Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

buku biografi Master Zen "Xu Yun" (Awan Kosong)


  • This topic is locked This topic is locked
62 replies to this topic

#61 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 03 March 2013 - 12:24 AM

RUSUH PEMBERSIHAN "ANASIR KANAN"

BERUSIA 119 (1958/59) Musim semi tahun itu, geger pembersihan "unsur kanan" di
negeri itu mulai mengimbas pada kuil-kuil dan biara-biara. Sebuah kelompok yang
menyebut dirinya buddhis mengadakan pertemuan umum di Hankou, dimana para kepala
biara serta bhiksu yang ditunjuk diminta hadir. Sang Mahaguru minta maaf tak bisa hadir
oleh karena usia tua dan kurang sehat.

Kepala Biara Beh-huan dari Biara Nau-hua, Mahaguru Chuan-shi, direktur urusan tamu
pada Biara Zhen-ru, Kepala Biara Fu-yuan, Mahaguru Jian-xing, dan Yin-kai dari Biara
Yun-men dituduh sebagai "kaum kanan' namun secara licik mereka diberi celah-keji
untuk digeser statusnya menjadi saksi agar melapor, mendakwa, dan menyingkirkan Sang
Mahaguru.

Mereka muskil bisa lolos dari kemalangan apabila me-nolak. --- Akhirnya, sekelompok
kecil pendakwa mengajukan sepuluh macam tuduhan pada Master Xu-yun, seperti misal:
korupsi, reaksioner, gangsterisme, acara pewarisan Sila secara mewah berlebihan, dsb.
Yang paling tak masuk akal adalah tuduhan bahwa Sang Master tinggal di kandang
sapinya bersama para calon bhiksu muda untuk mempraktikkan homoseksualitas.

Pada dinding-dinding vihara Nan-hua, Yun-men, dan Zhen-ru ditempel buletin-buletin
berita kecaman untuk menghina Master Xu-yun, namun Sang Mahaguru tidak
mempedulikannya. --- Ketika murid-murid hendak menjawab tuduhan tak berdasar ini,
beliau melarangnya. Dua bulan berlalu tanpa kabar apapun dari Hankou, yang mana
pertemuannya pun juga telah berakhir. Meski demikian, asisten utama serta para bhiksu
yang telah menyertai beliau selama bertahun-tahun dipaksa untuk meninggalkannya dan
dikirim ke tempat-tempat yang ditentukan pejabat-pejabat lokal.

Beberapa bulan terus berlalu tanpa ada tindakan lebih lanjut terhadap Sang Mahaguru.
Suatu hari beliau menerima sebuah surat dari Beijing dan baru dipahami kemudian
bahwa pertemuan Hankou tidak berani menyingkirkan Master Xu-yun oleh karena
kemuliaan mendalam beliau yang sudah sangat dikenal di seluruh kalangan luas. --

Mereka hanya berani mengirim sebuah daftar tuduhan kepada satu pejabat tinggi. Pejabat
tersebut hanya melirik sekilas, menertawakannya, dan lalu memerintahkan orang-orang
itu untuk jangan merecoki beliau lagi. Dengan demikian, Sang Maha-guru lolos dari
kemalangan.

Tanggal 15 bulan kesembilan tahun itu, Kepala Polisi Zhang Jian-min datang dengan
asisten seniornya ke kandang sapi Sang Mahaguru, menggeledah serta menggali tanah di
bawahnya, tetapi tidak menemukan sesuatu apapun. Mereka lalu menyita semua surat
yang diterima Sang Mahaguru dari Beijing, dokumen, Sutra, buku-buku catatan, dan lain
sebagai-nya --- mereka menolak untuk mengembalikan meski telah diminta berulang kali.

