Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

buku biografi Master Zen "Xu Yun" (Awan Kosong)


  • This topic is locked This topic is locked
62 replies to this topic

#1 bodohsatva

bodohsatva

    Senior WDC

  • Members
  • 5
  • 1,147 posts
  • 0 thanks

Posted 14 December 2009 - 12:57 PM

ada teman2 dan senior yang pernah lihat gak buku ini?
saya pernah baca (pinjam dari teman)...

isinya bagus dan "TOP" punya...
tapi sudah setahun hunting gak dapat...
ada yg bisa bantu?

penerbit suwung...
ada yang punya alamatnya?

The Four Reliances
First, rely on the spirit and meaning of the teachings, not on the words;
Second, rely on the teachings, not on the personality of the teacher;
Third, rely on real wisdom, not superficial interpretation;
And fourth, rely on the essence of your pure Wisdom Mind, not on judgmental perceptions.


#2 bodohsatva

bodohsatva

    Senior WDC

  • Members
  • 5
  • 1,147 posts
  • 0 thanks

Posted 14 December 2009 - 01:42 PM

sip... tengkiu... ^^

The Four Reliances
First, rely on the spirit and meaning of the teachings, not on the words;
Second, rely on the teachings, not on the personality of the teacher;
Third, rely on real wisdom, not superficial interpretation;
And fourth, rely on the essence of your pure Wisdom Mind, not on judgmental perceptions.


#3 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 05 February 2013 - 11:27 PM

Penerjemah Mandarin ke Inggris: Charles Luk
Diedit dan Direvisi: Richard Hunn

Penerbit : Suwung

Pendahuluan

Jauh sebelum wafatnya di tahun 1959 pada usia 120 tahun di Gunung Yun-ju, Provinsi Jiangxi, nama Master Xu-yun sudah tersohor serta dihormati di seluruh vihara Buddhisme Tiongkok dan rumah tangga awam. Beliau sudah jadi semacam legenda hidup di zamannya. Hidup dan suri-tau-ladannya telah membangkitkan paduan rasa khidmat dan inspirasi dalam benak umat Buddhis China sebagaimana halnya Milarepa bagi tradisi Buddhisme Tibet, terutama oleh kenyataan bahwa Xu-yun hidup dekat di sekitar zaman kita sekarang, sehingga bisa mempertontonkan bukti nyata akan perbaiva-spiritual tersebut -- yang mana, andai tidak ada tokoh seperti beliau, kita kudu berpaling menembus kabut rentang waktu guna mengagumi para guru-guru agung Chan masa Dinasti Tang, Song, dan Ming.

Orang-orang besar zaman kuno memang teladan hidup-nya masih menginspirasi banyak orang sampai sekarang, tetapi dalam banyak hal, kita cuma bisa samar-samar saja menge-tahui detail hidup pribadi mereka - jejak yang ada tinggal: catatan dialog atau ajaran-ajarannya. Yang menggetarkan dari riwayat Xu-yun berikut ada-lah: pelukisannya yang sangat hidup akan potret salah seorang tokoh Buddhis terbesar di Tiongkok, komplit dengan seluruh gelap dan terang pengalaman sebagai manusia biasa dan spiritualnya. Karya ini bukanlah biografi modern dalam pengertian Barat, ini benar, namun tulisan ini juga memapar dengan gamblang pemikiran dan perasaan-perasaan terdalam dari Master Xu-yun membuat beliau tampil lebih nyata bagi kita...

Tak diragukan, bahwa hal utama bagi seorang Buddhis adalah ujar-ujar petunjuknya, dan kehidupan Xu-yun begitu kaya akan insight, tetapi adalah hal yang wajar apabila kita kepingin tahu pula mengenai hal-hal pribadi mereka, sisi manusiawinya, juga macam apakah hidup para tokoh yang luar biasa tersebut. Terlepas dari semua itu, orang-orang suci adalah bagaikan gunung, sementara "puncakpuncak pencapaian" mereka menjulang ke angkasa raya, mereka toh tetap harus berpijak di muka bumi seperti kita semua. Itu semua merupakan bagian dari pengalaman mereka bagai-mana mereka be-relasi dengan kondisi-kondisi kefanaan hidup ini - adalah bagian intrinsik dari proses perkembangan mereka, bahkan meski tujuan ultimitnya adalah buat "jauh melampaui" hiruk pikuk muramnya dunia. Dari catatan Xu-yun ini kita memperoleh kilas-kilas mengesankan dari hidup-batin seorang Master besar Buddhis Tiongkok.

Pada saat meninggalnya, Xu-yun telah dikenal sebagai seorang Buddhis China paling terkemuka di "Kerajaan Tengah." Ketika ia memberi ceramah petunjuk pada saat meditasi ber-sama dan mentransmisikan aturan moralitas (sila) dalam de-kade-dekade terakhir hidupnya, ratusan murid berduyun-duyun mendatangi vihara-vihara tempat di mana beliau menemui dan menerima pengikut-pengikutnya. Di beberapa kesempatan jumlah itu malah menggelembung hingga mencapai ribuan.

Edited by Top1, 07 February 2013 - 11:29 PM.


#4 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 05 February 2013 - 11:28 PM


Gelombang kebangkitan antusiasme terhadap Dharma ini belum pernah terjadi lagi semenjak masa Master Han-shan (1546-1623) di waktu Dinasti Ming. Master besar jaman kuno itu juga mengalami masa kemerosotan dan berdaya upaya buat memperbaiki vihara serta membangkitkan kembali Ajaran yang benar, sebagaimana yang juga dilakukan oleh Master Xu-yun sekitar tiga ratusan tahun kemudian. Dekat, cuma berapa tahun saja sebelum persamuan-persamuan besar yang diadakan Master Xu-yun ini, banyak biara-biara --- yang belakangan nantinya berturut-turut dipakai beliau --- sebenarnya sudah hancur tinggal puing-puing belaka, dan tak lagi mencerminkan citra agung dan vitalitas mereka terdahulu. Sang Master menghidupkan kem-bali semua ini bersama dengan Ajaran-Ajaran Dharma-nya --- jiwa mereka yang paling asali.

Tak heran, Xu-yun dengan segera memperoleh julukan "Han-shan yang datang kembali" atau "Kembalinya Sang Master Han-shan," oleh sebab kemiripan riwayat mereka dalam banyak hal. Keduanya sama-sama memiliki nama-penahbisan "De-qing" dan keduanya antara lain sudah memperbaiki Biara Hui-neng di Cao-xi. Namun demikian, tidak seperti para pendahulu-pendahulu pada masa Dinasti Tang, Song, dan Ming, yang kerap menerima payung-lindung dan dukungan resmi dari kerajaan; dalam kurun waktu panjang hidup Xu-yun selama 120 tahun, adalah masa-masa yang penuh pergolakan bagi negara Tiongkok dan Buddhisme China. Suatu periode yang sarat diwarnai perang saudara serta konflik luar negeri - masa suram yang kacau dan mencemaskan bagi masa depan dan keamanan Tiongkok. Satu-satunya hal yang paling didambakan semua orang di masa itu adalah terciptanya hari-hari yang aman.

Xu-yun djlahirkan tahun 1840 sekitar terjadinya Perang Candu. Tahun 1843 Perjanjian Nanjing ditandatangani dengan diserahkannya Hong Kong kepada Inggris - irisan tipis awal babak campur tangan asing yang memotong-motong negeri Tiongkok - momen kritis yang segera diikuti geliat perlawanan bertubi-tubi. Xu-yun [hidup cukup panjang] mengalami pemerintahan lima kaisar Dinasti Manchu dan keruntuhannya pada tahun 1911, serta era terbentuknya Republik baru pada tahun berikutnya. Seiring ambruknya tatanan pemerintah lama, perubahan besar terjadi di Tiongkok. Para pemimpin baru China tak begitu mempedulikan nasib Buddhisme dan sebaliknya, banyak dari mereka yang justru cenderung [salah] memandangnya sebagai bagian dari takhyul kuno penghalang derap kemajuan sosial dan ekonomi. Gelombang modernisasi yang menyapu Tiongkok pada masa itu sama sekali tidak bersimpati kepada Buddhisme ataupun segala ajaran tradisional lainnya.

Tak perlu dikata, banyak biara mendapati diri mereka terjatuh dalam masa-masa sulit dan banyak yang bubar menjadi puing bahkan malah sebelum dinasti kerajaan lengser. Sokongan pemerintah terhadap biara-biara sangat langka atau bahkan kosong sama sekali. Tentu saja, para pemimpin baru Tiongkok memang memiliki hal-hal lain membebani benak mereka --- disam-ping bencana kelaparan, kekeringan, dan wabah penyakit yang susul-menyusul memporak-porandakan China selama tahun-tahun itu, terdapat pula peningkatan ancaman invasi Jepang. Kaum Komunis pun sedang bangkit di daerah-daerah pedesaan, dan segera mampu menggalang otot buat menan-tang tentara Nasionalis.

Akhir tahun 1930-an, tentara Jepang telah menguasai kawasan luas di Tiongkok Utara. Dengan berlangsungnya kemelut berkesinambungan ini, tak perlu dikata bahwa iklim sosial-politik tidak menguritungkan itu muskil bisa memberi kondisi terbaik buat mendorong ter-jadinya pembaharuan besar-besaran bagi tradisi Buddhis Tiongkok. Namun demikian, kendati didera pelbagai nasib buruk, di tengah situasi kacau, Xu-yun sukses dalam membangkitkan kembali Buddhisme Tiongkok dari jurang keterpurukan yang terdalam dan bahkan justru mampu menyuntikkan semangat baru ke dalamnya. Dipandang dari banyak segi, riwayat Xu-yun ini merupakan kisah kebangkitan Buddhisme China modern, karena sampai akhir hayatnya beliau telah berhasil dalam membangun, memperbaiki dan menghidupkan kembali sejumlah situs-situs Buddhis utama, termasuk tempat-tempat termahsyur seperti Biara Yun-xi, Nan-hua, Yun-men, dan Zhen-ru; --- disamping banyak vihara-vihara kecil yang tak terhitung, ia juga mendirikan sejumlah sekolah dan rumah sakit Buddhis. Murid-murid Sang Mahaguru tersebar di seantero Tiongkok, dan begitu pula di Malaysia dan tempat-tempat lain di mana Buddhisme China berurat-akar. Selama kunjungan Sang Master ke Thailand (thn. 1907), oleh karena begitu terkesan akan keteladanannya, Raja negeri tersebut menjadi murid pribadi Xu-yun. Karya-hidup Xu-yun [dalam mengembangkan Buddha-dharma] memang suatu pretasi yang luar biasa -- sangat menonjol kalaupun jika dibanding prestasi perkembangan manakala dukungan pemerintah diberikan secara mudah.

Fakta bahwa dengan hanya bermodal semangat baja dan pengabdian-tulusnya ternyata beliau sudah berhasil merampungkan tujuan melawan terpaan zaman - membuat pen-capaiannya sungguh makin mengagumkan atau malah fantastik. Ini pasti hanya bisa terjadi berkat begitu mendalamnya hidup spiritual beliau, yang dengan itu sendiri pun sebenarnya sudah memadai buat membangkitkan enerji bagi pembaharuan di tengah kekalutan dan kemerosotan. Buah karya lahiriah beliau merupakan cermin kwalitas hidup batiniah yang beliau latih-kembangkan, sesuatu yang langka. Bagi kebanyakan umat Buddhis China, Xu-yun tampil bagai kelahiran kembali serta perwujudan jasmaniah dari segenap keagungan Sangha Tiongkok pada masa kejayaan Dinasti Tang serta Song; dan sebagaimana halnya seorang sarjana modern Barat menyebutnya sebagai "biografi orang suci," kehidupannya secara ganjil dipayungi oleh spirit masa-masa yang lebih agung. Proyek restorasi [tempat-tempat suci yang ditunaikan oleh] Sang Master kerap terlaksana secara ajaib, seolah-olah seluruh kandungan terpendam dari tradisi Buddhisme Tiongkok hendak berbicara melalui dirinya. Ketika bertugas sebagai kepala biara Gu-shan di Fujian pada tahun 1934, dalam meditasi petang-nya Sang Master melihat Sesepuh Chan Keenam (Huineng, wafat tahun 713).

Edited by Top1, 05 February 2013 - 11:38 PM.


