Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

kemelekatan tanpa batas, beberapa komentar kutipan dari Surangama Sutra by coeda.

bulan persepsi pikiran surangama sutra by coeda yang sejati

  • Please log in to reply
4 replies to this topic

#1 DABGF

DABGF

    Penggemar WDC

  • Members
  • -1
  • 660 posts
  • 0 thanks

Posted 16 November 2012 - 05:36 AM

coeda akan membahas Dhamma atas kebutuhan penjelasan sehubungan dengan pembicaraan yang muncul pada topik tersebut dengan contoh-contoh ilustrasi-ilustrasi jawaban berdasarkan kutipan-kutipan dari Surangama Sutra tokh!.

semoga mendapat (menembus) pencerahan.
coeda. true believer. sobat DHAMMA. son of the LIVING TRUTH (THE WAY, THE TRUTH, AND THE LIFE)

#2 DABGF

DABGF

    Penggemar WDC

  • Members
  • -1
  • 660 posts
  • 0 thanks

Posted 16 November 2012 - 07:26 AM

diawali oleh kutipan ini :

masih beruntung saya kalau begitu, karena saya tidak pernah membaca buku,jadi tidak pernah berpatokan pada buku apapun---padahal saya sangat menyesal karena tidak pernah bisa baca kitab.


Nilai kebenaran apa yang diandalkan dan dikerjakan awam? - by coeda


Surangama Sutra :
ASAL MULA PEMBALIKAN
Sang Buddha berkata: ‘Sejak zaman dahulu kala, semua makhluk hidup telah membentuk berbagai macam pembalikan oleh karena bibit karma (akibat kebodohan/moha).
Ini merupakan sebab mengapa pencari kebenaran gagal mencapai Penerangan Sempurna.
karena mereka tidak mengetahui dua dasar pembalikan, sehingga latihan mereka bersalahan seperti mereka yang tidak bisa mendapat makanan dengan memasak pasir dan menurunkannya kepada generasi berikutnya.

Apakah yang termasuk ke dalam kedua dasar pembalikan ini? Ananda,
yang pertama merupakan akar penyebab dari kelahiran dan kematian, sejak zaman dahulu kala, dengan menggunakan secara salah pikiran yang melekat yang dianggap oleh mereka sebagai hal alamiah,
dan yang kedua adalah keterikatan kepada kondisi penyebab yang menutupi inti dasar dari kesadaran yang sebenarnya murni dan suci dari inti Penerangan Sempurna.
Mereka mengingkari dasar kecemerlangan dan diturunkan melalui (ilusi) dalam kenyataan tanpa menyadari kesia-siaan latihan mereka (yang salah).


Buddha bersabda: "Dhamma yg diajarkannya adalah sebuah rakit untuk menuju pantai seberang"

'Ibarat Telunjuk Menunjuk Bulan Demikian Juga Kata Kata Hanya Menunjuk Kebenaran'


(ajaran) Dhamma sebagai petunjuk (sebab akibat). mengenali makna untuk mencapai tujuan. - by coeda

Surangama Sutra :
Sang Buddha berkata : ‘Anda masih menggunakan pikiranmu yang terikat untuk mendengarkan Dharma, oleh karena Dharma merupakan sebab akibat, anda gagal untuk menyadari sifat alamiah dari Dharma. Hal ini sama saja artinya dengan seorang laki-laki yang menunjuk dengan telunjuknya ke bulan untuk menunjukkan arah kepada yang lainnya untuk melihat bulan. Jika mereka melihat ke telunjuk itu dan menganggapnya sebagai bulan, mereka akan kehilangan (pandangan tentang) keduanya yakni bulan dan telunjuk. Mengapa? Oleh karena bulan yang bersinar terang itu sebenarnya yang ditunjuk; mereka kehilangan pandangan tentang telunjuk dan gagal untuk membedakan antara (keadaan) terang dan gelap. Mengapa? Oleh karena mereka menganggap telunjuk itu sebagai bulan yang bersinar terang dan tidak mengerti tentang pengertian terang dan gelap.’


