Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

Studi tentang Citta dan Viññāṇa


  • Please log in to reply
30 replies to this topic

#21 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 03 May 2013 - 09:02 AM

"jika kesadaran tidak masuk ke dlm rahim ibu" untuk menunjukkan secara terpisah bahwa kesadaran, pada saat pertama kali muncul, adalah kondisi yang tersendiri untuk batin dan jasmani (namarupa). Walaupun kesadaran kelahiran kembali dikatakan seakan-akan memasuki rahim ibu dari luar, pernyataan ini sesungguhnya menunjukkan kemunculan pertama khandha-khanda di sana sesuai dengan sebab dan kondisi."

Sdr Ariya, Ada yang masih belum jelas saya, jadi apakah kesadaran benar2 terpisah dari rupa? Saya pakai bahasa yang lebih umum yach. Atau mungkin lebih jelas apakah ada sutra yang menjelaskan tentang kapan persisnya suatu makluk terbentuk? Apakah waktu terjadi pembuahan di dalam rahim sudah terdapat unsur kesadaran atau belum? (Mohon diabaikan saja bila pertanyaannya OOT).

Dan dimanakah posisi kesadaran sebelum "masuk" ke rahim pada saat2 menjelang terjadi kelahiran kembali?

Jadi sebelum kesadaran "masuk" ke dalam rahim apakah sudah ada unsur pikiran (citta) belum? Kalau belum ada, apakah berarti citta bersumber dari kesadaran?

Ketika suatu makluk mati, hanya kesadaran yang tersisa kan untuk menjelma ke kelahiran lagi?

Maaf yach pertanyaannya agak banyak :).

Sebenarnya saya lebih tertarik dengan bagian yang menjelaskan tentang bagaimana menghentikan akar kelahiran dan kerusakan, seperti penjelasan kutipan berikut:

""Oleh karena itu, Ananda, batin-dan-jasmani ini adalah akar, penyebab, asal-mula, kondisi bagi kesadaran. Sejauh itulah, Ananda, kita dapat melacak kelahiran dan kerusakan, kematian dan kejatuhan ke alam-alam lain dan terlahir kembali, sedemikian jauhlah jalan pembentukan, konsep, sedemikian jauhlah, bidang pemahaman, sedemikian jauhlah lingkaran berputar sejauh yang bisa dilihat dalam kehidupan ini, yaitu batin dan jasmani bersama dengan kesadaran." (DN 15 Mahanidana Sutta)"
(maaf quotenya belum ngerti caranya jadi kurang rapi tulisannya)

Ada tidak penjelasan yang lebih mendetil tentang cara untuk menghentikan akarnya (batin dan jasmani) yang merupakan akar bagi kesadaran? Sehingga dapat menghentikan kelahiran dan kerusakan? Apakah ada penjelasan dalam bentuk sutra atau hanya dapat dicapai melalui vipassana?

Terima kasih.

#22 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 03 May 2013 - 10:03 PM

"jika kesadaran tidak masuk ke dlm rahim ibu" untuk menunjukkan secara terpisah bahwa kesadaran, pada saat pertama kali muncul, adalah kondisi yang tersendiri untuk batin dan jasmani (namarupa). Walaupun kesadaran kelahiran kembali dikatakan seakan-akan memasuki rahim ibu dari luar, pernyataan ini sesungguhnya menunjukkan kemunculan pertama khandha-khanda di sana sesuai dengan sebab dan kondisi."

Sdr Ariya, Ada yang masih belum jelas saya, jadi apakah kesadaran benar2 terpisah dari rupa? Saya pakai bahasa yang lebih umum yach.


Kesadaran bukanlah sesuatu yang dapat berdiri sendiri tanpa batin dan jasmani karena kesadaran muncul bergantung pada batin dan jasmani, tetapi kesadaran merupakan kondisi yang tersendiri bagi batin dan jasmani karena batin dan jasmani muncul bergantung pada kesadaran juga. Jadi, ada hubungan saling bergantungan/timbal balik antara kesadaran dan batin-jasmani.