#5 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 05 February 2013 - 11:39 PM

Sang Sesepuh berujar, "Kini waktunya bagimu untuk kembali." --- Menyangka ini pertanda bahwa akhir hidupnya sudah mendekat, maka Sang Master secara singkat menyam-paikan hal ini pada pendampingnya (dayaka) serta tidak merisaukannya lagi. Bulan keempat tahun yang sama, sekali lagi ia berjumpa dengan Sesepuh Keenam dalam sebuah mimpi (vision; Pali: ninitta), yang mana Sang Sesepuh mendesaknya tiga kali untuk "kembali." Tak berapa lama setelah itu, Sang Master menerima telegram dari pejabat propinsi di Guangdong yang mengundang buat merenovasi Biara Sesepuh Keenam di Cao-xi, yang keadaannya sama memprihatinkannya seperti tatkala sebelum Master Han-shan memulai proyek restorasinya di zaman Dinasti Ming. Lalu Xu-yun mengalihkan pengawasan Biara Gu-shan kepada kepala biara lain dan berangkat ke Cao-xi guna menangani perbaikan

Biara Nan-hua yang tersohor itu, yang sebelumnya terkenal dengan nama "Bao-lin" atau "Hutan Mestika" --- sumber inspirasi dan cikal bakal beberapa aliran Chan pada zaman dahulu. Di sepanjang perjalanan hidup Sang Master yang tidak singkat, dalam keberuntungan maupun kemalangan, beliau tetaplah seorang bhiksu yang sederhana serta rendah hati. Barangsiapa yang berjumpa dengannya, termasuk para peng-amat Barat yang biasanya lebih kritis, mendapati beliau itu benar-benar "bebas-lepas" (detached) - tak-terbebani dengan segala pencapaian-pencapaian luarbiasanya. Tidak seperti satu atau dua tokoh lain yang bersedia menerima publisitas dan pemujaan sebagai sarana membangkitkan Buddhisme. Ketika yang lain banyak berbicara, Xu-yun dengan diam menempuh jalannya sendiri, begitu tak terpengaruh, bagai "padas teguh tak terpahatkan" --- sebagaimana sikap bathin seorang China bijak. Sekali lagi, terlepas dari begitu banyak biara yang telah beliau bantu bangun kembali: sederhana-mulia tetaplah menjadi sikap beliau. Ketika Sang Mahaguru mendatangi sebuah tempat suci yang hendak di-restorasi, ia membawa sebatang tongkat sebagai satu-satunya harta-milik; ketika melihatbahwa tugas pembangunan itu telah rampung, ia pun sekedar berlalu dengan berbekal sebilah tongkat yang masih sama itu saja. Ketika tiba di Yun-ju untuk merestorasi Biara Zhen-ru -yang saat itu masih berantakan --ia tinggal di kandang sapi. Terlepas dari sejumlah besar uang hasil sumbangan umat selama proyek pembangunan berlangsung, Sang Mahaguru tetap puas memilih tinggal dalam kandang sapi sederhananya dan tetap terus di situ, bahkan setelah bangunan Biara Zhen-ru bangkit megah menjulang bagai phoenix dari reruntuhannya. Tetapi ya --memang inilah yang diharapkan dari seorang bhiksu yang dahulu pernah hidup hanya dari de-daunan pinus dan air-gunung semasa mengasingkan diri di alas pegunungan Gu-shan. Yang terkenal pula adalah laku ziarah panjang beliau: jalan-kaki beribu-ribu kilometer ke berbagai tempat suci baik di dalam maupun luar negeri. Laku itu hanya mengandalkan sepenuhnya pada belas-kasihan alam dan seringkali cuma ber-bekal daya-keyakinan semata. Laku ziarah terbesar itu terjadi pada usianya ke-43 ketika beliau budal dari Pulau Pu-tuo, tempat suci Bodhisattva Avalokitesvara di Zhejiang.


#6 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 05 February 2013 - 11:42 PM

Dengan memegang dupa di sepanjang perjalanan, ia melakukan sujud-namaskara setiap tiga-langkah (san pu ie pai) guna menghatur-kan hormat pada Sang Triratna. Kemudian dengan cara yang sama, ia mendaki Gunung Wu-tai di Shansi, tempat suci Bodhisattva Manjusri. Salah satu tujuan laku itu adalah guna membalas budi kebajikan orang tuanya. Kekokohan tekad beliau nampak dari kenyataan: dua kali ia nyaris tewas diter-jang dingin menggigit puncak-puncak salju Gunung Wu-tai. Ia diselamatkan oleh seorang pengemis bernama Wen-ji, yang dipandang oleh umat Buddhis Tiongkok sebagai "tubuh transformasi" [penjelmaan] Bodhisattva Manjusri.

Dari Gunung Wu-tai, Sang Master berjalan menuju Tibet, sempat singgah sebentar, lalu terus melaju ke Bhutan, India, Srilanka, serta Burma, sebelum akhirnya kembali ke Tiongkok melalui Yunnan, sambil mengunjungi tempat-tempat suci di sepanjang perjalanannya. Selama perjalanan itu, Sang Master berhasil merealisasi "pikiran-tunggal" baik siang maupun malam, hingga sekem-bali beliau ke China, kondisi telah matang bagi pencapaian pencerahan sempurnanya --- ini terjadi pada usia beliau yang ke-56 di Biara Gao-min, Yangzhou. Ia adalah seseorang, yang disebut orang China sebagai: memiliki "tulang Para Arya," karena buah karya restorasinya juga mencakup penghidupan kembali ajaran dari Kelima Aliran Chan (Wu-jia).

Sang Master memang benar-benar seorang otodidak tulen ('self-made man') yang telah membangkitkan seluruh ajaran tersebut dengan kekuatan insight-nya sendiri tanpa guru. Kilas insight-insight awal memang dijumpai pada vihara-vihara yang dikenal Xu-yun pada masa mudanya, tetapi sebenarnya sebagian besar tradisi Chan sudah mengalami kemerosotan. Guru-guru pertamanya adalah para Master Dharma1 ataupun Master Tian-tai - tapi memang betul, adalah guru Tian-tai-riya itulah yang memberikan gong-an pertamanya yang berbunyi, "Siapa yang menyeret jasad ini ke sana ke mari?" - jadi, kurang benarlah bila kita mengatakan bahwa vihara-vihara Tiongkok sudah sepenuhnya kehilangan individu-individu tercerahkan. Sedang kebangkitan menonjol tradisi Chan mulai dari tahun 30-an hingga 50-an sebagian besar memang buah hasil usaha-usaha Xu-yun.

Sang Mahaguru juga sangat peduli dengan umat awam, dan ia benar-benar progresif dengan membuka lebar pintu biara bagi umat awam, mengajar mereka bersama-sama dengan para anggota Sangha. Ia menebar banyak manfaat dalam pu-shuo atau "kotbah bebas"nya, dimana ajaran tersebut dituju-kan bagi siapa saja yang datang padanya. Sekalipun menjadi bhiksu selama 101 tahun, ia tidak pernah mengatakan bahwa Dharma itu di luar jangkauan pemahaman umat awam. Sementara gatha dan bait-bait puisi [yang dikarang beliau] meng-ungkap insight mendalamnya yang melampaui segala keduniawian, ia tak pernah lupa mengingatkan murid-murid bahwa bodhi yang agung adalah selalu hadir, selalu ada justru dalam kegiatan sehari-hari kita serta pada situasi-situasi yang nampaknya duniawi.


1Master Dharma disini berarti guru-teori-Dharma, bukan guru-praktik-meditasi yang biasa disebut sebagai: Zen Master atau Dhyana Master - ed.

Edited by Top1, 06 February 2013 - 01:09 AM.


#7 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 05 February 2013 - 11:49 PM

Seperti semua Master Chan sebelumnya, maka beliau menekankan pikiran tiada-tinggal (non-abiding mind) yang mengatasi segala relatifitas hal-hal berkondisi, bahkan pada saat ia timbul di dalamnya sekalipun, suatu paradoks yang hanya dapat dipahami sepenuhnya oleh mereka yang telah tercerahi. Meski merupakan seorang praktisi Chan terkemuka, ia juga mengajarkan Buddhisme Aliran Tanah Suci (Sukhavati, Pure Land), yang dipandang sama effektif-nya bagi pelatihan diri oleh beliau. Karena dengan pelafalan mantra Amithofo (nien-fo) dengan pikiran-tunggal bisa menyetop gejolak pikiran dualistik sehingga dengan demikian si praktisi dapat menangkap hakekat kebijaksanaan inherennya, jadi sama dengan teknik hua-tou [dari Aliran Chan].

Barangkali ini akan mengejutkan beberapa orang Barat yang sedang larut pada "ter-gila-gila Zen" beberapa tahun belakangan, di mana sering disangka bahwa para Master Chan atau Zen menghindari praktik nien-fo. Juga berbeda pula dengan apa yang dipahami seseorang [mengenai Master Chan]2, Xuyun memberikan ceramah mengenai Sutra atau Shastrn secara teratur, yang ia pahami penuh setelah mempelajarinya selama berpuluh-puluh tahun dan ia sudah: mengalami sendiri apa yang diajarkan itu, dengan jalan yang telah mengatasi kata-kata, nama, dan istilah-istilah dalam pengertian harafiahnya.

Di waktu Xu-yun selesai menghidupkan kembali Buddhisme Tiongkok, baik segi lahiriah maupun spiritualnya, sedikit saja murid-murid - baik yang kumpul di sekeliling beliau atau yang tinggal di biara-biara lain hasil renovasinya --- pernah mengalami penderitaan dan kesulitan seberat yang ditempuh Sang Master pada masa mudanya, yakni saat awal beliau meretas jalan hidup kebhiksuannya... Dahulu: acapkali ia diusir dari biara-biara yang telah me-rosot oleh sistem kepemilikan secara turun-temurun - bahkan sering tak diizinkan menginap barang semalam pun. Ketika mengunjungi beberapa vihara, jumlah bhiksunya sedikit hingga dapat dihitung dengan jari oleh karena kemerosotan yang umum terjadi masa itu.

Suatu ketika bencana kelaparan telah merenggut hampir seluruh penduduk setempat dan kaum rahib menjadi cuma sejenis orang yang suka pasang tampang-garang tatkala ada pengunjung yang hendak ber-teduh. Dikarenakan latar belakang itu, tidaklah mengherankan bahwa Xu-yun merasa perlu menghidupkan kembali semangat berdikari bagi para bhiksu sesuai yang diamanatkan Master Bai-zhang Hui-hai (wafat 814) dalam pameo terkenalnya, "Sehari tanpa kerja adalah sehari tanpa makan." Jadi, di mana pun sejauh memungkinkan, Master Xu-yun selalu meng-giat-kembali sistim pertanian biara sehingga menghidupkan tradisi berdikari itu.


2Aliran Chan atau Zen biasa dikenal sangat menekankan tradisi-praktik, sehingga orang umum tahunya Zen tidak begitu mementingkan sutra atau naskah-naskah tertulis - ed

Edited by Top1, 06 February 2013 - 01:11 AM.


#8 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 05 February 2013 - 11:56 PM

Sampai sejauh itu, unsur-unsur yang dibutuhkan buat menunjang timbulnya kebangkitan kembali Dharma di China telah tersedia - suatu kondisi hasil upaya penuh pengabdian Sang Mahaguru selama berdekade-dekade Namun kita kini tiba pada babakan paling tragis dalam kehidupan Xu-yun yang boleh disebut dengan ibarat peris-tiwa 'menjelang kiamat'3 dan seharusnya hal itu dapat saja menyebabkan hidup Sang Master berakhir, meski untungnya tidak.

Sebagaimana yang kita ketahui, Pemerintahan Komunis menguasai seluruh Tiongkok pada tahun 1949, bersamaan dengan usaha Xu-yun untuk memperbaiki kembali Biara Yunmen di Guangdong. Antara tahun 1951 - 52 guncangan-guncangan pertama yang nantinya diikuti oleh geger Revolusi Kebudayaan mulai terasa di mana-mana. Perbaikan kembali Biara Yun-men hampir selesai, tetapi kemalangan yang tak terduga menimpa dari-luar, oleh adanya gerakan pembasmian "anasir-anasir kanan" di provinsi Guang Dong.

Dengan pe-nampilannya yang sangat "tradisional", Xu-yun adalah target yang mencolok. --- Khawatir akan keselamatan Xu-yun di tengah-tengah situasi yang gawat, para murid di luar negeri mendesak beliau agar meninggalkan daratan Tiongkok sampai keadaan cukup tenang. Tetapi beliau menolak pergi, karena merasa bahwa tugasnya adalah merawat kelangsungan biara-biara tersebut. --- Yang terjadi kemudian memang tak terelakkan: segerombolan kader-kader Komunis datang me-ngepung Biara Yun-men. Mereka mengurung Sang Master dalam sebuah kamar selama beberapa hari, di mana ia diinterogasi dan digebuki dengan kejam, lalu dicampakkan dalam keadaan sekarat ...

