Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

Bahaya, Kebodohan Dan Keburukan Dari Kesenangan Duniawi


  • Please log in to reply
3 replies to this topic

#1 tanhadi

tanhadi

    Fenomena WDC

  • Members
  • 12
  • 5,149 posts
  • 0 thanks

Posted 12 June 2012 - 11:16 AM

BAHAYA, KEBODOHAN DAN KEBURUKAN DARI KESENANGAN DUNIAWI.



BAHAYA
Bahaya dari kesenangan duniawi adalah membawa pada nafsu keinginan yang lebih dan lebih lagi. Ketika api nafsu seseorang membara, keinginan bahkan meningkat lebih drastis daripada berkurang. Kesenangan duniawi juga tidak abadi tetapi akan berakhir suatu hari nanti ketika timbunan kebajikan seseorang telah habis.

KEBODOHAN
Kebodohan atau kesia-siaan dari kesenangan duniawi adalah nafsu yang tidak pernah terpuaskan. Makhluk hidup yang terbenam dalam kesenangan duniawi hanya memiliki satu sisi pandangan dari kehidupan yaitu hanya yang menyenangkan saja. Dengan tidak menyadari akan adanya alam kelahiran kembali yang menyedihkan yang menanti mereka, mereka tidak melihat kemendesakan untuk mengembangkan kebajikan, dengan melakukan perbuatan bajik dan menghindari kejahatan atau berusaha membebaskan diri dari lingkaran kelahiran kembali, sebaliknya mereka terus menghabiskan kebajikan yang telah mereka tanam. Suatu hari nanti ketika kebajikan mereka telah habis, mereka akan jatuh dari alam surga menuju alam keberadaan yang lebih rendah.

KEBURUKAN
Perumpamaan penyakit lepra. Keburukan dari kesenangan duniawi adalah merupakan sebuah ‘penyakit’. Sang Buddha memberikan perumpamaan yang jelas tentang makhluk hidup yang menderita penyakit lepra.(MN.75) Luka di tubuhnya sangat gatal sehingga dia harus menggaruk sampai tubuhnya berdarah, terinfeksi dan membusuk. Tetapi ini saja belum cukup. Dia harus mencari beberapa bara api yang digunakannya untuk membakar lukanya. Barulah kemudian dia menemukan kelegaan. Tetapi semakin dia menggaruk dan membakar lukanya, semakin berdarah, terinfeksi dan membusuk jadinya, masih saja dia terus melakukannya karena dia mendapatkan kepuasaan dalam ukuran tertentu. Garukan dan pembakaran seperti itu pada orang yang sehat hanya akan mengakibatkan kesakitan dan penderitaan yang besar.

Sedangkan penderita lepra hanya mengenalinya sebagai kesenangan saja. Nafsu Keinginan mengakibatkan rasa sakit dan penderitaan. Makhluk hidup sama seperti lepra, kata Sang Buddha. Mereka diserang dengan penyakit nafsu akan kesenangan duniawi, terbakar dengan bara kesenangan duniawi, dan mencari kepuasaan. Tetapi semakin banyak mereka terbenam dalam kesenangan duniawi, mereka akan semakin berpenyakit. Api nafsu mereka menjadi lebih besar bukannya mereda. Jadi mereka akan terus terbakar oleh api nafsu keinginan, tanpa mengenali sakit dan penderitaan yang mereka jalani.

Dan karena menginginkan untuk memuaskan nafsu mereka, makhluk hidup cenderung menjadi budak dan bekerja keras mendapatinya. Kadang-kadang dalam proses tersebut mereka harus menjalani kesukaran besar, menghadapi dingin dan panas, angin dan hujan, nyamuk dan serangga, dan bahkan bahaya. Jika pekerjaannya tidak membuahkan hasil seperti panennya rusak oleh cuaca yang tak bagus, dia akan bersedih hati dan berduka. Jika rumah dan harta bendanya dirusak oleh api, banjir, atau bahkan kemalingan, dia akan bersedih hati dan berduka.

Dibakar oleh nafsu, sesama manusia bertengkar, berkelahi dan pembunuhan muncul; bahkan bangsa berperang mengakibatkan pembunuhan massal yang tidak berguna. Dan karena nafsu, makhluk hidup menjadi perampok, pemerkosa, dll, dan menerima hukuman sesuai hukum.

