Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

buku biografi Master Zen "Xu Yun" (Awan Kosong)


  • This topic is locked This topic is locked
62 replies to this topic

#41 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 14 February 2013 - 10:14 PM

Di Ibukota Thailand:
9 Hari Memasuki Samadhi


Saya pergi dengan kapal ke Dan-na; Vihara Avalokitesvara mengundang saya untuk
membabarkan Sutra Hrdaya (Sutra Hati) di sana. Berikutnya dengan kapal saya melanjutkan
perjalanan ke Siam (Thailand); karena di atas kapal tidak ada menu vegetarian, saya
hanya duduk bersila sepanjang waktu. Seorang berkebangsaan Inggris datang ke tempat
saya dan setelah memandang beberapa bentar, ia bertanya "Ke manakah Yang Arya
hendak pergi?"

Ia bicara dalam bahasa Mandarin; saya menjawab, "Saya hendak ke Yunnan."
Sesudah itu ia mengajak saya ke kabinnya dan menawar-kan kue serta susu, yang dengan
sopan saya tolak.

"Di mana Anda tinggal di Yunnan?" tanyanya.

"Di Biara Ying Xiang, pada Gunung Kaki Ayam," jawab saya.
Ia berkata, "Aturan disiplin kebiaraan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh di sana."

Saya bertanya padanya, "Apakah yang Anda lakukan di sana?"

Ia menjawab, "Saya adalah konsul Inggris di Tengyue serta Kunming, dan saya gemar
mengunjungi biara-biara di kawasan tersebut." --- Sang konsul Inggris itu menanyakan
tujuan saya berkunjung ke negeri-negeri asing. Saya jawab: saya sedang mengawal
Tripitaka ke Yunnan; oleh karena biaya perjalanan tinggal sedikit, maka saya ke Kuala
Lumpur ter-lebih dahulu buat mengumpulkan dana. --- Ia bertanya kembali, "Apakah
Anda memiliki surat resmi?"

Saya memperlihatkan kepadanya surat bukti resmi dan buku catatan donatur. Bapak
konsul tersebut lalu mencatatkan ke dalam buku itu sumbangan sebesar 300 dollar. Ini
merupakan kebajikan yang luar biasa. Lalu ia menjamu saya dengan nasi goreng beserta
sayuran. Ketika kapalnya merapat di Siam, saya turun ke darat dan berpisah dengannya.

Selanjutnya, saya tinggal di Biara Long-quan, di mana saya meinbabarkan Sutra
Ksitigarbha (atau Bodhisattva Kandungan Bumi). Suatu hari, tuan konsul Inggris itu
datang menjumpai saya lagi dan menyumbangkan 3.000 dollar.

Jumlah ini sangat besar pada masa itu dan barangkali setara dengan separuh dari
pendapatan tahunan Sang Konsul.


Kebutuhan guna membangun gedung tempat penyim-panan Tripitaka [besok sekembalinya
saya ke Yunnan] bisa mencapai beberapa puluhribu dollar, tetapi hingga penerimaan
dana paramita dari bapak konsul itu, saya hanya ber-hasil mengumpulkan sejumlah kecil
saja.

Beberapa hari setelah selesai membabar Sutra Ksitigarbha, saya pun melanjutkarmya
dengan salah satu bagian Sutra Teratai yang berjudul Pintu Universal kepada sejumlah
beberapa ratus orang hadirin. Satu hari, tatkala sedang duduk bersila, tak terasa saya
memasuki samadhi --- lupa sama sekali akan aktifitas pembabaran Sutra tersebut...

"Pintu Universal" mengacu pada salah satu bagian dari Sutra Teratai, yang berisikan
belas kasih universal dari Bodhisattva Ava-lokitesvara. --- Sang Bodhisattva berikrat
untuk mengambil wujud [penjelmaaan] apapun yang diperlukan buat menyelamatkan
makhluk hidup dari penderitaan. Hal yang diperlukan bagi para umat hanyalah
mengembangkan keyakinan terpusat pada kekuatan pertolongan dari Sang
Bodhisattva. Dalam pengertiannya yang paling luas,"pintu universal" mengacu pada
semangat Mahayana yang mengajarkan keselamatan bagi semua makhluk.


Setelah duduk bersila [dalam samadhi] selama sembilan hari terus-menerus, segera
tersebar-luaslah berita mengenai hal ini di Ibukota (Bangkok). --- Raja, para menteri
tinggi, serta umat awam baik pria maupun wanita berduyun-duyun datang hendak
menghaturkan penghormatan...

Saya pun lalu keluar dari kondisi samadhi dan sehabis selesai membabar Sutra, Raja
Thailand mengundang saya ke Istana serta me-minta saya untuk melafalkan Sutra-Sutra
tersebut sekali lagi. ia menghadiahi banyak persembahan dan dengan hormat meminta
saya agar menerimanya sebagai murid. Kaum ter-pelajar dan orang-orang lainnya yang
menjadi murid men-capai beberapa ribu orang.

Setelah pengalaman samadhi itu, kedua kaki ini seperti mati-rasa, saya mengalami
kesulitan berjalan. Tak berapa lama sekujur tubuh pun jadi lumpuh dan karena tidak
dapat lagi memegang sumpit, maka orang lain harus membantu saya makan. Para sponsor
Dharma memanggil dokter Tionghwa maupun Barat buat mengobati saya; namun obat,
tusuk jarum, dan kauterisasi yang mereka lakukan tidaklah mem-buahkan hasil. Karena
tetap tak dapat berbicara ataupun me-lihat, seluruh dokter sudah kehabisan akal...

Meski demikian, saya tidak merasa cemas sedikit pun ketika mengalami hal ini, karena
saya telah melepas segala-nya. Tetapi ada satu hal yang masih membebani, dan itu
adalah cek yang terjahit dalam lipatan baju saya. Apabila saya mati dan dikremasi, maka
cek itu bakal ikut terbakar juga. Sebagai akibatnya Tripitaka akan gagal dibawa ke
Gunung Kaki Ayam dan selain itu gedung penyimpanannya juga bakal gagal dibangun.
Bagaimana mungkin saya bisa menanggung beban karma sedemikian berat? Airmata
menetes apabila memikirkan hal ini dan berdoa kepada Mahakasyapa agar melindungi.

Pada saat itu, Master Miao-yuan --- yang sebelumnya pernah bareng saya di Gunung
Zhong-nan --- datang berkunjung. Ia melihat tetes airmata saya dan memperhatikan gerak
bibir saya. Lalu didekatkanlah telinganya ke mulut saya supaya ia bisa lebih jelas
mendengar. Saya memintanya membuatkan teh guna menyegarkan tubuh, agar saya dapat
melanjutkan doa kepada Mahakasyapa.

Setelah minum teh, pikiran ini jadi jernih dan saya pun jatuh tertidur serta bermimpi. ---
Dalam mimpi itu saya melihat seorang tua yang mirip dengan Mahakasyapa sedang duduk
di samping ranjang. Ia berkata, "Bhiksu, janganlah pernah meninggalkan aturan-aturan
yang menyertai seorang pemegang mangkuk dan pemakai jubah (maksudnya bhiksu -
penterj.).

Jangan khawatir dengan kondisi tubuhmu. Guna-kan jubah terlipat dan mangkukmu
sebagai bantal dan se-gala sesuatunya akan beres." --- Saya langsung menggunakan jubah
terlipat dan mangkuk saya sebagai bantal dan ketika selesai mempersiapkannya, saya
memalingkan wajah namun tak dapat melihat orang tua itu lagi. Keringat mengalir deras
dari sekujur tubuh dan terasa gembira tak terkatakan.

Saya mulai bisa sedikit menggumamkan beberapa patah kata serta meminta Miao-yuan
untuk berdoa memohon resep obat di altar Wei-tuo. ---Resepnya semata-mata terdiri dari
mu-jieh dan kotoran kelelawar. Sesudah meminumnya saya bisa melihat dan berbicara
kembali. --- Miao-yuan berdoa memohon resep yang kedua yang hanya terdiri dari
sedikit miju-miju merah dicampur nasi congee [sejenis sup encer], serta larangan
menyantap berapa jenis menu lainnya.

Setelah memakannya selama dua hari, barulah saya bisa menggerakkan kepala. Resep
lainnya kembali dimohonkan, kali ini hanya terdiri dari sejumlah kecil tumbuhan obat
yang sama. Semenjak itu, saya hanya makan congee miju-miju merah itu. Sebagai
hasilnya tubuh terasa lebih nyaman dan kotoran jadi sehitam jelaga. Secara bertahap
organ indra pun mulai pulih dan kini saya dapat bangkit serta berjalan...

Saya sembuh setelah menderita sakit selama duapuluh hari. Saya bersyukur serta
berterima kasih pada siapa yang sudah merawat saya. Hati ini begitu terharu oleh
perhatian mendalam dari Suhu Miao-yuan yang telah menjaga saya siang dan malam.
Saya keinudian pergi buat berterima kasih pada Wei-tuo, serta berikrar untuk
membangun altar baginya kapan saja saya mendirikan atau memperbaiki biara di masa
mendatang.

Setelah sehat, saya melanjutkan dengan pembabaran Shastra Kebangkitan Keyakinan
[Terhadap Mahayana] dan pada saat pembabaran itu hampir selesai, Biara Ji-lou di
Penang mengirim Master Shan-qin dan Bao-yue untuk memapak saya ke sana.
Raja Thailand beserta dengan pejabat tinggi istana, begitu pula halnya dengan para
Upasaka serta Upasika datang buat mempersembahkan dana paramita. Selain itu mereka
juga bermaksud menjenguk saya. Jumlah dana paramita yang diterima adalah begitu
besarnya.

Sebagai penghargaan atas pelafalan Sutra yang saya lakukan di Istana, Raja menghadiahi
saya 300 qing tanah (sekitar 2300 hektar) di Tong-li, di mana pada gilirannya saya
hibahkan kembali kepada Biara Ji-luo dengan permintaan agar kepala biaranya yang
bernama Shan-jin mendirikan per-usahaan karet sebagai sumber pemasukan bagi
komunitas biara. Bersama dengan Mahaguru Shan-jin dan Bao-yue, saya melewati Tahun
Baru di lokasi pabrik.

USIA Ke 69 (1908/09) Musim semi itu, bersama dengan Mahaguru Shan-jin, saya pergi
ke Kuil Avalokitesvara yang dibangunnya di Selangor. Kemudian, saya Ipoh dan Perak
di mana saya mengunjungi beberapa tempat suci dan selanjutnya pergi ke Biara Ji-luo, di
mana saya membabar Shastra Kebangkitan Keyakinan [Terhadap Mahayana] serta
Perilaku dan Ikrar Samantabhadra yang merupakan penutup dari Sutra Avatamsaka.

Ketika melalui berbagai kota kecil maupun besar, banyak sekali orang yang ingin
menjadi murid, dan waktu saya habiskan buat menerima orang-orang yang ingin
berjumpa. --- Setelah membabar Sutra di Biara Ji-lou, saya mengasingkan diri untuk
sementara waktu, menghentikan penjelasan Sutra-Sutra serta tidak menerima tamu. Saya
melewatkan masa Tahun Baru di biara.


#42 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 14 February 2013 - 10:19 PM

Mengangkut Tripitaka dari Penang
ke Yunnan


USIA Ke 70 (1909/10) Pengangkutan Tripitaka yang saya lakukan berawal dari Penang
dan ketika tiba di Rangoo saya diterima oleh Upasaka Gao Wan-bang yang menahan saya
untuk menginap di rumahnya selama lebih dari sebulan. Sesudah itu, ia secara pribadi
mengantar sampai ke Mandalay. Di Rangoon, Upasaka Gao membeli patung Buddha
tidur dari giok yang diharapkannya buat dipuja di Biara Zhu-sheng.

Ketika kapal tiba di Xin-jie, saya tinggal di Vihara Ava-lokitesvara lalu menyewa kuda
beban buat mengangkut Tripitaka dan Buddha-gioknya ke Gunung Kaki Ayam. Lebih dari
tiga ratus kuda beban diperlukan buat mengangkut Sutra-Sutra Buddhis yang ada, tetapi
patungnya terlalu berat untuk diangkut di atas punggung kuda. Karena tidak ada yang
dapat dijumpai guna keperluan tersebut, patungnya ditinggalkan di Vihara Avalokitesvara
sementara waktu, hingga kelak tersedia kemungkinan buat mengangkutnya ke gunung.

Upasaka Gao tinggal di sana selama lebih dari empat puluh hari guna mengawasi
persiapan iring-iringan peng-angkutan Tripitaka. Ia tak pernah menyayangkan tenaga
mau-pun uangnya bagi pekerjaan mulia ini --- dan sesungguhnya benar-benar susah untuk
menjumpai orang [yang ketulus-annya] seperti Beliau.

Iring-iringan pengangkut Tripitaka terdiri dari sekitar seribu orang serta tiga ratus kuda,
melalui Tengyue serta Xiaguan: orang-orang dari berbagai kota serta pusat-pusat
perdagangan berbondong-bondong menyongsongnya. Meski diperlukanbeberapa hari
untuk tiba di sana, orang dan hewan yang mengambil bagian dalam tugas tersebut tetap
berada dalam kondisi baik. Dari Xiaguan ke Prefektur Dali, tiada setitik pun turun hujan
namun kilat bergemuruh dan menyam-bar-nyambar di antara awan-awan; Telaga Er-hai
mulai ber-gelombang dan tiiribul kabut, semua peristiwa ini benar-benar pemandangan
yang luar biasa ...

Setiba kami di luar gerbang Biara, upacara diadakan buat menyambut kedatangan
Tripitaka dan setelah semua kotak yang berisi Sutra diletakkan di tempat yang aman,
hujan mengguyur amat lebat dan segera cuaca pun menjadi cerah. Orang-orang yang hadir
pada kesempatan tersebut mengatakan bahwa naga-tua di Telaga Er-hai telah menyambut
kedatangan Tripitaka Edisi Kerajaan.

Rajamuda Li Jing-xi dari Propinsi Yunnan dan Guizhou, yang ditugasi Kerajaan agar
mengirim orang ke Prefektur Dali guna memapak kedatangan Tripitaka - hadir sendiri
dengan pejabat propinsi, di mana beliau secara pribadi menjadi saksi atas peristiwa
ajaib ini dan mereka semua memuji kemaha-takterbatasan Buddha Dharma.

Kami beristirahat di Prefektur Dali selama sepuluh hari. Dengan melalui Xiaguan dan
Zhao-zhaou rombongan tiga di Prefektur Binchuan, dan selanjutnya langsung ke Biara
Zhu-sheng. Keseluruhan perjalanan itu tanpa kejadian buruk apapun, dan tidak satu tetes
air pun yang membasahi kotak-kotak penyimpan Sutra.

Naskah-naskah Sutra itu ditempatkan di biara dan pada hari terakhir bulan ke-sepuluh
diadakanlah upacara persembahan dupa. Seluruh komunitas bersuka-cita atas hadirnya
kitab-suci tersebut tanpa kesulitan apapun di sepanjang perjalanan. Petisi permohonan
Tripitaka kini telah membuahkan hasil yang memuaskan.

Ada lagi peristiwa lain yang berharga buat dicatat. Setiba di Biara Wan-shou (Panjang
Umur), Tengyue --- pada saat saya sedang berbincang-bincang dengan Zhang Sun-lin di
aula --- seekor sapi coklat yang telah melarikan diri dari pemilik-nya masuk dan berlutut.
Sapi itu meneteskan air mata, dan segera diikuti oleh kemunculan sang pemilik bernama
Yang Sheng-chang beserta beberapa orang lain.

Saya kemudian mengetahui bahwa Yang adalah seorang jagal dan berkatalah saya pada
si sapi, "Jika engkau ingin menyelamatkan hidupmu, maka kamu seharusnya
berlindung pada Triratna." Sapi itu menganggukkan kepala dan dengan segera saya
ajarkan padanya rumusan berlindung pada Sang Triratna.

Setelah itu saya membantu sapi itu bangkit berdiri, di mana ia begitu jinak seperti
manusia. -- Saya mengambil uang dan memberikannya pada si pemilik sapi, namun ia
menolak. Orang tersebutbegitu tersentuh oleh peristiwa yang baru disaksikan serta
bertekad bahwa ia hendak mengganti pekerjaannya dan berpaling pada Dharma. Selain
itu, ia juga menjadi vegetarian. Komandan Zhang, yang terkesan oleh pertobatan tulus
orang itu, memberinya rekomendasi untuk bekerja di sebuah toko.


Bersambung ke Bab 9...

#43 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 15 February 2013 - 06:19 PM

Bab 9. Berita-berita dari Keluarga

USIA Ke 71 (1910/10) Dengan titah kerajaan yang melarang pemungutan atas Properti
biara serta kedatangan Tripitaka di biara, seluruh komunitas Sangha di Propinsi Yunnan
bisa hidup dengan damai. Rajamuda Li dari Propinsi Yunnan mengirim wakilnya ke
biara guna berbincang-bincang dengan saya dan juga menganjurkan anggota keluarganya
untuk menjadi murid.

Mereka membawakan hadiah dari rajamuda dan saya menulis surat ucapan terima kasih
padanya. Saya meminta Master Jia-chen untuk keluar dari penyunyian-dirinya dan pergi
mengunjungi biara-biara --- mendesak mereka untuk mematuhi Vinaya bersama-sama
dengan kami, mendidik para bhiksu muda, serta menghapuskan segenap kebiasaan dan
tradisi buruk.

Semenjak saat itu, Dharma kembali berkembang subur di Gunung Kaki Ayam. Saya juga
membuat pembicaraan dengan jaksa dari Binchuan mengenai pembebasan semua bhiksu
yang masih berada dalam tahanan serta narapidana lain yang hanya melakukan
kejahatan ringan.

Musim panas tahun itu saya menerima surat dari ke-luarga saya yang disampaikan
melalui Biara Gu-shan (Dharma Drum) ...

TERKENANG lima puluh tahun telah berlalu semenjak saya meninggalkan rumah dan
saya menulis tiga bait puisi berikut:

Karma nan murni dalam hidup ini

Sebaliknya adalah pikiran kosong tanpa inti

Karena seluruh hal duniawi telah lama ditinggalkan,

Berhati-hatilah dalam membawa kebiasaan-kebiasaan lama yang

masih tersisa ke negeri awan-awan



Ketika Upasaka Chen Yung-chang, sekretaris utama dari pemerintah pusat, membaca
puisi ini, ia menambahkan pada catatan mengenai gatha-gatha hasil karya Bhiksuni Miaojin,
yang dipahatkannya pada prasasti batu:

Gatha-gatha Buah Karya Bhiksuni Miao-jin

Nama keluarga Bhiksuni Miao-jin adalah Wang. Beliau adalah ibu-tiri dari Master
Xu-yun yang juga bernama Dharma; Gu-yan dan De-qing. Master Xu-yun sendiri
adalah penduduk asli Xiangxiang dan nama keluarganya adalah Xiao. Keluarga Sang
Mahaguru adalah keturunan dari Kaisar Liang Wu-di.

Ayahnya yang bernama Xiao Yu-tang adalah pejabat dari Prefektur Quanzhou di Fujian.
Nama keluarga ibunya adalah Yan. Tatkala berusia 40 tahun, ia berdoa pada Bodhisattva
Avalokitesvara memohon seorang putra dan tak berapa lama kemudian mengandung.
Suatu malam, ia dan suaminya bermimpi melihat seorang pria berjanggut panjang
mengenakan jubah biru, sambil membawa patung Bodhisattva di kepala. Ia datang
mengen-darai seekor harimau yang kemudian melompat ke atas ranjang. Emak-nya itu
jadi kaget dan terjaga dari tidur, saat itu didapatinya bahwa kamar tersebut diliputi
aroma harum yang luar biasa.

Ketika Sang Mahaguru dilahirkan, hanya buntalan daging yang tampak dan ibunya begitu
pedih mengalami hal itu --- ia dirundung putus-asa dan meninggal dunia. Hari
berikutnya seorang tua penjual obat datang ke rumah, membelah buntalan daging yang
telah dilahirkan, mengeluarkan seorang bayi laki-laki yang kelak menjadi Master Xu-yun.
[Karena ibunya telah meninggal], maka ia kemudian diasuh oleh ibu tirinya.

Sebagai seorang anak, Master Xu-yun tidak suka makan daging.

Masa bersekolah pun tiba, namun ia tidak menyukai karya-karya klasik Konfusius,
[sebaliknya] beliau malah lebih menggemari Sutra-Sutra Buddhis. Ayahnya merasa
kecewa dan dengan tajam menegurnya.

Wak-tu berusia 17 tahun, karena ia juga merupakan ahli waris pamannya, maka Sang
ayah memilihkan dua istri baginya, yang berasal dari keluarga Tian dan Tan. Sang
Mahaguru tidak ingin menikah, kabur ke Gunung Gu di Fujian. Di sana beliau mengangkat
guru pada Kepala Biara Miao-lian

Pada tahun Jia-zi (1864/65) , setelah kematian Sang ayah, emak tiri beliau - bersama
dengan dua istri beliau - meninggalkan keduniawian dan bergabung dengan Sangha
sebagai bhiksuni. Bhiksuni Tian, yang sebelumnya menderita tuberkulosa, jatuh sakit selama
empat tahun, akhirnya meninggal. Sedangkan Bhiksuni Tan, masih hidup dan tinggal
di Gunung Quan-yin, Xiang-xiang. tempat di mana beliau dikenal sebagai Bhiksuni Qingjie.
Dalam suratnya kepada Master Xu-yun, ia memberitahu kematian ibu tirinya pada
tahun Ji-yu (1909/10), yang wafat dalam keadaan duduk bersila.

Tepat sebelum meninggal beliau melafalkan gatha-gatha berikut ini:

Gatha Pertama

Apa guna membesarkan

Seorang anak yang melarikan diri begitu ia dewasa?

Nyawa ibunya kala mengandung bergantung pada
sehelai benang,

Jadi persembahkan rasa-syukurlah bahwasanya ia
sudah dilahirkan.

Dengan rajin ia disusui; tak peduli ia membuang
kotoran dan ompol

Ia begitu disayangi bagai bola bagi
Sang Kilin (unicorn).

Ketika bertumbuh besar dan meninggalkan
ibu tirinya

Kepada siapa ia [Sang ibu tiri] boleh singgah
di kala usia senja?

Karena engkau tak memiliki saudara ketika
ayahmu telah tiada,

Pada siapa lagi emak-tiri dan kedua istrimu bisa
menggantungkan hidup?

Engkau tak tahu betapa sulitnya membesarkan
Anak: duh, makin kupikir makin nelangsa hati ini.

Bahkan sampai bersedia menjadi ibu hantu
yang mencari anak,

Bagaimana jadinya aku apabila dipisahkan oleh
gunung yang diselimuti awan?

Terlalu berpikir keras akan kelahiran dan kematian,
engkau tidak
Mengingat Pang-yun yang [ tetap] tinggal di rumah


.Hewan legendaris ini digambarkan di Tiongkok sebagai me-meluk atau mengejar
sebuah bola yang merupakan harta pusakanya.

Maksudnya: saya dapat menunggu hingga saat ajal menjemput dan menjadi hantu
untiik mencarimu, [meskipun] hingga saat ini kita terpisah jauh. Ini mencerminkan
sentimentil Tiongkok bahwa perpisahan semasa hidup lebih menyakitkan ketimbang
kematian.

Upasaka Pang-yun, umat awam, mencapai pencerahan KENDATI tidak bergabung
dengan Sangha. Baris ini berarti, "Mengapa engkau tidak mengikuti teladannya dan
tinggal di rumah untuk memelihara istri dan orangtuamu yang telah lanjut usia."


Perasaan duniawi dan kecintaan akan Dharma,

apakah keduanya tidak sama saja?

Bahkan burung-burung di pegunungan mengetahui
bahwa mereka mesti pulang ke sarang tatkala
mentari t'lah masuk ke peraduan. . .

Meskipun panggilan untuk memenuhi ikrar kita adalah
sama,

Tiap hari kita membersihkan gunung dingin dengan
hijau kebiruannya.

Menjadi putra Sang Raja Shunyata, engkau seharusnya
mengetahui

Bahwa Sang Bhagava membebaskan kakak wanita
ibuNya.

Saya membenci dunia yang kacau ini dan membiarkan
pikiranku

Berhenti demi kepulanganku ke Sukhavati.


"Gunung Dingin" di sini melambangkan sang "diri-sejati" yang hakekatnya tidak
diliputi hawa nafsu keinginan dan mengalihkan bahunya yang dingin pada hal-hal
duniawi. "Biru-ke-hijauan" melambangkan kebiasaan-kebiasaan (habits) duniawi.
Hal ini berarti bahwa ibu angkat serta istri-istrinya yang menjadi bhiksuni hanyalah
membasuh hakekat sejatinya hingga bersih dari segala perasaan dan hawa nafsu
duniawi, meski mereka tidak melaksanakan karya-karya Bodhisattva, seperti halnya
SangMahaguru.

Raja Shunyata adalah Sang Buddha. Wanita tua itu me-ngeluhkan putra tirinya yang
dianggap tidak berpikir untuk membebaskan orangtua dan kedua istrinya.


Gatha Kedua

Jika seseorang tinggal di dunia karena
kemelekatan cintanya, itulah delusi

Dan nafsu-keinginan bakal menyebabkannya lupa
terhadap Sang diri-sejati

Selama lebih dari delapan puluh tahun hidupku
diliputi khayal dan mimpi.

Tiada sesuatu pun yang tertinggal, tatkala
selaksa hal kembali pada kekosongan

Terbebas sekarang dari jeratan masa-laluku,
aku akan terlahir dalam

Tubuh nan murni dan ajaib di Alam Teratai

Barangsiapa yang bisa melafal nama
Buddha agar dapat kembali ke Sukhavati

Seharusnya tak menbiarkan dirinya tenggelam
dalam samudra kepahitan.




#44 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 15 February 2013 - 06:29 PM

Surat dari Bhiksuni Qing-jie

Salam dari jauh, Yang Arya. Saya tak pernah berhenti memikiri Anda sejak Anda
meninggalkan kami; namun oleh karena gunung tersaput awan memisahkan kita, saya
gagal memperoleh kabar apapun darimu. Saya yakin bahwa Anda telah mencapai
kesehatan yang baik dalam intisari Dharma dan bahwa Anda sudah menyelaraskan
keheningan dan aktivitas. Lebih dari lima puluh tahun berlalu semenjak engkau pergi dari
rumah, tetapi karena Anda selalu berkelana ke sana kemari bagai makhluk setengahdewa
yang sibuk, maka saya menyesal karena tak dapat datang dan melayani Anda.

Pada bulan pertama tahun ini, secara tak langsung saya mendengar bahwa Anda
menjalani kehidupan retret yang bebas dan nyaman di Propinsi Fujian. Saya merasa
setengah gembira dan setengah sedih tatkala mendengar berita itu, tetapi yang paling
bingung adalah tentang di mana engkau tinggal. Makin saya berpikir mengenai ketidaksanggupan
Anda buat membalas budi terhadap orang tuamu, dan pengesampingan semua
perasaan terhadap istri-istrimu, maka semakin saya tak mampu memahami bagaimana
Anda sanggup melakukan semua ini. . .

Terlebih-lebih, karena Anda tidak memiliki sau-dara laki-laki dan oleh sebab orang tua
Anda telah lanjutusia ketika melahirkan Anda, maka kita tidak beruntung untuk bisa
meneruskan garis silsilah keluarga. Di rumah, tiada seorang dapat menopang keluarga
yang telah ditinggalkan dengan tanpa seorang ahliwaris pun. Manakala mengingat hal ini
saya tak mampu menahan leleh air mata.

Ajaran Konfusius menekankan pentingnya kelima hubungan ini dan juga sikap bakti.
Pada zaman dahulu, bahkan manusia setengah dewa seperti Han-xiang masih memikirkan
untuk menyelamatkan pamannya .yang bernama Han-yu, dan juga istrinya. Sebagaimana
pula halnya guru kita, Bhagavat Buddha,, yang memperlakukan kawan dan lawan secara
sama.

Hubungan antara (1) Raja dan menteri, (2) ayah dan anak, (3) suami dan istri, (4)
persaudaraan, (5) persahabatan


Ia pertama-tama membebaskan Devadatta [yang merupakan sepupu dan musuhNya] dan
juga istriNya sendiri, Yasodhara. Apakah benar bahwa memang tidak ada ikatan karma
di antara kita? Jika Anda tidak merasa tersentuh oleh kenyataan bahwa kita aslinya
adalah berasal dari daerah yang sama, maka engkau setidak-nya ingat untuk membalas
budi orangtuamu. Saya merasa wajib mengabarkan beberapa hal mengenai keluarga
[kita].

Sesudah Anda meninggalkan rumah, ayahmu me-ngirimkan utusan mencari Anda - namun
gagal. Ia merasa sangat nelangsa dan karena kesehatannya yang semakin menurun, maka
beliau meletakkan jabatan dan pulang ke rumah buat memulihkan diri. Lebih dari setahun
kemudian, ia meninggal pada tanggal keempat bulan keduabelas tahun Jia-zi
(1864/65).

Setelah pemakamannya, ibu tiri Anda, Nona Tian, dan saya berga-bung dengan Sangha
dan menerima nama Dharma Miao-jing (Kemurnian Mendalam) , Zhen-jie (Kebersihan
Se-jati), dan Qing-jie (Kemurnian nan Jernih). Urusan keluarga kita diserahkan ke tangan
paman dan bibi yang lalu menyumbangkan sebagian besar yang kita miliki sebagai dana
paramita.

Setelah empat tahun masa pengabdian terhadap Dharma, Nona Tian muntah darah,
meninggal dunia. Selanjutnya pada tahun Yi-hai (1875/76) , pamanmu meninggal di
Wenzhou. Kakakku sekarang menjadi kepala prefektur di Xining.

Sungguh menyentuh: membaca 'keluhan' dari sisi istri Sang Mahaguru...Dan menarik
pula bahwa istrinya membahasakan istri yang lain sebagai 'Nona Tian' (Miss Tian) -
dengan demikian, terlepas dari segala nuansa warna hubungan mereka, sebutan ini
mengkonfirmasi kisah Sang Mahaguru, yang bahwa: kendati se-kamar, tetapi relasi
mereka tetap murni [mereka tidak melakukan hubungan intim suami-isteri] - ed.