Barangkali makin sedikit kita bicara mengenai episode ini, makin baik. Cukuplah buat mengatakan bahwa Sang Master mengalami patah tulang rusuk dan pendarahan hebat, untuk waktu lama beliau sakit parah. Ajaib, pada usianya yang telah 112 tahun itu, Xuyun dapat sembuh dari penyik-saan yang seharusnya cukup buat membunuh orang berusia separoh umurnya. Ini bukan pertama kali beliau dianiaya -sebelumnya di tahun 1916, beliau pernah dihajar oleh polisi Singapura. Ironis, karena kali itu beliau dikira sebagai "kaum kiri" dari China daratan. Namun, aniaya yang dialami pada umurnya yang ke-112 ini benar-benar lebih buruk. Sekalipun demikian, tanpa bermaksud mengecilkan keganasan yang telah beliau derita, Sang Master tua ini toh bangkit kembali beserta segala keulungannya bagai 'boneka Daruma'4 dan tetap melanjutkan mengajar tidak hanya di Biara Yun-men, melainkan juga tempat-tempat lainnya. Beliau juga masih bisa menyisihkan waktu dan tenaga satu ronde lagi buat meres-torasi Biara Zhen-ru di Gunung Yun-ju, Propinsi Jiangxi, tem-pat di mana beliau wafat pada 13 Oktober 1959.


3Twilight of the gods: peristiwa Ragnarok dalam legenda bangsa Norse (Eropa Utara), kisah penumpasan para dewa dan dunia oleh kekuatan jahat dalam pertempuran final - ed

4Boneka Da-ruma (Bodhidharma/Ta-mo): mainan yang amat populer di Jepang; bentuknya bulat-telur, gendut di bawah, sehingga digoyang bagaimanapun juga selalu bangkit kembali, tidak mengguling - seperti Master Xu-yun --- ed.

Edited by Top1, 06 February 2013 - 01:20 AM.


#9 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 06 February 2013 - 12:03 AM

Beliau ber-gabung menjadi anggota Sangha selama 101 tahun. Dengan wafatnya Sang Mahaguru di tahun 1959, kemelut Revolusi Kebudayaan baru mulai menggeletar di China. Se-bagaimana yang kita ketahui, biara-biara menderita kepahitan selama kurun waktu tersebut. Bagi banyak bhiksu, bhiksuni dan umat awam, nampaknya semua karya yang sudah diperjuangkan dengan keras oleh Sang Master bakal segera tumpas. Ukuran keganasannya sudah nampak pada insiden di tahun-tahun terakhir kehidupan Xuyun, yang pastilah itu menjadi kepedihan tersendiri bagi beliau...

Episode di Yun-men itu telah menelan korban anak-didik-nya yang paling piawai: Miao-yuan --- ia dieksekusi oleh gerombolan komunis. Beberapa murid lainnya juga telah di-aniaya. Semua nampak kelam, dan bahkan berita-berita mengenai peristiwa itu kudu diselundupkan keluar China dengan cara menyelinapkannya pada bagian bolong dari buku tradisiorial ala Tiongkok. Namun kini sudah banyak orang di China daratan yang mulai bersedia mengakui bahwa Revolusi Kebudayaan itu memang merupakan sesuatu yang salah ... --- kiranya sedikit saja orang yang tidak setuju. Apakah secara jangka panjang, huru-hara reformasi ideologi di atas merupakan malapetaka bagi Buddhisme Tiongkok sebagaimana yang telah diprediksikan?

Ini satu pertanyaan yang bagus. Kita seyogianya tidak menutup mata mengira bahwa Buddhisme itu bebas dari, penindasan pada masa rezirn-rezim kuno. Pada masa Hui-chang (842-5) dari Dinasti Tang, berlangsung juga suatu penumpasan massal terhadap Buddhisme Tiongkok. Akibatnya adalah penghan-curan 4.600 biara, dengan 260.000 bhiksu serta bhiksuni di-paksa untuk balik menjadi awam, dan penjarahan properti milik biara pun marak. Tapi biara-biara Buddhis selalu ber-hasil bangkit kembali dari penindasan dan kalau dikontras-kan dengan sejarah kuno itu, maka gambaran modern tidak-lah sepenuhnya pesimistis.

Hal yang agak melegakan adalah bahwa vihara-vihara yang dahulunya direstorasi oleh Xu-yun, sesudah amuk Revolusi Kebudayaan mereda: biara-biara tersebut tidak hanya diperbaiki kemudian, bahkan banyak di antaranya yang sudah dibalikkan ke posisi semula serta sekali lagi kembali berfungsi secara wajar --- meski jumlah bhiksu atau bhiksu-ninya memang jauh lebih sedikit. Dan mereka yang kendati sedikit itu --- bukanlah bhiksu palsu yang diselundupkan oleh para penguasa seperti kejadian masa dua puluh tahun lalu [yang tentu saja: sebenarnya tak seorang pun bisa dikelabui] melainkan: mereka sungguh bhiksu-bhiksu tulen yang bona fide. Saya mengetahui hal ini dari dua sumber yang meya-kinkan, yakni: Master Dharma Hin-lik serta Stephen Batche-lor (Gelong Jhampa Thabkay), di mana keduanya baru saja melakukan kunjungan ke biara-biara di China selatan. Klta janganlah mengakhiri hal ini dengan rasa pesimis.

Sebaliknya kita harus bersukacita karena hasil daya upaya keras Master Xu-yun tidaklah sia-sia. Tanpa enerji yang sudah beliau pompakan pada Buddhisme China, maka Sangha Tiongkok akan menderita kemunduran yang lebih parah lagi di sepanjang berlangsungnya rusuh revolusi. Dalam pengertian ini, Master Xu-yun telah ngelakoni peran se-bagai "merak peminum racun," sebagaimana yang dapat kita jumpai dalam kisah fabel Buddhis --- dari getirnya racun itu lahirlah spiritualitas baru. Jika dilihat dari pengaruh jangka panjang, maka nampaknya sebagaimana dengan Buddhisme Tibet, penggencetan Buddhisme di Tiongkok menghasilkan effek yang justru bertolak-belakang dengan harapan penganiayanya.

Tidak hanya umat Buddhis Asia kini kembali menghargai nilai Dharma dalam konteks mereka sendiri, namun kebajikannya juga telah menarik perhatian seluruh dunia. Apakah hanya merupakan kebetulan bahwa pada saat geger Revolusi Kebudayaan mencapai puncak kebengisan-nya, salinan-salinan karya Lao-zi dan naskah-naskah Chan (Zen) justru mencapai rekor cetak ulangnya di dunia Barat? Seseorang yang akrab dengan teori Jung mengenai sinkroni-tas akan cenderung memandang fenomena ini sebagai tin-dakan tak terungkapkan dari kompensasi kejiwaan kolektif. Beberapa hal memang rasanya harus ada dan tidak dapat dimusnahkan. Meskipun semua ciri-ciri lahiriah dan simbol-simbol dapat ditanggalkan buat sementara, namun hakekat arketipal (asali) terdalamnya selalulah akan tetap ada, dan seperti benih, mereka menumbuhkan kembali dirinya sen-diri.

Membanggakan sekali untuk dicatat bahwa tokoh se-kaliber C. G. Jung [di akhir hidup, hingga di ranjang ke-matiannya] membaca dan menekuni buku Catatan Ceramah Xu-yun. Selama bertahun-tahun, penyunting buku ini telah menerima berbagai surat dari dalam dan luar negeri yang menanyakan mengenai kehidupan dan ajaran Xu-yun. Ketertarikan semacam itu datang dari berbagai kalangan dan benua, mulai dari Eropa, Australia, dan Amerika Serikat, hingga ke Skandinavia serta bahkan sebuah negara kecil di Amerika Latin. Dengan memandang ketertarikan yang luas jangkauannya itu, kisah mengenai kehidupan Xu-yun akan hadir bagi banyak orang, di mana sebelumnya [buku-buku ajaran] beliau telah tersedia selama bertahun-tahun, tetapi otobiografinya hanya dicetak secara terbatas. Di Amerika, Roshi Philip Kapleau telah membaca riwa-yat Xu-yun untuk menginspirasikan siswa-siswanya di Zen Rochester Center. Ini hanya dapat terjadi dikarenakan riwayat Xu-yun adalah saksi akan kebutuhan terdalam umat manusia akan santapan spiritual. Ketika membaca mengenai kisah pencarian Xu-yun, kita melihat cerminan batin kita sendiri. Ia melambangkan "orang besar" yang tersembunyi dalam diri kita sendiri dan nama "Awan Kosong" mengingatkan kita akan Sang "aku" yang lebih besar --- yang belum ditemukan --- di mana kita semua tergaris buat menjelajahi.

Edited by Top1, 06 February 2013 - 01:21 AM.


#10 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 06 February 2013 - 12:03 AM

Beliau ber-gabung menjadi anggota Sangha selama 101 tahun. Dengan wafatnya Sang Mahaguru di tahun 1959, kemelut Revolusi Kebudayaan baru mulai menggeletar di China. Se-bagaimana yang kita ketahui, biara-biara menderita kepahitan selama kurun waktu tersebut. Bagi banyak bhiksu, bhiksuni dan umat awam, nampaknya semua karya yang sudah diperjuangkan dengan keras oleh Sang Master bakal segera tumpas. Ukuran keganasannya sudah nampak pada insiden di tahun-tahun terakhir kehidupan Xuyun, yang pastilah itu menjadi kepedihan tersendiri bagi beliau...

Episode di Yun-men itu telah menelan korban anak-didik-nya yang paling piawai: Miao-yuan --- ia dieksekusi oleh gerombolan komunis. Beberapa murid lainnya juga telah di-aniaya. Semua nampak kelam, dan bahkan berita-berita mengenai peristiwa itu kudu diselundupkan keluar China dengan cara menyelinapkannya pada bagian bolong dari Boneka Da-ruma (Bodhidharma/Ta-mo): mainan yang amat populer di Jepang; bentuknya bulat-telur, gendut di bawah, sehingga digoyang bagaimanapun juga selalu bangkit kembali, tidak mengguling - seperti Master Xu-yun --- ed. buku tradisiorial ala Tiongkok. Namun kini sudah banyak orang di China daratan yang mulai bersedia mengakui bahwa Revolusi Kebudayaan itu memang merupakan sesuatu yang salah ... --- kiranya sedikit saja orang yang tidak setuju. Apakah secara jangka panjang, huru-hara reformasi ideologi di atas merupakan malapetaka bagi Buddhisme Tiongkok sebagaimana yang telah diprediksikan?

Ini satu pertanyaan yang bagus. Kita seyogianya tidak menutup mata mengira bahwa Buddhisme itu bebas dari, penindasan pada masa rezirn-rezim kuno. Pada masa Hui-chang (842-5) dari Dinasti Tang, berlangsung juga suatu penumpasan massal terhadap Buddhisme Tiongkok. Akibatnya adalah penghan-curan 4.600 biara, dengan 260.000 bhiksu serta bhiksuni di-paksa untuk balik menjadi awam, dan penjarahan properti milik biara pun marak. Tapi biara-biara Buddhis selalu ber-hasil bangkit kembali dari penindasan dan kalau dikontras-kan dengan sejarah kuno itu, maka gambaran modern tidak-lah sepenuhnya pesimistis.

Hal yang agak melegakan adalah bahwa vihara-vihara yang dahulunya direstorasi oleh Xu-yun, sesudah amuk Revolusi Kebudayaan mereda: biara-biara tersebut tidak hanya diperbaiki kemudian, bahkan banyak di antaranya yang sudah dibalikkan ke posisi semula serta sekali lagi kembali berfungsi secara wajar --- meski jumlah bhiksu atau bhiksu-ninya memang jauh lebih sedikit. Dan mereka yang kendati sedikit itu --- bukanlah bhiksu palsu yang diselundupkan oleh para penguasa seperti kejadian masa dua puluh tahun lalu [yang tentu saja: sebenarnya tak seorang pun bisa dikelabui] melainkan: mereka sungguh bhiksu-bhiksu tulen yang bona fide. Saya mengetahui hal ini dari dua sumber yang meya-kinkan, yakni: Master Dharma Hin-lik serta Stephen Batche-lor (Gelong Jhampa Thabkay), di mana keduanya baru saja melakukan kunjungan ke biara-biara di China selatan. Klta janganlah mengakhiri hal ini dengan rasa pesimis.

Sebaliknya kita harus bersukacita karena hasil daya upaya keras Master Xu-yun tidaklah sia-sia. Tanpa enerji yang sudah beliau pompakan pada Buddhisme China, maka Sangha Tiongkok akan menderita kemunduran yang lebih parah lagi di sepanjang berlangsungnya rusuh revolusi. Dalam pengertian ini, Master Xu-yun telah ngelakoni peran se-bagai "merak peminum racun," sebagaimana yang dapat kita jumpai dalam kisah fabel Buddhis --- dari getirnya racun itu lahirlah spiritualitas baru. Jika dilihat dari pengaruh jangka panjang, maka nampaknya sebagaimana dengan Buddhisme Tibet, penggencetan Buddhisme di Tiongkok menghasilkan effek yang justru bertolak-belakang dengan harapan penganiayanya.

