagia adalah orang yang bisa tidur dengan nyenyak. Entah dia punya atau belum punya pacar, miskin atau kaya, berjabatan tinggi atau rendah, berkeluarga atau tidak, jika dapat tidur nyenyak (tidak ada kegelisahan, ketakutan, dan kekhawatiran) saat itu pasti dia orang yang berbahagia. Karena orang yang tidak bahagia pasti tidak dapat tidur dengan nyenyak. Materi, keluarga, teman ataupun pacar tidak bisa menjamin seseorang untuk bahagia dan bisa tidur dengan nyenyak. <br />
<br />
Namun, perlu ditekankan bahwa bukan karena tidurlah kita akan bahagia (walaupun tidur memang salah satu kondisi dalam meraih kebahagiaan duniawi). Tetapi sebaliknya<br />
karena merasa bahagialah kita bisa tidur dengan nyenyak. Dengan kata lain, tidur nyenyak adalah efek dari kebahagiaan. Lalu sebenarnya apa yang dapat membuat kita bahagia dan dapat tidur dengan nyenyak? <br />
<br />
Ada satu cerita yang saya pernah dengar dari seorang penceramah. Cerita ini tentang orang kaya yang memiliki segalanya. Ia memiliki harta yang berlimpah. Bisnis dan perusahaannya pun tersebar di mana-mana. Ia juga memiliki keluarga, istri yang cantik dan setia beserta anak-anaknya yang lucu-lucu. Temannya ada di mana-mana, begitu juga dengan pembantu rumahnya yang siap melayaninya kapan pun. Namun, karena pekerjaannya yang luar biasa sibuk, membuat ia harus bekerja keras siang dan malam.<br />
Tak pelak pikirannya hampir setiap hari gelisah memikirkan untung dan rugi. Terlebih lagi rasa takutnya, baik itu takut tertipu dalam bisnisnya ataupun takut akan kehilangan harta, istri, anak dan semua yang dimilikinya. Ketakutan dan kegelisahan inilah yang membuatnya tidak pernah bisa tidur nyenyak, dan sudah pasti saat itu dia tidak<br />
bahagia. <br />
<br />
Kemudian suatu malam, karena tak bisa tidur ia berjalan-jalan dengan mobil terbarunya. Saat itu ketika mobilnya melintasi sekumpulan pangkalan becak di pinggir jalan, ia melihat seorang tukang becak yang sedang tidur dengan lelap di atas becaknya. Melihat wajah si tukang becak itu, si orang kaya tadi berkata di dalam hatinya, ‘Dia yang mungkin tidak punya segalanya dapat tidur dengan nyenyak di atas becaknya, sedangkan Aku yang punya segalanya, bahkan ranjang mewah dan empuk tidak dapat membuatku tertidur dengan nyenyak. Betapa bahagianya tukang becak tersebut.’ pikir si orang kaya.<br />
<br />
Apakah harta kekayaan, kedudukan, teman, keluarga, atau pacarkah yang dapat membuat kita bahagia? Rata-rata setiap orang menjawab bahwa mereka akan bahagia jika mereka seperti ini, mendapatkan ini, melakukan ini, menyelesaikan ini, mempunyai ini dan lain sebagainya.<br />
<br />
Tidak heran memang, terkadang kita senang mencari kebahagiaan di luar dari lingkungan dan diri kita sendiri. Kita lupa akan satu hal kalau kebahagiaan itu datangnya dari diri sendiri. Mau punya pacar atau tidak, mau berkumpul dengan keluarga, teman, atau orang yang dicintai, bahkan melakukan kegiatan yang biasanya kita senangi seperti berbelanja misalnya. Hal itu semua tidak menjamin kebahagiaan kita<br />
selama diri kita resah, gelisah, takut dan memang merasa tidak bahagia seperti si orang kaya tadi. <br />
<br />
Lalu apakah kebahagiaan itu hanya dapat kita raih jika keinginan kita sudah terlaksana atau terpenuhi? Apakah kita harus menunggu datangnya sesuatu atau mendapakan sesuatu, baru kita akan bahagia? <br />
<br />
Contohnya saja seorang guru yang menganggap hal yang membuatnya bahagia adalah mendapatkan seorang pacar. Mengapa harus menunggu mendapatkan pacar baru bisa bahagia? Lalu apakah ada jaminan jika ia mendapatkan pacar saat itu ia akan merasa bahagia? Bagaimana jika seandainya ia mendapatkan pacar, tetapi secara terpaksa<br />
karena dijodohkan oleh orang tuanya misalnya, dan ia tidak suka dengan pacarnya itu? Jika saat ini kita bisa bahagia, mengapa saat ini juga kita tidak menikmati kebahagiaan itu!? Sesungguhnya, berkumpul dengan orang yang kita cintai dan senangi pun bukan jaminan untuk bahagia, sama halnya dengan memiliki harta kekayaan dan lain sebagainya. Karena sekali lagi kebahagiaan ada di dalam diri kita sendiri saat ini, bukan<br />
yang lalu ataupun dari yang akan datang. Kebahagiaan hadir tidur pun menjadi nyenyak.<br />
<br />
<div align="center"><b>“Pavivekarasa&#331; pitv&#257; rasa&#331; upasamassa ca niddaro hoti nipp&#257;po<br />
Dhammap&#299;tirasa&#331; piba&#331;” –Dhammapada BAB XV:205 (15:10)<br />
<br />
“Ia yang menikmati hidup dalam kesendirian dan merasakan ketenangan<br />
karena tiada noda, terbebas dari kesedihan, terbebas dari kejahatan.<br />
Ia mereguk kebahagiaan hidup dalam Dhamma”</b></div><br />
<br />
<i>** Pernah dimuat di Majalah Sinar Padumuttara edisi 5</i><br />
<br />
<div align="center">oooOOooo</div></div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/">Artikel Buddhist</category>
			<dc:creator>tanhadi</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8719-apa-yang-membuat-anda-bahagia.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>Pertanyaan umat ttg Karma dan Kelahiran Kembali</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8713-pertanyaan-umat-ttg-karma-dan-kelahiran-kembali.html</link>
			<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 04:14:50 GMT</pubDate>
			<description>Seorang Umat bertanya kepada Bhante : 
 
Bhante, saya bertanya tentang ingin bertanya tentang. 
Apa gunanya kita memahami tentang karma dan kelahiran kembali pada kehidupan yang sedang kita jalani sekarang ini ? 
