<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1"?>

<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
	<channel>
		<title><![CDATA[Wihara.com - Forum Diskusi Agama Buddha - Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></title>
		<link>http://www.wihara.com/forum/</link>
		<description />
		<language>en</language>
		<lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2010 09:10:09 GMT</lastBuildDate>
		<generator>vBulletin</generator>
		<ttl>60</ttl>
		<image>
			<url>http://www.wihara.com/forum/images/misc/rss.png</url>
			<title><![CDATA[Wihara.com - Forum Diskusi Agama Buddha - Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/</link>
		</image>
		<item>
			<title>Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Parayana Vagga</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8820-khuddaka-nikaya-sutta-nipata-parayana-vagga.html</link>
			<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 13:09:05 GMT</pubDate>
			<description>*(Pendahuluan)* 
 
1. Suatu hari seorang laki-laki berjalan keluar dari kota Savatthi yang indah di Kosala.  
 
Ia adalah brahmana Bavari, orang yang terampil dalam mantra-mantra Veda.  
 
Dia berangkat menelusuri jalan selatan untuk mencari pemutusan diri dari kemelekatan.  
 
2. Ia berjalan...</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><div align="center"><b>(Pendahuluan)</b></div><br />
1. Suatu hari seorang laki-laki berjalan keluar dari kota Savatthi yang indah di Kosala. <br />
<br />
Ia adalah brahmana Bavari, orang yang terampil dalam mantra-mantra Veda. <br />
<br />
Dia berangkat menelusuri jalan selatan untuk mencari pemutusan diri dari kemelekatan. <br />
<br />
2. Ia berjalan sampai ke tanah orang-orang Assaka. <br />
<br />
Di sana, di perbatasan tanah milik Alaka, di tepian sungai Godhavari, dia berdiam, hidup dari buah-buahan dan apa pun juga yang dapat dikumpulkan. <br />
<br />
3. Suatu hari, ketika meminta-minta di suatu desa kaya di dekat sana, dia diberi amat banyak hadiah sehingga dapat mengadakan upacara persembahan yang besar.<br />
<br />
4. Baru saja dia menyelesaikan ritual-ritual itu dan kembali ke gubuknya, seorang brahmana lain tiba di pintunya. <br />
<br />
5. Dia kehausan, penuh debu, giginya bernoda dan kakinya bengkak. <br />
<br />
Dia datang ke pertapaan itu dan minta agar diberi uang senilai 500 peni. <br />
<br />
6. Begitu pertapa itu melihat tamu itu, dia menyuruh tamunya duduk. <br />
<br />
Setelah menanyakan kesehatan dan kebahagiaannya, dia mengatakan bahwa dia tidak dapat membantu. <br />
<br />
7. 'Wahai brahmana, Anda lihat sendiri saya telah memberikan semua yang saya terima. <br />
<br />
Maafkanlah saya, tetapi saya tidak punya 500 peni.' <br />
<br />
8. 'Engkau telah menolak permintaan seorang pengemis!' kata tamu itu. <br />
<br />
'Semoga kepalamu pecah menjadi tujuh dalam waktu tujuh hari sebagai akibat dari penolakan ini!' <br />
<br />
9. Dan kemudian, sebelum pergi, penipu hina itu mengucapkan mantra-mantra dan melontarkan kutukan keras kepada Bavari, sehingga brahmana itu sangat menderita. <br />
<br />
10. Pada hari-hari berikutnya, penderitaan brahmana itu bertambah. <br />
<br />
Kesedihan dan kesusahannya bagaikan anak panah di tubuhnya; <br />
<br />
dia tidak dapat makan, dia menjadi merana; dia bahkan tidak dapat memusatkan pikirannya pada meditasi. <br />
<br />
11. Satu makhluk dewi yang baik hati melihat penderitaan dan ketakutannya, maka dewi itu pun datang ke gubuknya dan berbicara kepadanya. <br />
<br />
12. 'Laki-laki itu hanyalah penipu,' kata dewi itu, 'yang mencoba mencari uang dengan mudah. <br />
<br />
Lagi pula, dia dipenuhi ketidaktahuan. <br />
<br />
Dia tidak tahu apa pun tentang kepala dan tidak tahu apa pun tentang pecahnya kepala.'<br />
<br />
13. 'O, Dewi,' kata brahmana itu, 'jika dia tidak tahu, siapa yang tahu? <br />
<br />
Jika engkau memahami pecahnya kepala, saya mohon penjelasan. <br />
<br />
Saya harus memahaminya! <br />
<br />
14. 'Tidak,' kata makhluk halus itu. <br />
<br />
'Saya tidak dapat membantumu. <br />
<br />
Saya tidak tahu apa pun mengenai hal itu. <br />
<br />
Yang dapat mengetahui hal-hal seperti itu adalah Para Penakluk.' <br />
<br />
15. 'Kalau demikian, o, dewi,' kata brahmana itu, 'Engkau harus memberitahukan siapakah di dunia ini yang tahu, agar saya dapat datang kepadanya.' <br />
<br />
16. Dan inilah jawab dewi itu:<br />
<br />
'Di garis keturunan Raja Okkaka yang agung, seorang putra telah dilahirkan dalam suku Sakya. <br />
<br />
Beliau telah pergi meninggalkan ibu kota Kapilavatthu; <br />
<br />
beliau telah masuk ke dunia sebagai pemimpin dan sinar. <br />
<br />
17. Orang ini, wahai brahmana, memiliki pencerahan sempurna. <br />
<br />
Manusia ini memiliki kesempurnaan total. <br />
<br />
Manusia ini memiliki kekuatan pengetahuan total, mata penglihatan total. <br />
<br />
Beliau telah menemukan akhir total. <br />
<br />
Beliau telah menghilangkan kemelekatan dasar dan telah terbebas. <br />
<br />
18. 'Beliau adalah pencerahan, beliau adalah seorang Buddha, Guru Berkah bagi dunia. <br />
<br />
Beliau memiliki mata kebijaksanaan dan beliau mengajarkan Hal-hal Sebagaimana Adanya. <br />
<br />
Pergilah kepadanya dan ajukan pertanyaan-pertanyaanmu. <br />
<br />
Beliau akan menjelaskan semuanya.' <br />
<br />
19. Ketika Bavari mendengar kata Sambuddha, nama untuk pencerahan sempurna, dia merasakan suka cita yang amat besar. <br />
<br />
Sementara kesedihannya memudar, dia merasakan kegembiraan yang luar biasa menguasai seluruh dirinya. <br />
<br />
20. Kegembiraan dan suka cita itu membuatnya bersemangat dan amat tergetar. <br />
<br />
'Di manakah,' tanyanya kepada dewi itu, 'pembimbing dunia ini tinggal? <br />
<br />
Di desa mana? <br />
<br />
Di kota mana? <br />
<br />
Di negeri mana? <br />
<br />
Marilah kita pergi dan menghormat manusia ini, makhluk tertinggi ini!' <br />
<br />
21. 'Sang Penakluk tinggal di Savatthi di Kosala,' kata dewi itu. <br />
<br />
'Manusia Sakya ini merupakan harta kebijaksanaan dan dunia pengetahuan. <br />
<br />
Beliau tidak terikat dan tidak tercemar. <br />
<br />
Beliau memiliki kekuatan pahlawan, kekuatan banteng. <br />
<br />
Pada Beliaulah engkau harus bertanya mengenai pecahnya kepala.' <br />
<br />
22. Maka brahmana Bavari memanggil murid-muridnya, yang semuanya pandai dalam mantera-mantera Veda. <br />
<br />
'Kemarilah, hai para siswa brahmana,' katanya, 'dan dengarkanlah. <br />
<br />
Ada yang akan kukatakan kepadamu!' <br />
<br />
23. 'Sesuatu telah terjadi, sesuatu yang jarang terjadi di dunia: <br />
<br />
Seorang Sambuddha telah datang. <br />
<br />
Ya, seorang manusia telah dilahirkan di dunia, yang sekarang ini dikenal sebagai Yang Sepenuhnya Tercerahkan! <br />
<br />
Para brahmana, kalian harus pergi ke Savatthi untuk menjumpai makhluk sempurna ini.' <br />
<br />
24. 'Tetapi Guru,' kata para murid, 'bagaimana kami bisa pergi jika kami tidak mengetahui seperti apa pencerahan itu? <br />
<br />
Jelaskanlah bagaimana mengenalinya.' <br />
<br />
25. 'Ajaran-ajaran Kuno,' kata brahmana itu, 'menyebutkan semua 32 tanda kebesaran seorang manusia luar biasa.' <br />
<br />
26. Ketika seseorang dilahirkan dengan tanda-tanda ini di tubuhnya, maka dapat kita katakan bahwa satu dari dua hal ini akan terjadi kepadanya, bahwa dia memiliki dua pilihan yang terbuka baginya, tidak ada yang lain.<br />
<br />
27. Dia dapat memilih kehidupan orang awam, kehidupan perumah-tangga. <br />
<br />
Kemudian dia akan menaklukkan dunia, bukan lewat kekuatan, melainkan lewat keluhuran. <br />
<br />
28. Atau dia dapat memilih untuk meninggalkan rumahnya, menjalani kehidupan sebagai kelana tak-berumah. <br />
<br />
Dan kemudian dia akan menjadi Sambuddha, seorang manusia yang sangat berharga, yang telah sepenuhnya tercerahkan, yang tidak ada bandingnya. <br />
<br />
29. Nah, bila kalian menganggap telah menemukan manusia ini, kalian harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam pikiran kalian tentang umurku, keluargaku, tanda-tanda tubuhku, ritual-ritualku dan murid-muridku -- dan bertanyalah juga tentang pecahnya kepala. <br />
<br />
30. Jika dia adalah Sang Buddha dengan penglihatan menembus yang sempurna, maka dengan bersuara keras dia akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kalian ajukan di dalam pikiranmu.' <br />
<br />
31. - 33. Ketika Bavari berbicara, para murid brahmana itu mendengarkan. <br />
<br />
Ada 16 jumlahnya, yang semuanya adalah guru-guru terkenal dalam bidang mereka sendiri yaitu, Ajita, Tissa-Metteyya, Punnaka, Mettagu, Dhotaka, Upasiva, Nanda, Hemaka, Todeyya, Kappa, Jatukanni yang terpelajar, Badhravudha, Udaya, Posala, Mogharaja yang terpelajar, serta Pingiya guru besar yang bijaksana -- semuanya ada di sana. <br />
<br />
34. Mereka semuanya terkenal sebagai guru dan sebagai manusia yang telah menemukan kenikmatan dalam kehidupan melalui latihan meditasi mereka. <br />
<br />
Dikatakan bahwa mereka adalah manusia yang belum kehilangan aroma<br />
tindakan-tindakan baik mereka sebelumnya. <br />
<br />
35. [Setelah Bavari selesai memberikan instruksinya] mereka dengan khidmat memberikan hormat dan berjalan melewati beliau di sebelah kanannya. Dengan jubah yang terbuat dari kulit binatang dan rambut yang dikepang, mereka berangkat menuju utara.<br />
 <br />
36. - 38. Mereka berjalan melalui tanah suku Alaka, pertama-tama sampai ke Patitthana, kemudian ke Mahussati, Ujjeni dan Gonaddha. <br />
<br />
Terus mereka berjalan menuju Vedisa dan Vanasa, menuju Kosambi dan Saketa, sampai mereka tiba di kota yang paling besar, Savatthi. <br />
<br />
Dari sana mereka berangkat lagi, kali ini menuju tanah Magadha. <br />
<br />
Mereka berjalan melewati Setavya, Kapilavatthu dan kota Kusinara. <br />
<br />
Mereka terus berjalan ke Pava, menuju Bhoganagara (kota kesejahteraan), dan kemudian menuju Vesali di mana mereka tiba di Pasanaka-Cetiya, atau Vihara Batu Karang, yang indah. <br />
<br />
39. Mereka mendaki jalan gunung dengan bersemangat dan bergegas, bagaikan pedagang yang tertarik kekayaan, bagaikan orang haus menuju air sejuk, bagaikan orang tersengat matahari menuju ke tempat teduh. <br />
<br />
40. Dan di sana, dengan Sangha para bhikkhu di sekelilingnya, duduklah Sang Raja, Sang Buddha. <br />
<br />
Beliau sedang menjelaskan Dhamma kepada mereka; <br />
<br />
Sang Raja Hutan sedang mengaum di hutan belantara. <br />
<br />
41. Ajita melihat orang yang telah sepenuhnya tercerahkan itu. <br />
<br />
Bagaikan matahari yang bersinar lembut tanpa menyengat, bagaikan rembulan yang terang dan penuh pada malam purnama.<br />
<br />
42. Dia dapat melihat semua tanda-tanda kebesaran jelas berada di tubuhnya. <br />
<br />
Terperangah dan sangat gembira, dia berdiri dengan penuh hormat di satu sisi dan dengan diam memikirkan pertanyaan pertamanya. <br />
<br />
43. 'Katakanlah,' dia bertanya di dalam pikirannya, 'Berapa usia guruku. <br />
<br />
Katakanlah nama keluarga beliau. <br />
<br />
Katakanlah berapa banyak tanda kebesaran yang beliau miliki, dan seberapa terampilnya beliau di dalam mantra Veda. Juga, berapa banyak siswanya?' <br />
<br />
44. 'Usianya 120 tahun,' kata Guru itu dengan keras. <br />
<br />
'Nama keluarganya adalah Bavari. <br />
<br />
Dia memiliki tiga tanda-tubuh. <br />
<br />
Dia memiliki pengetahuan lengkap dalam tiga Veda, <br />
<br />
45. dan juga Kitab-kitab Komentar, Ritual-ritual dan Tanda-tanda. <br />
<br />
Dia mengajar 500 siswa dan dia telah mencapai tahap tertinggi menurut ajarannya' <br />
<br />
46. 'Lukiskanlah tanda-tanda tubuh Bavari, manusia besar, pemotong nafsu,' kata Ajita dengan diam,' sehingga kami tidak mempunyai ruang untuk segala keraguan.' <br />
<br />
47. 'Inilah ketiga tanda-tanda tubuhnya, anak muda,' kata Sang Buddha. <br />
<br />
'Lidahnya cukup besar untuk menutupi mulutnya. <br />
<br />
Ada seberkas rambut yang tumbuh di antara alisnya. <br />
<br />
Dan kulit depan alat kelaminnya menutupi seluruh zakarnya.' <br />
<br />
48. - 49. Setiap orang dapat mendengar Sang Buddha berbicara kepada orang yang tidak dapat mereka lihat. <br />
<br />
Siapakah yang menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat mereka dengar? <br />
<br />
Apakah dewa? <br />
<br />
Mereka bertanya-tanya di dalam hati. <br />
<br />
Apakah Indra, Brahma, Sakka? <br />
<br />
Siapakah yang diajak bicara Sang Buddha? <br />
<br />
Karena terkejut, mereka menyatukan tangan memberikan hormat.<br />
<br />
50. [Sementara itu, Ajita menanyakan pertanyaan mental yang lain.] <br />
<br />
'Tuan, Bavari menanyakan tentang kepala,' dia berpikir, 'dan bagaimana kepala itu pecah. <br />
<br />
Tolonglah, Guru Agung, jawablah pertanyaan ini juga.' <br />
<br />
51. 'Kepala,' kata Sang Buddha, 'adalah Tidak-Memahami. <br />
<br />
Kepala itu pecah berkeping-keping dan dihancurkan oleh Pemahaman, dengan bala kekuatan pendukungnya, yaitu: <br />
<br />
keyakinan, perhatian-kewaspadaan, meditasi, dan tekad--energi. <br />
<br />
Inilah kekuatan-kekuatan yang memecahkan kepala.' <br />
<br />
52. Dengan getaran kegembiraan luar biasa di setiap pori tubuhnya, siswa brahmana muda itu membuka baju kulit dari bahunya dan membungkuk di kaki Sang Buddha. <br />
<br />
53. 'Yang Mulia,' dia berkata dengan kepala tertunduk, 'Sang Raja, Yang Melihat, brahmana Bavari dan semua pengikutnya dipenuhi dengan suka cita dan kegembiraan! <br />
<br />
Kami datang untuk memberikan hormat dan puji-pujian di kaki Tuan.' <br />
<br />
54. 'Semoga brahmana Bavari dan semua pengikutnya berbahagia,' kata Sang Buddha. <br />
<br />
'Semoga kamu pun berbahagia, hai orang muda. <br />
<br />
Dan semoga kamu panjang umur!' <br />
<br />
55. Bagi Bavari, bagimu dan bagi semua kelompokmu ada banyak keraguan dan berbagai kebingungan. <br />
<br />
Engkau sekarang memiliki kesempatan untuk menanyakannya. <br />
<br />
Tanyakanlah sekarang apa pun yang ingin kau ketahui. <br />
<br />
56. Manusia yang telah mencapai Pencerahan Sempurna itu mengizinkan Ajita untuk bertanya. <br />
<br />
Maka, dengan penuh hormat murid Brahmana itu duduk, melipat tangan untuk menunjukkan rasa hormat, dan mengajukan pertanyaan pertamanya kepada Sang Tathagata.</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/"><![CDATA[Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></category>
			<dc:creator>bawel</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8820-khuddaka-nikaya-sutta-nipata-parayana-vagga.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Atthaka Vagga</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8819-khuddaka-nikaya-sutta-nipata-atthaka-vagga.html</link>
			<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 12:41:12 GMT</pubDate>
			<description>*KAMA SUTTA 
* 
*Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Atthaka Vagga, Bab 1 
* 
 