Tidak hanya umat Buddhis Asia kini kembali menghargai nilai Dharma dalam konteks mereka sendiri, namun kebajikannya juga telah menarik perhatian seluruh dunia. Apakah hanya merupakan kebetulan bahwa pada saat geger Revolusi Kebudayaan mencapai puncak kebengisan-nya, salinan-salinan karya Lao-zi dan naskah-naskah Chan (Zen) justru mencapai rekor cetak ulangnya di dunia Barat? Seseorang yang akrab dengan teori Jung mengenai sinkroni-tas akan cenderung memandang fenomena ini sebagai tin-dakan tak terungkapkan dari kompensasi kejiwaan kolektif. Beberapa hal memang rasanya harus ada dan tidak dapat dimusnahkan. Meskipun semua ciri-ciri lahiriah dan simbol-simbol dapat ditanggalkan buat sementara, namun hakekat arketipal (asali) terdalamnya selalulah akan tetap ada, dan seperti benih, mereka menumbuhkan kembali dirinya sen-diri.

Membanggakan sekali untuk dicatat bahwa tokoh se-kaliber C. G. Jung [di akhir hidup, hingga di ranjang ke-matiannya] membaca dan menekuni buku Catatan Ceramah Xu-yun. Selama bertahun-tahun, penyunting buku ini telah menerima berbagai surat dari dalam dan luar negeri yang menanyakan mengenai kehidupan dan ajaran Xu-yun. Ketertarikan semacam itu datang dari berbagai kalangan dan benua, mulai dari Eropa, Australia, dan Amerika Serikat, hingga ke Skandinavia serta bahkan sebuah negara kecil di Amerika Latin. Dengan memandang ketertarikan yang luas jangkauannya itu, kisah mengenai kehidupan Xu-yun akan hadir bagi banyak orang, di mana sebelumnya [buku-buku ajaran] beliau telah tersedia selama bertahun-tahun, tetapi otobiografinya hanya dicetak secara terbatas. Di Amerika, Roshi Philip Kapleau telah membaca riwa-yat Xu-yun untuk menginspirasikan siswa-siswanya di Zen Rochester Center. Ini hanya dapat terjadi dikarenakan riwayat Xu-yun adalah saksi akan kebutuhan terdalam umat manusia akan santapan spiritual. Ketika membaca mengenai kisah pencarian Xu-yun, kita melihat cerminan batin kita sendiri. Ia melambangkan "orang besar" yang tersembunyi dalam diri kita sendiri dan nama "Awan Kosong" mengingatkan kita akan Sang "aku" yang lebih besar --- yang belum ditemukan --- di mana kita semua tergaris buat menjelajahi.


#11 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 06 February 2013 - 12:06 AM

Kita telah menjelaskan panjang lebar mengenai orang besar yang dibahas dalam naskah ini; kini suatu penjelasan singkat perlu diberikan terhadap karya ini sendiri. Kita patut bergembira oleh karena edisi baru [bahasa Inggris] Awan Kosong ini telah hadir di hadapan kita di bawah bendera Element Books sebagai penerbit. Meskipun ajaran-ajaran Xu-yun telah dikenal luas melalui buku Discourses and Dharma Words hasil terjemahan Upasaka Lu K'uan Yu (Charles Luk) dalam serial Zen Teaching (lihat Daftar Pustaka).

Terjemahan riwayat hidup Sang Master karya Lu tidak pernah diterbitkan secara teratur, kendati edisi terbatas pernah sesekali hadir di Amerika Serikat melalui inisiatif Roshi Philip Kapleau dan kawan-kawannya di Pusat Zen Rochester (1974), dan juga edisi bahasa Inggris yang tahun 1980, berkat bantuan kawankawan saya yang telah mendanai versi tersebut. Sebagai persiapan bagi penerbitan kembali berikutnya, nampaknya perlu untuk memasukan sejumlah koreksi, revisi, dan tambahan supaya naskah tersebut tidak ketinggalan zaman. Beberapa koreksi telah diberikan pada naskah saya oleh Upasaka Lu semenjak tahun 1975 dan begitu pula sebaliknya, tetapi sayangnya karena Lu wafat pada tahun 1978, ia tidak dapat lagi memberikan koreksi berikutnya.

Oleh karena itu, sebagai gantinya saya telah memeriksa ter-jemahan tersebut beberapa kali dengan mencocokkannya terhadap Xu-yun He-shang Nian-pu sebagai sumber terjemahan Lu. Saya menambahkan hal-hal yang perlu, seperti misal-nya catatan-catatan tambahan, tambahan-tambahan kecil, daftar istilah, dan lain sebagainya, walau secara prinsip terjemahan ini masih seperti aslinya --- sebagaimana yang di-hasilkan oleh Lu dan pertama kali tampil secara seri dalam World Buddhism (tahun 1960-an). Beberapa bagian ditulis ulang ataupun ditambahkan, dan diperluas dengan terjemahan-terjemahan baru. Perubahan lainnva adalah menggantikan sistim penulis-an bahasa Mandarin dalam huruf latin dengan ejaan pinyin, karena ejaan itu dengan cepat telah menjadi bentuk standar latinisasi bahasa Mandarin di Barat dan selain itu ejaan tersebut akan dijumpai para pengunjung di Tiongkok, yakni dalam buku panduan serta publikasi-publikasi.

Saya telah melakukan pengecualian terhadap hal ini dalam dua atau tiga kesempatan. Sebagai contoh saya mempertahankan nama Canton bagi Guangzhou, karena Canton yang merupakan nama lama tersebut masih dipergunakan dalam buku-buku panduan. Saya juga mempertahankan nama Amoy bagi Xiamen, agar pada pembaca awam terhindar dari kebingung-an. Selain itu, saya juga tetap menggunakan ejaan lama Shensi dan Shansi (pinyin: Shaanxi dan Shanxi). Sekali lagi, dengan tidak terpaku pada aturan-aturan lama, saya telah membubuhkan garis di antara dua suku kata untuk mempertahankan pembacaan lama. Para pembaca yang terbiasa dengan ejaan pinyin tidak akan mendapati kesulitan tatkala menjumpai kata "Bao-lin" dan bagi mereka yan terbiasa dengan ejaan Wade-Giles akan langsung mengenali bentuk lamanya, yakni "Bao-lin."

Apabila ditulis dengan "Baolin," maka nama tersebut akan sulit dikenali. Saya juga tetapi menggunakan satuan li sebagai satuan jarak, karena ia lebih pendek penulisannya dibandingkan satuan mil (Istilah asli: mile) Inggris (setara dengan kurang lebih 1/3 mil) dan tidak menimbulkan banyak masalah apabila dinyatakan dalam kilometer. Sebagai catatan terakhir, kami merasa perlu meng-ingatkan para pembaca bahwa terjemahan Luk itu dihasil-kan dari edisi awal biografi Xu-yun; dalam tahun-tahun terakhir ini, edisi ini telah diperluas dengan menambahkan kumpulan ajaran serta Dharmadesana yang diberikan pada banyak biara, di mana ini sesungguhnya merupakan buku terpisah.

Memang, menterjemahkan seluruh karya ini merupakan sesuatu yang menarik, namun [kami meninggalkan] sesuatu yang merupakan hasil karya terbaik ini bagi mereka yang bersedia menterjemahkannya. Meskipun demikian, sejumlah tambahan telah dihadirkan pada edisi kali ini. Sumber-sumber tambahan yang memuat ajaran Xu-yun, baik yang merupakan terjemahan dalam bahasa Inggris ataupun naskah aslinya dalam bahasa Mandarin, telah didaftar pada bagian daftar pustaka. Semoga semua makhluk segera mencapai pembebasan!

Upasaka Wen-shu (Richard Hunn)
Thorpe Hamlet, Norwich.
13 Oktorber 1987.
Peringatan Master Xu-yun mencapai Pari Nirvana.


Bersambung ke Bagian I ...

Edited by Top1, 06 February 2013 - 12:07 AM.


#12 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 07 February 2013 - 03:22 AM

Bab 1. Tahun-tahun Awal

TAHUN PERTAMA

Kehidupan Saya

USIA Ke 1 (1840/40). Saya terlahir di ibukota Prefektur Quanzhou pada bulan ketujuh
dalam tahun Geng-zi, atau tahun keduapuluh masa pemerintahan Kaisar Dao-guang [26
Agustus 1840]. Ketika ibu saya melihat bahwa ia telah melahirkan sebuah buntalan
daging [kemungkinan rahimnya merosot lepas], maka merasa ngerilah ia dan
memperkirakan bahwa tiada harapan buat melahirkan anak lagi, beliau larut dalam
keputusasaan dan me-ninggal dunia.

Keesokan hari, datang seorang tua penjual-obat ke rumah kami dan membelah buntalan
daging tersebut, me-ngeluarkan seorang bayi lelaki [saya] yang kemudian diasuh oleh ibu
tiri saya.

USIA Ke 11 (1850/50) Nenek telah lanjut usia dan karena saya telah diangkat sebagai
ahli waris paman, maka nenek menjodohkan saya dengan dua orarig gadis ber-marga
Tian dan Tan. Keduanya berasal dari Propinsi Hunan, tetapi tinggal di Fujian dan kami
sudah bersahabat dengan keluarga mereka semenjak beberapa generasi. Pada musim
dingin tahun ini, nenek meninggal dunia.

USIA Ke 13 (1852/53) Tahun ini, saya menyertai ayah membawa peti mati nenek ke
Xiangxiang --- tempat di mana ia dimakamkan. Para Bhiksu diundang buat melaksanakan
ritual. Itulah kali pertama saya menjumpai benda-benda suci keagamaan dan
merasa senang melihatnya. Ter-dapat banyak Sutra (kitab suci Buddhis) di perpustakaan
rumah kami dan saya dengan demikian membaca kisah "Gunung Harum" serta riwayat
Bodhisattva Avalokitesvara mencapai pencerahan --- hal ini memberi pengaruh luar
biasa terhadap benak saya.

Pada bulan kedelapan saya menyertai paman ke Nan-yue; kami mengunjungi berbagai
vihara. Saya merasa seolah-olah kekuatan karma masa lampau telah membuat saya tidak
ingin kembali ke rumah lagi, tetapi karena paman orangnya keras maka saya tak berani
mengatakan apa yang saya rasakan kepadanya.

USIA Ke 14 (1853/54) Ayah mendapati bahwa saya ingin meninggalkan-rumah untuk
bergabung dengan Sangha, maka untuk mencegah agar saya jangan sampai melakukan hal
itu, ia mengundang seorang Daois bernama Wang guna mengajar saya praktik Daois-me
di rumah. Guru Wang memberi saya buku-buku Daois buat dibaca dan juga mengajari
yoga "internal" dan "eksternal" ala Daois [Nei-gong dan Wai-gong].

Saya tak menyukai ajaran tersebut tetapi tak berani mengungkapkan ketidak-senangan
saya. Pada musim dingin tahun ini, masa berkabung bagi nenek telah usai dan sesudah
mempercayakan masalah pendidikan saya kepada paman, maka ayah pulang sendirian ke
Fujian.


#13 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 07 February 2013 - 03:28 AM

USIA Ke 17 (1856/57) Saya telah mempelajari Daoisme di rumah sekurang-kurangnya
tiga tahun tetapi menyadari bahwa ajaran yang diberikan kepada saya tersebut takkan
bisa membawa ke Jalan yang pamungkas. Meski merasa seolah-olah sedang duduk di
atas bantalan jarum, saya tetap berpura-pura melakukan apa saja buat menyenangkan
paman --- saya menyibukkan diri di dalam rumah untuk menghindari pengawasannya.

Suatu hari tatkala ia sedang pergi, saya berpikir bahwa itulah kesempatan buat kabur.
Saya lalu mengemasi barang-barang dan pergi menuju ke Nan-yue. Pada waktu itu masih
banyak jalan yang sulit ditempuh dan ketika sudah setengah perjalanan, saya di-candak
orang yang dikirirn buat mengejar dan saya dige-landang pulang.

