Sejarah Kelenteng dan Asal Mula Istilah Kelenteng - Wihara.com - Forum Diskusi Agama Buddha
Wihara.com - Forum Diskusi Agama Buddha  

Go Back   Wihara.com - Forum Diskusi Agama Buddha > Aliran-Aliran > Tri Dharma > Kong Hu Cu


Nona/mas manis, join Wihara.com donk :D . Jangan jadi guest doank hehe :))
Reply
 
LinkBack Thread Tools Search this Thread Display Modes
  #1 (permalink)  
Old 25-04-06, 16:21
MD Melati's Avatar
MD Melati Ganti Statusnya Donk, CLICK di "Edit"
Senior
 
Join Date: Apr 2005
Posts: 229
MD Melati is on a distinguished road
Post Sejarah Kelenteng dan Asal Mula Istilah Kelenteng

Sejarah Kelenteng dan Asal Mula Istilah Kelenteng
Oleh : Suryanto, BSc, SH


PADA jaman dahulu, dari jaman Nabi Fu Xie (2953-2838 SM), Nabi Di Yao (2357-2255 SM), Nabi Shun dari Negeri Yu (2255-2205 SM), Nabi Gao Yao, Nabi Yi Yin, Nabi Zhou Gong Dan dan lain-lain sampai pada Nabi Agung Kong Zi (551-479 SM), belum dikenal istilah Kelenteng, dahulu yang dikenal adalah Miao (Altar Kuil Leluhur), She (Altar Malaikat Bumi). Sekarang disebut Du Di Gong atau Hok Tek Zheng Shen dan Jiao (Bangunan Ibadah untuk bersujud kepada Tian, Tuhan Yang Maha Esa). (Terdapat dalam Su Jing/Kitab Dokumen Sejarah Suci Agama Khonghucu).

Ketiga istilah ini, seiring perjalanan zaman tentunya mengalami derivatif makna dan fungsi, namun demikian asal muasal dan pengertian dasarnya tetap eksis, agar tidak bergeser pada kebenaran yang sebenarnya.

Secara fisik dari sejak dulu telah ada sebutan untuk membedakan kuil-kuil yang ada, diantaranya :

GONG artinya : bangunannya megah (besar), dibangun oleh Raja/Pejabat (Pembesar), dengan makna dan fungsi yang lebih luas.

Ci artinya : Dibangun oleh masyarakat (kaum/marga) lebih untuk menghormati leluhur.

Sementara MIAO tetap dipergunakan sebagai tempat ibadah/sembahyang yang baku.

Seiring perkembangan zaman, makna dan fungsi mengalami perubahan, dan nama kuilpun mengikuti perkembangan sesuai dengan macam dan jenis, diantaranya :

YUAN : Bangunan yang bila ada pelajaran/taman baca/taman komunikasi sosial.

TANG : Bangunan yang bila ada fungsi pelayanan rohani/keagamaan, upacara/ritual.

TING : Bangunan yang bila berfungsi sebagai pendopo/kediaman tempat pemujaan.

AN : Bangunan yang bila berfungsi sebagai tempat pengasingan, menenangkan, hening.

GUAN : Bangunan yang bila lebih sebagai sarana umum/kemasyarakatan.

(Widya Karya, edisi khusus tahun 2001).

Pada zaman Dinasty TANG (618-905 M), saat itu ada klasifikasi yang lebih terarah yaitu :

- Bagi Ru Jiao (Agama Khonghucu), yang berdasarkan Di dan Zu (Leluhur), maka sebutan tempat ibadahnya adalah MIAO dan CI.

- Bagi Dao Jiao (Agama Dao), yang lebih tinggi derajat bangunannya dinamakan GONG dan yang lebih rendah/dibawahnya dinamakan GUAN.

- Bagi Shi Jiao (Agama Budha) yaitu untuk Paderi Laki (Hwe Sio) disebut Si dan untuk pendeta wanita (Ni Khu) disebut AN.

Bangunan ibadah sering dikategorikan berdasarkan fungsi dan maknanya, misalnya :

- Untuk Shen Ming (para Roh Suci), bila menunjuk satu (sebagai Pendopo/tempat kediaman) disebut TING.

- Untuk Shen Ming (para roh suci), bila banyak, maka cenderung memakai nama YUAN.

- Untuk pelayanan keagamaan dikategorikan :

YUAN : Taman baca/belajar.

TANG : Tempat ibadah/upacara/ritual.

GUAN : Sarana pelayanan kemasyarakatan.

Melalui perkembangan sejarah yang cukup lama akhirnya semua istilah ini bercampur baur menjadi satu yaitu Kelenteng. Padahal masing-masing istilah mempunyai makna tersendiri seperti yang telah dijelaskan di atas.