Kenikmatan indera yang harus dihindari 
 
1. Jika manusia menginginkan kenikmatan-kenikmatan indera, dan kemudian berhasil mendapatkannya, pastilah dia akan merasa terpuaskan karena telah memperoleh apa yang diinginkan oleh...</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font size="5">KAMA SUTTA</font></div></b><br />
<b><div align="center"><font size="3">Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Atthaka Vagga, Bab 1</font></div></b><br />
<br />
Kenikmatan indera yang harus dihindari<br />
<br />
1. Jika manusia menginginkan kenikmatan-kenikmatan indera, dan kemudian berhasil mendapatkannya, pastilah dia akan merasa terpuaskan karena telah memperoleh apa yang diinginkan oleh makhluk yang tidak kekal. <br />
<br />
2. Tetapi jika manusia yang menginginkan dan mengharapkan kenikmatan-kenikmatan indera itu tidak memperolehnya, maka ia akan menderita bagaikan tertusuk anak panah. <br />
<br />
3. Bila manusia menghindari kenikmatan-kenikmatan indera, sebagaimana dia tidak akan menginjak kepala ular, maka manusia seperti itu akan dapat menaklukkan nafsu ini karena kewaspadaannya. <br />
<br />
4. - 5. Manusia yang menginginkan berbagai obyek indera, seperti misalnya:, rumah, kebun, emas, uang, kuda, pelayan, handai taulan dll, maka emosi yang kuat akan menguasainya, bahaya akan menghimpitnya, dan penderitaan akan mengikutinya bagaikan air yang masuk ke dalam kapal yang karam. <br />
<br />
6. Oleh karenanya, semoga manusia selalu penuh kewaspadaan dan menghindari kenikmatan-kenikmatan indera. <br />
<br />
Setelah meninggalkannya, hendaknya ia menyeberangi banjir (kekotoran batin) dan --bagaikan menyelamatkan diri dari kapal yang akan karam-- menyeberang ke pantai sebelah sana [Nibbana].</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/"><![CDATA[Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></category>
			<dc:creator>bawel</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8819-khuddaka-nikaya-sutta-nipata-atthaka-vagga.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Maha Vagga</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8818-khuddaka-nikaya-sutta-nipata-maha-vagga.html</link>
			<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 12:15:21 GMT</pubDate>
			<description>*PABBAJJA SUTTA 
* 
*Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Maha Vagga, Bab 1 
* 
 