Bersama dengan sepupu saya Fu-guo, kami dikirim ke Quanzhou dan tak lama setelah itu,
ayah mengirim dua orang gadis dari keluarga Tian dan Tan. Perkawinan saya dirayakan
setelah itu, tak peduli apakah saya suka atau tidak. Jadi, saya ditempatkan dalam
"tahanan rumah." Saya mesti tinggal dengan kedua orang gadis itu tetapi saya tetap
menjaga tidak melakukan hubungan intim. Buddhadharma saya babarkan pada mereka,
yang dapat mereka pahami [dengan baik],

Sepupu saya, Fu-guo, juga memperhatikan bahwa mereka tak lagi terikat pada hal-hal
duniawi lalu turut serta pula membabar Dharma kepada mereka dari waktu ke waktu.
Sehingga dengan demikian, baik ketika di luar manpun tatkala di kamar pribadi kami,
kami sekedar merupakan sahabat-sahabat yang berpikiran murni.


Masa berkabung yang ditetapkan dalam Konfusianisme adalah tiga tahun. Inilah
sebabnya mengapa ayah Xu-yun tidak pulang ke Fujian lebih awal.


USIA Ke 19 (1858/59) Saya berikrar untuk meninggalkan keduniawian dan sepupu saya
juga memiliki aspirasi yang sama. Secara rahasia, saya mencoba buat mencari tahu
mengenai jalan menuju ke Gunung Gu di Fuzhou. Saya menulis "Senandung Si Kantong
Kulit" [lihat bagian tambahan], yang ditinggal bagi kedua orang gadis itu agar mereka
membacanya. Bersama dengan Fu-guo, saya kabur ke Biara Yuan-quan (Sumber Air yang
Berbuih) di Gunung Gu, Fuzhou. --- Rambut saya dicukur [menjadi rahib] oleh Yang
Arya Master Ghang-kai.

USIA Ke 20 (1859/60) Saya mengikuti Master Miao-lian di Gunung Gu dan menerima
upasampada (penahbisan Kebhiksuan) penuh dari beliau. Saya diberi nama Dharma: Guyan,
dan juga nama lain seperti Yan-che dan De-qing. Ayah, yang saat itu berada di
Prefektur Quanzhou, mengirim para pelayan buat melacak. Sepupu saya Fu-guo, berpisah
meninggalkan saya untuk pergi mencari guru-guru yang tercerahi --- semenjak itu tiada
terdengar lagi kabar berita-nya. Saya mengikuti Master Miao-lian di Gunung Gu dan menerima
upasampada (penahbisan Kebhiksuan) penuh dari beliau. Saya diberi nama Dharma: Guyan,
dan juga nama lain seperti Yan-che dan De-qing. Ayah, yang saat itu berada di
Prefektur Quanzhou, mengirim para pelayan buat melacak. Sepupu saya Fu-guo, berpisah
meninggalkan saya untuk pergi mencari guru-guru yang tercerahi --- semenjak itu tiada
terdengar lagi kabar berita-nya.

Saya menyembunyikan diri dalam sebuah gua terpencil di belakang gunung, dimana saya
melakukan: persembahan penebusan kepada selaksa Buddha melalui ibadat "pertobat-an
dan ikrar perbaiki diri" (repentance and reform). Saya tidak ingin keluar sama sekali
(karena khawatir ditemukan oleh para pelacak yang dikirim ayah). --- Di gua, meskipun
kadang didatangi oleh macan dan serigala, tiada sedikit pun rasa takut terbit dalam diri
ini.

USIA Ke 23 (1862/63) Saya sudah menyelesaikan: tiga tahun praktik pertobatan (chan
hui) dan tekad perbaikan diri. Suatu hari seorang rahib datang dari Gunung Gu dan
berkata,

"Tak ada gunanya lagi bagi Anda bersembunyi, ayah Anda sudah pensiun oleh usia lanjut
dan ia sudah pulang. YANG ARYA MASTER MIAO-LIANm emuji keteguhan hati
Anda tetapi mengatakan bahwa guna memperluas cakrawala kebijaksanaan, Anda
mesti mengembangkan jasa kebajikan dengan bertindak:memberi-manfaat-kepadaorang-
lain. Anda dapat kembali ke biara, menyandang sebuah tugas dan melayani
orang lain." ---


Dengan demikian, saya balik ke biara di gunung, di mana saya diberi sebuah pekerjaan.

USIA Ke 25 (1864/65) Saya masih tetap bekerja di Gunung Gu. Musim dingin pada
bulan ke-duabelas, saya mendengar bahwa ayah telah wafat di rumah di Xiangxiang.
Semenjak saat itu saya tak lagi mencari kabar tentang keluarga serta tidak mendengar
apa-apa lagi tentang mereka.


#14 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 07 February 2013 - 03:48 AM

USIA Ke 27 (1866/67) Seseorang datang dari Xiangxiang dan mem-«|" beritahu bahwa
setelah kematian ayah, ibu tiri saya, Wang, beserta kedua menantunya sudah
meninggalkan keduniawian dan menjadi Bhiksuni. Ibu tiri saya menerima nama Dharma:
Miao-jing (Kemurnian Mendalam), istri saya Tian, menerima nama Zhen-jie (Kemurnian
Sejati), dan istri saya yang satunya lagi, Tan, menerima nama Qing-jie (Kesucian Jernih).

Selama empat tahun saya men-jalankan berbagai tugas di biara Gunung Gu: sebagai
tukang air, tukang kebun, penjaga gedung, dan pelayan upacara ke-agamaan --- semuanya
itu menjadi praktik pertapaan saya. Kadang-kala saya diberi pekerjaan yang sangat
enteng - biasanya saya tampik.

Di biara, kadang dana sumbangan dibagi di antara para rahib, tetapi saya selalu menolak
menerima bagian saya. Setiap hari, kendati hanya makan se-mangkok bubur, namun saya
justru bugar sekali.

Kala itu, Chan Master Gu-yue melebihi siapa saja yang menjalankan praktik tapa di
biara itu, dan saya banyak ber-bicara dengan beliau apabila ada peluang; saya kemudian
berpikir, "Aktifitas kerja yang saya lakukan belakangan ini menghambat praktik saya,"
dan saya teringat tentang Dharma-Master Xuan-zang: semasa beliau hendak pergi ke
India guna mencari Sutra-sutra Buddhis.

Selama sepuluh tahun sebelumnya ia telah berlatih mempersiapkan diri: dengan belajar
bahasa Sansekerta serta berlatih jalan seratus li per harinya. Ia juga mencoba untuk tidak
makan selama sehari penuh dan secara bertahap menambah beberapa hari waktu
puasanya guna membiasakan diri dengan kondisi di padang pasir, dimana bahkan sekedar
air dan rumput pun langka dijumpai. Jika orang di zaman dahulu dapat melakukan pengekangan
diri sekeras itu guna mencapai tujuan, mengapa saya tidak mengikuti suri
tauladan mereka?

Kemudian saya melepas semua jabatan di biara, mem-bagi pakaian pada para bhiksu
lain, dan hanya: mengenakan sehelai jubah, membawa sepasang celana, sepatu, sebuah
jas hujan dari jerami, serta alas kaki --- saya kembali ke gua dan melanjutkan hidup bertapa
di sana.


Li adalah satuan panjang Tiongkok yang kurang lebih sama dengan V£ kilometer.
Pada zaman dahulu ukurannya sedikit ber-variasi untuk berbagai macam kegunaan.

Xuan-zang (600-64) adalah seorang Mahaguru Dharma terkenal yang pergi ke India
untuk mengumpulkan Sutra-Sutra Buddhis dan setelah itu menterjemahkannya ke
bahasa China. Kisah perjalanannya ke Barat menjadi legenda 'Kera-Sakti' Sun Go
Kong beserta gurunya: Bhiksu Tong Sam Cong (nama lain dari Xuan-zang) - ed



#15 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 07 February 2013 - 04:09 AM

USIA Ke 29 dan 30 (1867/70) Saya berdiam dalam gua selama tiga tahun. Pada kurun
waktu tersebut, makanan saya terdiri dari daun cemara dan rumput-rumputan, air gunung
menjadi minuman saya. Seiring berlalunya waktu, celana dan sepatu saya mulai koyak,
sehingga hanya tinggal jubah penutup tubuh.

Rambut dan janggut yang tumbuh sampai sepanjang satu kaki --- saya ikat menjadi gelung
di atas kepala. Mata ini jadi mencorong tajam, sehingga tiap ketemu orang, mereka kabur
terbirit-birit --- menyangka saya adalah hantu penjaga gunung. Maka saya lalu
menghindar berbicara dengan siapa pun juga.

Pada tahun pertama dan ke-dua pengasingan diri ini, banyak pengalaman aneh yang saya
jumpai. Namun saya tidak mau terpengaruh, dan dengan pikiran-tunggal saya tatap
mereka tandas-tandas sembari terus melafal nama Sang Buddha..

Jauh di tengah pegunungan dan rawa-rawa terpencil, saya tidak diserang harimau atau
serigala, dan tidak pula digigit ular atau serangga. Tak pernah saya mendamba sim-pati
orang lain dan tidak pula menyantap makanan sebagai-mana yang dinikmati orang
urnumnya.

Berbaring di tanah beratapkan langit, saya merasa puas seakan berjuta hal telah lengkapsempurna
ada di dalam diri. Saya merasakan ke-gembiraan luar-biasa seolah saya
adalah dewa dari surga dhyana ke-empat.s Saya pun mulai berpikir bahwa kemalangan
terbesar bagi umat manusia di dunia ini adalah memiliki mulut serta tubuh. Teringatlah
seorang bijak zaman kuno yang mengatakan bahwa suara mangkuk pindapatanya "dapat
melebihi suara ribuan lonceng."

Dewa hanya mempunvai organ batiniah atau pikiran dengan demikian tidak terbebani
gangguan penderitaan tubuh.


Karena saya tak punya mangkuk pindapata barang sebuah pun, maka saya merasakan
keterbebasan tanpa batas dari semua hambatan [keme-lekatan]. Pikiran saya jernih,
ayem, dan kekuatan saya makin bertambah dari hari ke hari. Mata dan telinga menjadi
tajam menembus dan saya berjalan dengan langkah ringan hingga seolah-olah terbang.
Nampaknya tak dapat dijelaskan bagai-mana saya bisa mencapai kondisi semacam itu....

Pada tahun ke-tiga saya mampu membuat isi jantung ini bergerak segar sesuai dengan
kemauan. Karena ada begitu banyak gunung-gunung untuk didiami dan tetumbuhan liar
buat penangsel perut, maka saya mulai berkelana dari satu tempat ke tempat lain ---
setahun pun berlalu tanpa terasa ...

USIA Ke 31 (1870/70) Saya tiba di sebuah gunung di Wenzhou dan berdiam dalam
sebuah gua. Seorang bhiksu Chan mendatangi tempat tersebut, memberikan
penghormatannya serta berkata, "Telah lama saya mendengar keluhuran Anda dan kemari
untuk memohon petunjuk.

Pindapata adalah tradisi mencari sedekah makanan, se-bagaimana yang telah
menjadi tradisi dalam Buddhisme - Ed.

Chan Master Han-shan (1546-1623) mengatakan bahwa mangkuk pindapata adalah
"perlengkapan yang [suara denting-annya] dapat melebihi sepuluh ribu lonceng," hal
ini berarti bahwa bahkan sekedar kemelekatan pada mangkuk-rahib itu pun dapat
benar-benar mengganggu pikiran seorang praktisi sebagaimana halnya suara
lonceng yang bertalu-talu. Lihat Autobiografi dari Han-shan, A Journey in
Dreamland, yang termasuk dalam Practical Buddhism oleh Charles Luk (Rider & Co.,
London, 1971)


Saya malu sekali saat itu dan menjawab, "Pengetahuan saya masih rendah, karena sampai
saat ini belum punya kesempatan untuk meminta petunjuk dari guru yang piawai; apakah
Anda bersedia mengasihani dan memberi beberapa petunjuk mengenai Dharma?"

"Berapa lama Anda menjalani hidup bertapa-keras seperti ini?" demikian tanyanya.
Saya menjelaskan praktik saya kepadanya dan ia pun berkata, "Saya juga tidak memiliki
kesempatan buat belajar banyak, sehingga tidak sanggup memberi petunjuk kepada Anda;
tetapi Anda boleh pergi ke vihara Long-quan di puncak Hua-ding dari Gunung Tian-tai
serta menghu-bungi Master Dharma Yang-jing, yang sangat menguasai Aliran Tian-tai".
Ia sanggup mencerahi Anda."

Setelah itu, saya mendaki puncak Hua-ding dan mencapai sebuah biara yang beratap
ilalang, dimana seorang bhiksu berada di luarnya. Saya bertanya apakah Master Dharma
yang telah lanjut usia itu ada di tempat. Ia menjawab, "Beliau adalah yang mengenakan
jubah tambal-tambal itu di sana, sambil menghormat ke arah Sang Guru.

Merupakan cara yang sangat sopan untuk menyapa orang asing di Tiongkok,
khususnya para bhiksu.