kegagalan mengenali, karena pikiran awam melekat kepada yang bergerak, karena keterikatan kepada kondisi penyebab yang menutupi (tidak dapat melihat) inti dasar dari kesadaran yang sebenarnya murni dan suci dari inti Penerangan Sempurna sehingga tidak dapat/gagal melihat yang sebenarnya menuruti petunjuk yang telah digambarkan dalam (ajaran) Dhamma.
lihat kutipan sutta 'asal mula pembalikan' di paragraf awal, sehingga latihan awam bersalahan. dan terus berputar ulang seperti itu. - by coeda


Surangama Sutra :
‘Seperti halnya, jika anda menganggap (intelektual) anda yang mendengar suara sabdaku untuk mencari (kesadaran sejati)mu, seharusnya secara alamiah tidak terikat kepada suara pembeda. Sebagai contoh, sewaktu seorang pengembara beristirahat di sebuah tempat peristirahatan pada malam hari, dia melakukannya berulang-ulang dan kemudian meninggalkannya, tidak menetap selamanya di sana: sebaliknya pemilik tempat tersebut, dia tidak memiliki tempat untuk pergi karena dia memiliki tempat peristirahatan tersebut. Perumpamaan ini sama dengan pikiranmu.’


Surangama Sutra :
Sang Buddha berkata: ‘Murid-murid yang berlatih, walaupun mereka telah menyadari sembilan keadaan sempurna dari dhyana2, masih juga tidak sanggup untuk berpindah dan gagal menjadi seorang Arahat, oleh karena mereka berpegang teguh pada pemikiran salah samsara yang mereka anggap sebagai Kenyataan. Ini sebabnya, walaupun anda telah banyak mendengar (tentang Dharma saya), anda gagal untuk mendapatkan kebenaran suci tersebut.

coeda. true believer. sobat DHAMMA. son of the LIVING TRUTH (THE WAY, THE TRUTH, AND THE LIFE)

Edited by DABGF, 16 November 2012 - 09:29 AM.
beri warna-warni.


#3 DukunSesat

DukunSesat

    Tidak baru lagi

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 35 posts
  • 0 thanks

Posted 16 November 2012 - 11:01 AM

kalo bersikukuh dengan pendirian/keyakinan/iman/dst
menutupi / memblok / tidak peduli dengan kenyataan

para ahli agama samawi lebih profesional
yang buddhist gak usah ngelawan gak akan menang.

udah lah ngalah aja kalo soal keyakinan menutupi kenyataan
anggap saja saya orang kurang waras
yang akan menyesatkan anda dari kesesatan anda
dengan sudut pandang konspirasi dan gila
mau saya ikut pendapat anda, wani piro?

[TABLE="width: 700"]
[TR]
[TD="align: center"][/TD]
[TD="align: center"]< PRINSIP >[/TD]
[TD="align: center"]jalan tengah untuk
umat Buddha[/TD]
[TD="align: center"]< FLEKSIBEL >[/TD]
[TD="align: center"][/TD]
[/TR]
[TR]
[TD="align: center"]^
SOK TAU
V[/TD]
[TD="align: center"][/TD]
[TD="align: center"][/TD]
[TD="align: center"][/TD]
[TD="align: center"]^
LICIN
V[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD="align: center"]^
KEPALA BATU
V[/TD]
[TD="align: center"][/TD]
[TD="align: center"][/TD]
[TD="align: center"][/TD]
[TD="align: center"]^
LICIK
V[/TD]
[/TR]
[TR]
[TD="align: center"][/TD]
[TD="align: center"]< NARSIS+FANATIK>[/TD]
[TD="align: center"]mahkluk apa ini?
coba tebak[/TD]
[TD="align: center"]< ???? >
hatinya ketutup ??
[/TD]
[TD][/TD]
[/TR]
[/TABLE]

