Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

buku biografi Master Zen "Xu Yun" (Awan Kosong)


  • This topic is locked This topic is locked
62 replies to this topic

#21 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 08 February 2013 - 12:03 AM

Genapnya Tiga Tahun Laku


Bulan ke-lima, hari pertama: saya berjalan ke arah Xinzhou. Suatu hari saat sedang
bernamaskara di jalan, sebuah kereta kuda mendekat dari belakang tetapi kemudian
melambat tidak mau menyalip. Mengetahui hal ini, saya menepi kebahu-jalan agar ia bisa
lewat. Seorang pejabat melangkah turun dari kereta dan bertanya, "Apakah maksud Yang
Arya melakukan namaskara di jalan?"

Saya menjelaskan tujuan saya, dan karena pejabat tersebut juga aslinya dari Hunan, maka
kami pun jadi ngobrol asyik. Katanya, "Jika memang begitu tujuan Suhu, saya sekarang
sedang tinggal di Biara Bai-yun di E-kou, yang pasti akan Suhu lewati sebelum mencapai
Gunung Wu-tai. Saya bisa membawakan bagasi Suhu dan menaruhnya di biara itu." ---

Saya berterima kasih padanya dan ia pun kembali menaiki kereta dengan membawa serta
barang saya. Saya melanjutkan perjalanan, seperti biasa: dengan bernamaskara sambil
membawa persembahan dupa tanpa terlalu banyak repot lagi.

Bulan ke-lima, pertengahan: saya mencapai Biara Bai-yun, tempat di mana sang pejabatmiliter
yang membawakan bagasi saya tadi bertugas. Ia menyambut di markasnya di
mana ia melayani dengan segenap keramahan, dan saya pun tinggal di sana selama tiga
hari. Ketika tiba saat untuk berpisah, ia memberi saya uang dan bingkisan-bingkisan lain,
yang saya tolak dengan sopan. Meskipun demikian, ia meng-utus seorang ajudan untuk
mengambil bagasi saya dan di-kirim ke Biara Xian-tong dengan sejumlah uang untuk
di-sumbangkan ke biara.

Biara Xian-tong dibangun pada tahun 58-75 M. Ia me-rupakan biara Buddhis tertua
kedua di Tiongkok. Ia memiliki 400 aula, totalnva seluas 20 Akre (-80.000 m2!).


Dengan memegang batangan dupa terbakar, saya berjalan ke Gua Bi-mo di Gunung Guifeng,
Shi-zi wu (Gua Kandang Singa) dan Lung-dong (Gua Naga) - semua tempat yang
ke-indahan panoramanya tak dapatdilukiskan dengan kata-kata. Tetapi karena disibukkan
oleh namaskara dan persembahan dupa, maka saya tak bisa banyak menikmati
keindahannya. Pada akhir bulan kelima, saya tiba di Biara Xian-tong untuk mengambil
bagasi saya yang telah dibawa ke sana oleh para prajurit [ajudan pejabat tersebut].

Ini merupakan penggenapan dari ramalan Wen-ji bahwa seseorang akan
membawakan barang Sang Mahaguru ke gunung tersebut.


Pertama-tama saya menyambangi vihara-vihara di sekitarnya untuk mempersembahkan
dupa sembari bertanya-tanya tentang keberadaan Wen-ji. Tiada seorang pun yang kenal,
tetapi akhirnya ketika saya menyebut mengenai pengemis itu pada seorang bhiksu yang
lebih tua. Bhiksu tersebut lalu merangkapkan tangan ber-anjali dan berkata, "la pastilah
penjelmaan dari Bodhisattva Manjusri." Saya ke-mudian bernamaskara untuk menghaturkan terima kasih pada Sang Bodhisattva

Tanggal duapuluh-dua: saya mulai mempersembahkan dupa, berjalan dan namaskara
seperti biasa. Dua hari kemudian saya mencapai Dong-tai.

Malam itu bulan begitu terang dan bintang-bintang pun gemerlap. Saya memasuki sebuah
kuil batu dan mempersembahkan dupa, membaca doa, dan melafal Sutra-Sutra. Setelah
duduk meditasi di sana selama tujuh hari, saya menuruni gunung untuk melakukan
penghormatan di Gua Narayana dan selama berada di sana perbekalan saya habis.

BULAN KE-ENAM, hari pertama: saya kembali ke Biara Xian-tong. Hari keduanya,
mendaki Puncak Huayan (Avatamsaka) terus mempersembahkan dupa sambil jalan serta
bermalam di sana. Hari ketiga, melakukan puja penghormatan di Puncak Utara yang
dilanjutkan dengan bermalam di Puncak Tengah.

Pada hari keempat, saya melakukan puja penghormatan di Puncak Barat dan sekali lagi
bermalam di pegunungan. Hari ke-lima saya kembali ke Biara Xian-tong untuk
menghadiri Puja Bakti Agung pada bulan keenam. --- SEHINGGA DENGAN
DEMIKIAN, IKRAR YANG SAYA BUAT TIC.A TAHUN LALU untuk berpuja bagi
pembebasan orang tua saya terpenuhilah sudah...

SELAMA KURUN WAKTU tersebut, dengan pengecualian saat sakit, dilanda badai, dan
hujan salju yang menghambat laku: saya telah merealisasikan pikiran-tunggal serta
"pemikiran benar." Selagi kendati berjumpa dengan kesukaran di sepanjang jalan, hati
saya tetap dipenuhi kegembiraan. Tiap-tiap berada dalam kemalangan, saya memiliki
kesempatan buat mengamati pikiran, dan makin besar permasalahan, malah makin tenang
pikiran saya jadinya.

Merealisasi "pemikiran-benar": berarti pikiran tunggal, mindful --- selalu tingga!
pada metode, pikiran tidak pernah menyimpang --- ed.


Dengan demikiar, saya menyadari apa yang dimaksud oleh orang bijaksana pada zaman
dahulu, "Penghapusan sebagian dari enerji ke- biasaan lama (old habits) berarti
mencapai sebagian dari ke- gemilangan; mampu menanggung semua gejolak emosi dan
kekesalan {kleshci) adalah secercah bodhi (pencerahan)."


#22 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 08 February 2013 - 12:08 AM

LAUTAN PANORAMA INDAH LUAR BIASA

Pemandangan elok yang saya saksikan mulai dari Pu- tuo hingga ke Jiangsu, Zhejiang,
Henan, Huang-ho (Sungai Kuning) dan Barisan Pegunungan Tai-hang sungguh luar biasa
dan tidak dapat dilukiskan sepenuhnya dengan kata- kata. Tempat-tempat semacam itu
telah digambarkan dengan seksama baik dalam buku petunjuk perjalanan kuno mau- pun
modern, tetapi sebenarnya orang tak bakalan bisa sungguh mengapresiasi selain dengan
menyaksikannya sendiri.

Seperti misal: Qing-liang di Gunung Wu-tai dimana Manjusri mengirim cahaya terang.
Di tempat itu pulalah orang dapat menjumpai tebing curam tanpa dasar yang terus
menerus ditutupi salju, dengan jembatan batu yang membentang di antara tebing-tebing
tersebut serta bilik-bilik untuk meman- dang ke bawah - tempat menakjubkan yang benarbenar
tiada banding...

Karena saya sibuk dengan namaskara dan persembahan dupa, maka secara praktis saya
tidak memiliki waktu buat menikmati keindahan semua panorama itu. Saya sudah
memenuhi ikrar saya, dan berada di situ semata-matahanya demi IKRAR tersebut.

Saya tak mau memberi kesempatan pada para dewa-gunung buat mentertawakan saya
oleh karena rasa penasaran kepingin tahu remeh ini. --- Setelah Puja Bakti Agung usai,
saya memanjat Puncak Da-luo, di inana saya mem¬beri penghormatan kepada tempat
"lentera kebijaksanaan" biasa muncul.

Pada malam hari pertama, tiada sesuatu pun yang tampak; tetapi pada malam ke-duanya
saya melihat sebuah bola cahaya besar datang melayang dari arah utara ke Puncak
Tengah, dimana ia kemudian pecah menjadi sepuluh bola cahaya lain dalam ukuran yang
berbeda-beda. Pada malam yang sama pula, saya menyaksikan di Puncak Tengah tiga
bola cahaya melayang naik dan turun dan di Puncak Utara tiga bola dengan berbagai
ukuran.

Pada hari ke-sepuluh bulan ketujuh, saya melakukan penghormatan dan menghaturkan
terima kasih kepada Bodhisattva Manjusri serta kemudian menuruni gunung itu. Dari
Puncak Huayan saya berjalan ke arah utara dan tiba di Da-ying, selatan Hun-yuan, di
mana saya mengunjungi Puncak Utara dari Gunung Heng yang saya daki melalui Celah
Hu- feng. Di sana saya melihat lengkung-batu dengan tulisan, "Gunung Pertama dari
Wilayah Utara."

Ketika tiba di vihara, saya melihat rangkaian anak tangga yang mendaki begitu tinggi
sehingga seolah-olah mencapai langit dan belantara lengkung serta prasasti dari batu.
Saya memberi persembahan dupa dan kemudian mendaki gunung.

Selanjutnya, saya mencapai Prefektur Bing-yang (Lin-fen) di mana saya mengunjungi
"Gua Selatan dan Utara para Manusia Setengah Dewa." Di bagian selatan kota saya
jumpai Kuil Kaisar Yao (memerintah 2357 - 2255 SM) yang sungguh besar dan
mengesankan. Ke arah selatan saya mencapai desa Lu-cun dari Prefektur Puzhou
(Provinsi Shansi barat daya)

Di tempat itulah saya mengunjungi Kuil Pangeran Guan dari Dinasti Han yang letaknya
berdekatan. Saya menyeberangi Huang-ho (Sungai Kuning) dan melewati Celah Tongguan
untuk memasuki Provinsi Shensi, yang mana kemudian me- Ialui Hua-yin saya
memanjat Gunung Dai-hua serta melaku- kan penghormatan ke kuil PUNCAK BARAT
HUA-SHAN.

Dengan terus mendaki ke puncak tersebut hingga tinggi sekali yang sisi-sisinya dihiasi
dengan panji-panji, dan memanjat tangga terjal --- merayapi celah sempit yang diapit
tebing curam seperti Lao-jun Li-kou --- saya menyaksikan pemandangan yang begitu
indah. Saya bermalam di sana selama delapan hari dan selalu mengagumi tindakan bajik
dari dua orang bijak di zaman kuno, Bai-yi dan Shi-qi.

Saya mengunjungi Shou-yang yakni tempat yang berkait dengan kedua tokoh tersebut. Tak
lama kemudian saya mencapai bagian barat daya Provinsi Shensi, di mana saya
mengunjungi Vihara Guan-yin dari Gunung Xiang (Gunung Harum) serta makam dari
Pangeran Chuan-warig. Dari sana saya memasuki Provinsi Gansu dan mencapai Gunung
Kong-tong, melalui Jing-quan dan Ping-liang. Tatkala tahun baru hampir tiba, saya
kembali ke Vihara Guan-yin, tempat di mana saya me- lewatkan Tahun Baru di tempat
tersebut.


Bersambung ke bab 4...

#23 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 08 February 2013 - 11:58 AM

USIA Ke 46 (1885/86) Musim semi tahun ini, saya meninggalkan Biara Guan-yin di
Gunung Xiang, berjalan ke arah barat ' melalui Celah Da-qing dan selanjutnya ke
Provinsi Shensi. Setelah melewati Vaozhou dan San-yuan, saya pada akhirnya mencapai
Xian-yang, di mana saya melihat pohon pir manis bersejarah tempat seorang tokoh
sejarah zaman kuno bernama Zhao-bai pernah hidup.

TATKALA MENCAPAI XI'AN (dahulu dikenal sebagai Chang-an) dengan dindingnya
yang mengesankan, saya menjumpai banyak reruntuhan bangunan bersejarah. Pada
penjuru Timur Laut di bagian luar kota, terdapatJah Biara Ci-en, yang di dalamnya
terletak Pagoda Angsa Liar

Ci-en atau Biara Anugrah Cinta Kasih dibangun oleh Putera Mahkota Dai- zong pada
tahun 648. Pagoda yang ada dibangun dimaksud- kan agar tahan-api atas petunjuk
Xuan-zang di tahun 652, kegunaannya adalah untuk menyimpan kumpulan besar
Sutra-Sutra yang dibawa dari India. Ia telah menterjemahkan lebih dari 1.300
gulungan Sutra sekembalinya dari perjalanan membawa Sutra itu.

Nestorian adalah salah satu aliran Kekristenan yang memasuki Tiongkok pada masa
sekitar Dinasti Tang (618 - 906) - penterj

Du-shun (558-640) adalah sesepuh pertama dari Aliran Hua-yan di Tiongkok. Ia
tersohor dengan makalahnya yang berjudul "Meditasi pada Dharmadhatu."

Nama lainnya adalah Cheng-guan (738-850). Ia adalah seorang komentator tersohor
dan Mahaguru Kerajaan dari enam kaisar Dinasti Tang yang memerintah bergantian


Stupa tujuh tingkatnya, dihiasi dengan tulisan kaligrafi terkenal yang di- pahat pada batu.
Beberapa di antaranya berasal dari masa Dinasti Tang dan zaman yang lebih kemudian,
dan demikian pula halnya dengan prasasti-prasasti Nestorian.

Di depan Perguruan Tinggi Konfusius milik pemerintah prefektur, terdapatlah kumpulan
luar biasa dari tujuh ratus prasasti batu. Pada gerbang timurnya terdapat sebuah viaduct
dengan tujuh- puluh-dua lengkung serta paviliun beratap, dimana orang yang Ialu lalang
dapat berjumpa serta berkumpul sebelum menunaikan urusannya masing-masing.

Setelah melewati gerbang rangkap tiga di Celah Yang- guan, saya pergi ke Biara Huayan,
di mana saya memberikan penghormatan pada stupa dari Master Du-shun30 dan
Master Kerajaan Qing-liang31. Saya kemudian berjalan ke Vihara Niu- tou dan Biara
Xing-guo. Saya menghaturkan penghormatan pada stupa dari Master Dharma Xuan-zang
[600-64] di Biara Xing-guo.

Saya melanjutkan perjalanan dan mencapai Wu-tai Timur, Zhongnan Shan, lalu Xiang
Gu-po, Biara Bao-zang dan Tempat Retret Bai Shui Lang, yakni tempat yang didiami
oleh dua orang bhiksu suci saat mereka sedang menjalani hidup pertapaan. Saya
mengunjungi tempat yang dahulunya menjadi tempat kediaman Zong-mi di Gua Yin-dong
pada Puncak Jia Wu-tai. Beliau adalah Sesepuh Kelima Aliran Hua-yan (Ava- tamsaka)
di Tiongkok.

Kemudian saya melaju ke Wu-tai Selatan, di mana saya menyambangi: Master Juelang,.
Ye-kai, Fa-ren, Ti-an, dan Fa¬xing, yang telah membangun pondok sederhana di
sana dan mengundang saya untuk tinggal dengan mereka. Fa-ren berdiam di "Tempat
Retret Harimau." Ye-kai tinggal di bawah "Pohon Aras Naga Kebajikan" dan Fa-xing
tinggal di "Gua Xian-zi" bersama dengan Jue-lang dan Ti-an - sementara saya tinggal
pada sebuah pondok besar daun ilalang.

Pagi-pagi sekali pada hari pertama bulan ketiga, saya melihat bintang berekor melintas
langit lewat di atas bangunan aula; pendar jejaknya tetap tinggal untuk beberapa bentar
sebelum memudar cahayanya. Saya tidak tahu apa maknanya...

USIA Ke 47 dan 48 (1886/87) Selama kurun waktu ini, saya awalnya tinggal di sebuah
pondok pada Puncak Selatan Wu-tai untuk mempraktikkan Chan dengan saudara-saudara
se-Dharma yang saya sebutkan di atas, yakni para Master yang dari mereka saya
memperoleh banyak manfaat.

Pada bulan kedua, saya menuruni gunung dan berjalan ke Gunung Cui-wei, di mana saya
mempersembahkan hormat kepada Biara Huang-you. Selanjutnya di Gunung Zing-hua
dan Hou-an, saya menyambangi Biara Jing-ye untuk memberi penghormatan pada stupa
dari Dao-xuan, Patriarkh mazhab Lu (mazhab Vinaya).

Tak begitu lama, saya tiba di Biara Dao- tang, di mana saya memberikan penghormatan
pada tempat suci dari KUMARAJIVA32. Berikutnya, saya mengunjungi Gunung Taibai,
yang tingginya lebih dari 10.000 kaki dan saljunya tak pernah cair walau di musim panas
sekalipun.

Seorang Mahaguru tersohor yang berasal dari Kuchan. Ia datang ke Tiongkok pada
abad keempat. Ia dikenang oleh karena sejumlah terjemahan Sutranya [ke dalam
bahasa Mandarin] yang dikerjakan dengan bantuan asistennya, Sheng-zhao. Sebagai
ta- vvanar. perang, Kumarajiva dibavva ke Chang-an (sekarang Xi'an), tempat
dimana suatu lembaga penterjemahan didirikan. Beliau wafat pada tahun 412.


Tempat persinggahan selanjutnya adalah Biara Er-ban dan Dai-ban serta pada akhirnya
mencapai Puncak Da Long-zhi (Kobakan Naga Agung), di mana airnya terbagi menjadi
empat aliran. Dengan melalui kota pasar Zi-wu, saya mencapai Prefektur Han-zhong,
dimana saya mengunjungi banyak tempat-tempat bersejarah seperti teras tempat Kaisar
Dinasti Han, Gao-zu, dulunya memberikan hadiah pada para jenderalnya; Kuil Zhu-gu
(untuk mengenang seorang perdana menteri pada abad kedua) di Bao-cheng, dan Tugu
Peringatan Wan-nian untuk mengenang jasa-jasa Zhang-fei.

Berjalan terus hingga tiba di Long-dong (Gua Naga) dan dengan me¬lalui Celah Tianxiong,
saya mencapai "Emei Kecil," Celah Jian Men (Gerbang Pedang), Biara Bo-you,
Celah Bai-ma (Kuda Putih), dan makam Pang-tong. Pada akhirnya saya tiba di Kuil Wenchang
di Provinsi Sichuan. Ketika melalui dataran in:, saya harus mendaki GunungQi-qu
[secara harafiah berarti "Tujuh Bengkokan"] dan kemudian melewati Sungai Jiu-qu
[secara harafiah berarti "Sembilan Kelokan"], di samping melewati Celah Jian-men. ---
IA NAMPAK BAGAI SEBILAH PEDANG YANG MEMBENTANG DARI DUA KARANG TERJAL serta
mencerminkan pepatah kuno yang mengatakan: dengan cukup satu orang ksatria saja buat
menjaga posisi pertahanan strategis itu akan dapat memukul mundur serangan yang dilancarkan
sepuluh ribu bala-tentara musuh.