Sepupu Anda, Yong-guo, pergi ke Jepang dengan saudara laki-laki ketiga Nona Tian.
Sepupu Anda yang bernama Hun-guo, telah dijadikan penggantimu; dan mengenai sepupu
Anda, Fu-guo, tiada kabar berita pun darinya semenjak meninggalkan rumah bersamasama
dengan Anda.

Para bijaksana di zaman lampau berkata, "Orang yang memiliki kebajikan besar tidak
memiliki keturunan." Dalam kehidupan lampau, Anda pastilah seorang bhiksu yang
sekarang bereinkarnasi, tetapi: Anda bertanggung jawab atas terputusnya garis keturunan
dua keluarga. Meskipun Anda seorang Bodhisattva yang ber-usaha membebaskan semua
makhluk, tak bisalah mencegah orang umum yang tak paham - mereka bakal menyalahkan
Anda akan kegagalan dalam sikap bakti.

Saya juga gagal untuk berbakti, namun saya memang mengagumi akar sejati dari
spiritualitasmu serta tekad-teguh tak tergoyahkan bagai bunga teratai yang tak dapat
dikotori lumpur tempatnya bertumbuh. Tetapi mengapa Anda meninggalkan propinsi
kelahiran Anda, melupakan sepenuhnya asal usulmu? Inilah sebab mengapa kutulis surat
ini ke padamu.

Musim dingin lalu, tanggal delapan bulan kedua-belas (18 Januari 1910), ibu tiri Anda,
Bhiksuni Miao-jin meninggal dunia, menuju ke alam Sukhavati. Ia duduk bersila dan
melafal gatha-gatha sebelum wafat. Be-gitu gatha-gatha itu selesai dilantunkannya, maka
beliau langsung wafat dan seluruh biara dipenuhi oleh aroma harum luar biasa yang
bertahan selama beberapa hari bersama dengan jenazah beliau. [Meskipun telah
meninggal], tubuh beliau masih berada dalam posisi duduk bersila, seolah-olah masih
hidup. --- Duh! Meski dunia ini memang bak mimpi dan ilusi, tapi bahkan pria berhati
baja pun takkan tahan untuk tak menangis dalam situasi seperti itu.

Surat ini ditulis dengan tujuan buat memberi-tahu Anda mengenai keadaan keluarga dan
harapanku agar setelah menerimanya, Anda bisa pulang bersama-sama dengan sepupumu
Fu-guo. Lebih jauh lagi, Ajaran suci memang sudah mengalami kemerosotan dan Anda
seharusnya mengetahui bahwa merupakan tugas Anda memperbaikinya. Tidak dapatkah
Anda meneladani Maha-kasyapa dan mengirim cahaya keemasan sehingga saya bisa
menjadi saudara se-Dharmamu? Mata saya berlinang air mata dan akan terus memendam
harapan ini sepanjang sisa hidupku. Kata-kata tidaklah banyak berarti dan bahkan seribu
kata tak dapat mengungkap semua perasaanku, semua makna yang harus disampaikan.

Engkau adalah ibarat seekor angsa meninggalkan tempat tinggalnya

Memilih membumbung nan tinggi di angkasa, terbang ke Selatan seorang diri.

Sungguh kasihan rekannya yang ditinggal di sarang

Kepedihannya diperdalam oleh jarak yang memisahkan mereka.

Aku menatap rembulan di cakrawala sana

Dan mataku berlinang air mata tiada pernah kering.

Di bantaran Sungai Xiang aku tinggal untuk masa yang panjang

Dan bambu-bambu pun kian di tandai oleh banyak ruas.

Anda pastilah telah mencapai Dao yang agung

Dan matahari kebijaksanaan Anda akan bersinar gemilang.

Suatu kali kita pernah merupakan sahabat dalam rumah yang terbakar,

Kini kita adalah sahabat dalam Kota Dharma.



Dengan penuh hormat ditulis oleh Bhiksuni Qing-Jie, yang tercekat kepedihan di atas
Gunung Guan-Yin, hari ke19, bulan ke 2 tahun Geng-Shu (29 Maret 1910)

Catatan dari Cen Xue-lu, Editor dari Master Xu-yun

Ketika Master Xu-yun menerima surat di atas, batinnya campur aduk: sedih karena tak
sempat membalas budi orang tua, tetapi juga bersukacita karena setelah empat puluh
tahun pengabdian dalam Dharma, bhiksuni Miao-jin di saat kematian batinnya tak lagi
bergeming, sebagaimana terlukis di dua gatha buah karyanya dimana memberitahukan
bakal lahirnya kembali Beliau di Sukhavati

Perumpamaan dalam Sutra Teratai yang membandingkan dunia yang selalu diliputi
penderitaan ini dengan sebuah rumah terbakar. Gatha dari Bhiksuni Qingjie mengacu
pada perumpamaan ini.


Bersambung ke bab 10...

Edited by Top1, 15 February 2013 - 06:31 PM.


#45 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 17 February 2013 - 09:54 PM

Bab 10. Sang Juru Damai

USIA Ke 72 (1911/12 ) Pada musim semi tahun itu, acara transmisi siladilanjutkan
dengan tujuh minggu retret meditasi Chan, tujuannya untuk memperkenalkan duduk
bermeditasi yang lebih lama kepada para pesertanya. Tiap periode meditasinya
sepanjang beberapa batang dupa ter-bakar habis. Retret musim panas diselenggarakan
dengan disiplin ketat.

Meletusnya revolusi di Wuchang kami dengar pada bulan kesembilan, dimana hal itu
menimbulkan ke-kacauan besar. Kota Binchuan yang dikelilingi tembok di-kepung dan
kekerasan terjadi di mana-mana. Saya sempat berperan sebagai juru damai. Dikarenakan
oleh kesalah-pahaman, Komandan Li Gen-yuan mengirim pasukan untuk mengepung
Gunung Kaki Ayam, tetapi ia merasa puas oleh penjelasan saya mengenai situasi saat itu.
Ia berbalik [menganut Buddhisme] dan berlindung pada Triratna serta kemudian
meninggalkan tempat itu bersama anak buahnya.

Catatan dari Cen Xue-lu, Editor dari Master Xu-yun

Sang Mahaguru hanya mendiktekan sedikit baris di atas --- tetapi saya, Cen Xue-lu, telah
membaca secara lengkap buku arsip negara Catatan Sejarah Propinsi Yunnan, dimana
saya mengutip beberapa di antaranya. Kerendahan hati Master Xu-yun yang tidak
menceritakan semuanya, memperlihatkan kemuliaan beliau. Adapun sebagian catatan
yang bisa dikutip adalah sebagai berikut:

Sementara Sang Mahaguru menyebarkan Dharma dan berkarya untuk keselamatan para
makhluk di Yunnan, bencana-bencana berikut ini telah bisa dihindari sebagai hasil turun
tangan Beliau:

1. Pada masa keruntuhan Dinasti Manchu [1911-12], Kepala Prefektur Binchuan
bernama Zhang. Ia memerintah dari Changsha dan merupakan seseorang yang mengerikan
serta suka ikut campur. Wilayah itu dipenuhi oleh para bandit dan meskipun Zhang telah
menangkap serta menembak mati banyak di antaranya, jumlah mereka bertambah banyak
dan bergabung bersama dalam serikat rahasia; demi harus mencari selamat, orang baik-baik
pun juga bergabung dengan mereka dan sebagai akibatnya dihukum berat oleh
Zhang, dimana ia juga menangkap para bhiksu tak bermoral dari Gunung Kaki Ayam;
namun sebaliknya ia sangat menghormati Sang Mahaguru [Xu-yun].

Ketika Revolusi pecah, warga Binchuan bergabung bersama dan mengepung pusat
pemerintahan prefektur yang dipertahankan mati-matian oleh Zhang. Oleh karena tidak
ada kesempatan meminta bala bantuan, maka ia tidak mempunyai harapan. Tatkala
Master Xu-yun turun gunung dan pergi ke prefektur itu, warga yang mengepung berseru,
"Master, tolong seret Zhang keluar sehingga kami dapat membunuhnya untuk meredakan
kemarahan rakyat."

Sang Mahaguru menolak hal tersebut; namun ketika pemimpin rombongan tersebut
mengajukan permintaan yang sama, maka beliau berkata, "Tidak-lah sulit untuk
membunuh Zhang. Daerah perbatasan ini dipenuhi oleh rumor dan situasinya masih
kacau. Jika kalian mengepung sebuah kota dengan tujuan membunuh pejabatnya, maka
kalian semua bakal dihukum apabila bala bantuan pusat tiba."

Sang pemimpin bertanya, "Kalau begitu bagaimana saran Suhu?"

Master Xu-yun menjawab, "Prefektur Dali terletak dua hari perjalanan dari sini dan
gubernur Propinsi Sichuan sedang dalam perjalanan kunjungan kemari. Jika kalian
menghadap padanya dan mendakwa Zhang, maka ia dapat dijatuhi hukuman mati dan
kalian akan terbebas dari tindakan main hakim sendiri."

Pemimpin rombongan itu menuruti saran Sang Mahaguru dan menarik tentaranya ke luar
kota. Ketika Master Xu-yun memasuki gedung pusat pemerintahan prefektur, ia melihat
Zhang menggenggam senjata, siap menyongsong kaum pemberontak. Zhang
menganggukkan kepala "kepada Sang Mahaguru dan berkata, "Saya [hanya semata-mata]
menjalan-kan tugas dan sangat berterima kasih apabila Anda menyediakan tanah kuburan
di Gunung Kaki Ayam kalau saya mati. "

Sang Mahaguru menjawab, "Itu tidak perlu terjadi; setiap orang di sini menghormati
Kepala Prefektur Zhang Jing-xian. Anda bisa mengundangnya datang."

Ketika Zhang Jing-xian tiba, ia merundingkan gencatan senjata dan kaum revolusioner
pun mengundurkan diri. Prefek Zhang lalu pergi ke Prefektur Dali untuk memohon bala
bantuan dan tatkala tiba di sana, mereka mengakhiri pengepungan itu. Pada saat Prefek
Zhang meninggalkan tempat itu, Yunnan telah memproklamasikan kemerdeka-annya
[terlepas dari Dinasti Manchu]. Jenderai Cao-i ditunjuk sebagai gubernur dan teman
sekolah lamanya yang merupakan putera Zhang, menjadi sekretaris urusan luar negeri.
Sebagai rasa terima kasih pada Sang Mahaguru, Zhang menulis surat pada Beliau, "Anda
tidak hanya menyelamatkan jiwa saya, tetapi juga merupakan juru selamat Prefektur
Binchuan. Tanpa campur tangan Anda, saya barangkali telah dibunuh dan putera saya
bakal menuntut balas atas kematian saya.

2. Sesudah diproklamasikannya Republik Tiongkok,
Buddha Hidup dan para Lama tinggi Tibet memanfaatkan kesempatan atas runtuhnya
Dinasti Man-chu itu serta menolak untuk mengibarkan bendera Republik. Pemerintah
pusat menginstruksikan pejabat propinsi Yunnan mengirim Yin Shu-huan dengan dua
divisi tentara untuk menindak mereka dan pasukan itu telah mencapai Binchuan. --- Sang
Master berpikir bahwa apabila kekerasan ini di-mulai, maka kekerasan tanpa akhir akan
timbul di kawasan perbatasan.

Kutipan dari Catatan Sejarah Propinsi Yunnan ini mem-bangkitkan isu lama
mengenai penguasaan Tiongkok atas Tibet. Pandangan bahwa kepenguasaan
[Tiongkok atas Tibet] adalah sesuatu yang sudah sewajarnya itu berasal dari kaum
penguasa. Berabad-abad yang lalu, baik Burma dan Tibet secara resmi berada di
bawah kendali politik Tiongkok.

Para pembaca janganlah me-nyamakan gagasan politik ini dengan pandangan
pribadi Mahaguru Xu-yun. Peran sang Mahaguru hanyalah semata-mata sebagai
juru-damai yang memikirkan nasib rakyat Tibet dan yang lainnya. Permasalahan
otonomi Tibet bukanlah tema pembicaraan di sini, tetapi beberapa bagian telah
dihapus di sini dari Catatan Sejarah Propinsi karena kepekaan hal ini.

Catatan dari penterjemah Bahasa Indonesia:

Bendera Republik yang baru memiliki warna merah, kuning, biru, putih, dan hitam
yang melambangkan kelima suku utama di Tiongkok pada masa itu. Merah
melambangkan Bangsa Han, kuning melambangkan Bangsa Manchu, biru
melambangkan Bangsa Mongolia, putih melambangkan Bangsa Tibet, dan hitam
melambangkan Bangsa Hui


Ia kemudian menyertai rombongan pasukan ke Prefektur Dali, di mana beliau ber-kata
pada Sang komandan, "Bangsa Tibet beragama Buddha dan jikalau Anda bersedia
mengirim seseorang yang paham Dharma untuk berdialog dengan mereka, maka tidak
perlu lagi mengirim tentara menghukum mereka.'

Yin mendengarkan nasehat Sang Mahaguru dan meminta beliau pergi ke Tibet dalam
suatu misi perdamaian. Namun Sang Mahaguru berkata, "Saya adalah seorang
berkebangsaan Han (Tionghwa) dan merasa khawatir bahwa hal ini akan gagal. Tetapi di
Lichuan terdapat seorang Lama bernama Dong-bao yang telah lama mengabdi pada
Dharma, selain itu, kebajikan agungnya telah tersohor ke mana-mana dan beliau
dihormati [banyak orang]. Bangsa Tibet menghormatinya dengan menyebut beliau sebagai
"Raja Dharma dari Empat Mestika." Jika Anda mengutus beliau, maka misi ini
bakal berhasil. "

Keempat Mestika dalam Buddhisme Tibet adalah Lama (Guru), Buddha, Dharma, dan
Sangha.


Yin sesudah itu menulis sepucuk surat untuk agar Sang Master sampaikan kepada Sang
Lama. Selain itu ia juga mengirim beberapa pejabat guna menyertai Sang Mahaguru ke
Li-chuan. Dong-bao pada mulanya menolak terlibat mengingat usianya yang telah lanjut,
tetapi Sang Mahaguru berkata, "Bangsa Tibet masih gemetar ngeri tatkala teringat ekspedisi
penyerbuan yang dipimpin oleh Zhao Er-feng, Apakah Anda menyayangkan "tiga
inchi lidah" Anda, sehingga mengabaikan nyawa serta harta benda ribuan orang?" ---
Sang Lama kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berkata, "Baik-baiklah, saya
akan pergi, saya akan pergi. . . . "

la mengunjungi Tibet dengan disertai oleh seorang bhiksu tua bernama Fa-wu, dan
berhasil mewujudkan perjanjian gencatan senjata serta pulang kembali ke tempat
asalnya. Perjanjian ini berhasil mempertahankan perdamaian selama tiga puluh tahun
berikutnya.

Keberhasilan Mahaguru membawa Tripitaka ke Yunnan serta menyebarkan Dharma di
sana untuk menyadarkan banyak orang membuat beliau tersohor serta dihormati para
penduduk setempat, dimana mereka menggelarinya 'Bhiksu Tua Xu-yun yang Agung." ---
Revolusi politik dan penurunan Kaisar [Manchu] dari tahtanya segera diikuti peristiwa
pengusiran para bhiksu dan penghancuran vihara-vihara..

Li Gen-yuan yang menjadi komandan pasukan propinsi membenci para bhiksu yang tidak
mentaati Vinaya. Pada saat memimpin pasukan ke daerah pegunungan di Yunnan untuk
mengusir para bhiksu dan menghancurkan biara-biara mereka, ia bertanya-tanya pada
dirinya sen-diri bagaimana mungkin Sang Mahaguru, yang hanya seorang rahib rniskin
bisa memenangkan hati pen-duduk setempat? Hal ini membuatnya kesal sehingga ia
mengeluarkan perintah untuk menangkap Mahaguru Xu-yun.

Melihat bahaya yang kian mendekat, hampir semua bhiksu kabur dari biara. Hanya
seratus orang yang tetap tinggal dengan Sang Mahaguru dan dicekam kepanikan.
Beberapa orang menyarankan beliau untuk bersembunyi, tetapi ia berkata, Jika kalian
mau pergi, maka silahkan pergi, tetapi apa gunanya lari kalau seseorang memang harus
menuai buah karmanya? Saya siap mati sebagai martir demi ke-yakinan saya pada
Buddha dharma."

Sekumpulan orang itu lalu memutuskan tetap tinggal dengan beliau. Beberapa hari
kemudian, Li Gen-yuan memimpin pasukannya ke gunung dan singgah di Biara Xitan.
Mereka menyeret keluar patung perunggu Maharaja (pelindung biara) yang terletak di
puncak Gunung Kaki Ayam serta menghancurkan aula pemujaan Buddha dan altar deva.
Melihat keadaan makin kritis, Master Xu-yun turun gunung menuju ke tempat Sang
komandan. Beliau lalu memperlihatkan kartu identitasnya pada penjaga di pintu gerbang.
Orang-orang mengenali beliau, lalu memperingatkan betapa besar bahaya yang bakal
timbul; mereka menolak menyampaikan kartu itu pada atasannya.

Mengabaikan peringatan mereka, Sang Mahaguru menerobos gerbang. Komandan Li
sedang di balai-rung utama berbincang dengan Zhao-fan, bekas gubernur Propinsi
Sichuan. Master Xu-yun maju memberi salam kepada Sang komandan, yang tak
mengacuhkannya. Zhao-fan mengenali Sang Mahaguru, menanyakan darimana beliau
datang, sehingga Master Xu-yun memiliki alasan buat me-nyampaikan maksud
kedatangannya. Dengan meradang, Sang komandan mendamprat, "Apa sih gunanya
Buddha dharma?!"

Master Xu-yun menjawab, "Ajaran suci bermanfaat bagi generasi ini dan ditujukan buat
menyelamatkan mereka yang menderita. Ia mengagung-kan kebajikan serta menghapus
kejahatan. Semenjak zaman dahulu kala, raenjalarikan pemerintahan dan praktik
keagamaan telah berjalan beriring-an. Yang pertama (pemerintahan) bertujuan
menciptakan perdamaian dan ketertiban, sementara yang kedua (agama) bermanfaat untuk
mewujudkan warga masyarakat yang baik. Ajaran Buddha menekankan pengendalian
pikiran, yang merupakan akar dari segala fenomena. Jika akarnya benar, maka segala
sesuatu bakal tertib.

Komandan Li sedikit mereda dan bertanya, "Apa gunanya patung dari tanah liat dan
kayu? Tidakkah semuanya itu merupakan pemborosan?"

Sang Mahaguru menjawab, "Sang Buddha membabarkan Dharma beserta rumusanrumusan
formalnya. Rumusan-rumusan ini merupakan doktrin yang memerlukan
lambang-lambang agar bisa dikenali serta membangkitkan rasa hormat dan bakti. Orang
yang tidak memiliki perasaan ini mudah sekali melakukan kejahatan dan dengan demikian
menimbulkan masalah serta kemalangan. Penggunaan patung tanah liat dan kayu di
Tiongkok serta perunggu di negara lain bertujuan untuk membangkitkan perasaan takzim
dan hormat. Pengaruhnya bagi masyarakat sungguh tak terbayangkan. Meskipun demikian
Ajaran Pamungkas yang dibabarkan oleh Sang Buddha adalah, "Jika seluruh fenomena
tidak dipandang sebagai sesuatu yang nyata, maka [barulah seseorang] dapat melihat
Sang Tathagata."

Li nampaknya puas dengan jawaban ini dan mengundang Sang Mahaguru untuk bersantap
kue dan minum teh. Ia kemudian bertanya, "Mengapa para bhiksu tidak melakukan
kebajikan dan malah sebaliknya bertingkah laku aneh, sehingga tidak ada manfaatnya
bagi negara?"

Sang Mahaguru menjawab, "Gelar 'bhiksu' hanya-lah semata-mata sebuah nama. Oleh
karena itu, ada yang namanya bhiksu suci dan bhiksu dunia-wi. Tidaklah adil untuk
menyalahkan seluruh anggota Sangha oleh karena kesalahan satu atau dua orang saja.
Dapatkah kita menyalahkan Konfusius oleh karena tingkah laku buruk dari para
penganutnya?

Anda memimpin pasukan propinsi tetapi terlepas dari disiplin militer, apakah Anda
mengharap seluruh pasukan yang Anda pimpin bisa se-pintar dan sejujur Anda? Kita
memandang samudera sebagai sesuatu yang luas, oleh sebab ia tak pernah menolak
menampung seekor ikan atau udang pun, dan apa yang dinamakan Hakekat Sejati adalah
bak samudera Buddhadharma karena ia dapat menampung segala sesuatu. Tugas Sangha
adalah menjaga Ajaran Buddha, mengawal Sang Triratna, serta membimbing dan
mengubah orang lain [ke dalam kebajikan] dengan cara-cara tertentu -- pengaruhnya
sungguh luar biasa. Jadi ia sama sekali bukannya tidak bermanfaat. "

Komandan Li sangat puas dengan penjelasan itu; ia tersenyum dan menganggukkan kepala
sebagai tanda hormat. Ia lalu mengundang Sang Mahaguru dalam santap malam
vegetarian. Lilin-lilin di-nyalakan dan pembicaraan beralih pada hukum se-bab-akibat
dalam kemelekatan duniawi serta buah-buah karma sehubungan dengan kesinambungan
duniawi atau para makhluk.

Pada perbincangan ter-sebut, prinsip-prinsip yang lebih mendalam juga disinggung. Li
kini jadi bersikap simpatik dan hormat pada Mahaguru Xu-yun. . . Akhirnya, ia menghela
nafas panjang dan mendesah, "Buddhadharma itu ternyata sungguh luas nan tak terbatas,
tetapi aku sudah membunuh para bhiksu dan menghancurkan biara-biara. Aku tentu saja
sudah melakukan karma buruk, kini apa yang harus aku perbuat?"

Master Xu-yun berkata, "Ini semua disebabkan oleh arus derap zaman dan bukan sematamata
salah Anda. Saya berharap agar Anda berusaha melin-dungi Dharma di masa
mendatang - tiada lagi ke-bajikan yang melampaui hal ini. " Li merasa sangat gembira
dan pindah ke Biara Zhu-sheng, di mana ia bercampur baur dengan para bhiksu dan
berbagi makanan vegetarian dengan mereka...

Tiba-tiba seberkas- sinar keemasan memancar dan menerangi mulai dari puncak hingga
kaki bukit. Tetumbuhan yang ada jadi berwarna kuning bagaikan emas. Dikatakan bahwa
pada saat itu tiga macam cahaya: Cahaya Buddha, cahaya berwarna keperakan, dan
cahaya keemasan. Cahaya Buddha dapat di-jumpai setiap tahun, namun setelah biara itu
di-bangun, maka cahaya keemasan dan keperakan hanya nampak beberapa kali saja.

Li Gen-yuan sangat terkesan dan memohon agar diterima sebagai murid oleh Sang
Mahaguru. Li juga minta Master Xu-yun menjadi Pemimpin Kepala Biara yang
mengepalai seluruh Gunung Kaki Ayam. Lalu ia menarik mundur tentaranya . . . - Jika
kebajikan mendalam Sang Mahaguru tidak selaras dengan Dao, bagaimana mungkin
beliau dapat mengubah pikiran Sang komandan dalam waktu yang begitu singkat?

(Demikian penutup kutipan dari arsip Catatan Sejarah Propinsi Yunnan.)


Musim dingin tahun itu, oleh sebab perselisihan antara Asosiasi Buddhisme Tiongkok
serta Perkumpulan Buddhis Universal di Shanghai, maka saya menerima telegram dari
Asosiasi Buddhisme Tiongkok yang meminta agar saya mengunjungi mereka secepatnya
di Nanjing. Setibanya di sana, saya diundang oleh Mahaguru Pu-chang, Tai-xu, Re-shan,
dan Di-xian untuk mendiskusikan masalah itu dengan mereka. Kami setuju untuk
membangun pusat Asosiasi Buddhis di Vihara Jing-an. Kemudian, bersama-sama dengan
dengan Master Ji-chan, saya pergi ke Beijing, di mana kami tinggal di Biara Fa-yuan.

Suatu hari, Mahaguru Ji-chan merasa tidak enak badan dan meninggal dalam posisi
duduk bermeditasi. Saya mengawasi upacara ritual kematian dan membawa peti matinya
ke Shanghai. Di Vihara Jing-an, pusat Asosiasi Buddhis secara resmi dibuka dan sebuah
tugu peringatan bagi Mahaguru Ji-chan didirikan. Saya menerima surat kuasa resmi guna:
pendirian cabang Asosiasi Buddhis di Propinsi Yunnan, Guizhou, serta kawasan
Yunnan-Tibet.

Tatkala saya hendak kembali ke Yunnan, Upasaka Li Gen-yuan (yang juga disebut Li-
Yin-juan), memberi surat pengantar mengenalkan saya ke Gubernur Cai-o dan seluruh
pejabat resmi propinsi lainnya agar mereka [bersedia] melindungi Dharma.


Bersambung ke Bab 11 ...

#46 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 19 February 2013 - 12:19 AM

Bab 11. Buddha Batu Giok

USIA Ke 73 (1912/13) Sekembalinya ke Yunnan, dengan segera saya mulai
mengorganisasi cabang-cabang Asosiasi Buddhis serta menyelenggarakan rapat umum di
Vihara Wen-Chang, di mana saya meminta Mahaguru Lao-chen mendirikan sebuah
cabang di Propinsi Guizhou. Para Hutuktu dan Lama Tibet datang dalam jumlah besar
dari tempat-tempat yang jauh. Kami memutuskan untuk membentuk gugus-gugus tugas
guna menyebarkan Dharma serta membuka sekolah-sekolah Buddhis, rumah sakit, serta
institusi sosial lainnya.

Hutuktu adalah istilah yang berasal dari bahasa Sino-Mongolia; artinya kurang lebih
sama dengan istilah bahasa Tibet Tulku. Maksudnya adalah seorang Lama tingkat
tinggi, yang selalu dipandang sebagai kelahiran kembali seorang suciwan
dengan kekuatan luar biasa. Dalam tradisi Lamaisme Mongolia, seorang Hutuktu
pada umumnya mengepalai banyak kuil yang terletak pada wilayah luas.


Pelbagai Peristiwa Gaib

Tahun itu, terjadi peristiwa yang layak dicatat. --- Seorang penduduk desa membawa
seekor burung sejenis beo (mynah) ke Asosiasi Buddhis cabang Yunnan-Tibet buat
dilepas di sana. Burung itu penampilannya bagus. Pada mulanya ia diberi makan daging,
tetapi setelah diajarkan untuk berlindung pada Triratna serta melafal nama Buddha,
burung itu tak mau lagi makan daging. Ia menjadi jinak dan me-nikmati kebebasannya.
Sepanjang hari ia tak pernah berhenti melafal nama Buddha Amitabha dan Bodhisattva
Avalokitesvara. --- Suatu hari tiba-tiba ia disambar elang dan kala tubuhnya diseret ke
angkasa, beo itu bahkan masih tetap melafalkan nama Buddha.

Meski hanya seekor burung, tatkala dalam bahaya tak pernah ia berhenti sedikit pun
dalam memusatkan pikiran pada Sang Buddha. Bagaimana mungkin sebagai manusia kita
kalah oleh seekor burung?

USIA Ke 74 ( 1912/14 ) Setelah dibuka [secara resmi], Asosiasi Buddhis mulai
meregistrasi hak milik biara serta memulai proyek-proyek baru yang banyak berhubungan
dengan para pejabat sipil. Kami menghadapi kesulitan dengan seseorang bernama Lo
Yung-xian yang merupakan kepala administrasi sipil di propinsi itu; selain itu ia juga
menghambat pekerjaan kami. Turun tangannya Gubernur Militer Cai-o secara berulang-ulang
tidak membuahkan hasil apa-apa.

Para Hutuktu Tibet dan para anggota Asosiasi Buddhis meminta saya untuk ke Beijing
melaporkan masalah tersebut pada pemerintah pusat. Perdana Menteri saat itu, yakni
Xiong-Xi-ling merupakan seorang penganut Buddhis yang taat dan beliau memberikan
bantuan dan dukungannya untuk me-narik Lo Yung-xian ke ibu kota. Selanjutnya
kedudukan Lo digantikan oleh Ren Ke-qing. Sekembalinya ke Yunnan, saya mendapati
bahwa Ren bersimpati terhadap Dharma dan memberikan dukungan penuhnya.

USIA Ke 75 (1914/15) Jenderal Cai-o pergi ke Beijing dan Tang Ji-yao ditunjuk
sebagai Gubernur Militer Propinsi Yunnan menggantikannya. Karena ingin kem-bali
beristirahat ke Gunung Kaki Ayam, maka saya menyerahkan manajemen Asosiasi
Buddhis kepada para pengurusnya.

Begitu kembali ke gunung, tidak berapa lama kemudian saya mulai memperbaiki Biara
Xing-yuan di sana dan Vihara Lo-quan di Xiayang. Segera setelah saya merampungkan
rencana-kerja proyek renovasi ini, para kepala biara dari Gunung He-qing dan daerah
sekitarnya mengundang saya ke Gunung Long-hua guna membabarkan Sutra-Sutra.

Selanjutnya, Kepala Biara Zhen-xiu meminta saya ke Biara Jin-shan di Lijiang buat
membabarkan Sutra-Sutra, sehingga dengan demikian hal ini memungkinkan saya untuk
melakukan perziarahan ke Gua Taizi di Gunung Xue. Saya mengunjungi Weixi, Zhongtian
dan A-tun-zi, dimana pada akhirnya saya mencapai perbatasan Tibet. Di sana saya
mengunjungi tiga belas biara besar dan sesudah itu kembali ke Gunung Kaki Ayam,
tempat saya melewatkan Tahun Baru.

Ada lagi peristiwa penting untuk dicatat:

Tahun itu, ketika sedang berada di Gunung Long-hua untuk membabar Sutra, seluruh
empat distrik dari Prefektur Dali tiba-tiba saja dilanda gempa hebat. Hampir semua
bangunan roboh, termasuk dinding kota. Pengecualiannya hanyalah Pagoda Yu-bao dari
biara, yang tetap berdiri tegak.

Selama terjadinya bencana itu, tanah mengkap terbelah sendiri serta menyemburkan api
yang menyebar ke mana-mana. Penduduk kota berjuang buat lari menyelamatkan nyawa,
tetapi di hampir setiap langkah, tanah sigar di bawah kaki mereka sehingga terperosoklah
mereka ke dalam rekahan bumi.