#4 DABGF

DABGF

    Penggemar WDC

  • Members
  • -1
  • 660 posts
  • 0 thanks

Posted 16 November 2012 - 11:07 AM

contoh penjelasan dan kasus (sebenarnya semua yang pandangan/tulisan pada thread tersebut sama kualitasnya) :

Sebuah pengakuan.(tentang kemelekatan)

Pada tgl 7 november lalu,saya diundang makan malam oleh seorang teman dan juga sebagai bos saya.
Teman ini sudah saya kenal lebih dari 30 tahun,usia sudah sekitar 60 an,bisnisnya ada lebih besar beberapa tingkat dari saya,nilai bisnisnya bermiliard milliard, pendidikan formalnya lulusan S 2.
Dalam pertemuan itu dia menceritakan sebuah pengalaman ,bisa juga sebagai pengakuan dosa.

Inilah ceritanya:

Pada tahun 2010 awal,saat saya di Amerika saya berkenalan dengan seorang ahli design,menurut pengakuannya dia ada di peringkat 6 ,yaitu rangking dari para ahli desain ,dengan spesialis desain buat perusahaan2 besar, mulai desain logo,produk,disply sampai pada desain struktur kerja perusahaan,dia minta sama saya untuk memperkenalkan dirinya pada perusahaan2 besar yang ada di Indonesia,dan apabila ada perusahaan yang mengikat kontrak kerja dengan dia,maka saya akan diberi fee/komisi sebesar 10% dari nilai kontrak.

Singkat cerita saya telah merealisasikan keinginan dia,dan sekitar 20 an pemilik perusahaan besar di Indonesia telah mendengarkan presentasi tentang semua keahliannya. Dan ternyata ada 1 perusahaan yang tertarik, perusahaan itu adalah sebuah perusahaan pabrik rokok ternama di Indonesia.

Pada saat negosiasi berlangsung,saya teringat dengan pesan petuah dari guru spiritual saya,bahwa saya tidak boleh terlibat dalam bisnis tertentu,dari daftar bisnis2 yang dilarang itu ,salah satunya adalah rokok.

Saat itu hati saya bergejola,antara tetap aktif membantu mereke bernegosiasi atau meninggalkan mereka.
Nilai kontraknya adalah 20 miliard,komisi 10% maka yang saya dapat adalah 2 miliard.

Akhirnya saya konsultasi dengan guru saya,saya minta diizinkan tetap terlibat dalam negosiasi ini,dengan alasan bahwa saya tidak terlibat dalam bisnis rokok,tapi hanya sebatas mengenalkan seorang ahli kepada sebuah pabrik rokok,tapi guru saya tetap melarang saya.

namun Akhirnya saya mengabaikan larangan guru saya,karena (mungkin) nilai 2 miliard yang begitu mudah didapat.

Kontrak itu akhirnya sukses pada bulan oktober.

Saat Saya menagih uang komisi yang telah menjadi hak saya,ternyata saat itu si orang Amerika itu hanya memberikan 1miliard, karena semua biaya pesawat dan akomodasi selama 6 bulan dipotongkan uang komisi saya----semua biaya senilai 1 miliard.

Mendengar berira itu,saya amat sangat marah,emosi saya tak terkendali,saat bertemu muka saya memaki maki dia dengan kata2 yang kasar dan jorok,akhirnya dia mengalah dengan cara memikul 50% biaya,jadi total saya dapat komisi 1,5 miliard.

setelah siang harinya saya memaki maki dia,malam harinya saya merenung dan saya tersentak kaget dengan prilaku saya siang hari tadi.
Saya baru sadar: selama hidup saya sampai usia hampir 60,bari kali ini saya berprilaku seperti itu,memaki maki orang dengan kata **** you segala,kapan saya BELAJAR nya?.kok saya jadi PANDAI memaki orang?

