Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

Perumpamaan Teratai dan Jenis-jenis Orang yang Bisa Mencapai Pembebasan


  • Please log in to reply
5 replies to this topic

#1 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 26 December 2011 - 09:03 PM

Ketika Sang Buddha baru mencapai Pencerahan Sempurna, Beliau berniat untuk tidak mengajarkan Dhamma karena Dhamma sangat mendalam dan sulit dipahami orang-orang biasa. Kemudian Brahma Sahampati memohon Beliau untuk mengajarkan Dhamma karena ada orang-orang dengan sedikit debu di mata mereka. Dengan mata Buddha-Nya Sang Buddha mengamati dunia dan mengetahui memang benar adanya:

“Kemudian Aku mendengarkan permohonan Brahmā, dan demi belas kasihan kepada makhluk-makhluk Aku memeriksa dunia dengan mata Buddha. Dengan memeriksa dunia dengan mata Buddha, Aku melihat makhluk-makhluk dengan sedikit debu di mata mereka dan dengan banyak debu di mata mereka, dengan indria tajam dan dengan indria tumpul, dengan kualitas-kualitas baik dan dengan kualitas-kualitas buruk, mudah diajar dan sulit diajar, dan beberapa yang berdiam melihat dengan takut pada kejahatan dan pada dunia lain. Bagaikan dalam sebuah kolam teratai biru atau merah atau putih, beberapa teratai lahir dan tumbuh dalam air berkembang dalam air tanpa keluar dari air, dan beberapa teratai lain lahir dan berkembang dalam air dan berdiam di permukaan air, dan beberapa teratai lainnya lahir dan berkembang dalam air keluar dari air dan berdiri dengan bersih, tidak dibasahi oleh air; demikian pula, dengan memeriksa dunia ini dengan mata Buddha, Aku melihat makhluk-makhluk dengan sedikit debu di mata mereka dan dengan banyak debu di mata mereka, dengan indria tajam dan dengan indria tumpul, dengan kualitas-kualitas baik dan dengan kualitas-kualitas buruk, mudah diajar dan sulit diajar, dan beberapa yang berdiam melihat dengan takut pada kejahatan dan pada dunia lain.

(Ariyapariyesana Sutta, Majjhima Nikaya 26)


Empat tipe orang disebutkan dalam perumpamaan teratai. Mereka adalah:
1. Teratai yang dilahirkan di dalam air dan ketika telah mencapai permukaan air, tumbuh keluar dari air dan tidak tercemar olehnya. Ini adalah seorang Ugghatitannu.
2. Teratai yang dilahirkan di dalam air dan mencapai permukaan. Ini adalah seorang Vipacitannu.
3. Teratai yang dilahirkan di dalam air, tumbuh di dalam air, dan, tanpa meninggalkan air, berkembang di dalam air. Ini adalah seorang Neyya.
4. Teratai yang dilahirkan di dalam air, tumbuh di dalam air, dan, tanpa meninggalkan air, mereka mati di dalam air. Ini adalah seorang Padaparama.
Diantara keempat tipe orang tersebut, tiga tipe pertama dapat mengakhiri penderitaan.

Orang jenis pertama, (seorang Ugghatitannu), adalah seseorang yang bisa terbangunkan hanya dengan mendengarkan petunjuk ringkas. Y.M.Sariputta adalah contoh seorang Ugghatitannu. Dia mencapai tingkat Sotapanna, hanya dengan mendengarkan bait pendek yang terdiri dari empat baris. Jadi silahkan dengarkan dan cari tau apakah anda juga bisa mencapai tingkat Sotapanna. Jika anda bisa, saya akan sangat senang.

“Ye dhamma hetuppabhava;
Tesam hetum tathagato aha,
Te sansa yo niroda;
Evam vadi maha samano.”


Yang Mulia Sariputta merealisasi pencapaian Sotapanna setelah ia mendengar kata-kata: “Ye dhamma hetuppabhava; Tesam hetum tathagato aha, tapi sebelum kata ‘aha’.