Aliran ini aslinya didirikan oleh Hui-wen pada masa Dinasti Bei-qi atau Qi Utara
(550-578), tetapi pada akhirnya disatukan oleh Mahaguru Zhi-yi dari Gunung Tiantai,
Prefektur Taizhou, Propinsi Zhejiang, dimana aliran itu memperoleh nama-nva.
Aliran ini melandasi praktiknya pada Sutra Saddharmapundarika, Mahaparinirvnna,
dan Mahaprajnaparamita. Tujuannya adalah mengungkapkan rahasia semua
fenomena dengan "memadukan ketiga perenungan," melalui metode zhijguan. Lihat
karya Zhi-yi yang berjudul Samatha-Vipasyana for Beginners, dalam buku Secrets of
Chinese Meditation, karya Charles Luk (Rider & Co., London, 1964, halaman 111).


Saya menemui Sang Mahaguru dan sujud di hadapannya. Karena ia tidak memberi
perhatian sedikit pun, maka berkatalah saya, "Saya datang untuk mohon petunjuk dan
berharap Anda mengasihani."

Ia menatap saya lama dan bertanya, "Apakah kamu seorang bhiksu, pendeta Dao, atau
umat awam?"

"Seorang bhiksu," jawab saya.

"Apakah engkau telah di-tahbiskan?" ia menyelidik.

"Saya memang telah menerima tahbis penuh," jawab saya.

"Berapa lama Anda sudah berada dalam kondisi seperti ini?" ia bertanya kembali.

Setelah mengisahkan pengalaman saya, bertanyalah ia lagi, "Siapa yang menyuruh kamu praktik seperti ini?"

Saya menjawab, "Saya menjalankannya karena orang-orang di zaman dahulu mencapai pencerahan dengan melaksanakan tapa-keras seperti ini."

Ia pun menegur, "Apakah engkau tahu bahwa orang-orang di zaman dahulu tak hanya
mendisiplinkan tubuh, namun juga pikirannya?" Ia menambah lebih jauh, "Melihat
praktikmu ini, kamu seperti penganut ajaran sesat dan sepenuhnya berada di jalan yang
salah - kamu sudah menyia-nyiakan waktu latihan sepuluh tahun.

Jika cara kamu hanya berdiam di gua dan minum air sungai pegunungan, maka palingpaling
kamu akan dapat hidup sepuluh ribu tahun dan cuma menjadi salah satu dari
sepuluh jenis Rishi (setengah dewa) sebagaimana yang tercantum Surangama Sutra [di
bagian yang membahas mengenai lima puluh keadaan sesat] serta masih jauh dari Dao
(Kebenaran).

Bahkan, meskipun Anda berhasil untuk melangkah lebih jauh, yakni dengan mencapai
"buah yang pertama," paling banter Anda hanya akan jadi seorang Pratyeka Buddha
(orang yang mencerahi dirinya sendiri namun tidak dapat mengajar orang lain). Tetapi
sebagai seorang Bodhisattva, maka tujuannya adalah ke 'atas' mencapai Kebuddhaan
demi pembebasan dan menolong semua makhluk di 'bawah' sini. Jalan yang ditempuh
adalah membebaskan diri sendiri demi pembebasan makhluk lain. Menapaki dataran
adiduniawi (supramundane) tanpa lari dari yang duniawi (mundane).

Bila metodemu hanya semata-mata berpantang makan serta bahkan tidak mengenakan
celana sekalipun, maka hal itu cuma bertujuan untuk mencari kesaktian. Bagaimana
mung-kin Anda mengharap bahwa praktik semacam itu bisa mem-bawa pada penerangan
sempurna?" --- Demikianlah Sang Master langsung menohok titik kelemahan saya tepat
di jantungnya, dan sekali lagi saya lalu bersujud memohon petunjuk.

Lihat The Surangama Sutra, yang diterjemahkan oleh Charles Luk (Rider & Co.,
London, 1962), halaman 199-236.
Kata "Dao" disini maksudnya adalah [Jalan] Kebenaran atau Dharma; bukan dalam
kaitannya Daoisme --- ed.

Sotaapanna, yang secara harafiah berarti "pemasuk arus," yakni orang yang
menjalankan kehidupan suci dalam meditasi guna membebaskan dirinva sendiri.


Jawab Beliau, "Saya akan mengajar Anda. Bila Anda me-matuhi petunjuk dengan layak
maka Anda boleh tinggal di sini, tetapi kalau tidak, maka Anda harus pergi."

Saya berkata, "Karena saya datang untuk meminta petunjuk, bagaimana saya berani
melanggarnya?"

Kemudian, Sang Master memberi saya pakaian dan alas kaki serta memerintah saya
bercukur dan mandi. Ia memberi saya pekerjaan [di biara] serta mengajar saya untuk
meng-kontemplasi-kan gong-an yang berbunyi:

"Siapakah yang menyeret jasad ini ke sana ke mari?" Semenjak saat itu, saya mulai
makan nasi dan bubur lagi dan mempraktikkan meditasi aliran Tian-tai. Saya
menjalankannya dengan tekun, Sang Master memuji saya.

Gong-an (dalam bahasa Jepang koan) yang berbunyi "Siapakah yang menyeret jasad
ini ke sana ke mari?" merujuk pada pikiran (mind) atau kebijaksanaan diri-sejati
serta keunggulannya di-bandingkan tubuh yang terbentuk dari empat unsur.

Jika pikiran mengidentifikasikan diri dengan tubuh, maka kita akan terjatuh ke dalam
posisi "tamu" dalam samsara-, apabila kita menyadari bahwa tubuh khayali kita
adalah transformasi yang timbul dalam pikiran yang [sebenarnya] tak berubah, maka
kita menjadi "tuan rumah" dalam samsara dan bersatu dengan "yang tak berubah"
(abadi). Di dalam biara-biara Chan, mereka yang melekat pada tubuh dijuluki dengan
"hantu-hantu penjaga mayat."


USIA Ke 32 (1871/72) Selama kediaman saya di Vihara Long-quan, saya melayani
Sang Mahabhiksu dan ia mem-berikan petunjuk dari waktu ke waktu menge-nai
bagaimana menyingkap wisdom dalam pikiran saya. Walau sudah berumur 80 tahun, ia
dengan ketat menjalan-kan disiplin Kebhiksuan (Vinaya) serta betul-betul menguasai
Ajaran [Sutra] dan Chan.

Beberapa kali, ia menyuruh saya untuk memberi ulasan-ulasan [Dharma] kepada para
pengunjung biara guna menerangi mereka.

USIA Ke 33 (1872/73) Sebagaimana yang diperintahkan oleh Master sepuh Yang-jing,
saya pergi ke Biara Guo-qing buat mempelajari aturan-aturan Chan dan ke Biara Fangguang
untuk mempelajari ajaran Fahua (Sutra Saddharmapundarika atau Sutra Teratai).

USIA Ke 34 dan 35 (1873/75) Saya tinggal di Biara Guo-qing untuk mendalami ajaran
yang terkandung dalam Sutra-Sutra Buddhis dan dari waktu ke waktu, saya balik ke
Vihara Long-quan guna menemani Master sepuh Yang-jing.

USIA Ke 36 (1875/76) Saya akan berangkat ke Biara Gao-ming untuk mendengar
Dharma Master Ming-xi membabar Sutra Teratai. Saya mengucap selamat tinggal pada
Master Yang-jing, dan saya bukannya tidak terenyuh saat harus berpisah dengan beliau.

Sehingga, tiap-tiap sore se-lama beberapa hari sebelum pergi, waktu saya habiskan buat
bercakap-cakap dengan beliau. Ia mengharap kita semua se-lalu baik-baik saja saat saya
pergi turun gunung. Saya jalan melalui Xue-tou dan tiba di Biara Yue-lin, di mana saya
men-dengarkan pembabaran Sutra Amitabha. Selanjutnya saya menyeberangi lautan
menuju ke Gunung Pu-tuo, tempat saya melewatkan tahun baru di Vihara Hou-si.

USIA Ke 37 (1876/77) Dari Pu-tuo, saya balik ke Ningbo, di mana saya menyambangi
biara dari Raja Ashoka dan mempersiapkan agar saya dapat hidup dengan tiga dollar
setiap bulannya.

Di sana, saya melakukan penghormatan kepada relik (sarira) dari Buddha Shakyamuni
serta kedua Pitaka (dari Kanon Hinayana dan Mahayana) agar dapal mengumpulkan
pahala guna membalas kebajikan orangtua saya. Setelah ltu, saya pergi ke Biara Tiantong,
di mana saya mendengarkan uraian penjelasan mengenai Sutra Surangama.

Terletak di Gunung Tian-tong di Zhejiang; dibangun oleh Yi-xing dari Dinasti Jin
Barat pada tahun 300. Biara ini menjadi pusat Buddhisme Chan terkenal yang
memadukan aliran Lin-ji dan Cao-dong. Di sinilah Mahaguru Jepang yang terkenal,
Dogen-zenji (1200-53) bertemu dengan gurunya, Ru-jing (1163-1228), pada masa
Dinasti Song.


USIA Ke 38 (1877/78) Dari Ningbo saya ke Hangzhou dalam suatu perjalanan ziarah
yang membawa saya ke San-tian Chu dan tempat suci lainnya. Setengah jalan dari puncak
Gunung San-tian Chu, saya menghadap Kepala Biara Tian-lang dan Mahaguru tamu dari
biara tersebut yang bernama Zhang-song. Saya memberi penghormatan pada mereka dan
melalui musim dingin di Xi-tian.

Udara sangat panas ketika saya sedang dalam perjalanan dari Ningbo ke Hangzhou, dan
kapalnya terlalu kecil dibanding dengan jumlah penumpang yang tidur di atas dek, di
antara mereka terdapat pula wanita-wanita muda. Malam hari, saat semua orang sudah
tertidur, saya merasakan sesuatu menyentuh saya. Saya terbangun dan melihat seorang
gadis di samping saya melepas pakaian - memberikan tubuh telanjangnya kepada saya.

Saya tak berani mengucap kata barang sepatah pun dan segera bangkit, duduk bersila,
serta melafalkan mantra berulang-ulang.
Ia tidak berani bergerak lagi setelah itu. Andai saya bertindak bodoh waktu itu, maka
saya bakal limbung kehilangan landasan untuk berpijak. Mengingat hal ini, saya
menghimbau seluruh praktisi agar sangat berhati-hati apabila menghadapi kondisi yang
sama.

USIA Ke 39 (1878/79) Tahun ini saya pergi ke Biara Tian-ning, di mana saya
memberikan penghormatan kepada Ke-Biara Tian-Ning, dimana saya memberikan
penghormatan kepada kepala Biara Qing-guang dan menghabiskan musim dingin di sini.

USIA Ke 40 (1879/80) Saya mendaki Gunung Jiao untuk memberi penghormatan pada
Kepala Biara Da-shui. Pengawas Peng Yu-lin saat itu sedang berdiam di sana, dan
beberapa kali ia mengajak saya untuk diskusi mengenai Buddhadharma beserta metode
praktiknya. Saya dipercaya dan dihormati olehnya.

USIA Ke 41 (1880/81) Tahun ini, saya pergi ke Biara Jin-shan di Zhen-jiang
menghadap Master Guan-xin, Xin-lin, dan Da-ding; di sana saya duduk bermeditasi
sambil melalui musim dingin.

USIA Ke 42 (1881/82) Tahun ini, saya ke Biara Gao-min di Yangzhou I" serta
menvampaikan penghormatan pada Kepala Biara Yue-lang. Saya melewati musim dingin
dan memperoleh kemajuan baik dalam praktik Chan saya.


Bersambung ...

#16 freedom

freedom

    Senior WDC

  • Moderators
  • 30
  • 1,301 posts
  • 8 thanks

Posted 07 February 2013 - 01:02 PM

Terimakasih postingan biografi Master Xu-yun.

Ditunggu postingan lengkap berikutnya :)


#17 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 07 February 2013 - 01:52 PM

USIA Ke 43 (1882/83) Lebih dari duapuluh tahun telah berlalu semenjak
saya memutus hubungan dengan keluarga guna menjalani hidup Kebhiksuan. Saya merasa
malu diri oleh karena pencapaian spiritual yang belum sempurna dan terkadang masih
saja terhanyut. Guna membalas budi kebaikan orangtua, saya memutuskan untuk
menjalankan laku ziarah ke Gunung Pu-tuo di timur dan kemudian ke gunung Wu-tai
(Gunung Lima Puncak) di Utara.Saya berdiam selama beberapa bulan di Pu-tuo; ditengah
keheningan gunung itu, saya membuat kemajuan istimewa dalam pelatihan spiritual saya.

