Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

Apa yang terlahir kembali?


  • Please log in to reply
34 replies to this topic

#1 tanhadi

tanhadi

    Fenomena WDC

  • Members
  • 12
  • 5,149 posts
  • 0 thanks

Posted 04 April 2012 - 12:48 AM

APA YANG TERLAHIR KEMBALI?
(Milinda Panha II : Kelahiran Kembali )

"Apa yang terlahir kembali itu, Nagasena?'

"Batin dan jasmani."

"Apakah batin dan jasmani yang ini juga yang terlahir kembali?"

"Bukan, tetapi oleh batin dan jasmani inilah maka perbuatan-perbuatan dilakukan, dan oleh karena perbuatan-perbuatan itulah maka batin dan jasmani yang lain terlahir kembali.
Walaupun demikian, batin dan jasmani itu tidak begitu saja terlepas dari hasil perbuatan sebelumnya."

"Berikanlah ilustrasi."

"Seperti halnya api yang dinyalakan seseorang.
Setelah merasa hangat, mungkin orang itu pergi meninggalkan dalam keadaan menyala.
Andaikan saja api tersebut kemudian menjalar dan membakar ladang orang lain,
lalu pemilik ladang itu menyeretnya ke hadapan raja serta menuntut orang yang menyalakan api tersebut.


Bila dia berkata, 'Baginda yang mulia, saya tidak membakar ladang orang ini.
Api yang saya tinggalkan itu berbeda dengan api yang membakar ladang orang ini.
Saya tidak bersalah', apakah dia patut dihukum?"


"Tentu saja, karena tak peduli apa pun yang dia katakan, api itu berasal dari api sebelumnya."

"Demikian juga, O baginda, oleh batin dan jasmani ini perbuatan-perbuatan dilakukan, dan
oleh karena perbuatan-perbuatan itu maka batin dan jasmani baru akan terlahir kembali;

tetapi batin dan jasmani tersebut tidak begitu saja terlepas dari hasil perbuatan sebelumnya."

"Apakah Anda, Nagasena, akan terlahir kembali?"

"Apa gunanya menanyakan hal itu lagi?
Bukankah telah saya katakan bahwa jika saya mati dengan nafsu keinginan di pikiran saya,
maka saya akan terlahir kembali. Jika tidak, ya tidak."


BADAN DAN BATIN

"Anda tadi baru saja menjelaskan tentang batin dan jasmani.
Apakah batin itu, dan apakah jasmani itu?"

"Apa pun yang kasar adalah jasmani (materi).
Apa pun yang halus dan pikiran atau keadaan mental, adalah batin (mentalitas)."

"Mengapa jasmani dan batin ini tidak dilahirkan secara terpisah?"

"Kondisi-kondisi ini saling berhubungan seperti halnya kuning telur dan kulitnya.
Keduanya selalu timbul bersama dan hubungan ini sudah ada sejak waktu yang lama sekali."
3


Catatan :
3. Rhys Davids, dengan menggunakan Teks Sinhala, membaca kalimat ini sebagai evametam dighamaddhanam sambhavitam tetapi di Teks Burma tertulis: sandhavitam.
Salam Metta,

Sabbe satta bhavantu sukhitatta
Semoga semua makhluk berbahagia


Jika berkenan, silahkan teman-teman berkunjung ke Blog saya :
-------------------------------------------------------------------
http://tanhadi.blogspot.com/

#2 Tss

Tss

    Sahabat WDC

  • Members
  • 2
  • 458 posts
  • 0 thanks

Posted 05 April 2012 - 11:23 PM



apakah 9 kematian sebelum waktu dari manusia akan alami tuminbal lahir (seperti kematian normal)?
terimakasih. SEMOGA SEMUA MAKHLUK BEBAS DARI PENDERITAAN


#3 tanhadi

tanhadi

    Fenomena WDC

  • Members
  • 12
  • 5,149 posts
  • 0 thanks

Posted 07 April 2012 - 01:55 AM



apakah 9 kematian sebelum waktu dari manusia akan alami tuminbal lahir (seperti kematian normal)?
terimakasih. SEMOGA SEMUA MAKHLUK BEBAS DARI PENDERITAAN

@ Rekan tss

Secara pandangan umum ,kita mungkin akan beranggapan bahwa orang yang mati karena bunuh diri, dihukum mati, dan kecelakaan adalah merupakan “kematian yang sebelum waktunya”, tapi apakah benar demikian ?