Sedangkan makna dari para suci ketiga agama yang disebut di atas masing-masing mempunyai sebutan sendiri-sendiri misalnya :

- Ru Jiao (Agama Khonghucu), para sucinya disebut Shen Ming, Shen Ming ini merupakan suatu konsep imani dunia akhirat dalam agama Khonghucu : yakni untuk menyebut Gemilangnya Rohani yang menyatukan Ling Hun, setelah Po berkalang tanah dan Qi berpulang kehadirat Tuhan.

- Dalam Taoism bila itu tercapai (bahkan sebelum kematian), maka inilah jalan Dewa yang disebut XIAN.

- Sementara menurut Budhism yang hendak dicapai adalah penerangan sejati mencapai Budha yang disebut Fo.

(Widya Karya, edisi khusus, tahun 2001).

Dalam kenyataan di Indonesia ada Kelenteng yang memiliki/menyatu ketiga macam para suci yaitu Shen Ming, Xian, Fo dipuji/dihormati di dalam satu kuil/kelenteng secara bersamaan. Dan hal ini biasanya disebut dengan SAN JIAO.

Kelenteng sebagai sebuah tempat ibadah, telah banyak kita lihat dan kenal, dan sebetulnya apakah Kelenteng itu ? Kelenteng adalah sebuah tempat ibadah (Suci) yang penuh dengan hal-hal yang bersifat sakral dan suci, yang tidak boleh dibuat sembarangan. Dari situ pula menimbulkan perasaan mengindahkan. (Bs. Buanadjaya, Riwayat Kelenteng, Vihara, Lithang, Penyusun Moerthiko). Dalam kenyataannya sekarang, Kelenteng adalah sebuah tempat suci untuk melaksanakan ibadah kepada Tuhan, para Nabi, dan para Suci agama-agama Ru, Dao, Shi atau Confucianisme-Taoisme, Buddisme.


bersambung...
Reply With Quote
  #2 (permalink)  
Old 25-04-06, 16:22
MD Melati's Avatar
MD Melati Ganti Statusnya Donk, CLICK di "Edit"
Senior
 
Join Date: Apr 2005
Posts: 229
MD Melati is on a distinguished road
Default

ASAL MULA ISTILAH KELENTENG

Menurut para ahli, istilah penyebutan Kelenteng adalah istilah asli Indonesia, di negara lain seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Taiwan bahkan Tiongkok (RRC) sekalipun tidak dikenal adanya istilah Kelenteng. Istilah Kelenteng erat hubungannya kebiasaan atau karakteristik masyarakat kita untuk menyebut sesuatu bertalian dengan suara (bunyi), karena ketika diselenggarakan upacara sembayang besar selalu dibunyikan Genta kecil yang berbunyi Klenteng atau Klenting. (Lihat kamus umum bahasa Indonesia, Wjs Poerwadarminta).

Ada sementara orang berpendapat bahwa diduga istilah Kelenteng berasal dari Bahasa Mandarin Kwan Iem Ting, yang maknanya : Bangunan kecil bagi pemujaan terhadap Dewi Kwan Iem. Tetapi kenyataan istilah Kelenteng ini sudah luas dipakai jauh sebelum tempat pemujaan khusus Dewi Kwan Iem ini banyak dikenal orang di Indonesia. Serta sangat jarang kita jumpai Kelenteng-kelenteng kuno yang khusus untuk memuja Dewi Kwan Iem. (Bs. Buanadjaya, Riwayat Kelenteng, Vihara, Lithang, Penyusun Moerthiko).

Tempat ibadah yang paling kuno yang masih dipakai namanya adalah Miao (Bio, Bahasa Hokkian). Misalnya Kong Zi Miao (Khong Cu Bio), Wen Miao (Bun Bio). Menurut seorang tokoh yang banyak menyelidiki masalah ini, Alm. Zhang Lao Kho Yok Kay bahwa Kong Zi Miao adalah suatu bangunan Suci yang istimewa sekali, karena pada mulanya hanya pada pimpinan masyarakat sajalah yang "Berwenang" mendirikannya. Masyarakat Awam tidaklah berani sembarangan membangunnya.

Sedangkan bangunan Suci yang dibuat oleh masyarakat setempat adalah tempat-tempat Suci Para Suci (Shen Ming) atau Sin Meng yang tingkatannya dibawah seorang Nabi (Sheng Ren). Misalnya Miao/Bio bagi Kwan Di/Kwan Gong yang disebut Kwan Sing Bio. Artinya tempat kebaktian/penghormatan kepada Kwan Gong, seorang Suci pada jaman akhir Dynasti Han (Zhan Quo 403-321 SM) atau jaman perang Tiga Negera, yang terkenal gagah perkasa dan berbudi luhur serta tekun mengembangkan dan menjalankan Ajaran Suci Nabi Agung Khong Zi, terutama sifat Zhong dan Yi (Satya dan Adil Palamarta), karena beliau banyak mempelajari Wu Jing (Kitab Yang Lima) kitab yang mendasari keimanan Ajaran dan Peribadahan dalam Agama Khonghucu. Dan yang paling disenangi adalah Kitab Chun Qiu Jing, salah satu kitab yang ditulis oleh Nabi Agung Kong Zi.