Selama ini saya sangat tidak senang bila melihat ada orang marah,kok kali ini saya sendiri melakukannya?
Hanya karena uang 1 miliard? saya jadi berani melawan sebuah keyakinan yang selama ini saya junjung tinggi,dan mungkin Saya jadi kena kutukan dari guru saya.

Tapi Saya sangat menyesali kejadian ini.
---------------------------------------------------------
Itulah sebuah kisah yang saya dengar dari seorang miliarder.

Dalam cerita ini jangan terpengaruh dengan ---
1,larangan bisnis rokok.
2,nilai nominal uang yang menjadi penyebab.

Tapi focuslah dengan inti pengakuannya,yaitu -----

1,teknik marah ternyata tanpa harus belajar dulu.----maka waspadalah !!!! suatu saat anda bisa ahli marah.

2,nilai harga diri seseorang ditentukan oleh orang itu sendiri.----apakah harus dengan marah untuk menyelesaikan masalah,atau hanya untuk meluapkan sebuah kekecewaan.

3.KEMELEKATAN TERHADAP SEBUAH TARGET DUNIAWI.


Sebenarnya Inti daripada 'Kemelekatan' itu sendiri terletak pada sumber utamanya yaitu : 'Keinginan' (Tanha).

Semakin banyak 'keinginan' yang ada pada pikiran kita, maka kemelekatan pun akan bertambah banyak dan kuat mencengkeram batin kita.

Semakin sedikit 'keinginan' yang ada pada pikiran kita, maka kemelekatan pun akan semakin berkurang dan kekuatan cengkeramannya pun semakin melemah pada batin kita.

Jadi sebenarnya kita tidak perlu takut/khawatir terhadap 'kemelekatan' ini, yang perlu kita kurangi adalah kadar 'keinginan' kita terhadap hal-hal keduniawian yang bersifat tidak mendukung pada 'pelepasan kemelekatan'.

Banyak contoh 'keinginan' ini yang bersifat sementara , tidak bermanfaat dan malah mengundang hadirnya sebuah 'kemelekatan' baru pada diri kita, misalnya sebuah permainan yg terdapat pada komputer kita (PC Game)atau Game Online dan masih banyak lagi macam dan istilahnya.

Semua itu hanya akan menambah 'keinginan' kita secara keduniawian untuk terus bermain sampai permainan itu tamat/tuntas dimainkan, ini berarti kita sedang 'melekat' pada sesuatu yang tidak bermanfaat , buang-buang waktu dan tidak produktif, apalagi dilihat dari sisi Spiritual, samasekali tidak ada manfaatnya.

Jadi.. apakah 'keinginan' itu samasekali tidak kita perlukan dalam rangka pelatihan diri untuk membersihkan kekotoran batin ?

Tentu saja 'keinginan' itu masih kita perlukan, dan dalam hal ini Ven. Ajahn Chah (seorang Bhikkhu hutan dan praktisi meditasi) dengan sangat gamblang memberikan perumpamaannya sbb :

Keinginan adalah kotoran bathin, namun kita tetap harus memiliki keinginan untuk memulai berlatih Sang Jalan. Misalnya kita ke pasar membeli kelapa dan ketika pulang seseorang bertanya:

"Kenapa kamu membeli kelapa itu?"

"Saya membelinya untuk dimakan."

"Apa kamu makan kulitnya juga?"

"Tentu tidak."

"Saya tidak percaya. Jika kamu tidak makan kulitnya,lantas kenapa kamu membelinya?"

Bagaimana? Apa kamu akan menjawab pertanyaan itu?

Kita berlatih bersama dengan keinginan untuk memulai. Jika kita tidak memiliki keinginan, kita tidak akan berlatih. Merenung dengan cara begini mengembangkan kebijaksanaan, tahukah kamu. Misalnya tentang kulit kelapa tadi: Apa kamu akan memakan kulitnya? Tentu saja tidak. Jadi kenapa kamu membawanya juga? Kulit tersebut berguna untuk membungkus dalamnya. Setelah kamu makan kelapa, kamu akan membuang kulitnya. Tidak ada masalah dengan itu.