Pada tanggal 16 bulan kesembilan, Sang Mahaguru mengumpulkan semua warga biara
di aula untuk memberi-tahu mereka mengenai peristiwa yang baru saja terjadi. Akibat
dari permasalahan ini, Sang Mahaguru jadi sakit keras. Sebelumnya, Sang Mahaguru
dapat bernamaskara pada Sang Buddha tanpa dibantu, namun kini beliau harus dipapah
oleh asisten-asistennya. Komunitas biara menyadari bahwa Sang Mahaguru telah
mendekati akhir hayatnya. Suatu hari ia mengundang dua asistennya serta memberi pesan
terakhirnya pada mereka. Pada tanggal 19 bulan kesepuluh, ia menyampaikan khotbah
terakhirnya pada komunitas biara...


Bersambung ke Bab 16...

#62 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 03 March 2013 - 11:22 PM

Bab 16. Tahun Terakhir

XU YUN SAAT BERUSIA 120 (1959)

Musim semi tahun itu, karena Sang Mahaguru telah mencapai usia 120 tahun, kuil-kuil,
biara, dan seluruh murid-muridnya yang di Tiongkok dan luar negeri merasa gembira
karena beliau mencapai usia yang sama dengan Mahaguru Zhao-zhou di zaman kuno.
Mereka memberitahu mengenai rencana penyelenggaraan [acara] ulang tahun kepada
beliau. Dengan segera beliau menjawab-nya sebagai berikut:

Mahaguru Zhao-zhou (778-897) dikenal oleh karena gong-an Wu (bahasa Jepang:
Mu) nya.


Saya sendiri tidak tahu berapa lama lagi saya dapat hidup dan ulang tahun saya sebenarnya
masihlah agak jauh. Meski demikian, Upasaka Wu Xing-zai sudah menyampaikan keinginannya
buat mengirim gulungan ucapan selamat ulang tahun dan saya sudah mengucapkan terima kasih
serta memintanya untuk tidak melakukan hal itu. Karma masa lampau saya sudah
menyebabkan hidup saya yang sekarang dipenuhi kesulitan. Saya adalah bagai sebatang
lilin di tengah [terpaan] angin dan tiada mencapai sesuatu pun. Bila ingat hal ini, rasanya
malu atas reputasi kosong ini. Seabad permasalahan duniawi adalah bagaikan mimpi
serta ilusi dan tidak layak buat dilekati. ---

Lebih jauh lagi, karena kelahiran pasti membawa pada kematian, seorang bijak
hendaknya selalu waspada dan mengarahkan pikirannya pada Dao, bagai seseorang
yang sedikit pun tak menyia-nyiakan waktu buat menyelamatkan kepalanya yang terbakar.
Bagaimana mungkin saya memanjakan diri dengan adat kebiasaan duniawi? Saya
berterima kasih atas segala kebaikan hati ini dari lubuk hati yang terdalam, namun benar-benar
menyesal karena tak dapat menerima hadiah Anda. [Hingga kini pun] saya masih
berduka atas kematian mendadak emak saya dan mohon Anda batalkan saja rencana tak
menguntung-kan peringatan ulang tahun itu, sehingga tak perlu menambah lagi dosa-dosa
saya.

Bulan ketiga, tatkala Sang Master melihat bahwa penggalian Telaga Terang Bulan dan
pembangunan stupa belumlah selesai, ia secara pribadi mengawasi proyek tersebut dan
rampung beberapa bulan kemudian.

Nyonya Zhan Wang Shen-ji bersama dengan suaminya Zhan Li-wu, seorang pengusaha di
Kanada --- begitu menjadi murid Master Xu-yun sejak tahun 1956 mereka sudah ingin
berdana bagi renovasi aula utama. Tetapi karena semua bangunan vihara telah
direnovasi, maka Sang suami menyata-kan keinginannya untuk mendirikan stupa
periyimpari sarira Buddha serta sebuah aula Chan yang dinamakan "Liu Yun" (secara
harafiah berarti: "Mempertahankan Awan"; kata 'awan' maksudnya: Sang Mahaguru)
dengan harapan agar beliau tetap bertahan tinggal di muka bumi ini.

Sang Mahaguru menjawab bahwa biara-biara Nan-hua dan Yun-men masing-masing
sudah punya stupa penyimpan abu para jenasah rahib, maka ia menyarankan untuk mem
bangun sebuah stupa bagi biara Zhen-ru yang masih belum ada stupanya. Dengan
demikian, maka abu jenasah para ke-pala biara dan Mahaguru dari biara itu, yang
[selama ini] dimakamkan di tempat lain dapat dikumpul bersama dan terawat dalam
stupa.