Tatkala mereka berusaha keluar, tanah di sekeliling bergerak cepat merapat kembali,
mencabik-cabik tubuh... Beberapa buah kepala manusia tinggal menyembul keluar dari
dalam tanah -- pemandangan miris - mirip dengan neraka yang disebut dalam kitab-kitab
Buddhis; keadaan sungguh amat mengenaskan. Ada sekitar seribu rumah di dalam kota;
banyak di antaranya rusak parah.

Pada saat itu, di dalam kota terdapat toko penyepuhan emas yang dikelola oleh keluarga
Zhao dan Yang. Nama Buddhis dari Zhao dan Yang masing-masing adalah Wan Chang
serta Zhan Ran. Api yang mengamuk hebat tiba-tiba saja mereda --- padam dengan
sendirinya secara misterius sebelum mencapai tempat tinggal mereka.

Selain itu: rumah mereka tidak diterjang gempa. - Keluarga tersebut masing-masing
beranggotakan lebih dari sepuluh orang dan semuanya sangat tenang, tidak panik sedikit
pun ketika terjadi malapetaka mengerikan itu. Orang yang mengenal keluarga ini
mengatakan bahwa mereka telah menganut Buddhadharma selama beberapa generasi dan
dengan teguh menjalankan praktik Shukavati, yakni dengan melafal nama Buddha
Amitabha.

Saya merasa terhibur mendengar kisah pengalaman keluarga Zhao dan Yang di tengahtengah
tragedi menyedihkan itu.

USIA Ke 76 (1915/16) Pada masa musim semi, sehabis upacara transmisi sila, terjadi
peristiwa aneh. Ada seorang akademisi dan Dinasti Manchu [yang telah runtuh] bernama
Ding, yang tinggal di Prefektur Dengchuan. Ia memiliki seorang putri belum menikah
berusia 18 tahun. Suatu hari, ia mendadak pingsan. Keluarganya tidak tahu apa yang
harus dilakukan. Ketika mendusin, meracaulah ia dengan suara seorang pria.

Menudingkan jari kepada ayahnya, seraya mengutuk ia berkata, "Ding! Dengan
memanfaatkan kekuasaanmu, kamu telah salah menuduh aku sebagai bandit --- inilah yang
menyebabkan kematiankui Aku adalah Dong Zhan-biao dari Xichuan di Prefektur Dali.
Apakah engkau masih mengingatku? Aku telah mengadukanmu ke hadapan Dewa
Kematian dan kini aku hendak membalas dendam atas kejahatanmu [terhadap saya]
delapan tahun yang lalu.

Yama, aslinya merupakan Dewa Kematian dalam Kitab-kitab Veda, dimana roh-roh
orang yang telah wafat tinggal bersamanya. Dalam mitologi Buddhis, ia dipandang
sebagai raja alam kematian dan memerintah atas neraka. Ia dengan demikian
dipandang sebagai hakim yang mengadili orang mati serta me-nentukan hukuman
bagi kesalahan mereka.


Gadis itu lalu meraih kapak dan memburu ayah-nya dengan itu. Ding kabur, bersembunyi
dan tak berani pulang ke rumah. --- Setiap hari, tatkala arwah itu datang merasuki Sang
gadis, maka perilakunya pun berubah --- ia membuat onar sehingga menganggu tetangga.

Pada saat yang sama, Biara Gunung Kaki Ayam mengirim dua orang bhiksu bernama Suqin
dan Su-zhi ke kantor [cabang] yang terletak di Dengchuan. Sewaktu mereka melewati
rumah Ding, maka dilihatlah banyak orang bergerombol mengelilingi Sang gadis
yang sedang kesurupan. Salah seorang bhiksu menasehatinya dengan berkata, "Saya
sarankan agar engkau tidak menganggu ketenangan."

Gadis itu menyembur, "Kamu bhiksu, --- jangan ikut campur urusan orang!"

Bhiksu itu berkata, "Tentu saja, ini sesungguhnya memang bukan urusan saya, tetapi guru
saya selalu mengatakan bahwa hubungan saling bermusuhan hendaknya dihentikan. Kalau
tidak, hal itu akan tumbuh semakin besar, serta tak pernah berakhir."

Gadis itu berpikir sejenak dan bertanya, "Siapa guru-mu?"

Bhiksu itu menjawab, "Yang Arya Kepala Biara Xu-yun dari Biara Zhu-sheng."

Gadis itu berkata lagi, "Saya pernah mendengar tentang beliau, tetapi tidak pernah
berjumpa dengannya. Apakah ia akan setuju untuk mentrasmisikan sila bagi saya?"

Bhiksu tersebut menjawab pertanyaan Sang gadis, "Beliau memiliki belas kasih agung
dan telah berikrar buat membebaskan semua makhluk. Bagaimana mungkin ia menolak
permohonan Anda?"

Sang bhiksu juga menyarankan Ding untuk mendana-paramitakan sejumlah uang guna
melaksanakan upacara ritual bagi pembebasan gadis itu --- tetapi Sang gadis ber-kata,
"Aku tak mau uangnya. Ia seorang pembunuh."

Bhiksu itu berkata, "Bagaimana jika warga kota ini mendana-paramitakan harta mereka
sehingga kedamaian bisa dipulihkan?"

Dengan sangar gadis itu menjawab, "Selama dendam belum terbalaskan, aku takkan
pernah tenang. Sebaliknya, jika permusuhan ini dipertahankan, maka bakal berlang-sung
tanpa akhir. Hmm..., aku akan minta saran Dewa Kematian dulu. Kalian datanglah
kembali besok pagi."

Setelah makhluk halus itu pergi, Sang gadis siuman. Ketika dilihatnya banyak orang
berkumpul di sekelilingnya, maka menjadi malulah ia. Tersipu-sipu ia masuk ke rumah.
Keesokan hari, gadis yang kerasukan tersebut datang ke hadapan para bhiksu dan
menyalahkan mereka karena tidak menepati janji. Bhiksu-bhiksu itu meminta maaf dan
mengatakan bahwa beberapa urusan telah menahan kedatangan mereka, membuatnya
terlambat. Gadis itu lalu berkata, "Aku sudah minta saran pada Dewa Yama. Ia
mengatakan bahwa Biara Zhu-sheng adalah tempat suci dan saya boleh pergi ke sana bila
kalian menyertai saya."

Lalu, kedua bhiksu itu balik ke gunung bersama-sama dengan Sang gadis dan juga
disertai oleh sekitar sepuluh orang lainnya. Mereka mengisahkan apa yang telah terjadi
sebelumnya. Hari berikutnya, didirikanlah sebuah altar bagi pembacaan Sutra dan untuk
mentransmisikan Sila bagi si gadis. Dengan demikian, rumah tangga Ding pun menjadi
damai kembali dan para penduduk Dengchuan mulai ber-ziarah secara teratur ke Biara
[Zhu-sheng]

Dipukuli, Dituduh Ekstrem Kiri DI SlNGAPURA

USIA Ke 77 (1916/17) Saya kembali ke Laut Selatan, karena bermaksud untuk
mengambil patung Buddha batu-giok yang diberikan oleh Upasaka Gao beberapa tahun
yang silam. Setelah mendengar bahwa kebanyakan suku-suku di sepanjang perjalanan
telah menganut Buddhisme, maka saya pun melalui wilayah mereka. --- Saya
mengunjungi Rangoon kembali, di mana saya menghaturkan penghormatan pada Pagoda
Emas besar (Shwedagon). Sesudah itu, saya mengunjurigi Upasaka Gao, selain
membabarkan Sutra di Biara Long-hua. Dari sana saya naik kapal ke Singapura.

Begitu tiba, seorang pejabat kepolisian Singapura memberitahukan pada para
penumpang, "Kawan kami, Presiden Republik Tiongkok, telah menghidupkan kembali
sistim kerajaan di daratan Tiongkok dan seluruh kaum revolusioner telah ditangkap.

Yuan Shikai yang mengangkat dirinya sendiri menjadi kaisar, tetapi gagal dan
membatalkan pengangkatannya sendiri. Ia meninggal tidak lama setelah itu -
penterjm

Semua penumpang dari Daratan Tiongkok yang hendak tinggal di luar negeri musti
diinter-ogasi dengan cermat sebelum diizinkan mendarat."

Beberapa ratus orang digiring ke kantor polisi untuk ditanyai lebih lanjut, tetapi akhirnya
dilepas kembali, kecuali kelompok kami: enam orang bhiksu. Kami dituduh sebagai
anggota sayap kiri dari Guomingdang. Kami diperlakukan seperti tahanan, diikat serta
dipukuli. Kami dibiarkan ter-jerang di bawah terik matahari dan tak boleh bergerak; jika
bergerak kami digebuk lagi. Bahkan makan dan minum pun tidak diperbolehkan, tidak
pula kami diizinkan untuk buang air. Ini berlangsung dari pukul enam pagi hingga delapan
malam.

Ketika murid bernama Hong Zheng-xiang yang pernah ber-trisarana pada saya dan
seorang manajer perusahaan bernama Dong mendengar penahanan kami, maka mereka
pergi ke kantor polisi untuk menjamin pembebasan kami dengan membayar tebusan 5.000
dollar per orang. Setelah pengambilan sidik jari, kami dilepas dan diundang ke gudang
Zheng-xiang, tempat di mana kami melewatkan Tahun Baru. Selanjutnya kami diberi
bantuan untuk membawa patung Buddha giok itu ke Yunnan.

Dengan Kedua-belah Tangan
Angkat Batu Ratusan Kati


USIA Ke 78 (1917/18) Rombongan pembawa patung Buddha giok berangkat pada
musim semi tahun ini dan diawali dari Gedung Guan-yin (Avalokitesvara-penterjm.).
Delapan pekerja telah direkrut dan gaji keseluruhan mereka akan dibayar sesampai di
Gunung Kaki Ayam. Rombongan mesti melalui daerah pegunungan selama beberapa
minggu dengan menapaki jalan-jalan sempit nan terpencil.

Suatu hari, tatkala kami mencapai Gunung Yeren, karena curiga mengira bahwa patung
Buddha itu barangkali ber-isikan cek, emas, atau batu mulia, para pekerja
menggeletakkannya di tanah serta mengeluhkan bahwa patung Buddha itu terlalu berat
untuk diangkat lebih jauh. Mereka menuntut bayar beberapa kali lipat lebih tinggi
daripada perjanjian semula, saya berusaha melakukan yang terbaik untuk menenangkan,
tetapi mereka malah berteriak-teriak serta bertindak agresif. Saya mendapati bahwa tak
ada gunanya lagi berdialog, dan melihat ada sebongkah batu besar tergeletak di pinggir
jalan, dimana beratnya bisa mencapai beberapa ratus kati. Saya tersenyum dan bertanya
pada mereka, "Manakah yang lebih berat, batu ini ataukah patung itu?"

Secara serempak menjawablah mereka, "Batu ini dua atau tiga kali lebih berat
dibandingkan patung."
Kemudian dengan kedua belah tangan, saya angkat batu itu setinggi lebih dari satu kaki.

Kaget terkesima, mereka berseru, "Mahaguru tua, Anda pastilah seorang Buddha Hidup!"
Mereka lalu berhenti menuntut kenaikan upah dan ketika tiba di Gunung Kaki Ayam, saya
pun memberi mereka imbalan yang bagus. --- Saya menyadari bahwa sekedar bertumpu
pada kekuatan sendiri semata, mustahil batu itu akan sanggup terangkat dan mengakui
bahwa kekuatan ini adalah berkat bantuan para makhluk suci.

Belakangan, saya pergi ke Dangchong untuk membabarkan Sutra di biara-biara yang
terletak di tempat itu.

Edited by Top1, 19 February 2013 - 12:21 AM.


#47 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 19 February 2013 - 11:56 PM

Menginsyafkan Gerombolan Bandit Pegunungan

USIA Ke 79 (1918/19) Gubernur Tang Ji-yao memerintahkan hakim di Binquan buat
menyertai utusan pribadinya ke gunung dalam mernbawa surat yang lsinya mengundang
saya ke Kunming. --- Saya menolak tandu ke-hormatan militer yang mereka tawarkan dan
berjalan kaki ke ibu kota propinsi bersama dengan murid saya, Xiu-yuan. Di Chuxiong
beberapa bandit menghentikan saya, mereka menemukan surat undangan dari gubernur,
dan karena alasan itulah mereka memukul saya.

Berkatalah saya pada keroco-keroco itu, "Tiada manfaat-nya memukul saya. Saya hendak
berjumpa dengan pemimpin kalian."

Mereka membawa saya pada Yang Tian-fu dan Wu Xu-xian. Wu menghardik begitu
melihat saya, "Siapa kamu?"

"Saya adakah kepala biara dari Gunung Kaki Ayam," begitu jawab saya.

"Siapa namamu?" tanya Wu. "Xu-yun," jawab saya.

"Mengapa engkau pergi ke ibu kota propinsi," selidik Wu. "Buat menyelenggarakan
upacara ritual Buddhis," jawab saya.

"Mengapa?" tanya Wu.

"Untuk berdoa bagi kemakmuran dan kesejahtaraan rakyat," kata saya.

Wu menyergah, "Gubernur Tang Ji-yao adalah seorang penjahat; untuk apa kamu
membantunya? Ia bukan orang baik dan karena engkau bersahabat dengannya maka
engkau juga bukan orang baik."

Saya berkata, "Tidaklah mudah untuk mengatakan baik dan buruknya sesuatu."

"Mengapa?" tanya Wu.

Saya menjawab, "Jika Anda berbicara mengenai sifat ha-kiki manusia yang baik, maka
setiap orang akan menjadi baik; sebaliknya jika engkau berbicara mengenai sifat hakiki
manusia yang jahat, maka setiap orang juga akan dipandang jahat."

"Apa maksudmu?" tanya Wu.

Saya menjawab, "Jika Anda dan [Gubernur] Tang bisa bekerja sama buat mewujudkan
kemakmuran negara dan rakyat, dan bila para prajurit Anda melakukan hal yang sama,
tidakkah ini akan menjadikan kalian semua orang baik? Tetapi apabila Anda dan Tang
saling menjelekkan serta berperang satu sama lain, sehingga membuat rakyat menderita,
tidakkah ini menjadikan kalian semua orang jahat? Orang tak tahu apa-apa bakal dipaksa
pilih memihak Anda atau Tang, dan sebagai akibatnya mereka semua bakal menjadi
bandit. Mereka semua itulah yang paling pantas dikasihani."

Setelah mendengar hal ini kedua orang itu tertawa dan Wu bertanya, "Apa yang Anda
katakan itu memang benar, tetapi apa yang harus saya lakukan?"

Saya berkata, "Menurut hemat saya, kalian hendaknya berhenti berperang dan hidup
dalam perdamaian."

Wu berkata, "Apakah Anda menginginkan saya untuk menyerah?"

Saya menjawab, "Tidak, bukan itu yang saya maksud. Berdamai maksudnya adalah
mengundang setiap orang-berpotensi seperti Anda bekerja bagi kedamaiannegara. Saya
hanya meminta Anda untuk meninggalkan segenap prasangka serta berkarya bagi
kemakmuran bangsa dan negara; tidakkah ini merupakan sesuatu yang baik?"

Wu berkata, "Dari mana saya musti memulainya?" "Mulailah dengan Tang," jawab saya.

"Dengan Tang?" tanyanya,... "Tidak, dia sudah membunuh dan memenjarakan banyak
anak buah saya. Inilah saatnya untuk balas dendam. Bagaimana bisa kami menyerah
begitu saja?"

Saya menjawab, "Mohon jangan salah pahami saya. Yang saya maksudkan adalah:
karena Tang adalah pejabat pemerintah pusat, ia berwenang melakukan perdamaian dan
kalian juga akan menjadi pejabat yang ditunjuk oleh Beijing. Mengenai anak buah kalian
yang terbunuh, saya akan pergi ke Kunming guna mengadakan puja bakti agar mereka
yang gugur dalam pertempuran bisa terlahir di alam bahagia. Saya juga akan meminta
Gubernur Tang untuk memberikan pengampunan bagi mereka yang masih ditahan, di
mana hal ini juga akan menguntungkan mereka.

Kalau kalian tidak men-dengarkan saran saya, maka pemusuhan akan terus berlan-jut
dan apa yang kalian peroleh toh tidak pasti. --- Anda dan Tang masing-masing memang
memiliki sumber daya. Namun, kekuatan yang Anda miliki tidaklah sebanding dengan
sumber-daya dia yang luar biasa besar; dan selain itu ia juga dibiayai dan didukung
penuh oleh pemerintah pusat. Saya hadir di sini, bukanlah untuk meminta Anda menyerah,
melainkan mencoba memanfaatkan lidah saya ini buat me-lenyapkan permusuhan serta
menyelamatkan bangsa dan Negara --- meskipun saya cuma seorang bhiksu yang tidak
memiliki kekuatan apa-apa."

Yang dan Wu tergerak hatinya dan meminta saya untuk mewakili mereka. Saya berkata,
"Saya tidaklah sanggup tetapi apabila Anda mengatakan keinginan Anda, maka saya
dapat menyampaikannya pada Tang." --- Mereka mempertimbangkannya dan kemudian
menyebut enam syarat yang terdiri dari:

(1) pembebasan seluruh anak buah mereka,
(2) pasukan mereka tidak boleh dibubarkan,
(3) tidak ada penghapusan pangkat,
(4) mereka tetap memegang komando atas pasukan mereka,
(5) tidak ada lagi investigasi terhadap apa yang mereka lakukan dahulu,
(6) perlakuan yang sama terhadap pasukan kedua belah pihak.

Saya berkomentar, "Tang rasanya akan setuju dan setelah mendiskusikan hal ini
dengannya, maka jawaban resmi akan disampaikan kepada kalian oleh wakilnya, yang
akan mendiskusikan segala sesuatunya dengan kalian."

Wu berkata, "Maaf sekali sudah merepotkan Yang Arya Master sepuh; andai
permasalahan ini dapat diatur dengan memuaskan, kami pasti sangat berterima kasih
pada Anda."

Saya menjawab, "Jangan sungkan. Saya melakukan semua ini dengan senang hati, karena
memang kebetulan lewat tempat ini."

Yang dan Wu lalu melayani penuh keramahan dan kami berbincang akrab di malam
harinya. Mereka mau saya me-nginap beberapa hari lagi, namun karena keterbatasan
waktu, saya mesti berpamitan di pagi berikutnya. Setelah makan pagi, mereka memberi
saya ongkos perjalanan, ma-kanan, serta kereta, lalu memerintahkan anak buahnya untuk
menyertai saya. Semua pemberian ini saya tolak, kecuali sedikit makanan.

Sekitar setengah li dari markas mereka, saya melihat beberapa orang berlutut dengan
kepala menyentuh tanah se-bagai tanda penghormatan. Saya mengenali mereka sebagai
keroco-keroco yang memukul saya hari sebelumnya. Mereka menyesal sambil berkata,
"Akankah Yang Mulia Bodhisattva memaafkan kami?" Saya menghibur dan
menganjurkan mereka: berbuat bajik dan menjauhi kejahatan. Mereka me-nangis tersedu
lalu mengundurkan diri.

Di Kunming, saya disambut oleh pejabat propinsi yang dikirim oleh Gubernur Tang.
Saya tinggal di kuil Yuan-tong. Malam harinya Tang datang serta berkata, "Saya tidak
berjumpa dengan Yang Arya selama beberapa hari, karena belakangan ini saya telah
kehilangan nenek, ayah, istri, dan saudara laki-laki secara beruntun. Saya benar-benar
tertekan oleh kemalangan ini dan selain itu masih ditambah lagi dengan adanya banditbandit
yang berkeliaran di seluruh propinsi serta mengganggu rakyat banyak.

Sementara itu nyawa dari pejabat dan orang yang mereka bunuh haruslah dibalaskan.
Karenanya, saya ingin melakukan tiga hal. Pertama-tama: menyelenggarakan upacara
puja bakti Buddhis untuk berdoa memohon pelindungan Buddha sehingga kemalangan
dapat dihapuskan serta agar mereka yang meninggal dapat terlahir di alam bahagia.
Kedua: merubah kuil di Yuan-tong menjadi sebuah biara besar agar Buddhadharma
dapat tersebar luas. Ketiga: mendirikan universitas buat mendidik para pemuda. Orang-orang
saya dapat mengurusi pendirian universitas itu --- namun tiada seorang pun dapat
mewujudkan hal pertama dan kedua selain Yang Arya."

Saya berkata, "Niat Anda sungguh agung dan jarang dipikirkan orang pada masa ini di
seantero negeri Tiongkok. Ini pastilah berasal dari pikiran Bodhisattva. Saya tidaklah
berkemampuan untuk membantu Anda mewujudkan semuanya. Terdapat banyak bhiksu-bhiksu
bijaksana lain yang sanggup membantu Anda membangun sebuah biara besar,
namun Yuan-tong itu adalah tempat kecil yang hanya sanggup menampung sedikit orang
saja, paling banter hanya sekitar seratus orang --- mohon pertimbangkan kembali gagasan
itu. Sedang mengenai upacara puja bakti Buddhis, tidaklah perlu waktu lama untuk
melakukan, saya mau menyelenggarakan-nya dengan senang hati bagi Anda.

Tang berkata, "Anda benar sehubungan dengan Yuan Tong yang memang tidak cocok
untuk dikembangkan men-jadi biara besar; kita dapat membicarakan hal ini belakangan.
Sedangkan mengenai upacara puja bakti Buddhisnya, bagai-manakah cara kita
melaksanakannya?

Saya menjawab, "Pikiran dan Buddha terbentuk dari satu substansi dan saling tergantung
satu sama lainnya. Karena Anda telah memutuskan untuk menyelenggarakan upacara puja
bakti Buddhis demi kesejahteraan bangsa dan negara, serta melimpahkan kebajikan bagi
mereka yang masih hidup ataupun telah meninggal, saya sarankan ada tiga hal yang perlu
dilaksanakan, yakni:

1. Melarang pembantaian hewan selama dilaksanakannya puja bakti itu.
2. Memberi pengampunan pada mereka yang bersalah; dan
3. Membebaskan mereka yang menderita."

Tang berkata, "Yang pertama dan terakhir bisa saja dilaksanakan, tetapi yang lainnya
hanya dapat terlaksana atas ijin Menteri Kehakiman --- itu di luar wewenang saya."

Saya berkata, "Terdapat begitu banyak hal yang perlu dipecahkan di seluruh penjuru
negeri yang tidak sanggup ditangani seluruhnya oleh pemerintah pusat. Jika Anda
membicarakan hal ini dengan Departemen Kehakiman tingkat propinsi, maka Anda akan
sanggup mengeluarkan pengampunan hukuman itu. Sehingga demikian meng-anugerahkan
kebajikan bagi negara."

Tang mengangguk setuju dan saya kemudian membicarakan mengenai dua orang
pemimpin bandit bernama Yang dan Wu, yang telah saya jumpai dalam perjalanan ke
Kunming, serta mengajukan pengampunan bagi seluruh anak buah mereka. Apabila
pengampunan ini diberikan maka diharapkan agar para pemberontak lainnya dapat
kembali ke jalan yang benar. Tang sangat puas dengan saran ini serta dengan segera
membicarakan mengenai pengeluaran amnesti.

Penghujung tahun telah kian mendekat. Ketika Upasaka Ou-yang, Jing, dan Lu Qiu-yi tiba
di Kunming buat mengum-pulkan dana bagi Pusat Studi Dharma Tiongkok di Shanghai,
mereka juga menginap di kuil Yuan-tong. Saya mengundang mereka untuk membabarkan
Mahayana-samparigraha Shastra102. Saya melewati masa Tahun Baru di Kunming.

USIA Ke 80 (1919/20) Musim semi tahun itu sebuah bodhimandala diselenggarakan di
Kuil Para Pahlawan yang Telah Gugur, di mana upacara ritual untuk melimpahkan
kebajikan bagi makhluk-makhluk halus yang berdiam di air dan bumi dilangsungkan.
Sementara itu surat pengampunan pun dikeluarkan dan pembantaian hewan dilarang.

Sekumpulan shastra yang dianggap telah ditulis oleh Asanga, ketiganya telah
diterjemahkan ke bahasa Mandarin oleh Paramartha pada tahun 563.

Bodhimandala. Meskipun istilah ini sering diartikan sebagai vihara atau tempat suci
secara umum, tetapi di di sini ia memiliki makna khusus. Upacara ritual "Bumi dan
Air" yang diselenggarakan oleh Xu-yun melibatkan pendirian meja, benda-benda
ritual dan lain sebagainya, dalam bentuk mandala pelindung, persembahan makanan
serta persembahan simbolis lainnya yang di-pandang setara dengan upacara ritual
Tantravana. Upacara ini dipandang sanggup membimbing seorang yang telah
meninggal ke Nirvana atau alam bahagia. Ritual ini pertama kali dilaksanakan
oleh Kaisar Liang Wu-di berabad-abad yang lalu di Jin-shan, Zhen-jiang, setelah
Sang Kaisar bermimpi didatangi seorang bhiksu, yang menyarankannya untuk
melaksanakan uparaca ritual semacam itu demi kebaikan mereka yang telah
meninggal


Gubernur Tang mengutus pejabat propinsi buat merundingkan perdamaian dengan Yang
dan Wu serta penunjukkan mereka sebagai komandan militer. Semenjak saat itu mereka
berdua selalu setia pada pemerintah propinsi.

Apa yang menarik perhatian adalah setelah upacara ritual Buddhis itu dimulai maka
cahaya lilin di berbagai altar berubah bentuk menjadi seperti bunga teratai, yang mana
warna-warni cahayanya sungguh mengesankan. Para umat yang menghadiri pujabakti
berkumpul untuk menyaksikan peristiwa luar biasa ini. Sebelum akhir hari keempat puluh
sembilan dan selama penyelenggaraan ritual keagamaan ini, panji-panji serta payung-payung
permata gaib muncul di tengah-tengah awan. Di mana penampakan ini disaksikan
oleh mereka yang hadir dan semuanya berlutut menghaturkan penghormatan.

Setelah upacara ritual itu, Gubernur Tang mengundang saya ke rumahnya guna melafal
Sutra bagi keluarganya yang telah meninggal agar terlahir di alam bahagia. Tatkala ia
menyaksikan mukjizat lagi, maka bangkitlah keyakinan teguh terhadap Dharma dalam
dirinya, dan semua anggota keluarganya beralih ke Buddhisme. Saya tinggal di Kunming
selama musim dingin tahun itu.

USIA Ke 81 (1920/20). Pada musim semi, sekali lagi Gubernur Tang meminta saya
menyelenggarakan bodhimandala lainnya dan melaksanakan ritual Buddhis
guna melimpahkan kebajikan pada para makhluk halus yang mendiami bumi serta air.
Setelah itu saya membabarkan Sutra.

Vihara Hua-ting yang terletak di bukit barat Kunming merupakan sebuah tempat suci kuno
dengan pemandangan alam yang sungguh menawan. Namun, para bhiksu di sana bukannya
menjaga agar tetap terawat baik, malah membiar kannya terlantar jadi puing-puing;
bahkan sekarang memutuskan untuk menjualnya pada orang Eropa yang berniat
membangun sebuah gedung club-house, dimana mereka telah mengantongi izin dari
pemerintah setempat untuk mewujudkanniatnya itu.

Saya merasa sangat sedih, lalu berbicara pada Gubernur Tang, mendesaknya agar
mempertahankan tempat suci itu. --- Ia mendengar saran saya, dan diam-diam
membicarakan masalah ini dengan pemuka setempat, yang di antaranya terdapat Wang
Jiu-ling dan Zhang Jue-xian. Zhang lalu mengundang saya untuk bersantap vegetarian
bersama. Pada kesempatan tersebut, mereka menyampaikan permintaan resmi, yang
ditulis pada kertas merah, dan isinya meminta saya agar menjadi kepala biara bagi
tempat suci tersebut sehingga mereka bisa membangun kembali bangunan yang sudah
menjadi puing itu. Mereka menyampaikan permohonan ini tiga kali dan saya pada
akhirnya menerima permintaan mereka.

Tahun itu, Upasaka Zhang Jue-xian mengambil sepasang angsa ke Biara Yun-xi untuk
dilepas di sana (fang-shen). Saya diminta mengajar mereka berlindung pada Triratna dan
kedua hewan itu menundukkan kepala serta tetap diam, seolah-olah telah menerimanya.
Sehabis itu mereka mengangkat kepala dan nampak sangat gembira. Semenjak saat itu,
mereka mengikuti para bhiksu ke aula utama serta mengamati pe-lafalan sutra. Selama
tiga tahun mereka membuntuti para bhiksu yang berprosesi mengelilingi patung Buddha
atau Bodhisattva (pradaksina); setiap orang di vihara itu menyukai mereka.

Suatu hari angsa [yang betina] pergi ke pintu balairung utama dan berdiri tegak, lalu
mengelilingi [patung Buddha] tiga kali, mengangkat kepalanya memandang pada patung
danmati. Bulunya tetap berkilauan tatkala ditempatkan dalam sebuah kotak kayu untuk
dikubur. Yang jantanbersuara terus menerus, seolah-olah ia tak mampu berpisah dengan
pasang-annya. Beberapa hari kemudian, ia tak mau lagi makan atau berenang, dan
seterusnya berdiri di depan aula utama, memandang pada patung-patung Buddha,
mengembangkan sayap, lalu mati. Ia juga ditempatkan dalam sebuah kotak kayu kecil lalu
dikubur di tempat yang sama dengan pasangannya.

Catatan dari Cen Xue-lu, editor Xu-yun

Pada musim gugur tahun itu: Gu Bin-zhen yang menjadi kepala pasukan di Yunnan,
berniat menggulingkan Gubernur Tang yang masih didukung oleh dua puluh resimen
pasukan yang setia padanya. Karena Tang sangat menghormati Master Xu-yun, maka
suatu malam ia mengundang beliau dan meminta nasehatnya. Sang Mahaguru berkata,
"Meskipun Anda telah memenangkan hati rakyat, tetapi Anda belum memenangkan hati
para prajurit.

Apabila permusuhan pecah, maka tiada satu pihak pun yang akan menang. [Bahkan
sebaliknya], para tetangga kita akan melihat situasi ini dan menyerbu Yunnan. Hal yang
terbaik bagi Anda adalah meninggalkan tempat ini serta menunggu saat tepat untuk
kembali." --- Tang mendengarkan nasehat itu, bersedia pergi, dan menyerahkan
kedudukannya pada Gu. Selanjutnya ia pergi melalui Tongking menuju Hong Kong.