Sangatlah sulit untuk mengetahui batasan tentang “sudah waktunya mati dan belum waktunya mati”, karena kematian itu sendiri bisa terjadi setiap saat dengan berbagai penyebabnya sesuai dengan perbuatan dan akibat dari perbuatan yang ia lakukan(vipaka) dimasa lampau ataupun perbuatan saat ini.

Namun pada prinsipnya, makhluk hidup yang belum terbebas dari noda-noda batin (belum mencapai tahap kesucian Arahat/Buddha), maka makhluk tersebut akan terus mengalami kelahiran dan kematian yang berulang-ulang (samsara).
Salam Metta,

Sabbe satta bhavantu sukhitatta
Semoga semua makhluk berbahagia


Jika berkenan, silahkan teman-teman berkunjung ke Blog saya :
-------------------------------------------------------------------
http://tanhadi.blogspot.com/

#4 fen_bandaaceh

fen_bandaaceh

    Siswa Senior Sang Buddha

  • Members
  • 0
  • 828 posts
  • 1 thanks

Posted 07 April 2012 - 11:38 AM

sip....................... tapi agak bingung juga

:D:DMy Blood, my soul and my Heart are RED. My life is WHITE, CLEAN, FULL COLOUR and FAR from Evil :D:D



#5 harson

harson

    Siswa Sang Buddha

  • Members
  • -1
  • 420 posts
  • 0 thanks

Posted 08 April 2012 - 05:36 PM

@Fen_bandaacheh.
sip....................... tapi agak bingung juga

Namo Buddhaya,
Tok..tok ..tok.. Permisi untuk menjelaskan, semoga nantinya tidak bingung lagi.

Jadi, lahirnya kembali machluk itu karena hasil karmanya berbuah. Lahir menjadi manusia sangat sulit. Perlu karma baik untuk terlahir menjadi manusia.

Menurut Fungsinya ada 4 jenis karma yaitu :
1. Janaka kamma - karma berdaya hasil yang bisa menghasilkan kehidupan baru suatu machluk.
2. Upatthambhaka kamma - kamma pendukung
3. Upapilaka kamma - kamma penghalang
4. Upaghataka kamma - kamma penghancur yang menghancurkan karma berdaya hasil dan membuahkan hasil nya sendiri.

Dalam kasus orang yang meninggal seolah olah sebelum waktunya, misalnya bunuh diri, kecelakaan transportasi, bencana alam, semuanya merupakan kombinasi dari kamma fungsional tersebut diatas. Tapi biasanya kamma penghancurlah yang sedang bekerja.
1. Misalnya : seorang pemuda yang sangat pemarah (sifat marah ini dia bawa dari karakternya dari kehidupan yang lalu) dan sebenarnya terlahir dengan karma baik dan seharusnya berumur panjang (Janaka Kamma). Suatu hari ketika ia sedang menyetir mobilnya yang baru, mobil itu diserempet seseorang yang naik sepeda motor. Karena sifatnya yang pemarah, ia mengejar pengendara motor itu untuk meminta pertanggung jawaban. Terjadi pertengkaran dan diakhiri dengan baku hantam. Pemuda ini mati karena dadanya ditusuk dengan belati oleh pengendara motor yang ternyata sedang mabuk. Kita lihat bahwa kamma baru yang dibuat pemuda itu (mengejar pengendara motor dan bertengkar dengannya) telah mengkondisikan berbuahnya Upaghataka kamma (kamma penghancur) dia sendiri. Kamma penghancur ini memotong kamma baik yang seharusnya memungkinkan dirinya berumur panjang.
Lalu kita lihat dari sisi lain, misalnya pemuda ini mengenal hukum kamma. Dia tidak akan mengejar si pemabuk itu, karena ia tahu kejadian terserempet adalah juga kamma miliknya sendiri yang sedang berbuah. Ia akan terhindar dari kematian.
2. contoh lain. Kita sering mendengar ada beberapa korban gempa bumi yang dahsyat yang dapat diselamatkan dari bawah reruntuhan bangunan. Apakah itu keajaiban atau mujijat ??? Sama sekali tidak. Ada Kamma Baik Penghalang yang menghalangi berbuahnya karma buruk orang tersebut yang seharusnya membawa ia pada kematian.
Mohon maaf kalau penjelasan diatas kurang tepat dan mohon ditambahkan. Terimakasih.
APPAMADENA SAMPADETHA

#6 The One

The One

    Sahabat WDC

  • Moderators
  • 56
  • 2,351 posts
  • 32 thanks

Posted 08 April 2012 - 09:23 PM

@Harson

Sebenarnya kata kuncinya "kecenderungan".

Mau diberi istilah berapa macam, sebenarnya masih seputar air + air asin = air tawar, dan sebaliknya.