Tentang Sang Buddha dan pertemuan-Nya dengan Raja Bimbisara 
 
1. Akan kuberitahukan padamu tentang perbuatan meninggalkan keduniawian, bagaimana orang yang memiliki pandangan terang meninggalkan keduniawian dan bagaimana...</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font size="5">PABBAJJA SUTTA</font></div></b><br />
<b><div align="center"><font size="3">Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Maha Vagga, Bab 1</font></div></b><br />
<br />
Tentang Sang Buddha dan pertemuan-Nya dengan Raja Bimbisara<br />
<br />
1. Akan kuberitahukan padamu tentang perbuatan meninggalkan keduniawian, bagaimana orang yang memiliki pandangan terang meninggalkan keduniawian dan bagaimana dia mencari-cari sampai akhirnya dia memilih kehidupan tak-berumah. <br />
<br />
2. 'Di dalam rumah-tangga', pikir orang itu, 'kehidupan mencekik dan melumpuhkan. <br />
<br />
Ketidakmurnian ada di mana-mana seperti debu.' <br />
<br />
'Bagi kelana', pikir orang itu, 'terdapat ruang --dia hidup di tempat terbuka, di udara terbuka.' <br />
<br />
Dia melihat hal ini demikian dan pergi. <br />
<br />
3. Sekarang dia seorang kelana. Maka dia bekerja untuk memurnikan kehidupannya. <br />
<br />
Dalam segala yang dilakukan dan dalam segala yang dikatakan, dia menghindari hal-hal yang jelek dan tidak bermanfaat. <br />
<br />
4. Dan sementara itu, Sang Buddha yang penuh dengan tanda-tanda keagungan, yang sedang berjalan mencari makan, tiba di Rajagaha, di Magadha. <br />
<br />
5. Raja Bimbimsara sedang berdiri di istananya. <br />
<br />
Ketika melihat manusia yang memiliki tanda-tanda keagungan itu, dia memanggil pengawalnya. <br />
<br />
6. - 7. 'Perhatikan baik-baik, wahai sahabat, Beliau tampan, rupawan dan memiliki kulit yang indah. <br />
<br />
Gaya berjalannya sedap dipandang mata. <br />
<br />
Pandangannya hanya tertuju beberapa langkah di depannya. <br />
<br />
Dengan mata tertunduk dan penuh kewaspadaan, tampaknya beliau tidak berasal dari keluarga rendah. <br />
<br />
Kirimkan pesuruh istana untuk menanyakan ke mana Beliau akan pergi.' <br />
<br />
8. Maka dikirimlah beberapa orang untuk mengikuti Beliau sambil bertanya-tanya, 'Kemana bhikkhu ini pergi? <br />
<br />
Akan tinggal di manakah Beliau?' <br />
<br />
9. Sambil berjalan terus dari rumah ke rumah, kelana itu mengamati pintu indera, dengan penuh pengendalian diri, waspada dan penuh perhatian. <br />
<br />
Tak lama kemudian mangkuk itu pun penuh. <br />
<br />
10. Setelah mendapat makanan, Sang Buddha berangkat [menuju bukit] dan mengambil arah ke gunung Pandava. <br />
<br />
Maka para pesuruh istana pun tahu bahwa Beliau akan tinggal di sana. <br />
<br />
11. Melihat beliau akan tinggal di sana, beberapa dari pesuruh istana duduk mengamati, sedangkan seorang kembali ke istana untuk memberitahu raja. <br />
<br />
12. 'Tuanku', katanya, 'bhikkhu itu menetap di sisi timur gunung Pandava. <br />
<br />
Beliau duduk di guanya bagaikan singa atau harimau atau banteng!' <br />
<br />
13. Mendengar kata-kata pesuruh itu, raja yang gagah ini menyuruh pengawalnya menyiapkan kereta khususnya, dan kemudian bergegas berangkat ke gunung Pandava. <br />
<br />
14. Raja pun pergi sejauh yang dapat dicapai dengan keretanya, dan kemudian berjalan kaki mendaki gunung itu menjumpai Sang Buddha. <br />
<br />
15. Dia duduk di sebelah Sang Buddha, bertukar salam dan penghormatan, dan kemudian berkata demikian: <br />
<br />
16. 'Tuan, Engkau masih muda, pemuda di puncak kehidupanmu. <br />
<br />
Engkau tampan dan rupawan. <br />
<br />
Tampaknya engkau seorang putra mahkota dari keluarga bangsawan. <br />
<br />
17. Engkau dapat diiringi bala tentara yang hebat dan dihormati oleh kelompok bangsawan. <br />
<br />
Nikmatilah kekayaan yang dapat kuberikan padamu. <br />
<br />
Tetapi, dapatkah engkau beritahukan dari keluarga manakah asalmu?' <br />
<br />
18. 'Wahai Raja,' jawab bhikkhu itu, 'tidak jauh dari Himavant, tanah yang bersalju, ada suatu negeri yang disebut Kosala. Penduduk Kosala kaya dan mereka kuat. <br />
<br />
19. Mereka berasal dari suku matahari dan nama keluarga mereka adalah Sakya. <br />
<br />
Merekalah yang kutinggalkan ketika aku berjalan menjauhi keinginan dan kerinduan akan kesenangan. <br />
<br />
20. Telah kulihat penderitaan akibat kesenangan. <br />
<br />
Telah kulihat kemantapan yang ada bila meninggalkan penderitaan-penderitaan itu, <br />
<br />
<div align="center">Jadi sekarang aku akan pergi,<br />
Aku akan menuju ke medan perjuangan,<br />
Inilah kebahagiaan pikiranku;<br />
Di sinilah pikiranku mendapat kebahagiaan.'<br />
</div></div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/"><![CDATA[Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></category>
			<dc:creator>bawel</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8818-khuddaka-nikaya-sutta-nipata-maha-vagga.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>dhammika sutta</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8803-dhammika-sutta.html</link>
			<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 13:13:24 GMT</pubDate>
			<description>*DHAMMIKA SUTTA 
* 
*Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 14 
* 
 
Ringkasan kehidupan bhikkhu dan umat awam 
 
Demikian yang telah saya dengar:  
 
Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di dekat Savatthi, di hutan Jeta, di vihara Anathapindika.</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font size="5">DHAMMIKA SUTTA</font></div></b><br />
<b><div align="center"><font size="3">Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 14</font></div></b><br />
<br />
Ringkasan kehidupan bhikkhu dan umat awam<br />
<br />
Demikian yang telah saya dengar: <br />
<br />
Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di dekat Savatthi, di hutan Jeta, di vihara Anathapindika. <br />
<br />
Seorang umat yang bernama Dhammika bersama 500 temannya mengunjungi Beliau. <br />
<br />
Setelah memberikan hormat, mereka duduk dan Dhamika berkata kepada Sang Buddha:<br />
<br />
1. O, Gotama yang memiliki kebijaksanaan agung, saya bertanya: <br />
<br />
Bagaimanakah caranya agar siswa yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga, atau pengikut awam yang baik, dapat dikatakan bertindak baik? <br />
<br />
2. Engkaulah pengenal jalan dunia termasuk alam para dewa serta jalan di luar itu [yaitu Nibbana]. <br />
<br />
Tidak ada seorang pun yang sebanding dengan Engkau yang telah melihat makna segala sesuatu sedalam-dalamnya. <br />
<br />
Orang-orang mengatakan bahwa Engkau benar-benar Yang Telah Tercerahkan dan sungguh teramat luar biasa. <br />
<br />
3. Karena telah mewujudkan segala kebijaksanaan, dan penuh cinta kasih kepada semua makhluk yang memiliki kesadaran, Engkau babarkan Dhamma dengan jelas. <br />
<br />
Engkau adalah penghancur kerudung kebodohan batin. <br />
<br />
Engkaulah pemilik mata yang Maha Melihat. <br />
<br />
Tanpa noda, Engkau menerangi seluruh dunia. <br />
<br />
4. Raja para gajah, Eravana, ketika mendengar Engkau adalah Sang Penakluk, datang mendekat kepada-Mu. <br />
<br />
Setelah mendengarkan, dia bersorak gembira dan pergi sambil mengatakan 'Luar biasa'. <br />
<br />
5. Sang Raja, Vessavana Kuvera, mengunjungi Engkau untuk mengajukan pertanyaan tentang Dhamma. <br />
<br />
Ketika ditanya, o, Orang Bijaksana, Engkau berbicara kepadanya. <br />
<br />
Begitu juga, setelah mendengarkan, dia merasa sangat gembira. <br />
<br />
6. Dari mereka yang saling bertengkar karena berpandangan menyimpang, baik dari kelompok orang-orang yang memiliki logika menyesatkan (Ajivika) maupun para pertapa tanpa ikatan (Nigantha), tak satu pun yang dapat mengalahkan-Mu dalam kebijaksanaan, seperti halnya orang yang tak bergerak tidak dapat menyusul orang yang berjalan cepat. <br />
<br />
7. Para brahmana yang saling berselisih paham, yang sudah berpengalaman, siapa pun mereka, serta orang-orang yang dianggap suka berselisih, semuanya mengharapkan penjelasan dari-Mu. <br />
<br />
8. Sesungguhnyalah, kami semua merindukan Dhamma yang lembut dan menyenangkan, yang telah dikhotbahkan dengan baik oleh-Mu, o, Yang Terberkahi. <br />
<br />
O, Buddha nan agung, maukah Engkau berbicara kepada kami jika dimohon? <br />
<br />
9. Hendaknya semua bhikkhu serta umat awam yang duduk di sini mendengarkan Dhamma yang telah diwujudkan oleh Yang Tanpa Noda, sebagaimana para dewa mendengarkan kata-kata indah yang diucapkan oleh Indra. <br />
 <br />
Sang Buddha: <br />
<br />
10. O, para bhikkhu, dengarkanlah. Aku akan membabarkan Dhamma murni kepadamu. <br />
<br />
Camkanlah di benakmu! <br />
<br />
Hendaknya orang bijaksana yang tekun berlatih demi kemajuannya sendiri berperilaku sesuai dengan orang yang telah meninggalkan keduniawian. <br />
<br />
11. Bhikkhu itu tidak boleh berkelana pada saat yang salah. <br />
<br />
Tetapi dia harus pergi ke desa untuk sedekah makanan pada saat yang benar. <br />
<br />
Godaan-godaan akan melekat pada orang yang berkelana pada saat yang tidak benar. <br />
<br />
Oleh karenanya, orang-orang bijaksana tidak akan berkelana pada saat yang salah.<br />
<br />
12. Bentuk, suara, citarasa, bau dan kontak amatlah meracuni orang. <br />
<br />
Dengan menyingkirkan nafsu terhadap hal-hal ini, dia harus pergi pada saat yang benar untuk makan pagi. <br />
<br />
13. Setelah memperoleh makanan dan kembali sendiri, dia harus duduk sendiri. <br />
<br />
Dengan merenung ke dalam diri, dia harus tenang dan menghindari gangguan. <br />
<br />
14. Jika dia berbicara dengan umat atau siapa pun juga, atau dengan bhikkhu lain, dia harus membicarakan Dhamma yang indah. <br />
<br />
Dia tidak boleh memfitnah atau menjelekkan orang lain. <br />
<br />
15. Beberapa orang mengajukan bantahan kontroversial. <br />
<br />
Kita tidak memuji orang-orang yang memiliki pemahaman rendah. <br />
<br />
Godaan dari sana sini memikat mereka, karena pikiran mereka menjadi sangat terlibat di dalam hal itu. <br />
<br />
16. Pengikut Yang Maha Bijaksana, ketika mendengarkan Ajaran Beliau, harus menggunakan makanan, tempat tinggal, tempat tidur, tempat duduk, air, serta harus membersihkan jubah dengan penuh kewaspadaan. <br />
<br />
17. Maka, dengan tidak melekati hal-hal ini, bhikkhu itu harus seperti tetes air di atas daun teratai <br />
<br />
18. Sekarang akan kuberitahukan peraturan perilaku untuk perumah tangga. <br />
<br />
Jika menjalaninya, dia akan menjadi siswa yang baik. <br />
<br />
Jika ada kewajiban kebhikkhuan yang harus dijalankan, kewajiban itu tidak akan dapat dipenuhi oleh dia yang memiliki kekayaan rumah tangga. <br />
<br />
19. Hendaknya dia tidak menghancurkan kehidupan, jangan pula dia menyebabkan orang lain menghancurkan kehidupan ataupun menyetujui pembunuhan yang dilakukan orang lain. <br />
<br />
Hendaknya dia menjauhkan diri dari perbuatan menindas semua makhluk hidup di dunia ini, baik yang kuat maupun lemah. <br />
<br />
20. Kemudian, karena mengetahui bahwa itu milik orang lain, maka mencuri apa pun dari mana pun harus dihindari. <br />
<br />
Janganlah dia menyebabkan pencurian, jangan juga menyetujui orang lain mencuri. <br />
<br />
Semua pencurian harus dihindari. <br />
<br />
21. Orang bijaksana harus menghindari kehidupan tidak selibat, seolah-olah kehidupan semacam itu adalah lubang bara api yang menganga. <br />
<br />
Jika dia tidak mampu menjalani kehidupan selibat total, janganlah dia berselingkuh dengan istri orang lain. <br />
<br />
22. Apakah dia di tengah pertemuan atau di tempat umum, janganlah dia menceritakan kebohongan kepada yang lain. <br />
<br />
Janganlah dia menyebabkan orang lain berbohong maupun menyetujui orang lain berbohong. <br />
<br />
23. Perumah tangga yang bergembira dalam mengendalikan diri, karena mengetahui bahwa meneguk minuman keras atau mengkonsumsi segala yang bersifat meracuni adalah merugikan, tidak akan memanjakan diri dalam minuman keras dll. <br />
<br />
Tidak juga dia menyebabkan orang lain meminumnya atau menyetujui orang lain melakukan itu. <br />
<br />
24. Orang-orang dungu melakukan tindakan-tindakan jahat karena mabuk. <br />
<br />
Dia juga menyebabkan orang lain --yang lengah-- ikut bertindak seperti itu. <br />
<br />
Orang harus menghindari lingkup perbuatan jahat ini, kegilaan ini, kebodohan batin ini, yang merupakan kesenangan-kesenangan orang dungu.<br />
<br />
25. (i) Manusia seharusnya tidak menghancurkan kehidupan; <br />
(ii) seharusnya tidak mengambil apa yang tidak diberikan; <br />
(iii) seharusnya tidak berbohong; <br />
(iv) seharusnya tidak menjadi peminum; <br />
(v) seharusnya menjauhi segala ketidakmurnian; <br />
(vi) seharusnya tidak makan di malam hari pada saat yang tidak tepat. <br />
<br />
26. (vii) Manusia seharusnya tidak memakai hiasan, tidak juga menggunakan wangi-wangian; <br />
(viii) seharusnya berbaring di tikar yang dibentangkan di atas tanah. <br />
<br />
Inilah yang disebut Menjalani Delapan Sila yang Agung, yang dijelaskan oleh Buddha yang datang untuk mengakhiri kesedihan. <br />
<br />
27. Dengan pikiran yang bahagia, orang harus menjalani keluhuran Delapan Sila pada hari ke-14, ke-15, dan ke-8 setiap masa dua minggu perhitungan bulan [dan selama Patihariyapakkha --tiga bulan musim hujan bersama dengan bulan-bulan sebelumnya dan sesudah musim ini, jadi seluruhnya lima bulan]. <br />
<br />
28. Kemudian pada pagi berikutnya, orang bijaksana yang telah menjalankan Delapan Sila ini dengan gembira harus menyediakan makanan dan minuman bagi Bhikkhu Sangha dengan cara yang sesuai. <br />
<br />
29. Hendaknya dia menyokong ayah dan ibunya dengan sepantasnya, serta memiliki pekerjaan yang tak tercela. <br />
<br />
Perumah tangga yang menjalankan kewajiban-kewajiban ini dengan rajin, akan terlahir di alam makhluk 'bersinar'.</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/"><![CDATA[Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></category>
			<dc:creator>bawel</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8803-dhammika-sutta.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>sammaparibbajaniya sutta</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8802-sammaparibbajaniya-sutta.html</link>
			<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 13:11:36 GMT</pubDate>
			<description><![CDATA[*SAMMAPARIBBAJANIYA SUTTA 
* 
*Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 13 
* 
 
Penanya:  
  
1. Saya bertanya kepada pertapa yang memiliki kebijaksanaan agung, yang telah menyeberangi [banjir keberadaan] dan telah sampai di pantai seberang, yang telah mencapai Nibbana dan telah mantap:  
...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font size="5">SAMMAPARIBBAJANIYA SUTTA</font></div></b><br />
<b><div align="center"><font size="3">Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 13</font></div></b><br />
<br />
Penanya: <br />
 <br />
1. Saya bertanya kepada pertapa yang memiliki kebijaksanaan agung, yang telah menyeberangi [banjir keberadaan] dan telah sampai di pantai seberang, yang telah mencapai Nibbana dan telah mantap: <br />
<br />
Setelah meninggalkan kehidupan berumah tangga dan setelah mengalahkan nafsu-nafsu indera, bagaimanakah seharusnya seorang bhikkhu menjalani kehidupan tak-berumah secara benar?<br />
 <br />
Sang Buddha: <br />
 <br />
2. Di dalam dirinya telah musnah kepercayaan pada pertanda --seperti misalnya bintang jatuh, impian dan tanda-tanda lain. <br />
<br />
Bhikkhu yang telah menghindari akibat-akibat yang dihasilkan akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar. <br />
<br />
3. Hendaklah bhikkhu itu meninggalkan nafsu terhadap kenikmatan indera, baik yang duniawi maupun surgawi. <br />
<br />
Dan setelah melampaui eksistensi dan memahami Ajaran, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.<br />
<br />
4. Hendaklah bhikkhu itu menghindari fitnah dan meninggalkan kemarahan dan keserakahan. <br />
<br />
Dan setelah terbebas dari ketertarikan dan penolakan, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.<br />
<br />
5. Setelah meninggalkan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, tidak melekati apa pun juga, serta tidak bergantung pada apa pun juga, terbebas dari belenggu-belenggu, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.<br />
<br />
6. Tidak melihat nilai apa pun pada harta materi, dengan menghilangkan nafsu untuk melekati obyek, dan menjadi orang yang tidak melekat dan tidak dipengaruhi yang lain, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.<br />
<br />
7. Menjadi orang yang tidak memusuhi siapa pun, yang baik lewat kata-kata, pikiran maupun perbuatan, yang memahami Ajaran dengan benar, yang bercita-cita mencapai keadaan Nibbana, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.<br />
<br />
8. Bhikkhu yang hatinya tidak berbunga-bunga karena berpikir: <br />
<br />
'orang-orang menghormatiku', dan tidak memiliki niat jahat jika dicaci maki; <br />
<br />
yang tidak merasa amat gembira bila menerima makanan dari orang lain, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.<br />
<br />
9. Bhikkhu yang setelah meninggalkan nafsu dan dumadi, menjauhkan diri dari perbuatan yang merugikan dan menjegal orang lain, serta yang telah mengatasi keraguan dan mencabut anak panah [nafsu], dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.<br />
<br />
10. Bhikkhu yang tahu apa yang cocok bagi dirinya, dan tidak menyakiti siapa pun di dunia ini; <br />
<br />
karena menyadari Ajaran sebagaimana adanya, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar. <br />
<br />
11. Orang yang tidak lagi memiliki kecenderungan jahat laten apa pun di dalam dirinya, dan semua akar kejahatan telah dihancurkan; <br />
<br />
dengan mengatasi nafsu dan setelah membebaskan dirinya dari nafsu-nafsu itu, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.<br />
<br />
12. Orang yang telah menghancurkan kebejatan moralnya, yang telah meninggalkan egoisme, yang telah sepenuhnya lolos dari jalur nafsu yang kuat, yang terkendali, terbebas dan mantap, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.<br />
<br />
13. Orang yang percaya diri, berpengetahuan, dan melihat Sang Jalan ke Nibbana, orang bijaksana yang tidak memihak sekte-sekte yang berseteru; yang telah menghilangkan keserakahan, kemarahan dan niat jahat, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.<br />
<br />
14. Dia yang telah menaklukkan kekotoran batin, yang telah mencabik-cabik kerudung kejahatan, yang amat berdisiplin dalam Ajaran, yang telah mencapai pantai seberang [Nibbana], yang kokoh dan terampil dalam pengetahuan tentang hancurnya kecenderungan yang menghasilkan kamma, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.<br />
<br />
15. Orang yang telah meninggalkan pikiran-pikiran yang egois berkenaan dengan masa lampau dan masa depan, yang memiliki kebijaksanaan yang amat jernih, yang terbebas dari semua obyek sensual, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.<br />
<br />
16. Setelah direalisasikan Kebenaran, memahami Ajaran dan melihat dengan jelas hancurnya kebejatan moral, dengan hilangnya semua kemelekatan, dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.  <br />
 <br />
Penanya: <br />
 <br />
17. Yang Mulia, memang demikianlah adanya. <br />
<br />
Bhikkhu yang hidup seperti itu, yang terkendali dan telah mengatasi semua belenggu, akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/"><![CDATA[Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></category>
			<dc:creator>bawel</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8802-sammaparibbajaniya-sutta.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>vangisa sutta</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8801-vangisa-sutta.html</link>
			<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 13:09:54 GMT</pubDate>
			<description>*VANGISA SUTTA 
* 
*Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 12 
* 
 