Di atas gunung terdapat kota Jiang-wei, tempat di mana jaman dulu Bai-yue pernah
memimpin pasukan. Sulit untuk menapaki jembatan-jembatan papan yang menghubungkan
karang-karang curam itu, seolah-seolah kita sedang "melangkah naik ke langit," tepat
sebagaimana orang di zaman dahulu menyebutnya.

Maju terus, saya mencapai Prefektur Nan-xin, di selatan Guang-han, di mana saya tinggal
di Biara Bao-guang buat melewatkan Tahun Baru. --- Semenjak me- masuki Sichuan
tahun itu, saya berjalan sendirian hanya dengan mangkuk dan pakaian sekadarnya,
sehingga dengan demikian terbebas sepenuhnya dari segenap hambatan spiritual Tatkala
berkelana melewati pedalaman gunung- gunung dan sungai, pemandangan indah itu
membantu menjernihkan pikiran saya.

USIA Ke 49 (1888/89) Pada bulan pertama, saya meninggalkan Biara Bao-guang dan
mengadakan perjalanan ke Chengdu, ibu kota provinsi (Sichuan - penterjemah). Di sana
saya memberikan hormat ke Aula Wen-shu (Manjusri) di Biara Zhao-jue, Cao-dang, dan
Vihara Qing-yang.

Selanjutnya, setelah melalui Hua-yang dan Shuang-liu saya berbalik ke arah selatan serta
tiba Meishan dan Prefektur Hungya. Saya berjalan hingga mencapai kaki Gunung Emei.
Mulai dari Gua Jiu-lao di Kuil Fu-hu (tempat di mana Zhao Gong-ming dulunya tinggal
untuk melatih Daoisme), saya memanjat PUNCAK JIN-DING DARI GUNUNG EMEI, di
mana saya mempersembahkan dupa.

Malam harinya, saya melihat di langit terpancar tak terhitung "cahaya Buddha" yang
nampak bagaikan gugusan bintang-bintang --- keindahannya sungguh tak terlukiskan. ---
Saya menyambangi Kepala Biara Ying-zhen di Biara Bao- guang, di mana saya tinggal
selama sepuluh hari Dari Vihara Wan-nian saya mempersembahkan hormat di Aula
Vairocana; kemudian turun gunung dan berjalan hingga mencapai Prefektur Yazhou.

Setelah melalui Prefektur Chong-qing, saya mencapai Luding yangdekat dengan
perbatasan Provinsi Sichuan dan pada bulan kelima, saya menveberangi Sungai Lu. Di
kota Yan-an, Jeinbatan gantung Luding yang menyebrangi Sungai Da-fu --- terbuat dari
rantai sepanjang 300 kaki. la selalu bergerak dan bergoyang-goyang apabila dilewati
oleh pejalan kaki, sehingga orang haruslah berhati-hati tatkala melaluinya.


#24 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 08 February 2013 - 06:44 PM

Memasuki Tibet

Berjalan ke arah barat, saya melalui Da-jian Lu, Litang (juga disebut Li-hua), Batang dan
selanjutnya menikung ke arah utara dan saya mencapai Qamdo. Ketika melanjutkan
kembali ke arah barat, saya tiba di Shidu, A-lan-to, dan Lhari, di mana dataran tinggi
yang luas itu hanya dihuni oleh sedikit sekali orang dan terpencar berjauh-jauhan; mereka
terdiri dari suku bangsa Han-China, Tibet, Mongolia, serta suku-suku liar.

Bahasa merekapun berbeda dengan bahasa China. Di Litang, terdapat gunung suci yang
disebut Gonga (7556 m), dimana gunung itu merupakan tempat suci bagi para penganut
Buddhisme Tibet. Di Batang, terdapatlah gunung-gunung yang sangat tinggi dan Qamdo
merupakan tempat tempuran berbagai sungai. Kebanyakan orang yang berdiam di daerah
ini merupakan penganut Lamaisme.

Dari Lhari saya berjalan ke arah selatan dan mencapai Jiang-da [kemungkinan Gyamda],
yang terletak di perbatasan Tibet. Saya meneruskan perjalanan dan melintasi perbatasan
masuk ke Tibet. Saya menyeberangi Sungai Wusu-Jiang dan selanjutnya Sungai Lhasa
(Kyichu). Dengan segera tibalah saya di LHASA, ibu kota dan gabungan pusat
administrasi serta keagamaan bagi seluruh Tibet.

Shidu dar A-lan-to adalah transliterasi bahasa Mandarin dari nama suatu tempat di
daerah tersebut. Untungnya Lhari dapat diidentifikasi sehingga memberikan
kejelasan mengenai nama- nama tempat yang dimaksud.
"Wusu-Jiang" kemungkinan adalah anak sungai dari Sungai Brahmaputra (Yarlong
Zangpo).


Pada bagian barat daya kota terletak bukit Potala, tempat bertenggernya istana potala
yang terdiri dari TIGABELAS TINGKAT; bangunannya dilapisi emas berkilau
dengan latar belakang langit biru, benar-benar mengesankan untuk dipandang. Di sinilah
Sang "Buddha Hidup" --- Sang Dalai Lama --- duduk di singgasananya dengan
dikelilingi oleh koinunitas sekitar 20.000 bhiksu. Karena saya tidak paham bahasa Tibet
maka saya hanya menyambangi biara- biara tersebut untuk sekadar mempersembahkan
dupa serta menghaturkan penghormatan pada Sang "Buddha Hidup."

Dari Lhasa, saya menuju ke arah barat dan setelah men- capai Gonggar dan Gyangze,
saya mencapai Shigatse, yang di bagian baratnya berdiri Biara Tashilunpo. Ia merupakan
bangunan besar yang menempati tanah seluas beberapa li persegi serta pusat administrasi
dan keagamaan dari Tibet barat, di mana "Buddha Hidup" lainnya yakni Panchen Lama
tinggal. Beliau duduk di singgasananya dengan dikelilingi oleh empat atau lima ribu
bhiksu.

Selama perjalanan saya dari Provinsi Sichuan ke Tibet yang memakan waktu
SETAHUN, saya berjalan pada siang hari dan beristirahat pada malam harinya.
Seringkali, saya tidak berjumpa dengan seorang pun selama berhari-hari saat mendaki
jajaran gunung-gemunung atau menyeberangi sungai-sungai. Burung dan hewan liar
yangada di sini berbeda dengan yang ada di Tiongkok dan adat istiadat mereka pun
berlainan pula dengan bangsa China. Sangha di sini kurang mematuhi aturan kebiaraan --
- banyak dari mereka makan daging sapi dan domba.

Mereka terbagi menjadi beberapa sekte yang dibedakan oleh topi merah dan kuning yang
mereka kenakan. Saya teringat akan pesamuan Dharma diJetavana dan tidak dapat
menahan air mata. Karena akhir tahun telah menjelang, maka saya kembali dari Shigatse
ke Lhasa untuk melewatkan masa Tahun Baru.

Pengamatan Xu-yun ini terkesan tawar, sebenarnya ia justru sudah cukup longgar.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di sini. Sangha Buddhis [Tiongkok] secara
umum melarang makan daging dan Xu-yun memperkenalkan reformasi yang keras
dalam biara-biara Tiongkok. Karenanya ia sangat terkejut tatkala mendapati bahwa
makan daging merupakan hal yang umum bagi umat Buddhis Tibet

[Pertapa pengembara legendaris --- yang kepopulerannya di masyarakat Tibet
barangkali hanya kalah oleh Milarepa --- Shabkar Tsogdruk Rarigdrol (1781-1851):
beliau menjalankan praktik vegetarian ketat; lihat: the Life of Sluibkiir --- the
Autobiography of Ti¬betan Yogin, translated by Matthieu Richard, Snow Lion Publ. --
- ed.].

Iklim dan kondisi geografis Tibet tidaklah memungkinkan bercocok tanam savur-sayuran
dengan baik; dan selain itu gandum serta beras seringkalinya langka. Maka
dari itu, semata-mata karena alasan bertahan hidup, para bhiksu Tibet kerapkali
makan daging. Gandum dan jewawut kadang-kadang memang ada, tetapi jumlahnva
masih kurang memadai untuk memenuhi kebutuhan semua orang. Pernyataan itu
menunjukkan bahwa Xu-yun adalah seseorang vang menjalankan vegetarian dengan
ketat. --- Dan jelas sekali: waktu itu di Tibet mestinya ia bisa mendapat makanan
yang sesuai (vegetarian) buat menvambung hidupnya [sehingga ia tidak tahu
kesulitan vang umum terjadi --- paling tidak: beliau tidak menulis/mengeluh bahwa ia
menjumpai kesulitan makan saat di Tibet; atau barangkali beliau hanya makan
sangat sedikit saja (puasa), kita hanya bisa berspekulasi - ed.]


USIA Ke 50 (1889/90) Saya tidak bermaksud tinggal lama di Tibet dengan tibanya
musim semi, saya berjalan ke arah selatan dan melewati La-ko serta Ya-dong (disebut
juga Maodong), yang merupakan gerbang ke India dari Tibet. Saya memasuki Bhutan
dengan menyeberangi jajaran gunung-gunung tinggi (mountain ranges), yang namanamanya
tidak saya kenal.

Meskipun demikian, saya ter- kadang mendengar orang menyebutnya sebagai "Barisan
Pe- gunungan Bawang" atau "Pegunungan Bersalju" (the Himalayan Range). Saya
memanfaatkan kesempatan ini untuk me- nyusun sebaris puisi yang berbunyi sebagai
berikut:

Apakah yang melewati kaki langit Terlihat bagaikan kekosongan nan jernih?

Dunia yang terang dan berkilau keperakan Tidaklah berbeda dengan batu giok yang
gemerlap. Ziarah ke India, Srilanka, Burma (Myanmar) dan Kembali ke China

Anehnya, aturan Vinaya tidaklah secara terang-terangan melarang pemakanan
daging, terutama karena para bhiksu itu se-yogianya memang hidup dari mengemis
atau sekedar manut menerima seadanya, memakan apa saja yang diberikan oleh penderma.

Di Tiongkok, Vinaya dihubungkan ke Brahmajala Sutra, yang melarang
pemakanan daging, sebagaimana yang tercantum puia dalam Lankavatara Sutra.

Sehingga di Tiongkok, aturan kebhiksuan secara jelas melarang pemakanan daging.
Barangkali Sang Master berpikir bahwa terdapatnya beberapa jalur silsilah
(mazhab) di Tibetan menunjukkan adanya sikap sektarian. Sebenarnya Tibetan juga
sekedar mengembangkan pelbagai aliran berpikir (schools) --- Dari komentar-komentar
Master Xuyun di beberapa kesempatan lain, beliau memandang bahwa
semua aspek dari Dharma adalah saling melengkapi; beliau mengajar kepada murid-muridnya
agar tidak mendiskriminasi [pilih kasih] satu metode/tradisi dengan
lainnya.

Andai saja sang Master mengerti bahasa Tibet, maka beliau bakal lebih maklum
bahwa Tibetan sebenarnya juga memiliki cara-cara terampil dalam mengekspresikan
Dharma melalui pelbagai metode, sebagaimana pula Buddhisme China --- [lni adalah
komentar Richard Hunn; sedang: pengelana lain pada awal abad 20, W.Y. Evans
Went/., me- nyatakan memang adanya nuansa antagonisme di masa itu -- "The
Tibetan Book of The Great Liberation", Oxford, 2000, hal 25; dan juga komentar
Prof. Donald S. Lopez, Jr. yang memberi foreword di hal. N -- ed.]

Mountain ranges: adalah jajaran gunung-gunung tinggi dengan banyak puncakpuncaknya,
seperti Himalaya, Rocky Mountain, Grand Teton, dsb. - berbeda dengan
yang ada di Indonesia, yang gunung-gunungnya volkanik --- di mana biasanya satu
gunung cuma berpuncak tunggal. Masing-masing puncak itu biasanya punya nama
sendiri-sendiri - ed.



#25 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 08 February 2013 - 06:56 PM

BEGITU TIBA DI INDIA, SAYA MENCAPAI KOTA YAMG-PU, DI MANA SAYA
MELAKUKAN PERZIARAHAN KE BERBAGAI TEMPAT SUC1. Kemudian, saya
mencapai kota besar di Bengala yang bernama Kalkuta. Dari sana saya berlayar ke
Srilanka. Selama berada di sana, saya melakukan kunjungan ke berbagai tempat suci, dan
setelah itu mengunjungi PAGODA EMAS SHWEDAGON di Burma (Rangoon) serta
melakukan penghormatan di dalam kuil itu.

Ketika mencapai Chi-ti-li dekat Moulmein, saya melihat batu besar bundar yang luar
biasa dan konon telah diletakkan oleh Maugalyayana (Moggallāna - Pali) di zaman dahulu.
Banyak umat yang datang ke sana untuk menghaturkan penghormatan.

Kemungkinan merupakan Benares. Kadang-kadang mustahil untuk menentukan
dengan persis Ietak nama-nama tempat dalam bahasa asing, yang ditransliterasikan
dalam bahasa Mandarin - mereka sering menyebutnya dengan sesuka hati saja.
Sebagai contoh, dalam catatan perjalanan Xu-yun ke Tibet, dua fonetis yang sama
telah diberikan pada dua tempat yang sama sekali berbeda, meskipun deinikian,
untungnya tempat-tempat itu dapat diiden- tifikasi dengan merunut alur perjalanan
yang dicatat oleh Xu-yun.

"Chi-ti-li" adalah Kyai Khtiyo, dekat Moulmein. Umat Buddha yang saleh melapisi
batu ini dengan lembaran-lembaran emas, seringkali menabung bertahun-tahun agar
dapat melakukannya.

Batu bulat raksasa, yang letaknya aneh: 'mintip-mintip' cuma sebagiankecil dasarnya
yang duduk tipis di bibir tebing curam, namun ajaibnya batu itu tidak jatuh terguling
- di atasnva terdapat stupa pemujaan - ed.


Pada bulan ketujuh saya kembali ke Tiongkok. Berang- kat dari Lashio, saya melalui
Gerbang Han-long dan memasuki Provinsi Yunnan.

Setelah melewati Nian-ning, Long- ling, Jing-dong, Meng-hua, Chaozhou, dan Xiaguan,
saya mencapai Prefektur Da-li. Di sana saya mengunjungi Telaga besar Er-hai, di mana
gemuruh riak air jeramnya dapat ter- dengar jauh hingga beberapa li. Pemandangan di
tempat itu sungguh-sungguh mengesankan.

Sekembalinya ke Tiongkok, ikrar pertama saya adalah mengunjungi GUNUNG KAKI
AYAM, di mana saya berharap untuk menghaturkan penghormatan pada Yang Arya
Maha-kasyapa - di mana gunung tersebut merupakan tempat suci beliau. Ada dikatakan
pula, bahwa beliau sedang dibungkus khusyuk samadhi di dalam gua itu, sambil
menunggu kedatang- an Buddha masa datang, Maitreya.

Dari Telaga Er-hai, saya menuju ke arah timur laut dan setelah melewati Wa-se, Baidan,
Bing-sha, Shan-jiao, dan kuil Da-wang di An-bang, maka tibalah saya di Ling-shan
(Puncak Burung Nazar) yang terletak di kaki Gunung Kaki Ayam. Setengah perjalanan
dari sana terletak Perengan Ming-ge.

Dikatakan bahwa dahulu di tempat tersebut, delapan pangeran mengikuti Mahakasyapa
ke gunung itu. Karena tidak tega meninggalkan beliau, maka mereka semua turut tinggal
di gunung itu guna melanjutkan pelatihan dirinya. Semuanya menjadi pelindung Dharma
(guna mengenang mereka, kini mereka dipuja di sebuah kuil dekat situ: Kuil Da-wang).

Saya memanjat gunung, mencapai Gua Altar Suci Mahakasyapa, yang di dalamnya
tersimpan citra beliau. Ada riwayat yang mengatakan bahwa, tatkala Ananda pergi
mengunjungi tempat itu untuk menghaturkan hormat, pintu-batu gua itu terbuka dengan
sendirinya. la merupakan gua yang terletak tinggi di atas gunung, jalan masuknya tertutup
oleh dinding batu yang mirip pintu.

Pintu itu disebut dengan "Hua-shou Men" ("Pintu Gerbang Bunga Mekar") dan Mahakasyapa
dikatakan dalam samadhi di dalamnya. Pintu yang menutupi gua itu mirip
bentuknya dengan pintu gerbang kota besar sekali. Tingginya beberapa ratus kaki dan
lebarnya lebih dari seratus kaki (~35 m). Kedua belah daun pintu batu itu saling
menutup, namun garis pemisah di antaranya masih terlihat jelas.

Hari itu banyak pengunjung yang ditemani oleh para pemandu lokal. Ketika saya sedang
mempersembahkan dupa dan bernamaskara, tiba-tiba terdengarlah tiga kali dentang genta
besar. Para penduduk tempat itu merasa gembira dan menghaturkan penghormatan seraya
berkata, "Apabila seorang yang tercerahi datang kemari, maka akan terdengar suara
lonceng gaib, tambur, dan alat musik lainnya sebanyak sekali atau dua kali.

Pintu gerbang tempat bertapanya Mahakasyapa disebut dengan "Hua-shou Men"
atau "Gerbang Bunga Mekar" untuk mengenang khotbah Dharma "Bunga" sang
Buddha. Pada kesempat- an tersebut, sang Buddha memegang dan mengacungkan
setangkai bunga, yang maknanya adalah menunjuk secara langsung pada pikiran.

Mahakasyapa adalah satu-satunya siswa sang Buddha yang dapat memahami makna
mendalam dari tindakan tersebut dan menjawabnya dengan senyuman. Tradisi
Buddhisme Chan memandang hal ini sebagai berawalnya peristiwa "Transmisi
Pikiran." Sehingga dengan demikian, Mahakasyapa menjadi sesepuh India pertama
dari silsilah pewarisan ajaran Chan.


Namun sejauh ini, kami belum pernah mendengar suara genta-gaib yang besar itu.
Kedatangan Anda hari ini bernamaskara --- dan terdengarnya dentangan genta-gaib besar
itu menandakan bahwa Anda pastilah telah mencapai Dao?" --- Dengan segera saya
menyangkal bahwa saya belumlah layak menerima genta-gaib-penyambut tersebut. Hari
itu adalah hari terakhir dari bulan ke-tujuh.

Esoknya, saya mendaki Puncak Tian-zhu (Pilar Surgawi) yang merupakan puncak
tertinggi dari rangkaian pegunungan itu danjaraknya apabila dihitungdari kaki-gunung
mencapai sekitar tigapuluh li [~ 15 km]. Di atasnya terdapat altar tem- baga dan Stupa
Surangama. Menurut catatan sejarah Gunung Kaki Ayam, dulunya pernah terdapat 360
tempat pertapaan serta 72 vihara besar, tetapi kini yang tersisa kurang dari sepuluh.
Bhiksu dan umat awam tak dapat dibedakan lagi, kepemilikan sebuah vihara telah
diwariskan secara turun- temurun dari generasi ke generasi.

