Bingung ? Ke Jalan2.com Aja !
Page 2 of 5 FirstFirst 1234 ... LastLast
Results 21 to 40 of 82

Gambar dan Biografi Singkat Dewa Dewi Taoisme

Han Tan Kong atau Hian Tan Kong adalah salah satu penitisan dari dewata bintang harta(cay

  1. #21
    Bobby Chen's Avatar
    Bobby Chen is offline Anggota tetap
    Join Date
    Apr 2007
    Location
    Pondok Hijau Golf-Tangerang
    Posts
    70
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default Han tan kong

    Bosen ?? Ke Jalan2.com Aja Skrg !
    Han Tan Kong atau Hian Tan Kong adalah salah satu penitisan dari dewata bintang harta(cay pek seng kun) kekuasaanya memberkahkan rezeki kepada umatnya. sepanjang sejarah Tiongkok yang berabad-abad lamanya kita mengenal beberapa Cay Sin(dewa harta). Misalnya Bu Cay Sin, Koan Kong, Thou te Kong,Sek cong ,ciau cay ong,Lau hay,Ngo Lou Cay Sin dan lain-lain. Han Tan Kong adalah Bu Cay Sin, dewata harta yang berpakaian militer.

    dalam kisah Hong Sin Yan Gi(Penganugerahan Malaikat), diceritakan bahwa sebelum menjadi abadi beliau hidup di zaman dinasti Ciu(1122-249SM). asalnya bermarga Tio(bukan Thio) dan bernama Kong Beng. beliau pernah bekerja sebagai pengawal seorang hartawan. sering bertindak sewenang-wenang. setelah mengalami kejadian yang menyentuh hatinya. ia pun meninggalkan kehidupan duniawinya dan menjadi pertapa.kesaktiannya jarang ada bandingannya. bahkan Kiang Thay Kong(Kiang Tju Ge) sendiri pun tak mampu menghadapinya.

    perwujudannya yang umum adalah dengan menunggang harimau hitam(hek Hou) memegang ruyung dan tangan yang satu lagi memegang Goan Po(Emas lantakan). beliau juga dikenal dengan gelar Kim Liong Ji I Ceng It Liong Hou Hian Tan Cin Kun atau singkatnya Ceng It Thian Kun.

    (original post @ www.suhuliem.tk)
    best regards.

    Bobby Chen.

  2. #22
    Satya's Avatar
    Satya is offline Siswa Sang Buddha
    Join Date
    Apr 2007
    Location
    Jakarta, Indonesia, Indonesia
    Posts
    391
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Han Tan Kong? Maksudnya yg ini?
    Attached Files Attached Files

  3. #23
    yeyex is offline Senior
    Join Date
    Dec 2007
    Location
    Jakarta
    Posts
    153
    Thanks
    12
    Thanked 6 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Quote Originally Posted by Satya View Post


    Dewa Dapur biasanya hanya ditampilkan dengan papan nama yang bertuliskan "Teng Hok Sien Ci" atau "Teng Hok Sing Kun". Sngat jarang menemukan Altar Dewa dapur dengan Pratima(Arca/Patung) maupun Gambar. Saya hanya melihatnya di 3 tempat, yaitu:
    - Xin De Miao(Sin tek Bio) di Pasar Baru, Jakarta pusat (Berupa Gambar)
    - Xian Thian Shang DI Miao (Hian Tian Siang Tee Bio/ Kelenteng Hian Tian
    Siang Tee) di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat (Berupa Pratima/Patung)
    - Tek Hay Kiong di Tegal, Jawa Tengah (Berupa Patung)

    Demikian sekilas yang Saya ketahui Tentang Dewa Dapur. Saya mohon Tambahan dan Koreksinya, bila ada kekurangan dan kesalahan. Terima Kasih.
    wah kayaknya di rumah alm. kakek saya ada tuh pratimanya. diletakkan di dapur, tapi entah bener ga ya

  4. #24
    pengikut_Yang_Bijaksana is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    Jul 2008
    Posts
    864
    Thanks
    0
    Thanked 5 Times in 4 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    apa cerita dari dewa macan putih, seng ong ya, dan dewa yang ada bulan bintang

  5. #25
    Join Date
    Oct 2007
    Location
    Jakarta Indonesia
    Posts
    183
    Thanks
    0
    Thanked 10 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default seng hong ya

    Seng Hong Ya - Dewa Pelindung Kota


    Di dalam hati rakyat banyak, Seng Hong Ya adalah pejabat pengadilan di akhirat (alam baka), yang bisa mengisi kelemahan pengadilan di dunia, sehingga Seng Hong Ya sangat dihormati di kalangan rakyat jelata. Kepercayaan kepada Seng Hong Ya berasal dari pemujaan terhadap terhadap 水庸神 Shui Yong Shen (Dewa Pengawas Saluran Air), yaitu salah satu dari Ba Zha Shen (Dewa Palawija yang terdiri dari 8 Dewata).

    Dalam kepercayaan di kalangan rakyat Tionghoa, Seng Hong Ya adalah satu-satunya Dewa yang memiliki perbedaan tingkatan (kelas). Yang mengepalai seluruh negeri disebut 天下都城隍 Tian Xia Dou Cheng Huang. Yang mengurus sebuah propinsi disebut 都城隍 Dou Cheng Huang. Yang mengurus sebuah karesiden adalah 府城隍 Fu Cheng Huang.

    城隍爺 Cheng Huang Ye {Hok Kian = Seng Hong Ya} adalah Dewa Pelindung Kota. Secara harfiah Cheng Huang berarti parit pelindung benteng kota ( 城 Cheng = tembok kota. 隍 Huang = parit yang kering di luar tembok kota ).
    Upacara sembahyang untuk menghormati Ba Zha Shen dimulai oleh Kaisar 堯Yao [2357 SM – 2258 SM]. Shui Yong Shen sebagai salah satu dari Ba Zha Shen menduduki tempat penting di antara kedelapan dewa itu. Lama-kelamaan arti saluran air diperluas meliputi saluran atau parit pelindung benteng yang disebut Cheng Huang.

    Pada zaman 三國 San Guo { Hok Kian = Sam Kok } [221 M – 265 M] di negeri Wu {Hok Kian = Gouw }, Cheng Huang mulai dihormati tersendiri, terlepas dari Ba Zha Shen. Pada tahun 239 M didirikan kelenteng 城隍廟 Cheng Huang Miao {Seng Hong Bio}, yaitu Kelenteng Seng Hong Ya yang pertama.

    Pada masa dinasti 唐 Tang [618 M – 907 M] di tiap ibukota propinsi mulai banyak didirikan kelenteng untuk menghormati Seng Hong. Sejak itu Seng Hong secara resmi menjadi Dewa Pelindung Kota, dengan panggilan yang umum Cheng Huang Lao Ye {Seng Hong Lo Ya} atau Cheng Huang Ye {Seng Hong Ya}.

    Setelah 明太祖 Ming Tai Zu {Beng Thai Cou} – 朱元璋 Zhu Yuan Zhang Kaisar pertama Dinasti Ming berkuasa, dia lalu mengangkat Cheng Huang di ibukota Negara (waktu itu di Nan Jing) sebagai Tian Xia Dou Cheng Huang yang berarti Dewa Pelindung Ibukota Negara dengan gelar Ming Ling Wang. Lalu, semua Cheng Huang dari tiap ibukota propinsi diangkat sebagai Du Cheng Huang yang berarti Dewa Pelindung Ibukota. Kemudian Cheng Huang dari tiap ibukota karesidenan dianugerahi gelar Wei Ling Gong. Sedangkan pada tingkat kabupaten dianugerahi gelar Ling Ying Hou dan pada tingkat kecamatan diberi gelar Xian You Bo. Oleh karena ini Cheng Huang Ye menjadi memiliki corak kedaerahan yang khas.

    Pada masa Kaisar Ming Tai Zu ini, kelenteng-kelenteng untuk menghormati Seng Hong Ya di Tiongkok, bentuknya menyerupai kantor pejabat pemerintah & tingkat kepangkatannya pun mengikuti urutan kepangkatan pejabat pemerintah.

    Pada masa Dinasti 清 Qing [ 1644 - 1911 ] setiap kantor pemerintah baik sipil maupun militer, diharuskan membangun sebuah kelenteng untuk memuja Cheng Huang di dekatnya, sebagai lambang Yang (pemerintahan yang nyata, kantor pemerintah) dan Yin (pemerintahan oleh roh, yang berwujud klenteng Cheng Huang). Para pejabat yang bertugas di situ diwajibkan bersembahyang setiap Ce It & Cap Go (tgl 1 & 15 penanggalan Imlek) di klenteng Cheng Huang tersebut, sebagai penghormatan kepada penguasa dari alam baka itu.

    Rakyat banyak percaya bahwa orang yang telah meninggal dunia, arwahnya akan dibawa ke hadapan Seng Hong Ya untuk diperiksa, lalu diputuskan akan masuk surga atau ke neraka. Seng Hong Ya memiliki banyak anak buah, di antaranya adalah 文武判官 Wen Wu Pan Guan {Bun Bu Pwan Kwan} yaitu jaksa sipil & militer, 牛頭馬面 Niu Tou Ma Mian {Gu Thou Be Bin} yaitu Si Kepala Sapi & Si Muka Kuda, Qi Ye Ba Ye atau disebut juga 大爺二爺 Da Ye Er Ye lalu ada lagi 24 pejabat yang disebut Er Shi Si Si {Ji Cap Si Su}.

    Seng Hong Ya adalah penguasa dari alam baka namun kekuasaannya juga termasuk di dunia fana. Beliau dipuja sebagai contoh pejabat tinggi yang jujur dan ideal. Bila ada dua belah pihak yang saling berselisih, mereka akan pergi ke Kelenteng Seng Hong Bio untuk saling bersumpah. Pada peringatan hari ulang tahunnya diadakan upacara Gotong Toa Pe Kong dengan thema Seng Hong Ya menginspeksi rakyatnya.

    Ada beberapa kelenteng Cheng Huang yang bersambung langsung dengan Dong Yue Miao (kelenteng tempat pemujaan Dong Yue Da Di, Dewata Penguasa Pegunungan Timur). Di samping Dong Yue Da Di, dipahatkan 10 Raja Akhirat dan 18 tingkat Neraka. Ini menggambarkan bahwa di akhirat pun ada urutan pemeriksaan. Setelah diperiksa secara teliti di tempat Cheng Huang, roh akan dibawa ke hadapan Dong Yue Da Di, dan diteruskan ke tempat Raja Neraka, Yan Luo Wang { Hok Kian = Giam Lo Ong } untuk dijebloskan ke Neraka.

    Kepercayaan kepada Seng Hong Ya tersebar secara turun-temurun di kalangan rakyat. Orang-orang percaya bahwa para pahlawan yang telah gugur, orang-orang yang bajik atau telah berjasa bagi masyarakat, akan diangkat menjadi Seng Hong Ya. Oleh karena ini, di berbagai kota Seng Hong Ya yang dihormati tidak sama. Misalnya di kota Hang Zhou, ibukota propinsi Zhe Jiang, tokoh yang dianggap Seng Hong Ya adalah Zhou Xin. Zhou Xin adalah gambaran seorang pejabat pengadilan yang jujur & tegas dalam usahanya menegakkan keadilan, tidak bisa disuap & tidak takut digertak, bahkan oleh orang yang amat berkuasa sekalipun. Di kota Gun Ming, ibukota propinsi Yun Nan, yang diangkat sebagai Seng Hong Ya adalah Yu Qian, seorang tokoh pada zaman Dinasti Ming yang pernah menjadi perdana menteri.

    Suasana Kelenteng Cheng Huang biasanya berwibawa. Ada papan besar yang bertuliskan kata-kata : Anda juga akan kemari kalau harinya tiba. Ada pula yang dilengkapi dengan sempoa – abakus (alat hitung) besar, yang menyatakan bahwa para malaikat di sini adalah lurus, tidak bisa disuap. Apa yang anda perbuat selama kehidupan di dunia, akan diperhitungkan dengan teliti.

    Kelenteng untuk pemujaan Cheng Huang Ye merupakan salah satu kelenteng yang paling besar dan tersebar luas di Tiongkok. Hampir di tiap kota besar atau kecil terdapat Cheng Huang Miao.

    Di Tainan, Taiwan terdapat 3 buah Cheng Huang Miao. Kota-kota di Asia Tenggara juga banyak kelenteng yang memuja Cheng Huang Ye. Antara lain di Singapura, pemujaan terhadap Cheng Huang Ye terdapat di Kelenteng Hong San Si di Sultan Muhammad Road.

    Demikianlah asal mula sembahyang kepada Seng Hong Ya sudah dimulai sejak lebih dari 4.300 tahun yang lalu !!!


    tks
    OM MANI PADMA HUM
    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
    Maha Prajna Paramitha Hydrayam samatha

  6. #26
    Join Date
    Oct 2007
    Location
    Jakarta Indonesia
    Posts
    183
    Thanks
    0
    Thanked 10 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Da Ye Er Ye - Dewa Jangkung dan Pendek


    di vihara ada arca dewa yang bentuknya agak aneh; 1 tinggi 1 pendek. Arca dewa yang satu terlihat pucat & kurus, mata yang menonjol dengan lidah yang terjulur ke luar, memakai topi kertas panjang yang bertuliskan 一見大吉 Yi Jian Da Ji, yang berarti Sekali bertemu akan mendapat keberuntungan. Arca dewa yang satu lagi agak kecil & pendek, hidung pesek dengan bibir yang tebal, tangan kanan memegang kipas, tangan kiri memegang lempengan bertuliskan 善惡分明 Shan E Fen Ming, yang berarti Membedakan dengan jelas baik & jahat.

    Kedua dewa ini adalah 七爺八爺 Qi Ye Ba Ye (Kakek ke-7 & Kakek ke-8) yang diketahui oleh banyak orang. Di kalangan rakyat juga terkenal dengan sebutan 高仔爺 Gao Zi Ye (Dewa Cermat yang Jangkung) & 矮仔爺 Ai Zi Ye (Dewa Cermat yang Pendek). Di Jakarta mereka berdua populer dengan sebutan 大爺二爺 Da Ye Er Ye (Kakek Tertua & Kakek Kedua).