Vangisa mendapat kepastian bahwa gurunya telah mencapai Nibbana 
 
Suatu ketika Sang Buddha berdiam di dekat Alavi di vihara Aggalava.  
 
Pada saat itu, Yang Mulia Nigrodhakappa, guru pembimbing Yang Mulia Vangisa, belum...</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font size="5">VANGISA SUTTA</font></div></b><br />
<b><div align="center"><font size="3">Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 12</font></div></b><br />
<br />
Vangisa mendapat kepastian bahwa gurunya telah mencapai Nibbana<br />
<br />
Suatu ketika Sang Buddha berdiam di dekat Alavi di vihara Aggalava. <br />
<br />
Pada saat itu, Yang Mulia Nigrodhakappa, guru pembimbing Yang Mulia Vangisa, belum lama wafat di sana. <br />
<br />
Kemudian, suatu buah-pikir muncul di benak YM Vangisa (yang hidup menyendiri) dalam meditasinya: <br />
<br />
apakah guru pembimbingnya telah mencapai Nibbana atau belum. <br />
<br />
Maka di petang harinya, YM Vangisa [bersama teman-temannya] menghadap Sang Buddha dan dengan hormat menanyakan hal ini:<br />
<br />
1. Kami bertanya kepada Sang Buddha yang memiliki kebijaksanaan sempurna, yang bisa menghalau keraguan di dunia ini --tentang bhikkhu terkenal, yang memiliki keagungan dan pikiran yang damai, yang telah wafat di Aggalava. <br />
<br />
2. O, Buddha, Bhante-lah yang memberikan nama Nigrodhakappa kepada beliau. <br />
<br />
Tanpa kenal lelah, beliau berkelana ke mana-mana dengan rasa hormat kepada Bhante. <br />
<br />
Beliau berjuang untuk mencapai pembebasan, kokoh dalam pemahaman Dhamma. <br />
<br />
3. O, Buddha, Yang Maha Melihat, kami semua ingin mengetahui tentang siswa itu. <br />
<br />
Kami siap mendengarkan. Bhante adalah Guru kami yang tiada bandingnya. <br />
<br />
4. Hilangkanlah keraguan kami, jelaskanlah tentang hal ini. <br />
<br />
O, Buddha yang memiliki kebijaksanaan luar biasa, beritahukanlah apakah beliau telah mencapai Nibbana. <br />
<br />
O, Buddha Yang Maha Melihat, berbicaralah di tengah-tengah kami sebagai raja para dewa, Indra dengan seribu mata. <br />
<br />
5. Keruwetan apa pun yang ada di dunia, yang menyebabkan kegelapan batin, yang berhubungan dengan ketidaktahuan, yang menyebabkan keraguan, semua ini lepas terurai ketika orang menghadap Sang Tathagata. <br />
<br />
Sesungguhnyalah Beliau memiliki mata teragung di antara semua manusia. <br />
<br />
6. Jika orang seperti Bhante tidak menghalau nafsu bagaikan angin menghalau awan, seluruh dunia akan tertutup oleh kegelapan; <br />
<br />
bahkan orang yang agung pun tidak akan bersinar. <br />
<br />
7. Orang bijaksana adalah pembawa terang. <br />
<br />
Saya yakin bahwa Bhante adalah orang bijaksana. <br />
<br />
Kami datang pada Yang Memiliki Pandangan Terang dan Pengetahuan. <br />
<br />
Kami mohon Bhante menjelaskan kepada kami semua di sini, di manakah Yang Mulia Nigrodhakappa kini? <br />
<br />
8. O, Yang Maha Mulia, alunkanlah segera suara-Mu yang indah bagaikan angsa menjulurkan lehernya, mengalunkan suaranya yang penuh dan teratur baik. <br />
<br />
Kami semua akan mendengarkan dengan penuh perhatian. <br />
<br />
9. Dengan tulus kami memohon kepada Yang Maha Murni, yang telah sepenuhnya mengalahkan kelahiran dan kematian, untuk membabarkan Dhamma, karena ini bukanlah hanya sekadar pemuasan nafsu makhluk duniawi. <br />
<br />
Biarlah Sang Tathagata bertindak dengan kebijaksanaan. <br />
<br />
10. Penjelasan dari Yang Memiliki Kebijaksanaan Tanpa Cela selalu dapat diterima. <br />
<br />
Kami telah siap menerimanya. O, pertapa agung, jangan biarkan kami berada dalam kegelapan batin. <br />
<br />
11. Bhante telah sepenuhnya mengetahui ajaran orang-orang suci. <br />
<br />
O, Yang Penuh Energi, jangan biarkan kami berada di dalam kebodohan. <br />
<br />
Bagaikan orang yang menderita kepanasan di musim panas merindukan air, kami merindukan kata-kataMu. <br />
<br />
Curahkanlah kata-kata kebijaksanaan-Mu. <br />
<br />
12. Jika Yang Mulia Nigrodhakappa telah menjalani kehidupan suci, apakah ini memberikan buah? <br />
<br />
Apakah beliau mencapai Nibbana dengan sisa? <br />
<br />
Bagaimana beliau terbebaskan, itulah yang ingin kami dengar.<br />
<br />
13. Sang Buddha: <br />
<br />
Dia telah memutus nafsu terhadap materi dan batin di dunia ini, yang merupakan arus Mara yang mengalir lama. <br />
<br />
Dia telah sepenuhnya menyeberangi semua kelahiran dan kematian. <br />
<br />
Demikian dikatakan Yang Telah Tercerahkan, pemimpin dari lima disiplin pertama.<br />
<br />
14. Engkau adalah yang termulia di antara pertapa agung. <br />
<br />
Mendengar kata-kata-Mu saya merasa gembira. <br />
<br />
Pencarianku tidaklah sia-sia. <br />
<br />
Sang Buddha tidak membodohi saya.<br />
<br />
15. Murid Bhante tersebut memang telah bertindak seperti yang dikatakan Sang Buddha. Beliau telah menghancur-leburkan bentangan dan jaring kuat Mara yang penuh tipu muslihat. <br />
<br />
16. O, Yang Tercerahkan, Yang Mulia Nigrodhakappa telah melihat sumber kemelekatan dan pasti sudah menyeberangi alam kematian yang amat sulit untuk diseberangi.</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/"><![CDATA[Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></category>
			<dc:creator>bawel</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8801-vangisa-sutta.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>rahula sutta</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8800-rahula-sutta.html</link>
			<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 13:06:56 GMT</pubDate>
			<description>*RAHULA SUTTA 
* 
*Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 11 
* 
 
Sang Buddha merekomendasikan kehidupan pertapa kepada putranya, Rahula 
 
Sang Buddha: 
 