Tiap komunitas hanya mementingkan vihara mereka sendiri dan tidak mengizinkan bhiksu
dari tempat lain tinggal dan menginap di sana, bahkan untuk waktu yang singkat
sekalipun. Saya mengenang masa kejayaan Dharma dahulu dan membandingkannya
dengan kemunduran yang terjadi saat ini - saya tidak dapat menahan diri cuma bisa
menghela napas panjang. Kendatipun ada desakan kuat dalam diri untuk bisa
membangkitkan kembali kejayaan lampau tempat-tempat ini, namun saya tidak tahu kapan
kesempatan itu akan tiba.

Saya menuruni gunung, lalu dengan melalui puncak Liang- wang dan Jiu-feng tiba di
sebuah distrik di Yunnan. Dari sana, melalui Gunung Shui-mu, Ling-qiu, dan Zi-qi
sebelum akhirnya mencapai Prefektur Chuxiong. Di sana, saya tinggal Biara Gao-ding, di
luar gerbang barat. Tidak lama setelah kedatangan saya, biara itu [tiba-tiba saja]
dipenuhi oleh aroma semerbak bunga anggrek. Bhiksu penanggung jawab di biara itu
mengucapkan selamat pada saya atas peristiwa langka ini.

Kepala Biara lalu datang dan berkata, "Keharuman ajaib ini jarang sekali terjadi
sebelumnya. Menurut catatan sejarah prefektur ini, terdapat anggrek-gaib yang tumbuh di
gunung dan tidak dapat dilihat dengan mata-daging. Anggrek-gaib itu hanya memancarkan
aroma harumnya apabila ada seseorang yang telah tercerahi tiba di tempat ini.

Karena seluruh penjuru gunung ini telah dipenuhi oleh aroma harum hari ini, maka
pastilah ini disebabkan oleh kemuliaan Anda." Ia melayani dengan amat ramah dan
berharap agar saya tinggal untuk waktu yang lama di tempat itu. Karena saya sedang
terburu-buru untuk pulang ke propinsi asal saya di Hunan, maka dengan sopan saya
tampik permintaannya.

Setelah menginap semalam, saya meninggalkan biara itu dan setelah melalui Prefektur
Kunming dan Qu-jing, saya mencapai Bing-yi di perbatasan Propinsi Guizhou. Saya lalu
menuju ke arah timur, melewati Kue-yang dan Zhen-yuan, kemudian setelah menempuh
perjalanan panjang, tibalah saya di Distrik Ma-yang dan Zhi-jiang di Hunan bagian barat.
Saya melanjutkan perjalanan, melewati Bao-qing dan tiba di
Heng-yang. Di sana, saya merigunjungi dan menghaturkan penghormatan pada Master
Heng-zhi di Gunung Qi. Setelah berdiam di sana selama sepuluh hari saya meneruskan
per- jalanan ke arah utara.

Begitu tiba di Wuchang yang terletak di Propinsi Hubei, saya mengunjungi Biara Baotong,
di mana saya memberikan penghormatan pada Kepala Biara Zhi-mo. Setelah
mempelajari tatacara pertobatan dan tekad memperbaiki diri di dalam ritual Kuan-yin,
saya melanjutkan perjalanan ke Jiu-jiang, di mana saya mendaki Gunung Luo buat
menghaturkan hormat kepada Kepala Biara Zhi-shan di Biara Hai-hui.

Selama berada di tempat itu, saya menghadiri kumpulan yang diadakan untuk melafal
nama Buddha. Hari berikutnya, setelah tiba di Propinsi Anhui serta mengikuti kunjungan
ke Gunung Huang, saya mendaki GUNUNG JIU-HUA dan bernamaskara pada Stupa
Ksitigarbha Bodhisattva serta Vihara Bai-sui. Saya juga meng-haturkan penghormatan
kepada Kepala Biara Bao-wu, yang sangat ketat menjalankan disiplin Vinaya. Pikiran tak
tercemar beliau juga benar-benar yang terunggul. Setelah itu saya menyeberangi sungai
serta tiba di Gunung Bao-hua untuk menghaturkan penghormatan pada Kepala Biara
Sheng-xing yang menahan saya untuk melewatkan tahun baru di sana.

Gunung Jiu-hua (1841 m). Salah satu dari empat gunung suci Buddhisme Tiongkok. Ia
merupakan Bodhimandala dari Di- zang (Ksitigarbha) atau Bodhisattva Kandungan
Bumi. Letaknya di Propinsi Anhui.


DUA TAHUN pun berlalu sudah dan saya telah menempuh jarak 10.000 li yang
selalu ditempuh dengan berjalan kaki
. Pengecualiannya adalah saat menyeberangi
lautan dengan menumpang perahu. Saya telah menyeberangi sungai serta mendaki gunung
dan dengan menerjang hujan, badai, maupun salju. Pemandangan berubah sepanjang hari,
tetapi pikiran tetap murni bagai rembulan menggantung di langit, bersiriar dengan
cerahnya....

Kesehatan saya menjadi lebih baik dan langkah saya semakin kokoh. Saya tiada merasa
susah sedikit pun dengan perjalanan ini --- sebaliknya justru menyadari betapa
bahayanya sikap ceroboh memanjakan-diri (.self-indulgence) yang dulu pernah saya
miliki. Benar sekali perkataan seorang bijaksana di zaman dahulu yang berbunyi "setelah
membaca sepuluh ribu buku, maka seseorang seyogianya mengadakan perjalanan sejauh
sepuluh ribu mil..."


Bersambung ke bab 5...

Edited by Top1, 08 February 2013 - 06:57 PM.


#26 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 10 February 2013 - 09:51 PM

Bab 5. PENCERAHAN BESAR

USIA Ke 51 (1890/91 ) Saya tiba di Yi-xing (Propinsi Jiangsu) di mana saya
menghaturkan penghormatan pada Kepala ---. Biara Ren-zhi. Meskipun Biara Xian-qin
(tempat di mana Zong-mi, sesepuh kelima dari aliran Huayan bergabung dengan Sangha)
sedang diperbaiki, saya melewatkan musim panas di sana. --- Saya kemudian pergi ke
Gu-rong, di mana saya memberikan penghormatan pada Kepala Biara Fa-ren; saya
membantunya di dalam memperbaiki Biara

USIA Ke 52(1891/92) Di Nanjing,saya berdiam dengan Kepala Biara Song-yan dan
menolongnya dalam memperbaiki Biara Jincheng. Upasaka Yang Ren-shan kerap
memanggil saya dan kami telah mengadakan diskusi yang menarik mengenai Hetuvidya
Shastra serta naskah keagamaan yang berjudul "Lentera bagi Kebijaksanaan Prajna."
Saya tinggal di Biara Jin-cheng selama musim dingin.

USIA Ke 53 (1892/93) Bersama dengan Mahabhiksu Pu-zhao, Yue-xia, dan Yin-lian,
saya mendaki Gunung Jiu-hua, di mana kami memperbaiki gubug-gubug pada Puncak
Cui-feng tempat kami tinggal dan berlatih bareng.

Master Pu-zhao membabarkan kelima bagian ajaran dari Aliran Huayan. Karena ajaran
Xian-shou (Avatamsaka school) telah lama dilupakan, maka orang-orang yang tahu kabar
bahwa ajaran itu hendak dibabarkan lagi segera berbondong- bondong buat
mendengarkannya. Jumlah mereka banyak sekali. Semenjak saat itu, ajaran Xian-shou
bangkit kembali di bagian selatan dari Sungai Jiang (Yangtze) .

Hetuvidya Shastra. Salah satu dari kelima pancavidya shastra yang menjelaskan
mengenai sebab musabab atau pengetahuan mengenai hubungan sebab musabab
berdasarkan penjelasan yang logis serta rasional.

Sebuah komentar karya Bhavaviveka mengenai bait-bait Madhyamakarika karya
Nagarjuna.

Xian-shou (643-712) atau FA-ZANG adalah: Sesepuh Ketiga dari Aliran Huavan serta
seorang komentator yang tersohor. Karena terdapat lima orang sesepuh dari Aliran
Huayan yang masing-masing menulis komentar-komentar (ulasan-ulasan), maka kitab
[yang dipegang] oleh aliran ini dibagi menjadi lima bagian. Xian-shou berarti
"kepala yang bijak" dan nama diberikan sebagai penghargaan atas pemahamannya.
Ia juga dikenal sebagai Fa-zang.


USIA Ke 54 dan 55 (1893/95) Saya berdiam di Puncak Cui-feng di Gunung Jiu-hua
untuk mempelajari Sutra. Master Dharma Di-xian datang untuk melewatkan musim panas
dengan saya di gunung. Ia kemudian pergi ke Jin-shan untuk melewatkan musim dingin di
sana. Tahun berikutnya, saya tetap tinggal di Puncak Cui-feng guna mempelajari Sutra.

USIA Ke 56 (1895/96) BHIKSU YUE-LANG KEPALA BIARA GAOMIN di (WW)
ifi datang ke Jiu-hua, memberitahu kami bahwa salah seorang penyandang dananya
yang bernama Zhu telah berjanji mendukung biaya pengadaan meditasi selama dua belas
minggu, termasuk empat minggu yang sekarang ini. Ia juga memberitahu bahwa Master
sepuh Fa-ren dari Chi-shan sudah balik ke biaranya, maka beliau mengharap kehadiran
kami semua buat membantu mengawasi pekan-pekan meditasi itu. Ketika hari pembukaan
makin dekat, saya diminta jadi orang yang berangkat pertama.

TATKALA TIBA DI PELABUHAN TIGANG DI DA-TONG, saya berjalan menyusuri
bantaran sungai. Sungainya sedang pasang dan tukang perahu minta ongkos enam
benggol. Karena saat itu tidak punya uang sepeser pun, maka perahu pun pergi tanpa
membawa saya. -- Ketika sedang berjalan, tiba-tiba saya terpeleset kecebur sungai.
Saya hanyut selama sehari semalam sampai Dermaga Cai-shi, dimana seorang nelayan
secara kebetulan menangkap saya dengan jaringnya.

Melihat saya mengenakan jubah rahib, ia segera memanggil bhiksu dari Vihara Bao-ji
yang ternyata mengenali saya karena kami dulu pernah tinggal bareng di Biara Jin-shan.
Ia cemas, berseru, "Ini 'kan Master De-qing!" (Xu-yun ditahbiskan dengan nama Deqing).
Pada akhirnya, saya dibawa ke biara untuk memulihkan kesehatan. --- Akibat
terhempas-hempas sewaktu hanyut, maka darah mengalir dari mulut, hidung, dan alat
kelamin saya.

Istirahat hanya beberapa hari di Vihara Bao-ji, saya segera melanjutkan perjalanan ke
Biara Gao-min. Ketika berjumpa dengan petugas-biara (karmadana), ia melihat tubuh
saya yang gering dan pucat. Ia bertanya apakah saya baik- baik saja, yang saya jawab:
tidak. Saya kemudian menghadap Kepala Biara Yue-lang yang --- setelah sekedar
menanyakan kabar mengenai Gunung Jiu-hua tempat dimana tadinya saya tinggal --- tibatiba
[karena tidak tahu] ia meminta saya untuk bertugas memimpin pekan meditasi
berikutnya.

Dengan sopan saya menolak dan tidak mengatakan apa-apa menge¬nai hanyutnya saya di
sungai. Saya sekedar minta diizinkan mengikuti pekan meditasi saja. Menurut tradisi
disiplin di Biara Gao-min, menolak tugas yang diberikan oleh Kepala Biara dianggap
sebagai penghinaan terhadap seluruh komunitas biara. Sehingga saya dianggap sebagai
pembangkang dan dihukum: dipukuli dengan tongkat kayu. Sementara saya mandah
menerima hukuman dengan rela , hal ini memperparah sakit saya. Saya terus menerus
berdarah sampai cairan sperma bocor menetes pada saatbuang air kecil. Pasrah menanti
ajal, saya duduk meditasi siang-malam dengan tekad kian meneguh.

Ini merupakan latihan ksanti-paramita : kesabaran batiniah yang dilakukan oleh
sang Mahaguru terhadap segenap kondisi vang dialami.


Dengan pikiran-murni-terpusat (puresingle-mindedness), saya sepenuhnye lupa akan
tubuh---Dua puluh hari kemudian, penyakit saya lenyap sepenuhnya .,.

Manakala Kepala Biara dari Dermaga Cai-shi datang membawa persembahan jubah bagi
kumpulan itu, ia lega serta gembira melihat penampilan saya yang terang. Ia kemudian
mengisahkan jatuh dan hanyutnya saya ke dalam sungai, sampai seluruh bhiksu jadi
kagum dan hormat pada saya. Dengan demikian saya dibebaskan dari tugas-tugas di aula,
sehingga bisa terus-menerus bermeditasi.

BERIKUTNYA, dengan seluruh buah-pikir yang sekonyong-konyong terhenti, praktik
saya membuahkan effek sepanjang siang maupun malam . Langkah-kaki ini menjadi
ringan sampai seolah-olah melayang di udara. Suatu petang sehabis menjalani
serangkaian meditasi, saya membuka mata dan seketika melihat sinar terang-benderang
bagai mentari. Apa yang berada di-dalam dan di-luar Biara bisa terlihat jelas :
Dengan penglihatan mampu menembus tembok, saya menyaksikan bhiksu penjaga dupa
dan lentera sedang kencing di halaman luar, sementara itu seorang bhiksu tamu sedang
ada di kamar kecil.

Ini merupakan latihan virya-paramita atau keberanian dan semangat.
Dengan demikian beliau menghapuskan kemelekatan atas ego.
Inilah cara beliau menyembuhkan penyakitnva.
Ini merupakan pendahuluan vang penting bagi pencapaian kesadaran besar (Wu).

Pikiran Master Xu-yun telah terhapus dari segala kemelekatan, sehingga menjadi
luas serta menembus segalanya. Sehingga beliau mampu melihat apa saja baik yang
dekat maupun jauh.


Jauh di sana, saya menyaksikan pula perahu-perahu berlayar ke sana kemari dengan
pohon-pohon menjurai di kedua tepian sungai --- seluruhnya bisa saya saksikan dengan
jelasnya. Semua itu terjadi di waktu malam saat kentongan ketiga...

Pagi harinya, saya menkonfirmasikan penglihatan saya pada si penjaga dupa serta bhiksu
tamu tersebut, dan ke- duanya membenarkan apa yang 'telah saya saksikan semalam.
Mengetahui bahwa pengalaman tersebut hanya fenomena sementara saja, maka saya tiada
begitu mempedulikannya.

Bulan ke-duabelas, di malam ketiga dari minggu ke- delapan periode-latihan itu, seorang
pelayan datang buat mengisi cangkir-cangkir kami dengan teh di akhir sesi meditasi. Air
mendidih itu secara tidak sengaja tepercik ke tangan saya dan saya menjatuhkan
cangkirnya ke lantai. Cangkir pecah, suaranya keras sekali. Seketika itu juga saya
berliasil memotong habis keraguan-terakhir saya akan Akar-Pikiran serta bergembira
atas realisasi cita-cita seumur hidup ini ... ---Bak baru saja terbangun dari mimpi
panjang; mengamati kondisi-kondisi masa lampau yang tersingkap - saya terkenang saat
meninggalkan rumah, saat hidup sebagai pengembara, saat sakit di sebuah gubug di
tepian Sungai Kuning, serta pertanyaan-pertanyaan sulit yang diajukan oleh Wen-ji si
Pengemis [yang telah menyelamatkan hidup saya].

"...instantaneously, I cut off my last doubt about the Mind-root and rejoiced at the
realisation of my cherished aim." --- Pikiran adalah akar dari berbagai fenomena
yang jumlahnya tak terhingga. Ketika pikiran kembali pada kondisi ketenangan
asalinya, seseorang akan memandang bahwa segala sesuatu di dalam samsara
(kelahiran dan kematian) timbul dan lenyap dalam pikiran yang tak-berubah. Inilah
cara sang Mahaguru mencapai keberhasilan dalam meng-atasi segenap arus duniawi.
"Keraguan" di sini berarti keraguan terhadap hakekat terdalam dari "kelahiran dan
kematian."


Apa yang akan dikatakan Wen-ji andaikata saya menyepak alat perebus dan kompornya
pada saat itu? Andai saja saya tidak terjatuh ke sungai dan terluka parah, dan saya tidak
mempertahankan keseimbangan-batin {equanimity) tatkala menghadapi situasi
menyenangkan maupun tidak menyenangkan, maka tak pelak saya bakal bergentayangan
terlahir dan terlahir kembali; dan pengalaman [spiritual] semacam ini tak- kan terjadi
hari ini. Saya kemudian mengucapkan gatha berikut ini:

Cangkir terjatuh menghempas lantai
Suara pecah jelas terdengar.
Alam semesta ambyar
Pikiran-sinting [yang berkeliaran] ini terhenti seketika."


Andai saat itu saya menendang tempat rebusan dan kompor Wen-ji untuk menghapus
segenap sisa [pengaruh-pengaruh] eksternal untuk membangkitkan hakekat diri-sejati,
apakah yang akan dikatakannya?

Ketika pikiran berhenti membeda-bedakan hal-hal eksternal, maka hakekat diri-sejati
(self-nature) akan berfungsi sebagaimana mestinya (non-dualistik) sebagai persepsilangsung
(direct-perception), menampilkan self-nature. Pikiran sang Master telah
kembali pada keheningan asalinya dari hasil meditasi jangka panjang yang dilakukannya.

Sehingga ketika cangkir itu terjatuh ke tanah dan menimbulkan suara yang keras, maka
Beliau langsung menangkap hakekat diri-sejati tempat asal muasal segala sesuatu, tak
lagi se-mata-mata hasil data-indra. Ia dengan demikian merealisasi hake-kat kekosongan
atau kehampaan dari segala sesuatu yang berkon-disi, menyeka sampai habis ilusi tentang
ruang serta menghapus-kan keraguan terakhir beliau akan ketak-lahiran dan ketakmusnahan
dari Pikiran [Sejati], Sutra Surangaim mengatakan, "Ketika pikiran sinting telah berhenti,
itulah Bodhi."

Kata "pegangan" di sini mewakili pikiran yang meLekat pada obvek-obyek eksternal dan
apabila pikiran tersebut tidak melekat lagi dengannya, maka untuk menjelaskannya
adalah sesulit seperti menghadapi situasi ketika sebuah keluarga tercerai-berai - sebagai
perlambang bagi penghapusan fenomena sekitar kita.

Sama pula sulitnya untuk ngomong ketika ada seseorang yang meninggal, perlambang
bagi "matinya sang aku (ego)" atau "keakuan terkondisi [hasil bentukan]." Ini sejalan
dengan Vajracchedika (Sutra Intan), yang mengatakan bahwa kemelekatan terakhir yang
paling halus ter-hadap "sang aku" dan "dharma" (maksudnya fenomena - penterj.)
dihapuskan sebelum seseorang dapat mencapai pencerahan.