Kita perlu mengerti alasan-alasan pencapaian yang cepat oleh orang yang hidup pada jaman Sang Buddha. Sekarang, orang memperdebatkannya. Beberapa bahkan percaya tidak perlu untuk berlatih. Mereka berfantasi bahwa orang pada jaman sekarang juga dapat mencapai tingkat realisasi mendalam, hanya dengan mendengarkan ceramah Dhamma. Untuk mempertahankan pendapatnya, mereka merujuk berbagai kejadian yang terjadi pada jaman Sang Buddha tersebut. Jika pada saat itu bisa, mengapa sekarang tidak?

Dalam Kitab Komentar kita menemukan jawabannya. Hal ini dijelaskan bahwa pengikut awal Sang Buddha bisa menembus Dhamma begitu cepat karena beberapa alasan berikut. Dalam banyak kehidupan sebelumnya mereka mengakumulasikan empat penyebab:

a. Penguasaan kitab suci ……………… (Pariyatti). Mereka mempelajari sehingga mahir dalam kitab suci Dhamma.
b. Mendengar …………… (Savana). Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan hormat terhadap Dhamma yang dijelaskan selama kurun kehidupan lampau yang tak terhingga.
c. Penyelidikan …………… (Paripuccha). Mereka meneliti dan mendiskusikan bagian dan penjelasan dalam teks dan Kitab Komentar yang sulit.
d. Usaha sebelumnya ……………… (Pubbayoga). Mereka terlibat dalam praktik meditasi Samatha-Vipassana samapi tingkat Pengetahuan Keseimbangan Terhadap Bentuk-bentuk (sankharupekkha nana) selama dispensasi dari para Buddha.

Karena keempat penyebab inilah, orang pada saat itu mampu dengan cepat merealisasi pencapaian mendalam, dalam salah satu kehidupan terakhir mereka. Karena empat penyebab itu, hasil ini terjadi:
e. Pencapaian ………………… (Adhigama). Pencapaian Jalan dan Buah Arahat, atau pencapaian Jalan dan Buah lainnya.

Kita sekarang tahu bahwa mereka yang telah menyempurnakan parami seperti penguasaan kitab suci (Pariyatti), mendengar (Savana), penyelidikan (Paripucca), dan upaya sebelumnya (Pubbayoga) mampu mencapai Jalan dan Buah Kebijaksanaan dengan cepat, kadang-kadang hanya dengan mendengarkan bait yang sangat singkat. Diantara parami, ‘upaya sebelumnya’ (Pubbayoga) sangat penting. Karena akumulasi praktek Meditasi Samatha-Vipassana di masa lalu sampai pada Pengetahuan Keseimbangan Terhadap Bentuk-Bentuk (sankharupekkha nana), murid-murid awal tersebut sudah sangat dekat dengan Jalan dan Buah Kebijaksanaan. Ketika pergi untuk dana makanan, mereka berlatih meditasi. Ketika kembali, mereka berlatih meditasi. Murid-murid awal tersebut telah membuat upaya sebelumnya selama banyak kehidupan. Jadi dalam kehidupan terakhir mereka, hanya dengan mendengarkan Dhamma sudah cukup untuk melihat Nibbana.

Tipe orang kedua (seorang Vipacitannu) adalah seseorang yang membutuhkan petunjuk rinci. Apakah anda ingat lima pertapa yang sebelumnya menjaga Bodhisatta selama enam tahun Ia menjalankan praktek ekstrim? Anda sekarang sudah ingat? Ketika Bodhisatta menghentikan praktek itu, mereka meninggalkanNya. Ketika Bodhisatta menjadi Buddha yang tercerahkan sempurna, Dia mencari kelima pertapa itu untuk memberi ceramah. Ceramah itu merupakan ceramah pertama yang diberikan oleh Sang Buddha. Apakah anda ingat judul ceramah itu? Sutta Pemutaran Roda Dhamma (Dhammacakkapavattana Sutta). Dalam Sutta itu, Sang Buddha memberikan petunjuk rinci. Ketika mendengar itu, satu diantara lima pertapa itu mencapai tingkat Pemasuk Arus (Sotapanna). Ia adalah Y.M.Kondanna. Ketika Sang Buddha memberikan petunjuk lanjutan kepada pertapa lainnya dengan ceramah Dhamma, Y.M.Vappa dan Y.M.Bhaddiya juga mencapai tingkat Pemasuk Arus. Setelah makan dana makanan yang dibawa oleh ketiga Pemasuk Arus, Y.M.Kondanna, Y.M.Vappa dan Y.M.Bhaddiya, Sang Buddha terus memberikan petunjuk lanjutan kepada sisa dua pertapa dengan ceramah Dhamma. Tidak lama setelah itu, Y.M.Mahanama dan Y.M.Asaji juga mencapai Pemasuk Arus. Kita sekarang tahu bahwa Y.M.Kondanna, Y.M.Vappa, Y.M.Bhaddiya, Y.M.Mahanama, dan Y.M.Asaji adalah tipe orang kedua, seorang Vipacitannu.