Para umat yang datang ke gunung nanti-nya pun juga bakal bisa menghaturkan
penghormatan pada mereka. - Sementara tentang Aula Liu-yun, kendati sangat tersentuh
oleh niat Sang dermawan --- namun karena di sepanjang hidup beliau tidak pernah
memanfaatkan sebatang kayu atau selembar ubin pun buat kepentingan pribadinya, maka
Master Xu-yun menolak dengan halus.

Zhan Li-wu menulis surat kepada Sang Mahaguru yang mengatakan bahwa: di samping
10.000 Dollar Hongkong yang telah dikirim, ia akan mengirim lagi uang sejumlah 50.000
Dollar Hongkong (atau senilai 10.000 Dollar Kanada secara keseluruhan) guna
membangun stupa. Sang Mahaguru menerimanya dan pada musim dingin tahun itu [1956]
mulai dibangun stupa yang mirip dengan yang di Biara Nan-hua serta beberapa ruangan
bagi pembacaan Sutra bagi para rahib.

Proyek selesai pada bulan ketujuh tahun ini [1959] dan ini adalah proyek terakhir
sepanjang masa hidup beliau.

Pada bulan yang sama, Sang Mahaguru menerima uang sumbangan Upasaka Wang Shenji
dari Kanada dan Zeng Kuan-bi dari HongKong, masing-masing dari mereka meminta
Beliau untuk membuat patung Bodhisattva Ksitigarbha sebagai peringatan atas ulang
tahun beliau yang ke-120. Beliau dengan segera memesan dua buah patung, yang selesai
dalam waktu dua bulan --- masing-masing ditempatkan di altar menara genta dan satu
lagi diletakkan pada stupa. Kedua rupang ini merupakan patung terakhir yang dibuat
pada masa hidup beliau.

Tubuh Sang Mahaguru makin melemah setelah
sakit parah pada bulan ke-tiga.


Pada mulanya, beliau masih sanggup melaksanakan tugas-tugas dan mengawasi semua
proyek yang belum selesai, namun pada bulan ketujuh ia menderita sakit pencernaan
parah. Master Xu-yun selanjutnya tak dapat me-nyantap nasi dan menu padat lain ---
hanya diberi semangkuk kecil congee (sup nasi encer) buat makan pagi dan siangnya.

Pemerintah Beijing menyuruh pejabat propinsi agar mengatur supaya Sang Mahaguru
dirawat oleh seorang dokter, tetapi beliau menampik dengan mengatakan, "Hubungan
karma saya dengan dunia ini bakal segera berakhir." --- Beliau lalu menulis pada para
murid doriatur pembangunan kembali biara; memberitahukan bahwa proses renovasinya
telah rampung; meminta mereka jangan mengirim dana paramita lagi padanya. Beliau
juga mendesak mereka untuk menjaga diri baik-baik dan berjuang keras mempraktikkan
Dharma.

Ketika Sang Mahaguru sakit keras, suatu kali kepala biara dan para bhiksu yang bertugas
datang menjenguk beliau di kandang sapi. Xu-yun berkata, "Oleh adanya hubungan karma
antara kita, sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang sama. Berkat budi-pekerti
kalian, maka kita mampu memperbaiki tempat suci ini dalam beberapa tahun terakhir.
Saya benar-benar terharu oleh pengorbanan dan pahit-getir yang kalian tanggung. Saya
menyesal bahwa karma hidup saya bakal segera berakhir, sehingga takkan sanggup untuk
menjaga biara ini lagi - maka menjadi tanggung jawab kalian semua buat merawatnya
baik-baik ...

