PROF. Dr Ben Anderson bicara TENTANG Buddhis - Wihara.com - Forum Diskusi Agama Buddha
Wihara.com - Forum Diskusi Agama Buddha  

Go Back   Wihara.com - Forum Diskusi Agama Buddha > General Buddhism > Seputar Buddhisme


Nona/mas manis, join Wihara.com donk :D . Jangan jadi guest doank hehe :))
Reply
 
LinkBack Thread Tools Search this Thread Display Modes
  #1 (permalink)  
Old 07-06-05, 18:48
langitbiru`'s Avatar
langitbiru` Ganti Statusnya Donk, CLICK di "Edit"
Super Moderator
 
Join Date: Dec 2004
Posts: 1,319
langitbiru` is on a distinguished road
Default PROF. Dr Ben Anderson bicara TENTANG Buddhis

PROF. Dr Ben Anderson bicara TENTANG Buddhis

Bennedict Rog Anderson, atau yang lebih kita kenal dengan nama Ben
Anderson, adalah seorang professor ilmu politik di Cornell University,
juga merupakan pakar pengamat bidang sosial politik Indonesia. Ben
Anderson pulalah yang berhasil menemukan identitas penulis asli buku
“Tjamboek Berdoeri Indonesia Dalem Api dan Bara”, setelah melakukan
penelitian hampir sepanjang 40 tahun. Buku ini menceritakan pengalaman
penulisnya, alm. Kwee Thian Tjing, semasa tiga zaman: akhir kekuasaan
Hindia Belanda, penjajahan Jepang dan dua tahun gejolak revolusi
kemerdekaan Indonesia. Juga atas prakarsa Ben, maka buku karya salah
satu perintis penulis Tionghoa ini dicetak ulang dengan Kata Pengantar
dari Ben sendiri setebal 79 halaman.
Bagaimana pula pandangan Ben tentang Buddhisme? Ikuti hasil wawancara
team SD dengan Ben berikut di bawah ini.

Karakteristik Masyarakat Buddhis
Saya beberapa waktu lalu pernah berada di Burma dan beberapa kali
berkunjung ke Kamboja, tetapi negara atau kehidupan masyarakat Buddhis
yang sangat saya kenal adalah Muangthai.
Di Muangthai saya mengenal banyak teman Buddhis, mayoritas dari golongan
Theravada dan beberapa dari Mahayana. Bagi masyarakat di sana, Mahayana
dipandang sebagai aliran dari utara dan merupakan aliran bagi orang
Tionghoa, sehingga banyak masyarakat Thai yang menolaknya. Di sisi lain,
meskipun Burma merupakan musuh lama bagi negara Thailand (Muangthai),
tapi para bhikkhu Muangthai sering bolak-balik ke Myanmar (Burma) untuk
keperluan Dharma dan tidak ada masalah yang timbul karenanya. Hal yang
sama juga berlaku untuk negara Buddhis tetangganya, Kamboja.
Selama berada di Muangthai, saya dapat melihat adanya perbedaan karakter
masyarakat Buddhis di sana. Khusus di pedesaan, masyarakat Buddhis di
sana sangat taat pada bhikkhu, walau pada hari-hari tertentu masih
menghormati dewa-dewa Hindu dan didikte dalam hal pelestarian
ajaran leluhur mereka. Sesungguhnya yang berlaku di sana, selama
seseorang masih menggunakan bahasa Thai dan menghormati tradisi yang
ada, tentu tidak akan terjadi konflik. Namun beberapa waktu yang lalu
sempat terletup konflik bahkan perang di Thailand Selatan. Tetapi adalah
bohong jika hal tersebut dikatakan konflik agama. Kenyataan yang terjadi
adalah konflik antara bangsa Thai dengan etnis minoritas Melayu di
Thailand Selatan.
Sedangkan bagi kalangan di kelas menengah, yang lebih matre, Buddhisme
lebih dipandang sebagai kebutuhan yang perlu dipamerkan dan perlu
dikawal perkembangan-nya. Buddhisme semacam ini lebih bersifat hirarkis
dengan Sangha sebagai motornya. Bagi masyarakat Thai, mereka tidak
terlalu respek dengan gaya para bhikkhu dari aliran ini yang bergaya
hidup modern. Justru masyarakat di sini, utamanya di pedalaman, sangat
menaruh hormat kepada para bhikkhu pengembara, yang terus menerus
berjalan dari satu tempat ke tempat lain dan senantiasa mempraktikkan
Dharma. Bhikkhu seperti ini dipandang lebih suci.
Tak heran apabila masyarakat Buddha Thailand lebih mengenal nama para
bhikkhu yang dipandang suci dibanding menghafal nama para bhikkhu yang
duduk di Sangha.