    Da Ye Er Ye adalah bawahan pejabat kehakiman alam akhirat yaitu 閻羅王 Yan Luo Wang {Hok Kian = Giam Lo Ong = Raja Yama}. Da Ye Er Ye bertugas secara khusus mengawasi perbuatan baik buruk manusia di dunia.

    Da Ye adalah Jendral 謝必安 Xie Bi An, sedangkan Er Ye adalah Jendral 范無救 Fan Wu Jiu. Asal usul mereka adalah sebagai berikut:

    Jendral Xie Bi An & Jendral Fan Wu Jiu hidup pada masa Dinasti Tang [618 – 907 M]. Pada saat pemberontakan An Lu Shan, pihak musuh melancarkan serangan mendadak ke kota Chang An. Kaisar Tang Ming melarikan diri sampai ke Propinsi Xi Chuan Barat. Tentara musuh mengepung sampai ke kota Sui Yang. Penjaga kota Sui Yang yaitu Xu Yuan & Zhang Xun berusaha mempertahankan benteng kota dengan sekuat tenaga. Pemberontakan An Lu Shan berlangsung lama. Zhang Xun mengutus kedua Jendral Xie Bi An & Jendral Fan Wu Jiu keluar benteng kota untuk meminta bala bantuan.

    Jendral Xie Bi An dengan postur tubuh yang tinggi (kira-kira 3,33 meter) & kaki yang panjang dengan derap langkah yang lebih cepat, bertemu musuh terlebih dulu & kemudian tertangkap. Oleh pihak musuh Jendral Xie Bi An digantung di atas tembok kota. Jendral Fan Wu Jiu melihat dari jauh Jendral Xie Bi An telah mati digantung di atas tembok kota, lalu bersembunyi di tepi sungai. Tanpa terduga, karena tidak hati-hati ia terjatuh ke sungai & akhirnya mati tenggelam.

    Kedua Jendral tersebut tidak bisa menembus pengepungan musuh yang ketat. Akhirnya kota Sui Yang jatuh ke tangan musuh karena para prajurit yang telah letih & kehabisan ransum. Kedua Jendral Xie & Fan mati demi membela Negara, kemudian dianugerahi gelar sebagai Jendral Pelindung.

    Konon, jika bertemu Da Ye yang sedang pergi berwisata, asal saja orang tersebut sudi berlutut, berterima kasih & memohon rezeki, pasti akan mendapat berkah & perlindungan. Maka beliau disebut juga sebagai 一見大吉謝必安 Yi Jian Da Ji – Xie Bi An, yang berarti Sekali Bertemu akan mendapat kemujuran besar & pasti selamat – Xie Bi An.

    Tapi jika bertemu Er Ye yang sedang tugas berpatroli, wah itu celaka tiga belas ! Berarti akan menghadapi kemalangan/kesialan, tamatlah riwayat orang tersebut, sehingga Er Ye disebut juga sebagai 范無救 Fan Wu Jiu, yang berarti Tuan Fan yang tidak tertolong lagi.

    Hari Se Jit (ulang tahun) Da Ye Er Ye diperingati setiap tanggal 13 bulan 2 Imlek.



    tks
    OM MANI PADMA HUM
    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
    Maha Prajna Paramitha Hydrayam samatha

  7. #27
    pengikut_Yang_Bijaksana is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    Jul 2008
    Posts
    864
    Thanks
    0
    Thanked 5 Times in 4 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    thx bro
    lalu bagaimana dengan dewa macan putih?

  8. #28
    pengikut_Yang_Bijaksana is offline Siswa Senior Sang Buddha
    Join Date
    Jul 2008
    Posts
    864
    Thanks
    0
    Thanked 5 Times in 4 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    sori ya paramita boleh tidak saya memposting postingan kamu, kayanya banyak yang orang yang berminat untuk mengetahuinya juga
    agar sekiranya pengetahuan kita tentang leluhur dan dewa semakin bertambah

  9. #29
    Join Date
    Oct 2007
    Location
    Jakarta Indonesia
    Posts
    183
    Thanks
    0
    Thanked 10 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    dear pengikut yang bijaksana,

    boleh saja postingan saya di beritahukan ke orang banyak. supaya mereka mengerti dan mempunya pengetahuan yang lebih.

    tks
    OM MANI PADMA HUM
    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
    Maha Prajna Paramitha Hydrayam samatha

  10. #30
    Join Date
    Oct 2007
    Location
    Jakarta Indonesia
    Posts
    183
    Thanks
    0
    Thanked 10 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Thai Yin Niang – Dewi Bulan

    Hari Raya Zhong Qiu {Hok Kian = Tiong Ciu} yang diperingati setiap tahun pada bulan 8 tanggal 15 Imlek {Peh Gwe Cap Go}, dianggap sebagai hari lahirnya Dewi Bulan. Umumnya rakyat bersembahyang dengan menyediakan sebuah meja kecil di halaman rumah pada saat bulan purnama, dengan menyajikan buah-buahan, bunga segar & tak lupa kue bulan.

    Pemujaan terhadap matahari & bulan telah ada sejak zaman purba, & tidak hanya dilakukan oleh bangsa Tiongkok saja. Pemujaan ini termasuk pemujaan kenegaraan di mana para pegawai kerajaan bersujud & menyediakan sesaji ke hadapan Dewa Matahari. Sedangkan pemujaan terhadap Dewi Bulan diadakan bertepatan dengan pesta panen saat bulan purnamanya, yaitu bulan 8 tanggal 15 Imlek. Pada saat ini biasanya orang-orang bersama keluarganya menyalakan Hio & bersujud kepada Dewi Bulan di halaman rumah mereka.

    日神 Ri Shen {Jit Sin}, Dewa Matahari dikenal juga dengan nama 太陽帝君 Tai Yang Di Jun (disingkat 太陽公 Tai Yang Gong). 月神 Yue Shen {Gwat Sin} Dewi Bulan sering disebut juga 太陰皇金 Tai Yin Huang Jin (太陰娘 Tai Yin Niang) atau 月府嫦娥 Yue Fu Chang E (Chang E dari Istana Bulan).

    Tai Yang Di Jun yang terkenal dengan nama Hou Yi adalah seorang pemanah ulung. Dikisahkan pada masa itu adalah tahun XII pemerintahan Kaisar Yao (2346 SM). Bencana besar sedang menimpa negerinya, kekeringan menghancurkan seluruh lahan pertanian sehingga kelaparan terjadi di mana-mana. Malapetaka itu disebabkan karena ada 10 matahari yang muncul bersama-sama di angkasa. Konon ke-10 matahari tersebut adalah putra-putri Dong Hua Di Zun {Tong Hua Tek Kun}, yaitu Dewa Penguasa Langit Timur.

    Karena tidak dapat mentolelir lagi ulah putra-putrinya, & juga karena doa-doa permohonan yang terus menerus dilakukan oleh Kaisar Yao, Dong Hua Di Jun merasa perlu bertindak untuk menghentikan perbuatan mereka. Ia lalu memanggil Hou Yi, seorang malaikat sakti, untuk turun ke dunia. Tapi ia berpesan supaya putra-putranya itu diberi pelajaran saja, jangan sampai dibunuh. Hou Yi lalu turun ke dunia bersama istrinya, Chang E {Siang Go}, seorang dewi yang cantik jelita.

    Hou Yi lalu menemui Kaisar Yao. Melihat keadaan dunia yang kacau pada waktu itu, Hou Yi sangat marah. Tanpa menghiraukan pesan Dong Hua Di Jun, dipanahnya matahari itu satu per satu, & akhirnya hanya tinggal satu saja. Melihat Hou Yi tidak menuruti perintahnya, Dong Hua Di Jun merasa kesal. Sejak itu Hou Yi tidak bisa kembali ke langit lagi. Walaupun demikian Hou Yi masih terus melanjutkan usahanya menyelamatkan rakyat dari malapetaka dengan membasmi berbagai macam binatang buas & aneh yang mengganggu rakyat. Karena kegagahan & keberaniannya ini, menjadikan Hou Yi dipuja sebagai pahlawan.

    Chang E karena perbuatan Hou Yi ini, tidak dapat kembali ke langit untuk menjadi Dewi. Ia menjadi amat kesal. Sejak itu hubungannya dengan Hou Yi menjadi dingin & renggang.

    Pada suatu hari Hou Yi pergi ke Gunung Kun Lun Shan menemui Xi Wang Mu (Dewi Penguasa Langit Barat) untuk meminta obat hidup abadi. Xi Wang Mu mengabulkan permintaannya. Hou Yi amat gembira, sebab dengan obat tersebut ia berkesempatan untuk menjadi dewa lagi.

    Pada suatu hari sewaktu Hou Yi tidak ada di rumah, Chang E melihat seberkas sinar putih yang menyorot turun dari sebuah tiang penyangga atap, bersamaan dengan itu bau harum semerbak memenuhi ruangan. Dengan tangga, dicarinya sumber cahaya & bau harum tersebut. Chang E menemukan obat hidup abadi yang disimpan Hou Yi. Tanpa pikir panjang ditelannya obat itu. Lalu ia merasa badannya menjadi ringan dan dapat melayang di angkasa. Malam itu bulan bersinar amat terang. Chang E terus terbang melayang kearah bulan tersebut, dan tinggal di sana.

    Istana rembulan di luar dugaan Chang E, ternyata sangat sunyi. Di sana hanya ada seekor kelinci yang tak pernah berhenti menumbuk obat di lumpang & sebatang pohon kayu manis. Chang E amat kesepian, tapi ia tak bisa turun ke dunia & bertemu suaminya lagi. Ia merasa menyesal & mulai mengenang kebaikan suaminya. Chang E tinggal selamanya di bulan & menjadi lambang Yin (unsur negatif / wanita).

    Hou Yi ketika menyadari bahwa obat kekal abadinya telah dicuri istrinya, lalu mengejar ke angkasa. Tapi angin topan membawanya terhampar di atas sebuah gunung. Di puncak gunung itu terdapat sebuah istana yang dihuni Dong Wang Gong (Dong Hua Di Jun). “Tak usah kau resah. Sekarang istrimu telah menjadi dewi di bulan. & kamu sendiri karena kegagahan & keberanianmu pantas untuk menjadi dewa. Untukmu telah disiapkan sebuah istana di matahari untuk menjadi tempat tinggalmu. Sejak sekarang Yang & Yin akan bersatu selamanya”, kata Dong Wang Gong. Lalu ia memberi sebuah kue & sebuah jimat yang bisa menyebabkan Hou Yi tahan terhadap dinginnya bulan bila datang mengunjungi Chang E.

    Di bulan, ia melihat Chang E sedang termenung kesepian. Hou Yi mengatakan bahwa ia tidak akan mempersoalkan masalah pencurian obat, karena keduanya sekarang sudah menjadi dewa. Di bulan, Hou Yi mendirikan sebuah Istana Guang Han Gong (Istana Kesejukan Abadi) untuk tempat tinggal Chang E.

    Sejak itulah Dewa Matahari & Dewi Bulan mempunyai wilayah masing-masing.

    Kaisar Yao kemudian mengangkat Hou Yi menjadi Zhong Bu Shen, yaitu Malaikat yang bertugas menghindarkan penduduk dari bencana alam & musibah lain. Lama-kelamaan Zhong Bu Shen dianggap pelindung rumah tangga & mampu menguasai roh-roh jahat & menolak bala. Gambarnya dipasang di rumah-rumah penduduk. Jadi Hou Yi dianggap sebagai Tai Yang Gong (Dewa Matahari), juga disebut sebagai Zhong Bu Shen. Sedangkan Chang E disebut sebagai Tai Yin Niang (Dewi Bulan).

    Hari ulang tahun Tai Yang Gong diperingati setiap tanggal 19 bulan 3 Imlek. Sinar matahari dianggap sebagai lambang Ming (terang) & panasnya dianggap sebagai lambang Zhu (merah). Dengan memuja Tai Yang Gong berarti rakyat tetap mengenang Dinasti Ming dengan Kaisarnya dari keluarga Zhu.

    Pemujaan terhadap bulan & matahari ini hanyalah sebagai penghormatan terhadap keduanya, jarang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar. Umumnya orang-orang menghadap ke arah matahari & bulan pada saat bersembahyang, jarang ada kelenteng yang didirikan untuk mereka.

    Di Tainan (Taiwan Selatan) hanya ada sebuah kelenteng yang terdapat arca Dewa Matahari & Dewi Rembulan, yaitu di Kelenteng San Guan Tang. Di Singapura, di Kelenteng Giok Hong Tian terdapat arca Tai Yang Gong & Tai Yin Niang yang diletakkan di sisi kanan & kiri altar utama Yu Huang Da Di. Di kelenteng Guan Yin Tang, Jl. Telok Blangah Drive, Singapura, juga terdapat arca Tai Yang Gong & Tai Yin Niang.
    OM MANI PADMA HUM
    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
    Maha Prajna Paramitha Hydrayam samatha

  11. #31
    Join Date
    Oct 2007
    Location
    Jakarta Indonesia
    Posts
    183
    Thanks
    0
    Thanked 10 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Kwan Kong - Bodhisatva Satyakalama


    關聖帝君 Guan Sheng Di Jun {Hok Kian = Kwan Seng Tek Kun} atau yang lebih dikenal sebagai 關公 Guan Gong {Kwan Kong} adalah seorang Jenderal terkenal yang hidup pada zaman Tiga Negara (Sam Kok, 165 – 219 M). Beliau lahir di He Dong (sekarang Jie Zhou), propinsi Shan Xi, dan bernama asli 關羽 Guan Yu alias Guan Yin Zhang.