Penyebutan Kelenteng sebagai tempat Suci membuktikan bahwa Kelenteng sudah cukup jelas dikenal Eksistensinya dan sudah berorientasi kepada lingkungan kebudayaan bangsa Indonesia, maka sepatutnya hakekat dari tempat Suci ini perlu dijaga kemurniannya.

Menilik atau merunut sejarah Kelenteng di Indonesia, pada masa tertentu, ada suatu pembelotan sejarah, dan hal ini tidak akan menguntungkan pihak manapun, terkecuali oknum yang bersangkutan. Sedangkan yang bisa diterima oleh oknum tersebut adalah Dosa Besar serta peniliaan masyarakat umum/publik sebagai suatu perbuatan melawan TIAN LI (suatu kebenaran berupa ketentuan-ketentuan hukum alam yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa).

Oleh karena itu, mudah-mudahan dikemudian hari sejarah Kelenteng yang telah dibelokkan dapat dikembalikan seperti semula, karena setiap manusia harus berusaha untuk mengolah batinnya dan memperbaiki sifat-sifat buruknya, agar dapat menjalani kehidupan selaras dengan TIAN LI.

Kelenteng yang sudah dikenal luas di Indonesia, tata upacaranya berlandaskan

Tata Agama Khonghucu, sebab segala peraturan dan perlengkapan sembayang yang ada didalamnya berpedoman kepada Tata Agama dan Tata Laksana Upacara yang ada didalam sebuah Kong Zi Miao/Khong Cu Bio dan Wen Miao/Bun Bio. Misalnya susunan meja sembayang, beberapa perlengkapan tempat penancapan dupa, lilin merah dan lain-lain. Hal ini disebabkan, tumbuhnya Kelenteng memang dilingkungan masyarakat yang memeluk Agama Khonghucu pada awal mulanya. (Bs. Buanadjaya, Riwayat Kelenteng, Vihara, Lithang, Penyusun Moerthiko).

Walaupun landasan ritual/ketataupacaraannya secara Agama Khonghucu, di dalam sebuah Kelenteng umumnya juga disediakan pula ruangan-ruangan penghormatan kepada para Buddis dan Toais disamping para Suci Confucianis sendiri. Hal ini disebabkan oleh adanya hubungan yang baik serta rasa toleransi yang besar di abad-abad yang lampau, diantaranya dapat dijelaskan sebagai berikut :

Agama Ru Jiao atau Agama Khonghucu sebagai Agama asal dan telah berumur hampir 5000 Tahun. Yaitu dari Nabi pertama yang bernama Fu Xie (2953-2838 SM) sampai pada Nabi terakhir yaitu Nabi Agung Kong Zi (551-479 SM), kemudian lahir Agama Taoisme dengan nama Nabi Lao Zi (604 SM) yang hidup sejaman dengan Nabi Agung Kong Zi, beliau menulis Kitab Dao De Jing (Kitab Suci Agama Taoisme), serta Agama Buddha dari India masuk ke Tiongkok (RRC) melalui Dua Puluh Delapan Kepala Keluarga Besar pada tahun 529 Masehi. (Huston Smith, Agama-agama Manusia, hal 165).

Dasar ajaran dari Nabi Agung Kong Zi adalah Jing Tian Zun Zu (menyembah atau mengagungkan Tuhan dan Menghormati Leluhur). Ketika umat khonghucu melaksanakan sembayang di Kelenteng, pertama-tama adalah mengambil posisi di depan Kelenteng dengan cara menyembah dan berdoa kepada TIAN, Tuhan Yang Maha Esa, menghadap Empat Penjuru yaitu Timur, Utara, Barat dan Selatan dengan makna bahwa WUJUD TUHAN TIADA SATU BENDAPUN YANG DAPAT MEWAKILINYA. Perwujudan ini dipertegas dalam Kitab Tengah Sempurna XV 1-5 dengan sabda Nabi Kong Zi yang berbunyi, "Sungguh Maha Besarlah Kebajikan Kwi Sien (Tuhan Yang Maha Rokh)", "Dilihat tidak nampak, didengar tidak terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia". "Demikianlah menjadikan manusia di dunia berkuasa, membersihkan hati dan mengenakan pakaian lengkap sujud bersembahyang kepadaNya. Sungguh Maha Besar Dia, terasakan diatas dan dikanan kiri kita". Di dalam kitab sanjak tertulis, "Adapun kenyataan Tuhan Yang Maha Rokh itu tidak boleh diperkirakan, lebih-lebih tidak dapat ditetapkan". "Maka sungguhlah jelas sifatNya yang halus itu, tidak dapat disembunyikan dari Iman kita, demikianlah Dia". Dan seterusnya penancapan dupa yaitu di bangunan TIAN GONG atau suatu bangunan yang ada di depan Kelenteng pada Hio Luo (wadah untuk menancapkan dupa). Selanjutnya baru masuk kedalam Kelenteng untuk menghormati para Suci (Shen Ming) atau Seng Meng secara berurut dari altar utama (ruang paling depan dari Kelenteng yang bersangkutan).