Bhikkhu dan Bhikkhuni
Jauh sebelum kedatangan bangsa barat (1900-an), pendidikan di Muangthai
hanya otoritas bagi kaum aristokrat dan bangsawan. Sedang rakyat
kebanyakan mendapatkan pendidikan dari vihara dan para bhikkhu, sehingga
setiap keluarga miskin berbondong-bondong mengirim anak-anaknya untuk
dididik di temple-temple.
Proses ini kemudian sedikit berubah dengan kedatangan bangsa Barat dan
modernitas. Kedua hal ini menghasilkan kelas sosial baru, yakni golongan
menengah. Dari sinilah sedikit demi sedikit, kalangan menengah tidak
lagi mengirimkan anaknya ke vihara. Mereka mengalihkan pendidikan
putra-putrinya ke sekolah (ala barat) hingga universitas. Hasil
pendidikan di lembaga formal ini tertampak jelas sehingga mampu mengisi
pos-pos kerja yang dibutuhkan oleh negara.
Gejala di atas dengan sendirinya menggoyahkan pandangan lama dalam
masyarakat Thai, bahwa “setiap laki-laki harus menjadi bhikkhu”. Kini
asumsi tersebut bergeser. Tidak lagi harus menjadi bhikkhu, melainkan
ada satu fase dimana para lelaki di Thai harus mengikuti suatu latihan
menjadi bhikkhu sementara selama 2-3 bulan. Pelatihan semacam ini
kerapkali dilakukan pria Thai di desa-desa. Khususnya tatkala mereka
merasa jenuh dengan kehidupan ini dan dalam masa liburan. Tapi bagi
masyarakat kelas menengah, kegiatan ini dianggap hanya membuang waktu.
Secara umum, mengirim anak-anak sejak usia dini untuk dididik di vihara
hingga saat ini masih tetap bertahan di Muangthai. Di setiap temple kita
akan dengan mudah menjumpai bhikkhu-bhikkhu imut yang lucu-lucu. Dalam
kehidupan sehari-hari, hubungan masyarakat Muangthai dengan Buddhisme
sangat dekat sekali, khususnya bagi kaum pria. Bagaimana pula dengan
kaum wanitanya?
Umumnya negara Buddhis yang menganut aliran Theravada secara tegas
menolak kehadiran bhikkhuni, kaum agamawan Buddhis wanita, dengan
pertimbangan telah terputusnya garis koordinasi dari Sangha Bhikkhuni
yang dibentuk langsung oleh Buddha Gautama. Bila dirujuk lebih jauh,
permasalahan ini sebenarnya lebih merupakan soal koordinasi dan kultur.
Hal ini bisa kita lihat di Srilanka. Srilanka juga merupakan negara
Buddhis Theravada, di sana telah bermunculan beberapa tokoh wanita yang
mampu mengkoordinasi keinginan kaumnya untuk menjalani kehidupan suci.
Akhirnya, beberapa waktu kemudian bermunculan para bhikkhuni di sana.
Dalih bahwa Sangha Bhikkhuni tidak ada lagi karena alasan terputusnya
garis hirarki hanyalah dalih dan pandangan ini hanya berkutat di
lingkungan vihara saja. Saya yakin, dalih ini akan berubah dalam
pemikiran masyarakat luas. Lambat tahun masyarakat akan secara terbuka
menerima kehadiran Sangha Bhikkhuni.
Untuk mendalami Buddha Dharma, apakah seorang wanita harus menikah
dengan bhikkhu? Tentu hal ini akan pandang buruk oleh masyarakat.
Tetapi, jika ada seorang wanita yang ingin menjalani kehidupan suci
dengan cara menjadi bhikkhuni, tentu tindakan ini masih bisa diterima
oleh masyarakat Buddhis pada umumnya.
Berdasarkan analogi di atas, saya yakin proses ke arah tersebut akan
terjadi di masyarakat. Sekali lagi, saya yakin hal itu bisa terjadi.