Latihan kita juga seperti ini. Kita tidak makan kulitnya, namun belum saatnya membuangnya. Kita membawanya seperti halnya kita memiliki keinginan (untuk berlatih). Beginilah kita berlatih. Jika seseorang menuduhmu memakan kulit kelapa, itu urusan mereka. Yang penting, kita tahu apa yang sedang kita lakukan.


Mengapa 'keinginan' itu harus dikurangi ?

Karena kita tahu bahwa dari 'keinginan' inilah sebagai syarat utama yang dapat menimbulkan 'kemelekatan', dan dari 'kemelekatan' inilah sebagai prasyarat timbulnya dukkha (penderitaan karena kekecewaan, ketidakpuasan, kesedihan, ketidakbahagiaan, frustrasi dsb).

Disebut sebagai kemelekatan duniawi karena, kesenangan-kesenangan semacam itu seperti halnya orang meminum air asin untuk menghilangkan rasa hausnya ataupun orang yang kecanduan akan obat-obatan terlarang (Narkoba), yang dapat mengakibatkan ketergantungan atau keterikatan / kemelekatan. Dalam doktrin Paticcasamuppada, Sang Buddha telah menjelaskan dengan sangat rinci mengenai timbulnya keinginan dan kemelekatan ini sebagai rentetan dari asal mulanya segala bentuk dukkha/penderitaan itu. (DN 22).

Dan bagaimana dengan 'kemelekatan' terhadap hal-hal yang baik, yaitu melekat pada Dhamma?

Dalam hal ini, Sang Buddha telah memberikan sebuah " Perumpamaan Sebuah Rakit" ,sbb :

"O, para bhikkhu, Dhamma yang Saya ajarkan ibarat rakit yakni untuk menyeberang, dan bukan untuk digenggam (dilekati).
Para bhikkhu, karena Dhamma yang Kuajarkan kepada kalian seperti halnya sebuah rakit, maka engkau seharusnya meninggalkan (tidak melekat dengan) apa yang baik, apalagi yang tidak baik". (MN 22 : Alagaddupama Sutta).


Semoga uraian ini mudah dimengerti dan bermanfaat.



konsep hinayana. Pandangan terbalik pengikut Hinayana.
Apa yang bergerak? pikiran yang bergerak atau sebab diluar yang bergerak? - by coeda


Mempersepsikan obyek (segala yang bergerak) dalam pikiran sebagai diri. Lenyapnya (kualitas) pikiran dari keasliannya. – by coeda
Surangama Sutra :
mereka dibimbing oleh kotoran asing yang menciptakan khayalan dan kesedihan (dengan memasuki pikiran-pikiran mereka).

Apa itu kotoran asing? By coeda
Surangama Sutra :
Yang Maha Agung, (kotoran asing) seperti halnya seorang tamu yang berhenti di tempat penginapan sewaktu malam tiba atau menikmati makanan malam dan kemudian berkemas untuk melanjutkan perjalanannya oleh karena dia tidak bisa tinggal lama-lama. Sedangkan pemilik tempat penginapan tersebut, dia tidak memiliki tempat untuk pergi. Kesimpulan saya adalah seorang yang tidak menetap merupakan tamu dan yang menetap merupakan pemilik/tuan rumah. Dengan pengertian tersebut, sebuah benda dikatakan “asing” apabila sifatnya tidak menetap. Sekali lagi, sewaktu matahari bersinar di langit yang terang, dan sinarnya masuk ke dalam (rumah) melalui lobang-lobang, kotoran itu terlihat seolah-olah menari-nari di sorotan sinar tersebut sedangkan alam sekitarnya tidak bergerak. Saya mengambil kesimpulan bahwa apa yang tidak berubah itu sebagai kehampaan dan apa yang bergerak atau berubah itu sebagai kotoran. Dengan pengertian tersebut, sebuah benda dikatakan “kotoran” bila ia bergerak.’