Jun Zu artinya menghormati leluhur. Zu (leluhur) dapat dikategorikan dalam dua golongan yaitu leluhur pada intern keluarga dan marga, misalnya garis keturunan bapak-ibu, kakek-nenek dan seterusnya sampai ketingkat nenek moyang yang pertama. Dan golongan leluhur pada ekstern keluarga yaitu para Nabi, para Suci (Shen Ming), orang-orang dahulu yang bijak dan lain sebagainya.

Di dalam Li Jing (Kitab berbagai Peraturan tentang Kesusilaan, Peribadatan dan Pemerintahan) disebutkan, "Kaisar-kaisar bijaksana harus dijunjung tinggi, orang-orang bijak yang membuat undang-undang untuk ketentraman rakyat harus dihormati, orang yang setia dalam menjalankan tugasnya harus dihormati, orang-orang yang membaktikan dirinya sepenuh hati pada negara harus dihormati, orang gagah dan cendekiawan yang mampu menolak dan menghindarkan rakyat banyak dari malapetaka harus dihormati ...........". Mereka semua adalah manusia biasa, tetapi apabila amal baktinya kepada TIAN/Tuhan sangat luar biasa, mereka akan menjadi Shen Ming/Para Suci. Karena Wan Wu Ben Yu Tian artinya semua makhluk berpokok dari TIAN, Tuhan Yang Maha Esa, dan wajib dihormati sebagai Shen Ming/Para Suci.





Penulis adalah Ketua Gemaku Kalbar dan Sekretaris MAKIN Pontianak
Reply With Quote
  #3 (permalink)  
Old 30-04-06, 11:31
kris forgive, thank, be happy
Penyebar Dharma
 
Join Date: Feb 2006
Posts: 1,040
kris is on a distinguished road
Default

Kris pikir sejarah KELENTENG. Itu mah sejarah KUIL or TEMPAT IBADAH, soalnya istilah KELENTENG cuma ada di Indonesia doang. Btw, thx banget infonya ya. Soalnya Kris cuma tau sekilas soal sejarah di atas.
Reply With Quote
  #4 (permalink)  
Old 05-05-07, 17:29
Bobby Chen's Avatar
Bobby Chen Ganti Statusnya Donk, CLICK di "Edit"
Anggota tetap
 
Join Date: Apr 2007
Location: Pondok Hijau Golf-Tangerang
Posts: 70
Bobby Chen is on a distinguished road
Send a message via ICQ to Bobby Chen Send a message via Yahoo to Bobby Chen
Default thanks

wah...infonya boleh juga, thanks yah
__________________
best regards.

Bobby Chen.
Reply With Quote
  #5 (permalink)  
Old 17-06-08, 16:03
xiang_ming Ganti Statusnya Donk, CLICK di "Edit"
Tidak baru lagi
 
Join Date: Jun 2008
Posts: 40
xiang_ming is on a distinguished road
Default asal mula klentheng

Info yang bagus dan obyektif

salam kebajikan
terimakasih
Reply With Quote
  #6 (permalink)  
Old 28-09-09, 22:48
chacha Ganti Statusnya Donk, CLICK di "Edit"
Baru bergabung
 
Join Date: Sep 2009
Posts: 1
chacha is on a distinguished road
Default tolong bantu jika berkenan

salam kenal semua.

saya chacha. saya mau tanya2 mengenai klenteng, karena sejujurnya saya mendapat tugas dari kampus. setelah search ke berbagai web tidak ada yg memuaskan. jadi mungkin saya bisa dapet semua ilmu dari ahlinya langsung, jika forum ini berkenan.
Pertanyaan
1. Makna luhur Klenteng sebagai tempat ibadat
2. Tradisi dan Budaya dalam Klenteng di berbagai daerah

jika tidak keberatan penjelasan dari pertanyaan saya bisa diemail ke tasya_4@hotmail.com

terima kasih
Reply With Quote
Reply

Bookmarks

Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On


Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
klasik: asal mula manusia Saddhatara Topik Umum 1 16-01-06 23:19


All times are GMT +7. The time now is 15:26.


Powered by vBulletin® Version 3.8.2
Copyright ©2000 - 2010, Jelsoft Enterprises Ltd.
Wihara.com 2004-2010 All rights reserved