 
 
 
Jawaban dari Bhante Uttamo sebagai berikut: 
 
Memahami Hukum Kamma dan...</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Seorang Umat bertanya kepada Bhante :<br />
<br />
Bhante, saya bertanya tentang ingin bertanya tentang.<br />
Apa gunanya kita memahami tentang karma dan kelahiran kembali pada kehidupan yang sedang kita jalani sekarang ini ?<br />
<br />
<br />
<br />
Jawaban dari Bhante Uttamo sebagai berikut:<br />
<br />
Memahami Hukum Kamma dan Kelahiran kembali akan menjadikan seseorang lebih berhati-hati dalam bertindak, berbicara serta berpikir. Sikap hati-hati ini timbul karena ia telah menyadari bahwa dari ketiga bentuk perbuatan itulah yang akan memberikan kebahagiaan maupun penderitaan di kehidupan ini maupun kehidupan yang selanjutnya.<br />
<br />
Ia akan takut melakukan kejahatan namun bersemangat mengembangkan kebajikan karena ia mengerti bahwa diri sendirilah yang akan menanggung semua akibat perbuatannya. Seperti yang telah disampaikan dalam Hukum Kamma bahwa sesuai dengan benih yang ditabur, demikian pula buah yang akan dipanennya. Pelaku kebajikan akan mendapatkan kebahagiaan.<br />
<br />
Semoga dengan mengerti manfaat langsung tentang Hukum Kamma ini, setiap orang akan selalu berusaha mengembangkan kebajikan sebanyak mungkin.<br />
Semoga demikianlah adanya.<br />
Salam metta,<br />
B. Uttamo</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/">Artikel Buddhist</category>
			<dc:creator>thecoolestman</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8713-pertanyaan-umat-ttg-karma-dan-kelahiran-kembali.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>Sang Raja dan Burung Kecil</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8486-sang-raja-dan-burung-kecil.html</link>
			<pubDate>Tue, 24 Aug 2010 18:25:49 GMT</pubDate>
			<description>*Sang Raja dan Burung Kecil 
* 
 
Ada sebuah cerita kuno di India. Pada suatu siang hari, beberapa orang dewasa sedang mengobrol dengan santai di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba terdengar suara burung dengan nada sedih yang sedang berusaha terbang sekuat tenaga. Ketika dilihat seekor burung...</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font face="Century Gothic"><font size="5"><font color="blue">Sang Raja dan Burung Kecil</font></font></font></div></b><br />
<br />
Ada sebuah cerita kuno di India. Pada suatu siang hari, beberapa orang dewasa sedang mengobrol dengan santai di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba terdengar suara burung dengan nada sedih yang sedang berusaha terbang sekuat tenaga. Ketika dilihat seekor burung kecil terbang rendah sekali, sebentar jatuh dan terbang lagi, tetapi sama sekali tidak berhasil, tampak menderita sekali.<br />
<br />
Di belakang burung kecil itu, ada sekelompok anak sedang mengejarnya dengan riang gembira, sementara para orang dewasa hanya tertawa terbahak-bahak dianggapnya itu mainan yang lucu. <br />
<br />
Nah, pada saat itulah muncul orang tua yang berpakai baju putih mendekati dan menghalangi anak-anak yang mengejarnya, dan berjongkok mengambil burung kecil itu pelan-pelan dengan kedua tangan.<br />
<br />
Oh! Sayap burung itu ternyata diikat dengan tali dan di ujung tali terikat satu biji batu, pantas burung itu tidak dapat terbang! Orang berbaju putih itu merasa kasihan pada burung kecil itu. <br />
<br />
&quot;Burung itu punya kami, pulangkan kepada kami,&quot; kata anak-anak itu dengan nada kurang sopan. <br />
<br />
Tapi, orang berbaju putih itu berujar, &quot;Aku akan membeli burung ini, berapa harganya?&quot; <br />
<br />
Mendengar uang, anak-anak itu sangat gembira dan menjualnya kepada orang itu. <br />
<br />
Orang berbaju putih tersebut dengan penuh belas kasih membuka talinya dan melepaskannya, burung itu terbang berputar-putar di atas kepalanya dengan riang seolah ingin mengucapkan terima kasih.<br />
<br />
Selanjutnya, orang berbaju putih ini mengelus kepala anak-anak itu: &quot;Lihatlah anak-anak, burung kecil itu terbang bebas dan bernyanyi gembira, ini indah sekali bukan? Setiap jiwa pun mempunyai harga dan hak untuk hidup, ini adalah jiwa yang indah di dalam langit bumi.&quot; <br />
<br />
Anak-anak itu hanya menundukkan kepala, dan orang-orang dewasa yang di samping itu juga merasa malu. Orang berbaju putih sekali lagi mengelus kepala setiap anak, lalu pergi....... <br />
<br />
Mereka melihat bayang-bayang di belakangnya, terdapat kelapangan dada yang luar biasa, dengan kelembutannya bertutur. Tiba-tiba seorang anak berujar, &quot;Aku ingat! Beliau adalah sang raja kami.&quot;<br />
<br />
Saat itu adalah zaman kerajaan di mana rajanya seorang penganut agama Buddha yang taat, rakyatnya disayang seperti anaknya sendiri, sering memakai berbaju putih, masuk ke perkampungan penduduk untuk memahami keadaan rakyat, dan sering menolong orang yang susah. Sebagai sesama, kita berusaha memahami jiwa yang indah, dan juga harus selalu bermurah hati kepada orang yang membutuhkan pertolongan, serta memupuk kasih sayang kepada semua jiwa.<br />
<br />
<i>(Sumber: Mingxin.net)<br />
</i><br />
<b><font face="Century Gothic"><font size="3"><font color="purple"><div align="center">“ Kembangkanlah pikiran yang penuh cinta kasih;<br />
bersikaplah penuh welas asih dan terlatih dalam sila.<br />
Bangkitkan semangatmu, bersikaplah teguh,<br />
senantiasa mantap dalam membuat kemajuan.”<br />
</div></font></font></font></b><br />
<b><div align="center">( Theragatha 979 )</div></b></div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/">Artikel Buddhist</category>
			<dc:creator>tanhadi</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8486-sang-raja-dan-burung-kecil.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>Tirokudda Sutta - Kaitannya dengan Pelimpahan Jasa di Bulan Hantu</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8430-tirokudda-sutta-kaitannya-dengan-pelimpahan-jasa-di-bulan-hantu.html</link>
			<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 10:37:43 GMT</pubDate>