Banyak diantara kita yang juga pernah mendengarkan atau membaca Sutta Dhammacakkapavattana. Apakah kita mencapai pemasuk arus? Jika tidak, kita dapat menyimpulkan bahwa kita bukan tipe orang kedua, seorang Vipacitannu, yang dapat merealisasi Nibbana hanya dengan mendengarkan penjelasan rinci tentang Dhamma.

Tipe orang ketiga (seorang Neyya) adalah orang yang tidak dapat mencapai pemasuk arus hanya dengan mendengarkan rangkuman atau rincian instruksi. Melainkan dengan mempraktekkan latihan moralitas (Sila), latihan konsentrasi (Samadhi) dan latihan kebijaksanaan (Panna) langakah demi langkah, secara sistematis, mereka baru bisa merealisasi Empat Kebenaran Mulia dan mencapai Nibbana. Saya percaya bahwa ada banyak pendengar yang merupakan tipe orang ketiga ini. Saat ini, tipe orang pertama dan kedua tidak dapat ditemukan dimanapun. Namun, banya orang Neyya yang hidup ditengah-tengah kita hari ini. Untuk merealisasi Nibbana, seorang Neyya perlu mempelajari teks Pali, membahas bagian yang sulit dan penjelasan dalam teks dan Kitab Komentar, dan perlu mengingat apa yang telah dipelajari. Mereka harus bergaul dengan teman yang baik dan harus berlatih meditasi. Ini disebutkan dalam Kitab Komentar.

Berkumpul dengan seoang teman yang baik adalah sangat penting. Sekalipun kita tidak dapat memperoleh pengetahuan dari teks Pali dan Kitab Komentar, jika kita berkumpul dengan seorang teman yang baik yang benar-benar dapat membimbing kita dalam tiga latihan; hanya dengan ini saja dapat membawa kita ke Nibbana. Ketika Sang Buddha mengamati dunia dengan mata BuddhaNya, Dia melihat makhluk-makhluk dengan sedikit debu di mata mereka dan yang dengan banyak debu, makhluk dengan pemahaman tajam dan tumpul, makhluk dengan sifat baik dan buruk, makhluk yang mudah dan yang sulit untuk diajar. Hanya sedikit yang takut melakukan perbuatan buruk dan takut akan dunia setelahnya.

Melihat hal ini, Sang Buddha menjawab Brahma itu dengan ayat-ayat:

“Terbukalah bagi mereka pintu tiada-kematian!
Biarkan mereka yang memiliki telinga melepaskan keyakinan mereka.
Melihat akan timbul masalah, Aku enggan berkotbah pada awalnya,
Dhamma yang sangat baik untuk manusia dan Brahma!”

Sang Buddha telah membuka pintu tiada kematian. Kita harus mempercayakan keyakinan kita kepada Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Jika keyakinan tidak mencukupi, kita tidak mungkin membuka pintu tiada-kematian. Karena kurangnya keyakinan dalam Buddha, Dhamma dan Sangka, kadang-kadang kita mungkin berpikir, apakah benar-benar mungkin mencapai konsentrasi jhana hanya dengan berfokus pada napas? Atau, apakah benar-benar mungkin untuk melihat cahaya hanya dengan berfokus pada keluar masuknya napas? Pikiran-pikiran ini dapat mengganggu dan menguasai pikiran kita dengan keragu-raguan. Jika ini terjadi, orang yang tidak mempunyai keyakinan sering kali berhenti meneruskan pratik. Pikiran mereka penuh dengan keraguan dan mereka menjadi bingung, mereka mengeluh tentang segala hal. Keraguan yang mudah menyebar ini akan menghambat timbulnya keuntungan-keuntungan dalam kehidupan mereka.