[Sang Mahaguru mengisahkan hal ini pada saya, Cen Xue-lu, sepuluh tahun yang
lampau].


Bersambung ke Bab 12...

#48 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 21 February 2013 - 02:44 PM

Bab 12. Kepala Biara di Yun-Xi dan Gu-ShAN

USIA Ke 82 (1921/22) Musim semi tahun itu, Gu Bin-zhen menjadi Gubernur Propinsi
Yunnan. Mulai dari bulan kedua hingga ketujuh, hujan turun tanpa henti, banjir menggenang
dimana-mana, sehingga: bahkan perahu pun sampai bisa berlayar di jalan-jalan raya
ibu kota propinsi. Setiap hari, meriam-meriam besar ditembakkan dari menara kota berusaha
membuyarkan mendung kelabu yang menggantung di angkasa, namun sia-sia.

Mulai bulan ketujuh terjadilah bencana kekeringan, sehingga kala me-masuki musim
dingin debu berhamburan dari dasar sungai yang mengering. Ini tidak pernah terjadi
sebelumnya di Yunnan.

Wabah penyakit difteri merebak pada musim gugur dan menewaskan beberapa ribu
orang. Ketika itu, saya sedang bersama dengan Mahaguru Zhu-xin di Kuil Hua-ting, di
mana semua aktifitas terhenti sepenuhnya.

Suatu hari kami pergi ke kota dan di perjalanan pulang pada siang harinya, kami
menemukan sebuah bungkusan yang berisikan emas, perhiasan batu giok, tusuk konde,
anting-anting, dan jam emas. Selain itu terdapat pula 8.000 dollar Yunnan dan lebih dari
10.000 mata uang Indo-cina. Kami menanti hingga Sang pemilik mencarinya, namun
ketika menjelang Sang surya terbenam --- sadar bahwa kami masih jauh dari vihara ---
maka bungkusan itu pun kami bawa ke biara dengan rencana untuk kembali lagi ke kota
esok harinya serta memasang iklan di koran agar dapat menemukan Sang pemilik.

Begitu mencapai kaki bukit dan hendak menyeberangi danau, kami menangkap bayangan
seorang gadis yang sedang melompat ke air. Saya bergegas hendak menyelamatkannya
dan ketika tubuhnya mulai tenggelam, saya meloncat ke dalam air buat menolong. Ia
berontak dan menolak di-tolong, maka saya tarik ke tepian. Karena wanita itu nampaknya
sedang mencoba bunuh diri, kami memaksanya ikut ke biara. Hari telah gelap ketika kami
tiba di sana. Kami lalu memberinya pakaian dan makanan, tetapi ia menolak makan.

Kami mencoba menghibur dan setelah melewati kebisuan yang lama, akhirnya gadis
itu bersedia mengatakan bahwa dirinya adalah penduduk asli Changsa yang bernama
Zhu.

Dia lahir di Yunnan sekitar delapan belas tahun lalu, merupakan putri satu-satunya dari
seorang penjaga toko yang menjual obat di Jalan Fuchun di kota itu.

Ia kemudian mengisahkan riwayat hidupnya: Suatu hari seorang Komandan Divisi
bernama Sun datang ke tempat kediamannya, mengatakan bahwa ia adalah seorang
sarjana serta meminta izin buat menikahi putri mereka. Orang tuanya percaya dengan apa
yang dikatakan orang itu, --- namun setelah pernikahan, ia mendapati bahwa Sun ternyata
sudah memiliki seorang istri.

Sehingga dengan demikian, ia telah dibohongi dan terlambatlah baginya untuk melakukan
se-suatu. Kerap kali ia dipukuli oleh istri pertama Sang komandan yang sangat kejam.
Meskipun para saudara iparnya turun tangan berusaha membantu mengatasi hal itu,
namun tetap saja tanpa hasil, bahkan orang tuanya sendiri takut terhadap kekuasan Sang
komandan. --- Ia berkata, "Saya telah kehilangan harapan dan memutuskan untuk
melarikan diri ke Gunung Kaki Ayam guna menjadi murid Mahaguru Xu-yun sebagai
seorang bhiksuni."

Karena tak tahu jalan, maka ia telah tersesat selama dua hari. Karena khawatir dikejar
oleh anak buah suaminya, ia pun lari dan menjatuhkan barang bawaannya. Ia lalu merasa
bahwa satu-satunya jalan agar terhindar dari semuanya adalah dengan jalan bunuh diri.

Saya menanyakan mengenai barang bawaannya yang hilang dan mendapati bahwa itu
adalah bungkusan yang saya telah temukan. Saya menghiburnya serta menginstruksikan
rekan saya untuk menjelaskan padanya mengenai berlindung pada Triratna. Hari
berikutnya, saya mengundang keluarga Zhu dan Sun, yang meliputi sekitar tiga puluh
orang atau lebih ke biara untuk membicarakan hal itu. Saya juga membabarkan Dharma
pada mereka.

Komandan Sun dan istrinya kemudian berlutut di hadapan altar Buddha serta menyesali
kesalahan yang telah mereka perbuat dan selanjutnya saling berpelukan dengan berlinang
air mata. Mereka yang datang tersentuh oleh peristiwa itu dan tinggal di biara selama
tiga hari. Pada kesempatan tersebut, sekitar tiga puluh atau lebih orang, baik pria maupun
wanita, tua maupun muda, beralih pada Dharma serta menerima sila sebelum kembali ke
rumah masing-masing.

YUN-Xi: VlHARA Susuhing Mega

USIA Ke 83 (1922/23) Tahun itu, Kuil Hua-ting (yang juga disebut dengan "Yun-xi" atau
"Tempat Kediaman bagi Awan-Awan") sedang dibangun kembali. Di se-belah barat
Danau Kunming terdapat sebuah gunung yang disebut dengan Bi-ji (Burung Hong
Zamrud). Ketika putera kedua dari Ashoka (raja India) pergi ke sana, ia melihat sekawanan
burung-hong zamrud dan memutuskan untuk mem-bina praktik di sana, hingga akhirnya
merealisasi Sang Jalan.

Ia dikenal sebagai "Semangat dari Burung Hong Zamrud" dan gunung itu dinamakan
seturut namanya. Puncaknya indah bagai lukisan, belakangan ia menjadi lokasi Vihara
Hua-ting, di mana pada masa Dinasti Yuan [1280-1367] Mahaguru Chan Xuan-feng -
yang telah melatih dan merealisasikan Dharma di bawah gurunya, Master Zhong-feng
[1263-323] yang tersohor - membangun sebuah vihara yang disebut dengan Yuan-jue
(Penerangan Sempurna). --- Belakangan vihara ini disebut dengan Hua-ting (Sulur
Bunga) setelah gunung tempat kuil itu berdiri menjadi dipenuhi bunga-bungaan.

Dua tahun yang lalu, ketika tempat ini hampir dijual kepada orang asing di Yunnan, saya
telah turun tangan se-hingga Gubernur Tang lah yang membelinya serta meminta saya
agar menjadi kepala biara di sana. Tatkala biara itu sedang dibangun kembali, sebuah
prasasti batu telah ditemukan. Tak ada penanggalan yang tertera di atasnya, dan hanya dua
huruf berbunyi "Yun-xi" (Tempat Kediaman Awan). Prasasti itu belakangan ditempatkan
di puncak Stupa Hai Hui yang ber-isikan abu dari para murid yang telah meninggal.

Sebagai dana paramita, Akademisi Chen Xiao-fu menukar-kan taman bunga miliknya
pribadi dengan tempat yang dahulunya adalah lokasi Biara Sheng-yin yang lalu jadi milik
dari sekolah pertanian, sehingga kami bisa membangun vihara Yun-xi tahap kedua,
lengkap dengan aula utama serta asrama-nya.

Hujan Salju di Akhir Musim Semi Mengusir Wabah Difteri

Di kaki bukit, kami membangun sebuah biara baru bernama Zhao-di, dan desa di Sana
kemudian juga diberi nama yang sama. Kami mengambil kayu dari hutan lebat di
belakang gunung dan suatu hari menemukan sebuah bungkusan yang berisikan uang emas
serta perak senilai lebih dari 200.000 dollar. Saya usul agar diserahkan ke pemerintah
sebagai dana kemanusiaan.

Tetapi mereka yang hadir rnenyarankan agar penemuan itu disimpan guna mengatasi
kesulitan keuangan vihara. Saya berkata, "Menurut ajaran Buddhis, seorang bhiksu
tidaklah diperkenankan untuk memungut uang milik orang lain yang hilang; kita melanggar
bila memungutnya dan lebih tidak dapat dimaafkan lagi jika menyimpannya untuk
kepentingan diri kita sendiri.

Kalian dapat menyumbang atas nama kalian dalam memupuk kebajikan [yakni berdana
paramita, khususnya pada Sangha] dan para bhiksu bisa mengajukan permohonan dana di
kala mereka sungguh membutuhkan; namun saya tidak berani menyim-pan barang temuan
itu untuk vihara." Saran saya disetujui dan uang temuan itu diserahkan pada Pemerintah
sebagai dana kemanusiaan.

Waktu itu Propinsi Yunnan sangat menderita oleh ke-keringan panjang yang sudah
berlangsung semenjak tahun lalu; korban wabah penyakit difteri sudah tak terhitung lagi.
Semua warga mulai dari para komandan pasukan hingga orang di jalan-jalan, terkenang
akan kebajikan mendalam dari Gubernur-Tang dan setuju buat mengundangnya balik
sebagai Gubernur Propinsi. Begitu tiba kembali di Yunnan, ia datang ke vihara dan
meminta saya: berdoa bagi turunnya hujan. Saya kemudian mendirikan altar guna
keperluan itu dan dalam waktu tiga hari tururilah hujan lebat. Hingga saat itu, sebenarnya
sudah lima bulan lamanya hujan tidak turun.

Sementara wabah penyakit difteri tidak kunjung reda, Tang berkata, "Saya pernah
mendengar bahwa turunnya salju bisa menghentikan wabah penyakit difteria tetapi
musim semi hampir berakhir; bagaimana cara kita mendapatkan salju?"

Saya menjawab, "Saya akan mendirikan altar guna ke-pentingan tersebut dan Anda
berdoalah dengan sepenuh hati bagi turunnya hujan salju."

Tang kemudian menjalankan sila dengan sungguh-sungguh dan saya berdoa bagi turunnya
hujan. Hari berikut-nya salju turun hingga setinggi satu kaki; wabah penyakit itu sirna
dengan cepat dan tiap orang memuji keagungan tanpa batas dari Buddhadharma.

USIA Ke 84 (1923/24) Tahun itu saya melihat pembangunan stupa sebagai ternpat tujuh
golongan murid. Ketika fondasinya sedang digali, maka ditemukanlah sebuah peti jenazah
yang terletak sepuluh kaki di bawah tanah dan padanya tertera tulisan: "Nyonya Li,
penduduk asli Fan-yang, tahun keempat pemerintahan Jia-jing [1525-6]." Wajahnya
nampak segar seperti seolah-olah masih hidup dan ketika jenazah beliau dikremasi, api
yang berkobar berubah menjadi seperti bunga teratai mekar. Abunya kemudian
diletakkan pada tempat yang dikhususkan bagi Upasika.

Tujuh golongan murid itu adalah:
(1) Bhiksu, atau seorang pria yang telah di-upasampada-kan (ditahbiskan) secara penuh;
(2) Bhiksuni, atau seorang wanita yang telah diupasampadakan secara penuh;
(3) Siksamana, atau calon biarawan yang menjalankan enam sila;
{4) Sramanera, atau calon biarawan yang menjalankan aturan-aturan kecil
{5) Sramanerika, atau calon biarawati yang menjalankan aturan-aturan kecil;
(6) Upasaka, atau umat awam pria yang menjalankan kelima sila dasar; dan
(7) Upasika, atau umat awam wanita yang menjalankan kelima sila dasar


Semua kuburan di sebelah kanan vihara digali kem-bali dan setelah upacara pembakaran
jenazah, abunya juga ditempatkan di dalam stupa.

Pada salah satu makam itu dapat dijumpai sebuah pra-sasti batu bertuliskan riwayat
seorang Bhiksu bernama Dao-ming yang terlahir pada masa pemerintahan Dao-guang
(1821-50) dan dikirim oleh orang tuanya ke vihara untuk bergabung dengan Sangha.
Setelah penahbisan ia mengikuti upacara ritual pengakuan kesalahan serta memusatkan
diri pada melafal nama Bodhisattva Avalokitesvara. Suatu malam ia bermimpi bahwa
Sang Bodhisattva memerintahkannya untuk mandi, dan setelah peristiwa itu ia tidak
pernah melihatNya lagi, namun merasa bahwa kakinya kini terasa lebih nyaman.

Pagi berikutnya, ketika bangkit dari tempat tidur, didapatinya bahwa ia kini dapat
berjalan seperti yang lainnya. Semenjak saat itu kebijaksanaan batiniahnya muncul
dengan sendirinya dan itulah sebabnya mengapa ia melanjutkan pelafalan nama Sang
Bodhisattva sepanjang sisa hidupnya. Tutup peti mati itu telah rusak oleh semut putih
dengan pola yang secara jelas mem-perlihatkan gambar stupa tujuh tingkat bersegi
delapan, se-hingga dengan demikian ini memperlihatkan keampuhan praktik bhiksu itu.


#49 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 21 February 2013 - 02:59 PM

Rahib Tuli dan Buruk-Rupa

USIA Ke 85 (1924/25) Tahun ini kami memperbaiki enam belas stupa Secara
keseluruhan termasuk yang diperuntuk-kan bagi "Tujuh Buddha dari Masa Lalu" di
gunung beserta semua patung-patung Buddha dan "Lima Ratus Lohan [Arahat]" di vihara.
Di Vihara Sheng-yin, tiga patung perunggu yang akan ditempatkan di aula utama telah
dicor dan tiga patung tanah liat telah dibuat guna diletakkan di altar Surga Barat. - Rahib
Zen bernama Zhu-xing wafat pada musim semi setelah menerima sila dan saya mencatat
riwayat hidupnya sebagai berikut:

Kisah Hidup Bhiksu Zhu-xing

Bhiksu Ri-bian, yang juga disebut dengan Zhu-xing, adalah penduduk asli Huili dan telah
yatim piatu semenjak kecil. Seorang pria bernama Ceng merawatnya dan akhirnya menikahkan
putrinya dengan anak yatim piatu tersebut. Mereka memiliki dua orang anak tetapi
hidup sangat miskin. Ketika saya tiba di Gunung Kaki Ayam, sanak keluarganya
berdelapan bekerja di biara.

Pada tahun pertama pemerintahan Xuan-tong [1909], sekembalinya saya ke gunung
beserta dengan rom-bongan pembawa Tripitaka, saya mentransmisikan sila dasar
baginya saat ia masih berusia 20 tahun. Tahun berikutnya, tatkala ia berusia 21 tahun,
seluruh anggota keluarganya yang berjumlah delapan orang hendak bergabung dengan
Sangha.

Rahib Zen bernama Zhu-xing ini memiliki wajah yang buruk dan selain itu tuli serta buta
huruf. Siang hari ia bekerja di kebun sayur dan malam harinya berpuja bakti pada
Bodhisattva Avalokitesvara. Ia juga bermeditasi dan kadang melafal Sutra tanpa pernah
meminta orang lain mengajari.

Dengan rajin ia berlatih meditasi dan pada tahun 1915 ia minta izin guna mengunjungi
guru-guru terpelajar lain di seantero negeri.

Pada tahun 1920, ketika saya sedang berada di Vihara Yun-xi, ia kembali ke biara dan
bekerja sebagai tukang kebun lagi. Ia kemudian bisa membaca Sutra-Sutra di aula utama
dan menghabiskan waktu luang dengan membuat pakaian serta barang-barang keperluan
dari bambu bagi komunitas biara. --- Guna memupuk karma bajik, ia mempersembahkan
seluruh kelebihan sayur-sayuran dan bersahaja: tidak meng-ambil lebih dari sekedar
kebutuhan dasariah, dan tiada pernah bicara tanpa alasan yang tepat.

Ketika sedang berada di Vihara Sheng-yin, saya sering memperhatikan hasil kerjanya di
kebun serta pelatihan batinnya yang patut diteladani dan benar-benar jarang ada orang
yang seperti dia. Tahun tersebut, selama pentransmisian sila dan vinaya di gunung, ia
datang serta meminta pada saya untuk meng-verifikasi pencapaian-spiritualnya dan
kemudian setelah ditahbiskan secara penuh, ia minta izin buat kembali ke Vihara Shengyin.

Meng-verifikasi pengalaman: maksudnya minta sang Mahaguru agar mengecheck
bahwa pengalaman praktik-meditasi/ insight-nya tulen, mendalam atau tidak - ed


Pada tanggal keduapuluh-tiga bulan ke-tiga, sesudah meditasi tengah hari, ia pergi ke
taman di belakang balairung utama --- di mana ia mengenakan jubahnya, menumpuk beberapa
ikat jerami, dan duduk bersila di atasnya. Dengan menghadap ke arah Barat, ia
melafal nama Buddha Amitabha, dan kemudian dengan tangan satu membunyikan lonceng
serta tangan yang satunya mengetuk bok-ie (ikan-ikanan kayu), ia mulai menyalakan api
pada jerami [yang diduduki-nya itu]..

Sejumlah orang di dalam vihara pada mulanya tidak mengetahui apa yang terjadi, namun
tatkala mereka yang di luar melihat kobaran api, maka berhamburanlah semuanya ke
dalam vihara, tetapi di sana mereka tidak dapat menjumpai Sang bhiksu itu. --- Begitu
sampai di halaman belakang, mereka menyaksikannya sedang duduk bersila tak
bergeming di atas tumpukan abu. Pakaiannya tak rusak sedikitpun, tetapi bok-ie dan
pegangan loncengnya telah terbakar menjadi abu ...

Saya dikabari mengenai kematiannya dan karena sedang menyiapkan upacara ritual
pentransmisian sila Bodhisattva pada tanggal delapan bulan berikutnya, maka saya tidak
dapat pergi turun gunung.

Lalu saya menulis surat pada Wang Zhu-cun, kepala Departemen Keuangan dan Zhang
Jue-xin, Kepala Biro Konservasi, untuk meminta mereka menghadiri upacara pemakaman
mewakili saya. Begitu menyaksikan peristiwa luar biasa ini, maka mereka
melaporkan pada Gubernur Tang, yang kemudian hadir bersama seluruh anggota keluarga
guna menyaksikan. Ketika lonceng-nya dipindahkan dari tangan Sang bhiksu, yang
tubuhnya masih tetap tegak bersila [hingga saat itu] --- tiba-tiba saja tubuhnya runtuh
menjadi abu. Mereka yang hadir berseru memuji peristiwa menakjubkan itu dan
mengembangkan keyakinan di dalam Buddhadharma.

Gubernur Tang memerintah pejabat propinsi guna mengadakan upacara peringatan
selama tiga hari dan mereka yang hadir mencapai beberapa ribu orang. Ia kemudian menuliskan
riwayat hidup Sang bhiksu dan rnenyimpannya di Perpustakaan Propinsi.

USIA Ke 86 (1925/26) Setelah pentransmisian Sila yang diselenggarakan pada tahun ini,
saya membabarkan Sutra serta menyelenggarakan meditasi Chan selama seminggu.
Ketika tanah miliki vihara yang terletak di gunung perlu ditebangi pohon-pohonnya, maka
saya mengundang para penduduk desa untuk datang dan bekerja-sama dengan anggota
komunitas vihara. Mereka sangat gembira saat diberi separuh dari jumlah kayu tebangan.
Tahun itu, pemerin-tahan gubernur propinsi dihapuskan dan diganti dengan sebuah
komite administratif. Dengan demikian Gubernur Tang memasuki masa pensiunnya dan
kerap datang tinggal di gunung.

USIA Ke 87 (1926/27) Tahun ini terjadi kerusuhan di Propinsi Yunnan, di mana prajurit
tinggal di rumah-rumah pribadi, sehingga tak seorang pun dapat hidup dengan damai atau
pergi ke ladang selama musim panen. Saya pergi ke markas tentara guna membicarakan
hal ini dengan komandan mereka. Ia kemudian mengeluarkan larangan mengganggu para
petani yang pergi ke ladang yang dikawal para bhiksu. Sebagai akibatnya, beberapa ribu
petani datang rnengungsi di biara, di mana mereka mulanya berbagi nasi dengan
komunitas Sangha dan setelah itu bubur encer.

Tatkala beras mulai habis, kami bersama-sama makan dedak - dan akhirnya, hanya air
penangsal perihnya lapar. Orang-orang trenyuh dan menangis manakala menyadari
bahwa para bhiksu mesti menanggung sengsara bersama dengan mereka semua. Setelah
keadaan membaik, barulah mereka pulang ke rumah masing-masing, dan semenjak
peristiwa itu mereka dengan suka rela berusaha menyokong vihara dengan sepenuh hati.

Karena menjadi kepala biara Yun-xi, setiap tahun saya mentransmisikan Sila,
membabarkan Sutra, serta menyelenggarakan pekan-pekan meditasi Chan. Selama
pentransmisian Sila tahun itu, beberapa pohon kering yang berada di halaman depan aula
utama tahu-tahu berbunga dengan wujud bunganya mirip teratai. Seluruh sayuran hijau di
kebun biara menghasilkan bunga yang seperti teratai hijau, dengan di tengah-tengahnya
terdapat sesuatu seperti sesosok Buddha sedang berdiri. Upasaka Zhang Jue-xian
mencatat peristiwa langka ini dalam sebuah gatha yang dipahatkan pada batu di biara.

USIA Ke 88 (1927/28) Sebagaimana biasanya, pada tahun ini saya mentransmisikan
Sila, membabar Sutra, dan menyelenggarakan meditasi Chan. Pembangunan gedung-gedung
altar tambahan serta asrama telah selesai dan menara untuk meletakkan genta
sudah dibangun kembali.

USIA Ke 89 (1928/29) Saya pergi bersama dengan Upasaka Wang Jiu Ling ke Hong
Kong guna mengumpulkan dana " bagi pembuatan patung-patung Buddha yang baru.
Gubernur propinsi Guang-dong, Jenderal Chen Zhen-ru, mengirim seorang wakil ke
Hongkong untuk mengu-dang saya berkunjung ke Canton, di mana saya menginap di
Sanatorium Yi Yang-yuan. Selanjutnya saya menemani Sang gubernur ke Vihara Nengren
di Gunung Bai-yun dan selama berada di sana, saya telah menolak permintaannya
untuk memangku jabatan sebagai kepala biara Nan-hua di Cao-xi.

Saya kemudian berangkat menuju Amoy dan Fuzhou, lalu balik ke Gu-shan guna
membabarkan Sutra-Sutra. Sesudahnya, saya pergi ke Biara Raja Ashoka di Ningbo
untuk menghaturkan penghormatan pada relik Buddha dan setelah itu perjalanan saya
lanjutkan ke Pulau Pu-tuo. Di sana saya ber-jumpa dengan Master Wen-zhi.

Ia menemani saya ke Shanghai --- saya menginap di Tempat Pertapaan Gandhamana di
Vihara Long-guang. Menjelang akhir musim gugur, Kepala Biara Da-gong dari Vihara
Gu-shan wafat dan komunitas Sangha di sana mengirim seorang wakil menemui saya di
Shanghai. Karena penghujung tahun telah semakin mendekat maka saya tinggal di
Shanghai melewatkan masa Tahun Baru.

Diminta Menjadi Kepala Biara Gunung Gu

USIA Ke 90 (1929/30) Pada bulan pertama saya meninggalkan Shanghai, kembali ke
Gunung Gu. Sementara berada di sana, Menteri Angkatan Laut, Yang Shu-zuang, yang
juga pejabat kepala propinsi Fujian serta Fang Sheng-dao, yang merupakan pejabat
sebelumnya, datang bersama-sama dengan kaum terkemuka dan para pejabat guna
meminta saya menjadi kepala biara Gu-shan. Saya terkenang: biara ini adalah tempat
saya pertama kali dicukur-kepala sewaktu bergabung dengan Sangha, juga kebajikan mulia
guru saya yang telah wafat. Saya tak dapat menemukan alasan untuk menolak;
akhirnya saya menerima tugas ini.

USIA Ke 91 (1930/30) Selama tahun-tahun pertama diGunung Gu, saya telah
mengembangkan organisasi biara. Pada musim seminya, saya meminta Master Wen-zhi
menyertai saya sebagai direktur yang membawahi berbagai tugas (karmadana) selama
acara pentransmisian Sila dan pada bulan pertama tahun itu, saya mengajarkan Sutra
Brahmajala pada seluruh anggota komunitas biara.

Di taman tempat tinggal kepala biara, terdapat dua pohon palem sikat. Salah satu pohon
itu konon sudah ditanam sekitar sepuluh abad lalu di masa Dinasti Tang oleh seorang
pangeran dari Kerajaan Min [kini terletak di Propinsi Fujian], sedangkan yang satunya
lagi oleh Sang Sesepuh Sheng-jian.

Pohon itu tumbuh sangat lambat dan berumur panjang, hanya menum-buhkan dua helai
daun baru tiap tahunnya. Keduanya memiliki tinggi sepuluh kaki tetapi tidak pernah
berbunga, dan orang mengatakan bahwa perlu seribu tahun untuk berbunga. Namun
selama acara pentransmisian Sila itu, keduanya di-penuhi oleh bunga. Orang dari jauh
dan dekat berbondong-bondong datang ke biara buat menyaksikan peristiwa langka itu.
Mahaguru Wen-zhi mengabadikan keajaiban ini dalam bentuk sebuah prasasti batu.

USIA Ke 92 (1931/32) Saya masih memangku jabatan sebagai kepala biara di Gu-shan,
di mana memberikan transmisi Sila, membabarkan Sutra, mendirikan sekolah yang
mengajarkan disiplin Vinaya, serta membangun vihara-vihara Bing-qu, Xi-lin, dan Yunwo.

Sang Raja Naga Menerima Sila

USIA Ke 93 (1932/32) Musim semi tahun itu, selama acara pentransmisian Sila, ada
seorang tua beraut wajah mengesankan dengan rambut dan janggut putih datang ke biara
dan langsung menuju ke ruang kepala biara --- di mana ia berlutut dan meminta saya
untuk mengajar aturan-aturan Vinaya. Ketika ditanya, ia mengatakan bahwa nama
keluarganya adalah Yang dan ia berasal dari daerah Nan-tai.

Kebetulan ada seorang bhiksu bernama Miao-zong yang juga menerima Sila pada waktu
itu dan ia juga berasal dari Nan-tai, tetapi ia mengatakan bahwa ia belum pernah jumpa
dengan orang tua itu sebelumnya. Sesudah acara pentransmisian Sila Bodhisattva usai
dan sertifikat penerimaan sebagai murid telah dibagikan, orang tua itu menghilang tanpa
jejak.

Tatkala Miao-zong kembali ke Nan-tai, ia menjumpai sebuah patung di Kuil Raja Naga,
yang tidak hanya sangat menyerupai orang tua itu, tetapi juga memegang sertifikat tanda
penerimaan murid di tangannya. Berita bahwa Sang Raja Naga telah menerima
pentransmisian Sila tersebar ke mana-mana di seluruh penjuru Nan-tai.

Waktu itu, seorang upasaka bernama Zhang Yu-dao, berasal dari Kanton, berusia 66
tahun, yang merupakan seorang akademisi pada masa Dinasti Manchu, datang ke biara
guna menerima pentahbisan penuh. Ia dianugerahi nama Dharma: Guan-ben
(Merenungkan Akar) dan diberi kepercayaan untuk mendaftar [katalog] Sutra-Sutra
perpustakaan Biara Gu-shan. Setelah upacara selesai, saya meminta Mahaguru Ci-zhou
untuk membabarkan keempat bagian Vinaya di aula Dharma, dan Mahaguru Xin-dao
serta Yin-shun mengajar para calon biarawan di sekolah Vinaya.

USIA Ke 94 (1933/34) Saya meminta Dharma Master Yin-ci di musim-semi tahun itu
untuk membabarkan Sutra Brahmajala selama pentransmisian Sua. Pada bulan pertama,
tentara Jepang menduduki Celah Shanghai dan menciptakan suasana tegang di seantero
negeri. Ketika Tentara Rute Kesembilanbelas menyatakan bahwa negara dalam keadaan
bahaya, seluruh biara di propinsi menolak memberi pondokan bhiksu tamu terkecuali
Biara Gu-shan kita ini, yang masih bersedia menerima para bhiksu yang datang lewat
laut. --- Terdapat 1.500 hingga 1.600 bhiksu yang mondok di biara kita, namun terlepas
dari keterbatasan sumber daya yang ada, kami berhasil memberi mereka makan bubur
pagi hari dan nasi pada siang harinya.

Di bulan keenam, taman yang akan dipergunakan bagi pellpas-ansatwa (fang-shen) telah
selesai. Di antara sekumpulan angsa yang dikirim oleh Upasaka Zheng Qin-qiao buat
dilepas di taman, terdapat seekor angsa jantan yang beratnya mencapai enam belas kati.
Begitu mendengar suara ikan-ikanan kayu diketuk, ia mengembangkan sayap dan
menegakkan kepala. Di aula utama, ia menatap patung Buddha sepanjang hari. ---

Salah satu alat ritual dari vihara yang berbentuk seperti ikan dan terbuat dari kayu
(Mandarin: muyi, Hokkian: bok- ie)



Bersambung ke Bab 13...

#50 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 22 February 2013 - 06:23 PM

Bab 13. Biara Nan-Hua

Dipanggil Patriarkh Keenam Hui-neng

USIA Ke 95 (1934/35) Sebagai langkah lanjut guna mengembangkan Sekolah Vinaya,
saya meminta Dharma Master Ci-zhou menjadi kepala sekolahnya pada musrm semi
tahun itu. Pada bulan kedua, saat meditasi sore, dalam kondisi yang mirip mimpi tetapi
bukan mimpi, saya melihat Sesepuh Keenam datang dan berkata, "Ini saatnya bagi engkau
untuk kembali." Keesokan paginya saya berkata pada murid saya Guan-ben, "Tadi malam
saya bermimpi bertemu dengan Sesepuh Keenam yang meminta saya kembali.