Buddhisme di Dunia dan Indonesia
Dalam pandangan Prof. Ben Anderson, agama Buddha sifatnya tidak
ekslusif, pun tidak bersifat dogmatis (harus begini), bersifat luwes,
tidak banyak aturan bertele-tele, tidak mengajarkan untuk menang
sendiri, menonjolkan sifat damai serta mengajarkan bahwa dunia itu maya
sehingga dalam hidup yang berulang-ulang ini berusahalah untuk menjadi
lebih baik. Semua itu adalah kelebihan dari agama Buddha yang dewasa ini
menarik bagi banyak kalangan, termasuk di Barat.
Masyarakat Barat bingung terhadap masalah mereka sendiri dan tidak
percaya lagi kepada lembaga hirarkis. Mereka dibuat stress oleh
kehidupan modern, mereka merasa lelah untuk berpikir. Kondisi ini
menyebabkan mereka lari ke sini dan ke sana untuk mencari arti kehidupan
yang sebenarnya. Akhirnya mereka kembali pada ajaran filsafat-filsafat
kuno. Di antara ajaran filsafat yang mampu menenangkan jiwa mereka
adalah Buddha Dharma. Terlebih di era tahun 70-an dan 80-an, buku-buku
tentang Buddhisme bermunculan di Barat. Sejak saat itulah ajaran Buddha
mulai dikenal, diikuti bahkan digandrungi oleh masyarakat Barat, yang
notabene identik dengan modernitas dan logika. Hingga saat ini sudah
ribuan orang Barat yang memeluk agama Buddha. Dibandingkan dengan bangsa
Indonesia, sebetulnya masyarakat Indonesia lebih beruntung karena nenek
moyangnya sejak dulu telah mengenal ajaran luhur Sakyamuni Buddha, walau
sejarahnya sempat terputus.
Mengenai kondisi masyarakat Buddhis Indonesia saat ini, Professor satu
ini dengan rendah hati merasa belum tahu banyak. Meski begitu, beliau
berharap dengan diakuinya Buddha sebagai sebagai salah satu agama resmi
di Indonesia, maka diharapkan untuk dapat lebih dikembangkan, walaupun
untuk itu tantangan yang dihadapi dapat dipastikan makin keras. Prof.
Ben berharap pula supaya umat Buddha lebih intensif menjalin hubungan
dengan negara dan masyarakat Buddhis internasional agar ajaran luhur
tersebut tetap terpelihara dengan baik.

Sumber:
Sinar Dharma 09 Waisak 2549BE/2005
Reply With Quote
Reply

Bookmarks

Thread Tools Search this Thread
Search this Thread:

Advanced Search
Display Modes

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On


Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
Info Buku Buddhis langitbiru` Seputar Buddhisme 0 29-04-05 11:37
Pendekatan Buddhis Terhadap Pembangunan Sosial dan Ekonomi langitbiru` Seputar Buddhisme 1 05-03-05 15:22


All times are GMT +7. The time now is 07:46.


Powered by vBulletin® Version 3.8.2
Copyright ©2000 - 2010, Jelsoft Enterprises Ltd.
Wihara.com 2004-2010 All rights reserved