Sang Buddha kemudian mengumumkan kepada anggota lainnya:
‘Maka semua manusia mengetahui bahwa semua yang bergerak adalah kotoran dan yang tidak sebagai tamu. Anda telah melihat Ananda yang kepalanya bergerak sendiri sedangkan penglihatannya tidak bergerak. Anda juga telah melihat tinju saya yang membuka dan menutupnya sedangkan penglihatannya tidak ikut melebar dan mengecil. Mengapa anda masih menganggap gerakan itu sebagai tubuh dan sekitarmu?

Dengan lenyapnya Pikiran dari keaslianmu dan dengan menyalah-artikan objek-objek untuk dirimu Sendiri, anda membiarkan dirimu terperangkap di dalam roda (samsara) yang memaksa anda sendiri untuk mengalami penderitaan.

surangama sutra :
Percakapan dengan ilustrasi Pandangan terbalik pengikut Hinayana
Sang Buddha kemudian membengkokkan, meluruskan dan kemudian membengkokkan kembali jari-jari tangannya dan bertanya kepada Ananda: ‘Apakah yang anda amati?’ Ananda menjawab: ‘Saya melihat Sang Buddha membuka dan menutup tinju-Nya.’ Sang Buddha bertanya: ‘Anda berkata bahwa anda melihat tinju saya terbuka dan tertutup; apakah itu merupakan tinju saya ataukah penglihatanmu yang terbuka dan tertutup?’ Ananda menjawab: ‘Seperti yang Sang Buddha membuka dan menutup tinju, saya melihatnya sendiri dan bukan penglihatan saya yang menafsirkannya.’ Sang Buddha bertanya: ‘Yang mana yang bergerak dan yang mana yang diam?’ Ananda menjawab :
‘Tangan Sang Buddha tidak menetap; sedangkan penglihatan saya sekarang berada dalam keadaan menetap, ia tidak mampu untuk bergerak.’ Sang Buddha menjawab: ‘Tepat sekali.’


Sesudah itu Sang Buddha mengeluarkan cahaya yang memancar ke segala arah dari telapak tangan-Nya kepada bagian sebelah kanan Ananda, dan kemudian murid tersebut berpaling untuk melihatnya. Kemudian Beliau mengeluarkan cahaya lain ke arah bagian sebelah kiri Ananda dan murid tersebut berpaling untuk melihatnya. Kemudian Sang Buddha bertanya :‘Mengapa kepalamu bergerak?’ Ananda menjawab:
‘Saya melihat Sang Buddha mengeluarkan cahaya yang memancar ke segala arah ke sisi kanan dan kiri saya, saya berpaling untuk melihatnya, sehingga kepala saya menjadi bergerak.’ (Sang Buddha berkata:) ‘Sewaktu anda berpaling ke kanan dan ke kiri untuk melihat cahaya-Buddha, apakah kepalamu yang bergerak ataukah penglihatanmu?’ (Ananda menjawab:) ‘Yang Maha Agung, kepala saya yang bergerak; sedangkan penglihatan saya yang telah berada (dalam keadaan) menetap, bagaimana mungkin ia bisa bergerak?’ Sang Buddha menjawab: ‘Benar sekali.

coeda. true believer. sobat DHAMMA. son of the LIVING TRUTH (THE WAY, THE TRUTH, AND THE LIFE)

Edited by DABGF, 16 November 2012 - 11:40 AM.