			<description>Image: http://i255.photobucket.com/albums/hh125/uzumaki619/gaki1.jpg  
 
*Tirokudda Sutta - Kaitannya dengan Pelimpahan Jasa di Bulan Hantu 	 
 
* 
* 
Sebuah kisah tentang pentingnya melakukan Pelimpahan Jasa 
* 
Pada masa sembilan puluh dua kappa yang lalu, terdapatlah sebuah kerajaan yang bernama...</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><img src="http://i255.photobucket.com/albums/hh125/uzumaki619/gaki1.jpg" border="0" alt="" /><br />
<br />
<font color="Blue"><b>Tirokudda Sutta - Kaitannya dengan Pelimpahan Jasa di Bulan Hantu 	<br />
<br />
</b></font><br />
<b><font color="Red"><br />
Sebuah kisah tentang pentingnya melakukan Pelimpahan Jasa<br />
</font></b><br />
Pada masa sembilan puluh dua kappa yang lalu, terdapatlah sebuah kerajaan yang bernama Kasi, Rajanya bernama Jayasena dan ratunya bernama Sirima. Sang Boddhisatta yang bernama Phussa terlahir melalui rahim Ratu Sirima.<br />
<br />
Setelah Beliau mencapai Penerangan Agung, Raja Jayasena kemudian melekat dengankonsep &quot;Anakku telah melakukan Pelepasan Agung dan menjadi Sammasambuddha, Sang Buddha adalah milikku, Dhamma adalah milikku, Sangha adalah milikku,&quot; dan sepanjang waktu ia mengurus dan melayani Sammasambuddha sendiri dan tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk melakukannya.<br />
<br />
Terdapat tiga orang adik lain ibu dari Buddha Phussa yang berpikir, &quot;Kemunculan Sang Buddha adalah untuk keuntungan dari seluruh dunia, tidak untuk kepentingan seseorang saja, dan ayah kami tidak mengijinkan kepada orang lain untuk menggantikannya mengurus Sang Bhagava. Bagaimanapun kami harus berusaha agar mendapat kesempatan untuk mengurus dan melayani Sang Buddha.&quot; Kemudian mereka berpikir, &quot;Cobalah kita lihat apakah cara yang tepat untuk melaksanakan maksud di atas.&quot;<br />
<br />
Kesempatan tersebut akhirnya muncul juga ketika terjadi pemberontakan di daerah perbatasan kerajaan. Ketika Raja Jayasena mendengar adanya pemberontakan tersebut, ia mengirimkan ketiga orang putranya untuk memadamkan pemberontakan itu.<br />
<br />
Setelah semua urusan diselesaikan, mereka kembali ke ibukota, sang raja merasa gembira dan menghadiahkan ketiga anaknya sebuah anugerah, &quot;Apa saja yang kalian ingin, akan saya kabulkan,&quot; katanya. Mereka berkata, &quot;Kami ingin melayani Sang Buddha.&quot; Raja menjawab, &quot;Yang lain pasti kuijinkan, jangan yang satu itu.&quot; Mereka menjawab dengan tegas, &quot;Kami tidak menginginkan yang lainnya.&quot; Raja menjawab, &quot;Baik, tetapi dalam jangka waktu terbatas.&quot;<br />
<br />
Mereka meminta tujuh tahun, tetapi raja tidak mengijinkan. Kemudian mereka menawar berturut-turut enam tahun, lima tahun, empat tahun, tiga tahun, dua tahun, satu tahun, enam bulan, lima bulan, empat bulan, akhirnya tiga bulan, dan Sang Raja mengabulkannya dengan berkata, &quot;Kalian boleh melakukannya.&quot; Ketika mereka menerima anugerah tersebut, hati mereka sangat senang. Mereka mengunjungi Sang Buddha, dan setelah memberi hormat&#8218;  mereka berkata, &quot;Yang Mulia, kami ingin melayani Sang Bhagava selama tiga bulan. Mohon Yang Mulia menyetujuinya untuk masa vassa yang akan datang.&quot; Sang Buddha menyetujuinya dengan berdiam diri.<br />
<br />
Selanjutnya mereka menulis surat kepada seseorang yang menjadi wakil mereka di desa, yang isinya &quot;Kami akan melayani Sang Buddha selama masa vassa.&quot; Didirikanlah beberapa bangunan untuk kediaman Sang Buddha dan para muridNya dan persiapan segala sesuatu yang diperlukan untuk mengurus segala kepentingan Sang Buddha. Setelah ia mempersiapkan segala sesuatunya, orang tersebut melaporkan kepada ketiga pangeran tersebut. Dengan berpakaian warna kuning, ketiga pangeran dengan diiringi 2.500 pembantu pria, mengawal Sang Buddha ke daerah pedesaan, lalu mempersilahkan Sang Buddha untuk berdiam dalam bangunan yang telah dipersiapkan, dan melayani Sang Buddha dengan penuh perhatian.<br />
<br />
Bendaharawan mereka, sangat setia dan penuh percaya diri. Ia yang mengatur segala kebutuhan materi untuk persembahan dana kepada Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha. Wakil mereka di desa menerima bahan-bahan tersebut dan bersama 11.000 orang dari pedesaan ia mengatur dengan seksama semua persembahan dana tersebut. Dan ternyata beberapa dari orang-orang tersebut merasa tidak puas di dalam hati mereka. Mereka lalu menghambat pemberian persembahan dana tersebut, mereka mencicipi terlebih dahulu makanan yang akan dipersembahkan, dan menimbulkan kebakaran di ruang makan.<br />
<br />
Setelah Upacara Pavarana telah usai, ketiga pangeran memberi hormat kepada Sang Buddha, dan dengan didahului oleh Sang Buddha mereka kembali ke ayah mereka di ibukota. Setelah itu Sang Buddha Phussa, mencapai Parinibbana.<br />
<br />
Raja Jayasena, putra-putranya, wakil ketiga pangeran, dan bendaharawannya, kemudian meninggal pada waktunya, dengan para pengikutnya, mereka terlahir di alam surga. Mereka yang hatinya tidak puas terlahir di alam-alam neraka. Dan selama sembilan puluh dua kappa kedua kelompok itu terlahir kembali dari alam surga yang satu ke alam surga yang lain dan dari alam neraka yang satu ke alam neraka yang lain.<br />
<br />
Kemudian pada masa Buddha Kassapa mereka yang dahulu hatinya tidak puas terlahir di alam peta. Ketika para manusia di masa itu melimpahkan jasa dari persembahan dana kepada sanak keluarganya yang telah meninggal dengan berdoa, &quot;Semoga jasa-jasa ini melimpah kepada sanak keluargaku yang telah meninggal dunia, dan ternyata hal tersebut membawa keberuntungan.<br />
<br />
Ketika para makhluk peta tersebut menyaksikan hal itu, mereka lalu menghampiri Buddha Kassapa dan bertanya, &quot;Yang Mulia, bagaimana caranya agar kami dapat memperoleh pelimpahan jasa juga?&quot; Sang Buddha lalu menjawab, &quot;Kalian tidak akan memperolehnya sekarang, tetapi kelak di jaman Buddha Gotama. Di masa itu akan hidup seorang raja yang bernama Bimbisara. Sembilan puluh dua kappa yang lalu ia adalah sanak keluarga kalian. Apabila ia memberikan persembahan dana kepada Sang Buddha, ia akan melimpahkan jasanya kepada kalian, pada waktu itulah kalian akan memperoleh keberuntungan.&quot;<br />