    Kwan Kong telah mencapai kesempurnaan dengan gelar Bodhisatva Satyakalama, Guan Sheng Di Jun (Kwan Seng Tek Kun). Dalam agama Buddha, gelar Di Jun {Tek Kun} adalah setingkat dengan Bodhisatva. Bodhisatva pria biasanya bergelar Di Jun. Sedangkan Bodhisatva wanita bergelar Pho Sat. Kwan Kong juga bergelar Fu Mo Da Di (Bodhisatva Penakluk Mara), Guan Fa Li Zu (Bodhisatva Penegak Hukum). Ada umat yang bertanya : Dari mana kita tahu bahwa Dewa Kwan Kong telah mencapai Bodhisatva? Perlu kita ketahui bahwa perbedaan utama antara Bodhisatva dengan Dewa adalah: Bodhisatva bersifat internasional (世界公認的 = diakui di seluruh dunia), sedangkan Dewa bersifat lokal (kedaerahan). Contoh: Kwan Im Pho Sat
    yang dikenal sebagai Dewi Kwan Im, adalah Bodhisatva. Beliau dihormati (& diakui) di seluruh dunia, bahkan orang Baratpun mengenalnya sebagai Goddes of Mercy. Di mana ada Wihara/Kelenteng, di situ pasti ada arca Kwan Im Pho Sat. San Bao Da Ren {Sam Po Tai Jin} adalah Dewa, beliau dihormati di Indonesia khususnya Jawa Tengah. Arcanya hanya terdapat di beberapa kelenteng saja.

    Kwan Kong bersifat internasional, diakui di seluruh dunia. Arca Kwan Kong terdapat di Wihara/Kelenteng di berbagai belahan dunia. Bahkan Kwan Kong adalah salah satu Dewata yang dipuja oleh ketiga agama (Sam Kauw) sekaligus. Kaum Buddhist menganggapnya sebagai Dewata Pelindung Kuil dan Bangunan2 Suci (salah satu dari Ke Lan Seng Ciong Pho Sat). Kaum Taoist menghormatinya sebagai Malaikat Pelindung Peperangan. Sedangkan kaum Confusianist memujanya sebagai seorang suci dan teladan dalam hal Setia, Pri Kebenaran dan Keberanian. Sepanjang Kekaisaran Tiongkok dan pada masa Dinasti Qing, Kwan Seng Tee Kun amat dipuja bersama-sama Kwan Im Hut Co. Beliau adalah Dewata Utama Pelindung Kerajaan.

    Gambar dan arcanya populer dengan ujud Beliau duduk membaca Kitab Hikayat zaman Chun Chiu 春秋 (salah satu dari 5 kitab klasik). Bersama 4 Dewata pendidikan lainnya Beliau dipuja sebagai 5 Dewata Pendidikan (Ngo Bun Ciang). Rakyat pada umumnya memujanya sebagai Dewata Sipil & Militer 文武雙神 (Bun Bu Seng Sin) dan salah satu dari Dewata Harta 財神 (Cay Sin). Bersama anak angkatnya Koan Phing 關平, dan pengawalnya Ciu Chong 周倉 yang setia, Beliau banyak dipuja baik di kelenteng maupun di rumah-rumah.

    Dalam Kisah Tiga Negara (Sam Kok) Kwan Kong adalah seorang Jendral yang bernama Guan Yi (Kwan Yi). Lalu bagaimana Jenderal Kwan Yi (Kwan Kong) bisa menjadi Bodhisatva 菩薩 ? Seperti kita ketahui, Bodhisatva adalah seorang pembina diri yang penuh dengan cinta kasih. Sedangkan seorang Jendral di zaman peperangan pastilah banyak membunuh orang. Ini adalah hal yang amat kontradiktif. Namun perlu kita ketahui bahwa seseorang bisa menjadi Bodhisatva bila ia memiliki suatu kepribadian luhur 特德yang luar biasa. Kepribadian luhur Jendral Kwan Kong yang luar biasa adalah Kesetiaan & Peri Kebenaran.

    Berikut adalah intisari & kepribadian luhur dari Sejarah Hidup Kwan Kong dalam Kisah Sam Kok (Kisah Tiga Negara). Bandingkan jika Anda membaca Buku Sam Kok karangan Lo Kuan Chung yang terdiri dari 4 buku @ 750 halaman ! ) :

    Setia Kepada Negara ( 盡忠於國 )
    Pada suatu kali peperangan, Kwan Kong sendirian dikurung oleh ratusan prajurit musuh (Chao Chao). Namun beliau tidak takut mati, tetap tidak mau menyerah kepada Chao Chao. Malah mengajukan 3 Syarat: 1. Takluk kepada Kerajaan Han, bukan kepada Chao Chao. 2. Keluarga Lauw Pie (istri Lauw Pie) dijamin keamanannya. 3. Bila telah mendengar keberadaan Lauw Pie, Kwan Kong diperbolehkan bergabung kembali dengan kakaknya. Chao Chao dengan sangat terpaksa menerima ketiga syarat ini (Coba kita pikir: Mana ada orang yang menyerah, tapi malah mengajukan 3 syarat ???). Kemudian Kwan Kong tinggal di istana Chao Chao selama 12 tahun, namun Beliau tetap setia kepada Dinasti Han dengan prinsip patriotic: 降漢而不降曹 Menyerah kepada Han, bukan kepada Chao.

    Menjaga Norma Susila ( 守禮不亂 )

    Kwan Kong menjaga keselamatan kedua kakak ipar selama 12 tahun, ditemani lilin membaca kitab sastra Chun Chiu. Tak berani meninggalkan kakak ipar, karena takut mereka mendapat bahaya. Saat kedua kakak ipar tidur, Kwan Kong tidak tidur dan menjaga di luar kamar, mempersiapkan golok untuk menjaga keselamatan kedua kakak ipar. Sebenarnya Chao telah membangun istana yang megah untuk Kwan Kong, namun Beliau tak mau tinggal di dalamnya, karena senantiasa mengkhawatirkan kedua kakak iparnya. Lalu Chao dengan licik mengatur Kwan Kong tinggal dengan kedua kakak iparnya dalam 1 atap yang sama, ingin melihat apakah Kwan Kong bisa menjaga norma susila. Kalau melanggar berarti kegagahan Kwan Kong telah lenyap di tangan Chao, dan tak ada muka untuk kembali kepada Lauw Pie. Tapi taktik Chao tidak berhasil. Selama 12 tahun Kwan Kong berhasil menjaga norma susila !!! Manusia adalah mahluk yang berperasaan, orang yang tinggal bersama selama 12 tahun pasti ada perasaan. Namun Kwan Kong bisa menjaga kesucian. Sungguh luar biasa! Hawa ksatria membubung tinggi ke angkasa, sepanjang sejarah manusia tiada orang kedua (along the history there was no the second man).

    Tidak tergiur akan Kesenangan/Kenikmatan ( 不圖享樂 )

    Chao Chao melayani Kwan Kong dengan 3 hari 1 pesta kecil, 5 hari 1 pesta besar 三日一小宴,五日一大宴, dengan siasat lembut ingin menaklukkan hati Kwan Kong agar mau mengabdi kepadanya. Karena Chao Chao melihat Kwan Kong menjaga Lauw Pie selama berperang, dengan penuh penderitaan, letih, tiap saat terancam bahaya. Namun Kwan Kong tetap setia kepada Lauw Pie, hatinya tidak tergerak dengan pesta-pesta tersebut.

    Tidak silau akan nama dan harta ( 不慕功名 )
    Kwan Kong dilantik sebagai Sou Ting Hou
    壽亭候 (Panglima Laskar Tertinggi Angkatan Perang), naik kuda diberi emas, turun kuda diberi perak ( 上馬金,下馬銀 ). Chao Chao sangat pintar menjilat / mengambil hati: Setiap Kwan Kong mau naik kuda diberi sekantung emas, kemudian begitu Kwan Kong turun dari kuda ada pengawal yang memberi sekantung perak. Tapi Kwan Kong tetap tidak bergeming, tidak serakah akan harta [Coba kalau kita tukar posisi; Misalnya setiap mau naik mobil diberi emas, begitu turun dari mobil diberi sekantung perak. Jika kita serakah, ingin dapat harta berlimpah dengan mudah, maka kita setiap hari pekerjaannya hanya naik & turun mobil saja!?]. Chao merasa kesal, apakah emas dan perak saya palsu? Karena di otak Chao Chao, di dunia ini tak ada orang yang tidak bisa ditaklukkan dengan 4 Ta : Harta (emas & perak), Tahta (kedudukan tinggi: Sou Ting Hou), Wanita cantik {Chao Chao mengirimkan puluhan wanita cantik kepada Kwan Kong, tapi beliau tidak merasa tertarik sama sekali, malah diserahkan untuk melayani kedua kakak iparnya. Ada pepatah Tiongkok yang mengatakan 英雄難過美人關, Ying Xiong Nan Guo Mei Ren Guan, yang berarti Seorang Pahlawan Sukar Melewati Gerbang Ujian Wanita Cantik. Pepatah ini sudah banyak terbukti di berbagai negara dari zaman ke zaman. Antara lain: pada zaman Sam Kok ini ada seorang pahlawan lain yang sangat luar biasa hebat, yaitu Jendral Lu Pu {Lu Po}. Pernah pada suatu pertempuran Lu Po ini dikeroyok oleh Lauw Pie, Kwan Kong & Tio Hui (3 bersaudara) sekaligus. Tapi pertempuran ini berlangsung seimbang. Jendral Lu Po yang hebat tidak bisa dikalahkan di medan pertempuran, tapi ia takluk oleh ……… seorang wanita cantik, yaitu Tiao Xian. Namun pepatah ini tak berlaku untuk Kwan Kong, yang tidak bisa ditaklukan oleh wanita cantik}. Ta yang keempat adalah Jamuan Pesta (三日一小宴,五日一大宴). Namun semua cara Chao Chao untuk menaklukkan Kwan Kong gagal total. Kwan Kong tak bergeming, tetap setia kepada Lauw Pie !

    Tidak mengharap yang baru dan membuang yang lama. ( 不迎新,不去舊 )

    Chao Chao memberikan hadiah jubah merah yang dilapisi permata kepada Kwan Kong. Namun oleh Kwan Kong jubah merah (baru) tersebut dipakai di dalam, sementara jubah hijau pemberian dari Lauw Pie yang sudah lama, robek, dan lusuh dipakai di luar. Melihat hal ini Chao Chao merasa amat heran, lalu bertanya kepada Kwan Kong mengapa demikian? Kwan Kong menjawab bahwa, jubah merah yang baru pemberian dari Chao Chao dipakai di dalam adalah sebagai tanda Kwan Kong menghormati Chao Chao. Sementara jubah hijau yang sudah lama & lusuh tapi dipakai di luar adalah sebagai tanda Kwan Kong senantiasa mengingat kakak angkatnya, Lauw Pie !

    Tidak melupakan kesetiaan persaudaraan ( 不忘兄弟情義 )
    Pada saat menerima kabar dari kakaknya Lauw Pie, Kwan Kong segera mohon pamit kepada Chao Chao, tapi Chao Chao sengaja tidak mau bertemu, menggantung plat di depan kamar: Tidak terima tamu ! Tapi Kwan Kong tidak terbelenggu oleh budi awam, lalu mengembalikan semua emas & perak yang diterimanya, juga stempel kebesaran Sou Ting Hou. Kemudian Kwan Kong meninggalkan istana Chao Chao untuk pergi ribuan kilometer mencari kakak angkatnya, Lauw Pie.

    Melupakan aku, tidak mempedulikan keselamatan sendiri ( 忘我,奮不顧身 )

    Chao Chao begitu mengetahui kaburnya Kwan Kong dari istananya, menurunkan perintah: Jika tidak bisa menahan Kwan Kong, lebih baik bunuh saja ! Kwan Kong sendirian dengan membawa & melindungi kedua kakak iparnya berhasil過五關,斬六將Menerobos 5 benteng dan membunuh 6 Jenderal. Sungguh Luar Biasa !!! Akhirnya Kwan Kong yang sudah amat letih berhasil bertemu kembali dengan Lauw Pie & Tio Hui, kakak & adik angkatnya.

    Kesetiaan dan Peri Kebenaran Kwan Kong sungguh tak tertandingi, sepanjang sejarah manusia hanya ada 1 orang. Beliau berhasil mempertahankan kepribadian luhur 剛正 Gang Zheng : ksatria, adil, jujur, teguh, berintegritas, dan gagah berani, akhirnya mencapai kesempurnaan sebagai Maha Bodhisatva Kumala Raja.

    Bersama ini mengimbau umat agar waktu bersembahyang kepada Kwan Kong, tidak menggunakan daging sebagai persembahan, tapi hanya menggunakan buah-buahan atau kue-kue (vegetarian). Ingat, Beliau telah mencapai Bodhisatva dengan gelar Bodhisatva Satyakalama (Kwan Seng Tek Kun).
    OM MANI PADMA HUM
    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
    Maha Prajna Paramitha Hydrayam samatha

  12. #32
    Join Date
    Oct 2007
    Location
    Jakarta Indonesia
    Posts
    183
    Thanks
    0
    Thanked 10 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Wi To Pho Sat – Bodhisatva Pelindung Kelenteng

    韋陀菩薩 Wei Tuo Pu Sa {Hok Kian = Wi To Pho Sat} bergelar Hu Fa Pu Sa, yaitu Bodhisatva Pelindung Dharma. Wi To Pho Sat disebut juga 韋陀天 Wei Tuo Tian, adalah Bodhisatva Pelindung Wihara-Wihara, Kelenteng-kelenteng, dan bangunan-bangunan suci. Beliau juga adalah Pelindung Kitab Suci Buddha.

    Wi To Pho Sat berasal dari Dewa agama Brahmana di India. Menurut legenda, Wi To Pho Sat memiliki 6 kepala & 12 lengan. Beliau menunggang burung merak dengan tangan memegang busur & anak panah. Setelah Wi To diserap (diterima masuk) agama Buddha, beliau menjadi Bodhisatva Pelindung Kelenteng/Wihara & menjadi salah satu dari 8 Jendral Langit bagian Selatan. 四大天王 Si Da Tian Wang (4 Raja Langit) masing-masing memiliki 8 Jendral Langit, sehingga seluruhnya ada 32 Jendral Langit. Wi To Pho Sat adalah pemimpin dari 32 Jendral Langit tersebut.