Bukan begitu? :)

Dhamma is simple, bahkan tanpa belajar (bila sudah memahami sunyata).
Human (life) yang membuatnya complicated, dan mengkambinghitamkan karma atau ajaran Buddha sebagai kerumitan. The fact is not like that at all...

#7 arieosho

arieosho

    Fenomena WDC

  • Members
  • 289
  • 6,099 posts
  • 43 thanks

Posted 09 April 2012 - 06:46 AM

"Berikanlah ilustrasi."

"Seperti halnya api yang dinyalakan seseorang.
Setelah merasa hangat, mungkin orang itu pergi meninggalkan dalam keadaan menyala.
Andaikan saja api tersebut kemudian menjalar dan membakar ladang orang lain,
lalu pemilik ladang itu menyeretnya ke hadapan raja serta menuntut orang yang menyalakan api tersebut.

Bila dia berkata, 'Baginda yang mulia, saya tidak membakar ladang orang ini.
Api yang saya tinggalkan itu berbeda dengan api yang membakar ladang orang ini.
Saya tidak bersalah', apakah dia patut dihukum?"

"Tentu saja, karena tak peduli apa pun yang dia katakan, api itu berasal dari api sebelumnya."

"Demikian juga, O baginda, oleh batin dan jasmani ini perbuatan-perbuatan dilakukan, dan
oleh karena perbuatan-perbuatan itu maka batin dan jasmani baru akan terlahir kembali;
tetapi batin dan jasmani tersebut tidak begitu saja terlepas dari hasil perbuatan sebelumnya."



seperti api yang menjalar membakar. kalo kita bayangkan api itu telah mati , api itu menjalar membakar dalam abstrak. orng terlahir kembali , bukankah setelah mati terlibih dahulu ? demikian juga analogi api hendaklah mati terlebih dahulu. jika api sudah mati , api menjalar dalam keadaan abstrak di pikiran yang menemukan teori itu.
Semua yang terjadi dan akan terjadi adalah berhubungan dengan KARMA. Apakah anda akan mencapai pencerahan agung sekarang atau di kelahiran yang akan datang ? Kejadian itu berhubungan dengan KARMA Baik anda. Maka mulailah dengan lHati Nurani agar semua pikiran dan tindakan anda menghasilkan KARMA baik. Jika KARMA baik anda telah memenuhi target , jalan akan terbuka. anda akan menemukan kebenaran apapun yang anda perlu sesuai dengan KARMA baik anda.. Hati Nurani.

#8 harson

harson

    Siswa Sang Buddha

  • Members
  • -1
  • 420 posts
  • 0 thanks

Posted 09 April 2012 - 05:08 PM

[quote name='The One']@Harson

[QUOTE]Sebenarnya kata kuncinya "kecenderungan".

Mau diberi istilah berapa macam, sebenarnya masih seputar air + air asin = air tawar, dan sebaliknya.

Bukan begitu? :)

Dhamma is simple, bahkan tanpa belajar (bila sudah memahami sunyata).
Human (life) yang membuatnya complicated, dan mengkambinghitamkan karma atau ajaran Buddha sebagai kerumitan. The fact is not like that at all...[/QUOTE[/QUOTE]

Anda benar Dhamma sangat simple koq. Buddha hanya mengajarkan " Jangan berbuat jahat, tambahlah kebaikan, sucikan hati dan pikiran, itulah ajaran semua BUDDHA"
Anda sudah memahami Sunyata, kasihanilah kami yang belum memahaminya. Kalau bukan karena Karma, lalu apakah yang menyebabkan semua fenomena kehidupan ini. Mohon penjelasan.
Terimakasih.
Mettacittena.
APPAMADENA SAMPADETHA

#9 The One

The One

    Sahabat WDC

  • Moderators
  • 56
  • 2,351 posts
  • 32 thanks

Posted 09 April 2012 - 09:11 PM

Sebenarnya ada beberapa level pemahaman Sunyata, dan bisa berbeda-beda tergantung bicara di level mana/apa.

Oke, tapi ini bukan guru dan murid ya... ini sekedar SHARE. Pendapat dan penjelasan saya boleh tidak dianggap benar dan boleh disanggah, karena memang ini prinsip belajar dharma.

Saya mulai dari yang tertinggi dulu, karena ini memang yang dicari dan dicari dengan penuh darah dan pengorbanan oleh semua calon Buddha.

Sebenarnya pertanyaan krusial, bahkan hingga level kesucian tertentu, seorang makhluk (dalam batin yang terdalam), masih bertanya, "sebenarnya dari mana asal semua makhluk ini."