<br />
Kemudian setelah lewat masa Buddha Kassapa, Sang Buddha Gotama muncul di dunia ini, dan ketiga anak raja bersama 2.500 orang pengikutnya meninggal dari alam dewa dan terlahir dalam keluarga bangsawan di kerajaan Magadha. Mereka kemudian menjadi pertapa di Gayasisa yang rambutnya dikepang tiga. Wakil mereka di desa menjadi Raja Bimbisara, dan si bendaharawan menjadi bankir Visakha yang beristrikan Dhammadinna. Dan semua pengikut mereka juga terlahir kembali menjadi pengikut Raja Bimbisara.<br />
<br />
Setelah Sang Buddha Gotama muncul di dunia, tujuh minggu berlalu sudah, kemudian Beliau pergi ke Benares, di mana Beliau memutar Roda Dhamma untuk pertama kalinya. Dan setelah menahbiskan lima bhikkhu pertama, Beliau menerima para pertapa dari Gayasisa sebanyak lebih dari 2.500 orang untuk menjadi pengikutNya.<br />
<br />
<br />
Selanjutnya Beliau mengajarkan Dhamma kepada Raja Bimbisara sehingga mencapai Sotapana, yang datang mengunjungi Beliau bersama sebelas keluarga bangsawan dari Magadha. Kemudian di hari berikutnya, Sang Buddha diundang oleh Raja Bimbisara untuk makan di istananya. Di istana raja itulah Sang Buddha menerima persembahan dana makanan.<br />
<br />
<br />
Para penghuni alam peta datang mendekat dan menunggu sambil berharap, &quot;Sekarang sang raja akan melimpahkan jasa kepada kami, sekarang ia akan mempersembahkannya kepada kami.&quot; Akan tetapi, Raja Bimbisara pada saat itu hanya berpikir tentang tempat tinggal Sang Buddh, &quot;Di mana Sang Buddha akan berteduh?&quot; dan ia tidak melimpahkan jasa tersebut kepada siapapun juga.<br />
<br />
<br />
Para makhluk peta tersebut, karena harapannya tidak terpenuhi, menjadi tidak puas dan membuat keributan di sekitar istana raja pada malam harinya. Sang raja terbangun dan ketakutan, dan keesokan harinya ia bertanya kepada Sang Buddha, &quot;Yang Mulia, tadi malam ada suara-suara yang menakutkan, apa yang terjadi pada diriku?&quot; Sang Buddha menjawab dengan tenang, &quot;Jangan takut, maha raja, tidak akan terjadi apa-apa. Sanak keluargamu di masa lalu telah terlahir di alam peta, dan dalam masa antara dua Buddha mereka selalu mengharapkan pelimpahan jasa dari persembahan dana yang anda berikan kepadaKu. Kemarin anda tidak melimpahkannya sama sekali, sehingga mereka tidak puas dan membuat keributan.&quot; Raja bertanya, &quot;Yang Mulia, apakah mereka akan menerima pelimpahan jasa apabila diberikan sekarang?&quot; &quot;Ya, maha raja,&quot; &quot;Kalau begitu Yang Mulia, terimalah undangan saya sekarang,&quot; Sang Bhagava menerima undangan tersebut.<br />
<br />
<br />
Raja Bimbisara kemudian kembali ke istananya untuk mempersiapkan persembahan dana yang melimpah kepada Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha. Lalu Sang Buddha tiba dengan diiringi oleh para muridNya, kemudian duduk di tempat yang disediakan.<br />
<br />
<br />
Para makhluk peta datang dan berdiri di balik dinding dan berharap, &quot;Hari ini kami akan memperolehnya.&quot; Sang Buddha membuat mereka terlihat oleh Raja Bimbisara. Ketika memberikan air persembahan raja berdoa,&quot;Semoga jasa ini melimpah kepada sanak keluargaku yang telah meninggal.&quot; Dan segera terciptalah kolam yang penuh dengan bunga teratai untuk mereka. Mereka lalu mandi dan minum sampai penderitaan, keletihan dan kehausan mereka menghilang. Kini tubuh mereka bersinar seperti emas.<br />
<br />
<br />
Ketika raja mempersembahkan bubur, makanan dan penganan, yang juga dilimpahkan kepada mereka, pada saat yang sama terciptalah bubur, makanan dan penganan dari surga untuk mereka. Dan setelah mereka menyantap makanan tersebut, tubuh mereka kembali pulih dan sehat. Kemudian ketika raja melimpahkan jasa pemberian pakaian dan tempat tinggal, terciptalah pakaian yang indah, sandal dan istana yang lengkap dengan permadani dan perabot dari surga untuk mereka. Peristiwa itu terlihat oleh semua yang hadir, dan sang raja merasa sangat puas.<br />
<br />
<br />
Akhirnya para makhluk peta tersebut menghilang atau meninggal di alam peta dan terlahir kembali ke alam yang lebih bahagia.<br />
<br />
<br />
Setelah itu, ketika Sang Buddha selesai menyantap hidangan yang disediakan dan menunjukkan bahwa Beliau sudah cukup kenyang. Beliau mengucapkan sutta <font color="red"> (Tirokudda Sutta)</font> berikut sebagai berkahNya kepada Raja Magadha :<br />
<br />
<i><font color="Blue"><br />
Di balik dinding-dinding mereka berdiri dan menunggu<br />
juga di perempatan dan di pertigaan jalan<br />
mereka kembali ke rumah-rumah yang pernah mereka huni<br />
mereka menunggu di pinggir kusen-kusen pintu<br />
<br />
<br />
Namun ketika diadakan pesta besar<br />
dengan sajian mkanan dan minuman yang beraneka macam<br />
ternyata tak seorangpun yang mengingat makhluk-mkhluk itu<br />
akibat dari perbuatan mereka di masa lampau<br />
<br />
<br />
Demikianlah mereka yang hatinya penuh welas asih<br />
melimpahkan kepada sanak keluarga yang telah meninggal<br />
persembahan makanan dan minuman dengan tulus<br />
yang terbaik dan sesuai dengan saat ini<br />
<br />
<br />
Semoga jasa-jasa ini melimpah<br />
kepada sanak keluarga yang telah meninggal<br />
Semoga para sanak keluarga berbahagia<br />
<br />
<br />
Para sanak keluarga yang menjadi makhluk peta<br />
yang hadir dan berkumpul di sana<br />
dengan bersemangat akan memberikan berkah mereka<br />
untuk persembahan makanan dan minuman berlimpah yang mereka terima<br />
<br />
<br />
&quot;Semoga sanak keluargaku panjang usia<br />
sebab merekalah kami menerima persembahan ini<br />
untuk persembahan yang telah kami terima<br />
si pemberi akan menerima buah dari perbuatan mereka&quot;<br />
<br />
<br />