    Sebagai Penjaga Dharma, biasanya Kim Sin (arca) beliau ditempatkan di ruang utama sebuah kelenteng, beradu punggung dengan 彌勒古佛 Mi Le Gu Fo {Bi Lek Ko Hud = Buddha Maitreya}. Pratima beliau digambarkan dengan pakaian perang lengkap dan tangannya membawa Hang Mo Pian (Ruyung Penakluk Iblis).

    Menurut buku Buddhis, Wei Tuo adalah putra seorang Tian Wang (Raja Langit) yang karena kebajikannya, Buddha Sakyamuni mengangkat Wei Tuo sebagai Pelindung Buddha Dharma ketika menaiki Nirwana. Oleh karena itu beliau bertugas melindungi Dharma Sang Buddha, melindungi anggota Sangha dari gangguan Mara, dan mendamaikan apabila terjadi perselisihan antar sekte. Apabila seorang Sangha (Mahayana) melanggar Vinaya (Peraturan Kebhiksuan), maka ia dihadapkan kepada Wei Tuo Pu Sa untuk Pertobatan.

    Wi To Pho Sat kadang kala ditampilkan sebagai 門神 Men Shen {Mui Sin = Malaikat Pintu) yang menjaga kelenteng-kelenteng bersama-sama dengan 迦闌菩薩 Jia Lan Pu Sa {Ka Lan Pho Sat = Bodhisatva Pelindung Bangunan-bangunan Suci}.
    OM MANI PADMA HUM
    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
    Maha Prajna Paramitha Hydrayam samatha

  13. #33
    Join Date
    Oct 2007
    Location
    Jakarta Indonesia
    Posts
    183
    Thanks
    0
    Thanked 10 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Er Lang Shen - Dewa Pelindung Kota Sungai

    二朗神 Er Lang Shen adalah Dewa Pelindung Kota Sungai. Beliau adalah putra 李彬 Li Bing, seorang Gubernur dari propinsi 四川Xi Chuan, yang hidup pada zaman dinasti Qin.

    Pada masa itu Sungai Min (閩江 Min Jiang, salah satu cabang Sungai 陽子江 Yang Zi Jiang yang bermata air di wilayah Xi Chuan), seringkali mengakibatkan banjir di wilayah Guan Kou (dekat Cheng Du). Sebagai gubernur yang peka akan penderitaan rakyat, Li Bing mengajak putranya Li Er Lang, meninjau daerah bencana dan memikirkan penanggulangannya.

    Rakyat Guan Kou yang sudah putus asa menghadapi bencana banjir yang tiap kali menghancurkan rumah dan sawah ladangnya, tampak pasrah dan mengandalkan para dukun untuk menghindarkan bencana. Para dukun menggunakan kesempatan ini untuk memeras dan menakut-nakuti rakyat. Dikatakan bahwa bencana banjir itu diakibatkan karena Raja Naga ingin mencari istri.

    Penduduk diharuskan tiap tahun mengirimkan seorang gadis untuk dijadikan pengantin Raja Naga di Sungai Min itu. Maka tiap tahun diadakan upacara penceburan gadis di sungai yang dipimpin oleh dukun dan diiringi oleh ratap tangis orang tua sang gadis.

    Li Bing bertekad mengakhiri semua ini, dan berusaha menyadarkan rakyat bahwa bencana dapat dihindarkan asal mereka mau bergotong-royong memperbaiki aliran sungai. Usaha ini tentu saja ditentang para dukun yang melihat bahwa mereka akan rugi apabila rakyat tidak percaya lagi kepada mereka.

    Untuk menghadapi mereka, Li Bing mengatakan bahwa putrinya bersedia menjadi pengantin Raja Naga untuk tahun itu. Ia minta sang dukun memimpin upacara. Sebelumnya, Li Bing memerintahkan Er Lang untuk menangkap seekor ular air yang besar, dimasukkan ke dalam karung dan disembunyikan di dasar sungai.

    Pada saat diadakan upacara mengantar pengantin di tepi sungai, Li Bing mengatakan kepada dukun kepala bahwa ia ingin sang Raja Naga menampakkan diri agar rakyat bisa melihat wajahnya. Sang dukun marah dan mengeluarkan ancaman. Tapi Li Bing yang bertekad mengakhiri praktek yang kejam ini, berkeras agar sang dukun menampilkan wujud Raja Naga. Karena keadaan yang telah memungkinkan untuk bertindak, Li Bing memerintahkan putranya Li Er Lang agar terjun ke sungai dan memaksa sang Raja Naga ke luar. Setelah menyelam sejenak Er Lang muncul kembali sambil menyeret bangkai ular air itu ke tepi. Penduduk menjadi gempar. Li Bing mengatakan bahwa sang Raja Naga yang jahat sudah dibunuh. Rakyat tak perlu khawatir akan gangguan lagi dan tak usah mengorbankan anak gadisnya setiap tahun.

    Setelah itu Li Bing mengajak rakyat untuk mengendalikan Sungai Min. Usaha ini akhirnya berhasil dan rakyat daerah itu terbebas dari bencana banjir. Untuk memperingati jasa-jasa Li Bing dan Er Lang, di tempat itu kemudian didirikan kelenteng peringatan.

    Er Lang Shen banyak dipuja di propinsi Xi Chuan. Beberapa kelenteng besar yang didirikan khusus untuknya terdapat di Guan Xian dengan nama Guan Kou Miao; di Cheng Du, Bao Ning, Ya An dan beberapa tempat lain dengan nama二郎廟 Er Lang Miao (Kelenteng Er Lang). Selain Xi Chuan, propinsi Hu Nan juga memiliki beberapa Er Lang Miao yang cukup kuno.

    Er Lang Shen ditampilkan sebagai seorang pemuda tampan bermata tiga, memakai pakaian keemasan, membawa tombak bermata tiga, diikuti seekor Anjing Langit (天狗 Thien Kou), kadang-kadang ditambah dengan seekor elang. Beliau dianggap sebagai Dewa Pelindung Kota-kota di tepi sungai. Namun sering juga ditampilkan bersama 太上老君 Tai Shang Lao Jun sebagai pengawal.
    OM MANI PADMA HUM
    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
    Maha Prajna Paramitha Hydrayam samatha

  14. #34
    Join Date
    Oct 2007
    Location
    Jakarta Indonesia
    Posts
    183
    Thanks
    0
    Thanked 10 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Buddha Sakyamuni - Perintis Agama Buddha

    釋迦牟尼佛 Buddha Sakyamuni adalah perintis Agama Buddha yang merupakan salah satu dari 3 (tiga) agama besar di dunia dengan penganut yang berjumlah milyaran orang. Buddha Sakyamuni adalah ahli agama yang agung & mulia, juga adalah orang suci yang arif bijaksana & diakui di seluruh dunia.

    Ideologi & peradaban (kebudayaan) agama Buddha yang disabdakan Buddha Sakyamuni, diturunkan dari generasi ke generasi, sejak lama telah menjadi aspek penting & utama yang memberikan nuansa aneka warna kebudayaan Dunia Timur, dan juga telah meninggalkan kebudayaan berharga yang sempurna & berlimpah bagi sejarah dunia.

    Buddha Sakyamuni adalah guru agung para Dewa & manusia. Perjalanan hidup Beliau yang telah mencapai penerangan sempurna atas usaha sendiri, merupakan kisah perjuangan yang tiada taranya guna mendapatkan kebahagiaan abadi.

    Buddha Sakyamuni lahir pada tahun 623 SM di sebuah Kerajaan yang terletak di daerah Madyadesa, India Utara (sekarang Kerajaan Nepal), dengan ibukotanya Kapilavastu. Beliau terlahir dengan nama Sidharta Gautama. Sidharta berarti : “Seorang yang tercapai cita-citanya”. Sebelum terlahir sebagai Pangeran Sidharta, beliau sebenarnya adalah Maha Bodhisatva yang datang dari Surga Tusita.

    Ayah Sidharta adalah Raja Sudhodana yang berasal dari Suku Sakya. Karena berasal dari Suku Sakya inilah maka kemudian beliau disebut sebagai Buddha Sakyamuni. Ibunda beliau adalah Ratu Mahamaya.

    Sebelum melahirkan Sidharta, Dewi Mahamaya bermimpi melihat seekor gajah putih bertaring empat mengelilingi tempat tidurnya searah jarum jam sebanyak 3 X. Kemudian gajah putih tersebut bersama sebuah bintang segi 6 (enam) yang bercahaya amat terang memasuki perut Dewi Mahamaya. Setelah mimpi tersebut, Dewi Mahamaya mengandung. Namun sungguh aneh, walaupun telah mengandung selama lebih dari 9 bulan, anak yang ditunggu-tunggu belum juga lahir.

    Pada waktu kandungan permaisuri berusia 10 bulan, beliau mengunjungi keluarganya di Devadaha. Saat itu juga jalan-jalan dari Kapilavastu ke Devadaha dibersihkan & dipenuhi dengan hiasan-hiasan indah. Di antara kedua kota terhampar Taman Lumbini yang dipenuhi pohon sal. Pada waktu itu bunga-bunga bermekaran dengan indahnya, berbagai jenis burung bersiul-siul sepanjang hari. Melihat keindahan Taman Lumbini tersebut, sang permaisuri beristirahat di bawah pohon sal di dalam taman itu. Ketika permaisuri hendak meraih salah satu dahan pohon sal itu, tubuhnya terguncang oleh getaran kelahiran anak. Dengan memegangi dahan pohon & dalam keadaan berdiri, ia melahirkan seorang putra. Waktu itu tepat bulan Waisaka Purnamasidhi.

    Sewaktu beliau lahir terjadi keajaiban, seperti yang tercatat dalam Kitab Sakyamuni Buddha : Sungguh mengherankan. Bayi tersebut lahir dalam keadaan bersih, tak ternoda oleh cairan, lendir, darah, ataupun kotoran yang lain. Pada saat kelahiran sang pangeran, 2 arus air jatuh dari langit. Yang satu dingin, & yang satunya lagi hangat. 2 arus air ini membasuh bayi tersebut & ibunya. Bahkan bayi tersebut lahir dalam keadaan berdiri tegak.

    Begitu bayi tersebut dilahirkan, ia melangkah 7 (tujuh) langkah. Bunga teratai yang berwarna merah & kuning keemasan muncul dari dalam tanah setiap kali ia menapakkan kakinya. Pada langkah terakhir, dengan tangan kanan menunjuk ke langit & tangan kiri menunjuk ke bumi, bayi tersebut mengumandangkan suaranya dengan lantang : “Akulah yang teragung di antara langit & bumi. Aku datang dari Surga Tusita. Aku datang untuk membabarkan rahasia-rahasia alam semesta & kebenaran tentang kehidupan, guna membebaskan makhluk hidup dari penderitaan. Inilah kelahiranku yang terakhir di dunia ini!”


    Bayi tersebut kemudian dibawa ke istana. Raja Suddhodana amat bahagia menyambut kedatangan putranya. Pada hari itu juga di istana datanglah seorang pertapa dari Gunung Himalaya yang bernama Kala Dewala (disebut juga Pertapa Asita), bersama keponakannya Nakala. Saat melihat bayi tersebut, ia langsung menjatuhkan diri & berlutut. Pertapa Kala Dewala tertawa bahagia. Namun kemudian ia menangis tersedu-sedu. Raja sangat heran melihat kejadian ini. Raja menanyakan apakah ada yang tidak baik dalam diri putranya? Pertapa Kala Dewala menjelaskan bahwa ia gembira karena di dunia telah lahir seorang manusia agung, seorang calon Buddha. Namun ia menangis sedih karena mengingat usianya yang telah tua, sehingga tidak mungkin baginya untuk mendengarkan ajaran Buddha ini kelak.

    Demikianlah seorang Maha Bodhisatva telah dilahirkan melalui kandungan Permaisuri Dewi Maha Maya yang berhati suci & berbudi luhur. Seminggu setelah melahirkan Pangeran Sidharta, sang ibunda meninggal dunia. Pangeran Sidharta kemudian dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh bibinya (adik Dewi Mahamaya) Putri Prajapati.

    Sebagai seorang Pangeran, Sidharta menikmati kehidupan istana yang menyenangkan, nikmat & serba berkecukupan. Raja Sudhodana membangun 3 (tiga) buah istana untuk Pangeran Sidharta. Satu untuk musim panas, satu untuk musim dingin, & satu lagi untuk musim hujan. Sejak kecil, Sidharta dilimpahi dengan segala jenis kemewahan dunia. Raja Sudhodana mengharapkan putranya naik tahta & menggantikan ayahnya sebagai seorang Raja. Namun Pangeran Sidharta tak terbiasa dengan kehidupan mewah, senang & berkedudukan tinggi seperti ini.

    Pangeran Sidharta menikah pada usia 16 tahun dengan Putri Yasodhara, yang masih merupakan saudara sepupu Pangeran Sidharta. Putri Yasodhara yang cantik jelita adalah putri tunggal dari Raja Suprabuddha & Ratu Pamita dari suku Koliya. Untuk bisa menyunting Putri Yasodhara ini diadakan sayembara besar-besaran. Yang mengikuti sayembara ini adalah para ksatria gagah & para pangeran dari hampir semua kerajaan-kerajaan di daratan India.

    Sayembara ini selain untuk memperebutkan Putri Yasodhara, juga sekaligus sebagai ajang pembuktian siapa yang terbaik di antara kerajaan-kerajaan tersebut. Sayembara itu adalah perlombaan memanah dengan busur raksasa, perlombaan menjinakkan kuda liar, perlombaan merobohkan pohon raksasa dengan sebilah pedang. Pangeran Sidharta memenangi seluruh perlombaan yang diadakan & akhirnya menikah dengan Putri Yasodhara. Pernikahan mereka dikaruniai seorang putra yang diberi nama Rahula, yang berarti belenggu.