"Musim semi" melambangkan pencerahan, yang dengan pencapaianya "keharuman" atau
kebahagiaan, ketentraman luar biasa (bliss) akan tersebar di mana-mana. Gunung, sungai,
dan bumi adalah wujud-wujud khayali yang berasal dari Tathagata atau "Kedemikianan
Segala Sesuatu" ("Tliusness") dari Tubuh Buddha. Sutra Surangama menyebutkan
mengenai "wujud keharuman" atau "wujud nan ajaib," dimana hal ini mengacu pada
keindahan luar biasa dari data yang di tangkap oleh indra setelah ia dimurni-kan oleh
Wisdom.


Saya juga melantunkan gatha sebagai berikut:

Ketika tangan melepas pegangannya, cangkir jatuh pecah-berantakan.

"Sulit buat omong tatkala keluarga sedang cerai-berai atau ketika ada lelayu;

Musim semi tiba dengan bunga-bunga nan harum mekar di mana-mana,

Gunung-gemunung, sungai-sungai serta bumi luas meng-hampar tak lain dan tak
bukan adalah Tathagata sendiri...


USIA Ke 57 (1852/53) Pada musim panas tahun itu, saya tiba di Biara Jin-shan yang
terletak di Zhen-jiang, dimana saya tinggal dan memanfaatkan kurun waktu ini untuk
mempelajari aturan disiplin Kebhiksuan. Kepala Biara Da-ding yang telah lanjut usia
mengizinkan saya untuk melewatkan musim dingin di sana.


Bersambung ...

#27 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 11 February 2013 - 10:47 PM

Bab 6. RITUAL PENEBUSAN

USIA Ke 36 (1897/98) Sekembalinya saya ke Biara Jin-shan setelah kC perziarahan ke
Gunung Lang untuk meng- haturkan penghormatan pada Bodhisattva Mahasthama, Kepala
Biara Dao-ming mengundang saya ke Yangzhou guna membantunya di Biara Zhong-ning.
Pada bulan keempat, Master Dharma Tong-zhi membabarkan Sutra Surangama di Gunung
Jiao. Para hadirin jumlahnya mencapai sekitar seribu orang. Ia mengundang saya untuk
menyertainya dalam membabarkan Sutra --- setelah melakukannya saya meninggalkan
kumpulan itu dan menuruni gunung.

KETIKA LAHIR di dunia ini, saya sudah kehilangan ibu yang tidak pernah saya lihat.
Saya hanya bisa melihat fotonya di rumah, dan tiap kali ter- kenang padanya, hati ini
serasa hancur.

Sebelumnya saya telah berikrar untuk pergi mengunjungi Biara Ashoka (A Yu Wang)
guna menghaturkan penghormatan pada relik (,sarira) Sang Buddha serta membakar jari
sebagai persembahan bagi Buddha, menghaturkan pengharapan agar ibu segera terbebas
dari alam menderita.

Karena saya bermaksud untuk menunaikan ikrar ini, maka pergilah saya ke Ningbo
(tempat di mana Biara Ashoka itu berada). Pada saat itu Master Dharma Huan-ren serta
Master Chan Ji-chan (alias "Ba-zhi Tou-tuo" atau "Petapa Berjari Delapan") sedang
menangani Biara Tian-tong (dekat Ningbo) dan Master Hai-an sedang mengarang Catatan
Sejarah Gunung Ashoka. Mereka semua mengundang saya buat membantu mereka tetapi
karena harus memenuhi ikrar itu, maka undangan tersebut saya tampik dengan sopan.

DI BIARA ASHOKA, SAYA MELAKUKAN NAMASKARA terhadap sarira Sang
Buddha. Setiap hari, mulai dari jam jaga ke-tiga pada malam hari hingga meditasi
petang, kecuali saat sedang berada di aula utama, saya bernamaskara sejumlah tiga ribu
kali --- saya hanya menggunakan baju sebagai alas dan bukan- nya bantalan yang
disediakan oleh biara.

Suatu malam, waktu sedang duduk dalam meditasi Chan - seperti seolah dalam mimpi -
tiba-tiba saya melihat naga berwarna emas gemerlapan. Panjang naga itu beberapa depa.
Ia turun dari langit melayang ke kolam di depan balairung tempat penyimpanan sarira.
Kemudian, saya menaiki pung- gungnya dan terbang ke langit hingga sampai di suatu
tempat, dimana gunung, sungai, pohon, dan bunga-bungaan luar biasa indahnya.

Terdapat pula istana dan kamar-kamar yang teramat sangat elok. Saya melihat ibu saya
pada salah sebuah ruangan --- saya berteriak memanggilnya, "Emak, marilah naik ke
punggung naga ini dan terbang menuju Surga Barat [dari Buddha Amitabha]." --- Tatkala
naga telah turun ke tanah lagi, saya terguncang dan bangun. Tubuh dan pikiran saya
merasakan sukacita yang luar biasa.

Penglihatan itu begitu nyata bagi saya. Di sepanjang hidup, hanya kali inilah saya
berjumpa dengan emak. Selanjutnya, setiap hari saat ada pengunjung datang untuk melihat
sarira di gedung itu, saya selalu menyertai mereka. Pendapat para pengunjung mengenai
sarira tersebut sangat beragam. Saya sudah melihatnya beberapa kali. Pada mulanya ia
nampak seukuran kacang hijau dengan warna ungu tua.

Pada pertengahan bulan kesepuluh, setelah saya menjalankan ritus: sujud namaskara
menghormat kepada Tripitaka Hinayana dan Mahayana , sekali lagi saya melihatnya ---
ukurannya masih sama seperti sebelumnya, tetapi kini warnanya berubah menjadi merah
mutiara terang. Karena tidak sabar untuk melihat perubahan berikutnya, maka sekali lagi
saya melakukan ritual-namaskara dan merasakan rasa sakit di sekujur tubuh.

Relik itu kemudian berubah Iebih besar dibandingkan dengan kacang, warnanya separuh
kuning dan separuh putih. Saya kemudian menyadari, bahwa ukuran dan warnanya
bervariasi tergantung dari organ dan medan indra seseorang...

Tripitaka atau "Tiga Keranjang" dari Kanon Buddhisme, mengandung Vinaya atau
aturan-aturan disiplin kebiaraan, Sutra atau ajaran-ajaran dari Buddha, serta
Shastra atau komentar-komentar.


Karena tak sabar buat menyaksikan perubahan bentuk berikutnya, saya menambah lagi
jumlah sujudnya --- tetapi pada awal bulan ke-sebelas, saya jatuh sakit keras. Saya tidak
dapat melanjutkan namaskara dan ketika penyakit saya bertambah parah, maka saya pun
dipindahkan ke pondok tempat pengobatan. Di sana, segala jenis obat diberikan pada
saya, tetapi tidak memberikan manfaat apa-apa.

Saya tidak dapat duduk dan hanya berbaring saja sepanjang waktu. Bhiksu Kepala Xianqin,
Pengawas Zong-liang, dan Nona Liu berjuang keras menghabiskan uang dan segala
upaya untuk mencoba menyelamatkan hidup saya, yang semuanya berakhir dengan
kegagalan. Setiap orang di situ berpikir bahwa saya telah mendekati ajal. Meskipun saya
sudah siap untuk pasrah, namun pikiran ini tetap dibebani oleh kegagalan saya dalam
membakar jari [demi memenuhi ikrar penebusan]...

Pada hari keenam belas, delapan orang pengunjung datang buat menengok saya di
pondok. Pengunjung-pengunjung itu tidak mengira bahwa saya sakit keras dan datang
terutama buat inenyertai saya dalam upacara pembakaran-jari. Saya teringat bahwa
besok pagi adalah hari yang telah ditetapkan bagi pelaksanaan ritual dan mendesak agar
mereka hadir berpartisipasi sesuai rencana.

Bhiksu kepala dan yang lainnya tidak setuju mengingat resiko yang mung- kin terjadi.
Saya meneteskan air mata dan berkata, "Siapakah yang dapat meloloskan diri dari
kematian? Saya mau mem- balas jasa ibu saya dan berikrar untuk membakar sebuah jari.
Buat apa hidup, jika harus membatalkan keputusan pada saat ini? Saya siap untuk mati..."

Pengawas Zong-liang, yang baru berusia 21 tahun mendengar permohonan saya dan
dengan berlinang air mata berkata, "Jangan khawatir, saya akan membeli sayur
vegetarian guna keperluan upacara besok pagi dan mempersiapkan segala sesuatunya
bagi Anda." Saya merangkapkan ke- dua tangan sebagai tanda terima kasih padanya.

Pada hari ketujuh belas, pagi-pagi sekali, Zong-liang datang dengan saudara se-
Dharmanya yang bernama Zung-xin untuk me- nyertai saya dalam membakar jari.
Beberapa orang membantu saya menuju ke aula utama, tempat di mana, saya bersamasama
dengan para hadirin melakukan penghormatan pada Buddha, melakukan upacara
ritual serta melafalkan aturan-aturan pertobatan serta perbaikan diri. Dengan pikiran
tunggal terpusat, saya melafalkan nama Buddha serta berdoa agar la menolong ibu saya
yang berada di alam menderita.

Pada awal upacara, saya masih merasakan pedihnya jari terbakar. Tetapi sejalan dengan
pikiran saya yang secara bertahap menjadi murni dan bersih, maka wisdom saya bangkit,
mewujudkan diri. Ketika tiba pada kalimat: "Seluruh Dharmadhatu terkandung dalam
tubuh Buddha Amitabha," seluruh rambut yang terdapat pada 84.000 pori-pori tubuh saya
berdiri (!). --- Tatkala jari saya telah selesai dibakar, saya bangkit untuk bernamaskara
di hadapan Buddha.

Saya tak lagi membutuhkan orang untuk memapah saya (sebagaimana sebelumnya) serta
bahkan lupa sama sekali akan penyakit yang sedang diderita. Sesudah berjalan dengan
tanpa dibantu siapapun untuk menghaturkan terima kasih kepada masing- masing yang
hadir di tempat itu, saya pun kembali ke pondok.

Sepanjang hari berikutnya, saya merendam tangan ini di air garam dan tidak ada
pendarahan lagi. Dalam sedikit hari saja, saya telah sembuh dari penyakit dan secara
bertahap melanjutkan praktik-namaskara. Saya tinggal di Biara Ashoka buat melewatkan
Tahun Baru.

USIA Ke 59 (1898/99) Tahun ini pada awal musim semi, ketika genta flQ besar sedang
dituang bagi Biara Qi-ta (Tujuh Pagoda) di Ningbo, Kepala Biara Ben-lai yang telah
lanjut usia mengundang Master Dharma Mo-an buat membabarkan Sutra Teratai di sana.
Beliau juga datang ke Biara Raja Ashoka (Guang-li) untuk menanyakan apakah saya
bersedia membantu dalam pembabaran Sutra tersebut. Jadi, saya pergi ke Biara Qi-ta
dan setelah membabarkan Sutra, saya pergi ke Gunung Dong-guan, di mana saya
membangun sebuah pondok sebagai tempat buat melewatkan Tahun Baru.

Catatan dari Ceil Xue-lu, editor Xu-yun.
Biara itu pada mulanya disebut dengan Biara A-Yu Wang (Raja Ayu atau Raja
Ashoka), namun belakangan disebut dengan Biara Guang-li. la dibangun di atas
Gunung Mou yang terletak 40 li di sebelah selatan desa Nanxiang, Distrik Yin dari
Prefektur Ningbo.

Dahuiu beberapa ratus tahun setelah sang Buddha men-capai Nirvana - India Tengah
diperintah oleh Raja Ashoka (meme-rintah sekitar 274-237 SM). Ia dikatakan telah
menempatkan 84.000 snrira Buddha dalam stupa-stupa berharga serta meminta para
dewa untuk menguburkannya di dalam tanah pada berbagai tempat di muka bumi ini.
Di Timur, ia muncul secara bergantian di sembilan belas tempat di Tiongkok, di
antaranya adalah Gunung Wu-tai serta Biara Ashoka.

Di Gunung Wu-tai, sarira ditempatkan dalam sebuah stupa dan tidak dapat dilihat.
Sedangkan pada Biara Ashoka yang terjadi adalah sebagai berikut. Pada tahun Taikang
ketiga (282-283 SM), masa pemerintahan Kaisar Wu-ti dari Dinasti Jin, setelah
Hui ta berdoa bagi keniunculan sarira itu, maka ia benar-benar muncul dari tanah.

Sebuah biara kemudian dibangun dan sarira itu ditempatkan dalam sebuah stupa batu
yang pintunya dalam keadaan terkunci. Ketika pengunjung berharap untuk melihat
sarira, penjaga stupa diundang. Pertama-tama, pengunjung menghaturkan
penghormatan pada Buddha dan pergi keluar serta berlutut pada tangga-batu sambil
menunggu giliran melihat sarira.

Sang penjaga mengeluarkan stupa itu, yang tingginya satu kaki empat inchi dan
lebarnya lebih dari satu kaki. Ia berongga di dalamnva dan mengandung sebuah
genta padat dengan sebatang jarum, yang ujungnya mengikat sarira itu. Ketika
diamati, sarira itu tampak besar atau kecil, satu atau banyak, serta diam atau
bergerak, tergantung pada penglihatan para pengamat.

Beberapa orang melihat bahwa jumlahnya hanya sebuah, sementara yang lainnya
melihat tiga atau empat. Warnanya juga beraneka ragam - ia mungkin biru, kuning,
merah, atau putih.. Ada pula yang melihat gambar teratai atau Buddha di dalamnya.
Ini terjadi pada orang-orang yang memiliki jodoh karma istimewa dengan Dharma.

Pada masa pemerintahan Wan-li dari Dinasti Ming (1573- 1619), Lu Guang-zu,
kepala dari dewan sipil, datang dengan kawan- kawannya buat menghaturkan
penghormatan pada stupa beserta sariranva. Pada mulanya, ia melihat sarira
seukuran biji kecil, kemudian secara bertahap berubah menjadi seukuran kacang,
kurma, melon, dan akhirnya menjadi seukuran roda yang berkilauan. Ini membawa
kesegaran bagi mata batinnya.

Lu memperbaiki bangunan yang hendak runtuh ini dan hasil perbaikan yang
dilakukannya masih bertahan hingga saat ini. Tathagata adalah begitu berbelas kasih
serta meninggalkan Tubuh Dharma ini sehingga para makhluk pada generasi
selanjutnya dapat mengembangkan keyakinan yang benar.


USIA Ke 60 (1898/99 ) Master Jie-sen dan Bao-lin mengundang saya ke Dan-yang
untuk membantu memperbaiki Vihara Xian-tai, di mana saya melewatkan musim panas.
Pada bulan ketujuh saya pergi ke Zhu-yang di Propinsi Jiangsu. Di sana Master Fa-ren
dari Gunung Chi mengizinkan saya untuk menggunakan pondoknya selama musim dingin.


Bersambung ...

#28 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 12 February 2013 - 10:52 PM

Bab 7. Penyunyian diri yang terhenti

USIA Ke 61 (1900/01) SELAMA SEPULUH TAHUN saya telah berdiam Provinsi
Jiangsu dan Zhejiang. Kini saya bermaksud melakukan peijalanan jauh ke Gunung Wutai,
dengan tujuan: untuk mengembangkan praktik dalam penyunyian-diri di Gunung
Zhong-nan.

Saya meninggalkan Gunung Chi, berjalan menuju Zhen-jiang serta Yangzhou dan
selanjutnya berziarah ke Gunung Yun-tai (Gunung Teras Awan). Saya memasuki Provinsi
Shandong guna mengunjungi Gunung Tai (1.524 m), puncak gunung suci sebelah timur.
Menuju ke arah selatan lagi, saya ke Gunung Lao, di mana saya menyambangi Gua
Narayana yang letaknya berdekatan dengan tempat Mahaguru pada masa Dinasti Ming
yang bernama Han-shan membangun kembali Biara Hai-yin (Penera Samudra).
Perjalanan saya lanjutkan ke Prefektur Qu untuk menghaturkari penghormatan pada
Kuburan dan Kuil Konfusius.

Saya kemudian beralih ke arah barat, dan suatu malam saya menginap di reruntuhan kuil
tua. Di dalamnya terdapat sebuah peti mati lapuk dengan tutupnya terbalik. Mengetahui
bahwa peti itu tidak dipergunakan lagi, maka sayapun tidur di atasnya; tetapi sekitar
tengah malam, saya merasakan sesuatu yang bergerak dalam terbelo itu.

Secara mengejutkan terdengarlah suara dari dalamnya, "Saya mau keluar."
Saya bertanya, "Apakah engkau orang atau hantu?"
"Orang," suara itu menjawab.
"Siapa?" tanya saya.
"Seorang pengemis," demikian jawab suara itu.
Saya tersenyum, bangkit berdiri dan membiarkannya keluar dari peti mati itu.
Tampangnya buruk seperti hantu dan bertar.yalah ia pada saya, "Siapa kamu?"
"Seorang bhiksu," jawab saya.

Orang itu marah serta mengatakan bahwa saya telah menindih kepalanya. Ketika ia mau
memukul, saya berkata, "Aku duduk di atas tutup terbelo, tanpa sengaja membuat Anda
tak dapat bergerak; kenapa Anda hendak memukul saya?"

Kemarahannya mereda dan ia pun kembali tidur dalam peti mati. Saya meninggalkan
tempat tersebut sebelum fajar merekah.

Han-shan (1546-1623). Gua Narayana terletak di antara Deng-zhou dan Lai-zhou di
Distrik jing-zhou. Secara tradisional termpat itu dikatakan sebagai tempat kedudukan
Bodhisattva-Bodhisattva tertentu. Biara vang letaknya berdekatan telah menjadi
reruntuhan tatkala Han-shan menemukannya. Ia membangunnva kembali dan
menamakannya "Hai-yin" atau Penera Samudra.

Confucius (Kong Fu-zi) 551-497 SM. Ia tersohor akan karvanya yang berjudul
Analects dan karva tulis lainnva. Keluarga Kong masih tinggal di Prefektur Qu,
Propinsi Shandong.



#29 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 12 February 2013 - 10:56 PM

THE BOXER REBELLION

Pada saat itu, terdapat tanda-tanda akan meletusnya Gerakan Boxer di berbagai distrik
Propinsi Shandong. Suatu hari saya berjumpa seorang prajurit asing, ia menodongkan
senjatanya pada saya sembari bertanya, "Kamu tidak takut mati?" Saya menjawab,
"Kalau memang nasib saya mati di tangan Anda, silakan tembak!" --- Menyadari bahwa
saya tiada gentar sedikit pun, serdadu itu berkata, "Benar sekali, Anda boleh pergi
sekarang."

Saya tergesa-gesa menuju Gunung Wu-tai dan sesudah mempersembahkan dupa, saya
berkeinginan untuk menyambangi Gunung Zhong-nan. Meskipun demikian, dikarenakan
meletusnya Pemberontakan Petinju Shandong itu, saya kembali ke Beijing, di mana saya
mengunjungi Biara Xi-yu dan menghaturkan penghormatan pada Gua Sutra Batu. Saya
diundang oleh Yi-xing, seorang Bhiksu dari Gunung Tan- zhe yang terkenal luar biasa
tindak-tanduknya.