Karena kelakuan salah seperti itu, mereka menderita lagi setelah meninggal dengan memperoleh kelahiran kembali di alam yang menderita. Kesakitan dan penderitaan seperti itulah yang mereka jalani.(MN.13)

Tidak ada jaminan, bahkan bagi makhluk-makhluk alam surga sekalipun. Untuk makhlukmakhluk yang berada di alam surga lingkup indera, walaupun kehidupan mereka nampaknya lebih lama dari kita, mereka berpikir itu pendek ketika akhir kehidupan datang karena mereka belum cukup menikmatinya. Mereka mengetahui ketika kematian sudah dekat dengan adanya tanda-tanda tertentu, seperti keringat yang keluar dari ketiak mereka, kecemerlangan mereka memudar, dll, mereka menjadi sangat khawatir dan gelisah. Kematian mereka biasanya disebabkan oleh habisnya jasa kebajikan atau matangnya kamma buruk yang berat. Tetapi kadang-kadang juga dapat dikarenakan lupa makan, terlalu terbenam dalam kesenangan sensual, atau marah yang luar biasa. Kebanyakan dari makhluk-makhluk ini meninggal dengan tidak puas, dengan ambisi yang tidak terpenuhi. Lalu mereka akan terlahir kembali di alam keberadaan yang lebih rendah.

Penderitaan yang tidak dapat dikatakan, kehidupan demi kehidupan. Ketika seseorang terjatuh dari alam surga, pada umumnya memerlukan waktu yang sangat panjang sebelum dia bisa terlahir di alam surga lagi. Ini karena nafsu yang sangat besar dari makhluk hidup yang secara alami membuat mereka melakukan kejahatan. Sehingga mereka terus berputar di dalam lingkaran kehidupan, biasanya di alam lingkup indera, dan khususnya di alam sengsara. Penderitaan yang tak terkatakan dialami kehidupan demi kehidupan. Sedikit manusia dan mahkluk surgawi setelah meninggal akan terlahir di alam manusia atau alam surga, kebanyakan akan terjatuh di alam sengsara. Sedikit makhluk di alam sengsara akan terlahir di alam manusia dan alam surga, kebanyakan akan terlahir kembali di alam sengsara.(AN.1.19.2)

Semoga bermanfaat.

Tanhadi

Edited by tanhadi, 12 June 2012 - 11:17 AM.

Salam Metta,

Sabbe satta bhavantu sukhitatta
Semoga semua makhluk berbahagia


Jika berkenan, silahkan teman-teman berkunjung ke Blog saya :
-------------------------------------------------------------------
http://tanhadi.blogspot.com/

#2 Mimilim

Mimilim

    Tidak baru lagi

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 32 posts
  • 0 thanks

Posted 16 February 2013 - 02:36 PM

Artikel yg bgs pak Tan :-)

#3 DABGF

DABGF

    Penggemar WDC

  • Members
  • -1
  • 660 posts
  • 0 thanks

Posted 16 February 2013 - 04:04 PM

pak tan nya sudah pensiun dari WDC...

bagaimana kabarnya pak tan dan pak har yach?!!!!

apa gak kangen dan usil menanggapi tulisan coeda yach?!!!!

bro leonardo nich yang tahu kabarnya mereka....
salam dech.....

#4 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 05 April 2013 - 08:53 PM

7. (i) “Dan apakah, para bhikkhu, kepuasan sehubungan dengan kenikmatan indria? Para bhikkhu, terdapat lima utas kenikmatan indria ini. Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bau-bauan yang dikenali oleh hidung ... rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ... obyek-obyek sentuhan yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima utas kenikmatan indria. kenikmatan dan kegembiraan yang muncul dengan bergantung pada kelima utas kenikmatan indria ini adalah kepuasan sehubungan dengan kenikmatan indria.

8. (ii) “Dan apakah, para bhikkhu, bahaya sehubungan dengan kenikmatan indria? Di sini, para bhikkhu, sehubungan dengan keterampilan yang dengannya seorang anggota keluarga mencari nafkah – apakah memeriksa, mencatat, menghitung, bertani, berdagang, beternak, memanah, melayani kerajaan, atau keterampilan apapun juga – ia harus mengalami dingin dan panas; ia terluka oleh kontak dengan lalat, nyamuk, angin, matahari, dan binatang-binatang melata; ia terancam kematian oleh lapar dan haus. Ini adalah bahaya sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan yang terlihat dalam kehidupan ini, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, sumber, dan landasannya, penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.

9. “Jika tidak ada harta yang didapat oleh anggota keluarga sewaktu ia bekerja dan berjuang dan berusaha demikian, maka ia berdukacita, bersedih, dan meratap, ia menangis sambil memukul dadanya dan menjadi kebingungan, mengeluhkan: ‘Pekerjaanku sia-sia, usahaku tidak membuahkan hasil!’ Ini juga adalah bahaya sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan yang terlihat dalam kehidupan ini, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, sumber, dan landasannya, penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.