#5 newcome

newcome

    Baru bergabung

  • Members
  • Pip
  • 0
  • 3 posts
  • 0 thanks

Posted 17 January 2013 - 02:48 PM

Proses berjalannya sebuah kejadian (kamma) adalah sulit dimengerti dan sulit dipahami seperti yang dikatakan sang Buddha dalam Saddharma Pundarika Sutra Bab II, berikut kutipan kalimatnya :

"Wahai Sariputra ! pada hakekatnya, Sang Buddha telah menyempurnakan semua Hukum Kesunyataan yang belum pernah dilaksanakan sebelumnya yang begitu dalam dan tak terbatas. Cukuplah wahai Sariputra !, tiada gunanya Aku berkata lebih jauh lagi, karena Hukum Kesunyataan yang telah disempurnakan oleh Sang Buddha adalah Hukum Utama yang belum pernah ada, dan sulit untuk dipahami. Hanya seorang Buddha dengan seorang Buddha saja yang mampu menyelami kenyataan dari segala perwujudan; yaitu segala perwujudan yang memiliki bentuk sedemikian rupa, memiliki sifat sedemikian rupa, memiliki pengejawantahan sedemikian rupa, memiliki sebab utama dan sebab sekunder yang sedemikian rupa serta memiliki dasar keseluruhan yang lengkap sedemikian rupa."

Kalimat diatas menjelaskan mengenai berjalannya sebuah perwujudan/kejadian, kejadian yang menimpa diri kita merupakan sebuah tumpukan sebab-sebab, tidak ada kejadian yang terjadi tiba-tiba, dan diluar kewajaran. Karena keterbatasan bahasa indonesia dalam menterjemahkan kalimat sutra ini maka saya akan menyunting dari tejemahan bahasa inggris agar kita dapat memahaminya dengan lebih utuh dan tepat.

Berikut ini adalah penggalan kalimat yang perlu ditekankan karena kalimat ini menyampaikan kebenaran yang Buddha ingin sampaikan, mari kita coba pahami bersama :

Hanya seorang Buddha dengan seorang Buddha saja yang mampu menyelami kenyataan dari segala perwujudan; yaitu segala perwujudan yang memiliki bentuk sedemikian rupa, memiliki sifat sedemikian rupa, memiliki pengejawantahan sedemikian rupa, memiliki sebab utama dan sebab sekunder yang sedemikian rupa serta memiliki dasar keseluruhan yang lengkap sedemikian rupa

Terjemahan dalam Bahasa Inggris :
Only the Buddhas attained The highest Truth, that is
The Reality of All Things In regards to:
Their appearances (form? shape? size? ) as such,
Thier natures (essence) as such,
Their embodiments (present incarnation) as such,
Their powers (potentiality also possibilities) as such,
Their activities (function or role) as such,
Their primary causes (obvious cause) as such,
Their environmental causes (process) as such,
Their effects (latent or hidden effect) as such,
Their requital (final outcome or return) as such,
And the combination of these [factors] as such (over and over again)


Sebuah imbalan nyata/final outcome tidak sekonyong-konyong datang dengan sendirinya, dan tanpa disadari. Semua perwujudan memiliki bentuk, memiliki inti hakekatnya, dan akan tergambarkan langsung secara fisik, semua ini digerakan oleh sebuah tenaga kejiwaan, yang akan mendorong manusia untuk melakukan tindakan (action), adanya tindakan akan membuat sebuah sebab, adanya sebab dan dukungan dari lingkungan (jodoh) akan menimbulkan sebuah akibat (akibat ini tidak langsung terwujud bersifat latent-atau tersembunyi), dan akibat ini akan menjadi sebuah imbalan yang nyata ketika waktunya sesuai, kondisi ini akan terus terulang dari awal sampai akhir dan menjadi sebuah tumpukan.