Saya pun dulu juga bertanya hal demikian... sampai ketika suatu tahap pertanyaan ini terjawab lengkap dengan misteri-misteri lain yang saling berkaitan.

Makhluk-makhluk ini, lahir dari KEKOSONGAN.

Mungkin itu jawaban tipikal, tapi tunggu (sabar) dulu.

Kekosongan dalam hal ini ada dua macam:

1. Kekosongan murni, dalam artian esensi/inti dari Adi Buddha itu sendiri (ingat, semua hal dan fenomena tidak luput dari SUNYATA, atau kekosongan itu sendiri. Karena ada kekosongan dalam semua hal/fenomena maka pencerahan/pencapaian dimungkinkan, maka kebahagiaan tiada tara / unlimited-joy dimungkinkan. Everything is possible, dengan kekosongan dalam semua fenomena ini. Ini hal paling membahagiakan dalam Buddhisme, karena tidak ada batasan dalam pencapaian/pengalaman tentang kebahagiaan, tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata).

2. Kekosongan dalam kehidupan berkondisi... atau sifat netral/kosong dari semua fenomena.

Ini lebih realis dalam kehidupan sehari-hari, bahwa di dunia ini semua adalah mind tricks, atau permainan persepsi belaka.

Contoh: Anda dimarahi boss, atau Anda disayangi kekasih/istri/suami Anda.

Dalam konteks Sunyata, tiada boss yang sedang memarahi Anda. Yang ada adalah Anda sedang mengalami berbuahnya karma dimarahi, yaitu akibat perbuatan lampau Anda. Nah, diri boss itu sendiri kosong, atau sunya dari sisi beliau, maupun dari sisi pengamat/observer lain.

Seram memang, pertama kali saya menyadari/membuktikan ini sendiri... Wow, what a dream-like world (dunia seperti mimpi/ilusi). Benar-benar suatu pandangan baru yang radikal, yang berbeda dengan pemahaman manusia pada umumnya.

Jadi boss itu sebenarnya kosong, karena dia sendiri mempersepsikan dirinya sebagai sesuatu, lalu pengamat lain mempersepsikan diri boss itu sebagai sesuatu yang lain lagi. Dengan kata lain, boss ada sejumlah observer yang mengobservasi boss tersebut, plus observasi dari diri boss itu sendiri (terhadap dirinya). Jadi dia kosong dari sifat hakiki (sifat tetap), dan dia berprogresif/bergerak, sesuai dengan karma yang mengikuti dirinya, serta karma makhluk-makhluk di sekitar boss tersebut.

Diri kita kosong khan, dan ini uraian dari penjelasan panjang lebar tentang anatta, 5 agregat (Pancakkhanda) dan Nibbana itu sendiri. Ketika diri menyadari kekosongan dari semua mimpi, kita akan berusaha lolos darinya, karena (simplenya); it is just a dream, dan dream tersebut sudah terkondisi dengan sebab-akibat, jadi there's no free lunch, juga tidak layak lagi dipertahankan. Maka nibbana (melepaskan diri dari dream-like world/LIFE) adalah solusinya, dari dulu, sekarang dan masa-masa yang akan datang, pengajaran ini takkan pernah berubah, karena memang kita masih hidup dalam "mimpi" (not exactly, karena hidup ini sangat nyata bagi yang belum merealisasi minimal sampai tingkatan Ariya).

Ok, lebih lanjut tentang Sunyata (sebagai fenomena inti dari segala bentuk fenomena lain, termasuk kehidupan/bhava), sebenarnya ini sulit dipahami, saya coba merangkai dulu kata-kata dan merenungkan tingkat urgensinya membabarkan ini (saya cuma malas kalau didebat dari segi doktrin/literatur, saya pasti kalah, karena tidak ada waktu untuk mengkaji keterkaitan pengalaman/sharing saya dengan teks-teks ribuan tahun lalu tersebut).

Ok, nanti saya jelaskan di bawah.
  • sindi likes this

#10 The One

The One

    Sahabat WDC

  • Moderators
  • 56
  • 2,351 posts
  • 32 thanks

Posted 09 April 2012 - 09:32 PM

Saya wanti-wanti dulu, apa yang saya jelaskan di bawah sangat mungkin tidak terdapat dalam berbagai teks Buddhisme... jadi saya tidak menyarankan siapa pun untuk percaya (terutama those academic learner, literature minded). Jadi bagi siapa saja yang ingin membuktikan silakan, saya malah senang... dan siapa pun yang meragukan, menolak, menganggap bodoh dlsb, pun silakan. Ini jaman bebas dan demokratis, saya share/menjelaskan, all you have to do is read and listen to your heart and mind.