Gerakan (Pemberontakan) Boxer atau Yi-he-quan adalah serikat rahasia vang
setengahnya berakar pada Daoisme. --- Pada tahun 70 an, banvak film-film kungfu
Hongkong, a.l seperti yang dibintangi Tilung, Chen-Kuang-thai, Fu-shen dll., yang
mengisahkan tentang gerakan-perlawanan menggunakan tinju ini - ed.


Berikutnya, saya mencapai Biara Jia-tai --- saya mem- persembahkan hormat kepada
stupa dari Chan Master Fei-bo. Saya lalu mendaki Gunung Hong-luo --- ikut serta pada
pertemuan yang diadakan buat melafal narna Buddha serta mengunjungi Biara Genta
Besar. Di sana saya melihat genta perunggu yang telah dituang oleh Yao Guang-xiao.

Beratnya 87.000 kati dengan tinggi 15 kaki; gantungannya memiliki panjang 7 kaki, dan
garis tengahnya mencapai 14 kaki. Seluruh Sutra Avatamsaka terpahat pada bagian luar
genta, sedangkan Sutra Teratai pada sisi dalamnya. Sutra Intan dipahatkan di sudut-sudutnya,
dan Mantra Surangama di bagian gantungannya.

Satuan berat kuno yang setara dengan satu pint.


Genta itu dipersembahkan oleh Kaisar Cheng-zu pada tahun pemerintahan Yung-luo
(1403-24) dari Dinasti Ming. Persembahan tersebut dimaksudkan buat membebaskan
ibunya dari alam menderita.

Selanjutnya, saya berbalik ke arah Biara Long-quan (Sumber-Air Naga) yang terletak di
sebelah selatan ibu kota serta tinggal di sana sementara waktu...

BULAN KELIMA: PEMBERONTAKAN BOXER mencapai puncak kegentingannya.
Teriakan yang membahana di mana- mana adalah, "Dukung Dinasti Manchu.
Enyahkan orang asing!" Sekretaris dari Perwakilan Jepang serta ada seorang
menteri berkebangsaan Jerman telah dibunuh atas perintah rahasia Ibu Suri [Kaisar
Dinasti Manchu], Tanggal ketujuh-belas di bulan itu, dikeluarkanlah titah Kekaisaran
untuk memerangi kekuatan asing. Ibu kota menjadi kacau balau.

Bulan ke-enam, Tianjin ditaklukkan oleh pasukan sekutu [tentara gabungan Inggris,
Amerika, Perancis, Jepang dan Russia] yang merebut ibukota Beijing pada bulan
berikutnya. --- Para pangeran dan menteri yang mengetahui keberadaan saya di Biara
Long-quan mendesak agar saya mengikuti mereka [bersama dengan rombongan
Kekaisaran] melarikan diri ke arah barat.

Di tengah kemelut serta hiruk-pikuk pengungsian itu, rontoklah segala lagak-jumawa yang
biasa dipamerkan oleh si manja Sang Putra Langit itu. Siang dan malam, mereka musti
jalan tergopoh-gopoh maju dan mengalami berbagai kesengsaraan. --- Setibanya di
Fubing, Kaisar dan Ibu Suri sangat gembira saat berjumpa dengan Raja Muda Chen
Chun-xuan dari Propinsi Gansu beserta prajuritnya. Mereka datang memapak serta
mengawal rombongan keluar melewati Tembok Besar

Ketika Kaisar tiba di Celah Yun-men, ia berjumpa dengan seorang bhiksu tua di Biara
Yun-men yang usianya telah mencapai 124 tahun. Kaisar mempersembahkan jubah kuning
tebal padanya serta menitahkan agar dibangun sebuah tugu peringatan bagi tindakan bajik
itu.

Kami melanjutkan perjalanan ke arah barat serta tiba di Prefektur Bingyang, di mana
pada saat itu bencana kelaparan sedang terjadi. Penduduk mempersembahkan makanan
mereka, yakni taro [umbi-talas] serta ketela manis pada kaisar dan ibu suri yang sedang
kelaparan --- sehingga mereka merasa bahwa makanan sederhana itu sangatlah lezat.
Tatkala mencapai Xian, para penguasa tertinggi negara itu berdiam di tempat kediaman
Raja Muda.

Pada saat itu, rakyat yang kelaparan bahkan memakan mayat di jalan-jalan. Para
penguasa bertindak untuk menghentikan hal ini dengan mendirikan delapan tempat
pembagian ransum bagi mereka yang ke¬laparan. Bantuan makanan secara cuma-cuma
juga dilakukan di seluruh penjuru negeri.


#30 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 12 February 2013 - 11:05 PM

XU-YUN: SI "AWAN-KOSONG"

Raja Muda Chen Chun-xuan mengundang saya ke Biara Wo-long (Naga Berbaring) guna
berdoa bagi turunnya salju serta hujan agar mengakhiri bencana kekeringan itu. Setelah
pelafalan doa, Kepala Biara sepuh Dong-xia mengundang saya buat tinggal di biara,
namun tatkala mendapati bahwa sidang Kekaisaran sedang diselenggarakan dengan
segenap hiruk-pikuknya, maka saya pun meninggalkan tempat tersebut dengan diam-diam.

Bulan ke-sepuluh: saya mendaki jajaran puncak-puncak Zhong-nan. Semula saya
bermaksud membangun sebuah gubug, namun ternyata di belakang Puncak Jia Wu-tai
saya menjumpai "Gua Singa" yang merupakan tempat terpencil buat mengasingkan diri
[Sang Master lalu menetap di sana]. Saya lalu mengganti nama saya menjadi Xu-yun
("awan- kosong") agar terhindar dari pengunjung yang tidak diharapkan. Karena tak ada
air di gunung, saya terpaksa minum salju yang dicairkan serta memakan tumbuh-tumbuhan
ala kadarnya yang saya tanam sendiri.

Di gunung tersebut pada saat yang sama ada pula beberapa Master [yang juga hidup
mengasingkan diri berlatih], Mereka adalah Master Ben-zhang yang menetap di Puncak
Po-shi, Miao-lian dari Kuil Guan-di, Dao-ming di Gua Wu-hua, Miao-yuan di sebuah
gubug tua, dan masih di tambah lagi Master Xiu-yuan serta Qing-shan di Gunung Hou. ---
Mahaguru Qing-shan adalah penduduk asli Propinsi Hunan dan beliau sangat dihormati
oleh bhiksu-bhiksu lainnya di gunung tersebut. Ia tinggal relatif dekat dengan saya dan
kami kerap saling mengunjungi.

Pada bulan ke-delapan tahun berikutnya, Master Fa-cheng, Yue-xia, dan Liao-chen
datang ke gua. Waktu melihat saya, mereka terkejut dan berkata, "Kami tidak
mendengar kabar berita mengenai Anda selama bertahun-tahun; kini siapa yang mengira
bahwa Anda justru tidur di sini?" Saya berkata," Marilah ke sampingkan yang "di sini",
bagaimana pula bisa ada sesuatu yang disebut dengan "di sana"?" --- Kami kemudian
saling bertukar salam dan setelah menyajikan taro pada mereka, maka saya menyertai
mereka ke Puncak Po-shi.

Mahaguru Xu-yun mengajak rekan-rekannya untuk melupakan apa yang dapat
dijumpai "di sini," yakni di alam fenomenal, mengacu secara tak langsung pada apa
yang dapat ditemukan "di sana," yakni dalam hakekat sang diri yang tak terciptakan,
yang melampaui segenap tempat. Istilah ini mengandung pengertian Chan dan tidak
dimaksudkan buat diartikan secara harafiah atau konvensional.


Yue-xia berkata, "Kepala Biara sepuh Fa-ren dari Gunung Chi saat ini sedang
membabarkan Sutra Teratai di Biara Gui-yuan, Hanyang. Ia tidak menyukai suasana
sekitar yang ramai serta ingin pergi ke utara. Ia meminta saya datang kemari guna
menemukan tempat yang cocok baginya." --- Yue-xia lalu meminta bantuan buat
menemukan tempat yang cocok tersebut, namun: saat itu saya sedang menjalankan Chan
solitary retreat, maka dengan sopan saya menolaknya.

Sehabis merampungkan pekan meditasi tunggal saya, Master Hua-ceng, Yin-yue, dan Fujia
datang dari Gunung Cui-wei --- mereka sudah menemukan tempat bagi kepala biara
sepuh tersebut. Master Yue-xia mengatakan bahwa tempat itu cocok, tetapi saya berpikir
sebaliknya, karena lokasinya berhadapan dengan kekuatan "Macan Putih" di utara tanpa
sebuah bukit penunjang bagi bintang fajar [istilah ilmu Feng Shui].

Feng-shui (secara harafiah berarti "angin dan air") adalah ilmu Tiongkok kuno yang
dipergunakan untuk menentukan lokasi yang paling baik bagi rumah, tanah
pertanian, sumur, serta energi positif vin dan yang dari lokasi tertentu. Beberapa
tempat dipandang memiliki keseimbangan energi-energi yang menguntungkan,
sebaliknya ada tempat-tempat tertentu yang mengandung ketidak- seimbangan energi
dan dipandang sebagai tempat buruk yang harus diperbaiki ataupun dihindari. Orang
yang ahli dalam ilmu pengetahuan ini menggunakan papan peramalan atau kompas
yang ditandai oleh simbol-simbol rumit, mencakup "kelima arah", "delapan trigram"
(ba-gua), "sembilan arah," "lima aktifitas," serta pembagian jam berdasarkan siklus
enam puluh tahunan (sexa-genary) Tiongkok, dan lain sebagainya. Bahkan bangunanbangunan
paling modern di Tiongkok juga dengan sungguh-sungguh mematuhi aturan
Feng-shui ini. Sangat sedikit, bangunan modern lainnya yang tidak dibangun tanpa
konsultasi dengan seorang ahli Feng-shui. Sebagaimana halnya,Orang China
tradisional lainnya, Master Xu-yun memandang perlu mematuhi prinsip Feng-shui
ini. Untuk mempelajari lebih terperinci silakan lihat buku karya Skinner yang
berjudul The Living Earth Manual of Feng-Shui (Routledge,1982)


Mereka tidak mendengarkan saran saya, sehingga bertanggung jawab atas peristiwa yang
belakangan terjadi (yakni kemalangan: kalah dalam sengketa tanah yang terjadi pada
tahun berikutnya).

Hari titik balik matahari rnusim dingin, Master sepuh Qing-shan meminta saya pergi ke
Prefektur Xian guna berbelanja beberapa keperluan beliau. Pulangnya, saya terjebak
hujan salju lebat. Setelah meridaki gunung dan baru saja hendak menapaki gubug ilalang
baru itu, saya kepeleset jatuh ke jurang, terjerembab pada timbunan salju. Saya berseru
minta tolong dan Master Yi-quan yang tinggal di pondok dekat situ datang menolong.
Pakaian saya basah seluruhnya oleh air.

Hari sudah gelap dan kemungkinan besar besok salju bakal memblokir semua jalan,
maka saya kembali menyusuri jalan bersalju untuk menjumpai Master Qing-shan. Melihat
penampilan saya acak-acakan, ia mentertawakan saya, dengan bergurau ia mengolokngolok
saya ini bo-jai (tiada berguna). Saya tersenyum, mengangguk setuju lalu balik ke
gua, tempat saya melewatkan masa Tahun Baru.

USIA Ke 62 (1901/02) Saya tinggal di gua di sepanjang musim semi dan panas. Master
sepuh Fa-ren dari Gunung Chi tiba di Propinsi Shensi serta mendirikan sebuah gubug di
Gunung Cui-wei. Bersama dengan Beliau ikut serta enam puluhan orang, di mana sekitar
separuh dari mereka tinggal di Biara Huang-yu [bekas tempat peristirahatan musim panas
dari Kaisar Tai-zong (627-49) pada masa Dinasti Tang], sementara yang lainnya tinggal
di pondok-pondok yangbaru dibangun serta di Biara Xing-shan.

Pada masa ini di kawasan Utara, Komandan Su adalah pejabat yang berwenang untuk
mempersiapkan pematangan lahan pertanian rakyat, - ia mendanakan seratus qing tanah
(sekitar 1.515 akre) di tepi Sungai Ya-bai guna sumber perbekalan bagi para bhiksu yang
berdiam di Gunung Cui-wei. Tapi penduduk setempat tidak terima, dengan dalih bahwa
mereka sudah tinggal di sana selama banyak generasi --- mereka menuntut lahan-matang
sebagai ganti rugi bagi sawah mereka. Ringkas kata, kasus ini menjadi sengketa di
pengadilan dan pengadilan akhirnya malah memenangkan penduduk asli daerah tersebut.

Master sepuh Fa-ren merasa sangat kecewa lalu kembali ke Selatan pada tahun
berikutnya. Patah-arang, sebelum pulang: ia mengembalikan semua miliknya pada Master
Ti-an dan Yue-xia serta membubarkan pengikut-pengikutnya...

Ketika merenungkan peristiwa yang tidak menyenangkan ini, saya menyadari bahwa
kalau kita cuma mengandalkan pada para penguasa saja, maka hanya bakal kecewa
dan celaka. Insiden itu benar-benar berdampak bagi para rahib dari Selatan yang datang
ke Utara ini; dengan demikian, rasanya tidak bisa mengabaikan begitu saja pengaruh
geomansi sebagai tidak masuk akal.


#31 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 12 February 2013 - 11:09 PM

Dua Minggu Memasuki Keadaan Samadhi

Penghujung tahun hampir tiba; segenap penjuru gunung diselimuti salju; hawa dingin
merasuk tulang. Saya sedang sendirian di gua, namun tubuh dan pikiran ini serasa jernih
dan murni. --- Suatu hari saya memasak law (taro) dalam periuk dan sambil menunggunya
matang, maka saya duduk bersila dan tanpa terasa memasuki samadhi...

USIA Ke 63 (1902/03) Master Fu-cheng dan Master lainnya --- yang tinggal tidak jauh -
-- merasa bingung karena saya tidak pergi menyambangi mereka dalam waktu lama; lalu
mereka datang ke gua saya untuk menyampaikan Selamat Tahun Baru. Di luar gua,
mereka melihat jejak harimau di mana-mana tetapi tidak satu pun ada jejak manusia.

Mereka masuk ke gua dan mendapati saya yang sedang ber-samadhi. Mereka
membangunkan saya dengan sebuah qing [alat musik puja kecil, yang suaranya lembut
namun menembus] Ketika saya sadar kembali, mereka bertanya, "Apakah Anda sudah
makan?"

Saya menjawab, "Belum, taro di periuk itu pastilah sudah matang sekarang." --- Lalu
ketika tutupnya dibuka, periuk itu sudah ditutupi abu setinggi satu inchi. Fu-cheng terpaku
dan berkata, "Anda pasti telah berada dalam samadhi selama setengah bulan." Kami
kemudian mencairkan es, merebus talas lagi serta menyantapnya. Kami bersenda gurau,
setelah beberapa bentar mereka pun pergi.

Beberapa hari setelah Fu-cheng pergi, --- para bhiksu dan umat awam, baik yang berasal
dari tempat dekat maupun jauh berduyun-duyun datang buat berjumpa dengan saya. Guna
menghindari repot kudu meladeni banyak orang, malam itu saya meninggalkan tempat
tersebut -- dengan ransel di punggung, menuju ke padang belantara yang tidak ditumbuhi
rumput satu inchi pun.

Saya mencapai Gunung Taibai (3.767 m), tempat di mana saya tinggal dalam sebuah gua.
Tetapi beberapa hari ke¬mudian, Master Jia-chen mengikuti jejak saya dan datang ke
tempat tersebut. Kami kemudian sepakat untuk bersama-sama menempuh perjalanan
panjang ke Gunung Emei. Kami keluar melalui Celah Sempit Bao-ya, dan tiba di Gunung
Zibai.

Dengan melalui Perengan MiaoTai-zi, kami mengunjungi kuil dari Zhang-liang serta
melewati Distrik Zhao-hua, di mana kami menyaksikan pohon cedar dari Zhang-fei.
Kami me- lanjutkan perjalanan dan mencapai Chengdu, di mana kami tinggal sebentar di
sebuah vihara.

Kami kemudian berjalan lagi dan melewati Prefektur Jiading, sebelum akhirnya tiba di
Emei Shan. Di sana kami mendaki Puncak Jinding. "Cahaya Buddha" yang kami saksikan
di sana benar-benar sama sepenuhnya dengan yang nampak di Gunung Kaki Ayam.

Ini berarti bahwa sang Mahaguru tidak ingin diganggu oleh hambatan fenomenal.


Di tengah malam, kami melihat tak terhitung cahaya-cahaya surgawi yang
kegemilangannya sebanding dengan "lampu kebijaksanaan", yang sebelumnya telah saya
saksikan di Gunung Wu-tai. Saya pergi ke Aula Xi-wa, dan menghaturkan penghormatan
pada Kepala Biara Zhen-ying yang telah berusia lebih dari 70 tahun serta merupakan
pemimpin bagi semua bhiksu di gunung itu. Beliau merupakan seorang Master Chan yang
telah tercerahi. Dengan gembira ia menerima saya serta meminta saya tinggal dengannya
selama beberapa hari

Setelah itu, saya menuruni gunung, melanjutkan per- jalanan dengan mengitari Telaga
Xixiang. Saya melewati Biara Da-er dan mencapai Dataran Zhang-lao, Vihara
Vairocana, serta Distrik Emei dan Jiajing. Selanjutnya saya bermaksud menyeberangi
Sungai Lusha di Desa Yin-cun. Ini terjadi tatkala air sungai sedang pasang dan semenjak
pagi hingga tengah hari saya menunggu perahu yang akan menyeberang.


#32 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 12 February 2013 - 11:10 PM

Ksanthi Paramita

Ketika perahu akhirnya tiba, sesudah semua penumpang naik ke perahu, saya meminta
Jia-zhen naik terlebih dahulu dan menyodorkan barang bawaan kami kepadanya. Pada
saat hendak naik ke atas perahu, tali yang berfungsi buat menambat perahu tiba-tiba
putus, saya hanya berhasil ber- pegangan pada separoh tali yang masih menempel pada
perahu. Dikarenakan derasnya arus sungai serta penuhnya penumpang, maka sedikit
gerakan saja dapat mengguling-kan perahu itu, sehingga saya terus diseret di dalam air
se-panjang perjalanan.

Sore harinya, pada saat matahari terbenam, setelah perahu itu bisa merapat ke dermaga,
barulah saya ditarik dari air. Baju dan kaki saya robek-robek oleh tajamnya batu dasar
sungai. Saat itu udara amat dingin dan turun hujan. Tatkala kami tiba di Pos Bea Cukai
Shai-jing, rumah peng-inapan yang berada di dekatnya menolak untuk menerima bhiksu.
Ada sebuah vihara di jalan itu, tetapi satu-satunya bhiksu penjaga di sana juga tidak
mengizinkan kami menginap meski kami telah memohon berulang kali.