Hui-neng (638-713) adalah Patriarkh (Sesepuh) Ke-enam Aliran Chan yang tersohor,
dimana setelah beliau Ajaran mengenai Pikiran (the doctrine of the Mind) jadi benarbenar
berkembang di Tiong-kok. Dulunya, Biara Nan-hua disebut dengan "Bao-lin"
atau "Hutan Mestika" setelah kunjungan seorang Mahacharya Tripitaka berkebangsaan India
bernama Jnanabhaisajya ke tempat itu. Ia meramalkan bahwa seorang bodhisattva hidup
sungguhan (naskah asli berbahasa Inggris: "flesh and blood" bodhisattva, yang
secara harafiah berarti "bodhisattva yang terdiri dari darah dan daging." -penterjemah)
akan tampil 170 tahun setelah biara itu dibangun. Tubuh beliau kini masih ada
dalam posisi duduk bermeditasi di Nan-hua bersama-sama dengan tubuh Sesepuh Keenam.


Apakah hidup saya [di dunia ini] akan berakhir?" Guan-ben mengatakan beberapa patah
kata untuk menghibur saya.

Bulan keempat, sekali lagi saya memimpikan Sesepuh Keenam yang buat ketiga kalinya
meminta saya kembali. Saya merasa terkejut akan hal ini, namun tak lama kemudian [saya
mengetahui makna mimpi-mimpi itu], setelah menerima telegram dari pejabat Propinsi
Guangdong yang isinya mengundang saya untuk mengurus perbaikan Vihara Pa-triarkh
Keenam. Saya teringat akan tempat suci Sesepuh Keenam [Hui-neng] yang kondisinya
benar-benar memprihatinkan semenjak renovasi terakhirnya oleh Master Han-shan
[1546-1623] dan saya lalu melakukan perjalanan ke Ling-nan [nama lama dari Propinsi
Guangdong].

Sebelumnya, Jenderal Li Han-yun, kepala pasukan di Guangdong Utara, telah
memperhatikan kondisi Biara Nan-hua yang memprihatinkan itu dan melakukan
perbaikan-perbaikan kecil diawali November 1933 serta berakhir pada Oktober 1934.
Musim dingin tahun itu, para pelindung Dharma meminta saya memberikan transmisi
Sila. Karena beberapa gedung dan bangunan dari Biara Nan-hua sudah runtuh dan
asrama-asramanya tak dapat didiami lagi, kami membangun pondok-pondok bambu
sebagai tempat menginap bagi beberapa ratus tamu. Para pejabat dan orang terpandang
dari Kanton dan Shaoguan datang beserta keluarga mereka dalam jumlah besar guna
menerima Sila dan menjadi murid saya.

Pada malam hari tanggal tujuh belas bulan kesebelas, selama acara pentransmisian
Bodhisattva-Sila, muncullah seekor harimau yang seolah-olah hendak turut serta
menerima Sila Para hadirin yang menyaksikannya menjadi ketakutan. Namun setelah
saya mer.gucapkan Sila Berlindung pada Sang Triratna kepada Sang harimau, ia tampak
menerima dan memahaminya --- ia menjadi jinak, lalu pergi me-lenggang...

Kedatangan Master Xu-yun di Cao-xi

- dikutip dari XU-YUN HE SHANG FA Hui -

Pada tanggal dua bulan kedelapan tahun 1934, Master Xu-yun tiba dari Gu-shan dan
dengan diikuti oleh para pejabat pemerintahan distrik, kaum terpelajar, serta masyarakat
awam, berjalan bersama-sama ke Cao-xi! Ini terjadi pada hari peringatan kelahiran
Sesepuh [Keenam] dan sekitar sepuluh ribu orang datang berbondong-bondong ke vihara
buat mempersembahkan dupa.

DI GERBANG CAO-XI

Begitu tiba di depan gerbang, Sang Mahaguru menudingkan tongkatnya pada pintu
gerbang dan melantunkan bait-bait berikut ini:

Mimpi kini telah menjadi kenyataan di Cao-xi

Dari tempat nan jauh si orang miskin telah datang kembali,

Marilah kita jangan berpikir lagi mengenai
yang iya dan yang bukan,

Bahkan masih merupakan kesalahanlah
menyebutnya sebagai cermin nan kemilau bercahaya.

Semenjak transmisi jubah dan mangkuk kala
tengah malam di Huang Mei

Membangkitkan cahaya tak padam selama berabad-abad.
Siapakah dari para keturunan Keluarga
yang akan menjadi pewaris silsilah

Sehingga Sang Lentera dapat terus menerus
diwariskan guna mengungkap Keagungan Batiniah?


Mimpi yang dialami di Gu-shan menjadi nyata di Cao-xi.

Secara literal berarti: dari cakrawala: [yakni] dari Gu-shan yang jauh. Seorang
bhiksu menyebut dirinya orang miskin karena ia memang benar-benar tidak memiliki
uang sepeser pun.

Seluruh ajaran [kebenaran konservatif] dari tradisi studi {the teaching school)
hendaknya ditinggalkan pada saat ini, dimana pikiran diarahkan pada pencerahan
seketika.

Bahkan Shen-xiu masih melakukan kesalahan, tatkala ia membandingkan cermin yang
jernih dengan Pikiran yang [sesungguhnya] tidak dapat dijelaskan dengan cara
apapun. (Lihat gatha karya Shen-xiu di Sutra Altar Sesepuh Keenam)

Pewarisan atau transmisi ajaran dari Sesepuh Kelima pada Sesepuh Keenam
Lentera atau lampu yang diwariskan dari Sesepuh yangsatu ke Sesepuh berikutnya
melambangkan Doktrin-Pikiran (mazhab Zen).



DI GERBANG BIARA BAO-LIN

Sang Mahaguru mengunjukkan tongkatnya pada pintu gerbang dan melafalkan gatha
berikut ini:

Di sini jelas sekali jalan menuju Cao-xi.

Terbuka lebar Gerbang Hutan-Mestika

Di mana para siswa Mazhab ini dari sepuluh
penjuru ber-bondong-bondong

Datang dan pergi dalam perjalanan mereka nan panjang.

Manakala tempat Kebahagiaan Adiduniawi ini telah dicapai,

Kekosongan Murni bebas dari debu.

Alam Dharma tidaklah memiliki pusat ataupun keliling,

Satu-Pintu ini mencakup keajaiban semua aliran.


Aslinya ia disebut "Biara Bao-lin."

Hakekat sejati sang diri (the self-nature) adalah murni dan bebas dari segala
kekotoran.

Alam Dharma: dalam bahasa Sansekerta disebut Dharma-dhatu, kesatuan realita
spiritual yang mendasar, dipandang sebagai landasan atau penyebab dari segala
sesuatu, keabsolutan tempat timbulnya. segala hal. Ia tidak pula berada di-dalam, diluar,
ataupun di-antara keduanya.

Satu pintu untuk keluar dari samsara menuju Nirvana, yakni aliran Chan yang
merangkum: melingkupi seluruh keunggulan aliran-aliran lainnya.



DI AULA PEMUJAAN MAITREYA

Sang Mahaguru memasuki aula pemujaan dan melafalkan sebagai berikut:

Ketika siperut gendut menggeledek dengan gelegar suara tawanya

Ribuan teratai putih turun menghujani seluruh dunia-dunia,

Dengan tas gombalnya, ia begitu luas bak Semesta Raya,

Membabar Dharma di bawah Taman Pohon Bunga Naga,

Ia akan menggantikan Sang Buddha.



Lalu Master Xu-yun bersembah sujud di hadapan rupang Maitreya.

Yakni suara tawa nan keras dari Chan guna mengung-kapkan sang Pikiran [sejati]
yang sebenarnya sedang tertawa. Di Tiongkok, Maitreya digambarkan dengan patung
[seorang bhiksu] sedang tertawa lebar serta berperut gendut. Sebagai lambang kebajikannya
tanpa batas.

Teratai putih melambangkan Tanah Suci setiap Buddha. Ketika hakekat sang diri
telah direalisasikan, keenam hakekat samsara (keberadaan) telah diubah menjadi
Tanah Suci.

Pada masa Dinasti Liang (907-21), terdapat seorang bhiksu yang membawa tas kain
ke mana-mana --- ia pergi dan disebut dengan "bhiksu tas gombal." Ketika hendak
wafat, ia duduk di atas batu serta melafai sebuah gatha yang mengungkapkan jati
dirinya sebagai penjelmaan Maitreya. Setelah wafatnya, beliau muncul di tempat lain
dengan membawa tas kain di punggung. Maitreya memiliki kemampuan untuk tampil
di mana saja karena tubuh-spiritualnya luas memenuhi alam semesta.

Maitreya adalah Buddha yang akan datang. Ia kini berada di Surga Tushita, dan akan
hadir 5.000 tahun setelah parinirvana Buddha Sakyamuni. Ia akan mencapai
pencerahan di bawah pohon Bodhi yang bernama Pohon Bunga Naga dan akan
membebaskan semua makhluk.



DI HADAPAN ALTAR WEI-TUO

Sang Mahaguru mengucap bait-bait berikut ini:

Sebagai jawab atas kebutuhan semua [makhluk]
engkau hadir sebagai seorang pemuda

Dengan kekuatan yang membangkitkan rasa
takjub dan hormat engkau taklukkan hantu serta iblis.

Hei! Khotbah Dharma di Puncak Burung Nazar
masih berdering di setiap telinga,

Wahai Panglima gagah, Wahai Sang Pelindung Dharma



Sang Mahaguru lalu bernamaskara di hadapan area Wei-tuo

Salah seorang panglima dewata yang berada di bawah Maharaja Langit Selatan. Ia
merupakan penjaga sebuah vihara.



DI AULA PEMUJAAN SESEPUH KELIMA

Sang Mahaguru melafalkan:

Transmisi ajaran diwariskan di Negeri Timur ini

Menghasilkan bunga panca kelopak.

Dari Xiu di Utara dan di Selatan dari Neng

Tumbuh dahan dan cabang tersebar ke mana-mana.



Sang Mahaguru kemudian bersujud di hadapan altar Sesepuh Kelima.

Ikrarnya adalah untuk melindungi Buddha Dharma pada dunia-dunia di sebelah
timur, barat, dan selatan, yakni Purvavideha, Aparagodaniya, dan Jambudvipa (dunia
kita).

Yakni perintah sang Buddha bagi semua Pelindung Dharma yang hadir saat Beliau
membabarkan Sutra. Seruan "hei" yang bernuansa Barat dipergunakan untuk
menggantikan kata seru "ai" yang tidak dikenal di Barat. Seruan ini dikeluarkan oleh
para Mahaguru tercerahi untuk mengungkapkan kehadiran Pikiran Diri, sebagai
penunjukkan secara langsung atas Pikiran sebagai realisasi hakekat diri serta
pencapaian Kebuddhaan.

Bodhidharma datang ke Timur dan mewariskan jubah yang diwariskan kembali
hingga Sesepuh Kelima, yang di sini dilam-bangkan dengan bunga lima kelopak.
Shen-xiu dan Hui-neng (Sesepuh Keenam) membabarkan Dharma masing-masing di
Utara dan Selatan, serta menurunkan ajaran-ajaran tersebut pada para pewaris
Dharma mereka yang menyebarkannya ke seantero negeri.



DI AULA PEMUJAAN SESEPUH KEENAM

Dengan memegang dupa di tangan, Sang Mahaguru melantunkan bait-bait berikut ini:

Tiap tahun, yakni pada tanggal dua bulan kedelapan
dan tanggal delapan bulan kedua

Nampak jejak burung terbang di angkasa sana

Meskipun ia tiada pernah tersembunyi dalam Alam Raya

Bahkan Li Lou pun tak dapat melihatnya

Bagaimana mungkin [kita] sanggup mengenalinya ?



Dengan membakar batangan dupa itu, Beliau melanjutkan:
Hari ini ia telah ditunjukkan dengan jelas!

Peringatan kelahiran Sesepuh Keenam jatuh pada tanggal dua bulan delapan.
Sang Mahaguru membalik tanggal dan bulan- nya untuk menghapuskan kesan (jejak) akan
WAKTU yang tidak memiliki tempat dalam Kebijaksanaan absolut.

[Sesungguhnya] burung tidak menimbulkan jejak tatkala terbang di langit. Sehingga
dengan demikian dimensi RUANG pun juga dihapuskan.

Hakekat sang-diri selalu hadir, namun orang yang bathinya tercemar tidak dapat
melihatnya. Ia tidak dapat dinamai dan kata "ia" [yang dipergunakan di sini]
mengekspreksikan sesuatu yang tak terkatakan.

Li Lou, adalah nama seseorang yang disebutkan oleh Mensius - ia hidup sezaman
dengan Huang Di dan dapat melihat seutas rambut dari jarak seratus langkah.

Hakekat sejati tidaklah tampak oleh orang meskipun paling pandai sekalipun jika ia
masih terdelusi



#51 freedom

freedom

    Senior WDC

  • Moderators
  • 30
  • 1,301 posts
  • 8 thanks

Posted 22 February 2013 - 07:03 PM

Terimakasih senior TOP1 atas postingan Biografi Yang Mulia Zen Master Xu-Yun :)

Banyak hal yang saya pelajari dari Pribadi Mulia Yang Mulia Zen Master Xu-Yun.

Baru saya praktekkan 2hari lalu ketika saya sakit panas,
Belajar menerima semua fenomena atas tubuh ini, hasilnya sangat bagus :)

Terimakasih Senior TOP1 :)

Semoga Semua Mahluk Berbahagia :)

~Peace
Freedom


#52 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 22 February 2013 - 07:14 PM

DI HADAPAN ALTAR MAHAGURU HAN-SHAN

Dengan memegang dupa, Sang Mahaguru melafalkan:

Diseluruh penjurit negeri tidak pernah ia menjumpai tandingan

Namun kini seorang tandingan datang dengan nama Gu-shan

Terkadang sebuah kenangan

Membuat seseorang menyesali kegelisahannya

Kegelisahan macam apa?


Beliau lalu memanggil para pengikutnya dan melanjutkan:

Dua kerbau lempung bertarung untuk mengarungi samudera

Tiap kali saat mempersembahkan dupa, hatiku dipenuhi rasa duka nestapa,


Han-shan tidak memiliki tandingan saat ia memperbaiki biara Sesepuh Ke-enam pada
tahun 1602 (lihat Otobiografi Hanshan).

Kini Mahaguru Xu-yun memperoleh kehormatan untuk membangun kembali biara yang
sama; sehingga dengan demikian merupakan tandingan Han-shan.

Ingatan atau kenangan akan kegelisahan seseorang yang timbul oleh pemikiran-salah
(delusi).

Sang Mahaguru mengajak para pengikutnya untuk meng-hapuskan pandangan dualisme
mereka, yang menjadi sebab mu- sabab bagi timbulnya delusi. Dua kerbau tanah liat
berarti dualisme yang memecah belah hakekat sejati diri kita menjadi "sang aku" dan
"orang lain." Seseorang hendaknya menghapuskan pandangan salah serba mendua
(dualistis) ini untuk merealisasi hakekat sejatinya yang sesungguhnya tidak terbagi-bagi


Setelah mempersembahkan dupa, Mahaguru Xu-yun melanjutkan kembali:

Hari ini ada yang namanya De-qing

Dahulu sebelumnya [telah ada] yang bernama De-qing

Jika masa lampau dan sekarang bersua, maka ada perubahan wujud.

Dharma bangkit dan tenggelam sebagaimana terus
berlakunya hal baik dan buruk

Namun sebenarnya ia tiada pernah sekalipun lenyap,
--- selalu tinggal dalam hutan dan padang-rumput .


Lalu Sang Mahaguru bernamaskara di hadapan Han-shan.

Tiap kali saat mempersembahkan dupa pada sang Bud¬dha, saya teringat akan para
makhluk yang masih diliputi kekotor- an bathin, yang mengabaikan Dharma sejati, dan
karenanya hatiku dipenuhi oleh rasa duka nestapa.

De-qing adalah nama dari Mahaguru Xu-yun dan diper- gunakan kala Beliau masih muda.

De-qing adalah juga nama yang dipergunakan oleh Han- shan sebelum ia memanggil
dirinya "Han-shan" yang berarti "Gunung Bodo."

Aliran [Chan] dihidupkan kembali oleh Han-shan dan kembali merosot setelah masa-masa
kemajuan. Kini Mahaguru Xu-yun melakukan kembali hal yang sama.

Terlepas dari proses perkembangan dan kemunduran yang terjadi, hakekat diri sejati (the
self-nature) selalu sama entah itu di dalam hutan atau di tengah-tengah padang rumput.
Maksudnya ia berada di mana saja serta tak berubah.



DI AULA UTAMA

Dengan memegang batangan-batangan dupa terbakar, Sang Mahaguru melantunkan:

O, Bhagava. Guru dari [Dunia] Saha ini!

"Yang tak terciptakan" tanpa cela sama sekali
telah dibabarkan olehMu

Adalah Dharma sangat mendalam serta luar biasa.

Namun siapakah Buddha dan siapakah pula
para makhluk?



Kemudian Sang Mahaguru bernamaskara di hadapan Buddha.

Saha, bahasa Sansekerta yang berarti dunia kita ini. Buddha adalah guru bagi dunia ini.

Sang Buddha mendorong murid-muridNya untuk berjuang keras mencapai yang
"abadi tak terciptakan" guna terbebas dari khayalan Samsara kelahiran serta
kematian.

Buddha dan para makhluk memiliki hakekat yang sama. Di manakah letak
perbedaannya? Pengenalan akan hakekat diri sejati, menurut Aliran Chan secara
pasti akan membawa seseorang mencapai Kebuddhaan.



DI RUANGAN KEPALA BIARA

Sang Mahaguru memasuki ruangan kepala biara dan melafalkan:

Aku kini memasuki ruang mendiang Manusia Mulia

Serta menaiki tempat duduk Sesepuh terdahulu
Memegang kokoh pedang mendatar

Aku memberikan Perintah nan Benar yang
Terunggul

Inilah tempat di mana para Sesepuh dan leluhur
Mengajarkan Dharma demi menguntungkan umat manusia.

Sekarang, manusia tak berharga ini datang ke mari.

Apa yang dilakukan olehnya?



Sang Mahaguru menjentikkan jemari tiga kali dan melanjutkan:

Jentikan jari ini menyempurnakan ke-80.000
pintu Dharma

Memastikan "Pencapaian Langsung" pada
tingkatan Tathagata



Setelah itu Beliau bernamaskara di hadapan patung Buddha.

Kutipan dari Sutra Teratai: ruangan, rumah, atau tahta adalah sama-sama Istana
sang Tathagata atau Belas Kasih dan Tahta sang Tathagata adalah Kekosongan
Absolut, yakni ketidak- berubahan.

Pedang kebijaksanaan tak terhancurkan yang dipegang mendatar (horizontal) dengan
tujuan menghadang kepalsuan, yakni untuk menahan seluruh pemikiran salah (false
thinking).

Istilah Chan yang berarti perintah benar atau ajaran Kendaraan Terunggul, seperti
perintah pasti dari komandan pasukan.

Untuk mengungkapkan pikiran yang sebenarnya telah menjentikkan jari. "Tiga kali"
mengungkapkan kehadiran Tiga Tubuh Buddha (Trikaya) dalam satu.

Angka delapan melambangkan kesadaran kedelapan atau Alaya-Vijanana, atau
hakekat diri-sejati yang masih dicemari oleh pandangan Khaval. Banyak Dharma
yang diajarkan untuk mengatasi berbagai jenis pandangan khayal dan membentuk
apa yang disebut dengan Tradisi Studi (the Teaching School), dimana tujuan akhirnya
adalah Pencerahan. Jentikan jari Aliran Chan adalah juga merupakan Dharma yang
menunjuk langsung pada pikiran bagi perealisasian hakekat sejati serta pencapaian
Kebuddhaan. Oleh karena itu, jentikan jari juga merupakan penyempurnaan kesemua
jenis Dharma lainnya.



DI AULA DHARMA

Dengan menudingkan tongkatnya pada singgasana Dharma, Mahaguru Xu-yun
melantunkan:

Keagungan singgasana mulia ini

Telah diwariskan dari para Arya ke para Arya.

Hambatan dari segala sudut telah tiada lagi

Dan semua Dharma adalah begitu mendalamnya.

Jika di tengah-tengah [cahaya] mentari kepala
dapat diangkat tinggi

Tekanan dari apa yang dapat dilekati telah
dipatahkan dan disingkirkan

Bahkan mata dari besi serta lensa mata
dari tembaga

Meski melihat namun tak dapat mengenali.

Kedatangan [seorang] rahib-gunung
Itu sendiri bukanlah sesuatu yang istimewa

Jika dengan pandangan jauh Anda hendak
menembus segenap penjuru,

Maka Anda haruslah memanjat sendiri ke
tingkat yang lebih tinggi


Aliran Chan mengajarkan "Pencapaian Langsung" pada tingkatan Tathagata, tanpa perlu
melalui terlebih dahulu tingkatan-tingkatan kesucian sebelum mencapai penerangan
sempurna. Dalam istilah Chan, ini disebut dengan Pencapaian atau Pencerahan
Langsung/Seketika."

Para Arya kepada para Arya, Secara harafiah berarti dari leluhur ke leluhur.
Dipandang dari segala sudut, Chan adalah terbebas dari segala rintangan.

Dengan menggunakan [sudut-pandang] Chan maka orang bakal mampu menangkap
seluruh Dharma secara benar dan sangat mendalam.

Jika pikiran mengembara ke mana-mana, maka metode Chan memutarnya-balik serta
memotong semua pikiran membeda-bedakan dan kemelekatan.


Sang Mahaguru menudingkan tongkatnya pada tempat duduk itu dan melanjutkan:

Marilah kita naik ke atas!

Setelah menaiki tempat duduk, ia memegang dupa di tangan dan melafal:

Batangan-batangan dupa ini

Tidaklah turun dari angkasa;

Bagaimana mungkin mereka berasal dari bumi?

Kemudian mereka berasap di dalam pembakar dupa

Sebagai tanda persembahanku

Kepada Guru kita Sakyamuni Buddha,

Kepada semua Buddha dan Bodhisattva

Kepada semua Sesepuh dan para arya yang berasal
dari India dan Negeri Timur,

Kepada Arya Jnanabhaisajya yang pertama kali
mendirikan biara ini,

Kepada Mahaguru Agung Sesepuh Keenam

Dan kepada semua Mahaguru terdahulu
yang telah menghidupkan kembali dan melestarikan
aliran ini

Semoga mentari Buddha bersinar lebih terang lagi

Semoga Roda Dharma berputar selamanya


Selanjutnya Sang Mahaguru merapikan jubah serta duduk, Kemudian seorang bhiksu
kepala melafalkan:

Semua gajah dan naga disini telah berkumpul
menghadiri persamuan Dharma

Musti memandang pada Makna Terunggul


Lihat Sutra Altar dari Sesepuh Keenam
.
Naga dan gajah adalah istilah yang dipergunakan untuk Studi), istilah ini berarti
Realitas Terunggul. Dalam aula Chan, ia berarti: "Lihatlah ke dalam pikiran sendiri
untuk mencapai pencerahan." Ungkapan ini selalu dilafalkan oleh pemimpin upacara
(puja-bakti) sebelum seorang Mahaguru membabarkan Dharma.

Makna Terunggul. Menurut the Teaching School (Tradisi Studi), istilah ini berarti
Realitas Terunggul. Dalam aula Chan, ia berarti: "Lihatlah ke dalam pikiran sendiri
untuk mencapai pencerahan." Ungkapan ini selalu dilafalkan oleh pemimpin upacara
(puja-bakti) sebelum seorang Mahaguru membabarkan Dharma.


Dengan memegang tongkatnya, Sang Mahaguru berujar:

Dalam urusan begitu besar ini, jelas sekali bahwa tiada satupun Dharma yang [benarbenar]
eksis. Penyebab-penyebab terjadinya sesuatu, baik yang utama maupun
pendukung, adalah banyak dan tanpa akhir. Setelah parinirvananya Han-shan, kini saya
datang kemari.

Perbaikan biara kuno ini bergantung dari banyak sebab pendukung. Ia pertama kali
dibangun oleh Arya Jnanabhaisajya yang meramalkan bahwa kurang lebih 170 tahun
kemudian, seorang suciwan agung akan datang ke sini guna membabarkan Dharma bagi
pembebasan umat manusia dan mereka yang mencapai tingkat kesucian jumlahnya akan
sangat banyak bagaikan pohon-pohon di hu-an. Inilah asal mula namanya yang berbunyi
"Hutan Mestika."

Semenjak kedatangan Sesepuh Keenam ke tempat ini untuk mengajar dan membawa
seseorang ke jalan Dharma, seribu dan beberapa ratus tahun telah berlalu. Tak terhitung
makhluk hidup sudah dibebaskan. Masa kejayaan dan kemunduran datang silih berganti,
hingga masa Dinasti Ming, dimana Sesepuh Han-shan telah membangun kembali biara ini
serta menghidupkan kembali aliran [Chan], Kemudian lebih dari tiga ratus tahun berlalu
dan selama kurun waktu tersebut, tiadanya pengganti yang cocok telah menyebabkannya
terpuruk dalam keterlantaran.

Pengungkapan hakekat pikiran untuk merealisasi hakekat diri sejati dan pencapaian
Kebuddhaan.

Self-nature (hakekat diri sejati) pada dasarnya adalah murni, dan tiada satupun
Dharma yang diperlukan untuk mencapainya. Cukup sekedar: tahan pemikiran salah
dan sadarilah pikiran- sendiri (It will suffice to arrest false thinking and take
cognizance of the self-mind).

Sesepuh Keenam.


Tatkala masih berada di Gu-shan, saya melihat Sesepuh Keenam dalam sebuah mimpi
yang memanggil saya tiga kali ke tempat ini. Pada saat yang bersamaan, para pejabat
tinggi dan Upasaka penyandang dana bagi rekonstruksi biara mengutus wakilnya ke Gushan:
mengundang saya untuk memikul tanggung jawab ini.

Karena memandang ketulusan hati mereka, saya tergerak buat memenuhi permintaan
tersebut dan kini berada di atas kursi kehormatan ini. --- Saya merasa malu karena
kebajikan dan kebijaksanaan saya yang tidak mendalam serta karena kekurang pahaman
akan manajemen biara. Maka, saya harus bertumpu pada dukungan Anda semua sehingga
cabang pohon yang telah mengering bakal diperciki dengan Amrta dan rumah yang
terbakar bisa diliputi oleh awan belas kasih. Bersama-sama kita akan mengerahkan
segenap daya-upaya untuk melestarikan biara Sesepuh Keenam ini.

Amrta: Minuman para dewa [dalam mitologi India kuno]

Rumah yang terbakar: Samsara, yakni dunia kita. Kutipan dari Sutra Teratai.
Saya dapat bertumpu dengan yakin pada keempat raja dewata yang patung tingginya
kini berdiri para pintu masuk biara dan yang juga tampil tatkala Sesepuh [Keenam]
melipat nisidana atau jubahnya untuk alas duduk.
(Lihat kata pengantar oleh Fa hai dalam Sutra Altar Sesepuh Keenam)


Selain berusaha melestarikannya,

Apakah yang saya lakukan sekarang?

Dengan merangkapkan kedua tangari ber-anjali, Sang Mahaguru berpaling ke kanan dan
kiri dengan sikap menghormat serta mengatakan:

Pada sudut-sudut jubah saya berdiri empat raja dewata.

Lalu Sang Mahaguru turun dari kursi Dharmanya.

Musim semi tahun ini, Jenderal Li Han-yun dipindah ke -distrik Guangdong sebelah
timur, sehingga kami kehilangan dukungan berharga serta mengalami kesulitan yang
semakin besar dalam merenovasi biara. Setelah mentransmisikan Sila, cabang Donghua
dari rumah sakit di Hongkong mengundang saya guna melaksanakan upacara ritual
pelimpahan jasa bagi mereka yang meninggal di daratan dan lautan.

Sebuah altar telah didirikan guna keperluan tersebut di Vihara-Vihara Dong-lian dan
Jue-yuan. Setelah upacara ritual selesai, saya kembali ke Biara Gu-shan buat mengajukan
pengunduran diri saya sebagai kepala biara dan meminta kepala-pengurusnya, Mahaguru
sepuh Zhong-hui, agar memangku jabatan tersebut.

Saya lantas balik ke Biara Nan-hua, di mana saya merenovasi Aula Sesepuh Keenam dan
membangun Altar Avalokitesvara beserta tempat penginapannya. Musim dingin tahun ini,
tiga pohon cedar di belakang vihara yang telah ditanam pada masa Dinasti Song (960 -
1279) dan telah mengering selama beberapa ratus tahun terakhir, tiba-tiba mekar berdaun
kembali. Master Guan-ben, pemimpin komunitas, mencatat peristiwa langka ini dalam
sebuah senandung yang dipahatkan pada prasasti batu di biara

USIA Ke 97 (1936/37) Sehabis transmisi Sila di musim semi, renovasi ^ (17 Biara
Nan-hua secara bertahap telah selesai.

Presiden Republik Tiongkok, Lin-shen hadir bersama dengan Chu-zheng,
seorang menteri kabinet, dan Jenderal Jiang Gai-shek ke biara
secara bergantian.
Presiden Lin dan Menteri Chu menyumbang dana guna
membangun kembali aula utama. Sedangkan Jenderal Jiang Gai-shek menyumbang dana
yang sedianya untuk biaya pembayaran tenaga untuk memindahkan Sungai Cao-xi yang
jalur alirannya kian mendekati biara.

Namun demikian, pengalihan aliran Sungai Cao-xi ini pada akhirnya ternyata justru tidak
membutuhkan tenaga manusia sedikit pun, tetapi telah terlaksana oleh berkat
pertolongan para makhluk-suci pelindung Dharma

CATATAN OLEH UPASAKA CEN XUE-LU

Aslinya, Sungai Cao-xi mengalir 1.400 kaki jauhnya dari biara. Karena proses
sedimentasi dan tidak pernah digali lumpurnya semenjak lama, ia menjadi dipenuhi batu
serta endapan dan alirannya berpindah semakin ke arah utara, langsung menuju kiart
mengarah ke biara. Untuk mengembalikannya ke jalurnya yang asli, diperlukan 3000
pekerja dan biaya yang besar.

Ketika pekerjaan itu hendak dimulai, pada malam hari tanggal dua belas bulan ketujuh,
sekonyong-konyong terjadilah badai-guruh yang berlangsung sepanjang malam. --- Pagi
berikutnya, air-bah mendadal bantaran sungai Cao-xi, membentuk aliran baru, TEPAT
justru menjadi sebagaimana yang diharapkan.