Karena di alam peta tidak ada pertanian-perkebunan, juga tidak ada peternakan<br />
tidak ada perdagangan, juga tidak ada pertukaran uang emas<br />
maka sanak keluarga yang menjadi makhluk peta<br />
hidup atas limpahan jasa dari sini<br />
<br />
<br />
Seperti air yang terjun dari atas bukit<br />
mengalir ke bawah menuju lembah ngarai<br />
demikianlah persembahan yang diberikan di sini dapat berguna<br />
bagi sanak keluarga yang menjadi makhluk peta<br />
<br />
<br />
&quot;Ia banyak memberi kepadaku, ia telah bekerja untukku,<br />
dan ia adalah sanak keluargaku, temanku, atau kekasihku&quot;<br />
berikanlah persembahan, untuk mereka yang telah meninggal<br />
sambil mengenang apa yang telah mereka lakukan<br />
<br />
<br />
Bukan tetesan air mata, bukan juga ratap tangis,<br />
bukan pula semua jenis perkabungan<br />
dapat menolong mereka yang telah meninggal dunia<br />
itulah yang selama ini dilakukan oleh para keluarga yang ditinggalkan<br />
<br />
<br />
Akan tetapi apabila persembahan jasa<br />
diberikan kepada Sangha atas nama mereka<br />
maka akan dapat menolong mereka dalam waktu yang lama<br />
di masa datang maupun di masa sekarang<br />
<br />
<br />
Kewajiban Dhamma untuk keluarga telah dipertunjukkan<br />
dan bagaimana pelimpahan jasa kepada yang telah meninggal dilaksanakan<br />
dan bagaimana para bhikkhu telah diberikan kekuatan<br />
dan betapa besar jasa kebajikan yang telah anda perbuat<br />
<br />
<br />
</font></i>Oleh : Bhante Wongsin Labhiko</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/">Artikel Buddhist</category>
			<dc:creator>jhon</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8430-tirokudda-sutta-kaitannya-dengan-pelimpahan-jasa-di-bulan-hantu.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>Utusan</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8227-utusan.html</link>
			<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 05:34:55 GMT</pubDate>
			<description>*UTUSAN 
* 
 
 
*Saya sering diajak membacakan Paritta bagi umat Buddha yang sakit atau meninggal. Kadang-kadang juga bagi seseorang yang pindah rumah. 
 
Sepanjang hidup, tentu kita tidak asing dengan ‘ tua, sakit dan mati’. Saking sering kita melihatnya, ketiga hal ini seakan tidak membekas di...</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><font size="5"><font color="blue"><div align="center">UTUSAN</div></font></font></b><br />
<br />
<br />
<b>Saya sering diajak membacakan Paritta bagi umat Buddha yang sakit atau meninggal. Kadang-kadang juga bagi seseorang yang pindah rumah.<br />
<br />
Sepanjang hidup, tentu kita tidak asing dengan ‘ tua, sakit dan mati’. Saking sering kita melihatnya, ketiga hal ini seakan tidak membekas di saat kita menjumpainya. Padahal terdapat kenyataan yang seharusnya mampu membuka mata kita bahwa kitapun dapat mengalaminya.<br />
<br />
Rasanya tak ada yang belum pernah sakit. Berarti paling tidak satu dari ketiga keadaan tersebut, kita mengalaminya secara langsung. Sebagian dari kita mengalami dua diantaranya, yaitu tua dan sakit. Tentu saja tidak ada yang pernah mengalami ketiganya jika masih bisa membaca tulisan ini .<br />
<br />
Baik kita mengalaminya secara langsung maupun menyaksikan orang lain menghadapinya, sebenarnya ketiga hal tersebut merupakan tiga ‘utusan khusus’ untuk mengingatkan bahwa setiap manusia dapat mengalaminya. Buddha mengatakan mengenai tiga utusan khusus (Agung) ini dalam Anguttara Nikaya, Sutta Pitaka.<br />
<br />
Setelah kita menyadari kenyataan ini, bagaimana sikap bijaksana dalam menyikapi ketiganya?<br />
<br />
Sewaktu kita sakit atau menyaksikan orang lain sakit, ingatlah bahwa sepanjang kehidupan akan banyak sakit yang kita derita. Ingatan ini dapat menjadi pendorong bagi kita untuk menjaga kesehatan diri sebaik-baiknya, sehingga sakit akan menjadi sesuatu yang jarang menerpa diri kita. Ingatan akan sakit ini juga dapat dgunakan untuk memacu diri kita untuk berbuat lebih banyak hal-hal baik bagi diri sendiri, keluarga, orang dan makhluk lain selagi kita sehat.<br />
<br />
Orang-orang tuan dan lanjut usia yang kita jumpai seharusnya menjadi cambuk bagi kita untuk mengisi waktu sebaik-baiknya dengan hal yang berguna, dan menjadi motivasi diri guna menyebarkan pengaruh baik dan positif kepada lingkungan kita seluas mungkin, selagi usia masih memungkinkan.<br />
<br />
Sebelum kita memasuki usia senja, mulailah dari sekarang membuat persiapan sedikit demi sedikit, baik dari sisi finansial maupun non-finansial, sisi duniawi maupun spiritual.<br />
<br />
Pada waktu kita mendengar atau melayat sanak keluarga kita, tetangga, teman, dan orang-orang lainnya yang meninggal, seharusnya bukan hanya duka-cita dan sedih hati yang kita tampilkan. Seyogyanya juga memperkuat tekad kita untuk memanfaatkan dan mengisi sisa kehidupan, yang kita sendiri tidak tahu berapa lama, dengan lebih banyak membawa kebaikan dan kedamaian bagi sesama. Kita ingin dikenang sebagai orang dengan hal-hal baik yang lebih banyak dibanding yang kurang baik. Kita ingin meninggalkan jejak positif pada orang-orang yang kita kenal, yang harus kita tinggalkan sewaktu tiba saatnya nanti.<br />
<br />
Karena itu, sebelum sakit mendera, sebelum usia tua menjelang dan sebelum kematian menjemput, marilah pergunakan diri dan segenap kemampuan kita untuk membawa lebih banyak kebaikan bagi diri sendiri, keluarga dan lingkungan.<br />
<br />
<br />
Semoga bermanfaat.<br />
<br />
<i>Sumber : Buku Bingkai Refleksi- hal. 152.</i><br />
</b></div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/">Artikel Buddhist</category>
			<dc:creator>tanhadi</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8227-utusan.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>Sabar Agar Harmonis</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8177-sabar-agar-harmonis.html</link>
			<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 03:33:08 GMT</pubDate>
			<description>Oleh : Bhikkhu Uttamo Mahathera 
 