1. Dengan selalu hidup bersama orang bijaksana, apakah kau tidak menghinanya?</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font size="5">RAHULA SUTTA</font></div></b><br />
<b><div align="center"><font size="3">Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 11</font></div></b><br />
<br />
Sang Buddha merekomendasikan kehidupan pertapa kepada putranya, Rahula<br />
<br />
Sang Buddha:<br />
<br />
1. Dengan selalu hidup bersama orang bijaksana, apakah kau tidak menghinanya? <br />
<br />
Apakah pemegang obor kemanusiaan kau hormati? <br />
  <br />
Rahula:<br />
<br />
2. Saya tidak menghina orang bijaksana dengan selalu hidup bersamanya. <br />
<br />
Pemegang obor kemanusiaan selalu saya hormati. <br />
  <br />
Sang Buddha:<br />
<br />
3. Dengan meninggalkan lima kesenangan indera yang menggoda dan menyenangkan bagi pikiran, dengan meninggalkan kehidupan berumah tangga karena keyakinan, jadilah manusia yang mengakhiri penderitaan. <br />
<br />
4. Bergaullah dengan kawan-kawan yang baik; <br />
<br />
tinggallah di tempat terpencil, yang jauh dan sunyi. <br />
<br />
Makanlah secukupnya. <br />
<br />
5. Jangan menginginkan hal-hal ini: <br />
<br />
jubah, makanan, obat-obatan dan tempat tinggal. <br />
<br />
Janganlah menjadi manusia yang kembali ke dunia. <br />
<br />
6. Kendalikanlah diri sesuai dengan Kode disiplin. <br />
<br />
Kendalikanlah kelima indera. <br />
<br />
Selalulah waspada terhadap tubuh dan teruslah mengembangkan keadaan tanpa-nafsu. <br />
<br />
7. Hindarilah hal-hal yang berhubungan dengan nafsu. <br />
<br />
Kembangkanlah pikiran yang terkonsentrasi dan yang tidak tergoda oleh ketidakmurnian tubuh. <br />
<br />
8. Bermeditasilah dengan obyek Tanpa-tanda [Nibbana]. <br />
<br />
Tinggalkanlah kecenderungan egoisme. <br />
<br />
Dengan mengakhiri egoisme semacam itu, engkau akan hidup dengan tenang. <br />
 <br />
Demikian Sang Buddha senantiasa menasehati Bhikkhu Rahula lewat syair-syair itu.</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/"><![CDATA[Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></category>
			<dc:creator>bawel</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8800-rahula-sutta.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>utthana sutta</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8799-utthana-sutta.html</link>
			<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 13:05:32 GMT</pubDate>
			<description>*UTTHANA SUTTA 
* 
*Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 10 
* 
 
Desakan yang kuat untuk mengerahkan usaha 
 
1.  
Bangkitlah! Duduklah tegak-tegak! 
Apa untungnya tidur?</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font size="5">UTTHANA SUTTA</font></div></b><br />
<b><div align="center"><font size="3">Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 10</font></div></b><br />
<br />
Desakan yang kuat untuk mengerahkan usaha<br />
<br />
1. <br />
<div align="center">Bangkitlah! Duduklah tegak-tegak!<br />
Apa untungnya tidur?<br />
Tidur macam apa yang ada bagi yang terserang penyakit,<br />
Yang ditembus oleh anak panah penderitaan?</div><br />
2. <br />
<div align="center">Bangkitlah! Duduklah tegak-tegak!<br />
Berlatihlah dengan mantap untuk mencapai Kedamaian.<br />
Jangan biarkan Raja Kejahatan (Mara) membodohimu dan<br />
merengkuhmu ke dalam kekuasaannya,<br />
Karena mengetahui engkau lengah.</div><br />
3. <br />
<div align="center">Atasilah nafsu keinginan ini<br />
Di mana para dewa dan manusia tetap terikat<br />
dan mencari kesenangan darinya.<br />
Jangan biarkan saat kesempatan emas ini berlalu.<br />
Mereka yang membiarkan kesempatan emas ini berlalu<br />
Akan meratap ketika masuk ke dalam kesengsaraan.<br />
</div><br />
4. <br />
<div align="center">Kelengahan adalah suatu noda<br />
Dan demikianlah noda yang menurun<br />
Terus menerus, dari satu kelengahan ke kelengahan lain,<br />
Dengan ketekunan dan pengetahuan<br />
Hendaklah orang mencabut anak panah [nafsu-nafsu].</div></div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/"><![CDATA[Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></category>
			<dc:creator>bawel</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8799-utthana-sutta.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>kimsila sutta</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8798-kimsila-sutta.html</link>
			<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 13:03:49 GMT</pubDate>
			<description>*KIMSILA SUTTA 
* 
*Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 9 
* 
 
Sariputta:  
  
1. Orang dengan watak seperti apa, perilaku seperti apa, tindakan seperti apa, yang akan menjadi mantap sehingga mencapai kesejahteraan tertinggi? 
   
Sang Buddha:</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font size="5">KIMSILA SUTTA</font></div></b><br />
<b><div align="center"><font size="3">Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 9</font></div></b><br />
<br />
Sariputta: <br />
 <br />
1. Orang dengan watak seperti apa, perilaku seperti apa, tindakan seperti apa, yang akan menjadi mantap sehingga mencapai kesejahteraan tertinggi?<br />
  <br />
Sang Buddha: <br />
 <br />
2. Dia adalah orang yang menghormat yang lebih tua; yang tidak iri hati, yang tahu saat yang tepat untuk menjumpai gurunya, yang tahu saat yang tepat untuk mendengarkan dengan penuh perhatian khotbah-khotbah yang dibabarkan dengan baik oleh gurunya itu.<br />
<br />
3. Dia adalah orang yang menjumpai gurunya pada saat yang tepat; <br />
<br />
yang patuh, yang membuang kekeras-kepalaannya. <br />
<br />
Dia mengingat dan mempraktekkan ajaran, memiliki pengendalian diri dan moralitas. <br />
<br />
4. Dia adalah orang yang bergembira dan bersuka cita dalam Dhamma dan yang mantap di dalamnya; <br />
<br />
dia tidak berbicara bertentangan dengan Dhamma; <br />
<br />
dia tidak melakukan pembicaraan yang tidak bermanfaat, dia melewatkan waktunya dengan kata-kata yang benar, yang diucapkan dengan baik. <br />
<br />
5. Setelah meninggalkan tawa, gosip, keluh kesah, niat buruk, penipuan, kemunafikan, ketamakan, kedengkian, temperamen buruk, ketidakmurnian dan kemelekatan, dia hidup bebas dari kesombongan, dengan pikiran yang mantap. <br />
<br />
6. Intisari dari kata-kata yang diucapkan dengan baik adalah pemahaman. <br />
<br />
Intisari belajar dan memahami adalah konsentrasi. <br />
<br />
Kebijaksanaan dan pengetahuan orang yang terburu-buru dan sembrono tidak akan bertambah <br />
<br />
7. Mereka yang bergembira dalam ajaran yang diberikan oleh Orang-orang Suci memiliki keunikan dalam ucapan, pikiran dan tindakan. <br />
<br />
Mereka mantap dalam kedamaian, kelembutan dan meditasi, serta memperoleh intisari ajaran dan kebijaksanaan.</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/"><![CDATA[Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></category>
			<dc:creator>bawel</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8798-kimsila-sutta.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>nava sutta</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8797-nava-sutta.html</link>
			<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 13:01:41 GMT</pubDate>
			<description>*NAVA SUTTA 
* 
*Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 8 
* 
 
Bagaimana memilih guru yang baik dan terpelajar 
 
1. Orang harus menghormat seseorang yang darinya dia belajar Dhamma, bagaikan para dewa menghormat Indra.  
 
Orang terpelajar yang dihormati itu, karena senang pada muridnya,...</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font size="5">NAVA SUTTA</font></div></b><br />
<b><div align="center"><font size="3">Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 8</font></div></b><br />
<br />
Bagaimana memilih guru yang baik dan terpelajar<br />
<br />
1. Orang harus menghormat seseorang yang darinya dia belajar Dhamma, bagaikan para dewa menghormat Indra. <br />
<br />
Orang terpelajar yang dihormati itu, karena senang pada muridnya, akan membuat Dhamma menjadi jelas. <br />
<br />
2. Setelah memperhatikan dan mempertimbangkannya, orang bijak itu pun mempraktekkan Dhamma, dan dengan demikian menjadi terpelajar, cerdas dan terampil. <br />
<br />
Dan karena waspada, dia bergaul dengan guru seperti itu. <br />
<br />
3. Orang yang mengikuti guru yang tolol dan rendah, yang belum menyadari makna Dhamma, dan yang iri hati, akan mendekati kematian tanpa memahami Dhamma dan tidak terbebas dari keraguan. <br />
<br />
4. Bagaikan orang yang terjatuh ke sungai yang airnya meluap dan mengalir deras akan terseret oleh arus yang cepat itu, bagaimanakah orang seperti ini dapat membantu orang lain menyeberang? <br />
<br />
5. Terlebih lagi, orang yang belum memahami Dhamma, yang belum memperhatikan maknanya sebagaimana dijelaskan oleh yang berpengetahuan, karena dia sendiri belum memiliki pengetahuan -- bagaimanakah dia dapat membuat orang lain paham? <br />
<br />
6. Bagaikan orang yang menaiki perahu kokoh yang dilengkapi dengan dayung dan kemudi, yang memiliki pengetahuan tentang cara mengemudikannya, yang terampil serta bijaksana, dengan perahu itu dia dapat membawa banyak orang menyeberang sungai. <br />
<br />
7. Terlebih lagi, orang yang telah memiliki pengetahuan dan mempunyai pikiran yang terlatih baik, yang terpelajar dan tidak goyah. <br />
<br />
Dengan jelas dia mengetahui bahwa dia dapat membantu orang-orang lain untuk mengerti, yaitu mereka yang penuh perhatian untuk mendengarkan dan telah siap untuk memahami. <br />
<br />
8. Karena itu, jelas orang harus bergaul dengan orang yang baik, yang bijaksana dan terpelajar. <br />
<br />
Dia harus mengetahui makna Dhamma dan mempraktekkan sesuai dengannya. <br />
<br />
Dan karena memperoleh pemahaman Dhamma, dia akan mencapai kebahagiaan.</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/"><![CDATA[Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></category>
			<dc:creator>bawel</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8797-nava-sutta.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>dhammacariya sutta</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8796-dhammacariya-sutta.html</link>
			<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 12:59:40 GMT</pubDate>
			<description>*DHAMMACARIYA SUTTA 
* 
*Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 6 
* 
 