Sedang daerah aliran sungai yang semula itu, kini telah dipenuhi oleh timbunan pasir dan
batu yang tingginya bahkan melampaui bantaran sungai lama lebih tinggi lagi beberapa
kaki, sehingga nampak-nya seolah-olah para makhluk suci pelindung Dharma dari biara
telah memberi pertolongan membetulkan arah aliran sungai tersebut.

USIA Ke 98 (1937/38) Musim semi tahun itu, setelah acara pentransmisian Sila, saya
diundang oleh Asosiasi Buddhis Guangdong ke Kanton, di mana saya membabarkan
Sutra-Sutra serta menerima para Lama Tibet beserta murid-murid mereka. Para umat
Buddha dari sekitar kota Fu-shan meminta saya meresmikan stupa yang didirikan di
Vihara Ren-shou. Saya lalu kembali ke Biara Nan-hua guna mengawasi renovasi
bangunan vihara.

USIA Ke 99 (1938/39) Setelah acara pentransmisian Sila pada musim semi tahun itu,
saya ke Kanton guna membabarkan Sutra-Sutra dan setelah itu ke Hongkong untuk
melakukan ritual Mahakaruna di Vihara Dong-lian serta Jue-yuan. Setelah itu saya
kembali ke Biara Nan-hua.

USIA Ke 100 (1939/40) Selama pentransmisian Sila yang terjadi pada musim semi,
serombongan besar orang data ke biara untuk menerima pentransmisian tersebut
sehubungan dengan pecah peristiwa kerusuhan di daerah Utara. Banyak prajurit dan
rakyat biasa luka-luka dan mati, maka saya menyarankan para murid Buddha untuk
melakukan ritual pertobatan selama dua jam setiap harinya, berdoa bagi mereka yang
telah wafat serta agar bencana itu segera berakhir. Saya juga menganjurkan tiap orang
agar makan dalam jumlah yang lebih sedikit agar ditabung guna dana kemanusiaan.
Anjuran-anjuran tersebut disetujui dan dijalankan oleh khalayak ramai

Upacara ritual ini selalu mencakup pelafalan Dharani Belas Kasih Agung
(Mahakaruna) dari Avalokitesvara atau Bodhisattva Guanyin. Kadang-kadang,
sebuah altar khusus didirikan dengan disertai mandala Garbhadhatu atau "Gudang
Rahim" dengan tatacara ritual yang panjang. Gunanya untuk melimpahkan kekuatan
spiritual bagi mereka yang sakit, hendak meninggal, ataupun telah meninggal.


USIA Ke 101 (1940/40) Di masa sehabis acara pentransmisian Sila di musim semi,
Kanton jatuh ke tangan tentara Jepang dan seluruh departemen baik yang menangani
urusan sipil maupun militer dialihkan ke Qujiang, di mana sejumlah besar bhiksu
berkumpul dari segenap penjuru propinsi

Saya memperbaiki Vihara Da-jian (Cermin Agung) dan menggunakannya sebagai bagian
dari Biara Nan-hua untuk menerima tamu. Saya juga merenovasi Biara Yue-hua (Bunga
Bulan) untuk kepentingan yang sama.

USIA Ke 102(1941/42) Setelah acara pentransmisian Sila yang terjadi pada musim semi
tahun itu, saya menyumbangkan pada pemerintah propinsi uang sejumlah 200.000 dollar
yang berasal dari persembahan murid serta umat Buddhis selama dua tahun bagi korban
bencana kelaparan di daerah Qujiang.

Asosiasi Buddhis Guangdong dipindahkan ke Qujiang pada musim gugur tahun ini dan
saya dipilih sebagai presidennya, sedangkan Upasaka Zhang-lian sebagai wakil
presidennya.

USIA Ke 103 (1942/43) Selama pentransmisian Sila yang terjadi pada musim semi
tahun ini, makhluk halus penghuni sebatang pohon di biara datang guna
menerima transmisi Sila. Mahaguru Guan-ben sebagai pengawas vihara mencatat
kejadian aneh ini sebagai berikut:

Pada saat upacara pentransmisian Sila, datang seorang rahib dan memohon sila bagi
seorang Bhiksu. Ia berkata bahwa namanya adalah Zhang dan lahir di Qujiang. Usianya
telah mencapai 34 tahun, namun ia tidak pernah berjumpa dengan seseorang yang [dapat]
mencukur rambutnya [guna menjadi Bhiksu], Tatkala ditanya apakah ia datang dengan
membawa jubah upacara dan perlengkapan-perlengkapan yang biasa dipakai bagi
upacara ritual semacam itu, jawabnya adalah tidak. Oleh karena ia terbuka dan tulus,
maka baginya disediakan segenap perlengkapan yang diperlukan. Ia juga dianugerahi
nama Dharma: Zhang-yu.

Sebelum tiba giliran untuk menerima transmisi Sila, ia bekerja keras membersihkan
vihara. Ia seorang yang pendiam serta tidak berbicara dengan para bhiksu lainnya.
Ketika dipersilahkan masuk melangsungkan upacara di aula Vinaya, ia menjalankan
semua disiplin kebhiksuan dengan tanpa cela. Namun sehabis menerima Sila
Bodhisattva, ia tidak dapat dijumpai lagi [dimanapun juga] --- sehingga jubah serta
sertifikat penerimaan sebagai muridnya lalu disimpan di aula Vinaya dan peristiwa ini
segera dilupakan begitu saja...

Tahun berikutnya, sebelum berlangsungnya upacara rutin ritual pentransmisian Sila,
Master Xu-yun bermimpi didatangi oleh bhiksu itu dan meminta sertifikatnya. Tatkala
ditanya ke mana ia pergi sehabis upacara ritual tahun lalu, ia menjawab bahwa ia tidak
pergi ke rnanapun juga, karena ia tinggal bersama dengan Dewa Bumi... sertifikatnya lalu
dibakar sebagai persembahan sehingga dengan demikian dapat diterima olehnya.


#53 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 22 February 2013 - 11:48 PM

DUA PESAWAT PENGEBOM JEPANG
BERTABRAKAN DI ATAS BIARA


Pada musim panas dan semi tahun itu, kami memperbaiki biara para bhiksuni di Wu-jin
agar bisa menerima semua bhiksuni yang datang ke Qujiang. Vihara Da-jian baru saja
dibangun kembali, tetapi renovasi Biara Nan-hua belumlah selesai. Dari waktu ke waktu
saya dimintai pendapat oleh Biara Gu-shan mengenai banyak hal sehingga menjadi sibuk
sekali sepanjang waktu. Di puncak segala kerepotan ini adalah: pesawat pengebom
Jepang yang tiap hari mengganggu kami dengan terbang berseliweran di atas biara dalam
menjalankan misi penyerangan mereka.

CATATAN OLEH CEN Xue-LU, EDITOR. XU-YUN

Setelah kejatuhan Kanton ke tangan Jepang, ibu kota propinsi semasa perang dipindahkan
ke Qujiang dan para panglima tinggi militer kerapkali datang ke Biara Nan-hua. Agen
rahasia Jepang mengetahui bahwa vihara itu kerap menjadi tempat meeting bagi para
pejabat Tiongkok. Pada bulan ke-tujuh, tatkala sejumlah besar orang sedang berkumpul
di Sana, delapan pesawat pengebom musuh datang dan berputar-putar maneuver di atas
biara.

Sang Mahaguru mengetahui tujuan mereka dan memerintahkan para bhiksu untuk kembali
ke asrama. Setelah semua tamu berlindung di aula tempat penghormatan Sesepuh
Keenam, Sang Mahaguru pergi ke aula utama, di mana ia membakar dupa serta 'duduk
bermeditasi. - Salah satu pesawat terbang rendah dan melepas sebuah bom besar yang
jatuh di luar vihara, pada belukar di bantaran sungai, namun melempem tidak
menimbulkan kerusakan apapun.

Pesawat-pesawat pengebom itu kembali datang berputar-putar lagi di atas biara. - Tibatiba
saja dua pesawat terbang musuh bertabrakan dan nyelorot jatuh di Maba, sekitar
sepuluh mil di sebelah barat. Keduanya hancur bersama dengan pilot dan senapan-senapannya.
Semenjak itu, tak ada lagi pesawat musuh yang berani terbang di atas Biara.

Musim dingin tahun itu, di bulan kesebelas, Presiden Lin-shen beserta pemerintah
mengutus Upasaka Chu Ying-guang dan Zhang Zi-lien ke biara, guna mengundang saya ke
Chong-qing, ibukota negara semasa perang, dan menyelenggarakan puja bakti demi
kesejahteraan negara. Saya meninggalkan Nan-hua pada tanggal enam bulan kesebelas
dan ketika tiba di gunung suci Heng-shen (Propinsi Hunan), saya memper- sembahkan
dupa di biara yang terletak di sana dan berjumpa dengan Upasaka Xu Guo-zhu, dimana
beliau telah diutus oleh Marsekal Li Ji-shen untuk mengundang saya ke Guilin.

Setibanya di sana, saya tinggal di Gunung Yue-ya, di mana para bhiksu, bhiksuni,
upasaka, dan upasika datang dan meminta untuk menjadi murid. Selanjutnya, ketika
mencapai Gu-zhou, saya tinggal di Biara Qian-ming, di mana Kepala Biara Guang-miao
meminta saya untuk membabarkan Dharma. Kala tiba di Chongqing lagi, saya ditemui
oleh para pejabat pemerintahan dan wakil dari berbagai biara. Setelah menerima
undangan yang diberikan oleh Presiden Lin-shen dan Upasaka Dai, yakni penanggung
jawab pelaksanaan puja bakti, kami memutuskan untuk menyelenggarakan dua
pembabaran Dharma di Vihara Ci-yun dan Hua-yan

USIA Ke 104 (1943/44) Saya melakukan puja bakti demi kesejahteraan negara yang
dilakukan pada bulan pertama dan " berakhir pada hari keduapuluh enam. Presiden Linshen,
Jenderal Jiang Gai-shek, Menteri Dai, Jenderal Ho, beserta para pejabat tinggi
lainnya mengundang saya secara bergantian untuk bersantap makanan vegetarian.
Jenderal Jiang Gai-shek bertanya secara panjang lebar mengenai Dharma yang juga
mencakup masalah filosofi materialisme serta idealisme, dan begitu pula dengan ajaran
Kristen. Saya menjawab pertanyaannya itu dalam sepucuk surat.

Surat ini telah diterbitkan dalam bahasa Inggris pada World Buddhism Wesak
Annual, 1965.


Saya lalu membabarkan Dharma di Vihara Ci-yun dan Hua-yan, di mana pembabaran
Dharma saya dicatat oleh asisten saya yang bernama We-yun. Bulan ketiganya, saya
balik ke Vihara Nan-hua guna membangun sebuah stupa untuk menempatkan abu para
murid yang telah meninggal. Ketika menggali tanah, kami menemukan empat peti mati
kosong, masing-masing panjangnya mencapai 16 kaki, dan juga ubin-ubin berwarna
hitam seukuran delapan inchi persegi dengan gambar burung, hewan, serta simbol-simbol
astrologi. Namun tanggal pembuatannya tidak tertera di atasnya.

Sekolah Vinaya bagi para calon biara wan dibuka pada bulan ke-enam dan begitu pula
halnya dengan sebuah sekolah gratis bagi anak miskin setempat. Bangunan stupa selesai
pada musim dingin tahun itu.


Bersambung ke Bab 14...

#54 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 24 February 2013 - 10:31 PM

Bab 14. BIARA YUN-MEN

USIA Ke 105 (1944/45) Pada tahun 1940, setelah biara Sesepuh Keenam selesai
dibangun kembali, saya pergi dengan Bhiksu Fu-guo ke Qujiang guna melacak biara kuno
dari Ling-shu, namun kami gagal menemukannya Ketika tiba di Gunung Yun-men, kami
menjumpai sebuah vihara rusak berat di tengah semak belukar yang lebat. [Ternyata], di
dalam biara itu tersimpan tubuh dari pendiri Aliran Yun-men.

Biara Ling-shu adalah vihara dari Mahaguru Ling-shu (wafat 918) dan merupakan
tempat di mana Mahaguru Yun-men mempelajari Dharma sebelum mendirikan alirannya sendiri.

Master Wen-yen Yun-men (wafat 949) ialah pendiri Aliran Yun-men. Biaranya terletak
di sebelah barat Qu-jiang, yang dahulunya ber- nama Shaozhou, di puncak Gunung
Yun-men (Lihat Chan and Zen Teaching, no 2, halaman 181-214, Aliran Yunmen).


Menyaksikan kondisi tempat suci ini yang amat memprihatinkan, saya begitu terenyuhnya
sehingga tak dapat menahan tetesan air mata. Seorang bhiksu bernama Ming-kong tinggal
seorang diri di sana semenjak tahun 1938 dan telah menjalani kehidupan yang berat agar
dapat melanjutkan penghormatan terhadap pendiri mazhab tersebut. Ia mengisahkan
pahit-getir yang dialami serta berkata bahwa apabila biara itu tidak diperbaiki
secepatnya ia bakal segera hancur menjadi debu. --- Saya lalu kembali dulu ke Biara
Nan-hua.

SUATU HARI, MARSEKAL Li Jl-SHEN DAN KETUA Li HAN-YUN datang berkunjung.
Pada kesempatan tersebut saya men- ceritakan apa yang saya lihat di Yun-men.
Kemudian selama kunjungan kerjanya, Ketua Li melewati Gunung Ru-yuan dan
menyaksikan sendiri reruntuhan Biara Ta-jue (Pencerahan Agung) yang terletak di
Puncak Yun-men, yang sama mem- prihatinkannya dengan Biara Nan-hua sebelum
direnovasi. Ia membuat pertemuan dengan mengundang Sangha serta orang-orang penting
--- dalam rapat tersebut saya diminta menjadi penanggung jawab bagi perbaikan biara.
Sebagai antisipasi atas perang yang berkecamuk hingga ke Nan-hua, secara rahasia saya
pindahkan tubuh Sesepuh Keenam dan Mahaguru Han-shan ke Yun-men.

Tiba di Yun-men, saya melihat bangunan biara dalam kondisi yang sangat
memprihatinkan, kecuali Aula penghormatan bagi Mahaguru Yun-men --- bahkan
balairung itupun juga terancam roboh. Saya tinggal di ruangan kecil belakang Altar
Bodhisattva Avalokitesvara, di mana saya menyusun rencana-kerja restorasi tempat
suci tersebut.

Pada musim dingin, saya balik ke Nan-hua buat melaksanakan puja serta pelimpahan jasa
bagi mereka yang sudah meninggal di darat maupun di lautan.

USIA Ke 106 (1945/46) Tentara Jepang menaklukkan Guangdong Utara antara musim
semi dan panas tahun itu serta menguasai semua distrik, termasuk Ru-yuan. Banyak
pengungsi lari ke Biara Yun-men. Mula-mula mereka berbagi nasi dengan anggota
komunitas biara; ketika persediaan beras mulai menipis, mereka bersama-sama makan
bubur dan akhirnya sejenis tepung ketela.

Di antara mereka terdapat tukang kayu, pembuat bata, dan tukang batu --- sekitar seratus
orang tenaga terampil ini mengajukan diri bekerja secara suka rela, sehingga sangat
membantu pembangunan kembali biara.

Ketika tentara Tiongkok bergerak pindah ke garis pertahanan lainnya pada musim panas,
para bandit setempat menyangka pasukan itu mundur kalah --- bandit-bandit menjarah
dan merampas sejumlah besar perbekalan tentara. Bala bantuan pun segera didatangkan
dan rencananya menyerang para bandit di lebih dari empat puluh desa. [Khawatir oleh
kegentingan situasi] sekitar seribu penduduk desa, termasuk pria dan wanita lanjut usia,
kabur membawa pakaian serta ternak-ternaknya ke bukit-bukit yang dihuni suku-suku
terpencil.

Para tetua desa datang ke biara, meminta saya agar turun tangan. Saya merembug hal itu
dengan Komandan tentara --- tiga hari kemudian, seluruh barang jarahan telah
dikembalikan dan pasukan tak lagi mengalami kerugian. Sebuah perjanjian pun ditandatangani
dan keadaan kembali normal.

Semenjak saat itu, para penduduk desa memandang saya bagai bunda welas-asih bagi
mereka --- kendati tentara Jepang menduduki kota-kota, mereka tak lagi membebani
dengan ngungsi ke Yun-men sehingga menghindari masalah keruwetan dengan penduduk
di wilayah itu.

USIA Ke 107 (1946/47) Perang Dunia II berakhir dan semua lembaga-pemerintah
kembali ke tempat asalnya masing-masing. Saya mentransmisikan Sila dan membacakan
Sutra seperti biasa pada musim semi. Pemerintah pusat di musim rontok tahun itu, minta
semua biara di segenap penjuru negeri menyelenggarakan puja-bakti serta melafal Sutra
demi melimpahkan jasa bagi mereka yang gugur di medan perang. Saya diundang oleh
para pejabat dan kaum terpandang buat mengunjungi Kanton di bulan Novembernya guna
menyelenggarakan puja yang sama di Vihara Jin- hui (juga disebut dengan Liu-rong atau
Enam Pohon Banyan).

Terdapat beberapa pohon persik yang tumbuh di vihara; sementara upacara puja bakti
sedang berlangsung, pohon-pohon itu tiba-tiba saja berbunga meski belum musim -
bunga- bunganya sungguh melimpah ruah. Sekitar 100.000 orang hadir ke vihara serta
menyaksikan keajaiban ini. Buat mengenang peristiwa itu, Upasika Zeng Bi-shan
membikin sulaman yang menggambarkan Buddha masa lampau dengan bunga-bunga
pohon persik, dan Upasaka Hu Yi-sheng juga melukis bunga-bunga ajaib tersebut.

Setelah puja berakhir, saya diundang oleh para pejabat dan kaum terpandang di
Chaozhou serta Shantou untuk membabarkan Buddhadharma di Biara Kai-yuan
(Chaozhou), dimana sejumlah besar umat hadir buat menerima Sila. Musim dingin tahun
itu, murid senior saya yang bernama Guan-ben meninggal dunia.

USIA Ke 108 (1947/48) Saya pergi ke Biara Nan-hua pada musim semi untuk
membabarkan Sutra-Sutra serta mentransmisikan Sila. Donghua, nama sebuah grup rumah
sakit di Hong Kong, mengundang untuk menyelenggarakan puja demi kesejahteraan
Crown Colony. Saya pergi ke sana dan tinggal di Sekolah Chong-lan. Upasika Zeng Bishan
membantu menyertai saya dalam setiap kesempatan puja bakti, dimana beberapa
orang menjadi murid saya.

Selanjutnya saya diundang oleh murid-murid yang berada di Makao (Aomen) untuk
membabarkan Sutra-Sutra serta menyelenggarakan pekan meditasi. Beberapa ribu umat
menjadi murid. Upasaka Ma Shi-chuan mengajak saya ke Gunung Zhong tempat di mana
kami menyelenggarakan puja bakti Mahakanma. Pada upacara tersebut, beberapa ribu
orang lain- nya juga menjadi murid saya. Setelah itu, saya balik ke Biara Yun-men untuk
mempercepat renovasinya.

USIA Ke 109 (1948/49) Musim semi, sehabis pentransmisian Sila di Biara Nan-hua,
saya pergi ke Kanton untuk membuka Rumah Sakit Buddhis Zhi-de serta membabarkan
Dharma. Saya lalu ke Hong Kong: membabarkan Sutra-Sutra di Biara Ci-hang Jin-yuan
di Shatin; menyelenggarakan satu pekan meditasi Sukhavati dan mengajarkan rumusanperlindungan
(Trisarana) serta lima Sila di Vihara Zhi-lin. Saya juga menyelenggarakan
upacara ritual pertobatan dan perbaikan diri (repentance and reform) di Biara Dong-lian
Jue- yuan (Taman Pencerahan Teratai Timur).

Edited by Top1, 24 February 2013 - 10:33 PM.


#55 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 24 February 2013 - 11:40 PM

SEORANG WANITA AMERIKA MENERIMA SILA

Sekembali saya ke Yun-men pada bulan kelima, Dharma Master Jia-chen wafat di
Yunnan. Musim gugur tahun itu, seorang wanita Amerika, bemama Ananda Jennings,
datang dan menerima Sila. Sepekan meditasi Chan juga diselenggarakan pada waktu itu
dan ia merasa gembira sebelum akhir-nya balik ke Amerika.

CATATAN DARI CEN XUE-LU, EDITOR
DARI MASTER XU-YUN


Tahun itu, Ananda Jennings --- yang telah lama mendengar mengenai kearifan dan
kesucian Sang Mahaguru --- mengungkap keinginannya untuk mengunjungi Tiongkok guna
menghadap beliau. Master Xu-yun diberitahu mengenai hal itu lewat pelayanan konsuler
Tiongkok & Amerika, dan dijawab bahwa beliau akan senang hati berjumpa dengannya.
Ketika Ananda Jennings tiba di Hongkong, Sang Mahaguru sedang ada di Kanton.
Ananda Jennings lalu bertolak ke Sana untuk mengunjungi Master Xu-yun. Ia berkata
bahwa tujuannya ialah buat mempelajari Dharma. Ayahnya adalah seorang doktor teologi
dan ia sendiri mempelajari studi perbandingan agama selama dua puluh tahun.
Sebelumnya, Jennings banyak merantau dalam proses pencarian Dharma dan ia pernah di
India menjalani hidup pertapaan. Selanjutnya ia mempraktikkan Dharma dengan
menempuh retret sendiri empat tahun di Barat.

Setelah aktif dalam perjuangan perdamaian dunia selama tiga tahun di Liga Bangsa-
Bangsa, ia merasa bahwa DAMAI itu hanya bisa dijumpai pada sesuatu yang lebih
mendalam, yakni: di level spiritual. --- Pencariannya itu mem- bawa Ananda Jennings
pada Buddhadharma tertinggi -- yang membebaskan pikiran dari proses terus-menerus
menciptakan lagi peperarigan [justru] dalam usahanya untuk memecahkan itu: "Tatkala
pikiran telah damai --- segala pandangan salah bakal lenyap dengan sendirinya."

Sang Mahaguru mengantar Ananda Jennings ke Biara Nan-hua guna melakukan
penghormatan pada Sesepuh Keenam. Setelah upacara trisarana, ia diberi nama Dharma:
Kuan-hung (Keluasan nan Agung). Pekan meditasi Chan digelar pada kesempatan
tersebut, dan jumlah mereka yang hadir dari empat penjuru begitu besarnya.

Ketika pekan Chan diawali, Sang Mahaguru memasuki aula dan berkata kepada hadirin:

'Membicarakan mengenai "hal" ini, ia pada dasarnya telah sempurna; tiada ia bertambah
dalam kondisi suci dan tidak pula ia berkurang tatkala berada pada alam duniawi.
Manakala Sang Tathagata menyelami17' keenam alam samsara, maka setiap alam itu
mendengar tentangNya dan ketika Guan-yin (secara harafiah berarti Pengamat Suara
Dunia) [menjelma] melalui kesepuluh jenis makhluk hidup, setiap dari mereka berada
dalam kondisi "ke- demikianan." Jika segala sesuatunya memang "demikian" adanya, apa
yang engkau cari dan mengapa engkau mencarinya? Seorang sesepuh berkata, "Selama
sikap diskriminatif masih bertahan, maka pikiran akan tersesat dalam kebingungan."

Naskah asli bahasa Inggris: transmigrates, yang secara harafiah berarti bertransmigrasi
atau berputar-putar. Agar tidak terjadi salah paham maka diterjemahkan sebagai
"menyelami," oleh karena seorang Tathagata tidak perlu lagi bertransmigrasi di enam
alam - penterjm.


Oleh karena itu, Anda patut mendapat beberapa pukulan tongkat saya, bahkan sebelum
perahu Anda menepi. . --- Sayang sekali! Anda malah datang ke sebuah gubug untuk
memungut jerami yang tak berharga, dan bukannya membuka kotak harta pusaka Anda
sendiri. Semua ini cuma dikarenakan satu-buah- pikir saja yang belum tercerahi. Oleh
karena pikiran sinting Anda belum berhenti, Anda bagai mencari kepala lain, sambil
kedua belah tangan memegang kepala sendiri atau mengatakan bahwa Anda sedang haus,
padahal ada air di hadapan Anda. Kawan-kawan yang terhormat, mengapa susah pavah
datang kemari?... Mengapa?... Karena Anda tidak menyayangkan uang buat membeli
sandal, saya mesti tak ragu membuka mulut bodoh ini.'

Sang Mahaguru kemudian mengucapkan teriakan Chan dan berkata, "Manusia Tua Agung
dari Shakya telah datang. Tsan!"
------------------------------------------------------------------------------------
Artinya, sebelum Anda meninggalkan perahu untuk datang dan meminta petunjuk saya,
maka Anda telah melakukan kesalahan, karena mengabaikan Hakekat Kebuddhaan
(Buddha-nature) yang inheren ada dalam diri; --- Anda malah mencari-cari di-luar diri.
Karena kesalahan ini, Anda patut menerima tiga puluh pukulan tongkat saya.

"Tsan" adalah peristilahan Chan yang berarti "AMATI-lah!" atau "LIHAT-lah ke dalam
pikiranmu sendiri!." --- Luas tak terbatas meditasi sang Buddha, pandangan segala
sesuatu berada dalam totalitasnya.
------------------------------------------------------------------------------------

Para bhiksu senior dari biara-biara lainnya juga hadir, dimana mereka juga
berbicara pada pertemuan tersebut. Di bawah ini adalah dialog (Mandarin: Weti-ta,
Jepang: Mondo) antara Ananda Jennings dengan seorang murid Master Xu-yun yang
bernama Qi-shi (secara harafiah berarti "Sang Pertapa")'


Qi-shi: Anda telah menyeberangi lautan serta menempuh bahaya demi untuk tiba di
tempat ini. Apakah tujuan kunjungan Anda?

Ananda Jennings : Tujuanku adalah merealisasikan Buddhadharma.

Q : Seseorang hendaknya paham mengenai masalah kelahiran dan kematian kala ia
mempelajari Dharma; apa pendapat Anda tentang "kelahiran dan kematian"?

AJ : Karena pada dasarnya tiada kelahiran maupun kematian, apa gunanya merumuskan
pendapat-pendapat, padahal ia sendiri merupakan "kelahiran dan kematian"?

Q : Jika tiada kelahiran dan kematian, apakah gunanya belajar Buddhadharma?

AJ : Pada dasarnya tiada Buddhadharma, dan ia yang merea-lisasi Dharma adalah
Buddha.

Q : Sang Buddha memiliki tiga puluh dua tanda keagungan dan bila ia menyentuhkan jari
kakinya ke tanah, maka memancarlah berbagai fenomena nan agung dapatkah Anda
melakukannya ?

AJ : Kemampuan maupun ketidak-mampuan untuk melakukannya sebenarnya adalah
kosong.

Dalam naskah asli berbahasa Inggris disebutkan sebagai the ocean symbol, yang
artinya periambang samudera. Agar lebih jelas maka diterjemahkan sebagai
fenomena nan agung.


Q : Meskipun penafsiran Anda mendalam dan apa yang Anda katakan adalah benar.
Semata-mata berbicara mengenai makanan tidak akan mengenyangkan perut. Menurut
Anda, apakah yang dimaksud dengan, "Ucapan Pamungkas"?

AJ : Yang Pamungkas (the Ultimate) tak dapat diucapkan dan kata-kata juga tidak
memiliki dasar. Hakekat tanpa pe-mikiran dari pencerahan adalah terbebas dari banjir
pen-dapat dan gagasan.

Q : Anda telah bicara terperinci dan setiap ucapan Anda benar-benar selaras dengan
ajaran Sang Sesepuh. Namun, kata "pengetahuan" (knowledge) adalah gerbang menuju
segenap bencana. Karena Anda telah memasuki penafsiran benar, izinkanlah saya
menanyakan hal ini: Tanpa menggunakan kata-kata atau ucapan, bagaimanakah wajah
asali Anda?."

AJ : Sutra Intan mengatakan, "Anuttara-samyak-sambodhi bukanlah anuttara-samyaksambodhi

Sang pertapa bermaksud mengajak tamu Amerika itu pada dialog Chan (wen-ta).
Jika Ananda Jennings ingin menguji kemampuan sang pertapa untuk melakukannya,
ia mestinya memberikan bentakan atau menampar muka sang pertapa buat
menunjukkan "berfungsinya" wajah asali-nya (Ananda Jennings).

Anuttara-samyak-sambodhi berarti "pencerahan yang leng-kap dan sempurna."
Dalam Vajracchedika, sang Buddha berkata bahwa "penerangan yang lengkap dan
sempurna" adalah meng-realisasi yang "tidak-tercapaikan" dari hakekat
transendental, karena bila [masih ada] orang "yang merealisasi" dan "obyek" yang
direa-lisasi, lalu apa bedanya dengan kelahiran serta kematian? Sehingga dengan
demikian, penemuan anuttara-samyak-sambodhi adalah merealisasi akan shunyata
(kekosongan) dari segala sesuatu yang ber-kondisi - dengan demikian melampaui
segenap "untung" dan "rugi." Oleh karenanya [secara trampil] ia disebut dengan
anuttara-samyak-sambodhi.


Q : Nampaknya memang demikian, namun akar kehidupan takkan dapat dipotong dengan
cuma memakai pengetahuan serta pandangan-pandangan [kesadaran/consciousness].
Saya harap Anda akan melihat semua ini.

AJ : Saya tidak punya banyak kesempatan buat membaca Sutra dan Sastra; Setelah
penyunyian diri selama empat tahun itu, bila saya berbicara dengan orang --- mereka
semua berkata bahwa ucapan saya selaras dengan Buddhadharma. Me-nurut pendapat
saya, pemahaman itu tidaklah berasal dari semata-mata membaca Sutra dan tak tercakup
sepenuhnya dalam kesadaran manusia.

Q : Apa yang tidak berasal dari membaca Sutra dan Sastra tetapi mewujud dalam
meditasi seseorang masih tergolong pada kebijaksanaan jenis itu yang juga merupakan
kesadaran (consciousness).

AJ : Buddhadharma mengajarkan realisasi sejati, namun tidak bertumpu pada kesadaran
orang ataupun kosmis.

Q : Dengan tidak terikat pada Sutra dan Sastra serta tidak melekat pada hakekat sejati,
'kedemikianan' dari Tao akan berada di mana-mana dan kebenaran dapat dicapai di
mana-mana. Ia dapat disebut "Ini yang Tunggal."


