Dana Seorang Wanita Penjual Roti
Dana Seorang Wanita Penjual Roti
Di antara delapan belas Arahat, terdapat seorang Arahat memiliki alis yang
panjang. Oleh karena itu beliau disebut sebagai Arahat Beralis Panjang.
Pada suatu hari Arahat Beralis Panjang pergi pindapatta. Di tengah jalan
beliau bertemu dengan seorang wanita penjual roti bakpao yang sangat kikir.
Beliau berhenti di sana untuk minta sedekah. Wanita tersebut tidak senang
dengan Arahat Beralis Panjang maka dia mengusir beliau, "Hai bhiksu, jangan
berdiri di situ, mengganggu dagangan saya." Arahat Beralis Panjang tidak
menghiraukannya, menutup kedua mata dan duduk bersamadhi. Wanita itu
menjadi marah tetapi tidak berdaya mengusir beliau. Kemudian ia mengupah tiga orang yang kuat untuk menggusur Arahat Beralis Panjang, namun mereka
bertiga tetap tidak dapat menggeser beliau.
Arahat Beralis Panjang duduk bagaikan gunung tak bergeming. Wanita itu
menjadi gusar, kemudian diketahui bahwa Arahat Beralis Panjang tidak
bernapas lagi. Wanita itu panik dan mohon kepada Arahat Beralis Panjang,
"Saya akan memberi bakpao, tapi jangan duduk di sana lagi." Setelah itu Arahat Beralis Panjang membuka matanya dan berdiri.
Wanita penjual roti itu tidak ikhlas memberikan bakpao, maka dibuatnya
bakpao yang sangat kecil agar Arahat Beralis Panjang cepat pergi.
Arahat Beralis Panjang dapat membaca pikiran wanita yang kikir itu, maka
dengan kekuatan batinnya beliau membuat bakpao kecil itu menempel dengan
bakpao lainnya. Wanita itu dengan kekuatan apapun tidak dapat memisahkan
bakpao kecilnya.
Akhirnya wanita yang kikir itu sadar bahwa Arahat Beralis Panjang itu
bukanlah manusia biasa. Kemudian Arahat Beralis Panjang berkata, "Aku
sebenarnya telah mencapai tingkat Arahat, tidak makanpun tidak menjadi
masalah. Tetapi teman-teman seperguruan saya, mereka menderita sakit
dan sangat lemah serta tidak dapat pergi pindapatta. Saya bermaksud agar
bakpao tersebut diberikan kepada mereka, agar mereka sehat kembali dan dapat melakukan latihan dengan baik sehingga mencapai tingkat kesucian."
Setelah mendengar kata-kata dari Arahat Beralis Panjang, wanita itu sadar
atas sifat buruknya, tergerak hatinya dan timbul rasa suka cita, kemudian
mendanakan semua bakpaonya.
Sebelum meninggalkan tempat, Arahat Beralis Panjang memberkati wanita
tersebut, semoga di kelahiran yang akan datang akan terlahir di alam yang
penuh suka cita.
Berdana, kelihatannya seperti 'mengeluarkan'. Tetapi sebenarnya
'memperoleh'. Kalau seseorang tidak dapat melepaskan kekikiran yang
ada di dalam dirinya, bagaimana dia dapat memperoleh rasa tenang yang tidak
lagi dihinggapi rasa kuatir dan gelisah?
Berdana tanpa pamrih dapat membuat seseorang menjadi mulia. Berdana
tanpa merasa menyesal akan membuat seseorang dapat menyingkirkan kebiasaan buruknya.
Cerita tentang Arahat yang beralis panjang dengan bakpao tersebut
mengajarkan kepada kita agar gemar berdana serta berdana tanpa
pamrih.***
---------------
Disadur oleh : Tan Chau Ming dari bukunya Maha Bhiksu Shing Yun "I
Zhe Lu
Hwa Liang Yang Ching"
|