Ok, makhluk muncul darimana?

Kenapa kehidupan bisa ada/berlangsung?

Mungkin ini pertanyaan semua makhluk yang belum mencapai pembebasan.

Hal pertama-tama (PRINSIP) yang harus diketahui dulu:
1. Makhluk itu tiada, atau dengan kata lain hanya kumpulan agregat (kemelekatan, unsur kegemaran/keinginan).
2. Lingkungan kita, tidak eksis secara independen, atau proyeksi dari diri kita sendiri.

Dua prinsip di atas belum pernah saya jelaskan secara terperinci di dunia saha ini, boleh cari di teks kuno kalau ada, silakan jadikan referensi (dalam memahami penjelasan saya di bawah).

Bila ingin bertanya (tentang kedua konsep PRINSIP tersebut), boleh kita bahas di thread lain yang lebih sesuai (lebih spesifik), agar pembahasan tidak melebar.

Lalu bila makhluk tiada (tidak ada), dan yang ada hanya agregat (saya asumsikan kalian paham dulu sampai disini), kumpulan agregat itu berawal/muncul dari mana?

Dari keinginan.

Jadi begini, diri kita awalnya adalah bagian dari Adi Buddha tersebut, lalu kita ingin sesuatu, misalnya hal tertentu (susah saya jelaskan dengan kata-kata, karena keinginan dalam level spiritual yang masih tinggi, sangat susah dicerna oleh manusia yang mengidentifikasikan keinginan hanya seputar harta, pemuasan indrawi, kekuasaan, dsb).
Lalu keinginan berupa hal tertentu tersebut, mendapat RESPON (garis bawahi) dari diri kita sendiri yaitu Adi Buddha, berupa granted dalam bentuk apapun termasuk agregat (unsur-unsur pemuas).

Nah, pada awalnya (bila masih bermain dalam tahap spiritualitas yang tinggi), agregat tersebut masih fleksibel, analoginya seperti awan yang selalu berubah-ubah. Namun lama kelamaan unsur-unsur itu menjadi kaku dan terjerat... sehingga tadinya suatu hal yang merupakan bentuk granted/ciptaan kita, berubah jadi sesuatu yang menyesakkan, atau tidak bisa diutak-atik lagi, diam (nyaris diam sih tepatnya) di tempat.

Nah, unsur-unsur "diam di tempat" ini yang berusaha para Buddha bebaskan, dalam upaya purifikasi sahaloka (ini sudah terminologi umum khan).

Dan bila unsur-unsur/agregat tersebut dibebaskan, maka sebenarnya tiada (juga) yang dibebaskan... kenapa? Karena semua merupakan kreasi/ciptaan/granted dari kita sendiri.

Demikian.

Simpel khan...

Ini sudah mengurai sutra-sutra Buddhist yang (dianggap) dalam lho... Sutra Hati atau Sutra Intan itu, membaca itu terasa membaca pengetahuan dan realita yang sebenarnya.

Oke, besok sambung lagi. Saya siap membabar asal ada respon yang baik (ingin belajar dan juga ada pertanyaan maupun sanggahan "bermutu", bukan permainan/diskusi intelektual belaka).

Salam Bahagia, Be Good and Be Happy. :)

#11 The One

The One

    Sahabat WDC

  • Moderators
  • 56
  • 2,351 posts
  • 32 thanks

Posted 09 April 2012 - 09:38 PM

Saya lupa, contoh istri/suami/pasangan itu, sama dengan kasus boss sebelumnya. :D Anda disayang karena ada karma untuk lahir disayangi kali ini (walau belum tentu everlasting sih, to be realistic :D), dan (dalam hakikat Sunyata) sebenarnya tiada diri sejati dari suami/pasangan/istri Anda, karena semua merupakan kemunculan dari agregat yang selalu berubah sesuai karma apa yang Anda (akan/sedang) alami.

Ok, bye for the second time. :D

#12 fen_bandaaceh

fen_bandaaceh

    Siswa Senior Sang Buddha

  • Members
  • 0
  • 828 posts
  • 1 thanks

Posted 10 April 2012 - 12:48 PM

WADUH...... Rekan The One, boleh gak saya kasih saran. kalo bisa jangan pake bahasa asinglah. Pusing oooooo.....
He.....he......he..... Maaf ya

:D:DMy Blood, my soul and my Heart are RED. My life is WHITE, CLEAN, FULL COLOUR and FAR from Evil :D:D



#13 fen_bandaaceh

fen_bandaaceh

    Siswa Senior Sang Buddha

  • Members
  • 0
  • 828 posts
  • 1 thanks

Posted 10 April 2012 - 12:52 PM

@ko Harson:
Tok....tok...tok....salam kenal untuk anda. Makasih atas penjelasannya. Mohon bimbingannya ya ko :lovely2:

:D:DMy Blood, my soul and my Heart are RED. My life is WHITE, CLEAN, FULL COLOUR and FAR from Evil :D:D



#14 The One

The One

    Sahabat WDC

  • Moderators
  • 56
  • 2,351 posts
  • 32 thanks

Posted 10 April 2012 - 01:08 PM

WADUH...... Rekan The One, boleh gak saya kasih saran. kalo bisa jangan pake bahasa asinglah. Pusing oooooo.....
He.....he......he..... Maaf ya


Oke, oke... saya perbaiki nanti. Terima kasih saran dan perhatiannya untuk kami. :)

#15 Hening

Hening

    Anggota Tetap WDC

  • Members
  • 0
  • 278 posts
  • 2 thanks

Posted 11 April 2012 - 10:38 AM

jd jika sdh tdk ada keinginan dan batin dlm keadaan seimbang (upekha) semua jg berakhir dan itulah nibbana

Edited by Hening, 11 April 2012 - 10:39 AM.


#16 arieosho

arieosho

    Fenomena WDC

  • Members
  • 289
  • 6,099 posts
  • 43 thanks

Posted 11 April 2012 - 11:17 AM

jd jika sdh tdk ada keinginan dan batin dlm keadaan seimbang (upekha) semua jg berakhir dan itulah nibbana

mati itu tidak ada keinginan.

tanpa keinginan apa yang akan terjadi ? apakah ada aktifitas ?

lucu saja , ketika kita semua masih hidup , tetapi membicarakan keadaan yang mati. membahas dharma yang tidak pernah bisa dilakukan oleh siapapun. sebuah ide saja yang tidak pernah terjadi secara permanen jika masih hidup. kalo terjadi sesaat dan sesaat atau terjadi dalam keadaan meditatif itu tidak relevan dengan kehidupan.

keadaan meditatif itu ibarat keadaan ejakulasi , ibarat tour rohani , bukan kehidupan rohani sesungguhnya. maka bangunlah dari mimpi. lihat kenyataan.


Semua yang terjadi dan akan terjadi adalah berhubungan dengan KARMA. Apakah anda akan mencapai pencerahan agung sekarang atau di kelahiran yang akan datang ? Kejadian itu berhubungan dengan KARMA Baik anda. Maka mulailah dengan lHati Nurani agar semua pikiran dan tindakan anda menghasilkan KARMA baik. Jika KARMA baik anda telah memenuhi target , jalan akan terbuka. anda akan menemukan kebenaran apapun yang anda perlu sesuai dengan KARMA baik anda.. Hati Nurani.

#17 coedabgf

coedabgf

    Banned

  • Banned
  • -2
  • 2,646 posts
  • 0 thanks

Posted 11 April 2012 - 12:07 PM

bro hening, dan kawan-kawan umat forum, aku beri komentar penjelasan atas tulisan anda...

jd jika sdh tdk ada keinginan dan batin dlm keadaan seimbang (upekha) semua jg berakhir dan itulah nibbana


umat terjebak dalam faham nihilisme, karena terikat pada materialisme. apapun yang dijelaskan, tidak terbebas dari dualisme kewujudan, dari konsep dirinya sendiri. bukan ajaran keBuddhaan. dalam brahmajala sutta disebut (dalam jala) khayal (diri) atau (dan) takhayul.

padahal sudah aku berikan gambaran bukan terjadi 'kenihilan' pada kehidupan mereka yang 'terbebaskan dari samsara'.
lihat topik http://www.wihara.co...uddhaannya.html
tapi tulisan saya ditanggapi dengan huru hara umat pada forum.... padahal umat hanya berjalan (pengandalan diri) dalam :
umat terjebak dalam faham nihilisme, karena terikat pada materialisme. apapun yang dijelaskan, tidak terbebas dari dualisme kewujudan, dari konsep dirinya sendiri. bukan ajaran keBuddhaan. dalam brahmajala sutta disebut (dalam jala) khayal (diri) atau (dan) takhayul.

lihat penjelasan pada topik http://www.wihara.co...html#post129336

hidup itu bukan proses kebetulan sehingga menjadi ada.
tetapi oleh umat pejalan luar, kehidupan dikenali sebagai hanya 5 agregat.
tulisan pada http://www.wihara.co...html#post129191


kehidupan sejati itu as living being bukan kebetulan belaka......
bukan dikenali sebagai hanya 5 agregat. 5 agregat itu bersifat duniawi.
itulah yang guru Buddha jelaskan kepada makhluk duniawi sebagai yang bukan sebenarnya, yang disebut (bersifat) duniawi. yang bersifat anicca anatta.
(yang) bukan digenggam, bukan dipercayai, bukan diandalkan.

tetapi apa yang umat lakukan?
pengenalan yang diberikan oleh guru Buddha sebagai sifat duniawi, yang bukan untuk digenggam, bukan dipercayai, bukan diandalkan, tetapi dikenalinya oleh umat tetapi digenggam, dipercayai sebagai sifat keberadaan yang sejati, 'ketiadaan' (paham nihilisme).

tetapi hal ini oleh umat duniawi dikenali oleh apa? dikenali dan mempercayai 'tipuan kesalah-pandangan' ini oleh yaitu (umat/makhluk dunaiwi) mengandalkan kualitas duniawi 5 agregat itu sendiri (yang sebenarnya oleh guru Buddha sudah diberitahukan bersifat anicca anatta-duniawi). sehingga umat terjebak didalam ukuran paham kewujudan(materialisme).

jika pengajaran yang diturunkan turun temurun dalam kesesatan kesalah pandangan, siapakah umat yang sudah Buddha klo begitu?

with GOD love,
coedabgf. true believer. sobat DHAMMA. son of the LIVING TRUTH. (THE WAY, THE TRUTH, AND THE LIFE)


semoga umat dapat menjadi Buddha.
coedabgf. true believer. sobat DHAMMA. son of the LIVING TRUTH. (THE WAY, THE TRUTH, AND THE LIFE)


Edited by coedabgf, 11 April 2012 - 12:08 PM.

INILAH APA YANG TUHANKU TELAH KATAKAN, 'DALAM SATU TAHUN SEJAK HARI INI, KEJAYAAN MEREKA AKAN PUDAR'.

Siapakah mereka?

September 2010
coedabgf-the believer

#18 Anti Jual Kecap

Anti Jual Kecap

    Banned

  • Banned
  • 0
  • 264 posts
  • 1 thanks

Posted 11 April 2012 - 01:07 PM

mati itu tidak ada keinginan.

tanpa keinginan apa yang akan terjadi ? apakah ada aktifitas ?

lucu saja , ketika kita semua masih hidup , tetapi membicarakan keadaan yang mati. membahas dharma yang tidak pernah bisa dilakukan oleh siapapun. sebuah ide saja yang tidak pernah terjadi secara permanen jika masih hidup. kalo terjadi sesaat dan sesaat atau terjadi dalam keadaan meditatif itu tidak relevan dengan kehidupan.

keadaan meditatif itu ibarat keadaan ejakulasi , ibarat tour rohani , bukan kehidupan rohani sesungguhnya. maka bangunlah dari mimpi. lihat kenyataan.


kmu ini goblok !!! ato udah giblik (goblok pangkat 3) menurut rekan wdc lain..

kalo belum paham apa itu "tiadanya keinginan" maka jangan sok tau.. kmu cmn nambah buruk track record aliran maitreya di forum ini.. ato emang kmu rival aliran maitreya yg mau merusak citra aliran baik2 ini (baik2 blom tentu benar) di mata umat buddha aliran lain.

nih skrg kujelaskan yach... tiada keinginan itu bukan berarti tidak beraktivitas, atau tidak melakukan apa2. ini adalah pengertian dan pemahaman yang BODOH !!!!!

kamu paham ga bahwasanya orang suci dan buddha itu melakukan sesuatu tanpa dilandasi niat dan keinginan lagi???

tau konsep kiriya??

tau konsep puñña/merit dan parami??

tau apa itu cetana dan kamma vipaka?

belajar dulu yang banyak sebelum menunjukkan kebodohanmu disini.

nih banyak yg kasihan dengan kamu, nitip pesan dalam kisah singkat ini.

ada seorang kakak, penggemar es krim rasa coklat.
dalam perjalanan pulang dari pasar, bersama adiknya ingin membeli es krim untuk menghilangkan haus dan capek.
tiba di penjual es krim, ternyata uang hanya cukup untuk membeli satu.
tahu sang adik lebih suka rasa strawberry, dia pun membeli rasa strawberry tanpa banyak bertanya dan ragu lagi.
keduanya berjalan bersama dengan ceria, seperti tak kekurangan sesuatu apa pun.

nah, apakah sang kakak punya keinginan untuk membeli es krim rasa strawberry?
(jawab dalam hati)

tapi kenapa dia tetap membeli?? demi adiknya.

motivasi demi sang adik agar bisa makan es krim strawberry, apakah masih bisa dikatakan membeli dengan keinginan?

itulah sikap "tanpa pamrih", atau kiriya, atau nanti sebagai hasil akan menjadi puñña/merit/pahala, dan bukan kamma vipaka, karena tidak dilandasi cetana apalagi tanha.

dapat dipahami?

kamu tercerahkan.

menolak dan bebal?

makanlah pemahamanmu sendiri, which leads u no where.. than a delusion of how life and existance work.

wake up arie... byurrr !!!