Keterlambatan pada suatu janji adalah hal yang biasa. Meskipun demikian, tentunya keterlambatan bisa menjengkelkan orang yang sudah menunggunya. Padahal, kalau ingin dipikir lebih mendalam, segala kondisi sebenarnya seperti telapak tangan yang dapat dilihat...</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><div align="center">Oleh : Bhikkhu Uttamo Mahathera</div><br />
Keterlambatan pada suatu janji adalah hal yang biasa. Meskipun demikian, tentunya keterlambatan bisa menjengkelkan orang yang sudah menunggunya. Padahal, kalau ingin dipikir lebih mendalam, segala kondisi sebenarnya seperti telapak tangan yang dapat dilihat berbeda dari dua sisi, sisi gelap dan terang. Demikian pula dengan keterlambatan. <br />
<br />
Daripada marah-marah yang dapat meningkatkan tekanan darah secara drastis, lebih baik ketika menghadapi keterlambatan, seseorang dapat saja merenungkan resiko tersebut sebagai upaya untuk berlatih kesabaran. Dengan demikian, ketika seseorang mampu mengendalikan diri, maka ia telah maju batinnya. Ia telah menjadi orang sabar. Ia menjadi orang yang siap menghadapi kenyataan. Ia sadar bahwa sebesar apapun kemarahan yang ia tumpahkan, ia tidak akan dapat mengubah kenyataan bahwa ada orang yang terlambat. Oleh karena itu, suka atau tidak suka jelas sangat tergantung pada pikiran sendiri. Seseorang yang mampu mengubah pikiran agar sesuai kenyataan, batinnya akan menjadi tenang, sabar dan hidup juga terasa bahagia. <br />
<br />
Agar memperjelas keterangan tentang manfaat kemampuan mengubah cara berpikir, maka berikut ini akan disampaikan satu cerita.....<br />
<br />
<b>Dalam suatu perjalanan kereta api terdapat seorang pria yang sedang membaca koran. Duduk di depannya ada seorang anak kecil kira-kira umur 2 tahun yang bepergian dengan ayahnya. Si anak yang baru beranjak besar itu sangat lincah dan seolah tidak ingin diam walau sejenak. Ia melompat ke sana dan ke sini. Orang yang sedang membaca koran itupun merasa terganggu karena korannya sering ditarik-tarik bahkan anak itu kadang melompat ke pangkuannya. Pria ini berusaha bersabar. Namun, karena ia merasakan gangguan terus menerus, maka kesabaran pun mencapai batas. Ia menegur secara halus bapak yang bersama anak tersebut. Ia mengatakan :”Pak, anak bapak pintar ya, mau baca koran terus.” <br />
<br />
Bapak tersebut karena mempunyai perasaan yang halus, ia menyadari bahwa anak tersebut telah mengganggu orang lain. Ia kemudian berkata : ”Maaf Pak. Anak ini belum tahu bahwa kami berdua menumpang kereta api karena hendak mengunjungi ibunya yang baru saja meninggal akibat kecelakaan lalu lintas pagi ini.” <br />
<br />
Lelaki yang sedang membaca koran itu terkejut dengan keterangan yang baru saja didengarnya. Ia kemudian langsung berubah pikiran. Ia sekarang justru timbul rasa kasihan dengan anak yang belum mengetahui bahwa ibunya baru saja meninggal dunia. Seketika hilang sudah kejengkelan terhadap anak itu. Ia sekarang justru berusaha menghibur dan mendudukkan anak itu dipangkuannya. Inilah kecepatan perubahan pikiran yang langsung mengubah suasana batin juga. </b><br />
<br />
Dalam kehidupan ini, seseorang juga sering dihadapkan dengan berbagai kesulitan. Kesulitan ekonomi, rumah tangga maupun berbagai hal lainnya. Seseorang belum tentu mampu mengatasi berbagai kesulitan itu, namun apabila berusaha, ia pasti mampu mengubah pola pikirnya agar dapat menyesuaikan diri dengan kesulitan yang tengah dihadapinya. <br />
<br />
<b>Satu contoh sederhana adalah menghadapi kemacetan lalu lintas. </b>Kalau hanya memikirkan waktu yang terbuang akibat lambatnya arus lalu lintas, maka tentu timbul kejengkelan. Namun, kalau memikirkan bahwa kemacetan lalu lintas dapat menjadi kesempatan untuk mendengarkan Dhamma dari sound system mobil misalnya, maka kemacetan menjadi kondisi positif serta membahagiakan. Mungkin sebelum ia selesai mendengarkan satu ceramah Dhamma, kemacetan lalu lintas sudah mulai mencair. Ia dapat meneruskan perjalanannya kembali. Ia telah mampu mempergunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Semua ini tentu sangat tergantung dari cara berpikir setiap orang. <br />
<br />
Dalam kesempatan ini para umat Buddha telah berkumpul untuk melakukan upacara pemberkahan rumah. Upacara ritual menurut tradisi Buddhis seperti ini biasanya dilakukan dengan membacakan paritta atau kotbah Sang Buddha. Diharapkan dengan pembacaan paritta ini semua anggota keluarga yang menghuni rumah akan selalu mendapatkan keselamatan, kesehatan, keharmonisan dan juga kebahagiaan. Dalam masyarakat Buddhis, pembacaan paritta dipercaya dapat menghasilkan kebahagiaan seperti yang diharapkan. <br />
<br />
Terwujudnya kebahagiaan ini karena selama seseorang membaca paritta , ia akan selalu mengarahkan pikiran, ucapan serta perbuatannya pada kebajikan. Dengan demikian, kebajikan yang ia lakukan dapat mengkondisikan kamma baik yang lain berbuah sesuai dengan harapan. Jadi, terwujudnya harapan untuk bahagia sangat tergantung pada kamma baik yang dimiliki oleh masing-masing anggota keluarga. Tentunya akan lebih baik apabila pembacaan paritta dalam kesempatan ini terus dilanjutkan oleh anggota keluarga. Diharapkan, anggota keluarga setiap hari rajin membaca paritta . Dengan demikian, setiap hari pula masing-masing mempunyai kesempatan berbuat baik. Kumpulan kebajikan yang terus dilakukan inilah yang akan mengkondisikan kebahagiaan dapat dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. <br />
<br />
Selain rajin membaca paritta , maka bentuk kebajikan lain yang dapat dilakukan oleh anggota keluarga adalah berusaha melatih kesabaran. Latihan kesabaran ini akan mampu menciptakan keharmonisan, persatuan serta kebahagiaan dalam keluarga. Dengan latihan kesabaran, semua masalah rumah tangga dapat dihadapi tanpa mendahulukan emosi. Masing-masing anggota keluarga dapat menyadari tugas dan kewajibannya. Dengan demikian, tidak akan ada perasaan ingin menonjolkan jasa melebihi anggota keluarga yang lain. Semua akan menyadari bahwa segala kebahagiaan yang timbul dalam rumah tangga adalah merupakan hasil kerjasama dari seluruh anggota keluarga. <br />