Pada hari pertama dari bulan ke-tujuh penanggalan candrasengkala, saya meninggalkan
biara beratap ilalang Fa-hua sambil membawa dupa dan budal ke Wu-tai.
Saya berikrar. untuk menyembah-setiap-tiga-langkah (san pu ie pai) dalam laku
perjalanan panjang ini hingga sampai tujuan.

Pada awal perjalanan, saya berjumpa empat rahib Chan, yakni Bian-zen, Qiu-ning, Shanxia,
dan Jue-cheng. Setelah menyeberangi laut dengan kapal, kami berpisah sebelum tiba
di Huzhou. Empat rekan tadi menempuh jalannya sendiri di Suzhou dan Changzhou ---
saya melanjutkan perjalanan seorang diri ...

Ketika sampai di Nanjing, saya memberikan penghormatan pada stupa [bangunan bulat
sebagai tempat suci menyimpan abu jenasah] dari Master Fa-rong pada Gunung Niu-tou
(Gunung Kepala Lembu) dan menyeberangi sungai menuju Shi-zi Shan (Gunung Singa)
serta Pu-ko, di mana saya berhenti untuk melewatkan Tahun Baru di vihara.

Kota modern Nanjing terletak pada tempat yang dahulunya merupakan lokasi kota
kuno Jin-ling. Mahaguru Fa-rong (594-657) yang merupakan murid dari Dao-xin,
sesepuh Chan keempat, telah mendirikan kuil di Gunung Niu-tou, selatan Nanjing.


Edited by Top1, 07 February 2013 - 01:57 PM.


#18 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 07 February 2013 - 01:56 PM

Terjebak Salju, Diselamatkan Bodhisattva Manjusri

USIA Ke 44 (1883/84) Tahun ini, saya terus berjalan dengan tangan memegang dupa ke
Gunung Shi-zi di utara Provinsi Jiangsu dan kemudian memasuki Provinsi Henan.
Selanjutnya saya melewati Feng-yang, Hao-zhou, Hao-ling, dan Gunung Song lokasi
Vihara Shao-lin. Setelah melewati semuanya itu saya tiba di Biara Bai-ma (Kuda Putih)
di Luo-yang.

Saya jalan di siang hari dan beristirahat pada hari, tidak peduli terp>aan angin atau
hujan, apakah cuaca cerah ataupun buruk. Saya terus bersujud setiap tiga langkah dan
melafal nama Bodhisattva Manjusri dengan pikiran-tunggal, tidak mengindahkan rasa
lapar atau penat tubuh...

Pada hari pertama bulan ke-duabelas, saya mencapai tempat penyeberangan Tie-xie di
Huang-ho (Sungai Kuning); melewati pekuburan Guang-wu dan berhenti pada sebuah
pondok di dekatnya. Keesokan hari saya menyeberangi sungai dan ketika mencapai tepi
sungai hari telah gelap, sehingga saya tidak berani melanjutkan perjalanan. Tempat-nya
sunyi maka saya berhenti, berteduh di sebuah gubuk di pinggir jalan.

Malam itu dingin luar biasa, salju turun dengan lebat. Tatkala membuka mata di keesokan
hari, saya melihat seluruh dataran dipenuhi salju setebal lebih dari satu kaki. Semua
jalan terblokir dan lokasi tersebut terkucil, tidak dapat dijumpai seorang pun. Karena tak
bisa melanjutkan perjalanan maka saya duduk dan hanya melafal nama Buddha

Saya sangat menderita oleh lapar dan kedinginan karena pondok itu tidak memiliki
dinding penutup; saya meringkuk di pojokan. Ketika salju turun kian lebat, dingin udara
jadi se-makin dashyat dan rasa lapar pun kian menusuk. Nampak-nya seolah-olah hanya
nafas saja yang tertinggal, tetapi untungnya "pemikiran benar" saya masih kuat

Right-thought: right-mindfulness bahkan di bawah tekanan penderitaan yang hebat


Setelah tiga hari, dengan salju lebat, dingin mencekam dan lilitan lapar yang sama,
secara bertahap saya mulai hilang kesadaran. Di hari ke-enam, sayup-sayup terlihat sinar
mentari pucat tetapi saat itu saya sudah ambruk sakit parah ...

Esoknya, seorang pengemis datang dan melihat saya terbaring di atas salju. Ia
mengajukan beberapa pertanyaan tetapi saya tak dapat berbicara. Ia kemudian menyadari
bahwa saya jatuh sakit karena dinginnya udara - ia lalu menying-kirkan saljunya,
mencabut beberapa utas jerami dari pondok itu, menyalakan api serta memasak
segantang nasi kuning dan menyuapi saya. Dengan demikian saya merasa sedikit hangat
dan hidup kembali.

Bertanyalah ia pada saya, "Dari mana Anda datang?"

"Dari Pu-tuo," jawab saya.

"Ke manakah Anda hendak pergi?" tanyanya.

"Dalam perjalanan ke Wu-tai," jawab saya.

"Siapakah nama Anda?" tanya saya.

"Wen-ji' jawabnya.

Ke mana Anda hendak pergi?" saya bertanya.

"Saya baru datang dari Wu-tai dan hendak kembali ke Xi'an," begitu jawabnya.

Menurut tradisi, Manjusri berikrar untuk menyertai setiap pelaku ziarah ke tempat
suciNya (Bodhimandala) di Wu-tai. Ia dikatakan kadang menyamar sebagai pengemis
atau lainnya untuk menolong para peziarah. Umat Buddha Tiongkok yakin bahwa
"Wen-ji" yang terdapat dalam naskah ini sesungguhnya adalah Manjusri (bahan
Mandarin: Wen-shu) yang bertujuan menolong Mahaguru Xu-yun.


Saya bertanya, "Jika Anda datang dari Wu-tai, apakah Anda mengenal orang yang berada
di biara-biara di sana?"

"Tiap orang di sana mengenal saya," demikian jawabnya.

Saya bertanya, "Tempat-tempat apakah yang harus saya lalui dari sini untuk mencapai
Wu-tai?"

Ia menjawab, "Meng-xian, Huai-qing, Huang Shanling, Xinzhou, Tai-gu, Taiyuan,
Taizhou, dan E-gou, lalu selanjutnya tinggal berjalan lurus ke gunung. Ketika pertama
kali mencapai Gua Bi-mo, maka di sana Anda akan menjumpai seorang bhiksu yang
dipanggil Qing-yi. Ia berasal dari selatan dan pelatihan dirinya telah mencapai tingkatan
yang luar biasa."

Saya bertanya, "Berapa jauhkah jarak tempat ini ke pe-gunungan itu?"

"Sekurang-kurangnya lebih dari 2.000 li [sekitar 620 mil]," jawabnya.

Pada saat matahari terbit, pengemis itu memasak se-gantang nasi kuning dengan
menggunakan air es untuk merebusnya. ~ Sembari menunjuk pada isi panci tersebut, ia
bertanya, "Apakah Anda pernah makan 'ini' di Pu-tuo?"

"Tidak," jawab saya.

"Apa yang Anda minum di sana?" tanya Sang pengemis.

"Air," jawab saya

Di sini, Wen-ji (Manjusri) menguji sang Mahaguru dengan pertanyaan yang berarti,
"Pikiranku menunjuk pada es dan me-nanyakan Anda pertanyaan ini," dan juga "Apakah
Anda diajar untuk merealisasikan pikiran Anda di Pu-tuo?" Sang Bodhisattva menguji
Mahaguru Xu-yun dengan rangkaian pertanyaan yang tidak dipahami oleh Sang
Mahaguru, karena saat itu Beliau belum tercerahi.


Ketika salju di dalam panci tersebut telah mencair, ia menunjuk pada air itu dan
bertanya, "Apa ini?"

Ketika saya tidak menjawabnya, ia bertanya, "Apakah yang Anda cari dalam laku ziarah
Anda ke Gunung Wu-tai yang tersohor itu?"

Jawab saya, "Saya tidak sempat berjumpa dengan ibu saya ketika dilahirkan; tujuan saya
adalah membalas budi kebaik-annya."

Ia berkata, "Dengan memanggul barang bawaan [seberat ini], dengan jauhnya jarak yang
mesti ditempuh, dan masih ditambah udara dingin, sanggupkah Anda mencapai Wu-tai?
Saya sarankan Anda batal saja."

Saya menjawab, "Saya sudah berikrar dan akan memenuhinya tak peduli betapa jauh
jarak dan waktu yang diperlukan."

Ia berkata, "Ikrar Anda sulit dipenuhi. Hari ini cuaca ber-tambah cerah, tetapi jalan
masih tertutup salju. Anda dapat me-neruskan perjalanan dengan mengikuti jejak saya.
Sekitar dua puluh li dari sini terdapat sebuah kuil yang dapat Anda diami."

Kami kemudian berpisah. Karena tebalnya salju maka saya tidak dapat bersujud
(namaskara) sebagaimana sebelum-nya, tetapi hanya menatap pada jejak kaki untuk
menunjukkan rasa hormat. Ketika mencapai biara di "Jin-shan Kecil" (Xiao Jin-shan)
saya bermalam di sana.

Air melambangkan hakekat sejati sang "diri" --- pertanyaan ini mengandung penuh makna.

Sekali lagi ini merupakan pertanyaan yang mengandung makna, karena di dalam
Praktik Chan seorang siswa diajarkan untuk menghindarkan diri dari segala pamrih,
dengan demikian agar mencapai tingkatan absolut yang mengatasi "untung" dan
"rugi."


Pagi berikutnya, dengan memegang dupa terbakar, saya melanjutkan laku dan melewati
Meng-xian. Dalam perjalanan dari sana ke Huai-qing, seorang kepala biara tua bernama
De-lin melihat saya ber-namaskara di jalan. Ia datang meng-ambil alih barang bawaan
dan dupa saya serta berkata, "Tuan Yang Mulia diundang ke biara saya."

Kemudian ia memanggil muridnya untuk memanggul barang saya ke biara di mana saya
diperlakukan dengan sangat ramah. Setelah makanan dan teh dihidangkan, tuan rumah
bertanya mengenai tempat saya mengawali laku dan menjalankan san pu ie pai tersebut.
Saya berkata bahwa oleh ikrar untuk membalas kebajikan orangtua, maka dua tahun yang
lalu saya mulai berangkat dari Pu-tuo.

Selama pembicaraan kami, Sang Kepala Biara mengetahui bahwa saya telah ditahbiskan
di Gunung Gu. Dengan air mata membasahi pipi, ia berkata, "Saya punya dua orang rekan
[yang sama-sama berlatih] Chan, yang seorang berasal dari Heng-yang dan yang lainnya
lagi berasal dari Fuzhou. Kami bertiga melakukan perjalanan bersama ke Gunung Wutai.

Setelah tinggal bersama-sama di biara ini selama tiga puluh tahun, mereka pergi dan
setelah itu saya tidak mendengar kabar apa-apa lagi tentang mereka. Kini saya
mendengar dialek Hunan Anda, dan karena Anda adalah juga murid dari Gunung Gu,
maka rasanya seolah telah berjumpa dengan rekan seDharma saya lagi --- sungguh
menggetarkan hati...

Saya kini telah berusia 85 tahun. Sumber penghidupan biara kami dulunya teratur, tetapi
telah ber-kurang oleh karena hasil panen buruk di tahun-tahun belakangan. Jatuhnya salju
lebat ini menandakan bahwa panerian tahun depan akan berhasil baik, oleh sebab itu
Anda boleh tinggal di sini." Dengan tulus dan sungguh-sungguh, ia memohon saya untuk
berdiam selama musim dingin.

Edited by Top1, 07 February 2013 - 02:05 PM.


#19 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 07 February 2013 - 11:38 PM

Kedua Kalinya Diselamatkan Manjusri

USIA Ke 45 (1884/85) Pada hari kedua bulan pertama penanggalan Lunar, saya pergi
dari Biara Hong-fu ke Huai-qing dengan membawa persembahan dupa, [dengan jalur
memutar] balik ke biara itu lagi untuk singgah sebentar dan kemudian segera melanjutkan
perjalanan kembali.

Pada hari ketiga, saya mengucapkan selamat tinggal pada Kepala Biara De-lin, yang
berlinang air mata karena menyesali perpisahan ini. Setelah saling mengucap harapan
bagi kebaikan masing-masing, saya budal, dan pada hari yang sama mencapai Huai-qing
lagi.

Di dalam dinding kota Hua-qing terdapat [sebuah biara yang dikenal dengan nama]
"Nan-hai Kecil" yang juga dikenal dengan "Pu-tuo Kecil." Mereka di Sana menolak para
bhiksu tamu: tidak boleh meletakkan barang atau bahkan singgah untuk semalam.