Setelah kematian saya, tolong kenakanlah jubah dan pakaian kuning pada jenazah saya,
letakkan dalam peti sehari kemudian, lalu kremasi-kanlah di kaki bukit sebelah barat
kandang-sapi. Mohon campurkan abu jenasahnya dengan gula, tepung, dan minyak -
dikepal-kepal jadi sembilan bulatan --- tebarlah ke sungai sebagai persembahan bagi
para makhluk yang hidup di air. Bila kalian sudah membantu saya mememenuhi ikrar ini,
saya kudu berterima kasih selamanya."

Mereka lalu menghibur Sang Mahaguru; beliau kemudian melantunkan ketiga gatha ini:

Gatha pertama

Merasa kasihan pada semut-semut seekor
udang tidak jadi melompat ke air.

Ini mengacu pada Master Xu-yun yang sesungguhnya sudah ditawari peluang buat
meninggalkan situasi gawat di Tiongkok daratan, namun ia menolak oleh karena
belas-kasihnya.


Agar bermanfaat bagi makhluk yang hidup di air,
lempar abu saya ke sungai.

Jika mereka mau menerima persembahan
terakhir dari jasad saya ini,

Saya harap mereka bakal mendapat Bodhi
dan berusaha untuk mencapai pembebasan.



Gatha kedua

Saya mendesak saudara-saudara Dharma untuk merenung

Secara mendalam dan sungguh-sungguh tentang
Karma kelahiran dan kematian

Bagai ulat sutra yang memintal kepompong mereka.

Hawa nafsu keinginan dan kilas pemikiran tanpa akhir

Menambah masalah dan penderitaan.

Jika engkau hendak membebaskan diri darinya,

Pertama-tama laksanakanlah dana-paramita
dan latihan rangkap tiga

Yakni prajna (wisdom),
samadhi (meditasi),
dan sila (disiplin-moralitas),

Kemudian peganglah teguh-teguh empat pemikiran benar.

Keempat pikiran benar adalah: (1) Bahwa tubuh ini tidak murni;
(2) Penderitaan datang karena pencerapan indrawi;
(3) Pikiran tidaklah kekal; (4) Tiada suatu "aku"/"diri" dalam fenomena.


Seketika engkau bakal tersadar dan menangkap

Dengan jelas bahwa segala sesuatu cuma
bagai embun dan kilat,

Anda merealisasi bahwa di dalam yang absolut

Berlaksa-laksa hal memiliki substansi yang sama,

Yang terciptakan dan tak terciptakan

Adalah ibarat air dan gelombangnya.



Gatha ketiga

Astaga, hingga tahun-tahun terakhir hidupku

Hutang budiku masih belum terbayar

Sementara hutang belumlah lunas, dangkal
lagi kebijaksanaanku dan akar karmaku pun
masih dalam.

Aku jengah atas kegagalariku
[dalam berpraktik Dharma],

Atas kebodohanku selama berdiam di Yun-ju.

Ibarat orang yang masih melekat pada kata-kata
saat melafal Sutra,

Saya malu berjumpa dengan Yang Dijunjungi
Dunia dan para hadirin Persamuan Dharma

Yang masih berkumpul di Puncak Burung Nazar.

Kini tugas kalian buat melindungi Dharma,

Sekarang kalianlah Wei-tuo yang terlahir kembali

Orang yang melafal Sutra tanpa tujuan tanpa memahami maknanya.

Seorang jenderal [dewata] di bawah Maharaja Selatan. Beliau merupakan salah satu
pelindung biara.


Untuk membangkitkan kembali tradisi sejati di Vaisali

Yang mengungkap kesatuan antara "diri" dan makhluk lainnya.

Teladani dan hormatilah Vimalakirti,

Ibarat sebongkah batu berdiri teguh di tengah deras
aliran sungai,

Ia yang sabda-sabdanya tempat kita bertumpu
guna mencapai pembebasan.

Mereka sabar menanggung pedih tanpa henti
di Jaman-Akhir-Dharma ini

Masa yang sedikit sekali orang bersandar pada
Kebenaran.

Saya terbelit kesulitan karena tidak bereputasi
sejati;

Kalian semua hendaknya, oleh karena itu;
tersadar dan jangan menyimpang dari jalan yang benar.

Ikut bergembira kala mendengar Tanah Buddha

Dan dengan itu berjuang agar senada dengannya.