Karena itu, Sang Buddha mengatakan:

“Biarkan mereka yang memiliki telinga melepaskan keyakinan mereka.
Melihat akan timbul masalah, Aku tidak berkotbah pada awalnya,
Dhamma yang sangat baik untuk manusia, Brahma!”

Kita tahu bahwa setelah Sang Buddha mencapai pencerahan, Dia cenderung untuk tidak mengajarkan Dhamma. Akhirnya, setelah diminta untuk ketiga kalinya, Sang Buddha menyetujui permintaan Brahma Agung. Dikarenakan belas kasih tak terhingga bagi semua makhluk, Dia mengamati dunia dengan mata BuddhaNya. Dia kemudian melihat orang tipe pertama, kedua dan ketiga seperti yang telah saya jelaskan. Mari kita sekarang jelaskan tipe orang keempat.

Jenis orang keempat (seorang Padaparama) adalah seseorang yang pencapaian tertingginya merupakan pemahaman intelektual teks-teks Dhamma. Meskipun orang seperti ini mempraktikkan latihan moralitas (Sila), latihan konsentrasi (Samadhi), dan latihan kebijaksanaan (Panna) langkah demi langkah, secara sistematis, dan bahkan setelah mendengar rangkuman instruksi atau instruksi rinci, mereka tetap tidak mampu menembus Empat Kebenaran Mulia dan melihat Nibbana dalam kehidupan ini. Semua usaha mereka adalah untuk realisasi dan pencapaian di masa akan datang. Apa yang telah mereka kumpulkan dalam kehidupan saat ini adalah harta yang akan dibawa, sebagai bekal dalam perjalanan ke Nibbana. Oleh karena itu, mereka akan mengetahui dan melihat Dhamma sebagaimana adanya dalam kehidupan masa yang akan datang.

Apa yang harus dilakukan jika kita termasuk tipe orang keempat (seorang Padaparama)? Jika kita adalah tipe orang keempat, meditasi sangat diperlukan, dalam hal ini, sangatlah penting bagi kita mempraktekkan meditasi sebanyak mungkin dalam kehidupan ini. Ini adalah untuk mewujudkan realisasi dan pencapaian kita di masa depan.

Sumber: Buku Bangunlah, Dunia!, kumpulan ceramah dari Bhikkhu Revata
[di-copas dari postingan sdri. Hemayati di Merespon Pertanyaan Rekan-rekan ]

rj1pgw.jpg


#2 BlacqueJacque

BlacqueJacque

    Let's Smile !

  • Moderators
  • 3
  • 1,727 posts
  • 0 thanks

Posted 27 December 2011 - 09:52 AM

Kita sekarang tahu bahwa mereka yang telah menyempurnakan parami seperti penguasaan kitab suci (Pariyatti), mendengar (Savana), penyelidikan (Paripucca), dan upaya sebelumnya (Pubbayoga) mampu mencapai Jalan dan Buah Kebijaksanaan dengan cepat, kadang-kadang hanya dengan mendengarkan bait yang sangat singkat. Diantara parami, ‘upaya sebelumnya’ (Pubbayoga) sangat penting.


Barangkali tahu, saya ingin tanya mengenai apa yang dimaksudkan dengan upaya sebelumnya ( pubbayoga )?
Untuk sementara saya berkesimpulan kalau yang dimaksud upaya sebelumnya itu bisa mencakup 3 materi (pariyatti,savana,paripucca) sebelumnya yang hasilnya ia petik saat ini.. Apa benar spt itu?
;)I Feel What You Feel, So You Can Be Honest;)

#3 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 27 December 2011 - 08:25 PM

Kita sekarang tahu bahwa mereka yang telah menyempurnakan parami seperti penguasaan kitab suci (Pariyatti), mendengar (Savana), penyelidikan (Paripucca), dan upaya sebelumnya (Pubbayoga) mampu mencapai Jalan dan Buah Kebijaksanaan dengan cepat, kadang-kadang hanya dengan mendengarkan bait yang sangat singkat. Diantara parami, ‘upaya sebelumnya’ (Pubbayoga) sangat penting.