Ananda Jennings lalu menemani Sang Mahaguru ke Biara Yun-men, di mana ia
memberikan penghormatan pada tubuh [yang dibalsam] dari Mahaguru Yun-men. Ia
tinggal di sana selama dua minggu lagi. Ananda Jennings juga berkata bahwa ia akan menyebarkan
Buddhadharma sekembalinya di Amerika.

USIA Ke 110 (1949/50) Setelah transmisi Sila di Biara Nan-hua, saya kembali ke Yunmen,
di mana saya mengawasi pengecoran lebih dari 80 patung serta pembuatan
dudukan-nya yang perlu waktu lebih dari setahun. Seluruh biara dengan demikian telah
90 persen direnovasi. Upasaka Fang Yang-qiu mengundang saya mengunjungi Hong
Kong dan meresmikan Vihara Prajna di sana. Setelah tinggal sebulan di Hong Kong, saya
kembali ke Yun-men. Tahun itu, saya meminta Upasaka Cen Xue-lu mengedit Catatan Riwayat Vihara Yun-men.

Catatan dari Cen Xue-lu, editor Xu-yun

Sang Master datang ke Hong Kong atas undangan dari Upasakan Fang Yang-qiu. Suatu
hari, saya bertanya pada Sang Mahaguru, "Dunia ini berubah dengan begitu cepat, ke
manakah saya seyogianva pergi [buat membina praktik saya]?"

Sang Mahaguru menjawab, "Bagi seorang murid Sang Jalan (Dharma), semua tempat
adalah tempat kediamannya; dan andaikata Anda mampu meletakkan (lay it down) segala
sesuatunya, tempat di mana engkau berada adalah Bodhimandala [tempat untuk
merealisasi kebenaran]. --- Ayo, istirahatkanlah pikiran Anda..."

Saya bertanya, "Biara-biara akan sangat terpengaruh oleh apa yang terjadi [kemelut
politik] di daratan Tiongkok; mengapa Shi-fu tidak tinggal di sini sementara waktu untuk
membabarkan Dharma demi menguntungkan semua makhluk?"

Beliau menjawab, "Terdapat banyak orang lain yang bisa membabarkan Dharma di sini.
Nampaknya saya memiliki tanggung jawab khusus terhadap [vihara-vihara di China
daratan], Bagi diri saya sendiri, pikiran ini telah melampaui yang-pergi-ataupun-tinggal,
namun di [China] daratan, seluruh kuil dan biara di sana berada dalam kegentingan. Jika
saya tinggal di sini, siapa yang akan mengurusi puluhan ribu bhiksu dan bhiksuni yang
kondisinya kian memburuk. Bagaimana mungkin pikiran saya bisa tenang [jika tinggal di
sini]? Itulah sebabnya mengapa saya musti balik ke daratan Tiongkok."... - Cen Xue-lu.

USIA Ke 111 (1950/50) Musim semi tahun itu saya ke Biara Nan-hua untuk melakukan
transmisi Sila dan menyelenggarakan sepekan meditasi Chan, dimana beberapa orang
pada akhirnya mencapai keterjagaan spiritual (awakening).

Sekembalinya ke Biara Yun-men, saya mulai menata seluruh tulisan-tulisan tangan saya
sehingga siap diedit. Ini tidaklah mudah, karena kebanyakan karya-karya saya telah
ditulis beberapa dekade sebelumnya.

USIA Ke 112 (1951/52) Selama transmisi Sila pada musim semi, kemalangan menimpa
saya di Biara Yun-men.

Catatan dari Cen Xue-lu, editor Xu-yun

Sang Mahaguru mendiktekan kisah hidup beliau sampai usia yang ke 112 tahun, setelah
itu asistennya mencatat peristiwa-peristiwa yang terjadi hingga wafatnya Beliau.

Edited by Top1, 24 February 2013 - 11:45 PM.


#56 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 25 February 2013 - 10:35 PM

Mahaguru Sepuh
Dianiaya Kader-Kader Komunis


[Pada saat ini, riuh pergolakan Revolusi Komunis tengah berlangsung dan gedoran
pertama rusuh penggantian ideologi pun mulai dihentakkan].

Musim semi tahun itu, sejumlah besar, bhiksu, bhiksuni, umat awam pria dan wanita
sedang berkumpul untuk menerima Sila di Biara Yun-men - yang dari komunitas biara
sendiri ada sekitar 120 orang rahib. --- Tiba-tiba muncullah segerombolan lebih dari
seratus orang [satgas kader-kader Partai] bertubuh kekar mengepung Biara pada tanggal
24 bulan ke-dua. Mereka tak mengizinkan seorang pun masuk atau keluar.

Mula-mula mereka mengurung Master Xu-yun di ruang kepala biara, dengan hanya
meninggalkan sedikit orang saja untuk menjaga beliau, serta mengumpulkan para bhiksu
di aula meditasi. Sesudah itu, mereka membongkari seluruh bangunan kuil, mulai dari
genting hingga lantai biara, termasuk patung-patung Buddha dan Sesepuh, benda-benda
ritual keagamaan, serta kotak-kotak yang berisi Tripitaka.

Lebih dari seratus orang kader menggeledah selama lebih dari dua hari, mereka tidak
menjumpai sesuatu pun yang ilegal. Akhirnya, mereka membawa serta Bhiksu Minggong,
Zhen-kong, dan Wei-Zhang --- para bhiksu yang sedang ber-tugas saat itu. Mereka
mengambil catatan-catatan, dokumen, surat-surat, dan semua manuskrip, karya tulis Sang
Mahaguru yang berisikan penjelasan serta komentar Sutra-Sutra
--- juga catatan pembabaran Dharma beliau selama seabad --- diangkut memakai tas
karung. Mereka kemudian menuduh seluruh komunitas telah melakukari berbagai
kejahatan, namun sesungguhnya mereka telah salah meyakini kabar-burung bahwa ada
senjata, amunisi, pemancar radio, batangan emas dan perak telah disembunyikan di
biara. Barang-barang inilah yang sebenarnya menjadi obyek pencarian mereka.

Secara keseluruhan ada dua puluh enam bhiksu yang ditangkap dan digebuki secara
brutal buat memaksa mereka menyerahkan senjata dan uang yang didesas-desuskan dimiliki
oleh biara, namun semua menjawab tak tahu sedikit pun tentang hal itu. --- Bhiksu
Mia-yun disiksa sampai mati; Bhiksu Wu-yun dan Ti-zhi dihajar dengan hebatnya hingga
lengan mereka patah. Beberapa bhiksu lenyap. Sesudah gerombolan itu tidak menemukan
apapun selama sepuluh hari penggeledahan, mereka mengarahkan geramnya kepada
Sang Mahaguru sepuh [yang telah berusia 112 tahun itu] ....

Di tanggal satu bulan ke-tiga, Master Xu-yun dibawa ke ruang lain dengan pintu dan
jendela yang dikunci rapat. Beliau tak diberi makan, minum---bahkan tak diijinkan
keluar buang air. Ruangan itu remang-remang, hanya ada lampu kecil suram-suram
menyerupai neraka. Di hari ketiga, kira-kira sepuluh laki-laki berpostur tinggi dengan
beringas menerobos ruangan serta membentak-bentak Sang Mahaguru agar menyerahkan
emas, perak, serta senjata. Tatkala dijawab bahwa beliau sama sekali tidak mempunyai
barang-barang itu, mereka mulai menyerang---mula-mula memakai pentung, kemudian
linggis --- hingga kepala dan wajah beliau bersimbah darah serta tulang-tulang rusuknya
patah.

Beliau dianiaya sambil terus diinterogasi, namun beliau duduk dalam posisi meditasi dan
memasuki dhyana. Ketika bertubi-tubi hantaman datang tanpa ampun, beliau memejamkan
mata dan mulut serta nampaknya berada dalam keadaan samadhi. Hari itu selama empat
kali mereka bergilir menghajar dengan brutal dan terakhir melemparnya ke lantai.
Melihat Sang Mahaguru sudah terluka parah, disangkanya beliau sudah tewas - preman-preman
itu ngeloyor keluar ruangan. Tak berapa lama berselang para penjaga pun juga
pergi. Pelayan pendamping Sang Mahaguru lalu memapah beliau ke ambin, membantunya
duduk kembali dalam posisi meditasi.

Pada hari kelima, ketika mendengar bahwa Master Xu-yun ternyata masih hidup, orangorang
itu balik lagi serta menyaksikan beliau sedang duduk meditasi sebagaimana
sebelumnya - mereka pun meradang... Beliau dirajam dengan hujan amukan pentung
bertubi-tubi. Mereka menyeret orang tua itu ke tanah, menendang, menyepak, serta
menginjak beliau dengan sepatu boot yang berat. Setelah melihat Sang Mahaguru terkulai
di tanah dengan darah mengalir dari kepala --- mengira bahwa beliau sudah mati, mereka
pun lalu tergelak-gelak keji dan berlalu. --- Malam itu, dayaka pendamping Master Xuyun
sekali lagi mengangkat beliau ke ambin serta membantunya duduk dalam posisi meditasi.

Attendants (dayaka): pendamping yang bertugas membantu keperluan sehari-hari,
semacam ajudan - ed.


Pagi-pagi sekali di hari ke-sepuluh, beliau perlahan-lahan berbaring dengan bertumpu
pada sisi tubuh sebelah kanan (dengan posisi yang menyerupai Buddha Parinirvana). ---
Karena beliau tak bergerak sepanjang siang dan malam, para pendamping Master Xu-yun
mengambil lentera minyak dan mendekatkannya ke lubang hidung beliau ... - beliau tak
lagi bernafas, tak ada denyut nadi dan disangka telah wafat. Kendati demikian, roman
wajah Sang Master masih segar sebagaimana biasa dan tubuhnya masih hangat. Fa-yun
dan Kuan-shan, yakni orang-orang yang setia menemani beliau, tetap telaten menunggu di
sisi ranjang.

Keesokannya [hari kesebelas] pagi-pagi sekali, terdengar suara lirih dari Sang
Mahaguru. Pengikut setia yang mendampingi beliau membantunya tegak serta
menyampaikan betapa lama beliau telah duduk dalam dhyana dan berbaring di ranjang.
Lambat-lambat, Sang Mahaguru mendesah, "... Saya kira ini baru berlangsung beberapa
menit saja." Ia kemudian berbisik pada Fa-yun, "Ambil pena.. --- tulis apa yang saya
katakan padamu, namun jangan perlihatkan pada orang lain, karena mereka mungkin akan
meremehkannya..."

Beliau berkata, "Saya mimpi pergi ke dalam bilik Buddha Maitreya di Surga Tushita
yang; keagungan dan keindahannya melebihi segala yang ada di bumi. Bodhisattva
Maitreya duduk di atas sebuah tahta dan membabarkan Dharma pada sekumpulan besar
orang, dimana hadir lebih dari sepuluh almarhum kawan saya. Di antara mereka terdapat
Kepala Biara Zhi-shan dari Biara Hai-hui di Jiangxi, Mahaguru Dharma Yong-jing dari
Gunung Tian-tai, Mahaguru Heng-zhui dari Gunung Qi, Kepala Biara Bao-wu dari Biara
Baisui-gong, Kepala Biara Sheng-xin dari Gunung Bao-hua, Mahaguru Vinaya Du-di,
Kepala Biara Guan-xin dari Gunung Jin dan juga Mahaguru Zi-bai.

"Saya ber-anjali menghaturkan rasa hormat dan mereka menunjuk ke tempat duduk
kosong ketiga yang terletak di baris depan sebelah timur; saya diminta duduk di sana.
Arya Ananda adaiah pimpinan pesamuan itu dan duduk di dekat saya. Lord Maitreya
sedang mengajar meditasi pikiran guna mengheningkan kesadaran --- namun ia mendadak
sengaja berhenti dan berkata pada saya, "Anda harus balik [ke biara Anda]." Saya
menjawab, "Halangan karma saya terlalu berat, saya tak ingin kembali." Ia berkata,
"Hubungan karma Anda dengan dunia masih belum berakhir dan sekarang engkau musti
balik sehingga bisa kembali kemari kelak. Yang Arya Maitreya kemudian melantunkan
gatha berikut ini:

Bagaimana kesadaran dan kebijaksanaan bisa berbeda

Jika ibarat riak gelombang dan air mereka sebenarnya adaiah satu?

Jangan bedakan antara pot dan mangkuk emas

Karena pada dasarnya emas keduanya adaiah sama.

Kapasitas hakekat diri-sejati (self-nature) ialah tiga dikali tiga.

Seuntai serat nanas yang tipis atau tanduk keong kecil

Nampak bagaikan busur nan kuat bagi orang yang terhalusinasi;

Penyakit mengerikan ini akan tumpas ketika delusi pikiran berakhir.

Ibarat rangkaian impian tub'uh manusia ini,

Suatu ilusi yang seharusnya tak pernah dilekati.

Bilamana ilusinya dikenali, Seseorang terbebas
darinya dan tercerahi.

Bodhi itu bercahaya

Dan sempurna tatkala ia menyinari segalanya.

Para suci dan orang biasa, baik ataupun
buruk, bahkan kebahagiaan

Adalah ilusi bagaikan bunga-bunga yang muncul di
angkasa.

Oleh karena belas-kasih agung engkau t'lah
berikrar buat menyelamatkan

Semua makhluk maka kini terlibat ke dalam dunia
mimpi.
Karma buruk dari kalpa ini merajalela

Maka waspadalah, sadar akan segala apa yang terjadi.

Jangan berpaling dari belas kasih

Samudera-samudera penderitaan yang engkau karungi

Teratai tumbuh berkembang dari lumpur menjadi bunga

Dengan seorang Buddha yang duduk di tengahnya ..


Secara harafiah Tiga-tiga (3 x 3) atau "sembilan alam keberadaan."
Dikutip dari Sutra Penerangan Sempurna (lihat Chan dan Zen Teaching, seri ketiga).


Terdapat banyak bait-bait lain tiada dapat saya ingat lagi. Ia memberi pula saya nasehat
yang mesti saya simpan buat diri sendiri."

Di dalam tingkatan dhyana-samadhi mendalam ini, Sang Mahaguru menghapus semua
rasa derita dan gembira. --- Jaman dahulu Master Han-shan [1546-1623] serta Zi-bai
[1543-1604], ketika dikurung, dipukuli, dan disiksa, juga memasuki tingkatan samadhi
yang sama, dimana pencapaian spiritual ini di luar pemahaman mereka yang belum
merealisasi sendiri hakekat-Dharma.

Lihat buku The Secrets of Chinese Meditation, halaman 51. Ibid, halaman 62,
Mahaguru Da-guan, atau Zi-bai.


Preman-preman yang telah memukul dan menyiksa Sang Mahaguru sepuh itu serta
cecunguk-cecunguk yang menyaksikan keteguhan dan ketahanan beliau yang luar biasa,
berbisik-bisik satu sama lain dan mulai merasa jeri. - Salah satu yang nampaknya Sang
pentolan bertanya pada seorang bhiksu, "Mengapa rahib tua itu tidak menyerah [mati]
saja terhadap pukulan-pukulan kami?"

Bhiksu itu menjawab, "Mahaguru tua menanggung penderitaan demi kebahagiaan semua
makhluk serta mem-bantu Anda melepaskan diri dari permasalahan-permasalahan Anda.
Kelak Anda bakal tahu mengapa ia tidak menyerah [mati] saja terhadap terjangan aniaya
Anda."


Orang itu menggigil dan tidak pernah berpikir untuk menyiksa Sang Mahaguru lagi.
Karena tidak berhasil menemukan apa yang mereka cari dan khawatir bahwa insiden
penyiksaan itu akan tersebar keluar, mereka lalu tinggal di biara: mengawasi para
bhiksu, melarang mereka untuk berbicara satu sama lain ataupun meninggalkan ruang
kediamannya. Bahkan makan dan minum pun diteliti dengan ketat oleh gerombolan itu.

Hal ini bertahan selama lebih dari sebulan. Sebagai akibat dari pukulan dan siksaan
tersebut, Master Xu-yun menderita sakit parah dan sangat kesakitan. Ia tidak lagi dapat
melihat ataupun men-dengar. Khawatir bahwa Beliau segera meninggal dunia, muridmurid
mulai mendorong Beliau untuk mendiktekan kisah hidupnya: otobiografi yang
sekarang berada di-tangan Anda ini.

Bulan keempat tahun itu, berita mengenai apa yang terjadi di Biara Yun-men tersiar
sampai Shaozhou, di mana para bhiksu dari Vihara Da-jian di Qujiang menyampaikannya
pada murid-murid Sang Mahaguru di Beijing serta umat Buddhis Tionghwa di luar
negeri. Mereka kemudian berjuang bersama-sama guna menyelamatkan Beliau.

Sebagai hasil dari perjuangan tersebut, Pemerintah Beijing mengirim telegram pada
pemerintah propinsi Guangdong guna menanyakan masalah itu. Gerombolan tukang pukul
itu secara bertahap mengendurkan pengawasannya, tetapi pakaian dan makanan
komunitas biara disita oleh mereka.

Setelah penyiksaannya, Sang Mahaguru bahkan tidak makan bubur nasi lagi melainkan
hanya minum air. Ketika mengetahui bahwa semua kepunyaan vihara telah disita,
berkatalah beliau pada para bhiksu, "Saya menyesal bahwa kalian harus ikut
menanggung karma berat saya. Keadaannya telah jadi seperti ini, saya sarankan kalian
pergi saja dari tempat ini dan menjalankan hidup di tempat lain." ---

Karena murid-muridnya menolak untuk meninggalkan beliau, ia menganjurkan mereka
mengumpulkan kayu bakar di bukit belakang biara, menjualnya di pasar setempat, dan
selanjutnya membeli beras bagi seluruh komunitas. Dengan demikian, mereka dapat
makan bubur dan melanjutkan melafalkan Sutra serta mempraktikkan meditasi pagi dan
sore secara teratur.

Selama empat belas hari pertama dari bulan kelima, pemerintah Beijing mengirim
beberapa petugas ke Propinsi Guangdong. Pada tanggal 22 mereka berkunjung bersama
dengan pejabat propinsi ke Ru-yuan dan mencapai Biara Yun-men pada hari berikutnya.

Mereka membawa serta para teknisi, tape recorder, dan kamera untuk melakukan
investigasi di tempat kejadian perkara. Pertama-tama mereka menanyakan mengenai
Sang Mahaguru, yang saat itu sedang sakit parah dan terbaring di ranjang. Ia tidak lagi
dapat mendengar maupun melihat serta bahkan tidak menyadari bahwa para petugas itu
telah datang dari Beijing.

Ketika berangsur mengenali para pejabat setempat dan polisi itu, beliau menolak buat
berbicara; ketika ditanya apakah beliau telah diperlakukan dengan buruk dan apakah
biara telah kehilangan sesuatu, beliau menjawab tidak. Ketika para pengunjung
mengungkapkan identitas mereka, ia hanya meminta mereka untuk melakukan investigasi
yang akurat serta melaporkannya ke Beijing. Setelah berulang kali unjuk sikap manis
kepada beliau, mereka memerintahkan para pejabat setempat buat melepaskan semua
bhiksu yang ditahan. Dengan demikian, berakhirlah kurun tragis yang menimpa Biara
Yun-men mulai dari tanggal 24 bulan ke-2 hingga tanggal 23 bulan ke-5.

Pada musim rontok dan musim dingin, Sang Mahaguru beristirahat di biara guna
memulihkan diri, sementara komunitas biara yang terdiri dari sekitar seratus bhiksu,
menghidupi diri dengan mengumpulkan dan menjual kayu bakar, bercocok tanam, serta
mengerjakan kerajinan tangan.

Ketika penduduk sekitar mendengar bahwa gerombolan cecunguk Partai itu telah
meninggalkan biara, mereka mulai datang buat menjenguk Sang Mahaguru. Murid-murid
beliau di Beijing dan tempat lainnya menulis untuk menghibur beliau, mendesak beliau
meninggalkan Yun-men. Mereka juga menulis pada pejabat propinsi agar memberikan
perlindungan bagi Sang Mahaguru.

Edited by Top1, 25 February 2013 - 11:01 PM.


#57 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 26 February 2013 - 10:18 PM

Diundang Pemerintah ke Beijing

Xu-Yun saat Berusia 113 (1952/53)

Sang Mahaguru telah merasa lebih baikan dan memimpin komunitas biara dalam
menyelenggarakan latihan Chan besar-besaran guna memberi manfaat terbaik bagi
kondisi yang serba tak menentu [di China] di masa itu. Selama tiga bulan pertama tahun
itu, pemerintah mengirimkan telegram pada beliau sebanyak empat kali, mendesak
beliau datang ke Beijing.

Ketika para pejabat dari Utara tiba guna menjemput beliau ke ibukota, seluruh komunitas
biara menasehatkan beliau buat menunggu, tetapi ia berkata, "Waktunya telah tiba.
Sangha di segenap penjuru negeri dalam kondisi yang tak menentu serta terburai seperti
pasir terserak-serak tanpa seorang pemimpin pun. Jika tiada organisasi yang kuat guna
membela kepentingan kita, kemalangan bakal terjadi tidak hanya di Yun-men saja.
Tanggung jawab saya pergi ke utara untuk melindungi Dharma."


Sang Mahaguru memilih beberapa bhiksu sesepuh untuk mengurus Biara Yun-men dan
setelah menghibur komunitas biara, ia mempersiapkan perjalanan itu. Sebelum
berangkat, beliau menulis bait-bait berikut ini pada sepasang gulungan kertas.

Sementara menyaksikan lima pemerintahan dan empat dinasti saling berganti,
perubahan-perubahan besar t'lah terjadi.

Kesengsaraan tak terkatakan membuatku menyadari kefanaan dunia ini.

Kelima pemerintahan itu adalah Dao-guang, Xian-feng, Tong-zhi, Guang-xu, dan
Xuan-tong. Keempat dinasti adalah Manchu, Republik Cina, pemerintahan boneka
Wang Jing-wei selama penjajahan Jepang dan pemerintahan komunis yang sekarang.


Master Xu Yun saat berusia 113 tahun : Posted Image

Demikianlah, Sang Mahaguru meninggalkan Biara Yun-men ke arah utara pada tanggal 4
bulan ke-4 dengan ditemani oleh Fu-yuan, Jue-min, Kuan-tu, Fa-yun serta para pejabat
pemapak yang lalu mengiringi beliau. Beberapa ratus penduduk desa datang untuk
mengantar kepergian beliau.

Ketika mencapai Shaozhou (Qujiang), lebih dari seribu umat Buddha menyambut
mengucap selamat-datang kepadanya. Di Vihara Da-jian tempat beliau bermalam, setiap
hari sejumlah besar masyarakat berduyun-duyun menghaturkan hormat kepada beliau ---
menunjukkan keyakinan mereka kepada beliau yang tak goyah tiada perduli bergolaknya
kondisi sosial-politik waktu itu.

Pada tanggal sepuluh, Sang Mahaguru pergi mengguna-kan kereta api jalur Kanton-
Hankou menuju ke Wuchang. Beliau tiba pada keesokan harinya, bermalam di Vihara
Tiga Buddha. Karena kelelahan oleh perjalanan, luka-luka di se-kujur tubuh beliau
kambuh dan mengalami kesakitan luar biasa. Upasaka Chen Zhen-ru mengusahakan agar
Master Xu-yun bisa memperoleh penanganan medis dan Kepala Biara Ying-xin juga
menjaga beliau. ---

Ketika merasa sedikit lebih baik, kepala biara mengundang beliau untuk
menyelenggarakan sepekan praktik pelafalan mantra Bodhisattva Avalokites-vara. Lebih
dari 2000 umat mengambil perlindungan trisarana dan menjadi murid Beliau. Setelah
pertemuan Buddhis, Sang Mahaguru pergi ke Beijing meski sedang buruk kesehatannya.
Sebelum berangkat, para bhiksu di vihara mengambil foto Sang Mahaguru yang
menuliskan beberapa bait puisi di atasnya:

Hembusan angin karma membawaku hingga ke kota Wuchang Di mana periyakitku
t'lah bariyak menyusahkan orang lain.

Saya berdiam selama tiga bulan di Vihara Tiga Buddha, Dipenuhi rasa malu dan ngeri
atas segala kemalanganku. Tanpa banyak pikir telah mendaki ke puncak dunia, Saya
menanti mereka yang juga berikrar untuk mendaki Bodhi.

Mengenang Guan Zhang-miu di puncak Yu-zhuan Mencapai Realita Pamungkas setelah
mendengar sepatah dua patah kata.

Juga disebut Guan-gong, seorang jenderal terkenal pada masa Tiga Negara [Sam
Kok, 220 - 280 M - penterjemah] yang telah meminta petunjuk dari Mahaguru Zhi-yi
(Zhi-zhe) dari aliran Tian-tai. Pada akhirnya ia berikrar untuk melindungi Dharma.
Ia masih dihormati sebagai pelindung-Dharma (Dharrna-protector) oleh umat
Buddhis Tiongkok hingga saat ini yang meminta dukungannya bila mengalami masalah.


Pada tanggal 28 bulan ke-7, dengan disertai oleh rekan dan umat awam lainnya, Sang
Mahaguru naik kereta api ke Beijing. tiba di stasiun, beliau disambut oleh kepala biara
dan pemimpin dari berbagai kelompok Buddhis. Upasaka Li Ji-shen, Yen Xia-an, dan
Chen Zhen-ru menjemput Sang Mahaguru ke Biara Guang-hua, yang dengan segera dirasa
terlalu kecil buat menerima kumpulan besar umat yang hendak menghaturkan
penghormatan. Beliau kemudian pindah ke Biara Guang-ji, di mana beliau berjumpa
dengan para pejabat yang sama-sama merupakan penduduk asli Hunan seperti Sang
Mahaguru atau kenalan-kenalan lama beliau di Yunnan yang menyokong usaha beliau
melindung Dharma.

Sekitar seratus utusan dari berbagai organisasi Buddhis di seantero negeri hadir dan
memutuskan untuk membangun kembali Asosiasi Buddhis Tiongkok. Sang Mahaguru
diminta menjadi presidennya tetapi beliau menampik karena alasan usia dan kesehatan.
Mahaguru Yuan-ying kemudian dipilih sebagai presiden dengan Sherab Gyatso dan Zhao
Bo-zhu sebagai wakil-wakil.

Setelah mengumpulkan komite pelaksananya, Sang Mahaguru mengajukan permohonan
pada Pemerintah untuk mengeluarkan aturan kebebasan beragama dan menjaga
kelestarian serta pemeliharaan biara-biara dan kuil-kuil Buddhis di segenap penjuru
negeri. Di atas semua itu, beliau mendesak mereka agar melarang pengrusakan lebih jauh
terhadap kuil dan biara-biara beserta penghancuran patung serta perpustakaannya,
menghentikan pemaksaan terhadap para biarawan dan biarawati untuk kembali ke
kehidupan awam, lalu me-ngembalikan tanah biara secukupnya sehingga mereka dapat
bertahan hidup dengan jalan bercocok tanam.

Petisi itu diterima; --- Sangha selanjutnya memperoleh jaminan keamanan. Sebagai
tambahan, disetujui pula bahwa perbaikan akan dilakukan terhadap kuil, biara, dan
tempat-tempat suci di seluruh propinsi.


#58 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 27 February 2013 - 10:18 PM

Menyambut Utusan dari Srilanka

Tanggal tigabelas bulan kedelapan, Sang Mahaguru mewakili Asosiasi Buddhis
Tiongkok menyambut kedatangan utusan Buddhis Srilanka di Biara Guang-ji. Utusan
Srilanka itu diketuai oleh Bhikkhu Dhammaratna yang datang meng-hadiahkan: sarira
Sang Buddha, sejilid Sutta berbahasa Pali yang ditulis diatas pattra (daun palma) dan
bibit pohon Bodhi. Sekitar dua ribu umat hadir dalam acara sambutan itu.

Bulan kesembilan tahun itu, para kepala biara dan pe-mimpin kelompok-kelompok
Buddhis memohon Sang Maha-guru untuk menjadi kepala biara Guang-ji, namun Beliau
menampiknya dengan alasan usia dan kesehatan.

Bulan kesepuluh, umat Buddhis Shanghai mengundang Sang Mahaguru untuk
menyenggarakan puja bakti bersama demi perdamaian dunia dan beliau tiba di sana pada
tanggal 25. Pertemuan dibuka pada hari berikutnya dan berlangsung selama tujuh hari.
Pada akhir pertemuan terkumpul dana paramita lebih dari 3.000 Dollar Tiongkok (atau
lebih dari 70.000 Dollar Hongkong) persembahan bagi Sang Mahaguru dari para umat.
Sang Mahaguru tiada pernah menyimpan persembahan bagi kepentingannya sendiri.

Atas persetujuan beliau, uang itu dibagikan pada empat tempat suci Buddhis Tiongkok
(Pulau Pu-tuo di Zhejiang; Wu-tai Shan di Shansi, Gunung Emei di Sichuan), dan bagi
delapan biara besar (Tian-tong, Ayu-Wang, Gong-zong, dan Qi-ta di Ningbo, Gao-min di
Yangzhou; Ling-yen di Suzhou, lalu Gu-shan serta Ti-zang di Fuzhou). Dana tersebut juga
dibagikan pada 250 vihara besar kecil di seantero negeri...


Bersambung ke bab 15...

#59 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 28 February 2013 - 03:20 PM

Bab 15. Di Biara Yo Fo dan Zhen Ru

Xu Yun saat berusia 114 (1953/54)

Pada akhir acara puja bakti, ketika Sang Mahaguru bermaksud meninggalkan Shanghai,
para bhiksu dan umat awam mengundang beliau untuk menyelenggarakan sepekan
meditasi Chan guna menghidupkan kembali tradisi Chan di Vihara Buddha Batu Giok
(Yu Fu) yang punya aula meditasi luas. Dengan dikepalai oleh Kepala Biara Wei-fang,
suatu delegasi yang terdiri dari Upasaka Jian Yu-jie, Li Si-hao, dan umat awam
terkemuka lainnya, meng-hadap Sang Mahaguru yang menerima permintaan mereka.
Meditasi diawali pada tanggal 22 Februari 1953 dan ketika berakhir mereka memohon
beliau melanjutkan pada pekan berikutnya. Di kedua pertemuan itu ceramah Dharma
yang dibabarkan oleh Beliau dicatat dengan seksama.

Lihat Chan and Zen Teaching, First Series, halaman 49-109.