Para bhikkhu disarankan menghalau hal-hal yang dapat membuat mereka menyeleweng dari kehidupan suci 
 
1. Jika orang meninggalkan kehidupan berumah tangga, menjadi pertapa dan menjalani kehidupan selibat dan murni;...</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font size="5">DHAMMACARIYA SUTTA</font></div></b><br />
<b><div align="center"><font size="3">Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 6</font></div></b><br />
<br />
Para bhikkhu disarankan menghalau hal-hal yang dapat membuat mereka menyeleweng dari kehidupan suci<br />
<br />
1. Jika orang meninggalkan kehidupan berumah tangga, menjadi pertapa dan menjalani kehidupan selibat dan murni; inilah permata yang paling berharga. <br />
<br />
2. Tetapi jika secara alami dia terlalu banyak bicara, dan senang menyakiti yang lain secara kasar, kehidupan orang seperti ini menjadi tidak bermanfaat dan kekotoran batinnya meningkat.<br />
<br />
3. Seorang bhikkhu yang senang bertengkar karena dikelabuhi kebodohan batin, sekalipun dijelaskan ia tak akan memahami ajaran yang dibabarkan Sang Buddha.<br />
<br />
4. Karena dikuasai oleh kebodohan batin, dia tidak memahami bahwa menyakiti orang yang pikirannya terkendali dengan baik merupakan tindakan salah yang menyebabkan dia pergi ke alam menyedihkan. <br />
<br />
5. Bhikkhu seperti itu pasti akan mengalami kesengsaraan setelah kematian, karena menuju ke alam-alam menderita dari satu kelahiran ke kelahiran lain, dari kegelapan menuju kegelapan [yang lebih pekat]. <br />
<br />
6. Bagaikan kubangan yang dipenuhi kotoran selama ratusan tahun, orang tak murni seperti itu sulit disucikan. <br />
<br />
7. O, para bhikkhu, jika engkau mengenal orang yang melekat pada kehidupan duniawi, yang memiliki nafsu-nafsu tak luhur, niat-niat tak bersih, dan perilaku jahat. <br />
<br />
8. Asingkan dan buanglah dia, semuanya sepakat; bagaikan debu, sapulah dia keluar, bagaikan sampah, singkirkanlah dia. <br />
<br />
9. Kemudian singkirkan mereka yang kosong, yang bukan bhikkhu tetapi berpura-pura menjadi bhikkhu; <br />
<br />
tolaklah mereka yang memiliki kecenderungan watak yang tidak baik, yang telah disebutkan di depan. <br />
<br />
10. Tetaplah murni, dan bergaullah dengan yang murni; <br />
<br />
dengan selalu waspada, terpusat dan meningkat; <br />
<br />
akhirilah penderitaan.</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/"><![CDATA[Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></category>
			<dc:creator>bawel</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8796-dhammacariya-sutta.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>suciloma sutta</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8795-suciloma-sutta.html</link>
			<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 12:58:41 GMT</pubDate>
			<description>*SUCILOMA SUTTA 
* 
*Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 5 
* 
 
Khotbah yang serupa dengan Alavaka Sutta (di atas) 
 
Demikian yang telah saya dengar:  
 
Suatu ketika Sang Buddha duduk beralas batu di Gaya, tempat kediaman yakkha Suciloma.</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font size="5">SUCILOMA SUTTA</font></div></b><br />
<b><div align="center"><font size="3">Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 5</font></div></b><br />
<br />
Khotbah yang serupa dengan Alavaka Sutta (di atas)<br />
<br />
Demikian yang telah saya dengar: <br />
<br />
Suatu ketika Sang Buddha duduk beralas batu di Gaya, tempat kediaman yakkha Suciloma. <br />
<br />
Pada saat itu yakkha Khara dan Suciloma lewat di dekat beliau [dan yakkha Khara bertanya] <br />
<br />
'Apakah orang ini seorang pertapa?'<br />
<br />
Suciloma menjawab: <br />
<br />
'Dia bukan pertapa. <br />
<br />
Penampilannya saja yang kelihatan sama. <br />
<br />
Biarlah saya pastikan.' <br />
<br />
Kemudian Suciloma mendekati Sang Buddha dan mencoba menempelkan dirinya ke tubuh Sang Buddha. <br />
<br />
Tetapi Sang Buddha mundur dari sentuhannya. <br />
<br />
Maka Suciloma bertanya kepada Sang Buddha: <br />
<br />
'O pertapa, apakah engkau takut padaku?'<br />
<br />
Sang Buddha menjawab: <br />
<br />
'Sobat, saya tidak takut padamu, hanya saja sentuhanmu tidak menyenangkan.'<br />
<br />
Suciloma: <br />
<br />
Saya akan bertanya kepadamu, O pertapa; <br />
<br />
jika engkau tidak bisa menjawab, saya akan mengacaukan pikiranmu, atau merobek-robek jantungmu, atau merenggut kakimu dan melemparmu ke seberang sungai Gangga.<br />
<br />
Sang Buddha: <br />
<br />
Sobat, tidak kulihat di dunia ini seorang pun yang dapat melakukan hal itu. <br />
<br />
Tetapi sobat, bertanyalah sesukamu.<br />
<br />
1. Suciloma: <br />
<br />
Dari mana munculnya nafsu dan kebencian? <br />
<br />
Dari mana munculnya rasa tidak puas, kemelekatan dan ketakutan? <br />
<br />
Dari mana munculnya spekulasi-spekulasi jahat yang mengusik pikiran, bagaikan anak-anak kecil mengusik burung-burung gagak? <br />
<br />
2. Sang Buddha: <br />
<br />
Nafsu dan kebencian muncul dari egoisme. <br />
<br />
Demikian juga rasa tidak puas, kemelekatan dan ketakutan. <br />
<br />
Dari sana pula pikiran-pikiran spekulatif muncul dan mengusik pikiran bagaikan anak-anak mengusik burung-burung gagak. <br />
<br />
3. Semua itu muncul dari nafsu, yang berada dalam diri seseorang bagaikan sulur-sulur yang muncul dari cabang pohon beringin. <br />
<br />
Mereka melekat ke nafsu indera bagaikan tanaman rambat maluva yang memenuhi hutan belantara. <br />
<br />
4. Dengarkanlah, O, yakkha, mereka yang mengetahui sumbernya akan mengatasinya. <br />
<br />
Mereka menyeberangi banjir yang sulit diseberangi, yang belum pernah diseberangi, dan mereka tidak akan terlahir lagi.</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/"><![CDATA[Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></category>
			<dc:creator>bawel</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8795-suciloma-sutta.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>mahamanggala sutta</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8794-mahamanggala-sutta.html</link>
			<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 12:58:01 GMT</pubDate>
			<description>*MAHAMANGGALA SUTTA 
* 
*Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 4 
* 
 
Definisi tentang berkah yang tertinggi 
 
Demikian yang telah saya dengar:  
 
Suatu ketika Sang Buddha berdiam di dekat Savatthi, di Hutan Jeta di vihara Anathapindika.</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font size="5">MAHAMANGGALA SUTTA</font></div></b><br />
<b><div align="center"><font size="3">Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 4</font></div></b><br />
<br />
Definisi tentang berkah yang tertinggi<br />
<br />
Demikian yang telah saya dengar: <br />
<br />
Suatu ketika Sang Buddha berdiam di dekat Savatthi, di Hutan Jeta di vihara Anathapindika. <br />
<br />
Pada suatu malam yang indah, datanglah dewa dengan cahaya cemerlang yang menerangi seluruh Hutan Jeta. <br />
<br />
Dia mendatangi Sang Buddha, memberikan hormat, lalu berdiri di satu sisi dan berkata kepada Sang Buddha dalam syair berikut ini:<br />
<br />
1. Banyak dewa dan manusia, karena menginginkan kesejahteraan, telah merenungkan apa perbuatan yang menjanjikan keberhasilan. <br />
<br />
Terangkanlah apakah perbuatan tertinggi yang menjamin keberhasilan itu?<br />
 <br />
Sang Buddha: <br />
<br />
2. Tidak bergaul dengan orang-orang yang dungu, tetapi, bergaul dengan yang bijaksana, serta menghormat mereka yang patut dihormat. <br />
<br />
Itulah perbuatan tertinggi yang menjamin keberhasilan. <br />
<br />
3. Hidup di lingkungan yang sesuai, telah melakukan banyak tindakan yang berjasa di masa lampau, serta menuntun diri ke arah yang benar; <br />
<br />
itulah perbuatan tertinggi yang menjamin keberhasilan. <br />
<br />
4. Memiliki pendidikan yang baik, terampil serba bisa, mempunyai penghargaan terhadap Seni, memiliki disiplin yang terlatih baik, dan menyenangkan tutur katanya; <br />
<br />
itulah perbuatan tertinggi yang menjamin keberhasilan. <br />
<br />
5. Menyokong ayah dan ibu, menjaga baik-baik anak dan istri, serta memiliki pekerjaan yang damai, bebas dari pertentangan; <br />
<br />
itulah perbuatan tertinggi yang menjamin keberhasilan. <br />
<br />
6. Suka berdana, berperilaku pantas, membantu sanak keluarga dan bertindak tak tercela; <br />
<br />
itulah perbuatan tertinggi yang menjamin keberhasilan. <br />
<br />
7. Berhenti berbuat jahat dan bebas dari kejahatan, tidak minum-minuman yang bersifat merusak, dan tekun dalam perilaku bermoral; <br />
<br />
itulah perbuatan tertinggi yang menjamin keberhasilan. <br />
<br />
8. Memiliki rasa hormat, rendah hati, merasa puas, senantiasa berterima kasih, dan mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai; <br />
<br />
itulah perbuatan tertinggi yang menjamin keberhasilan. <br />
<br />
9. Sabar, patuh, bergaul dengan manusia teladan dalam kehidupan Dhamma, dan ikut serta dalam diskusi keagamaan, <br />
<br />
itulah perbuatan tertinggi yang menjamin keberhasilan. <br />
<br />
10. Mengendalikan diri, memahami Empat Kebenaran Mulia dan mencapai Nibbana; <br />
<br />
itulah perbuatan tertinggi yang menjamin keberhasilan. <br />
<br />
11. Jika pikiran tanpa kesedihan, tanpa noda dan mantap [dalam Nibbana], tetap tidak terganggu walau dipengaruhi kesulitan-kesulitan duniawi; <br />
<br />
itulah  perbuatan tertinggi yang menjamin keberhasilan. <br />
<br />
12. Mereka yang telah bertindak demikian tak akan terkalahkan di manapun juga, dan mencapai kebahagiaan di manapun juga -- bagi mereka, itulah perbuatan tertinggi yang menjamin keberhasilan.</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/"><![CDATA[Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></category>
			<dc:creator>bawel</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8794-mahamanggala-sutta.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>hiri sutta</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8792-hiri-sutta.html</link>
			<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 12:55:26 GMT</pubDate>
			<description>*HIRI SUTTA 
* 
*Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 3 
* 
 
Mengenai persahabatan sejati 
 
Sang Buddha menyampaikan khotbah ini kepada seorang brahmana dari Savatthi yang ingin memperoleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut ini : 
 
i Dengan siapa sebaiknya kita tidak bergaul?</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font size="5">HIRI SUTTA</font></div></b><br />
<b><div align="center"><font size="3">Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Cula Vagga, Bab 3</font></div></b><br />
<br />
Mengenai persahabatan sejati<br />
<br />
Sang Buddha menyampaikan khotbah ini kepada seorang brahmana dari Savatthi yang ingin memperoleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut ini :<br />
<br />
i Dengan siapa sebaiknya kita tidak bergaul?<br />
ii Dengan siapa sebaiknya kita bergaul? <br />
iii Apa yang membawa kebahagiaan? <br />
iv Apakah kondisi yang paling manis?<br />
<br />
1. Ketahuilah dengan baik bahwa <br />
<br />
'Dia bukanlah temanku' <br />
<br />
bila dia berperilaku tanpa malu, bila dia menghina temannya, bila dia berkata 'Aku adalah temanmu' <br />
<br />
namun tidak melakukan apa pun untuk membantu. <br />
<br />
2. Orang bijaksana mengenalnya sebagai orang yang hanya bicara saja, tetapi tidak bekerja; <br />
<br />
orang yang berkata-kata manis kepada teman-temannya, tetapi tidak berlaku sesuai dengan itu. <br />
<br />
3. Dia bukanlah teman sejati bila selalu senang jika ada konflik, dan hanya mencari-sari kesalahan. <br />
<br />
Yang benar-benar teman sejati adalah orang yang tidak dapat dipisahkan darimu oleh orang lain, bagaikan seorang anak yang berada di pelukan ayahnya. <br />
<br />
4. Orang yang menjalankan tanggung jawab sebagai manusia sehingga muncul hasil-hasil yang baik, yang mengembangkan hal-hal yang menyebabkan suka cita dan menghasilkan pujian dan kebahagiaan. <br />
<br />
5. Setelah meneguk manisnya kesendirian dan juga manisnya ketenangan, orang menjadi terbebas dari rasa takut dan tindakan yang salah, dan sekaligus dia menikmati manisnya suka cita kebenaran.</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/"><![CDATA[Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></category>
			<dc:creator>bawel</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8792-hiri-sutta.html</guid>
		</item>
		<item>
			<title>muni sutta</title>
			<link>http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8767-muni-sutta.html</link>
			<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 14:26:51 GMT</pubDate>
			<description>*MUNI SUTTA 
Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Uraga Vagga, Bab 12 
* 
 
Puji-pujian terhadap kehidupan menyendiri yang penuh dengan pengendalian diri 
 
1. Rasa takut muncul karena keintiman.  
 
Nafsu indera terlahir dari kehidupan berumah-tangga.</description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><b><div align="center"><font size="5">MUNI SUTTA</font><br />
<font size="3">Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata, Uraga Vagga, Bab 12</font></div></b><br />
<br />
Puji-pujian terhadap kehidupan menyendiri yang penuh dengan pengendalian diri<br />
<br />
1. Rasa takut muncul karena keintiman. <br />
<br />
Nafsu indera terlahir dari kehidupan berumah-tangga. <br />
<br />
Karena itu, keadaan tak berumah dan ketidakmelekatan dihargai oleh para bijaksana.<br />
<br />
2. Orang yang memotong kekotoran batin yang telah muncul dan tidak mau menanamnya lagi, serta yang tidak mau masuk ke dalam apa yang sedang tumbuh, dia disebut orang bijaksana yang berkelana sendiri. <br />
<br />
Guru agung itu telah melihat Keadaan Damai [Nibbana].<br />
<br />
3. Setelah memeriksa tanah, setelah membuang benih dan tidak menyiramnya sehingga benih itu tidak tumbuh, setelah meninggalkan tipu muslihat, orang bijak yang telah melihat akhir kelahiran tidak dapat digambarkan menurut kategori secara pasti.<br />
<br />
4. Dia yang telah mengetahui segala jenis kelahiran, tetapi tidak memiliki nafsu untuk masuk ke dalam salah satu darinya, orang bijak seperti itu telah terbebas dari keserakahan dan nafsu keinginan. <br />
<br />
Dia tidak lagi perlu berjuang keras, karena dia telah mencapai pantai seberang [Nibbana].<br />
<br />
5. Orang yang telah mengatasi segalanya, yang mengetahui segalanya, yang cerdas, yang tidak melekat pada obyek apa pun, yang telah meninggalkan segalanya, yang telah membebaskan dirinya dengan cara menghancurkan nafsu keinginan, disebut orang suci oleh para bijaksana.<br />
<br />
6. Orang yang memiliki kekuatan kebijaksanaan, yang terlahir dari peraturan-peraturan moralitas serta pengendalian diri, yang tenang pikirannya dan bergembira di dalam meditasi, yang penuh perhatian, bebas dari kemelekatan, bebas dari pikiran yang tak terlatih, dan bebas dari apa yang meracuni, disebut orang suci oleh para bijaksana.<br />
<br />
7. Orang bijak yang berkelana sendiri, yang tekun dan tidak goyah oleh pujian maupun celaan, yang tidak takut oleh suara -- seperti singa, yang tidak terperangkap di dalam jaring -- seperti angin, yang tidak dikotori air -- seperti teratai, yang memimpin orang lain dan tidak dipimpin oleh orang lain, disebut orang suci oleh para bijaksana.<br />
<br />
8. Orang yang kokoh, bagaikan tiang di tempat pemandian, yang terkendali ketika mendengar apa yang dikatakan orang lain, yang tidak memiliki nafsu, yang inderanya terjaga baik, disebut orang suci oleh para bijaksana.<br />
<br />
9. Orang yang berpikiran teguh dan lurus bagaikan puntalan datar, yang memandang rendah tindakan-tindakan jahat, yang menyelidiki apa yang baik dan buruk, disebut orang suci oleh para bijaksana.<br />
<br />
10. Orang yang memiliki pengendalian diri dan tidak melakukan kejahatan, orang bijaksana seperti itu, tak peduli apakah masih muda atau setengah baya, yang pikirannya terkendali dengan baik, yang tidak tergoda dan tidak menggoda yang lain, disebut orang suci oleh para bijaksana.<br />
<br />
11. Bhikkhu yang bergantung kepada orang-orang lain, yang tidak memuji atau mencela si pemberi ketika menerima sedekah baik dari [porsi] atas, atau [porsi] tengah, atau sisanya, dan yang tidak memuji-muji dengan kata-kata manis atau memperlakukan dengan tidak hormat; disebut orang suci oleh para bijaksana.<br />
<br />
12. Orang bijak yang berkelana sendiri, yang tidak melakukan keintiman seksual, yang bahkan pada masa mudanya tidak terikat pada apa pun, yang telah menjauhkan diri dari kesombongan dan kemalasan, disebut orang suci oleh para bijaksana.<br />
<br />
13. Orang yang telah mengenal dunia, yang telah memahami Kebenaran tertinggi, yang telah menyeberang banjir dan lautan [dumadi], yang telah memotong ikatan [tumimbal lahir], yang tidak memiliki keterikatan terhadap obyek-obyek indera, yang bebas dari racun, disebut orang suci oleh para bijaksana.<br />
<br />
14. Orang bijak yang terbiasa hidup di tempat-tempat terpencil, yang tanpa-ego serta baik perilakunya, dibandingkan dengan perumah-tangga yang menyokong keluarga -- mereka tidak setara, karena perumah-tangga tidak terkendali dan menghancurkan makhluk hidup; <br />
<br />
sedangkan orang bijak terkendali dan melindungi makhluk hidup.<br />
<br />
15. Burung merak berleher biru yang terbang membubung di angkasa tidak pernah mendekati kecepatan angsa. <br />
<br />
Demikian pula, perumah-tangga tidak pernah dapat menyamai bhikkhu yang memiliki sifat-sifat orang bijak yang bermeditasi, menyendiri, di hutan.</div>

 ]]></content:encoded>
			<category domain="http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/"><![CDATA[Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist]]></category>
			<dc:creator>bawel</dc:creator>
			<guid isPermaLink="true">http://www.wihara.com/forum/kumpulan-sutra-vinaya-buddhist/8767-muni-sutta.html</guid>
		</item>
	</channel>
</rss>