    Pada usia 29 tahun, Pangeran Sidharta melihat 4 peristiwa yang kemudian mengubah jalan kehidupannya. Pertama, ia melihat seorang tua yang berjalan tertatih-tatih dengan bersandar pada tongkatnya. Kedua, ia melihat seorang yang menderita sakit parah. Ketiga, ia melihat seorang yang telah meninggal dunia. Keempat, ia melihat seorang pertapa dengan jubah kuning berjalan tenang dengan wajah yang penuh kedamaian. Ketiga peristiwa pertama menyadarkan pangeran akan hukum alam yang pasti akan dialami setiap orang tanpa pandang bulu. Peristiwa keempat menunjukan cara untuk mengatasi penderitaan dunia & mencapai ketentraman hidup.

    Demikianlah Sang Pangeran Sidharta meninggalkan istana pada usia 29 tahun bersama pengiringnya yang setia, Channa & kuda putihnya Kanthaka. Beliau membina diri dengan penuh penderitaan di hutan. Ia berguru kepada pertapa-pertapa terkenal, seperti Resi Alara Kalama & Uddaka Ramaputra.

    Enam tahun lamanya beliau membina diri hidup sebagai seorang pertapa di hutan Uruvela. Ia menjalani penyiksaan diri & pantang makan yang keras, sehingga beliau menjadi kurus kering & amat lemah. Pada waktu beliau diliputi kekosongan bathin & penderitaan badan yang amat sangat, serombongan penari lewat di dekat tempatnya bertapa, sambil mendendangkan nyanyian merdu: “Jika senar mandolin ditarik terlalu kencang, akan putuslah senarnya. Sebaliknya jika senar mandolin terlalu dikendurkan, akan hilanglah suaranya.” Bait lagu ini menyadarkan beliau akan perlunya merawat badan untuk menjamin kesegaran bathin. Ia sadar bahwa dengan penyiksaan diri yang berat seperti itu tidak akan berhasil mencapai penerangan sempurna.

    Pada suatu hari datanglah Sujata, seorang wanita muda, mempersembahkan makanan dari susu murni ke hadapan pertapa Gautama, sebagai pernyataan terima kasih atas terkabulnya permintaannya untuk memiliki seorang putra. Sujata mengira pertapa Gautama adalah penjelmaan dari dewa yang telah mengabulkan permintaannya, sehingga ia menyajikan masakan yang enak bagi pertapa kurus namun agung itu. Pertapa Gautama menerima persembahan makanan Sujata.

    Sementara itu 5 orang pertapa yang mengikuti pertapa Gautama semenjak ia menjalani penyiksaan diri, ketika melihat ia mulai makan secukupnya, meninggalkan pertapa Gautama karena menganggap beliau telah kalah, karena telah menjalani kehidupan yang berlebihan.

    Kemudian pertapa Gautama berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan bangkit & berhenti samadhi sebelum cita-citanya untuk mendapatkan penerangan sempurna demi kebahagiaan umat manusia sejagat raya tercapai. Dengan tekad yang tak tergoyahkan pertapa Gautama menekuni kembali Samadhi Anapanasati Bhavana selama 7 minggu, yang pernah dilatihnya sewaktu beliau berusia 7 tahun.

    Dalam samadhinya, pertapa Gautama mencapai Jhana pertama, di mana kegiuran & kegembiraan muncul dari penyepian bersama dengan penalaran & pengamatan. Namun, perasaan itu tidak menguasai pikirannya. Dengan berakhirnya penalaran & pengamatan ia mencapai & tinggal di dalam jhana kedua, di mana kegiuran & kegembiraan muncul dari konsentrasi, dengan kedamaian & pemusatan pikiran pada 1 titik, tanpa penalaran & pengamatan.

    Ia tinggal dengan penuh perhatian & sadar, tinggal dengan keseimbangan. Ia mencapai & tinggal dalam jhana ketiga. Meninggalkan kenikmatan bahkan sebelum lenyapnya kegembiraan & ketenangan bathin, ia mencapai & tinggal dalam jhana keempat, yang adalah tanpa rasa sakit maupun kenikmatan, hanya berisikan kesucian yang timbul dari perhatian & keseimbangan.

    Pada pengamatan pertama malam itu, beliau memperoleh pengetahuan pertama, yaitu ia mengingat banyak rincian kehidupannya di masa yang lalu dengan amat jelas, beliau juga melihat banyak siklus kehancuran & pembentukan alam semesta. Pada pengamatan yang kedua kalinya pada malam itu, dengan pandangan yang terang & suci beliau memperoleh pengetahuan kedua, yaitu ia melihat mahluk hidup mati & dilahirkan kembali (tumimbal lahir), mahluk hidup yang melakukan perbuatan jahat, pada saat kematiannya dilahirkan kembali dalam keadaan yang menderita & sengsara. Tetapi mahluk hidup yang menjalani hidup baik dalam perbuatan, kata-kata & pikiran, pada saat kematian dilahirkan kembali dalam keadaan yang membahagiakan.

    Kemudian pada pengamatan terakhir malam itu ia memusatkan pikirannya yang jernih & bersih pada pengetahuan terhadap kehancuran kekotoran bathin. Ia memperoleh pengetahuan ketiga yaitu: ia menyadari adanya penderitaan, sebab penderitaan, lenyapnya penderitaan, & jalan menuju lenyapnya penderitaan. Setelah menyadari kebenaran ini, pikirannya bebas dari nafsu indria, bebas dari nafsu keinginan, & bebas dari ketidaktahuan. Ia menyadari bahwa kelahiran kembali telah dilenyapkan; bahwa telah terlaksana apa yang harus dilaksanakan.

    Akhirnya di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya, tepat pada malam Purnamasidhi di bulan Waisak, pada usia 35 tahun pertapa Gautama mencapai Penerangan Sempurna atau Samyak Sambodhi, & dengan demikian menjadi Samyak Sambuddha, Buddha Yang Maha Sempurna. Sejak itu beliau disebut sebagai Buddha Gautama.

    Tepat 2 bulan setelah mencapai kesempurnaan, di Taman Rusa Isipatana, Buddha Gautama untuk pertama kalinya membabarkan Dharma, Ajaran-Nya, kepada 5 orang pertapa yang menemaninya selama masa penyiksaan diri. Dalam khotbah-Nya yang pertama, Buddha membabarkan Empat Kesunyataan Mulia & Jalan Mulia Beruas Delapan. Peristiwa ini sekarang diperingati oleh umat Buddha sebagai Hari Suci Asadha, hari pemutaran roda Dharma. Selanjutnya, kelima orang pertapa itu ditahbiskan oleh Buddha menjadi Bhikkhu-bhikkhu yang pertama.

    Buddha membabarkan Dharma selama 45 tahun kepada murid-muridnya yang tak terhitung jumlahnya & mendirikan Sangha (persaudaraan suci para Bikkhu/Bikkhuni).

    Pada tahun 543 SM pada usia 80 tahun, pada bulan Waisaka Purnamasidhi, di kota Kusinara, di kebun bunga Sala, di bawah 2 batang pohon sal, Buddha Sakyamuni, Guru Agung para Dewa & manusia, dengan tenang Parinibbana (wafat). Para dewa & brahma terus menaburkan bunga-bunga & air suci menyambut Buddha Yang Maha Sempurna meninggalkan bentuk-Nya di dunia fana ini. Raga Buddha telah disempurnakan, tetapi ajaran Dharma-Nya tetap hidup & jaya sepanjang masa mengarungi seluruh penjuru alam semesta.

    Bagi umat Buddha, hari lahir Pangeran Sidharta Gautama, saat pertapa Gautama mencapai Penerangan Sempurna, & hari Pari Nibbana Buddha Sakyamuni diperingati setiap tanggal 15 bulan 4 Imlek, atau yang lebih dikenal dengan Perayaan Hari Trisuci Waisak.

    Dalam bahasa Mandarin, 如來佛Ru Lai Fo
    {Hok Kian = Ji Lay Hud } merupakan sebutan penghormatan kepada Buddha Sakyamuni. Sebutan Ru Lai merupakan terjemahan dari bahasa Sansekerta, Tathagata, yang berarti Ia Yang Datang.


    Di kelenteng-kelenteng, hari lahir Buddha Sakyamuni diperingati pada tanggal 8 bulan 4 penanggalan Imlek. Hari beliau 成道 Cheng Dao {Sing To} mencapai Penerangan Sempurna diperingati setiap tanggal 8 bulan 12 penanggalan Imlek.
    OM MANI PADMA HUM
    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
    Maha Prajna Paramitha Hydrayam samatha

  15. #35
    Join Date
    Oct 2007
    Location
    Jakarta Indonesia
    Posts
    183
    Thanks
    0
    Thanked 10 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Bun Cu Pho Sat - Manjusri Bodhisattva


    Agama Buddha menganggap bahwa sumber dari semua penderitaan dalam kehidupan manusia adalah 無明 Kesesatan (Tidak bisa sepenuhnya melihat kebenaran sejati dari suatu masalah / benda). Untuk mengatasi kesesatan ini, harus mengandalkan kearifan / kebijaksanaan.

    文殊菩薩Wen Shu Pu Sa {Hok Kian = Bun Cu Pho Sat} adalah perwujudan dari kebijaksanaan. Oleh sebab itu, walaupun beliau bukan tokoh dalam sejarah, tapi karena beliau bisa menampilkan ciri khas dari ideologi agama Buddha secara jelas & nyata, maka kedudukannya dalam agama Buddha sangat tinggi. Beliau adalah Bodhisatva pertama yang disebut dalam kitab-kitab suci. Bahkan ada kitab suci tertentu yang menyatakan bahwa Wen Shu Pu Sa adalah guru dari semua Buddha pada 3 masa kehidupan.

    Wen Shu Pu Sa disebut juga 文殊師利Wen Shu Shi Li (baca: Wen Su Se Li), diterjemahkan secara bebas menjadi 妙吉祥 Miao Ji Xiang (Keberuntungan Yang Mukjizat), 法王子 Fa Wang Zi (Putra Raja Dharma), dsb. Wen Shu Pu Sa yang mewakili kebijaksanaan, & 普賢菩薩 Pu Xian Pu Sa yang mewakili Budi Pekerti, di kelenteng-kelenteng di Tiongkok & Jepang seringkali ditampilkan di samping Sang Buddha Sakyamuni.

    Manjusri adalah Bodhisatva Kebijaksanaan & Pengetahuan, & dianggap sejajar dengan Bodhisatva Avalokitesvara atau 觀音菩薩 Guan Yin Pu Sa {Kwan Im Pho Sat} yang merupakan Bodhisatva Welas Asih. Manjusri dalam bahasa Sansekerta berarti “Keagungan Yang Lemah Lembut”. Orang Tionghoa menganggap Manjusri adalah Bodhisatva yang memberi penerangan & kebijaksanaan bagi siapa saja yang giat menjalankan Dharma.

    Tempat suci Bun Cu Pho Sat adalah di Gunung 五臺山 Wu Tai Shan, propinsi Shan Xi. Di tempat ini Bun Cu Pho Sat sering menampakkan kemukjizatannya. Gunung Wu Tai Shan ini adalah salah satu dari 4 gunung suci Buddhisme di Tiongkok, & menjadi tempat berkumpul para penganut Bun Cu Pho Sat. Walaupun untuk mencapai puncak Wu Tai Shan harus melalui perjalanan yang sulit & berliku-liku. Mereka ingin merasakan suatu ketentraman bathin dengan mencapai kelenteng Wen Shu Pu Sa yang berada di puncak gunung tersebut.

    Ada banyak kesaksian tentang penampakan sinar-sinar ajaib yang disaksikan oleh banyak umat di puncak gunung suci tersebut. Oleh orang awam mungkin hal ini dianggap sebagai “hallusinasi” dari mereka yang mengalami kelelahan karena mendaki gunung tersebut. Namun harus diingat bahwa orang-orang yang naik ke sana umumnya adalah mereka yang ingin mencari “Kebijaksanaan”, & mereka telah menjalani meditasi dengan tekun, sehingga mempunyai pikiran yang tidak akan mudah goyah atau tidak stabil, atau mudah terpengaruh oleh gejala-gejala yang dapat menimbulkan hallusinasi tersebut.

    Bentuk Bun Cu Pho Sat yang paling sering dilihat adalah tangan kanan memegang pedang mestika, tangan kiri memegang gulungan kitab suci, menunggang seekor singa berbulu hijau. Pedang mestika melambangkan kearifan yang dapat memutuskan semua kilesa (kegelisahan bathin). Gulungan kitab suci melambangkan kearifan yang seperti lautan & menuntun umat manusia memasuki gudang kitab suci. Singa yang ditunggangi dihargai sebagai Raja Hewan, & disebut juga Auman Singa, menyebarkan Dharma Buddha. Maka Bun Cu Pho Sat menunggang singa mengandung arti mengembangkan Buddha Dharma & menyelamatkan umat manusia.

    Dalam kisah Miao Shan, singa hijau Wen Shu Pu Sa diceritakan sebagai penjelmaan Dewa Api, sedangkan gajah putih Pu Xian Pu Sa adalah Dewa Air. Kedua Dewa ini menangkap rombongan Raja Miao Zhuang yang akan berziarah ke Xiang Shan, tempat Miao Shan. Kemudian keduanya ditaklukan oleh para Panglima Langit. Setelah Miao Shan menjadi Bodhisatva, kedua kakak perempuannya juga diangkat mendampinginya. Miao Shu (dalam versi yang lain disebut sebagai Miao Qing) diangkat sebagai Wen Shu Pu Sa & Miao Yin diangkat sebagai Pu Xian Pu Sa. Walaupun Wen Shu Pu Sa & Pu Xian Pu Sa berasal dari India, akhirnya mempunyai bentuk Tionghoa 100 %.

    Kelenteng yang khusus untuk menghormati Bun Cu Pho Sat jarang ada, kecuali yang di Wu Tai Shan tersebut. Namun arca-arcanya banyak terlihat di kelenteng-kelenteng yang bercorak Buddhisme. Bun Cu Pho Sat sering ditampilkan dalam bentuk 3 Serangkai bersama dengan Buddha Sakyamuni & Pho Hian Pho Sat. Atau bersama dengan Kwan Im Pho Sat & Pho Hian Pho Sat.

