Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

Adhamma dana


  • Please log in to reply
No replies to this topic

#1 harson

harson

    Siswa Sang Buddha

  • Members
  • -1
  • 420 posts
  • 0 thanks

Posted 20 April 2013 - 11:00 AM

Adhamma Dana

Oleh Bhikkhu Pesala

34B Cambridge Road,
Seven Kings, Ilford,
Essex IG3 8LU

Memberikan sesuatu (persembahan) kepada orang lain adalah sebuah cara untuk
mengembangkan kebaikan dan kemurahan hati. Hal itu membantu melepaskan pendambaan
(kemelekatan) jika dilakukan dengan niat yang baik, dan harus dikembangkan sebagai
sebuah kebiasaan yang berkesinambungan oleh semua orang baik. Jika penerimanya adalah
seorang bhikkhu yang bermoral dan terbebas dari pendambaan terhadap barang persembahan
tersebut, maka tindakan kemurahan hati yang sederhana menjadi sebuah cara yang mulia
dalam melakukan penghormatan kepada Sang Buddha.

Namun demikian, tidak semua pemberian persembahan merupakan kebajikan
(perbuatan berjasa), beberapa barang seharusnya tidak diberikan karena barang-barang
tersebut mencemari moralitas penerima. Sebagai contoh, senjata, alkohol, racun, hal yang
berhubungan dengan kegiatan seksual, hiburan-hiburan dan pertunjukan-pertunjukan yang
bodoh, walaupun hal-hal tersebut mungkin menyenangkan bagi sebagian orang, seharusnya
hal-hal tersebut tidak diberikan karena mengondisikan penerimanya melakukan karma buruk.
Memberikan persembahan berupa uang kepada umat awam biasanya termasuk kebajikan,
tetapi memberikan suap adalah bukan.

Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa memberikan uang kepada para bhikkhu
bukan hanya dilarang oleh Sang Buddha, tetapi juga merupakan sebuah tindakan buruk yang
memberikan hasil yang buruk pula bagi pendana.


Jika uang diberikan kepada seorang umatawam yang membantu bhikkhu (kappiya) sewaktu
mengundang bhikkhu tersebut untuk menerima kebutuhan yang diperbolehkan,
maka hal tersebut diperbolehkan dan tentu saja itu adalah sebuah tindakan berjasa.

Jīvaka Sutta yang terdapat di Majjhima Nikāya adalah tentang makan daging oleh
para bhikkhu. Di sana Sang Buddha berkata bahwa para bhikkhu boleh makan daging,
bila mereka tidak melihat, mendengar, atau menduga bahwa hewan tersebut memang
dibunuh untuk mempersembahkan daging pada Sangha. Jika seekor binatang telah
disembelih untuk dipersembahkan, maka hal itu adalah pelanggaran tindakan salah
(dukkaṭa) bagi seorang bhikkhu jika menerimanya. Pendana melakukan “banyak keburukan”
(bahuṃ apuññaṃ) dalam lima hal:

1. Dengan memerintahkan hewan tersebut untuk ditangkap, dia melakukan banyak keburukan.

2. Ketika hewan tersebut ditangkap, dia menderita; dia melakukan banyak keburukan.

3. Dengan memerintahkan hewan tersebut untuk disembelih, dia melakukan banyak keburukan.

4. Ketika hewan tersebut sedang disembelih, dia menderita; dia melakukan banyak keburukan.

5. Dengan mempersembahkan apa yang tidak diperbolehkan, dia melakukan banyak keburukan.
Saya mengutip kalimat yang terkait dari teks Pāḷi:

“Yampi so Tathāgataṃ vā tathāgatasāvakaṃ vā akappiyena āsādeti,
iminā pañcamena thānena bahuṃ apuññaṃ pasavati.”
(Jīvaka Sutta, Majjhima Paṇṇasa, Majjhima Nikāya).

“Demikian juga, siapapun yang mempersembahkan kepada Sang Buddha atau siswaNya apa yang
tidak diperbolehkan, dalam kasus ke lima ini dia melakukan banyak keburukan.”

Arti dari kata “āsādeti” adalah “mengundang untuk menerima”, bukan “memberikan”,
maka seseorang melakukan banyak keburukan bahkan jika seorang bhikkhu yang baik
menolak persembahan tersebut. Menerima persembahan daging yang tidak diperbolehkan
adalah termasuk pelanggaran kecil/minor berupa “tindakan salah” untuk para bhikkhu;
tetapi untuk menerima uang adalah sebuah pelanggaran yang relatif besar berupa “Nissaggiya Pācittiya.
” Maka, mempersembahkan uang kepada para bhikkhu adalah hal yang lebih buruk
daripada mempersembahkan daging yang tidak diperbolehkan.