Maka, saya mesti meninggalkan kota dan bermalam di pinggir jalan. Sore itu, saya sakit
perut luar biasa. Hari ke-empat saya melanjutkan perjalanan saat fajar merekah, tetapi
malam harinya diserang malaria. Pada hari kelima, saya menderita disentri, namun saya
paksa buat melanjutkan perjalanan dan tetap melakukan namaskara san pu ie pai seperti
biasa di hari-hari berikutnya. Hari ke-tigabelas saya tiba di Huang Shaling, di
puncaknya, di mana terdapat sebuah reruntuhan kuil tanpa banyak atap yang tersisa ...

Karena tak sanggup jalan lagi, saya berhenti di sana tanpa makan sesuap nasi pun. Siang
dan malam, saya mencret lebih dari selusin kali. Saya lemas kehabisan tenaga serta tiada
daya bahkan buat sekedar bangkit atau melangkah. --- Kuil bobrok itu terletak di puncak
gunung yang tak berpenghuni, saya pun lalu memejamkan mata dan menunggu ajal tanpa
rasa sesal sedikit pun.

Hari keempat belas, saat larut malam, saya melihat se-seorang menyalakan api di dekat
dinding sebelah barat. Saya kira maling, namun ketika diamati lebih seksama, ternyata si
Wen-ji Sang Pengemis. Saya benar-benar gembira dan berseru, "Wen-ji!"

Ia menyorongkan obor buat menerangi dan berkata, "Bagaimana kok Tuan masih berada
di sini?" Saya me-ngisahkan apa yang terjadi; ia mendekat duduk di samping, seraya
menyodori secangkir air minum serta merawat saya. Setelah berjumpa dengan Wen-ji
malam itu, saya merasa tubuh dan pikiran saya dimurnikan.

Di hari ke-enambelas, Wen-ji mencuci pakaian saya yang penuh kotoran [mencret] dan
nemberi secangkir obat. Hari berikutnya, saya sembuh. Sesudah makan dua gantang nasi kuning,
keringat banyak bercucuran, saya merasa luar biasa gembira dan segar --- jasmani dan rohani.

Hari kedelapanbelas, kesehatan saya sudah pulih penuh. Saya berterima kasih kepada
Wen-ji dan berkata, "Dua kali berada dalam bahaya --- dua kali pula Anda
menyelamatkan; tiada kata yang dapat menggambarkan betapa besar rasa syukur saya
kepada Anda."

Wen-ji berkata, "Sesungguhnya itu bukan apa-apa." Tatkala ditanya di mana ia
sebelumnya, Wen-ji berkata, "Xi'an." Ketika ditanya ke mana ia hendak pergi, ia
menjawab, "Saya kembali ke Wu-tai."

Saya berkata, "Karena saya sakit dan namaskara yang kudu saya lakukan di sepanjang
jalan, maka saya tidak dapat mengejar langkah Anda."

Ia menjawab, "Anda belum menempuh jarak yang cukup tahun ini - jika demikian halnya
kapan akan sampai tujuan? Karena tubuh Anda masih lemah, nampaknya bakal sulit buat
melanjutkan perjalanan. Namaskara [sesungguhnya] tidaklah benar-benar penting dan
begitu pula dengan ziarah Anda."

Saya berkata, "Saya sangat tersentuh mendengar kata-kata Anda, tetapi semenjak
dilahirkan saya tak sempat ber-jumpa dengan ibu - beliau keburu meninggal begitu melahirkan
saya. Juga, saya adalah anak tunggal ayah namun malah kabur darinya ---
membuat ia pensiun dini, dimana hal ini memperpendek hidupnya. Karena kasih orangtua
yang begitu luas dan mendalam bagaikan langit, selama puluhan tahun ini saya trenyuh
memikirkannya.

Sebab itu, saya berikrar buat menempuh laku 'san-pu-ie~pai' ke Gunung Wu-tai dan
berdoa memohon kepada Bodhisattva Manjusri: agar Sang Bodhisattva melindungi,
membantu mereka lepas dari pen-deritaan sehingga mereka terjamin lahir di Tanah Suci
sesegera mungkin. Kendati banyak kesukaran yang harus di-hadapi, saya musti mencapai
tempat suci itu dan lebih baik mati daripada gagal memenuhi ikrar."

Wen-ji menjawab, "Tulusnya rasa bakti Anda benar-benar langka. Saya memang akan
pulang ke gunung dan karena saya tidak terburu-buru, maka saya bisa membawakan
barang dan menemani Anda. Dengan demikian, Anda akan sanggup terus bernamaskara,
terbebas dari beban, dan bisa memusatkan pikiran."

Saya berkata, "Jika benar demikian, maka kebajikan Anda sungguh tak terukur. Kalau
saya berhasil melanjutkan laku san-pu-ie-pai ini hingga mencapai Gunung Wu-tai, maka
saya ingin membagi jasa-kebajikan (merit) yang diperoleh menjadi dua bagian. Bagian
pertama untuk orangtua saya sehingga mereka dapat mencapai pencerahan (bodhi)
sesegera mung-kin, dan bagian kedua buat Anda, Tuan, guna membalas kebajikan Anda
yang menyelamatkan nyawa saya.

Apakah Anda setuju?"

Ia berkata, "Saya tidak layak menerima. Anda termotivasi oleh rasa bakti yang sungguh-sungguh,
sedangkan ke-terlibatan saya ini hanya kebetulan yang menyenangkan saja -
tolong jangan berterimakasih pada saya atas hal ini."

Wen-ji merawat saya empat hari selama saya memulih-kan kesehatan. Karena Wen-ji
sudah menawarkan diri buat membawakan barang dan memasak, meski tubuh ini sebetulnya
masih lemah, maka saya pun melanjutkan perjalanan sujud-tiap-tiga-langkah itu pada
hari kesembilanbelas...

Karena bisa lebih berkonsentrasi sebab Wen-ji bersedia mengurusi segala kerepotan
perjalanan itu


Semua pikiran delusif saya sekonyong-konyong berhenti dan saya tidak melekat lagi pada
hal-hal di-luar, bebas dari semua pemi-kiran-salah di-dalam diri. Kesehatan saya secara
bertahap pulih dan tubuh ini tiap hari kian menguat. Dari fajar hingga petang saya
meneruskan perjalanan dan san-pu-ie-pai, sehari menempuh jarak empatpuluh-lima li [±
23 km], namun tak merasa lelah sedikit pun.


#20 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 07 February 2013 - 11:55 PM

DlTOLAK DAN DITERIMA

Pada akhir bulan ketiga penanggalan candrasengkala, saya mencapai Biara Li-xiang di
Da-gu, di mana saya diberi-tahu bahwa Sang Kepala Biara saat itu sedang mengajar
murid-muridnya, - atau setidaknya demikianlah yang di-katakan si penerima tamu. Ia
mengamati Wen-ji dengan seksama dan menyelidik kepada saya, "Siapa orang ini?"

Ketika memberitahu padanya kisah perjalanan kami, ia menyergah dengan kasar, "Kamu
itu rahib pengembara, --- apa tidak tahu yang sudah terjadi di sini?! --- Dalam tahuntahun
belakangan terjadi bencana kelaparan di daerah Utara sini dan Anda masih sempatsempatnya
terus ziarah ke Wu-tai! Sok penting lagi lagaknya, membawa-bawa pelayan
segala! Jika Anda memang maunya senang-senang, kenapa keluyuran ke sana - ke mari?
Di samping itu, di biara mana sih Anda pernah ketemu orang awam24 boleh nginap?"

Umat-awam: maksudnya menunjuk si pengemis Wen-ji - ed


Saya tidak menjawab tegurannya, hanya minta maaf dan siap-siap hendak pergi.
Penerima tamu itu berkata lagi, "Tak ada itu aturan yang mengizinkan awam menginap.
Kamu itu datang semau-maunya sendiri, --- siapa sih yang ngundang?!"

Melihat bahwa ia tidak masuk akal, maka saya berkata, "Rekan saya akan bermalam di
losmen; barangkali saya boleh mengganggu Anda barang semalam?"

Penerima tamu itu menjawab, "Itu bisa diatur..." --- Wen-ji lalu berkata, "Wu-tai tidaklah
jauh lagi. Saya akan kembali ke sana terlebih dahulu, Anda boleh nyusul setelah ini.
Mengenai barang-barang Anda, segera akan ada seseorang yang membawakannya ke
gunung itu untuk Anda."

Meskipun saya berusaha sebisa mungkin untuk me-nahannya, Wen-ji tak hendak tinggal
di situ. Saya mengambil beberapa uang-receh dan memberikan kepadanya, tetapi ia
menolak dan melangkah pergi ...

Sehabis itu, si penerima tamu merubah drastis sikapnya, jadi bersikap menyenangkan dan
dengan ramah membawa saya ke lorong-tidur (dormitory). Ia merebus air untuk membuat
teh dan memasak mie, yang dibaginya dengan saya. Heran oleh perubahan sikap ini,
saya memandang ke seke-liling, namun tak melihat seorang pun; maka saya bertanya,
"Berapa bhiksu yang tinggal di sini?"

Ia menjawab, "Saya menghabiskan waktu bertahun-tahun di seberang Sungai Jiang tetapi
kembali ke sini untuk mengurusi biara ini. Beberapa tahun terakhir t'lah terjadi bencana
kelaparan besar, sehingga akhirnya saya tinggal sendirian dan mie ini adalah seluruh
makanan yang saya pu-nyai di sini. Tadi di luar saya hanya bergurau, tolong jangan
dianggap serius."

Begitu mendengar hal ini saya jadi kelu karena sedih, dan menelan mangkuk mie
separohnya itu dengan susah-payah... Saya lalu mengucap selamat berpisah dan meski ia
berusaha keras menahan saya, namun saya tak lagi punya minat tinggal di sana.

Saya meninggalkan biara dan berkeliling kota menelusuri pelbagai penginapan mencari
Wen-ji --- tetapi tak berhasil. Saat itu adalah tanggal 18 bulan ke-empat dan rembulan
ber-sinar dengan cerahnya. Bertekad untuk mengejar Wen-ji, maka saya terus berjalan
pada malam hari ke arah Taiyuan - tetap dengan bersujud tiap tiga langkah...

Saya begitu tidak sabarnya, sehingga pada keesokan hari: hidung berdarah tak henti-henti
oleh karena begitu panasnya hati ini. Hari keduapuluh saya tiba di Biara Bai-yun (Awan
Putih) di Huang Du-gou. Penerima tamu di sana memperhati-kan mulut saya yang
dilumuri darah lelehan dari hidung --- ia tidak mengizinkan saya buat tinggal lama,
namun dengan agak segan membiarkan saya menginap semalam. --- Tanggal duapuluhsatu
dini hari, saya tiba di Biara Ji-luo, Taiyuan, di mana saya tidak diizinkan untuk
tinggal dan menerima banyak penghinaan serta caci-maki.

Pada hari keduapuluh-dua, pagi-pagi saya meninggalkan kota dan di gerbang utara saya
menjumpai seorang bhiksu muda yang bernama Wen-xian. la muncul mengambil alih
barang bawaan saya serta mengundang ke viharanya dengan rasa hormat dan welas-asih,
seolah-olah kami adalah bersaudara. Ia membawa saya ke ruang kepala biara, dimana
kami minum teh dan santap bersama. Selama perbincangan kami, saya bertanya, "Tuan,
Anda baru berumur sekitar dua-puluh tahun dan bukan penduduk asli tempat ini; siapakah
yang mengangkat Anda sebagai kepala biara?"

Ia menjawab, "Ayah saya adalah penjabat di sini untuk waktu yang lama, tetapi saat
dipindahkan ke Prefektur Bing-yang, ia dibunuh oleh seorang menteri jahat. Ibu saya
teng-gelam dalam marah dan sedih, sementara saya menahan air mata dan bergabung
dengan Sangha. Bangsawan dan pejabat yang mengenal saya meminta saya untuk
mengurusi vihara ini, yang sebenarnya sudah lama ingin saya tinggalkan.

Kini, melihat betapa besar rasa hormat yang Anda bangkitkan, saya terdorong untuk
mengundang Anda tinggal di sini sehingga bisa menerima petunjuk-petunjuk Anda."
Ketika saya men-ceriterakan pada Sang Kepala Biara mengenai ikrar untuk bernamaskara
dan membawa persernbahan dupa pada sepanjang perjalanan ziarah, ia kian
menaruh rasa hormat yang luar biasa dan berupaya menahan buat tinggal sampai sepuluh
hari.

Ia juga menawarkan pakaian dan biaya perjalanan, yang saya tampik dengan halus.
Ketika saya berangkat, dengan membawakan bagasi ia mengiringi saya hingga sejauh
sepuluh li, meneteskan air mata, dan kemudian mengucap salam perpisahan...





1 user(s) are reading this topic

0 members, 1 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close