    Dalam bentuk 3 Serangkai dengan Kwan Im, biasanya Bun Cu Pho Sat & Pho Hian Pho Sat ditampilkan dalam wujud wanita. Kwan Im sebagai lambang Maha Pengasih & Penyayang, Bun Cu melambangkan kebijaksanaan, Pho Hian sebagai lambang pelaksanaan cinta kasih. Ketiganya merupakan kesempurnaan dari ajaran Buddhisme.

    Hari lahir Wen Shu Pu Sa diperingati setiap tanggal 4 bulan 4 Imlek, & diperingati secara khusus setiap tahun oleh umat Buddhisme Zen.
    OM MANI PADMA HUM
    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
    Maha Prajna Paramitha Hydrayam samatha

  16. #36
    Join Date
    Oct 2007
    Location
    Jakarta Indonesia
    Posts
    183
    Thanks
    0
    Thanked 10 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    媽祖 Ma Zu {Hok Kian = Ma Co} oleh orang di luar Tiongkok dijuluki sebagai 中國女海神 “Dewi Laut dari Tiongkok”, adalah salah satu dari khasanah Dewata Tiongkok yang paling dihormati di kalangan rakyat. Kelenteng-kelenteng Ma Co di Taiwan saja, jumlahnya mencapai 800 buah. Kelenteng yang paling ramai adalah di Bei Gang (baca: Pei Kang). Setiap tahun pada tanggal 23 bulan 3 Imlek (bertepatan dengan Ulang Tahun Ma Zu), orang yang datang bersembahyang di kelenteng ini, jumlahnya mencapai 1 juta orang lebih.

    Ma Co dikenal juga dengan sebutan 天上聖母 Tian Shang Sheng Mu {Thian Siang Sing Bu}. Panggilan akrab beliau adalah Ma Co Po. Nama aslinya adalah 林默娘 Lin Mo Niang {Lim Bik Nio}, lahir di propinsi Fu Jian {Hok Kian}, pulau Mei Zhou {Bi Ciu} dekat Pu Tian {Poh Chan}. Lin Mo Niang lahir pada malam hari tanggal 23 bulan 3 Imlek tahun 960 Masehi, yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zu dari Dinasti Song Utara, tahun Jian Long pertama. Sewaktu dilahirkan sinar merah menyorot dari langit ke kamar bersalinnya & bau harum tercium ke mana-mana. Mengapa diberi nama Mo, yang berarti diam? Sejak dilahirkan sampai berusia 1 bulan lebih, Ma Zu tidak pernah menangis sama sekali. Maka ayahnya memberi nama Lin Mo Niang (Gadis Pendiam).

    Sejak masih dalam gendongan (berusia sekitar 1 tahun), begitu melihat Buddha Rupang atau arca dewa, beliau langsung memberi hormat dengan Pai - bersikap Anjali (sikap sembahyang dengan kedua tangan ditelungkupkan di depan dada). Sewaktu berusia 5 tahun, Lim Bik Nio bisa membaca 觀音經 Guan Yin Jing {Kwan Im Keng = Kitab Suci Kwan Im} di luar kepala. Hal ini membuktikan bahwa Lim Bik Nio memiliki sebab jodoh yang mendalam dengan Buddha & Dewa.

    Pada usia sekolah beliau dapat mencerna pelajaran-pelajaran San Jiao {Sam Kaw = Tridharma: Buddha, Taoisme, Khong Hu Cu} dengan pemahaman yang luar biasa. Selain tekun belajar, ia juga tekun bersembahyang. Ia sangat berbakti kepada orangtuanya, & suka menolong para tetangga yang sedang ditimpa kemalangan. Oleh karena itu penduduk desa sangat menghormatinya.

    Setelah cukup dewasa beliau tak mau menikah walau dipinang oleh hartawan Bu dari Hok Kian. Misinya datang ke dunia untuk menolong umat manusia mulai menampakkan gregetnya pada usia 16 tahun.

    Lim Bik Nio amat mengerti ilmu falak & peredaran cuaca. Kehidupan di tepi laut menempanya menjadi seorang gadis yang tak gentar menghadapi dahsyatnya angin topan & gelombang yang dihadapi para pelaut. Selain itu, ia juga dapat menyembuhkan orang sakit. Kemahirannya dalam pengobatan ini menyebabkan para penduduk desa menyebutnya sebagai Ling Ni yang berarti Gadis Mukjizat, Long Ni (Gadis Naga), & Shen Gu (Bibi yang Sakti).

    Dalam usia 23 tahun, Lim Bik Nio berhasil menaklukkan 2 siluman sakti yang menguasai pegunungan Tao Hua Shan. Kedua siluman itu adalah Qian Li Yan {Cian Li Gan} yang dapat melihat sejauh ribuan Li, & Sun Feng Er {Sun Hong Ni} yang dapat mendengar ribuan kilometer, kemudian menjadi pengawalnya. Selanjutnya Lim Bik Nio banyak membantu rakyat membasmi kejahatan & menolong kapal-kapal yang diserang badai di laut. Karena kebajikannya ini namanya terkenal di seluruh propinsi.

    Suatu ketika beliau sedang tidur, dalam penglihatannya tampak ayah & kedua kakak laki-lakinya mendapat bahaya di tengah laut. Perahu yang ditumpangi dihantam gelombang hingga pecah berantakan. Tak ayal lagi Bik Nio terbang dari atas langit & turun menukik untuk menolong mereka. Kakak tertua dipegang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menyambar kakak kedua. Ayahnya yang telah tak berdaya ditolongnya dengan menggigit baju sang ayah. Apa lacur ibunda Bik Nio membangunkan dari tidurnya karena mendengar suara ganjil Bik Nio seperti sedang mengigau. Bik Nio pun tersentak bangun. Setelah tenang, Bik Nio menuturkan kepada ibunya bahwa ia baru saja menolong kedua kakaknya, namun sang ayah tak tertolong karena ketika sedang menggigit baju sang ayah, ia menjawab panggilan ibu (yang membangunkannya). Sehingga mulutnya terbuka & gigitannya terlepas.

    Sejak itu misi Ke-Ilahiannya semakin kental, beliau menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan di laut.

    Pada perayaan Tiong Yang, tanggal 9 bulan 9 Imlek tahun 987 Masehi, sewaktu berusia 27 tahun, Lim Bik Nio naik ke surga. Pagi hari itu, penduduk Mei Zhou melihat awan warna-warni menyelimuti pulau tersebut. Di angkasa terdengar musik yang amat merdu. Terlihat Lim Bik Nio perlahan-lahan naik ke angkasa & menjadi Dewi. Setahun kemudian, penduduk mendirikan sebuah kelenteng di tempat Lin Mo Niang diangkat ke surga. Kelenteng yang didirikan di Mei Zhou ini merupakan Kelenteng Ma Zu yang pertama di Tiongkok.

    Seperti halnya Kwan Kong yang dihormati di seluruh dunia, Ma Co pun dipuja dengan penuh penghormatan. Karena tanpa beliau orang-orang Tionghoa yang melanglang buana ke seluruh penjuru dunia, mustahil dapat tiba dengan selamat. Mengingat teknologi kebaharian pada waktu itu sangat terbatas. Di mana kaum imigran itu sampai, di situlah mereka mendirikan kelenteng untuk menghormati Ma Co yang telah melindungi selama dalam pelayaran.

    Pada masa Dinasti Song, perdagangan maritim dari propinsi Hok Kian sangat berkembang. Namun para pelaut sadar bahwa hidup di tengah lautan selalu penuh dengan mara bahaya yang setiap saat bisa mengancam. Untuk memohon perlindungan & keselamatan, arca Ma Co selalu dibawa serta ke mana-mana. Kisah kemukjizatan tentang pemunculan Dewi Ma Zu dalam memberi pertolongan kepada para pelaut mulai tersebar.

    Pada tahun 1122 M, Kaisar 宋徽宗 Song Hui Zong memerintahkan seorang menteri yang bernama Lu Yun Di untuk menjadi Duta ke negeri Gao Li (sekarang Korea). Dalam perjalanan rombongan ini dihantam badai. Dari 8 buah kapal yang ikut berlayar, 7 buah tenggelam. Hanya kapal yang dinaiki Lu Yun Di saja yang terselamatkan. Sang Duta heran bukan main. Ia bertanya kepada anak buahnya, siapakah Dewa yang telah menyelamatkan mereka? Di antara pengiringnya itu ada seorang yang kebetulan berasal dari Pu Tian & biasa bersembahyang kepada Dewi Ma Zu. Ia lalu mengatakan kepada Lu Yun Di bahwa mereka diselamatkan oleh Dewi yang berasal dari pulau Mei Zhou yaitu Lin Mo Niang. Lu Yun Di lalu melaporkan hal ini kepada Kaisar Song Hui Zong. Sebagai rasa penghormatan sang Kaisar memberi gelar Sun Ji Fu Ren kepada Lin Mo Niang & sebuah papan bertuliskan Sun Ji, yang berarti Pertolongan Yang Amat Dibutuhkan. Hasil tulisan tangan sang Kaisar lalu dipasang di kelenteng di Mei Zhou. Sejak itulah pemujaan terhadap Ma Zu mulai mendapat pengakuan resmi dari Kerajaan.

    Sejak zaman Dinasti Song [960 – 1279 M] sampai Dinasti Qing [1644 – 1911 M], kerajaan telah menganugerahkan tidak kurang dari 28 gelar kehormatan kepada Ma Zu. Gelar-gelar itu antara lain adalah : Fu Ren yang berarti Nyonya Agung, Tian Hou atau Tian Fei (Permaisuri Surgawi), Tian Shang Sheng Mu (Bunda Suci dari Langit), Ma Zu Po (Bunda Ma Zu).

    Sejak Dinasti Song itulah, di kota-kota utama sepanjang pantai Tiongkok Timur yang memanjang dari Utara sampai ke Selatan seperti : Dan Dong, Yan Tai, Qin Huang Dao, Tian Jin, Shang Hai, Ning Po, Hang Zhou, Fu Zhou, Xia Men, Guang Zhou, Macao dan lain-lain, telah bermunculan kelenteng-kelenteng yang memuja Dewi Pelindung Pelaut ini. Ma Zu telah menjadi pujaan para pelaut dari seluruh negeri, tidak lagi terbatas bagi mereka yang berasal dari Mei Zhou saja.

    Telah menjadi kebiasaan pada waktu itu, sebelum pelayaran dimulai, selalu diadakan sembahyang besar untuk mohon perlindungan Ma Zu. Pada setiap kapal pun selalu disediakan ruang sembahyang untuk arcanya.

    Pelaut terkenal pada masa Dinasti Ming, 鄭和 Zheng He {Ceng Ho}, yang dikenal dengan sebutan San Bao Da Ren {Sam Po Tai Jin}, walaupun seorang Islam, tidak melupakan kebiasaan ini. 7 (tujuh) kali Zheng He memimpin armada besar yang terdiri dari puluhan kapal, mengunjungi berbagai negeri Asia & Afrika. Setiap akan memulai pelayarannya, Zheng He selalu memimpin upacara sembahyang besar kepada Ma Zu untuk memohon perlindungan akan keselamatan perjalanannya.

    Pada pelayaran Ceng Ho yang ke-3 kali yaitu pada tahun 1409 M (Tahun ke-7 pemerintahan Kaisar Yong Le dari Dinasti Ming), atas perintah Kaisar, Ceng Ho menyempatkan diri bersembahyang di kelenteng Ma Zu di pulau Mei Zhou. Sebuah prasasti peninggalan Ceng Ho yang terdapat di Zhang Le, propinsi Fu Jian, secara teliti menyebutkan bahwa keselamatan perjalanan Zheng He sampai berhasil menyelesaikan tugas melakukan kunjungan muhibah ke manca negara sampai 7 X, adalah berkat kemukjizatan & perlindungan Tian Shang Sheng Mu. Gelar Tian Fei dianugerahkan kepada Ma Zu pada masa pemerintahan Kaisar Yong Le zaman Dinasti Ming, berkat perlindungannya pada armada Ceng Ho.

    Pada masa Dinasti Ming ini, bersamaan dengan semakin banyaknya penduduk propinsi Hok Kian yang pergi merantau, penghormatan kepada Ma Zu memasuki pulau Taiwan. Kelenteng Ma Zu tertua di propinsi Taiwan adalah yang terdapat di kota Ma Gong, kepulauan Peng Hu. Kini di Taiwan terdapat lebih dari 800 buah kelenteng Ma Zu, dan dua per tiga penduduknya memuja arcanya di dalam rumah.

    Kelenteng Ma Zu terbesar & paling ramai dikunjungi orang di Taiwan adalah di 北港 Bei Gang. Arca Tian Fei yang dihormati di sini berasal dari Mei Zhou yang dibawa ke sana pada tahun ke-33 pemerintahan Kaisar 康熙 Kang Xi. Gelar kehormatan Tian Hou adalah juga anugerah dari Kaisar Kang Xi ini, karena dianggap telah melindungi keselamatan rombongan utusan Kerajaan Qing yang sedang berlayar menuju Taiwan. Dengan demikian Bei Gang dianggap tempat suci bagi penghormatan Ma Zu. Setiap tahun bertepatan dengan ulang tahun Ma Zu (tanggal 23 bulan 3 Imlek), jutaan warga Taiwan membanjiri kota Bei Gang untuk berziarah.

    Penghormatan kepada Ma Zu juga bermunculan di banyak negara, bersamaan dengan menyebarnya para perantau Tionghoa ke berbagai penjuru dunia. Di negara-negara seperti Jepang, Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, bahkan hingga ke Amerika Serikat, dan lain-lain negara, di mana banyak bermukim para Tionghoa perantau, banyak dijumpai Kelenteng Ma Zu. Di Jepang, penghormatan kepada Ma Zu dimulai pada akhir Dinasti Ming. Di salah satu kota kecil di Jepang, Sui Hu, Ma Zu telah dimasukkan ke dalam jajaran Dewata Jepang, & dihormati di kuil utama kota itu. Di Jepang terdapat tak kurang dari 100 buah kuil Ma Zu.