<br />
<b>Adapun untuk meningkatkan kualitas kesabaran antar anggota keluarga, paling tidak diperlukan dua pengertian yang perlu dimiliki yaitu: </b><br />
<br />
<b>Pertama,</b> bahwa semua kenyataan baik maupun buruk pasti ada hikmahnya. Jadi, ketika keluarga menerima kenyataan yang baik, misalnya keuntungan, maka hal ini hendaknya dijadikan pelajaran agar di masa depan dapat diulang kembali. Dengan demikian, keluarga akan selalu merasakan kebahagiaan.<br />
<br />
Sebaliknya, ketika muncul kenyataan yang kurang baik, maka jadikan pula hal ini sebagai pelajaran agar tidak terulang di masa depan. Dengan pola pikir seperti ini maka keluarga akan selalu mendapatkan pelajaran untuk maju dan kekurangan untuk dihindari. Tidak ada lagi waktu yang terbuang hanya untuk membanggakan masa lalu ataupun menyesali kesalahan yang sudah terjadi. Semua kenyataan pasti ada hikmahnya yang dapat dijadikan pelajaran untuk meningkatkan kualitas hidup setiap anggota keluarga. <br />
<br />
<b>Kedua,</b> biasakan untuk memikirkan : ‘Bagaimana kalau seandainya saya menjadi dia ?' Dengan pemikiran seperti ini, seseorang akan menjadi lebih memiliki tenggang rasa. Ia tidak akan mengeluarkan kata yang menyakitkan karena ia sendiri tidak ingin disakiti dengan kata-kata pedas orang lain. Ia akan selalu membantu orang lain karena ia pun senang apabila dibantu mengatasi kesulitan. Ia juga akan bersabar pada orang lain karena ia mengetahui bahwa setiap orang tentu mempunyai kesulitannya masing-masing. Dengan pemikiran seperti ini maka orang akan lebih bisa menerima kesulitan dan kekurangan orang lain. Ia tidak akan mudah marah kepada orang yang berada di lingkungannya. Kesabaran akan menjadi dasar timbulnya keharmonisan dalam keluarga maupun masyarakat. <br />
<br />
Setelah mampu memahami kesulitan dan kekurangan orang lain, maka barulah dipikirkan untuk memperbaikinya agar di masa depan ia tidak melakukan kesalahan yang sama. Pemikiran semacam ini jelas timbul karena adanya kebijaksanaan bukan kebencian. Pemikiran ini akan menghasilkan pengarahan yang pasti bukan hanya sekedar melampiaskan kemarahan atas kekurangan orang lain. Pemikiran ini pula yang akan menjaga keharmonisan dalam hubungan antar pribadi walau pernah terjadi kekurangan dan kesalahan. <br />
<br />
<b>Sebagai kesimpulan</b>, upacara pemberkahan rumah pada kesempatan ini menjadi sarana untuk mematangkan kamma baik pemilik rumah agar berbuah dalam bentuk keselamatan, kesehatan, kekuatan, keharmonisan dan kebahagiaan. Namun, hal yang jauh lebih penting lagi yang harus dikerjakan oleh anggota keluarga adalah mengembangkan kesabaran yang merupakan salah satu bentuk kebajikan. <br />
<br />
Disebutkan dalam Dhamma bahwa kesabaran adalah praktek pertapaan yang tertinggi. Kesabaran memang sulit dilaksanakan, namun bukan berarti tidak mungkin dilaksanakan. Dengan latihan bertahap, maka kesabaran pasti dapat dimiliki. Ketika seseorang mampu bersabar kebahagiaan pasti dapat dirasakan, keharmonisan rumah tangga juga dapat diwujudkan. <br />
<br />
<b>Kesabaran bukan seperti perabot rumah yang harus dibeli. Kesabaran dapat diperoleh secara gratis karena ada dalam diri sendiri.</b> <b>Namun kesabaran perlu dibangkitkan dengan latihan. Salah satu upaya untuk meningkatkan kesabaran dalam diri adalah dengan berlatih meditasi.</b> <br />
<br />
Latihan meditasi dilakukan setiap pagi dan sore minimal 15 menit sampai dengan 60 menit setiap kali bermeditasi. Selama bermeditasi, duduklah dengan tegak namun santai dan tidak bersandar. Letakkan kedua telapak tangan di pangkuan. Tangan kanan di atas tangan kiri. Tegakkan kepala dan pejamkan mata. Pusatkan seluruh perhatian pada obyek meditasi. <b>Salah satu obyek meditasi yang mudah dipergunakan adalah mengucapkan berulang-ulang dalam batin kalimat ‘Semoga semua mahluk berbahagia'. </b><br />
<br />
Apabila selama meditasi pikiran memikirkan hal lain, segera kembalikan pada pengucapan kalimat ini. Demikian dilakukan berulang-ulang sampai pikiran benar-benar terpusat pada pengucapan kalimat tersebut. Setelah beberapa minggu mengucapkan kalimat ini, maka dalam batin akan selalu timbul harapan agar semua mahluk berbahagia. Dengan demikian, ketika seseorang menemukan kekurangan orang lain, secara otomatis akan timbul dalam batinnya harapan agar dia dan semua mahluk berbahagia. Ia menjadi mudah menerima kekurangan orang lain. Ia tidak marah dengan kekurangan orang lain. Ia bahkan dapat membimbing orang tersebut untuk memperbaiki kekurangannya. Sikap mental yang baik dan mampu bersabar seperti inilah yang menjadi kebutuhan penting timbulnya keharmonisan dalam masyarakat. <br />
<br />
Kiranya uraian Dhamma yang singkat ini akan mampu membangkitkan semangat untuk melatih dan mengembangkan kesabaran dalam diri. Semoga dengan bekal kesabaran yang dimiliki akan dapat membantu terciptanya keharmonisan dalam keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan bahkan dunia. <br />
<br />
Semoga semua makhluk baik tampak maupun tidak tampak memperoleh kebaikan serta kebahagiaan sesuai dengan kondisi kammanya masing-masing. <br />
<br />
Sabbe satta bhavantu sukhitatta.</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/">Artikel Buddhist</category>
			<dc:creator>tanhadi</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8177-sabar-agar-harmonis.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>Kehancuran Alam Semesta (Menurut pandangan Buddhis )</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8167-kehancuran-alam-semesta-menurut-pandangan-buddhis.html</link>
			<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 16:12:21 GMT</pubDate>
			<description>*Inilah kutipan dari Visuddhi magga (Bab XIII, 28-65) mengenai apa yang akan terjadi di akhir jaman, di masa yang akan datang, lama sekali setelah kemunculan Buddha terakhir pada siklus bumi sekarang ini yaitu Buddha Metteyya. 