Sebagian orang mungkin berkata, “Bagaimana mungkin pendana melakukan keburukan,
karena mempersembahkan uang hasil kerja kerasnya adalah sebuah tindakan kemurahan hati.
” Tetapi, dengan alasan yang sama, memberikan daging miliknya juga adalah tindakan kemurahan
hati. Tolong coba renungkan untuk sesaat bagaimana perasaan bhikkhu yang bermoral
(berbudi luhur) ketika diundang untuk menerima uang. Ia mungkin merasa terhina atau
setidaknya malu, karena bila dia menolak dana yang dipersembahkan, dia mungkin akan menyakiti
si pendana. Situasi tersebut sangatlah sulit [bila terjadi] di tengah kumpulan para bhikkhu (Sangha).
Jika semua bhikkhu menerima uang tersebut kecuali dia, dia benar-benar akan berada pada posisi
yang sulit. Jika dia menerimanya, dia akan melakukan pelanggaran; jika dia menolaknya, semua
bhikkhu yang lainnya dan si pendana akan malu. Apakah hal tersebut merupakan suatu perbuatan
berjasa untuk membuat para bhikkhu yang bermoral malu dan melanggar silanya? Pastinya TIDAK!

Coba pikir kembali apa yang harus terjadi setelah uang tersebut diterima. Jika kemudian
seorang bhikkhu yang bermoral menyadari kesalahannya, dia harus melepaskan uang tersebut.
Uang tersebut harus dilepaskan kepada Sangha , bukan kepada seseorang. Maka dia setidaknya
akan merepotkan empat orang bhikkhu. Jika saat itu ada umat awam, bhikkhu yang menerima
uang tersebut harus memberikannya kepadanya; dia kemudian dapat melakukan apapun yang
dia suka, tetapi dia tidak boleh menggunakannya untuk keuntungan bhikkhu yang melakukan
pelanggaran. Jika tidak ada umat awam, Sangha harus menunjuk seorang “pembuang uang”
yang netral/tidak berpihak. Dia kemudian harus membuangnya ke luar lingkungan vihara, tanpa
memperhatikan di mana uang tersebut jatuh. Uang tersebut kemudian mungkin dimakan cacing,
tertiup angin, atau diambil orang yang beruntung yang kebetulan lewat di sana.
Semua kesulitan ini terjadi bahkan hanya gara-gara uang sebesar 5 dolar.

Beberapa orang berkata bahwa jika pendana mempersembahkan uang, bhikkhu harus
memberitahu pendana untuk memberikannya kepada seorang kappiya, tetapi hal tersebut
juga merupakan suatu pelanggaran. “Bhikkhu apapun yang menerima uang, membuat orang
lain menerimanya untuknya, atau menyetujui disimpannya uang tersebut untuk keperluannya,
dia bersalah atas sebuah pelanggaran yang memerlukan pengakuan dengan disertai pelepasan
kepemilikan dari barang/benda yang diterimanya. Dia hanya dapat berkata,
“Kami tidak menerima uang, kami hanya menerima keperluan bhikkhu yang diperbolehkan dan
pada saat yang tepat.” Jika kemudian pendana bertanya bila ada kappiya yang mengurus
keperluannya, sang bhikkhu dapat memberitahukannya. Kemudian, pendana dapat memberikan
uang tersebut kepada sang kappiya. Namun demikian, uang tersebut tetap milik si pendana;
bukan milik sang bhikkhu ataupun kappiya. Jika kappiya tersebut tidak menyediakan kebutuhan
sang bhikkhu, bhikkhu tersebut dapat memberitahu pendana tentang hal ini, tetapi dia tidak
boleh memaksa kappiya-nya untuk membelikan apa yang diinginkannya. Jika bhikkhu tersebut
melakukannya, dia akan terkena pelanggaran yang memerlukan pengakuan dan pelepasan
(barang yang didapat dengan cara yang tidak benar). Jika pendana bertanya apa yang
seharusnya dia lakukan dengan uang tersebut setelah sang bhikkhu menolaknya, bhikkhu
tersebut dapat menjelaskan peraturan Vinaya, tetapi dia tidak boleh memberitahu pendana
apa yang harus dilakukannya dengan uang tersebut.

Apakah anda masih berpikir bahwa memberikan uang kepada para bhikkhu adalah
suatu perbuatan berjasa? Jika ia, maka tentulah hal tersebut harus didukung.
Namun demikian, jika hal tersebut adalah hal yang tidak baik, maka praktik tersebut
tidak boleh dibiarkan, seperti tidak diperbolehkannya pemberian alkohol, ayam hidup,
atau persembahan yang tidak layak/pantas lainnya.

- 22 Oktober 2012

Bhikkhu Sikkhānanda
Cetiya Dhamma Sikkhā
Tangerang, Banten
01 November, 2012

APPAMADENA SAMPADETHA




0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close