    Ma Zu selalu ditampilkan sebagai seorang Dewi yang cantik & berpakaian kebesaran seorang permaisuri, dengan dikawal oleh kedua iblis yang pernah ditaklukkan yaitu Qian Li Yan (Si Mata Seribu Li) & Sun Feng Er (Si Kuping Angin). Qian Li Yan berkulit hijau kebiru-biruan dengan mulut bertaring, & senjata tombak bercagak. Sun Feng Er berkulit merah kecoklatan, mulutnya juga bertaring, & bersenjata kapak bergagang panjang
    OM MANI PADMA HUM
    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
    Maha Prajna Paramitha Hydrayam samatha

  17. #37
    Join Date
    Oct 2007
    Location
    Jakarta Indonesia
    Posts
    183
    Thanks
    0
    Thanked 10 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Asal Usul Dewa Pintu
    Asal usul keberadaan 門神 Men Shen {Hok Kian = Mui Sin} Dewa Pintu sudah sangat lama. Hal ini membuktikan bahwa dari zaman dulu, rakyat sangat menaruh perhatian pada keamanan pintu. Fungsi Dewa Pintu walaupun tidak bisa dibandingkan dengan sistem keamanan berteknologi canggih seperti zaman sekarang, namun peranan yang bisa dikembangkan yaitu memberikan rasa tenang & tentram, bahkan tidak bisa diharapkan dari sistem keamanan. Biar bagaimanapun rakyat Tionghoa percaya bahwa Dewa Pintu bisa mengusir hantu atau setan. Hal ini juga tidak dapat dilihat atau dihadapi bahkan oleh sistem keamanan dengan teknologi canggih sekalipun.

    Dewa Pintu ada beberapa macam: ada 武將門神 Wu Jiang Men Shen (Dewa Pintu Militer), 文官門神 Wen Guan Men Shen (Dewa Pintu Sipil), 祈福門神 Qi Fu Men Shen (Dewa Pintu Memohon Rezeki), dan lain-lain. Di berbagai tempat Dewa Pintu yang dihormati tidak sama. Selain Dewa Pintu 神荼 Shen Tu & 鬱壘 Yu Lei yang paling kuno dikenal orang, 秦叔寳 Qin Shu Bao {Hok Kian = Cin Siok Po} alias 秦瓊 Qin Qiong {Cin Kiong} & 尉遲恭 Yu Chi Gong {Ut Ti Kiong} alias 尉遲敬德 Yu Chi Jing De {Ut Ti Keng Tek} adalah Dewa Pintu yang pengaruhnya paling besar, & tersebar paling luas.

    Qin Shu Bao {Cin Siok Po} & Yu Chi Gong {Ut Ti Kiong} adalah salah satu dari Dewa Pintu Militer. Cin Siok Po & Ut Ti Kiong adalah 2 Jendral terkenal pada masa Dinasti Tang [618 – 907 M] yang membantu Kaisar 唐太宗 Tang Tai Zong {Tong Thai Cong} – 李世民 Li Shi Min {Li Se Bin} mendirikan Dinasti Tang {Tong}. Bagaimana mereka berdua bisa menjadi Dewa Pintu ?

    Berdasarkan buku 歷代神仙通鑒 Li Dai Shen Xian Tong Jian, pada masa-masa awal Kaisar Li Se Bin naik tahta, beliau sering kali merasa tidak enak badan, pada malam hari sering bermimpi bertemu dengan hantu/setan yang datang mengganggu. Mungkin hal ini disebabkan karena pada masa awal berjuang mendirikan kekuasaan negara, beliau telah membunuh banyak orang. Dalam buku tersebut diceritakan : “Di luar pintu kamar tidur dilempar batu bata & genteng, setan & siluman berteriak-teriak, 36 bangunan istana, 72 pekarangan, tiada malam yang tenang”. Kaisar Tong Thai Cong diganggu sampai makan tak enak, tidur tak nyenyak.

    Setelah Jendral Cin Siok Po & Jendral Ut Ti Kiong mengetahui peristiwa ini, lalu memohon untuk dapat menjaga keamanan dengan berdiri di kedua sisi pintu istana dengan memakai pakaian militer. Pada malam tersebut, benar-benar tidak terjadi apapun, tidak ada suara-suara dari roh-roh jahat yang mengganggu. Kaisar Tong Thai Cong merasa amat gembira. Namun kalau menyuruh mereka berdua berdiri sepanjang malam di depan pintu sampai langit terang (pagi hari), juga terlalu meletihkan (kasihan juga mereka berdua).

    Kaisar Tong Thai Cong lalu menitahkan ahli lukis untuk menggambar mereka berdua dalam ujud “Memakai baju besi & memegang tombak bersabit, nampak berwibawa dengan sorot mata yang tajam.” Setelah selesai, kedua gambar tersebut digantung di kedua daun pintu istana. Sejak itu, Kaisar Tong Thai Cong – Li Se Bin tidak diganggu lagi oleh roh-roh halus itu lagi. Peristiwa ini tersebar luas di kalangan masyarakat. Oleh orang-orang pada generasi kemudian, Cin Siok Po & Ut Ti Kiong menjadi Dewa Pintu yang dihormati di rumah-rumah penduduk.

    Khusus kelenteng yang bercorak Buddhisme, sering memakai gambar 2 orang Bodhisatva yang berpakaian perang lengkap, sebagai Dewa Pintu yaitu 伽藍菩薩 Qie Lan Pu Sa & 偉陀菩薩 Wei Tuo Pu Sa.

    Pemasangan gambar Dewa Pintu ini, kemudian tidak terbatas hanya pada pintu kelenteng saja, tapi sudah umum terdapat di tiap bangunan, baik itu rumah penduduk maupun kantor-kantor. Sekarang hal ini dapat kita lihat di Taiwan, Hongkong & Singapura, bahkan di Jepang & Korea. Di antara beberapa macam Dewa Pintu, dewasa ini yang sering dipasang gambarnya di rumah-rumah penduduk, adalah Cin Siok Po & Ut Ti Kiong. Cin Siok Po & Ut Ti Kiong ini pulalah yang gambarnya kita lihat sekarang pada daun pintu sebagian besar kelenteng yang ada.
    OM MANI PADMA HUM
    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
    Maha Prajna Paramitha Hydrayam samatha

  18. #38
    Join Date
    Oct 2007
    Location
    Jakarta Indonesia
    Posts
    183
    Thanks
    0
    Thanked 10 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Hian Thian Siang Te - Dewa Langit Utara


    玄天上帝Xuan Tian Shang Di {Hok Kian = Hian Thian Siang Te} disebut juga 玄天大帝 Xuan Tian Da Di,元天大帝 Yuan Tian Da Di、北極大帝 Bei Ji Da Di、真武大帝 Zhen Wu Da Di、開天大帝 Kai Tian Da Di、玄武帝 Xuan Wu Di、真武帝 Zhen Wu Di、元武帝 Yuan Wu Di, adalah salah satu Dewa yang paling terkenal dengan wilayah penghormatan yang amat luas, dari Tiongkok Utara sampai Selatan, Taiwan, Malaysia & Indonesia. Sebagian orang menyebutnya sebagai 上帝公Shang Di Gong {Siang Te Kong}. Kedudukannya di kalangan Dewa Langit sangat tinggi, berada setingkat di bawah Yu Huang Da Di {Giok Hong Tai Te}. Merupakan salah satu dari Si Tian Shang Di (baca: Se Thian Sang Ti = Empat Maha Raja Langit), yang terdiri dari :

    青天上帝 Qing Tian Shang Di di Timur.

    殷天上帝 Yan Tian Shang Di di Selatan.

    白天上帝 Bai Tian Shang Di di Barat.

    玄天上帝 Xuan Tian Shang Di di Utara.

    Hian Thian Siang Te mempunyai kekuasaan di Langit bagian Utara & menjadi pemimpin tertinggi para Dewa di kawasan tersebut. Arcanya selalu digambarkan dengan menginjak kura-kura & ular. Xuan Wu adalah dewa yang berkedudukan di wilayah Utara & dilambangkan sebagai ular & kura-kura. Hian Thian Siang Te
    yang disebut juga Zhen Wu Da Di {Cin Bu Tay Tee} adalah Xuan Wu. Pada zaman Dinasti Song secara resmi huruf Xuan diganti Zhen, dan sebutan Xuan Wu diganti menjadi Zhen Wu Da Di. Di sebelah kiri & kanan Hian Thian Siang Te biasanya terdapat 2 orang pengawal yaitu Jendral Zhao & Jendral Kang.

    Penghormatan kepada Hian Thian Siang Te mulai berkembang pada masa Dinasti Ming. Dikisahkan pada masa permulaan pergerakan Zhu Yuan Zhang (pendiri Dinasti Ming), dalam suatu pertempuran pernah mengalami kekalahan besar, sehingga ia terpaksa bersembunyi di Pegunungan Wu Tang Shan {Bu Tong San}, propinsi Hu Bei, dalam sebuah Kelenteng Shang Di Miao. Berkat perlindungan Hian Thian Siang Te, Zhu Yuan Zhang dapat terhindar dari kejaran pasukan Mongol, yang mengadakan operasi penumpasan besar-besaran terhadap sisa-sisa pasukannya.

    Kemudian berkat bantuan Hian Thian Siang Te pula, Zhu Yuan Zhang berhasil mengusir penjajah Mongolia dan menumbangkan Dinasti Yuan. Zhu Yuan Zhang mendirikan Dinasti Ming, setelah mengalahkan saingan-saingannya dalam mempersatukan Tiongkok.

    Untuk mengenang jasa-jasa Hian Thian Siang Te & berterima kasih atas perlindungannya, Zhu Yuan Zhang lalu mendirikan kelenteng penghormatan kepadanya di ibukota Nan Jing (Nan King) & di Gunung Bu Tong San. Sejak itu Bu Tong San menjadi tempat suci bagi penganut Taoisme. Kemudian penghormatan kepada Hian Thian Siang Te meluas ke seluruh negeri, & hampir di setiap kota besar ada kelenteng yang menghormatinya. Kelenteng Hian Thian Siang Te dengan arcanya yang terbuat dari tembaga, bisa dilihat sampai sekarang. Selain itu Hian Thian Siang Te juga diangkat sebagai Dewa Pelindung Negara.

    Di Taiwan pada masa Zheng Cheng Gong berkuasa, banyak kelenteng Shang Di Gong {Siang Te Kong} didirikan. Tujuannya adalah untuk menambah wibawa pemerintah, & menjadi pusat pemujaan bersama rakyat & tentara. Oleh karena itu, kelenteng Shang Di Miao {Siang Te Bio} tersebar di berbagai tempat. Di antaranya yang terbesar adalah di Tai Nan (Taiwan Selatan), yang dibangun pada saat Belanda berkuasa di Taiwan.

    Setelah kekuasaan Zheng Cheng Gong jatuh, Dinasti Qing dari Manzhu yang berkuasa, mendiskreditkan Shang Di Gong dengan mengatakan bahwa beliau sebenarnya adalah seorang tukang jagal yang telah bertobat. Usaha ini mempunyai tujuan politik yaitu melenyapkan & mengikis habis sisa-sisa pengikut Dinasti Ming secara moral, dengan memanfaatkan dongeng ajaran Buddha tentang seorang tukang jagal yang telah bertobat, lalu membelah perutnya sendiri, membuang seluruh isinya & menjadi pengikut Buddha. Kura-kura & ular yang diinjak tersebut dikatakan sebagai usus & jeroan si tukang jagal. Oleh karena itu tingkatannya diturunkan menjadi Malaikat Pelindung Pejagalan.

    Sejak itu pembangunan kelenteng-kelenteng Siang Te Bio amat berkurang. Pada masa ini pembangunan kelenteng Shang Di Miao hanya satu, yaitu Lao Gu Shi Miao di Tai Nan.

    Namun sebenarnya Kaisar-Kaisar Manzhu sangat menghormati Hian Thian Siang Te, terbukti dengan dibangunnya kelenteng penghormatan khusus untuk Hian Thian Siang Te di komplek Kota Terlarang, Istana Kekaisaran di Beijing, yang dinamakan Qin An Tian. Satu kelenteng lagi dibangun di Istana Persinggahan di Cheng De.

    Wu Dang Shan, gunung suci para penganut Taoisme, terletak di propinsi Hu Bei, Tiongkok Tengah. Sejak zaman Dinasti Tang, kelenteng-kelenteng sudah mulai didirikan di sana. Namun pembangunan secara besar-besaran adalah pada masa pemerintahan Kaisar Yong Le pada zaman Dinasti Ming. Hal ini tidak mengherankan karena Xuan Tian Shang Di diangkat sebagai Dewa Pelindung Kerajaan.

    Di antara kelenteng-kelenteng di sana yang terkenal adalah Yu Xu Gong {Giok Hi Kiong} dengan bangunannya bergaya istana Beijing, terletak di bagian Barat Laut puncak utama Bu Tong San. Adalagi kelenteng Yu Zhen Gong yang dibangun pada tahun Yong Le ke-15, terletak di kaki Utara Bu Tong San. Di kelenteng ini terdapat penghormatan & arca Zhang San Feng {Thio Sam Hong}, pendiri perguruan silat cabang Wu Dang {Bu Tong Pay}.

    Bangunan kuil yang paling lengkap adalah kelenteng Zi Xiao Gong yang terletak di puncak Timur Laut, merupakan pusat dari keseluruhan rangkaian tempat ibadah di gunung tersebut. Arca perunggu Hian Thian Siang Tee hasil pahatan Guru Ji (pemahat ulung dari Korea yang amat terkenal sampai ke manca negara) ditempatkan di sini. Di kelenteng ini dapat terlihat lambang Gunung Bu Tong San yaitu patung kura-kura & ular. Patung logam itu menggambarkan seekor kura-kura sedang dililit erat-erat oleh seekor ular. Katanya sang ular bermaksud memaksa sang kura-kura memuntahkan semua isi perutnya.