#19 i mei

i mei

    Tidak baru lagi

  • Members
  • 96
  • 696 posts
  • 31 thanks

Posted 11 April 2012 - 03:41 PM

kmu ini goblok !!! ato udah giblik (goblok pangkat 3) menurut rekan wdc lain..

kalo belum paham apa itu "tiadanya keinginan" maka jangan sok tau.. kmu cmn nambah buruk track record aliran maitreya di forum ini.. ato emang kmu rival aliran maitreya yg mau merusak citra aliran baik2 ini (baik2 blom tentu benar) di mata umat buddha aliran lain.

nih skrg kujelaskan yach... tiada keinginan itu bukan berarti tidak beraktivitas, atau tidak melakukan apa2. ini adalah pengertian dan pemahaman yang BODOH !!!!!

kamu paham ga bahwasanya orang suci dan buddha itu melakukan sesuatu tanpa dilandasi niat dan keinginan lagi???

tau konsep kiriya??

tau konsep puñña/merit dan parami??

tau apa itu cetana dan kamma vipaka?

belajar dulu yang banyak sebelum menunjukkan kebodohanmu disini.

nih banyak yg kasihan dengan kamu, nitip pesan dalam kisah singkat ini.

ada seorang kakak, penggemar es krim rasa coklat.
dalam perjalanan pulang dari pasar, bersama adiknya ingin membeli es krim untuk menghilangkan haus dan capek.
tiba di penjual es krim, ternyata uang hanya cukup untuk membeli satu.
tahu sang adik lebih suka rasa strawberry, dia pun membeli rasa strawberry tanpa banyak bertanya dan ragu lagi.
keduanya berjalan bersama dengan ceria, seperti tak kekurangan sesuatu apa pun.

nah, apakah sang kakak punya keinginan untuk membeli es krim rasa strawberry?
(jawab dalam hati)

tapi kenapa dia tetap membeli?? demi adiknya.

motivasi demi sang adik agar bisa makan es krim strawberry, apakah masih bisa dikatakan membeli dengan keinginan?

itulah sikap "tanpa pamrih", atau kiriya, atau nanti sebagai hasil akan menjadi puñña/merit/pahala, dan bukan kamma vipaka, karena tidak dilandasi cetana apalagi tanha.

dapat dipahami?

kamu tercerahkan.

menolak dan bebal?

makanlah pemahamanmu sendiri, which leads u no where.. than a delusion of how life and existance work.

wake up arie... byurrr !!!


xie xie pencerahannya kho the one

hanya orang terselubung loba dosa dan moha yg akan memelintir dharma ini

salam metta

#20 harson

harson

    Siswa Sang Buddha

  • Members
  • -1
  • 420 posts
  • 0 thanks

Posted 12 April 2012 - 10:54 AM



seperti api yang menjalar membakar. kalo kita bayangkan api itu telah mati , api itu menjalar membakar dalam abstrak. orng terlahir kembali , bukankah setelah mati terlibih dahulu ? demikian juga analogi api hendaklah mati terlebih dahulu. jika api sudah mati , api menjalar dalam keadaan abstrak di pikiran yang menemukan teori itu.


Bro Arie,
Maaf saya juga berteori, tapi teori saya didapat dengan mempelajari Abhidhamma.
Jadi pemahaman kamu bahwa makhluk lahir kembali harus melalui mati dahulu. Itu sangat benar, tapi satu hal luput dari perhatian kamu.
Yang mati itu hanyalah badan kasar ini (rupa). Saat ini pun Rupa kamu terus menerus timbul, bertahan sebentar dan lenyap lagi dan lagi.

Sedangkan Kesadaran dan arus batin tetap berlangsung/bergetar setiap saat, timbul, bertahan sebentar, lalu lenyap lagi. Tidak peduli apakah jasmani/materi ini hadir atau tidak.

Itu yang saya pahami. Silakah kalau kamu berpendapat lain.

Mettacittena.
APPAMADENA SAMPADETHA




0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close