Ia hanya mengizinkan kami tidur di panggung tempat pentas sandiwara yang terletak di
halaman. Karena baju kami basah dan begitu pula dengan tanahnya, maka kami
memberikan uang pada bhiksu itu buat membeli jerami kering. Namun, ia malah
membawakan kami dua ikat jerami basah yang tak dapat menyala. Dengan sabar kami
menanggung kesusahan itu dan hanya duduk-duduk hingga fajar merekah. Kemudian kami
membeli buah murahan buat sekedar pengganjal perut kosong lalu melanjutkan
perjalanan...

Kami melewati Gunung Huo-ran, mencapai Prefektur Jian-zhang serta Ning-yuan,
sebelum akhirnya sampai di Hui-li Zhou. Perbatasan Propinsi Yunnan pun kami lalui,
dan begitu pula halnya dengan Distrik Yung-bei. Kami lalu mengun-jungi tempat suci
Avalokitesvara, menyeberangi Sungai Jinsha serta berziarah ke Gunung Kaki Ayam, di
mana kami bermalam di bawah pohon. Sekali lagi, suara genta gaib itu pun terdengar
dari balik pintu gua batu...

Hari berikutnya, kami mendaki gunung hingga mencapai Puncak Jinding, di mana kami
mempersembahkan dupa. Sekali lagi saya teringat akan tempat suci Sang Buddha dan
Patriarkh, yang kini berada dalam kondisi rusak parah, serta pemerosotan moralitas
anggota Sangha di Propinsi Yunnan. Saya berikrar buat membangun sebuah pondok di
puncak gunung untuk menerima kunjungan para peziarah, namun tidak dapat
mewujudkannya karena dihambat oleh sistim kepemilikan vihara berdasarkan keturunan
yang berlangsung di daerah tersebut. Saya sangat sedih dan tak dapat menahan diri dari
meneteskan air mata.

"Kepemilikan kuil secara turun-temurun" telah menjadi sesuatu yang umum pada
masa Xu-yun. Ini berarti bahvva peng-aturan dan pengelolaan vihara ditentukan oleh
aturan-aturan se-enaknya. Vihara dipandang sebagai milik pribadi dan nepotisme
dan tidak lagi dijiwai oleh semangat keagamaan.

Hal ini meng-halangi para bhiksu yang datang berkunjung untuk memanfaatkan
secara cuma-cuma berbagai fasilitas atau bahkan sekedar untuk menginap semalam
setelah menempuh perziarahan panjang. Secara prinsip, [seharusnya] tidak ada biara
Buddhis yang boleh dipandang sebagai milik pribadi, melainkan sebagai kepunyaan
dari seluruh komunitas Sangha yang hidup sesuai dengan Vinaya.


Edited by Top1, 12 February 2013 - 11:11 PM.


#33 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 12 February 2013 - 11:16 PM

Retret-Tunggal di Kuil Fu-xing dan Ayam Jantan Ajaib

Kami kemudian menuruni gunung dan tiba di Kunming. Di tempat itu, Upasaka Chen
Kuan-ci yang merupakan pelindung Dharma, mengundang saya untuk tinggal di Kuil Fuxing,
di mana dengan bantuan Master Jia-chen, saya mengunci diri untuk meditasi ---
serta melewatkan masa Tahun Baru sendiri dalam penyunyian.

USIA Ke 64 (1903/04) Ketika saya sedang melakukan retret, seorang bhiksu dari Vihara
Ying-xiang mengatakan pada saya bahwa seseorang telah melepaskan satwa berupa
ayam jantan yang beratnya beberapa kati. Hewan itu bertingkah agresif dan melukai ayam
lainnya.

Saya pergi ke vihara itu dan membabarkan ikrar tiga perlindungan serta sila pada hewan
itu, serta mengajarnya pula untuk melafalkan nama Buddha. Seketika itu pula, ayam
jantan itu tidak lagi suka berkelahi dan berdiri sendirian di dahan sebuah pohon. Ia tidak
lagi memangsa serangga dan hanya makan biji-bijian yang diberikan.

Beberapa waktu kemudian, setiap kali men-dengar suara genta dan qing dibunyikan, ia
mengikuti para bhiksu ke aula utama dan setelah tiap-tiap pujabakti ia akan kembali
dahan pohon. Sekali lagi, ayam itu diajar untuk melafalkan nama Buddha dan pada
akhirnya ia dapat berkokok mengeluarkan suara, "Fo, Fo, Fo," [kata bahasa Mandarin
untuk "Buddha"].

Kata 'pelindung-Dharma' (Dharma protector) dalam tradisi China punya beberapa
nuansa makna, dalam kasus ini berarti: sebutan penghormatan bagi figur-figur
pendukung kehidupan Dharma - baik berupa bantuan dana, pengaruh dalam kemasyarakatan
(politik), rnaupun tenaga - untuk konteks ini, di buku ini kadang
diterjemahkan sebagai 'sponsor Dharma'; tapi kata ini kadang juga bermakna sangat
longgar merujuk ke: para deity dalam artian seluas-luasnya - termasuk para
enlightened beings - ed


.Dua tahun berlalu sudah, suatu kali setelah puja-bakti, ayam jantan itu berdiri di aula,
menegakkan lehernya, me-ngepakkan sayapnya tiga kali seolah-olah melafalkan nama
Buddha, dan mati dengan posisi masih berdiri. Wujudnya tidak berubah selama beberapa
hari dan pada akhirnya ayam yang telah mati itu ditempatkan dalam sebuah peti dan dikubur.
Pada kesempatan tersebut, saya mengarang sajak berikut ini:

Ayam jantan petarung ini

Melukai ayam lainnya dan menumpahkan darah mereka.

Ketika pikirannya tidak lagi bergerak, dengan sila nan suci

la hanya makan biji-bijian serta berdiri sendirian, se-rangga-serangga tidak lagi
dalam bahaya.

Menatap rupang yang kuning keemasan kilaunya

Betapa lancarnya ia mengkokokkan nama Buddha!

Setelah berputar tiga kali, tiba-tiba ia pun mati,

Apakah bedanya makhluk ini dengan Buddha?


#34 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 12 February 2013 - 11:24 PM

Gunung Kaki Ayam:
Awal Karya Besar Sang Bodhisattva


USIA Ke 65 (1904/05) Musim semi itu para pelindung Dharma dan Kepala Biara Qiming
dari Vihara Gui-hua mengun-dang saya ke tempatnya dan mengakhiri masa
penyunyian diri saya. Saya diminta membabarkan Sutra Penecrangan Sempurna dan Sutra
Empat Puluh Dua Bagian. Pada saat itu, lebih dari tiga ribu orang menjadi murid. Pada
musim gugur, Kepala Biara Meng-fu mengundang saya membabarkan Sutra Surangama di
Biara Qiong-ju.

Saya mengawasi pemahatan lempeng-lempeng kayu yang akan dipergunakan buat
mencetak Sutra Surangama serta sajak-sajak Han-shan. Lempengan-lempengan kayu
tersebut disimpan di biara. Saya juga diminta membabarkan mengenai aturan moralitas
Buddhis (sila). --- Di akhir acara itu, Panglima Zhang Song-lin dan Jenderal Li Fu-xing
bersama-sama dengan para pejabat dan pemuka masyarakat lainnya datang untuk
mengundang saya ke Prefektur Dali serta tinggal di Biara Chong-sheng, San-ta. Di tempat
itu saya membabar Sutra Teratai dan mereka yang menjadi murid saya mencapai
beberapa ribu orang.

Li Fu-xing meminta saya untuk berdiam di biara tetapi saya mengatakan, "Saya tidak
mengharapkan tinggal di kota. Dahulu, saya berikrar untuk tinggal di Gunung Kaki Ayam,
namun para bhiksu di sana tidak mengizinkan saya. Karena Anda kini adalah sponsor-
Dharma, ikrar saya akan terpenuhi apabila Anda memberikan pada saya tempat untuk
mem-bangun sebuah gubug di puncak gunung itu guna menerima para peziarah. Sehingga
dengan demikian, hal ini akan me-nyelamatkan Sangha dari bencana dan mengembalikan
ke-muliaan tempat suci Mahakasyapa."

Han-shan atau "Gunung Dingin" [bukan yang hidup di zaman Dinasti Ming] adalah
seorang pertapa terkemuka yang hidup pada tahun pemerintahan Jin-guan (627-64)
dari Dinasti Tang. Ia dipandang sebagai tubuh transformasi Manjusri. Ia hidup di
sebuah gua dan menulis sajak-sajak berinspirasi untuk mengajarkan Chan. Banyak
dari puisi-puisi tersebut yang dipahatkan pada pohon mati, bangunan-bangunan yang
tidak dipergunakan lagi, dan tempat-tempat semacam itu.


Mereka semua menyetujui dan memerintahkan pejabat Binchuan untuk memberikan
bantuan (sehingga ikrar saya dapat terlaksana). Sebuah reruntuhan kuil tua bernama Boyu
ditemukan di puncak gunung buat saya. Saya pergi dan tinggal di sana. Kendati tiada
ruang tamu, dan makanan pun tak dapat dijumpai --- saya mulai menerima kunjungan persahabatan
dari para bhiksu, bhiksuni, serta umat awam baik pria maupun wanita dari
berbagai penjuru.

Kuil bernama Bo-yu itu telah ditinggalkan semenjak masa pemerintahan Jia-qing (1796-
1820) dari Dinasti Qing. Karena di sebelah kanannya ditemukan sebongkah batu besar
yang memancarkan pengaruh buruk "Macan Putih", ini menyebabkan tempat tersebut tak
nyaman didiami. --- Saya hendak memecah batu tersebut serta menggali kolam tempat
melepas ikan dan makhluk air lainnya.

Para pekerja direkrut buat keperluan itu, namun gagal, oleh karena meski tanah di
sekitarnya sudah digali, dasar batunya tidak dapat di-rengkuh(terlalu dalam). Ia nyembul
9 kaki 4 inchi di atas tanah dan lebarnya mencapai 71/2 kaki. Orang dapat duduk sila
bermeditasi di atasnya. --- Seorang mandor telah diminta supaya memindahkannya sejauh
280 kaki ke sebelah kiri. Lebih dari 100 orang dikerahkan, tetapi gagal --- meskipun
sudah bekerja keras selama tiga hari berturut-turut.

Setelah mereka sernua pergi, saya mempersembahkan doa guna makhluk-makhluk halus
penjaga kuil dan melafal-kan mantra. Saya mengundang [cuma] 10 bhiksu dan ber-samasama
kami berhasil memindahkan batu itu ke sebelah kiri. --- Mereka yang berkumpul
menyaksikan usaha kami bersorak-sorai dan kagum atas keajaiban tersebut

Seseorang menuliskan tiga aksara di atas batu yang berbunyi "Yun Yi Shi" ("Sebongkah
Batu t'lah Dipindahkan oleh Awan"). Pejabat dan para sarjana yang mendengar kisah ini
datang untuk menuliskan pada batu. Pada kesempatan tersebut, saya juga menuliskan baitbait
berikut ini:

Batu aneh ini berdiri dengan teguh,
Terbungkus lumut semenjak zaman purba;
la ditinggalkan bagiku manakala kubah langit pecah.
Melihat kemerosotan Aliran Chan,aku bertekad untuk memperbaikinya.
Mentertawakan kekonyolan Yu-gong dalam memindahkan gunung
Mencari kebenaran, Sang pendengar Dharma.
Mendapatkannya di puncak gunung tempat mengaumnya Sang Raja Rimba
Sehingga tak tergoyahkan lagi oleh delapan angin duniawi
la hidup di antara awan-awan dengan beberapa pohon cernara
Puncak Bo-yu menembus hingga ke istana Brahma;
Seorang pencari Dao akan menapaki jalan sepuluh ribu Li
Untuk mengunjungi pertapa bertubuh keemasan punya
wisma
Seribu rintangan harus kuhadapi demi
Memasuki gunung ini dan mencapai batu tua yang diselimuti lumut ini
Dalam gemilau cahaya bulan, Sang ikan bermain dengan bayang-bayang cemara .
Ia yang dari atas memandang melampaui dunia khayali
Akan mendengar suara genta gaib yang berasal dari hem- busan angin surgawi


"Awan" mewakili Sang Mahaguru, yang namanya yakni Xu-yun berarti "Awan
Kosong.

Menurut mitologi China, saat dua dewa saling berperang satu sama lainnya, empat
tiang penopang langit patah sehingga menvebabkan rusaknya langit. Nu-wa, salah
satu dari kedua dewa itu, mempergunakan batu ajaib pancawarna buat menambalnya.
Mahaguru Xu-yun adalah seorang penyair besar dan banyak puisi Tiongkok yang
memanfaatkan kisah-kisah kuno guna memperkuat maknanya. Sang Mahaguru
menyadari bahwa tugasnya adalah untuk "menambal" Dharma yang telah rusak di
Gunung Kaki Ayam.

Secara harafiah berarti "Sang awan melihat perubahan dan ingin mengikuti sang
naga." "Awan" mewakili Mahaguru Xu-yun, dan "mengikuti sang naga" berarti
meneladani contoh-contoh bajik yang telah ditunjukkan oleh guru-guru di zaman
lampau, dimana mereka senantiasa menyebarkan Dharma serta mengembalikan
kejayaan Aliran Chan tatkala mengalami pemerosotan. Kalimat ini mengandung
perumpamaan dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sehari-hari dalam
buku ini.

Yu-gong merupakan tokoh fabel (legenda) kuno Tiongkok. Meskipun telah berusia 90
tahun, ia memiliki keinginan untuk memindahkan gunung yang menghalangi tepat di
depan rumahnya. Orang mentertawakan kekonyolannya, tetapi ia menjawab,
"Meskipun aku akan mati, tetapi masih ada anak-anakku. Apabila mereka mati, maka
masih ada cucu-cucuku yang akan meneruskan usaha tersebut.

Karena jumlah keturunan keluarga kami akan semakin bertambah banyak, maka
gunung tersebut juga akan semakin berkurang." Menurut cerita kuno ini, tekad orang
tua itu telah menggerakkan hati "penguasa langit," sehingga ia mengutus dua orang
dewa buat menyingkirkan gunung itu. Di sini Sang Mahaguru dengan memanfaatkan
kisah di atas hendak menekankan bahwa Pikiran itu sendiri sanggup memindahkan
gunung dan segenap hambatan bagi pencapaian pencerahan seketika.

Hal ini memperlihatkan sulitnya untuk mendengarkan Dharma sejati.

Delapan angin [atau debu] duniawi adalah delapan hal yang menganggu pikiran,
yakni: untung dan rugi, termashyur dan ter-singkir, dipuji dan dicela, serta gembira
dan sedih.

Sang praktisi menyunyikan diri di puncak gunung yang ter-selimuti halimun, dengan
dua atau tiga pohon cemara sebagai teman bermeditasi.

Gunung Kaki Ayam merupakan tempat di mana Maha-kasyapa, yang disebut juga
dengan "Pertapa Bertubuh Keemasan" sedang bersamadhi sambil menunggu
kedatangan Maitreya ke Dunia Saha ini.

Mahakasyapa dikatakan telah menelan cahaya, sehingga inilah vang menyebabkan
mengapa tubuhnya berwarna keemasan. Nama lain beliau adalah "Peminum Cahaya."
Dua baris di atas memperlihatkan kesulitan yang harus dihadapi seseorang pencari
Dao (Dharma) pada saat mengunjungi tempat suci Sesepuh Chan pertama,
melambangkan jalan yang membawa pada pencerahan.

Batu melambangkan rintangan dari para bhiksu yang telah merosot moralnya di
gunung itu.

Cahaya bulan nan gemilau melambangkan hakekat pen-cerahan asali dan ikan
mewakili para makhluk yang masih diliputi kekotoran bathin. Dimana mereka mereka
bermain-main dengan bayangan khayal dari cemara, sebagai lambang dari fenomena
"non-eksistensi."

Tiga baris sajak terakhir ini memiliki makna bahwa di tengah-tengah khayalan
tersebut, barangsiapa yang dapat melihat ke dalam; yang melampaui dunia fenomena
--- maka ia akan mencapai pencerahan serta dipuji oleh Mahakasyapa, dengan
membunyikan lonceng gaib yang tak kasat mata. Suaranya mengalun bersama
hembusan angin surgawi, sebagai lambang kebahagiaan luar biasa dari praktisi yang
berhasil.


Saya mulai memperbaiki kuil tersebut agar dapat menerima para peziarah dari segenap
penjuru dan begitu tergesa-gesa dalarri mengumpulkan dana yang diperlukan. Oleh
karena itu saya meninggalkan tempat tersebut dan menyerahkan pengawasannya pada
Master Jia-chen serta pergi ke Tengyue (guna mengumpulkan dana).


#35 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 12 February 2013 - 11:29 PM

CHAN-XIU:
SANG RAHIB PRAKTISI-CHAN TULEN


Dari Xaiguan saya pergi ke Yungchang dan pada akhirnya mencapai Pohon Hemu.
Jalannya sungguh panjang - mencapai beberapa ratus li - serta rusak berat dan susah
dilalui. Meski demikian, penduduk setempat mengatakan bahwa seorang bhiksu dari
propinsi lain telah rela menanggung segala kesulitan untuk memperbaikinya.

Ia tak meminta imbalan apapun, selain sekedar pemberian makan sukarela dari mereka
yang melewati jalan itu. Ia telah mengerjakan jalan itu tanpa surut sedikit pun selama
beberapa dekade. Berkat usaha kerasnya itu, kini sekitar sembilan puluh persen jalan
tersebut telah kembali seperti sedia kala. Sebagai rasa terima kasih atas daya upaya
bhiksu itu, maka penduduk Pupiao berkeinginan buat merenovasi Kuil Bodhisattva Raja
Merak untuk dijadikan tempat kediaman bagi Sang bhiksu.

Namun, ia menolak tawaran mereka dan hanya me- musatkan perhatian pada
memperbaiki jalan. Saya kagum dengan apa yang mereka ceritakan serta pergi mencari
bhiksu itu. Menjelang matahari terbenam saya berjumpa dengannya di jalan; ia membawa
alat pemecah batu serta keranjang dan hendak beranjak meninggalkan tempat. Saya
menemuinya, merangkapkan kedua tangan menghormat, tetapi ia hanya melotot tanpa
omong sepatah kata pun.

Dengan tidak mempedulikan hal ini, saya membuntuti- nya ke dalam kuil-tua, tempat di
mana ia meletakkan peralatan dan duduk bersila di atas bantalan. Saya menghaturkan
penghormatan padanya, tetapi ia tetap bungkam seribu bahasa. Maka, saya pun duduk
berhadap-hadapan dengannya. Dini hari, ia bangun memasak nasi, sedangkan saya
menjaga agar apinya tetap menyala. Ketika nasi telah matang, ia tidak menawari saya
namun saya tetap mengisi mangkuk sendiri dan makan.