    Menurut kepercayaan, kura-kura tersebut berasal dari perut besar (lambung/maag), & sang ular dari usus Zhen Wu yang berubah ujud. Dikisahkan bahwa suatu ketika dalam samadhinya yang tanpa makan & minum, Zhen Wu merasakan usus & lambungnya sedang bertengkar. Rupanya rasa lapar yang amat sangat menyebabkan kedua organ tubuh tersebut saling menyalahkan. Zhen Wu menyadari kalau dibiarkan, hal ini dapat mempengaruhi ketentraman batinnya. Dalam kejengkelannya, ia membelah perutnya & mengeluarkan kedua organ tubuh tersebut, lalu melemparkan ke rerumputan di belakangnya. Kemudian seperti tanpa terjadi sesuatu ia melanjutkan samadhinya.

    Sang lambung & usus karena setiap hari mendengarkan Zhen Wu membaca ayat-ayat suci Tao, lama kelamaan memiliki tenaga gaib juga. Keduanya lalu berubah menjadi kura-kura & ular, kemudian menyelinap turun gunung untuk memakan ternak & juga manusia. Zhen Wu yang telah menjadi Dewa, amat murka akan kejadian ini. Dengan mengendarai awan & pedang terhunus ia turun gunung. Tebasan pedangnya di punggung kura-kura meninggalkan bekas sampai sekarang. Sejak itu di punggung kura-kura tampak guratan-guratan seperti bekas tebasan pedang. Dengan tali wasiat diikatnya leher sang ular, sehingga sejak itu leher ular menjadi lebih kecil daripada tubuhnya.

    Setelah ditaklukkan, kura-kura & ular memperoleh pangkat Er Jiang yang berarti “Dua Panglima”, dan menjadi landasan tempat duduk Zhen Wu Da Di. Tapi sang kura-kura rupanya masih belum hilang watak silumannya. Hal ini diketahui oleh Zhen Wu, beliau lalu menyuruh sang ular melilit tubuh kura-kura erat-erat, agar segala benda yang telah ditelannya dimuntahkan kembali, & agar mengungkapkan semua kejahatan yang pernah dilakukannya. Patung kura-kura & ular ini sampai sekarang masih ada di ruang belakang kelenteng Zi Xiao Gong, & selanjutnya dijadikan logo yang melambangkan gunung Bu Tong San.

    Masih ada 1 peninggalan penting yang ada kaitannya dengan Hian Thian Siang Tee, yaitu sebuah sumur yang dinamakan Mo Zhen Jing (Sumur tempat mengasah jarum). Konon pada waktu Zhen Wu sedang melakukan tapa di gunung ini, hatinya merasa goyah. Ia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Sampai di tepi sumur ini ia melihat seorang wanita tua sedang mengasah alu besi. Zhen Wu merasa heran, lalu menanyakan apa maksud si nenek mengasah alu besi. Dengan tertawa si nenek berkata bahwa ia sedang mengasah alu untuk membuat jarum sulam. Mendengar jawaban ini Zhen Wu baru menyadari maksud yang terkandung di balik perkataan sang nenek. Segera ia kembali ke atas gunung untuk melanjutkan tapanya. Nama Mo Zhen Jing kemudian menjadi terkenal. Kini di dekat sumur itu dibangun rangon & patung seorang nenek tua yang sedang mengasah alu.

    Sehubungan dengan kura-kura & ular ini, para pengusaha rakit bambu di Taiwan & Hongkong sembahyang kepada Hian Thian Siang Tee, agar kura-kura & ular di sungai-sungai tidak berani menimbulkan ombak & gelombang yang mengancam usaha mereka. Selain di Taiwan & Hongkong, persembahyangan kepada Hian Thian Siang Tee ini telah menyebar ke Asia Tenggara, terutama di Malaysia, Singapura & Indonesia. Di Singapura, kelenteng Wak Hai Cheng Bio di Philip Street, terkenal sembahyang kepada Hian Thian Siang Tee. Di Indonesia hampir setiap kelenteng menyediakan altar untuknya.

    Menurut cerita, Kelenteng Hian Thian Siang Tee yang pertama di Indonesia adalah Kelenteng Welahan, Jawa Tengah. Di Semarang, sebagian besar kelenteng ada menyediakan altar khusus untuknya. Sedangkan kelenteng yang khusus sembahyang Hian Thian Siang Tee sebagai tuan rumah adalah Kelenteng Gerajen & Bugangan.

    Hian Thian Siang Tee (Zhen Wu Da Di / Cin Bu Tay Tee) ditampilkan sebagai seorang dewa yang memakai pakaian perang keemasan dengan tangan kanan menghunus pedang penakluk iblis, kedua kakinya yang tanpa sepatu menginjak kura-kura & ular. Hari Se Jit Hian Thian Siang Te diperingati setiap tanggal 3 bulan 3 Imlek.
    OM MANI PADMA HUM
    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
    Maha Prajna Paramitha Hydrayam samatha

  19. #39
    Join Date
    Oct 2007
    Location
    Jakarta Indonesia
    Posts
    183
    Thanks
    0
    Thanked 10 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Pho Hien Pho Sat - Bodhisatva Samantha Bhadra


    普賢菩薩 Pu Xian Pu Sa {Hok Kian = Pho Hien Pho Sat} dalam bahasa Sansekerta adalah Samantha Bhadra Bodhisatva yang berarti Kebajikan Yang Universal. Pho Hien Pho Sat merupakan perwujudan dari cinta, kebajikan, ketekunan, kesabaran & aktivitas yang suci. Dalam khasanah Dewata Tiongkok, Pu Xian Pu Sa ditampilkan dalam Tiga Serangkai bersama 觀音菩薩 Guan Yin Pu Sa & 文殊菩薩 Wen Su Pu Sa. Namun di dalam Kelenteng-kelenteng di Tiongkok & Jepang, Pu Xian Pu Sa sering juga tampil bersama Buddha Sakyamuni & Wen Su Pu Sa. Pu Xian dalam bahasa Jepang disebut Fu Gen.

    Arca Pho Hien Pho Sat biasanya ditampilkan duduk di atas gajah putih dengan membawa setangkai bunga teratai atau gulungan kitab suci. Gajah putih tersebut umumnya dalam keadaan berdiri atau jongkok, kadang-kadang berkepala 1 atau 3, dengan 6 batang gading

    Pho Hien Pho Sat terkenal karena persembahannya yang tak terbatas & 10 Sumpah Agungnya yang ditujukan kepada para Buddha & mahkluk yang sengsara, yaitu sebagai berikut:

    Memuja para Buddha.

    Memuja Tatagatha.

    Menghaturkan sembah-sujud kepada para Buddha.

    Mengakui dosa-dosa pada masa kehidupan yang lalu & berbuat kebaikan.

    Bergembira dalam kebajikan & kebaikan orang lain.

    Memohon kepada Buddha untuk membabarkan ajarannya.

    Memohon kepada Buddha untuk tetap tinggal di dunia.

    Mempelajari Dharma & mengajarkannya kembali.

    Membantu sesama makhluk yang sengsara.

    Menyalurkan hal-hal yang baik kepada pihak lain.

    Di dalam普賢菩薩蓮花經 Sutra Bunga Teratai Pu Xian Pu Sa, Sang Buddha
    memujinya & mengatakan bahwa Pu Xian Pu Sa terlahir di tanah suci sebelah Timur. Di dalam Sutra Bunga Teratai ini Sang Buddha menggambarkan sebagai berikut:


    Pu Xian Pu Sa memiliki tubuh yang besarnya tidak terbatas. Namun karena ingin turun ke dunia untuk membantu orang-orang yang sengsara, ia mengubah dirinya menjadi manusia biasa. Pu Xian Pu Sa muncul dengan menunggang seekor gajah putih. Di bawah telapak kaki gajah tersebut, bunga-bunga teratai yang berwarna putih bermekaran. Gajah ini berwarna yang paling cemerlang di antara semua warna putih, sampai-sampai Kristal maupun Puncak Gunung Himalaya – pun tidak bisa menandinginya ………


    Sutra Bunga Teratai Pu Xian Pu Sa ini menarik perhatian banyak orang, terutama kaum wanita, sebab mereka dijanjikan juga dapat mencapai tingkat kesucian Buddha.

    Tempat suci Pu Xian Pu Sa adalah di Gunung 峨嵋山 E Mei Shan
    {Go Bi San} di propinsi Xi Chuan yang merupakan salah satu dari 4 Gunung Suci agama Buddha di Tiongkok. Di Jepang ia sering kali dihormati oleh para umatnya untuk memperoleh kemakmuran & panjang umur. Bahkan oleh sebagian orang ia dianggap pelindung pengobatan.

    Arca Pho Hien Pho Sat biasanya dapat dijumpai di kelenteng-kelenteng yang menghormati Kwan Im Pho Sat. Hari ulang tahun Pho Hien Pho Sat diperingati setiap bulan 2 tanggal 21 Imlek.
    OM MANI PADMA HUM
    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
    Maha Prajna Paramitha Hydrayam samatha

  20. #40
    Join Date
    Oct 2007
    Location
    Jakarta Indonesia
    Posts
    183
    Thanks
    0
    Thanked 10 Times in 5 Posts
    Downloads
    0
    Uploads
    0

    Default

    Bosen ?? Ke Jalan2.com Aja Skrg !
    澤海真人Ze Hai Zhen Ren {Hok Kian: Tek Hai Cin Jin} nama aslinya adalah Guo Liu Guan {Hok Kian = Kwee Lak Kwa}, adalah salah satu Dewata Lokal yang Khas Indonesia. Kekuasaannya meliputi jalur laut sepanjang Pantura Jawa. Menurut catatan yang ada di Kong Kwan (Dewan Opsir Tionghoa) Semarang, Guo Liu Guan berasal dari Semarang. Beliau adalah orang Hok Kian bermarga Kwee, bernama Lak, sedangkan Kwa adalah panggilan kehormatan.

    Guo Liu Guan {Kwee Lak Kwa} lahir tahun 1695, waktu Kaisar Khong Hie memerintah tahun ke-34, berdagang antar pulau dari Palembang sampai Semarang dengan kapal. Waktu itu di Jakarta (saat itu bernama Batavia) tanggal 9 – 12 Oktober 1740 terjadi suatu tragedi yang amat memilukan, di mana + 10.000 jiwa dibantai oleh penjajah Belanda (VOC). Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Tragedi Pembantaian Angke.

    Asal mula kata Kali Angke juga berasal dari peristiwa ini. 紅溪 Hong Xi dalam bahasa Mandarin berarti sungai kecil (kali) yang berwarna merah. Dari mana warna merah dalam sungai ini? Berasal dari darah orang-orang Tionghoa yang dibantai tersebut. Hong Xi ini dalam dialek Hok Kian disebut Ang Ke. Demikian sekilas asal mula kata Kali Angke.

    Peristiwa ini menyulut kemarahan beberapa pemimpin Tionghoa, antara lain : Kwee Lak Kwa, Kwee An Say, Oey Ing Kiat, Tan Pan Jiang, dan lain-lain. Kwee Lak Kwa bergerilya di Jakarta. Karena Belanda lebih kuat akhirnya Kwee Lak Kwa mundur sampai Cirebon, lalu ke Tegal.

    Tahun 1742 perlawanan ini berhenti setelah semua pihak kehabisan tenaga, Kwee Lak Kwa di Tegal menghilang, Kwee An Say tertangkap, Tan Pan Jiang & Oey Ing Kiat gugur di Welahan. Peristiwa ini dalam Babad Tanah Jawa terkenal sebagai Geger Petjinan. Kwee Lak Kwa setelah menghilang di Tegal sering menampakkan diri di beberapa tempat yang berjauhan pada waktu bersamaan. Beliau sering pula menampakkan dirinya kepada nelayan-nelayan di Tegal untuk memberi berbagai petunjuk. Karena hal-hal tersebut mereka percaya bahwa Kwe Lak Kwa sesungguhnya adalah seorang yang sakti.

    Oleh Kaisar Dinasti Qing, Kwee Lak Kwa dianugerahi gelar 澤海真人Ze Hai Zhen Ren
    {Hok Kian: Tek Hay Cin Jin}. Beliau dihormati tidak hanya sebagai pahlawan, namun juga sebagai Dewata Pelindung Perdagangan Di Laut.

    Tek Hai Cin Jin ditampilkan sebagai seorang Pejabat Tinggi yang berpakaian ala Dinasti Han disertai 2 orang pengiringnya. Salah satu dari 2 pengiring tersebut, dilihat dari corak pakaian & ikat kepalanya, jelas adalah seorang pribumi Jawa.

    Arca Tek Hai Cin Jin terdapat di 6 buah kelenteng di Pulau Jawa, antara lain: di Kelenteng金德院 Jin De Yuan {Kim Tek Ie} – Jakarta, Kelenteng澤海廟 Ze Hai Miao {Tek Hay Bio = Kuil Penenang Samudra} – Semarang, Kelenteng澤海宮 Ze Hai Gong
    OM MANI PADMA HUM
    Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia
    Maha Prajna Paramitha Hydrayam samatha

Page 2 of 5 FirstFirst 1234 ... LastLast

Similar Threads

  1. Kisah Vasavattimaradhiraja -- maharaja dari para dewa Mara
    By usnisha in forum Kisah-Kisah Sang Buddha
    Replies: 16
    Last Post: 12-05-11, 08:09
  2. Dewa Bumi
    By Acala in forum True Buddha School
    Replies: 73
    Last Post: 28-08-10, 08:09
  3. Sutra Maha Dewa Vaisramana
    By usnisha in forum Kumpulan Sutra & Vinaya Buddhist
    Replies: 1
    Last Post: 24-06-09, 00:47
  4. Biografi singkat seorang Rinpoche sejati
    By Light_lotus in forum True Buddha School
    Replies: 0
    Last Post: 08-05-06, 23:03
  5. 5. Dewa Laut Bertanya
    By MD Melati in forum Kisah-Kisah Sang Buddha
    Replies: 0
    Last Post: 02-05-06, 14:44

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •