Mohon Bantuan - Tumor Ganas - Wihara.com - Forum Diskusi Agama Buddha
Wihara.com - Forum Diskusi Agama Buddha  

Go Back   Wihara.com - Forum Diskusi Agama Buddha > Lain-Lain > Help Forum


Nona/mas manis, join Wihara.com donk :D . Jangan jadi guest doank hehe :))
Reply
 
LinkBack Thread Tools Search this Thread Display Modes
  #1 (permalink)  
Old 30-08-06, 12:19
usnisha's Avatar
usnisha one way meditation
Super Moderator
 
Join Date: Mar 2006
Posts: 1,011
usnisha is on a distinguished road
Default Mohon Bantuan - Tumor Ganas

*Citra Savitri <citra.savitri@ gmail.com* wrote:

To: CitaCinta@yahoogrou ps.com, hiunpar2000@ yahoogroups. com,
dHadrockaz_Stay_ Close@yahoogroup s.com, cosmoners@yahoogrou ps.com,
airputih@yahoogroup s.com
From: "Citra Savitri" <citra.savitri@ gmail.com
Date: Fri, 25 Aug 2006 11:33:08 +0700
Subject: [cosmoners] Realitas dan Uang 150ribu rupiah ..


friends,

hanya mau sharing pengalaman saya yang dialami semalam aja .. please, take
time to read this .. setidaknya baca bagian terakhir .. mungkin ada yang
bisa membantu ..

Semalam saya ke rumah sakit Carolus, dalam rangka kebutuhan mendesak ke
dokter. Pas lagi nunggu obat di apotik, lagi ngobrol sama temen yang nemenin
saya ke sana, tiba-tiba mendadak saya diajak ngobrol sama ibu-ibu yang
menggendong anak, yang duduk di kursi tepat di depan saya.

tadinya saya ga terlalu ngeh sama dia. i mean, ibu-ibu itu berkulit gelap,
menggendong anaknya dengan kain lusuh, menggenggam sebuah amplop berisi
kertas yang sudah lecek, dan sedari tadi dia duduk di kursi depan saya. tapi
saya pikir wajar bila orang seperti dia ada di sana, secara saya ada di
rumah sakit, dan pemandangan seperti itu kan wajar saja.

sampai mendadak dia curhat ke kita.

Ibu itu namanya Ibu Dede. anaknya, namanya Rahman, adalah penderita tumor
ganas di bagian panggul belakang sejak lahir (sekarang usianya 6 tahun).
tumor ganas itu yang membuat anaknya nggak bisa jalan, dan kakinya lumpuh.
selama ini penyakit diatasi dengan berobat jalan, yang tentunya nggak
efektif dalam usaha penyembuhan penyakit separah itu. Dia bekerja sebagai
kuli cuci, anaknya lima (Rahman adalah anaknya yang paling kecil, dan anak
tertuanya sudah kelas 3 SMP) dan suaminya kabur sejak Rahman usia 2 tahun.

Hari ini dia datang ke apotik St Carolus, untuk meminta obat gratis, dan
rumah sakit menjawab TIDAK. Sebelumnya dia sudah mencoba ke RSCM, dan
jawabannya tetap sama. Meski dia sudah menggenggam lembaran surat keterangan
tidak mampu dari RT/RW dan kelurahan rumahnya di Bekasi.
Dia tidak membawa resep dari dokter anaknya, karena ia sangsi akan
mendapatkan obat gratis. dia bilang baru akan ke dokter (yang lokasinya di
dekat situ) kalau dia sudah pasti bisa mendapatkan obat gratis. obat gratis,
yang katanya bila ditaksir, seharga Rp. 150.000,-.
Dia sudah mencoba mengirimkan ceritanya ke RCTI, berharap mendapatkan
bantuan, namun belum mendapat jawaban.

saya dan temen saya terhenyak mendengar cerita dia.

kita bisa melihat bahwa obat jalan itu merupakan usaha yang sia-sia,
karena obat sebanyak apapun nggak akan bisa menyembuhkan tumor ganas yang
diderita anaknya. anaknya butuh operasi, yang memakan sekitar Rp. 20 juta.
jumlah segitu pun terasa sangat besar buat kita, apalagi buat dia ..
sangat ingin membantu, namun kita tahu kita juga nggak berdaya saat itu.
kita nggak punya duit 20 juta untuk membayari operasi anaknya. sempat
terpikir ingin menebus obat untuk anaknya, namun kita sadar bahwa itu solusi
yang sementara. yang sia-sia.

Tapi Ibu itu bilang, sebenarnya bisa sangat terbantu kalau dia punya yang
namanya kartu JAKIN. Kartu ini diterima di banyak rumah sakit, dan pemegang
kartu ini akan dibebaskan dari segala biaya perawatan.
Kita nggak tahu apakah kartu JAKIN itu, dan bagaimana prosedur untuk
mendapatkan kartu itu. Yang jelas, dia cerita, kartu JAKIN tersebut
dikeluarkan oleh Kelurahan. Dan Kelurahan tempat dia bermukim bilang, dia
harus membayar Rp. 150,000,- kalau mau kartu JAKINnya keluar dalam waktu
seminggu.
Tanpa uang sejumlah itu, dia harus menunggu kartu keluar tahun 2009.

APA?!
saya nggak ngerti kenapa kartu yang begitu berarti buat rakyat miskin
harus dimanfaatkan juga untuk mencari uang tambahan.
oke, mungkin saya nggak tahu persis prosedur pembuatan kartu itu. bisa
jadi memang prosedurnya seperti itu. uang sejumlah itu mungkin memang harus
dibayarkan.
tapi saat kemarin dengar cerita itu, yang saya pikirkan hanya mental govt
officials kita yang korup, yang membuat saya langsung berpikir negatif -
bahwa uang sejumlah itu adalah pungli yang dibebankan kepada rakyat miskin
yang nggak berdaya.

*oh well. *

*anyway, *akhirnya kita hanya bisa membantu sekedarnya, agar Ibu itu bisa
pulang ke rumahnya, memberi makan malam yang layak untuk dia dan anaknya,
setelah sebelumnya meminta nama dan alamatnya di Bekasi.

kita sebenarnya nggak tahu apa yang bisa kita lakukan ..
tapi rasanya ingin mengusahakan bantuan untuk dia
meski masih belum tahu bagaimana caranya ..

sigh.

rasanya takjub aja
dunia yang dijalani bisa aja sama
tapi nasib bisa begitu berbeda

dunia yang saya jalani sehari hari adalah dunia dimana uang seratus lima
puluh ribu rupiah hanya bisa digunakan untuk membeli sehelai t-shirt Zara
atau biaya makan di luar untuk dua orang ..

dunia yang ibu itu jalani adalah dunia dimana uang seratus lima puluh ribu
rupiah bisa membuka jalan akses pengobatan yang bisa menyelamatkan nyawa ..

ironic, huh?

saat sedang merenungkan hal itu, mendadak ada telepon dari temen
seangkatan dulu, menanyakan apakah saya ikut melayat teman seangkatan yang
meninggal ..
mendadak dia suruh saya untuk hold, karena ada telepon masuk
saya protes, karena menurut saya hold adalah pembuangan pulsa yang sia-sia
..
akhirnya telepon saya matikan ..

saya seolah ditarik kembali ke realitas
realitas saya, bukan realitas ibu itu ..

dimana uang seratus lima puluh ribu rupiah mungkin hanya habis untuk pulsa
telepon ..




*friends, kalau ada yang punya teman/kolega/ sarana yang memungkinkan ibu
ini dibantu, langsung aja kontak :

Ibu Dede Sulastri
nama anak : Rahman (6 th)
Kp. Dirgahayu RT 10, RW 011
Kel. Jatirahayu, Rawacerewet
Bekasi Barat
*
(ini alamat yang saya catat semalam, semoga tidak salah, sehingga bila ada
yang mau membantu bisa menemukan ibu ini kembali)
*
mungkin aja lewat word-of-mouth, anak ibu itu bisa terbantu ..
siapa tahu bersama-sama kita bisa menyelamatkan sebuah nyawa ..*

Regards,
Citra
__________________
Negeri-Buddha yang satu terbuat dari tujuh permata, negeri-Buddha yang lain seluruhnya penuh dengan bunga teratai; negeri-Buddha yang satu seperti istana dewa Mahesvara, negeri-Buddha yang lain menyerupai cermin kristal, di mana berbagai negeri-buddha di sepuluh penjuru terpantulkan di sana.
(Amitayur Dyana Sutra)
Reply With Quote
  #2 (permalink)  
Old 04-09-06, 18:13
Mantra Ganti Statusnya Donk, CLICK di "Edit"
Tidak baru lagi
 
Join Date: Mar 2006
Posts: 39
Mantra is on a distinguished road
Default

Penyakit kanker sudah tidak berbahaya lagi

Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman "keladi tikus" (Typhonium Flagelliforme/Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain.

Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 sentimeter ini hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. "Tanaman ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata Drs.Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia.

Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan pasien dari Malaysia, Amerika, Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura, dan berbagai negara di dunia.

Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan,Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut.

"Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan," jelas Patoppoi.

Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker.

"Saat itu juga saya langsung terba! ng ke Malaysia untuk membeli teh tersebut," ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia, secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996.

"Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak Jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia," kenang Patoppoi sambil tersenyum.

Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.

Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka menemukan tanaman itu di sana. Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu.

Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. "Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat," lanjut Patoppoi.

Akhirnya, dengan tekad bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat.

Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman tersebut. "Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu. Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang.

"Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal," lanjut Boni.

Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta," kata Patoppoi.

Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isterinya. "Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi.

Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar mengembangkannya.

Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali."Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif," sambung Boni sambil tertawa.

Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr.Teo melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di Indonesia. Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh," sambung Patoppoi.

Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia.

Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos, Patoppoi sempat tercengang.

Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut. "Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos," ujar Boni. Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo. Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini.

Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos. Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.

Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha untuk menemui Dr. Teo secara langsung.

Atas bantuan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang, Malaysia. Di kantor Pusat Cancer Care Penang, Malaysia, Patoppoi mendapat penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia. Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live" edisi revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker.

Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya.

Maka secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial Cancer Care Indonesia, yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta, telp. 021-4894745, dan di Buduran, Sidoarjo.

Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya dengan dosis tertentu. "Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang diderita," kata Boni.

Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yang menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan dikirimkan melalui fax ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi disini, dan akan kami fax-kan.

Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia, sekitar 40-60 Ringgit Malaysia," lanjut Boni. "Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan perpanjangan waktu pembayaran." tambahnya.

Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal. Ada dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini.

Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah memiliki reputasi. Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses penyembuhan kemoterapi.

Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialami penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal. Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karena menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia. Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai "ter-kun" atau dokter-dukun.

"Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan konvensional dan modern," kata dokter tersebut.

Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan bantuan kepada berbagai pasien.

Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu di Surabaya, yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat kanker paru-paru.

Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, pasien tersebut mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan pada narkoba tersebut.

"Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung Boni sambil tertawa.

Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan.

Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker payudara, paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis. Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan.

Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan dengan artikel "Obat Kanker" bisa menghubungi perwakilan lembaga sosial "Cancer Care Indonesia" beralamat di Jl. Kayu Putih 4 no.5 Jakarta , telp :021-4894745
Reply With Quote
  #3 (permalink)  
Old 06-09-06, 09:58
usnisha's Avatar
usnisha one way meditation
Super Moderator
 
Join Date: Mar 2006
Posts: 1,011
usnisha is on a distinguished road
Default

wah.. thanks atas artikelnya... bagus banget!!!
__________________
Negeri-Buddha yang satu terbuat dari tujuh permata, negeri-Buddha yang lain seluruhnya penuh dengan bunga teratai; negeri-Buddha yang satu seperti istana dewa Mahesvara, negeri-Buddha yang lain menyerupai cermin kristal, di mana berbagai negeri-buddha di sepuluh penjuru terpantulkan di sana.
(Amitayur Dyana Sutra)
Reply With Quote
  #4 (permalink)  
Old 14-09-06, 17:39
hadisentosa's Avatar
hadisentosa Segala permintaan anda tentang Wihara.com - Tolong Tulis di Bagian Feedback. Bukan cari saya
Happy Soul
 
Join Date: Nov 2004
Location: Inside Net
Posts: 1,782
Blog Entries: 4
hadisentosa is on a distinguished road
Default

amitofo !!
Reply With Quote
Reply

Bookmarks

Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On


Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
Mohon Bantuan - Tumor usnisha Help Forum 1 10-08-06 11:10
Mohon Bantuan - Leukimia usnisha Help Forum 3 05-08-06 15:12
Mohon bantuan ! meningitis purulenta schatan Help Forum 0 12-04-06 21:37
Mohon Bantuan - Musibah Sdr. Hendy Sun MettaKaruna Help Forum 8 08-03-06 13:01
account bantuan gempa aceh langitbiru` Help Forum 8 31-12-04 13:11


All times are GMT +7. The time now is 01:07.


Powered by vBulletin® Version 3.8.2
Copyright ©2000 - 2010, Jelsoft Enterprises Ltd.
Wihara.com 2004-2010 All rights reserved