Contoh mudahnya :
Perasaan jiwa sangat mempengaruhi fisik (rupa), orang marah akan terlihat dari wajahnya, dan orang sedih pun akan tampak dari wajahnya, semua ini didasari oleh kondisi perasaan jiwa yang menurut agama Buddha terbagi dalam 10 kondisi/suasana jiwa yaitu : dunia neraka, dunia kelaparan, dunia kebinatangan, dunia kemurkaan, dunia manusia, dunia surga, dunia sravaka, dunia pratekya Buddha, Boddhisatva, dan dunia Buddha. Setiap makhluk memiliki 10 dunia tersebut, dan tidak selalu mentap di satu dunia saja. Selain itu semua makhluk memiliki jiwa Buddha (bisa mencapai ke Buddhaan). Kaitannya dengan penjelasan sebelumnya adalah, dasar dunia yang melandasi perasaan kita akan menghasilkan tenaga (powers) yang berbeda dan inilah yang akan menentukan sebuah perwujudan. Orang yang sedang dalam dunia kemurkaan akan mengeluarkan energy (powers) yang merusak, dengan tenaga yang merusak akan menghasilkan tindakan (action) yang tidak baik, dengan adanya tindakan tidak baik, akan membuat sebab tidak baik, dan menarik jodoh tidak baik dan langsung menimbulkan akibat latent, dan akan menjadi imbalan nyata yang tidak baik dalam waktu yang tepat. Hukum kejiwaan ini berlaku dalam setiap makhluk dan terus berlaku seperti itu dan menjadi sebuah tumpukan. Apabila kita terus berkutat dalam 4 dunia buruk seperti :

 neraka: kalut, berpikiran sempit, tidak punya harapan, pesimistik, putus asa yang dalam
 kelaparan: serakah, tidak pernah puas, tidak bisa merasakan syukur, dan memikirkan diri sendiri
 binatang: selalu mengikuti naluri, tidak pikir panjang, mengejar kesenangan sesaat, dibudaki oleh hawa nafsu
 murka:kesombongan, merasa diri sendiri adalah yang paling benar, meremehkan orang lain, tidak menghargai jiwa Buddha yang dimiliki oleh setiap makhluk

maka kita akan terus menerus mengeluarkan tenaga yang tidak baik, dan menumpuk sebab-sebab tidak baik, dan hingga waktunya tiba (matang) maka kita akan menerima imbalan yang buruk dan jangan salahkan siapa-siapa dan bertanya-tanya mengapa nasib saya buruk, mengapa bisa bertemu orang jahat, mengapa saya bisa tertimpa kesialan seperti ini, mengapa saya ko tidak bahagia, rumah tangga saya berantakan, saya dikhianati orang, dan lain-lain, semuanya bersumber dari diri kita sendiri, kita yang tarik semua itu. Apa yang menjadi dasar/kondisi jiwa kita dalam menjalani kehidupan bermasyarakat sangat menentukan, karena kebenaran Dharma berada dalam kehidupan itu sendiri, tidak menunggu nanti kalau sudah tua baru mau mencari jalan ke Buddha an, atau nanti setelah meninggal dan lahir kembali di kehidupan lain, kebahagiaan menjalankan Dharma ada di dalam hidup kali ini, pencapaian kesadaran Buddha merupakan usaha berkelanjutan, tumpukan-tumpukan yang harus dimulai dari sekarang, perjuangan untuk mencapai kesadaran Buddha tidak akan pernah berhenti.

Seharusnya manusia menyadari hukum kesunyataan ini. Selalu berusaha keluar dari 4 kecenderungan buruk, dengan cara mengembangkan sifat-sifat ke Boddhisatva an, percaya dan yakin serta menjalankan hidup berdasarkan kata-kata Buddha, selalu memikirkan orang lain.

• Catatan :
Saya menggunakan istilah dunia untuk menggambarkan bahwa didalam dunia-dunia tersebut memiliki karakteristik perasaan dan kondisi yang berbeda. Penjelasan lebih lanjut mungkin harus mengambil tema khusus untuk mendalami lebih jauh mengenai masing-masing dunia tersebut. Intinya dunia itu bukan merupakan sebuah tempat, melainkan kondisi perasaan manusia yang utuh (hakekat) dan selalu berubah (dinamis).






Also tagged with one or more of these keywords: bulan, persepsi, pikiran, surangama sutra by coeda, yang sejati

0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close