Kata-kata terakhir ditinggalkan

Untuk menyatakan pemikiran terdalamku.



Ketika ulang tahun Master Xu-yun pada bulan ke-delapan kian mendekat, banyak kepala
biara dari biara-biara lain beserta murid-murid naik ke gunung buat menghaturkan
selamat. Beliau merasa sedikit membaik. Beberapa murid yang dipimpin oleh Bhiksuni
Kuan-hui datang dari Hongkong dan berbicang lama dengan beliau beberapa kali.

Sang Mahaguru sakit keras pada awal Oktober tahun itu. Ia lalu memerintahkan patungpatung
Buddha dan Sutra diletakkan dan ditata rapi di dalam stupa. Beberapa bhiksu
diperintah untuk melafal nama Buddha pada [kebaktian] pagi dan siang harinya.

Hari-Hari Terakhir

Tanggal. 7 Oktober ketika Sang Mahaguru menerima telegram dari Beijing yang memberi
kabar wafatnya Mar-sekal Li Ji-shen, beliau seketika berseru, "Li Ji-shen, mengapa
engkau mendahuluiku? Aku juga mesti pergi." Para dayaka pendamping beliau tertegun
mendengar ucapan ini.

Karena Master Xu-yun hanya berbaring selama beberapa hari dengan nafas tak teratur
dan nampak tidur saja di sepanjang waktu --- seorang dayaka pun lalu masuk mendampingi.
Tiap kali Sang Mahaguru membuka mata, beliau meminta dayaka itu untuk
meninggalkannya sendiri seraya berkata, "Saya bisa menjaga diri saya sendiri."

Siang hari pada tanggal 12 Oktober, Sang Mahaguru meminta dayaka-dayakanya agar
memindahkan patung Buddha yang di dalam relung ke ruang lainnya untuk dipuja. Para
bhiksu merasakan sesuatu yang tidak biasa lalu melapor kepada Kepala Biara, maka para
bhiksu yang tugas-piket hari itu datang menjenguk beliau di sore harinya. Mereka
memohon Sang Mahaguru supaya bersedia tinggal hidup lebih lama lagi demi
kepentingan Dharma.

Beliau menjawab, "Mengapa kalian masih saja meladeni pikiran duniawi pada saat
seperti ini! Hayo, sana! --- lafalkan nama Buddha buat saya di aula utama ..." --- Ketika
mereka menanyakan petunjuk dan pesan terakhir beliau, beliau menjawab, "Beberapa hari
lalu aku sudah omong kepada kalian apa yang perlu dilakukan setelah kematianku; tiada
gunanya mengulang-ngulang lagi. Sedang kata-kata terakhir saya adalah: Praktiklah sila,
dhyana, dan prajna buat menghapus nafsu keinginan, kebencian, dan kebodohan batin."

Setelah mengambil nafas sejenak, beliau melanjutkan, "Kembangkanlah pemikiran dan
pikiran benar untuk menciptakan semangat agung tanpa jeri demi pembebasan orang lain
dan seluruh dunia. Kalian semua pasti lelah, pergi-lah sana beristirahat." -- Saat itu
sudah menjelang tengah malam, mereka semua mengundurkan diri...

Yun-ju merupakan gunung yang tinggi dan pada puncak musim rontok, angin dingin
menghembus merasuk tulang --- membuat daun-daun belukar tabur berguguran. Langit
terhalang pohon-pohon besar menj ulang, menimbulkan bayang-bayang kelam. Di dalam
kamar itu, kelip nyala pelita hanya sebiji kacang - dan di luar, butir-butir embun jatuh
menetes nampak bagai mutiara. Dalam kandang-sapinya yang terpencil itu, Sang
Mahaguru sepuh terbaring sendiri di ranjang - jauh terpisah dari aula, dimana pembacaan
sutra dan madah-madah suci dilantunkan sambung sinambung sebagai salam perpisahan
bagi beliau ...