10. “Jika ada harta yang didapat oleh anggota keluarga sewaktu ia bekerja dan berjuang dan berusaha demikian, ia mengalami kesakitan dan kesedihan dalam menjaganya: ‘Bagaimana agar raja atau pencuri tidak merampas hartaku, juga agar api tidak membakarnya, juga agar air tidak menghanyutkannya, juga agar pewaris yang tidak disukai tidak merampasnya?’ Dan ketika ia menjaga dan melindunginya, raja atau pencuri merampasnya, atau api membakarnya, atau air menghanyutkannya, atau pewaris yang tidak disukai merampasnya. Dan ia berdukacita, bersedih, dan meratap, ia menangis sambil memukul dadanya dan menjadi kebingungan, mengeluhkan: ‘Apa yang kumiliki sudah tidak ada lagi!’ Ini juga adalah bahaya sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan yang terlihat dalam kehidupan ini, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, sumber, dan landasannya, penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.

11. “Kemudian lagi, dengan kenikmatan indria sebagai sebab … raja-raja berselisih dengan raja-raja, para mulia berselisih dengan para mulia, para brahmana berselisih dengan para brahmana, para perumah-tangga berselisih dengan para perumah-tangga, ibu berselisih dengan anak, anak berselisih dengan ibu, ayah berselisih dengan anak, anak berselisih dengan ayah, saudara laki-laki berselisih dengan saudara laki-laki, saudara laki-laki berselisih dengan saudara perempuan, saudara perempuan berselisih dengan saudara laki-laki, teman berselisih dengan teman. Dan di sini dalam perselisihan, percekcokan, pertengkaran, mereka saling menyerang satu sama lain dengan tinju, bongkahan tanah, tongkat kayu pemukul, atau pisau, yang mana mereka menimbulkan kematian atau penderitaan mematikan. Ini juga adalah bahaya sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan yang terlihat dalam kehidupan ini, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, sumber, dan landasannya, penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.

12. “Kemudian lagi, dengan kenikmatan indria sebagai sebab ... orang-orang mengambil pedang dan perisai dan mengikatkan busur dan tempat anak panah, dan dalam peperangan dalam barisan berlapis ganda mereka menyerang dengan anak-anak panah dan tombak beterbangan dan pedang berkelebatan; dan di sana mereka terluka oleh anak-anak panah dan tombak, dan kepala mereka terpenggal oleh pedang, yang mana mereka menimbulkan kematian atau penderitaan mematikan. Ini juga adalah bahaya sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan yang terlihat dalam kehidupan ini, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, sumber, dan landasannya, penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.

13. “Kemudian lagi, dengan kenikmatan indria sebagai sebab ... orang-orang mengambil pedang dan perisai dan mengikatkan busur dan tempat anak panah, mereka menyerang benteng, dengan anak-anak panah dan tombak beterbangan dan pedang berkelebatan; dan di sana mereka terluka oleh anak-anak panah dan tombak dan tersiram cairan mendidih dan digilas benda berat, dan kepala mereka terpenggal oleh pedang, yang mana mereka menimbulkan kematian atau penderitaan mematikan. Ini juga adalah bahaya sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan yang terlihat dalam kehidupan ini, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, sumber, dan landasannya, penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.

14. “Kemudian lagi, dengan kenikmatan indria sebagai sebab ... orang-orang mendobrak masuk ke rumah-rumah, merampas harta, melakukan perampokan, menyergap di jalan-jalan, menggoda istri orang lain, dan ketika mereka tertangkap, raja menjatuhkan berbagai hukuman pada mereka ... yang mana mereka menimbulkan kematian atau penderitaan mematikan. Ini juga adalah bahaya sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan yang terlihat dalam kehidupan ini, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, sumber, dan landasannya, penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.

15. “Kemudian lagi, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai sumber, kenikmatan indria sebagai dasar, penyebabnya hanyalah kenikmatan indria, orang-orang melakukan perilaku salah dalam perbuatan, ucapan, dan pikiran. Setelah melakukan demikian, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, mereka muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di dalam neraka. Ini juga adalah bahaya sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan dalam kehidupan mendatang, [2] dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai sumber, kenikmatan indria sebagai dasar, penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.

16 (iii) “Dan apakah, para bhikkhu, jalan membebaskan diri sehubungan dengan kenikmatan indria? Yaitu lenyapnya keinginan dan nafsu, melepaskan keinginan dan nafsu akan kenikmatan indria. Ini adalah jalan membebaskan diri sehubungan dengan kenikmatan indria.
(MN 13: Mahādukkhakkhandha Sutta)

rj1pgw.jpg





0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close