Barangkali tahu, saya ingin tanya mengenai apa yang dimaksudkan dengan upaya sebelumnya ( pubbayoga )?
Untuk sementara saya berkesimpulan kalau yang dimaksud upaya sebelumnya itu bisa mencakup 3 materi (pariyatti,savana,paripucca) sebelumnya yang hasilnya ia petik saat ini.. Apa benar spt itu?


Upaya sebelumnya selain penguasaan teori (pariyatti,savana,paripucca) juga praktek yang dilakukan sejalan dengan teori tsb (menjalankan sila, meditasi, dst yg juga termasuk Pubbayoga itu sendiri). Oleh sebab itu dikatakan:

Karena akumulasi praktek Meditasi Samatha-Vipassana di masa lalu sampai pada Pengetahuan Keseimbangan Terhadap Bentuk-Bentuk (sankharupekkha nana), murid-murid awal tersebut sudah sangat dekat dengan Jalan dan Buah Kebijaksanaan. Ketika pergi untuk dana makanan, mereka berlatih meditasi. Ketika kembali, mereka berlatih meditasi. Murid-murid awal tersebut telah membuat upaya sebelumnya selama banyak kehidupan. Jadi dalam kehidupan terakhir mereka, hanya dengan mendengarkan Dhamma sudah cukup untuk melihat Nibbana.

Btw gak mungkin ada pencapaian tanpa praktek yang benar dan sejalan dengan teori....

rj1pgw.jpg


#4 BlacqueJacque

BlacqueJacque

    Let's Smile !

  • Moderators
  • 3
  • 1,727 posts
  • 0 thanks

Posted 28 December 2011 - 02:36 PM

Upaya sebelumnya selain penguasaan teori (pariyatti,savana,paripucca) juga praktek yang dilakukan sejalan dengan teori tsb (menjalankan sila, meditasi, dst yg juga termasuk Pubbayoga itu sendiri). Oleh sebab itu dikatakan:

Karena akumulasi praktek Meditasi Samatha-Vipassana di masa lalu sampai pada Pengetahuan Keseimbangan Terhadap Bentuk-Bentuk (sankharupekkha nana), murid-murid awal tersebut sudah sangat dekat dengan Jalan dan Buah Kebijaksanaan. Ketika pergi untuk dana makanan, mereka berlatih meditasi. Ketika kembali, mereka berlatih meditasi. Murid-murid awal tersebut telah membuat upaya sebelumnya selama banyak kehidupan. Jadi dalam kehidupan terakhir mereka, hanya dengan mendengarkan Dhamma sudah cukup untuk melihat Nibbana.

Btw gak mungkin ada pencapaian tanpa praktek yang benar dan sejalan dengan teori....


terimakasih jawabannya.. :)
;)I Feel What You Feel, So You Can Be Honest;)

#5 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 04 May 2013 - 02:20 PM

Wahhhh...sepertinya perjalanan ini masih panjang... :frown2::ft:

#6 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 04 May 2013 - 04:27 PM

Wahhhh...sepertinya perjalanan ini masih panjang... :frown2::ft:


Malam terasa panjang bagi orang yang berjaga,
satu yojana terasa jauh bagi orang yang lelah;
sungguh panjang siklus kehidupan bagi orang bodoh
yang tidak mengenal Ajaran Benar.

~ Dhammapada 60

Beruntunglah bagi mereka yang mengenal ajaran Dhamma karena perjalanannya tidak akan lama lagi, tetapi tentu saja harus ada prakteknya :D

Edited by ariyakumara, 04 May 2013 - 05:00 PM.

rj1pgw.jpg





0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close