Subuh tanggal 13 Oktober, dua orang dayaka memasuki ruangan, mereka menyaksikan
Sang Mahaguru duduk bermeditasi seperti biasa. Hanya kali ini nampak warna
kemerahan di pipi beliau. Mereka tak berani menyela dan hanya melangkah ke luar untuk
berjaga-jaga. Di tengah hari, dari jendela mereka melihat bahwa Sang Mahaguru telah
turun dari ranjang, minum air dan bangkit buat menghaturkan sembah sujud kepada Sang
Buddha. Mereka segera bergegas memasuki ruang karena khawatir jangan-jangan beliau
terlalu lemah dan mungkin terjatuh. Sang Mahaguru lalu duduk dan berkata pelan, "Saya
melihat di dalam mimpi seekor sapi melabrak dan merobohkan Jembatan Meterai
Buddha; saya juga melihat air sungainya berhenti mengalir." Beliau lalu memejamkan
mata dan tak berkata sepatah kata pun lagi.

Ini berarti melepaskan mata rantai terakhir dengan dunia yang diliputi khavalan ini.


Pukul 12.30 siang, beliau memanggil para dayakanya dan kemudian memandang ke
sekeliling, hening sejenak dan berkata, "Kalian sudah menyertai saya selama bertahun-tahun
dan saya sangat terharu oleh kesukaran dan penderitaan yang kalian alami. Tiada
guna omong tentang hal-hal yanglampau, namun sepuluh tahun terakhir ini saya sudah
minum dari cawan kepahitan dan telah diguncang curiga serta mara-bahaya. Saya sudah
menanggung aniaya dan ketidak-adilan agar tempat-tempat suci di negeri ini bisa
dipelihara, agar tradisi-tradisi terbaik dan aturan hidup suci dapat dipertahankan, ---
dan, supaya: jubah Sangha terjaga kemurniannya. Aku sudah mempertaruhkan hidupku
demi jubah Sangha ini!... Kalian murid-murid terdekatku, kalian tahu semua yang telah
terjadi. Selanjutnya, entah engkau tinggal di gubuk sederhana atau pergi ke biara lain,
jagalah jubah Sangha ini sebagai lambang'dari keyakinan kita; namun bagaimanakah
caranya? Jawabannya terletak pada kata: sila." --- Setelah menyampaikan hal ini, beliau
merangkap kedua belah tangan dan memerintahkan para dayaka buat menjaga diri baikbaik.
Mereka semua menahan isak-tangis dan pergi keluar untuk berjaga...

Pukul 1.45 siang, kedua dayaka kembali memasuki ruangan dan melihat bahwa Sang
Mahaguru rebah bertumpu pada sisi tubuh bagian kanannya. Menyadari bahwa beliau
telah meninggal dunia, mereka segera memberitahu Kepala Biara dan seluruh komunitas.
Mereka berkumpul melafal Sutra guna mengucapkan selamat jalan pada Sang Mahaguru
dan setelah itu kembali melafal nama Buddha sepanjang siang dan malam harinya.

Jenazah Mahaguru Xu-yun dimasukkan ke dalam peti pada tanggal 18 dan dikremasi
keesokan harinya pada tanggal 19. Udara saat itu dipenuhi keharuman yang tidak biasa
dan asap putih membumbung ke langit. Lebih dari seratus sarira besar panca warna serta
tak terhitung yang berukuran kecil dijumpai pada abu Sang Mahaguru. Sarira yang
berukuran kecil kebanyakan berwarna putih. Seluruh relik itu nampak bersih cemerlang.
Pada tanggal 21 nya, abu itu ditempatkan dalam stupa.

Sang Mahaguru wafat pada usianya yang ke-120 atau pada usia Dharma yang ke-101.

Usia Dharma seorang bhiksu menunjukkan lamanya ia bergabung dengan Sangha.


Selesai.

Edited by Top1, 03 March 2013 - 11:23 PM.


#63 Top1

Top1

    Senior WDC

  • Moderators
  • 34
  • 1,985 posts
  • 20 thanks

Posted 16 October 2015 - 09:27 PM

Sundul dulu, supaya penonton baca buku bagus daripada nonton komedian yg gak bermanfaat






0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close