 
Ada suatu masa muncullah awan tebal yang menyirami seratus milyar...</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><font color="blue">Inilah kutipan dari Visuddhi magga (Bab XIII, 28-65)</font> mengenai apa yang akan terjadi di akhir jaman, di masa yang akan datang, lama sekali setelah kemunculan Buddha terakhir pada siklus bumi sekarang ini yaitu Buddha Metteyya.<br />
<br />
Ada suatu masa muncullah awan tebal yang menyirami seratus milyar tata surya (Kotisatasahassa cakkavalesu). Manusia bergembira, mereka mengeluarkan benih simpanan mereka, dan menanamnya, tetapi ketika kecambah mulai tumbuh cukup tinggi bagi anak sapi untuk merumput, tiada lagi hujan yang turun setetespun sejak saat itu. Inilah yang dikatakan oleh Sang Buddha, ketika beliau mengatakan : <br />
<br />
<font color="blue">” Para bhikkhu pada suatu kesempatan yang akan datang setelah banyak tahun, <br />
banyak ratusan tahun, banyak ribuan tahun, banyak ratusan ribu tahun tidak turun hujan”. </font>(Anguttara Nikaya IV, 100) <br />
<br />
Para mahluk yang hidupnya bergantung dari air hujan menjadi mati dan terlahir kembali di alam Brahma, begitu juga para dewa yang hidupnya tergantung pada buah-buahan dan bunga.<br />
<br />
Setelah melewati periode yang sangat panjang dalam kekeringan seperti ini, air mulai mengering disana sini, selanjutnya ikan dan kura-kura jenis tertentu mati dan terlahir kembali di alam Brahma, dan demikian juga para mahluk penghuni neraka, ada juga yang mengatakan para mahluk penghuni neraka mati dengan kemunculan matahari ketujuh (mati dan terlahir lagi di alam brahma).<br />
<br />
Dikatakan bahwa tak ada kelahiran di alam Brahma tanpa memiliki Jhana (tingkat konsentrasi dalam meditasi), dan beberapa diantara mereka karena terobsesi makanan (kelaparan), tak mampu mencapai Jhana. Bagaimana mungkin mereka dapat terlahir disana? Yaitu dengan Jhana yang mereka dapatkan sesudah terlahir di alam dewa dan melatih meditasi disana.<br />
<br />
Sebenarnya seratus ribu tahun sebelum kiamat , dewa dari alam sugati yang disebut Loka Byuha (world marshall) telah mengetahui bahwa seratus ribu tahun yang akan datang akan muncul akhir masa dunia (akhir kappa). Kemudian mereka berkeliling di alam manusia, dengan rambut dicukur, kepala tanpa penutup, dengan muka yang memelas, menghapus air mata yang bercucuran, memakai pakaian warna celupan, dengan keadaan pakaian semrawut mereka mengumumkan kepada manusia , <font color="blue">“ Tuan-tuan yang baik, Seratus ribu tahun dari sekarang akan tiba pada akhir dunia (akhir kappa), dunia ini akan hancur, bahkan samudra pun akan mengering. Bumi ini dan sineru raja semua gunung, akan terbakar habis dan musnah, kehancuran bumi akan merambat sampai ke alam brahma, kembangkanlah metta bhavana (meditasi cinta kasih) dengan baik, kembangkanlah karuna (belas kasihan), mudita (empathi) dan juga upekkha (keseimbangan batin, yaitu tidak marah bila dicela dan tidak besar kepala bila dipuji) rawatlah ibumu, rawatlah ayahmu, hormatilah sesepuh kerabatmu”.</font><br />
<br />
Setelah para dewa dan manusia mendengar kata-kata ini mereka pada umumnya merasa bahwa suatu hal yang penting harus segera dilakukan, mereka menjadi baik terhadap sesama, dan membuat pahala (kusalakamma), melatih cinta kasih dan sebagainya, akibatnya mereka terlahir kembali di alam dewa, di sana mereka mendapatkan makanan dewa, kemudian melatih meditasi kasina dengan obyek udara lalu mencapai jhana.<br />
<br />
Yang lainnya terlahir di alam dewa sugati (sense sphere) melalui kamma yang dipupuk dalam kehidupan sebelumnya (Aparapariya vedaniyena kammena), yaitu kamma yang akan berbuah dimasa mendatang. Sebab tidak ada makhluk hidup yang menjelajahi lingkaran kelahiran kembali tanpa memiliki simpanan kamma (baik maupun buruk) masa lampau yang akan berbuah di masa mendatang. Mereka pun mencapai jhana dengan cara yang sama. Pada akhirnya semuanya akan terlahir kembali di alam brahma diantaranya melalui pencapaian jhana di alam dewa yang menyenangkan dengan cara ini. Setelah waktu yang lama sekali hujan tidak turun, matahari kedua muncul. Dan ini diterangkan oleh sang Bhagava dengan diawali kata-kata, <font color="blue">“Para Bhikkhu, ada masanya dimana...</font> (Angguttara Nikaya IV, 100). Dan selanjutnya ada di dalam Satta Suriya Sutta.</b></div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/">Artikel Buddhist</category>
			<dc:creator>tanhadi</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/8167-kehancuran-alam-semesta-menurut-pandangan-buddhis.html</guid>
		</item>
	</channel>
</rss>