Seusai sarapan ia memanggul bodem pemecah batu dan pergi. Sedangkan saya
membawakan keranjangnya. Bersama-sama kami bekerja: melangsir batu-batu yang ada,
menggali tanah, dan meratakan pasir. Jadi kami bekerja dan beristirahat bersama selama
10 hari tanpa saling bertegur sapa..

Suatu petang, di tengah cahaya rembulan yang terangnya bagaikan siang hari, saya ke
pelataran dan duduk bersila di atas sebongkah batu. Sampai larut malam, saya tidak
kembali ke dalam kuil. Bhiksu tua itu mengendap-endap dari belakang dan tiba-tiba
membentak, "Apa yang kau lakukan di sini?!"
Saya membuka mata perlahan-lahan dan menjawab dengan tenang, "Saya berada di sini
untuk melihat rembulan..."
Ia bertanya lagi, "Di manakah rembulannya?"
"Cahaya kemerah-merahan yang terang," jawab saya.
Ia berkata:
"Di tengah-tengah kepalsuan, yang sejati sulit dilihat .
Jangan salah mengira pelangi sebagai cahaya terang."
Saya menjawab:
"Cahaya yang memancarkan berbagai wujud bukan telah berlalu tak pula hadir sekarang.
Tak terintangi, ia tidak pula positif maupun negatif


Ia pun lalu meraih tangan saya, tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Sekarang hari telah
larut, silahkan kembali beristirahat [di dalam kuil]." Hari berikutnya ia nampak begitu
gembira dan mulai berbicara, mengatakan bahwa ia adalah penduduk asli Xiangtan (di
Propinsi Hunan). Nama- nya adalah Chan-xiu (Praktisi Chan). Ia telah meninggalkan
keduniawian semenjak usia muda dan pada usia 24 tahun memasuki aula Chan dari Biara
Jin-shan, tempat di mana ia berhasil menghentikan pikiran-mengembaranya (wandering
mind).

Belakangan, ia pergi berziarah ke berbagai gunung suci (di Tiongkok) dan pergi menuju
Tibet, kembali ke Tiongkok melalui Burma. Karena jalannya dalam keadaan buruk, maka
bangkitlah belas kasihnya terhadap orang dan kuda yang melaluinya. Ia begitu terkesan
dengan tekad masa lalu Bodhisattva Dharanimdhara; lalu berikrar untuk memperbaiki
jalan itu sendirian. Sehingga dengan demikian, ia berada di sana selama beberapa
dekade dan kini usianya telah mencapai 83 tahun.

Sebelumnya ia tidak pernah menjumpai sahabat karib dan merasa sangat gembira
memiliki jodoh karma sehingga sempat mengisahkan pengalaman yang sudah dipendam
sekian lama. Saya juga mengisahkan padanya mengenai perjalanan hidup saya
meninggalkan keduniawian.

Hari berikutnya, setelah sarapan pagi, saya mengucapkan selamat tinggal padanya, saling
berpuji bagi kesejahteraan masing-masing, dan tertawa riang

Tatkala pikiran sang meditator telah hening sepenuhnya, maka biasanya akan dilihat
cahaya indah [dalam meditasi itu], yang bisa salah disangka sebagai cahaya
kebijaksanaan.

Cahaya kebijaksanaan dapat mengandung seluruh wujud khayali namun ia abadi,
atau mengatasi batasan ruang serta waktu. Ia melingkupi semuanya dan tak
terintangi, karena bebas dari dua-lisme. Keserba-menduaan atau dualisme ini
disebabkan oleh kesan terpisahnya subyek ("yang mengetahui") dan obyek ("yang
diketahui").

Jadi, ia bagai "cahaya murni" yang memungkinkan munculnya pelangi, warna-warni
pelangi tidaklah memiliki realita sejati dalam dirinya sendiri. Begitu pula halnya,
semua wujud fenomenal timbul dalam cahaya terang kebijaksanaan, namun tak satu
pun darinya yang memiliki realita sejati dalam dirinya sendiri.



#36 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 12 February 2013 - 11:33 PM

FUND-RAISING PERTAMA

Saya berjalan menuju Tengchong (juga disebut dengan Tengyue) yang berhadapan dengan
Bhamo di seberang tapal- batas Burma; saya hendak mengumpulkan dana untuk
merenovasi vihara. --- Setiba di sana, saya bermalam di Gedung Sosial Hunan. Belum
lagi sempat meletakkan barang bawaan, sekelompok orang yang sedang berduka-cita
datang dan berlutut; mereka berkata, "Yang Arya, kami mohon agar Anda membacakan
Sutra bagi kami."

Saya menjawab, "Saya di sini bukan buat membaca Sutra."

Salah seorang dari mereka yang sedang berduka bagi kematian keluarganya berkata,
"Kami mengetahui bahwa bhiksu terhormat seperti Anda, ahli melafal Sutra."

Saya berkata, "Saya tidak tahu apa-apa, tak terlintas untuk berperan sebagai ulama di
daerah ini."

Kemudian kepala dari gedung sosial itu menjelaskan, "Yang Arya, Anda seyogianya
pergi untuk melafal Sutra bagi mereka; ini merupakan peristiwa langka. Mereka adalah
cucu dari Akademisi Wu, yang dikenal sebagai "Yang Bajik." Usianya telah melebihi 80
tahun ketika meninggal dan anak serta keturunannya berjumlah beberapa puluh orang, di
antara mereka terdapat sarjana dan akademisi terkenal.

Pria sepuh itu wafat beberapa hari berselang dan sebelum kematiannya, ia mengatakan
bahwa ia adalah seorang bhiksu pada ke- hidupan terdahulunya. Ia meminta agar
tubuhnya dikenakan jubah bhiksu. Anggota keluarganya tidak boleh menangis, tak boleh
menyembelih ayam maupun hewan ternak lainnya - dan jangan mengundang satu orang
pendeta Dao pun untuk membacakan ayat-ayat suci baginya.

Ia juga memprediksikan bahwa akan ada bhiksu terkemuka yang datang buat
membawanya ke alam bahagia. Kemudian ia duduk bersila dan meninggal dunia.
Esoknya, tubuh beliau masih tetap segar. Yang Arya, karena hari ini Anda datang kemari,
maka bukankah ini kesempatan disebabkan oleh timbunan karma bajik almarhum?"

Mendengar hal ini, saya menerima undangan mereka dan pergi ke rumah almarhum guna
membacakan Sutra serta mengadakan ritual memberi sajian bagi hantu kelaparan selama
kurun waktu lebih dari tujuh hari. Seluruh distrik beserta segenap pejabat dan orang
terpelajarnya mengundang saya untuk menetap di Tengyue, namun saya katakan pada
mereka, "Saya datang kemari guna mengumpulkan dana bagi perbaikan sebuah vihara di
Gunung Kaki Ayam dan menyesal sekali saya tidak dapat tinggal lama di sini." Begitu
mendengar hal ini( mereka merasa gembira dan dengan suka cita mendana-paramitakan
harta mereka [bagi pembangunan vihara]

Sekembali di gunung, saya membeli perlengkapan bagi komunitas, mendirikan bangunan
dengan ruang-ruang tam- bahan, menghidupkan aturan dan disiplin kebiaraan, memperkenalkan
meditasi, membabar Sutra, dan memperketat pelaksanaan disiplin kebiaraan
serta mentransmisikan sila.

Tahun itu, jumlah bhiksu, bhiksuni, umat awam pria dan wanita yang berikrar
menjalankan sila mencapai lebih dari 700 orang. Berangsur-angsur, seluruh biara-biara
di kawasan pegunungan itu mengikuti contoh kami serta mengambil langkah-langkah buat
memperbaiki diri. Para bhiksu kembali mengenakanjubah kebhiksuan yang benar serta
makan menu vegetarian. Mereka juga tinggal di vihara saya buat menerima petunjuk-petunjuk.


Bersambung ke Bab 8 ...

#37 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 14 February 2013 - 01:35 PM

Bab 8. Membawa Tripitaka ke Ji Zu Shan (Gunung Kaki Ayam)

USIA Ke 66 (1905/06 ) Musim semi tahun itu, Kepala Biara Bao-lin dari Biara Shizhong
(Genta Batu) mengundang saya ke sana buat mentraasmisikan sua; mereka yang
hadir mencapai lebih dari delapan ratus orang. Setelah acara transmisi sila itu, Jia-chen
menyunyikan diri bermeditasi di Vihara Bo-yu, sedang saya pergi mengunjungi berbagai
negeri di Laut Selatan guna mengumpulkan dana.

Suatu kali, saya tiba di Nantian (Propinsi Yunnan), di mana saya membabarkan Sutra
Amitabha di Biara Tai-bing. Di sana beberapa ratus orang menjadi murid saya. Selanjutnya
dengan berjalan me- nyusur karang-karang cu- ram dan melalui wilayah berbagai
suku terpencil, saya memasuki Burma. Lewat Negara Bagian Shan, saya tiba di Xinjie
dan kemudian Mandalay.

Di tengah perjalanan melalui wilayah Shan itu, saya terserang penyakit dan menjadi
parah. Masih dalam keadaan sakit, saya berhasil mencapai Vihara Avalokitesvara di
Liudong --- di sana terdapat seorang bhiksu Tionghwa bernama Ding-ru. Saya
menghaturkan hormat, tetapi ia bersikap acuh tak acuh. Saya kemudian ke balairung dan
duduk bersila di sana.

Sore itu tatkala ia membunyikan qing [sebagai tanda dimulainya puja bakti], saya
menyertainya dalam membunyikan lonceng kecil serta memukul gendang. Sesudah
melafal bait-bait ritual tobat dan tekad perbaikan diri, aneh --- ia mengucapkan, "Bunuh,
bunuh, bunuh!" dan setelah itu melakukan tiga kali sujud.

Pagi berikutnya, setelah melafal bait- bait yang sama, ia mengulang kembali tindakan
aneh tersebut, dan baru kemudian bernamaskara. Saya merasa heran dengan tingkah laku
itu dan sengaja tinggal di sana [bebe- rapa hari lebih lama] buat mengamati lebih jauh. --
- Menu pagi, siang, dan malam terdiri dari sajian yang mengandung bawang putih,
bawang merah, serta susu.

Saya tidak ikut makan, dan hanya minum air, namun tak berkata sepatah kata pun
mengenai pola menunya yang juga ganjil itu. Ia tahu bahwa saya tidak menyantap
makanannya dan memerintahkan agar saya disuguhi bubur dan nasi tanpa bawangbrambang.
Dengan demikian, barulah saya bisa menyantapnya

Bhiksu Buddhis [Mahayana Tiongkok] pantang makan "lima makanan panas" atau
lima makan pedas dan berbau tajam, yang terdiri dari bawang putih (garlic), shallot
dan chives (sejenis bawang-bawangan), onion (bawang merah), serta leeks (bawang
prai)


Pada hari ketujuh, ia mengajak minum teh dan saya bertanya mengapa ia menyerukan,
"Bunuh, bunuh, bunuh!" di dalam aula tempat pujabakti. Ia menjawab: "Bunuh
orang asing ! Saya berasal dari Bao-qing di Propinsi Hunan. Ayah adalah seorang
pejabat militer dan setelah kematiannya aku meninggalkan keduniawian serta
mempelajari Dharma di Pulau Pu-tuo.

Aku menjadi murid dari Master Zhu-chan yang mengajariku melukis. Sepuluh tahun yang
lalu, aku pergi dari Hong Kong ke Singapore dengan menggunakan kapal, di mana aku
mendapat perlakuan sangat buruk oleh orang asing. Perlakuan mereka benar-benar tak
tertahankan dan aku bakal membenci mereka sepanjang sisa hidup.

Kini aku menjual lukisan yang digemari oleh penduduk sini. Itulah sebabnya, saya tak
perlu khawatir dengan hidupku selama sepuluh tahun terakhir ini. --- Sebelumnya, para
rahib yang acapkali melewati tempat ini pada umumnya suka berlagak serta gampang
naik darah. Jarang berjumpa orang seperti Anda, Suhu, yang berjiwa murni dan dapat
hidup selaras dengan segala sesuatu . Itulah sebabnya saya mau cerita akan latar
belakang hidup ini kepada Suhu."

Saya mendorong dia untuk: tidak membeda-bedakan kawan serta lawan; --- tetapi gagal
untuk meredakan kebenciannya pada orang asing. -- Setelah bertahap sembuh dari
penyakit, saya bermaksud meninggalkannya, namun ia mencoba menahan saya. Tatkala
memberitahunya bahwa saya mengumpulkan dana bagi vihara, maka ia rnemberi saya
bekal dan ongkos perjalanan.

Istilah Buddhis yang berarti keselarasan sempurna di antara segala sesuatu yang
berbeda-beda, seperti misalnya kekotoran batin dan pencerahan, samsara dan
nirvana, hidup dan mati, dan lain sebagainya. Seluruh sifat membeda-bedakan adalah
bagaikan gelombang yang timbul dalam samudera Bodhi, intisari terdalamnya sendiri
adalah hening dan bebas segala kerisauan.

Ia membelikan saya karcis kereta api serta mengirim telegram pada Upasaka Gao Wangbang
beserta keluarganya di Rangoon agar mereka menerima kedatangan saya.

Ketika tiba di Rangoon, Upasaka Gao beserta keluarga dan Pengawas Xing-yuan
serta para bhiksu dari Biara Long-hua, menjemput saya di stasiun kereta api. Saya
tinggal di rumah Upasaka Gao, di mana saya diperlakukan dengan penuh hormat. Ia
berkata, "Yang Arya Mahaguru Miao-lian" selalu membicarakan mengenai disiplin
pertapaan Anda selama berpuluh-puluh tahun, namun tiada pernah mendengar kabar
berita dari Anda.

Master Miao-lian dari Gunung Gu adalah yang menahbis-kan Master Xu-yun [lihat
tahun ke-20 kehidupan beliau]; Master Miao-lian sedang berada di Biara Ji-luo,
Penang, Malaysia dan bermaksud segera kembali ke China - ed.


Ia sangat bergembira ketika mendengar bahwa Anda akan berkunjung kemari serta
menulis surat ke saya bahwa ia segera kembali ke Tiongkok untuk memperbaiki Biara
Gui-shan (Gunung Kura-kura) di Ning-de (Pro- pinsi Fujian). Baru-baru ini beliau
datang ke mari dan saya menyertainya mengunjungi Pagoda Emas Besar (Shwedagon)
dan tempat-tempat suci lain selama beberapa hari, setelah itu ia balik ke biaranya [Biara
Ji-luo, di Penang --- ed.] mengharap kedatangan Anda di sana, kecuali kalau Anda
hendak buru-buru pulang ke Tiongkok." --- Upasaka Gao lalu mengantar saya naik ke
kapal dan menelegram Biara Ji-luo agar mengirim beberapa bhiksu guna menjemput saya

Edited by Top1, 14 February 2013 - 01:38 PM.


#38 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 14 February 2013 - 01:43 PM

LOLOS DARI MAUT

KETIKA KAPAL SAMPAI DI PENANG, terdapat seorang penum- pang mati karena
wabah penyakit, sehingga bendera kuning dikibarkan dan semua penumpang dikarantina
pada sebuah bukit yang jauh terkucil, di mana sepuluh ribu orang ditelantarkan begitu
saja tanpa tempat berteduh. Siang hari kepanasan dan kehujanan pada malam harinya.

Tiap orang diberi jatah ransum hanya semangkuk kecil nasi dengan dua wortel yang
harus dimasak sendiri. Seorang dokter datang dua kali sehari memeriksa kesehatan.
Setengah dari penumpang diizinkan meninggalkan tempat pada hari ke-tujuh, sementara
sisanya pergi pada hari ke-sepuluh - saya ditahan sendirian di atas bukit dan menjadi
sangat tidak sabar.

Saya sakit parah dan sangat merana. Akhirnya, saya tidak sanggup makan lagi. Padahari
ke-delapanbelas, dokter datang dan memerintahkan saya pindah ke sebuah rumah kosong.
Saya merasa senang berada di sana. Saya mengajukan bebe¬rapa pertanyaan pada
penjaga tua di tempat itu dan ia mengatakan bahwa dirinya berasal dari Zhuanzhou.

Dengan berbisik-bisik ia mengatakan, "Ruangan ini buat mereka yang sekarat, Anda
sengaja dipindah kemari karena setelah mati mayat Anda akan dipakai bahan penelitian."
Ketika saya mem- beritahunya bahwa saya harus mengunjungi Biara Ji-luo, pria tua itu
jadi tersentuh. Ia berkata, " Saya akan memberi Anda obat."

Kemudian dipersiapkannya semangkuk shen-qu [sejenis obat] dan memberikannya
kepada saya buat diminum. Setelah dua kali minum saya merasa sedikit lebih enak
keesokan hari-nya. Ia berkata, "Bila dokter datang lagi, saya akan memberi kode dengan
batuk - segeralah bangkit dan coba sebisa mungkin menunjukkan bahwa kesehatan Anda
sudah membaik. Jika dokter itu memberi 'obat' pada Anda, jangan diminum."

Sebagaimana telah diperingatkan oleh penjaga tua itu, si dokter benar-benar datang dan
sesudah melarut berbagai macam ramuan ke dalam air, ia mencekoki saya. Karena tak
mampu menolak, terpaksa larutan itu tertelan. Setelah si dokter pergi, orang tua itu
dengan tegang mengeluh, "Aduh, Anda takkan hidup lama lagi sekarang; besok, ia akan
kembali untuk memanfaatkan mayatmu sebagai bahan penelitian. Saya akan coba
memberi Anda obat lagi...--- moga-moga Buddha melindungi Anda."

Pagi berikut saat orang tua itu datang, saya sedang terduduk di lantai, namun gelap tak
dapat melihat apapun, meski dengan mata terbelalak lebar. Ia menolong saya bangkit dan
seketika itu juga saya melihat darah berceceran di lantai.

Sekali lagi ia menyuapi saya obat-penawar untuk diminum, lalu mengganti pakaian saya,
membersihkan lantai, dan berkata dengan perlahan, "Kalau orang lain yang meminum
obat [beracun] yang diberikan pada Anda kemarin, mereka sekarang bakal sudah benarbenar
dibedel perutnya [oleh si dokter jahat itu] bahkan sebelum nafasnya berakhir; kamu
nampaknya tidak ditakdirkan buat mati. Ini pastilah berkat perlindungan Buddha.

Jika si dokter datang kembali pukul sembilan nanti, saya akan memberikan tanda dengan
cara batuk-batuk. Usaha tunjukkanlah padanya bahwa kamu masih dalam keadaan segar
bugar." Ketika kemudian si dokter itu inelihat bahwa saya ternyata masih hidup, ia
menudingkan jarinya kepada saya, menyeringai, lalu ngeloyor pergi. ---

Saya lantas bertanya kepada si pak tua mengapa dokter itu menyeringai. Penjaga tua itu
menjawab, "Karena Anda tidak ditakdirkan untuk mati." Saya lalu memberitahunya
bahwa Upasaka Gao telah membekali saya uang-saku; saya minta agar pak tua itu
menyisipkan uang tersebut sebagian kepada si dokter, agar supaya bersedia melepas
saya. Saya menyodorkan empat puluh dollar [sebagai uang sogokan] dan dua puluh
dollar lagi sebagai tanda terimakasih atas segala apa yang dilakukan bapak itu bagi saya.
--- Tetapi ia menjawab, "Saya belum perlu mengambil uang Anda.

Hari ini, dokternya orang bule dan ia tidak dapat disuap. Tetapi besok, dokternya adalah
orang Karen dan hal ini bisa diatur dengannya." Sore itu, ia memanggil saya lagi dan
berkata, "Saya telah mengatur semuanya dengan dokter berkebangsaan Karen itu serta
memberikan padanya dua puluh dollar Anda. Besok Anda akan dibebaskan." Mendengar
hal itu, saya kembali bersemangat dan berterima kasih pada orang tua tersebut.

Karen adalah nama salah satu suku bangsa asli Burma.


Pagi keesokan hari, Sang dokter datang dan setelah kunjungannya sebuah perahu
dipersiapkan untuk membawa saya menyeberangi teluk.

Saya dibantu naik ke atas perahu oleh penjaga tua itu dan pada saat tiba di seberang,
sebuah kendaraan disewa untuk membawa saya ke Gedung Guang-fu, di mana seorang
bhikkhu petugas penerima tamu mene- lantarkan saya karena penampilan saya yang
kumal, sehingga mesti menunggu selama dua jam. Mau tak mau, timbul pe- rasaan campur
aduk antara senang dan sedih dalam hati. Gembira karena baru saja luput dari maut dan
sedih karena perilaku tidak bertanggungjawab dari penerima tamu itu.


#39 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 14 February 2013 - 01:57 PM

JUMPA SANG MAHAGURU SEPUH MIAO-LIAN

Akhirnya, seorang bhiksu tua yang belakangan saya ketahui sebagai kepala para bhiksu
yang bernama Jue-kong datang dan saya berkata, "Saya adalah murid yang bernama ... "
ia membungkuk, menyentuh kepaia saya di lantai. Karena saya terlampau lemah untuk
bangkit berdiri, maka ia menolong dan mendudukkan saya di kursi serta berkata,
"Upasaka Gao. telah mengirim telegram pada kami memberitahu kedatangan Anda, tetapi
kami sama sekali tidak mendengar kabar lanjut dari Anda. Yang Arya Kepaia Biara dan
seluruh komunitas di tempat ini telah mengkhawatirkan keadaan Anda; bagaimana
mungkin Anda datang dalam kondisi seperti ini?"

Tak berapa lama, para bhiksu baik tua maupun muda datang membanjiri gedung tersebut,
yang dengan segera merubah suasana menjadi bagaikan rumah nan hangat di musim semi.
Selang tak lama, Kepaia Biara Master sepuh Miao-lian datang dan berkata, "Hari demi
hari saya menanti kabar dan mencemaskan bahwa Anda berada dalam bahaya. Saya
hendak kembali ke Fujian untuk memperbaiki Biara Gui- shan, namun tatkala mendengar
rencana kedatangan Anda, saya menanti Anda di sini."
Setelah perbincangan panjang, saya berkata, "Ini kesalahan saya." dan kemudian
mengisahkan seluruh pengalaman saya sendiri. Kepala Biara dan para bhiksu terkesan
dan ingin mendengarkan pengalaman saya seluruhnya.

Mereka lalu ber-anjali sebagai tanda hormat dan kami semua kembali ke Biara Ji-luo.
Sang Kepala Biara sepuh mendesak saya untuk minum obat, tetapi saya berkata, "Karena
saya telah pulang ke rumah, seluruh pemikiran-pemikiran salah saya telah berhenti.
Saya akan baik-baik saja sesudah beristirahat beberapa hari."

Arti dari perkataan tersebut, "Saya telah mengenali sang "Diri" sejati saya setelah
mengalami peristiwa berbahaya dan karena diri-sejati tidak dapat sakit, maka saya
akan sembuh dan tidak memerlukan perawatan apapun."


Belakangan, saat mengetahui bahwa setiap kali bermeditasi: saya duduk non-stop
sampai beberapa hari berturut- turut, ia memperingatkan saya, "Cuaca di kawasan Laut
Selatan ini panas dan berbeda dengan Tiongkok. Saya yakin bahwa duduk-meditasi
terlalu lama akan membahayakan kesehatan Anda." Sekalipun demikian, saya tidak
merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan meditasi saya.

Guru tua itu juga berkata, "Anda seyogianya membabar- kan Sutra Teratai di sini untuk
membangkitkan benih kebajikan. Saya mau kembali ke Tiongkok. Sesudah Anda selesai
mem- babarkan Sutra Teratai, jangan kembali ke Yunnan, melainkan pergilah dulu ke
Gunung Gu karena: saya masih ingin menceritakan sesuatu kepada Anda di sana..."

Setelah mengantar kepala biara tua itu ke kapal, saya kembali ke biara dan mulai
membabarkan Sutra. Beberapa ratus orang menjadi murid saya dan para pelindung
Dharma dari Malaka mengundang saya untuk membabarkan Sutra Buddha Pengobatan
(Jnanabhaisajya) di Vihara Qing-yun. Saya lalu berangkat ke Kuala Lumpur, di mana
Upasaka Ye Fu-yu dan Huang Yun-fan meminta saya untuk mengajarkan Sutra
Lankavatara di Vihara Ling-shan. Di tiap kota di Malaysia, tempat saya membabarkan
Sutra, lebih dari sepuluh ribu orang menjadi murid saya.

Musim dingin itu saya menerima telegram dari perwakilan seluruh anggota Sangha di
Propinsi Yunnan, memberi tahu mengenai rencana pemerintah untuk menarik pajak atas
segala sesuatu yang dimiliki biara [versi terjemahan ber- gambar dari Master Hsuan
Hua, mengatakan: pemerintah hendak menyita beberapa properti milik vihara - ed.].

Pada saat yang bersamaan, Mahaguru Ji-chuan dan lainnya di Ningbo juga mengirim
telegram yang isinya meminta saya kembali ke Tiongkok selekas mungkin guna
membicarakan masalah ini bersama-sama.
Penghujung tahun telah mendekat, saya di Kuala Lumpur melewatkan masa Tahun Baru..

USIA Ke 67 (1906/07) Saya kembali ke Tiongkok pada saat musim semi. Ketika
kapalnya singeah di Taiwan dalam rute perjalanannya, saya mengunjungx Biara Longquan;
dan ketika tiba di Jepang saya mengunjungi biara-biara di berbagai tempat.

Karena hubungan antara Tiongkok dan Jepang sedang tidak bersahabat, maka para
bhiksu Tiongkok diawasi dengan ketat dan para bhiksu Jepang juga tidak diizinkan untuk
mengunjungi Tiongkok. Harapan saya untuk menjalin hubungan persahabatan dengan umat
buddhis Jepang belum bisa terwujud.


Bulan ketiga saya tiba di Shanghai. Selanjutnya bersama- sama dengan Master Ji-chan
dan perwakilan Asosiasi Buddhis, saya menuju ke Beijing untuk menyampaikan petisi
kami pada Pemerintah Pusat. Sampai di sana, kami tinggal di Biara Xian-liang, di mana
Mahaguru Fa-an, yang menjabat Direktur Urusan Agama Buddha, Mahaguru Dao-xing
dari Biara Long- quan serta Mahaguru Jue-guang dari Biara Kuan-yin secara pribadi
menyongsong kedatangan kami.

Di sana, Pangeran Su Shan-qi mengundang saya untuk membabarkan sila-sila Buddhis
pada istrinya. --- Para pa-ngeran/bangsa wan, serta pejabat tinggi yang merupakan
kenalan lama saya (semenjak masa Pemberontakan Boxer, di mana mereka bersama
rombongan kekaisaran mengungsi ke Barat) seluruhnya hadir untuk menengok saya dan
memberi saran-saran bagaimana seharusnya petisi kami diajukan. Karena para pelindung
Dharma bersedia memberikan dukungannya, maka saya tidak mengalami kesulitan
apapun. Sebagai tanggapan atas petisi kami, dikeluarkanlah titah Kekaisaran berikut ini:

TAHUN KETIGAPULUH-DUA MASA
PEMERINTAHAN GUANG-XU:
TITAH KEKAISARAN


Sehubungan dengan pengumpulan pajak, telah berulang kali diundangkan bahwa
tiada suatu aturan pun yang diizinkan untuk menindas orang miskin. Telah pula kami
tengarai bahwa pendirian sekolah-sekolah dan pabrik-pabrik telah dilakukan
dengan serampangan, hal ini menimbulkan gangguan pada berbagai propinsi,
termasuk pula pada Sangha Buddhis.

Permasalahan di dalam negeri semacam ini tidaklah boleh dibiarkan, sehingga
dengan demikian dititahkan pada seluruh raja-muda agar sesegera mungkin
memerintahkan para pejabat propinsinya masing-masing supaya memberikan
perlindungan kepada semua biara, baik besar maupun kecil, dan juga pada seluruh
hak milik biara yang berada di bawah wilayah hukum mereka.

Oleh karena itu, tiada pelayan-pelayan masyarakat (maksudnya pejabat - penterj . )
yang diizinkan meng- ganggunya dengan tujuan apapun dan tiada penguasa wilayah
yang diizinkan untuk menarik pajak atas hak milik biara. Menjalankan perintah ini
adalah selaras dengan bentuk pemerintahan kita
.


Setelah dikeluarkannya titah Kekaisaran ini, seluruh pajak yang ditarik oleh pemerintah
propinsi dibatalkan. Saya tinggal di ibukota untuk berbincang-bincang dengan
para sponsor Dharma di sana mengenai kenyataan bahwa tidak ada satu pun kaisar yang
menghadiahkan salinan kitab-kitab Tripitaka ke Propinsi Yunnan semenjak awal Dinasti
Qing.

Perhatian saya pusatkan untuk meminta pendapat mereka mengenai pengajuan petisi pada
Kerajaan, agar supaya daerah terpencil ini dapat menerima manfaat Dharma. Pangeran
Su dengan gembira setuju untuk mendukung petisi yang di- sampaikan oleh Menteri
Dalam Negeri kepada Kaisar. Bunyi PETISI tersebut adalah sebagai berikut:

Direktur Urusan Agama Buddha dan Pemegang Segel Fa-an telah mengajukan petisi
kepada Kementerian karena menurut penuturan Kepala Biara Xu-yun dari Biara
Ying-xiang di Puncak Boyu, Gunung Kaki Ayara, Bin- chuan, Prefektur Da-li,
Propinsi Yunnan, biara yang dipimpinnya itu merupakan tempat suci kuno, namun
masih belum memiliki salinan Tripitaka.

Ia kini memohon agar Kerajaan menganugerahkan salinan Tripitaka Edisi Kerajaan,
sehingga kitab-kitab tersebut dapat disimpan di sana selamanya. Tempat tersebut di
atas merupakan tempat suci dari Sesepuh Mahakasyapa dan biara [Mahaguru Xuyun]
itu merupakan sisa dari kompleks biara kuno. . Tujuan dari petisi ini adalah
untuk memohon agar Kerajaan menganugerahkan jilid lengkap Tripitaka Edisi
Kerajaan dengan tujuan untuk mengagungkan Buddha Dharma.

Diajukan oleh: Pengeran Su, Menteri Administrasi Sipil, Kepala Biara Cheng-hai
dari Biara Bai-lin dan Kepala Biara Dao-xing dari Biara Long-xing. Apabila Yang
Mulia menyetujuinya, maka dengan kerendahan hati kami mohon agar Kantor Urusan
Agama Buddha di-perintahkan untuk mendanakan salinan kitab-kitab Tripitaka.


Pada hari keenam bulan keenam, petisi itu dikabulkan dan titah Kekaisaran berikutnya
dikeluarkan pada hari kedua puluh bulan ketujuh dalam tahun ketigapuluh-dua masa
pemerintahan Guang-zu (1907). Bunyinya adalah sebagai berikut:

Yang Mulia Kaisar telah dengan senang hati meng-anugerahkan Biara Ying-xiang di
Puncak Boyu, Gunung Kaki Ayam, Propinsi Yunnan nama tambahan yang ber-bunyi:
"Biara Chan Zhu-sheng" (Pengundangan Terhadap Yang Suci) demi kemakmuran
bangsa, ditambah sebuah kereta Kerajaan beserta Tripitaka "Edisi Naga" milik
Kekaisaran, dan bagi kepala biaranya, sehelai jubah ungu, sebuah mangkuk, segel
batu giok, tongkat, serta tanda jabatan.

Kepala Biara Xu-yun selanjutnya di-beri gelar "Mahaguru Agung Fo-ci Hung-fa"
(Dharma nan Luas dari Belas Kasih Buddha). Ia diperintahkan agar kembali ke
gunung, mengajarkan si la di sana demi ke-maslahatan bangsa dan negara.
Kementerian Dalam Negeri diperintahkan untuk memberitahu Mahaguru Xu-yun
mengenai Titah Kerajaan ini sehingga ia dapat mengum-pulkan dana persembahan
dan setelah itu kembali ke gunung, bertindak sebagai penjaganya serta menyebarkan
Ajaran Buddha.

Seluruh pejabat dan penduduk setempat diperin-tahkan agar mematuhi serta
menjalankan Titah Ke-kaisaran dan memberikan perlindungan pada biara. Seluruh
tindakan tidak hormat terhadap biara dilarang keras.


Permohonan saya untuk menghadirkanTripitaka dengan demikian telah dikabulkan dan
segala sesuatunya berjalan lancar.

Edited by Top1, 14 February 2013 - 02:02 PM.


#40 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 14 February 2013 - 02:06 PM

Wafatnya Mahaguru sepuh
Bhiksu Agung Miao-lian


Pada tanggal keduapuluh saya menerima surat dari Master Miao-lian, di mana Beliau
menulisnya di Gu-shan. Isi surat itu berbunyi: "Pada saat membawa pulang Tripitaka,
Anda pertama-tama harus singgah di Amoy (Xiamen); mohon tinggalkan sementara
Sutra-Sutra itu di sana dan datanglah dengan segera untuk menjumpai saya di Gunung
Gu."

Para pelindung Dharma memberikan bantuannya di ibu kota dalam memperoleh Tripitaka
itu. Kepala Biara Chuan-dao dari Aula Yang-zhen dan Wen-zhi dari Gunung Fu-ding
memberikan bantuan luar biasa dalam membawa kumpulan besar Tripitaka itu dari ibu
kota ke Shanghai, lalu kemudian di Amoy. Saat itu telah mendekati akhir tahun, maka
saya tinggal di Beijing melewatkan Tahun Baru di sana.

USIA Ke 68 (1907/08) Musim semi bulan pertama saya pergi ke Shang-hai dan Amoy
berkat bantuan Master Wen-Ji dan Chuan-dao. Begitu tiba disana saya
menerima telegram dari Gunung Gu yang mengabarkan bahwa Master Miao-lian telah
wafat. Para bhiksu dari seluruh biara di Amoy pergi ke Gunung Gu guna menghadiri
upacara pengkremasian jenazah Sang Kepala Biara, di mana stupanya telah dipindahkan
ke sebuah gedung kecil sambil menunggu keputusan mengenai tempat persemayaman
terakhirnya.

Dengan segera saya menuju ke Gunung Gu untuk mengawasi pendirian pagoda itu serta
membantu upacara pentransmi-sian sila-sila bagi almarhum. Saya jadi sibuk di tanggal
sepuluh bulan keempat; begitu bangunan pagoda selesai, hujan turun dengan derasnya
lima belas hari berturut-turut, sehingga menimbulkan kecemasan pada seluruh komunitas
biara.

Tanggal delapan bulan berikutnya, setelah upacara pentransmisian sila Bodhisattva,
hujan mulai berhenti. Tanggal sembilannya, cuaca menjadi cerah dan kaum terpelajar
serta orang lainnya berduyun-duyun datang ke gunung itu dengan jumlah besar.

Keesokan hari atau tanggal sepuluh, ketika stupa (yang berisikan abu dan relik) telah
ditempatkan di pagoda, seratus nampan persembahan berupa sesaji vegetarian
ditempatkan pada suatu lapangan terbuka, di mana orang-orang berkumpul untuk
membacakan Sutra.

Sehabis doa persembahan, tatkala mantra transformasi makanan selesai dilafal, tahu-tahu
muncul pusaran angin yang mengangkat semua persembahan ke udara dan sinar terang
warna merah memancar dari stupa naik ke atas menuju puncak pagoda. Semua yang hadir
memuji peristiwa langka itu. Sesudah upacara selesai dan sekembalinya kami ke biara,
turunlah hujan dengan lebatnya. Separuh dari relik Sang Mahaguru ditempatkan dalam
stupa dan separuh lainnya lagi kami bawa ke Biara Ji-luo di Penang untuk dipuja di sana
...

Setibanya di Penang dengan Tripitaka dan relik dari almarhum Kepala Biara Miao-lian,
para bhiksu dari Aula Avalokitesvara dan lainnya yang datang untuk menyambut saya
jumlahnya mencapai beberapa ribu orang. Sehabis pelafalan Sutra, sementara mantra
transformasi sedang dilafal, sekonyong-konyong muncullah pusaran angin yang menghamburkan
bunga persembahan di sana. Kotak tempat pe-nyimpanan sarira memancarkan
cahaya terang yang mencapai puncak pagoda, memancar tinggi sampai sejauh 2 li.

Dua peristiwa ajaib itu terjadi saat ritual pemujaan sedang dilaksanakan oleh saya dan
saya menyaksikannya sendiri. Inilah alasannya mengapa Buddha berujar, "Hasil yang diperoleh
dari melaksanakan ritual esoterik sungguh misterius."

Mengenai pelatihan-diri (praktik meditasi) Sang Kepala Biara sepuh, saya sebenarnya
tidak mengetahui sedikit pun. Ia tidak menekankan metode pelatihan Chan ataupun
Sukhavati, namun karya utamanya adalah memperbaiki vihara-vihara yang telah rusak
dan melakukan karma bajik dengan jalan menerima dan menasehati siapa saja yang
datang padanya.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah beliau mangkat benar-benar luar biasa. Sesudah
beliau men-cukur kepala saya bertahun-tahun yang lalu, saya tak lagi mendengar kabar
sedikitpun darinya. --- Saya benar-benar bersalah atas sikap kurang hormat terhadap
guru saya sen-diri, dan perjumpaan terakhir saya dengannya adalah me-ngurus stupa serta
membagi-bagikan sarira beliau yang bersinar gemilang.

Teringatlah saya akan kata-kata terakhir beliau, di mana nampaknya ia sebelumnya telah
mengetahui saat kematiannya sendiri. Karena mustahil buat memastikan hal sebenarnya
sehubungan dengan hal ini, saya menyerahkan penafsirannya pada siapa saja yang
membaca riwayat ini, agar mereka dapat menarik kesimpulan sendiri.





0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close