Master Xu-yun kemudian diundang ke Hangzhou, di mana organisasi-organisasi Buddhis
mengirim Upasaka Du-wei untuk menyambut beliau. Begitu tiba di sana pada tanggal 19
bulan kedua, beliau bermalam di Vihara Jin-ci, tempat di mana diadakan pertemuan
Dharma dan dihadiri oleh beberapa ribu orang yang menjadi murid beliau. Pejabat
setempat meminta beliau untuk menjadi kepala Biara Ling-yin, namun permintaan ini
ditampiknya oleh karena alasan usia dan kesehatan.

Atas undangan Kepala Biara Miao-zhen serta Mahaguru Dharma Wu-ai dari Biara Lingyen,
Sang Mahaguru pergi ke Suzhou guna menyelenggarakan pertemuan Dharma di sana.
Setelah itu beliau mengunjungi Hu-qiu (Bukit Harimau) guna menghaturkan penghormatan
pada stupa dari Chan Master Shao-long (pewaris Dharma dari aliran Lin-ji) Begitu tiba
di sana, ia mendapati bahwa orang telah merusak tempat suci itu. Stupa dan prasasti batu
yang memuat tulisan penjelasan telah lenyap.

Beliau sebelumnya pernah mengunjungi tempat itu semasa pemerintahan Kaisar Guangxu
[1875 1909] dan masih ingat akan tempat suci itu. Kini hanya tinggal reruntuhan
genting dan bata, yang tatkala dibersihkan menunjukkan bahwa ini dulunya sungguh
merupakan situs bersejarah.

Sang Mahaguru lalu membicarakannya dengan pejabat setempat, pemuka masyarakat, dan
juga para sponsor Dharma di Shanghai. Mereka semua lalu mengumpulkan dana buat
membangun kembali stupa itu. Kepala Biara Miao-zhen dan Chu-guang yang berada di
Bukit Harimau diminta untuk mengawasi restorasi tempat suci itu.

Dalam perjalanannya ke Suzhou, Sang Mahaguru mengunjungi Vihara Shou-sheng di
Ban-tang, di mana beliau menghaturkan penghormatan pada stupa dari Mahaguru Yuan
Shan-ji. Berikutnya, beliau diundang oleh para umat awam di Nan-tong untuk
mengunjungi Gunung Lang, di mana beliau mengadakan pertemuan Dharma. Pada
kesempatan itu, beberapa ribu orang menjadi murid-muridnya. Setelah pertemuan itu,
beliau kembali ke Shanghai, tiba di sini pada akhir bulan ketiga.

Pada bulan keempat, Sang Mahaguru menerima telegram yang meminta beliau ke ibukota
--- beliau tinggal di Biara Guang-ji. Setelah perwakilan Sangha dari berbagai penjuru
negeri tiba, Asosiasi Buddhis China yang baru secara formal diresmikan.

Sesudahnya, diadakan diskusi dan dihasilkan beberapa keputusan penting. Ketika para
bhiksu yang telah kendor moralnya mengusulkan dihapuskannya aturan-aturan disiplin
moralitas yang berlaku, Sang Mahaguru menegur mereka dan menulis pernyataan yang
berjudul "Kemerosotan Sangha pada masa Akhir Dharma."

Sang Mahaguru lalu mengunjungi Da-tong di Propinsi Shansi guna menghaturkan hormat
pada Patung Buddha Besar di Gua Yun-gang

Menurut Aliran Mahayana, sang Buddha meramalkan bahwa Dharma akan
mengalami tiga masa setelah parinirvana Beliau:
(1) Dharma sejati, di mana Dharma ditafsirkan secara benar baik teori dan praktiknya;
(2) Masa "Dharma Bayangan," dimana Dharma menjadi banyak formalitas dan kurang spiritual; dan akhimya
(3) Masa Akhir Dharma, dimana jejak formal Dharma pun mulai lenyap.


Tatkala hendak meninggalkan kawasan Beijing, para pejabat setempat menyarankan agar
beliau tetirah di Gunung Lu, Propinsi Jiang-xi. Pada bulan kelima, Sang Mahaguru pergi
ke arah selatan dengan dayaka-nya, Jue-min. Setibanya Beliau di Han-kou, Kepala Biara
Yuan-cheng dari Biara Bao-tong meminta beliau untuk menyelenggarakan dua pekan
meditasi Chan. Sesudah itu, Sang Mahaguru lalu pergi menuju Gunung Lu, di mana
Upasaka Chen Zhen-ru telah menantinya. Mahaguru Xu-yun menginap di Vihara Da-lin.

Edited by Top1, 28 February 2013 - 03:22 PM.


#60 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 01 March 2013 - 01:48 PM

Berbekal Sebilah Tongkat,
Berumah di kandang sapi


Pada bulan keenam, beberapa bhiksu Chan datang dari Gunung Yun-ju, Propinsi
Jiang-xi menghadap beliau dan mengatakan bahwa selama pendudukan Jepang, kaum
penjajah itu telah membakar Biara Zhen-ru untuk menghalangi para gerilyawan Tiongkok
agar tidak menggunakannya sebagai tempat bersembunyi. Seluruh bangurian vihara hancur
terkecuali rupang perunggu Vairocana yang besar. Patung itu tidak rusak sedikit pun
dan hanya ditutupi oleh semak belukar. Sang Mahaguru merasa trenyuh ketika mendengar
hal ini dan terkenang akan tempat suci yang didirikan semasa pemerintahan Yuan-ho [806-920]
dari Dinasti Tang itu.

Yun-ju menjadi pusat aliran Cao-dong setelah kedatangan Dao-ying [wafat tahun
902], menjadi pewarisan ajaran Cao-dong bersama dengan Cao-shan Ben-ji [wafat
tahun 901], keduanya merupakan murid dari Dong-shari Liang-Jie [wafat tahun
869]. Garis silsilah Ben-ji punah setelah empat generasi. Hingga tinggal Dao-ying
sebagai pusat aliran Cao-dong. Yun-ju juga menghargai para Mahaguru aliran Linji.

Manakala ibu kota Dinasti Song jatuh ke tangan musuh pada tahun 1126, rombongan
kerajaan lari pindah ke selatan dan sang kaisar mengundang Yuan-wu [wafat tahun
1135] untuk berdiam di Yun-ju. Master Da-hui [wafat 1163] juga bergabung tidak
lama kemudian. Pada saat itu, Mahaguru Aliran Cao-dong yang terkemuka Hong-zhi
[wafat tahun 1157] juga tinggal di Yun-ju.

Patung Vairocana melambangkan matahari kebijaksanaan, Dharinakaya atau Tubuh
Asensial Buddha.


Di tempat itu dahulu banyak Mahaguru Chan terkemuka yang pernah tinggal. Jika tidak
dibangun kembali, maka ia akan musnah tertimbun tanah. Sang Mahaguru berikrar untuk
membangun kembali biara itu serta mengajukan izin pada pejabat setempat. Upasaka Zhu
Hua-bing dan beberapa yang lainnya menawarkan untuk menyertai Sang Mahaguru yang
pergi menuju Yun-ju pada tanggal 5 bulan ke-7.

Pada bulan kesembilan ketika beberapa bhiksuni di Kanton yang merupakan murid Sang
Mahaguru mendengar kehadiran beliau di Yun-ju, maka mereka datang untuk
mengunjunginya. Setelah mengadakan perjalanan dengan kapal dan kereta, mereka
akhirnya tiba di biara, di mana mereka hanya menjumpai reruntuhan di mana-mana.
Mereka ketemu seorang bhiksu dan menanyakan di manakah gerangan Sang Mahaguru.
Bhiksu itu menunjuk ke sebuah kandang sapi.

Para tamu mesti merunduk untuk memasuki ambang pintunya yang rendah, tetapi pada
mulanya tidak dapat melihat beliau. Beberapa saat kemudian [setelah mata mereka
terbiasa dengan kegelapan], barulah Sang Mahaguru yang sedang duduk bermeditasi di
atas bangku nampak oleh mereka...

Perlahan-lahan, beliau membuka mata dan berkata, "Mengapa kalian mesti bersusah
payah ke mari?" Setelah menyampaikan tujuan dari kunjungan mereka, beliau bertutur,
"Ketika datang ke tempat ini, hanya ada empat orang bhiksu. Oleh karenanya, saya
memutuskan untuk membangun pondok bagi mereka. Namun, banyak bhiksu lain hadir ke
tempat ini Seiring dengan berjalannya waktu.

Dalam kurun waktu kurang lebih sebulan, jumlah mereka meningkat menjadi 50 orang.
Selain daripada kandang sapi ini, hanya tinggal tersisa sedikit bangunan bobrok,
sebagaimana yang telah kalian saksikan [sendiri]. Namun karena kalian sudah hadir di
sini, maka mohon terimalah segala sesuatu seada-nya serta tinggallah beberapa hari."

Meskipun [bekas] kandang-sapi itu terletak setengah li di sebelah baratdaya Biara, Sang
Mahaguru menyukai tempat yang sepi ini dan juga berniat untuk mengolah tanah di
sekitarnya agar siap dijadikan tempat bercocok tanam demi memenuhi kebutuhan pangan
para bhiksu. Sesudah bulan kesepuluh, makin banyak bhiksu yang datang.

Jatah makanan berkurang menjadi setengah ons makanan basi pada saat sarapan, tetapi
untunglah Upasaka Jian Yu-jia di Shanghai menyumbangkan dana, sehingga mereka yang
berada di gunung dapat melewatkan musim dingin. Sang Mahaguru merencanakan untuk
melakukan reklamasi lahan bagi kegiatan bercocok ta'nam serta memperbaiki
ruangan-ruangan biara.

Musim semi tahun itu, Sang Mahaguru diundang untuk mewariskan sila di Qujiang dan
Biara Nan-hua.

Berusia 115 (1954/55) Musim semi: Sang Mahaguru berencana untuk membangun
kembali aula utama bagi patung perunggu besar Buddha Vairocana yang tinggi nya 16
kaki serta dituang pada masa pemerintahan kaisar Wan-li [1573-1619] dari Dinasti
Ming oleh perintah Ibu Suri. Genteng dari bangunan terdahulu dibuat dari besi karena
genteng tanah liat tak akan tahan terhadap terpaan angin kencang di puncak gunung itu.
Maka Sang Mahaguru memutuskan untuk mengecor genting-genting besi secara bersama-sama
dengan empat kuali masak besi dan dua genta perunggu besar.

Pada saat itu, jumlah bhiksu dan orang awam yang ber-ada di gunung mencapai lebih
dari seratus orang termasuk banyak pekerja seni serta tenaga kerja terampil. Ketika para
umat yang berada di daratan Tiongkok serta luar negeri men-dengar rencana Sang
Mahaguru, mereka mengirimkan dana untuk membiayai proyek tersebut. Oleh karena,
tenaga kerja dan biayanya telah tersedia, rencana Sang Mahaguru dengan mudah
terlaksana. Ia membagi komunitas menjadi dua kelompok, yang satu untuk membangun
kembali biara dan yang lainnya untuk membersihkan tanah guna dipakai bercocok tanam.

Karena setiap orang bersedia untuk menyingsingkan lengan baju, maka pada bulan kelima
dan ke-enam aula Dharmanya telah selesai dibangun kembali, termasuk sebuah
perpustakaan tempat menyimpan dua edisi Tripitaka. Pada saat yang bersamaan, lahan
seluas 10 akre yang siap-tandur telah tersedia untuk menanam padi demi menghidupi
komunitas itu, sehingga mereka menjalankan kaidah yang ditetapkan oleh Chan Master
Bai-zhang di zaman lampau.

Bai-zhang Hui-hai [720-814], adaiah pengganti Ma-zu Dao-Yi. Kedua Mahaguru ini
terkenal oleh kebiasaan nyentrik mereka, yang merupakari hal khas bagi para
praktisi Chan semasa Dinasti Tang. Meskipun demikian, keduanya menjalankan
disiplin dengan ketat. Sikap mereka yang tampak "aneh" itu pada kenyataannya perlu
untuk mengusir pandangan dualistik yang dimiliki oleh mu-rid-murid serta para tamu
mereka. Bai-zhang juga dikenal karena mendirikan satu set aturan-aturan
kedisiplinan pertama bagi para bhiksu Chan. Aturan-aturan itu dikenal sebagai
"Aturan Suci Bai-zhang" (Bai-zhang ]ing gui). Ucapan Bai-zhang yang berbunyi,
"Sehari tanpa kerja, [berarti] sehari tanpa makan," benar-benar cocok dengan
rencana Mahaguru Xu-yun bagi Biara Zhen-ru.


Pada bulan ketujuh, lebih dari dua puluh asrama {dormitory), tempat pembakaran bata,
kamar kecil, dan ruangan-ruangan tempat menumbuk padi telah dibangun kembali, namun
Sang Mahaguru masih tinggal di kandang sapi sebagaimana sebelumnya. Manakala
Kepala Biara Ben-huan dari Biara Nan-hua, Bhiksuni Guan-ding dari Aula Teratai Taibing
dan keempat orang lainnya datang untuk menghaturkan hormat pada Sang Mahaguru,
mereka melihat sebuah genta retak tergeletak di atas rerumputan.

Merekapun lalu bertanya mengapa genta itu dibiarkan di sana. Mahaguru Xu-yun
menjawab, "Ini adaiah genta kuno dari gunung ini dan biasanya disebut dengan 'Genta
yang Berbunyi dengan Sendirinya' karena pada masa lampau bila seseorang guru
tercerahi hadir, maka ia akan berbunyi dengan sendirinya. Ketika pasukan Jepang
membakar biara itu, menaranya roboh dan genta itu terjatuh di tanah, namun retakannya
akan hilang sendiri." Mereka lalu mengamati genta itu dengan lebih teliti, serta mendapati
bahwa bagian atas dari retakan [memang] nampak telah menyatu dengan sen-dirinya.
Sang Mahaguru berkata, "Saya menunggu sampai retakan itu lenyap
sepenuhnya dan mengantungnya [kembali] pada menara yang baru dibangun.

Sang Mahaguru lalu menghantar mereka mengunjungi bagian lain dari biara.

Pada bulan kesebelas, kandang-sapi Master Xu-yun diterpa kebakaran dan ketika
para bhiksu mendesak Beliau untuk pindah ke biara yang baru selesai dibangun, ia cuma
berkata "Saya menyukai nuansanya yang primitif," dan malah membangun kembali
kandang-sapi tersebut. Tahun itu, Sang Mahaguru menerima beberapa telegram dari
Beijing yang mengundangnya untuk pergi ke sana. Undangan-undangan ditampik dengan
alasan usia dan kesehatan. Pada akhir tahun itu, beliau menyelenggarakan sepekan
meditasi Chan.

Berusia 116 (1955/56) Musim semi tahun ini, bangunan tambahan vihara,serta dapur,
sebuah aula yang diperuntukkan bagi meditasi lima tingkat, gudang, ruang tamu, dan
aula-aula meditasi lainnya telah dibangun dan rampung secara berturut-turut.

Yakni: (1) meditasi pada yang riil untuk menyelaraskan diri dengan nomena;
(2) meditasi pada kemurnian untuk menghapuskan fenomena yang mengalir terus;
(3) meditasi pada kebijaksanaan yang mencakup segalanya untuk menyelaraskan diri
dengan sang Makna; (4) meditasi pada cinta kasih untuk membantu pembebasan semua
makhluk; dan (5) pada kebajikan demi kebahagiaan mereka.


Pada musim panasnya, ketika Asosiasi Buddhis Tiong-kok mengadakan pertemuan di
Beijing, Sang Mahaguru sangat sibuk dan tidak dapat pergi ke utara untuk menghadirinya.

Musim gugur tahun itu, beberapa lusin bhiksu datang dari berbagai penjuru Tiongkok.
Mereka yang sebelumnya tidak menjalankan Sila secara penuh meminta Master Xu-yun
untuk menahbiskannya, namun beliau berperdapat bahwa tidak bijaksanalah menahbiskan
bhiksu secara penuh pada saat itu --- namun di lain pihak, rasanya juga kurang pantas
menolak permohonan mereka.

Kemudian, beliau memutuskan meng-upasampada mereka yang sudah terlanjur hadir di
biara dan melarang mereka untuk mengatakannya pada orang luar. Mahaguru Xu-yun
berencana memberikan transmisi sila pada bulan ke-sepuluh serta mengupasampadakan
bhiksu pada tanggal 15 bulan kesebelas. Beliau lalu meminta izin dari pemerintah serta
Asosiasi Buddhis Tiongkok di Beijing.

Ketika para bhiksu dari tempat lain mendengar hal ini, mereka berdatangan buat
memohon pentahbisan dari Sang Mahaguru. Pada mulanya datang seratus orang, tetapi
segera diikuti oleh dua ratus lagi, sehingga sekarang jumlah bhiksu seluruhnya ada 500
orang. Mereka semua mau di-tahbiskan secara penuh, dan sulit sekali memberi makan
dan tempat tinggal bagi mereka semua. Permasalahan masih ditambah dengan
perselisihan yang terjadi antara Gereja Katolik Roma, Asosiasi Pemuda Buddhis dan
Bodhimandala Intan di Shanghai oleh beberapa hal selama beberapa bulan terakhir. ---
Lebih buruk lagi, pejabat propinsi Gansu mengirim telegram pada pejabat di Jiangxi
dan mengatakan bahwa para pemimpin aliran menyimpang yang sesat telah datang
ke Gunung Yun-ju untuk minta diupasampadakan.

Ketika Sang Mahaguru mendengar kecurigaan itu, ia melakukan berbagai tindakan
pencegahan guna menghindari permasalahan [lebih lanjut]. Pejabat lokal membicarakan
hal itu dengan beliau serta menawarkan untuk mengirimkan polisi guna menjaga
ketentraman serta keamanan di tempat itu. Pada saat itu, mereka yang memohon
pentahbisan telah berada di biara; dan kalau menolak permintaan mereka sama saja
dengan melanggar perintah Buddha untuk menolong orang. Namun, menerima
permohonan mereka juga benar-benar mustahil karena kondisi saat itu yang serba
kekurangan ran-sum serta tempat berteduh. Oleh karena itu, Sang Mahaguru lalu
mengikuti bagian yang relevan pada Sutra Brahmajala mengenai petahbisan yang
diatur sendiri.

Sutra Brahmajala atau Fan-wang-jing diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin
oleh Kumarajiva pada tahun 406. Sutra itu menjadi begitu tersohor sebagai naskah
dasar sehubungan dengan ketentuan dan petunjuk-petunjuk yang perlu dijalankan
oleh seorang [penempuh jalan] Bodhisattva.


Sang Mahaguru membabarkan sepuluh pantangan bagi para bhiksu, seluruh aturan
Vinaya, dan tiga aturan kumulatif.

Kesepuluh pantangan (,Saksapada) itu adalah:
(1) Tidak membunuh; (2) Tidak mencuri;
(3) Tidak berzinah; (4) Tidak berbohong;
(5) Tidak mengkonsumsi sesuatu yang memabukkan;
(6) Tidak makan setelah waktu yang ditentukan;
(7) Tidak mengenakan karangan bunga atau wangi-warigian;
(8) Tidak tidur pada ranjang yang tinggi atau lebar;
(9) Tidak menyanyi atau menari atau menontonnya;
(10) Tidak menerima emas baik yang dituang mau-pun tidak dituang.

Sekarang nampaknya tradisi Buddhisme Utara telah mem-buat berbagai variasi
dalam melaksanakan aturan di atas untuk keperluan praktis. Sebagai contoh,
penerimaan uang telah diijinkan pada biara-biara Tiongkok, dimana para bhiksu
bertanggung jawab dalam pengumpulan dana, menangani urusan-urusan vihara,
mencetak ulang buku, dan lain sebagainya.


Tiga aturan kumulatif adalah (1) Tidak melakukan ke-jahatan;
(2) Melakukan kebajikan;
(3) Menguntungkan semua makhluk.
Pada praktiknya "tiga aturan kumulatif" ini diberikan terlebih dahulu sebelum
"sepuluh larangan" sebagaimana yang disebutkan di atas.


Pembabaran dikerjakan dengan penuh kesakitan oleh Sang Mahaguru [karena kondisi
usia lanjutnya] selama sepuluh hari berturut-turut. Beliau kemudian mendorong mereka
untuk kembali ke daerah asal masing-masing serta menjaga perilaku yang selaras dengan
ikrar yang sudah mereka tekadi sendiri --- lalu semua diberi sertifikat penerimaan
sebaga' murid. [Untuk yang boleh menetap di biara], Master Xu-yun hanya menerima
seratus orang bhiksu sesuai yang telah di-rencanakan untuk ditahbiskan pada hari yang
ditentukan --- dengan demikian permasalahanpun berakhir sudah. Setelah itu, beliau
menyelenggarakan sepekan meditasi Chan.

Tahun itu, lebih dari 140 mou (8,5 hektar) tanah telah direklamasi untuk ditanami padi
serta gandum, dan selain itu beberapa bidang tanah lainnya juga telah digarap guna
ditanami teh dan buah-buahan. [Namun] tak beberapa lama setelah lahan yang tadinya
terlantar itu telah rapi dan siap untuk bercocok tanam orang-orang luar pun mulai dengki
mengirikannya. Para pejabat lokal mensiasati Departemen Pertanian dan Kehutanan untuk
merebut tanah yang sudah direklamasi oleh biara dengan dalih peningkatan kapasitas
produksi.

Sang Mahaguru menanggung semua ini dengan penuh kesabaran, namun ketika mereka
juga merampas kandang sapinya serta mengusir beliau, ia lalu mengirim telegram ke
Beijing guna melaporkan masalah ini. Pejabat propinsi lalu diperintahkan untuk
mengembalikan kandang sapi Sang Mahaguru beserta seluruh tanah yang mereka sita.
Meski para pejabat setempat mematuhi perintah ini, mereka memendam kesumat dan
belakangan melampiaskan kesulitan besar terhadap beliau.

Para bhiksu dari pelbagai tempat berdatangan dalam jumlah besar dan sekitar 1500 dari
mereka tinggal di biara pada gubug-gubug yang dibangun sebagai tempat tinggal mereka.
Siang dan malam mereka mempelajari Dharma tanpa henti, namun agar tidak terlalu
melelahkan Sang Mahaguru, beliau diminta untuk menetapkan waktu tertentu buat
interview rutin. Dari tanggal 11 bulan ketiga, ia mulai membabar ceramah harian yang
dicatat secara seksama.

BERUSIA 117 (1956/57) Pada musim semi tahun itu Sang Mahaguru mulai
membangun aula utama, altar dari keempat maharaja devata (penjaga biara atau
catuhmaharajika), Menara Kerendahan Hati, Menara Pandangan Tak Terbatas, menara
untuk menempatkan genta, ruang-ruang altar, serta asrama tempat penginapan, yang
diselesaikan satu demi satu. Seluruh bangunan dibuat dengan mencontoh bangunan serupa
di biara-biara Gu-shan, Nan-hua, dan Yun-men.

Maka kurang dari tiga tahun semenjak kedatangan Sang Mahaguru, bangunan-bangunan
vihara pun bangkit kembali guna menghidupkan lagi keagungan lampau masa Dinasti
Tang serta Song. Mereka yang tinggal di vihara kini mencapai 2.000 orang, di antaranya
terdapat para teknisi, kontraktor bangunan, dan orang-orang yang berpengalaman dalam
bidang pertanian serta kehutanan Mereka memberi andil bagi cepatnya renovasi tempat
suci serta pengolahan tanah terlantar itu.

Dalam membangun kembali Biara Zhen-ru, Sang Mahaguru tidaklah menggerakkan
penghimpunan dana, meski demikian sumbangan dana-paramita datang mengalir dari
seluruh penjuru negeri. Sebagai contoh, Bhiksuni Kuan-hui dari Hongkong
menyelenggarakan pertemuan Dharma di sana serta berhasil mengumpulkan 10.000
Dollar Hongkong --- yang kemudian dikirimkan pada Master Xu-yun.

Upasaka Zhan Li-wu dari Kanada, yang sebelumnya belum pernah bertemu dengan Sang
Mahaguru menyumbangkan 10.000 Dollar Kanada. --- Upasaka Wu Xing-cai dari
Shanghai, yang tahun itu hendak ke Yun-ju melalui Hongkong guna berziarah ke tempat
suci itu. Ia melalui Dermaga Zhang-gong - yang ternyata menjumpai jalan pegunungan
yang rusak berat dan sulit dilalui. Ia berikrar untuk memperbaikinya; dan proyek yang
memerlukan dana 100.000 Dollar itu kini sedang berlangsung.

Sang Mahaguru telah membangun dan menghidupkan kembali sejumlah besar kuil dan
biara di seantero negeri ...


Di awal, tatkala tiba di reruntuhan suci Yun-ju, ia hanya berbekal sebatang tongkat.
Setelah renovasi rampung, beliau menyerahkan pengelolaanriya kepada bhiksu lain --- ia
pun lalu pergi meninggalkan biara baru tersebut, lagi: cuma mem-bawa sebatang tongkat
yang masih sama itu sebagai satu-satunya harta milik ...

Kini biara di Gunung Yun-ju telah berhasil dibangun kembali --- nampaknya beliau
dibantu oleh para dewa dan setiap orang berharap agar ia bersedia tinggal di sana.

Yun-ju berarti "Kediaman Awan" dan nama sang Mahaguru yakni Xu-yun, berarti
"Awan Kosong." Yun-ju merupakan kediaman sang Mahaguru yang terakhir di muka
bumi ini.


Pada bulan kesembilan, ketika Telaga Terang Bulan dan Sungai Biru sedang digali ---
ditemukan sebuah batu besar bertuliskan huruf-huruf yang tak jelas maknanya, kecuali
beberapa huruf di sana-sini yang menyebut nama Mahaguru Chan Fu-yin (Meterai
Buddha) - Sang kepala biara di masa lalu. Disebutkan pula: penyair besar Su Dong-bo
sering nong-krong di atas batu di pinggir sungai itu. Sebuah jembatan kemudian dibangun
di dekatnya buat rnemperingati peris-tiwa tersebut. Batunya diberi nama "Batu
Percakapan Pikiran" dan jembatannya dinamai "Jembatan Meterai Buddha." Master Xuyun
lalu membangun sebuah serambi bagi batu itu di bagian ujung jembatan baru, guna
melestarikan tempat bersejarah tersebut dituliskanlah sajak:

Memenuhi ikrar memuja Buddha

Su Dong-bo mengarungi gunung-gemunung
dan sungai-sungai tanpa henti.

Pada sebongkah batu dekat Jembatan Sungai
Biru ia berbincang mengenai

Pikiran hingga lenyap, dimenangkan oleh
Sang batu Hari-hari itu di Jin-shan ia
mengenakan sabuk batu giok-nya

Karena tumpul spiritnya ia tak mampu melepas
keduniawian

Sebongkah awan kini memanjati Batu Percakapan.

Pikiran Guna membangun sebuah jembatan,
mengenang nama Sang penyair.

Jin-Shan, merupakan lokasi sebuah biara terkenal.

Simbol pejabat tinggi yang menunjukkan ketak-mampuan sang penyair
untuk meninggalkan hal-hal duniawi.

"Awan" mengacu pada Mahaguru Xu-yun.


Musim dingin tahun itu sekitar dua ratus orang bhiksu dan umat awam telah berhasil
menggarap tanah paya-paya sekitar biara seluas lebih dari 180 mou [11 hektar] siap
untuk ditanami padi serta 70 mou [4,3 hektar] lahan kering guna ditanduri tanaman sereal
lainnya; dengan demikian bisa memenuhi kebutuhan pangan bagi 500 bhiksu.

Pada tanggal tujuh bulan ke-12, Sang Mahaguru menyelenggara dua minggu meditasi
Chan. Setelah itu, para bhiksu di Biara Nan-hua, Vihara Enam Pohon Banyan di Kanton,
Biara Ding-guan di Zhang-ding dan Vihara Falundi Ning-hua meminta Sang Mahaguru
untuk mewariskan sila bagi umat mereka dari jarak jauh.

BERUSIA 118 (1957/58) Sebagaimana yang dikehendaki oleh Upasaka Wu Xingzai,
perbaikan jalan menuju ke gunung telah dimulai tahun sebelumnya. Pada musim semi
tahun itu, jalur sepanjang 18 li mulai dari Dermaga Zhang-gong sampai ke vihara telah
diperlebar 6 kaki. Jalan ini meliputi banyak jalur mendaki pegunungan yang terjal
beserta puncak-puncak curamnya; jembatan-jembatan juga didirikan melewati sungai-sungai
deras pegunungan. Seluruh proyek rampung di musim rontok dan torehan besar
dalam aksara-aksara China seperti "Gerbang Zhao-zhou," "Jembatan Pelangi," dan lain
sebagainya dipahatkan pada batu-batu di sepanjang jalan. Sang Mahaguru mencatat
peristiwa itu dalam sebuah gatha yang terukir pada batu prasasti.

Pada bulan keenam: Departemen Pertanian dan Kehutanan setempat, melihat komunitas
biara telah berhasil meng-reklamasi tanah terlantar itu menjadi lahan yang subur,
membatalkan kesepakatan tahun 1953 yang mengizinkan biara untuk melakukan kegiatan
semacam itu. Mereka menyusun organisasi sendiri di gunung serta mengirim beberapa
lusin orang ke biara untuk merampas lahan tersebut. Para bhiksu pengurus biara
mengirim surat permohonan sebanyak tujuh kali pada penguasa propinsi agar tetap
mematuhi perjanjian yang ada --- namun sia-sia belaka.

Ketika orang-orang itu hendak mengambil alih kandang sapi dan mengusirSang
Mahaguru, maka beliau pun melapor ke pemerintah Beijing. Pemerintah pusat di Beijing
segera memberi instruksi pada para pejabat propinsi agar berhenti merecoki biara dalam
kegiatan reklamasi lahan. Meski mematuhi perintah Beijing, mereka memendam amarah
terhadap Sang Mahaguru yang telah melaporkan urusan itu kepada atasan mereka. Ini
menyebabkan terus timbulnya berbagai masalah bertubi-tubi. Hingga akhirnya Sang
Mahaguru terpaksa menyerahkan seluruh lahan siap-tanam tersebut pada Departemen
Pertanian dan Kehutanan setempat guna memuaskan mereka.

Sekitar masa-masa itu, Bhiksu Hai-deng - Sang kepala biara --- membabar Sutra Teratai,
setelah itu ia memilih tiga puluh rahib muda guna membentuk lembaga Pusat Studi
Buddhis yang bertujuan melatih para calon biarawan.





0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close