Atau mungkin lebih jelas apakah ada sutra yang menjelaskan tentang kapan persisnya suatu makluk terbentuk? Apakah waktu terjadi pembuahan di dalam rahim sudah terdapat unsur kesadaran atau belum? (Mohon diabaikan saja bila pertanyaannya OOT).


Menurut Abhidhamma, pada saat kematian kesadaran terakhir pada kehidupan tersebut (disebut cuti citta = kesadaran kematian) lenyap, tetapi seketika itu juga suatu kesadaran baru muncul pada kehidupan berikutnya (disebut patisandhi vinnana = kesadaran penyambung/kelahiran kembali). Bersamaan dengan munculnya patisandhi vinnana, muncul juga batin (perasaan, persepsi, dan bentukan mental) serta jasmani yang berasal dari pertemuan sperma dan ovum orang tua yang dikondisikan oleh kamma.

Menurut MN 38 Mahatanhasankhaya Sutta:

26. “Para bhikkhu, kehamilan janin dalam rahim terjadi melalui perpaduan tiga hal. Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, tetapi saat itu bukan musim kesuburan ibu, dan tidak ada kehadiran gandhabba - dalam kasus ini tidak ada [266] kehamilan janin dalam rahim. Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, dan saat itu adalah musim kesuburan ibu, tetapi tidak ada kehadiran gandhabba - dalam kasus ini juga tidak ada kehamilan janin dalam rahim. Tetapi jika ada perpaduan ibu dan ayah, dan saat itu adalah musim kesuburan ibu, dan ada kehadiran gandhabba, melalui perpaduan ketiga hal ini maka kehamilan janin dalam rahim terjadi.

Di sini "gandhabba" menunjuk pada arus kesadaran yang berasal dari kehidupan sebelumnya yang membawa akumulasi total dan kecenderungan kamma dan ciri pribadi.

Dan dimanakah posisi kesadaran sebelum "masuk" ke rahim pada saat2 menjelang terjadi kelahiran kembali?


Seperti dijelaskan di atas, sebelum kesadaran kelahiran kembali muncul, harus ada kematian suatu makhluk dari kehidupan sebelumnya terlebih dahulu di mana kesadaran kematiannya berakhir.

Jadi sebelum kesadaran "masuk" ke dalam rahim apakah sudah ada unsur pikiran (citta) belum? Kalau belum ada, apakah berarti citta bersumber dari kesadaran?


Citta = nama (batin), yaitu perpaduan tak terpisahkan dari kesadaran dan faktor-faktor mental yang selalu menyertainya (cetasika: perasaan, persepsi, dan bentukan mental). Dengan munculnya kesadaran pertama pada kehidupan sekarang, bersamaan muncul juga faktor-faktor mental yang selalu menyertainya tsb. Dengan demikian, citta muncul bersamaan dengan patisandhi vinnana yang memang tidak terpisahkan darinya.

Ketika suatu makluk mati, hanya kesadaran yang tersisa kan untuk menjelma ke kelahiran lagi?

Maaf yach pertanyaannya agak banyak :).


Tidak masalah karena pertanyaan bagus :lol2:

Menurut Abhidhamma, ketika suatu makhluk meninggal proses fisik/jasmaninya berhenti, kecuali masih mempertahankan suhu tubuh sampai jasad terurai. Namun proses pikiran/kesadaran tidak berhenti selama masih ada keinginan (tanha) untuk berlanjut dalam samsara yang berakar dari ketidaktahuan (avijja) dan dikondisikan oleh kamma.

Sebenarnya saya lebih tertarik dengan bagian yang menjelaskan tentang bagaimana menghentikan akar kelahiran dan kerusakan, seperti penjelasan kutipan berikut:

""Oleh karena itu, Ananda, batin-dan-jasmani ini adalah akar, penyebab, asal-mula, kondisi bagi kesadaran. Sejauh itulah, Ananda, kita dapat melacak kelahiran dan kerusakan, kematian dan kejatuhan ke alam-alam lain dan terlahir kembali, sedemikian jauhlah jalan pembentukan, konsep, sedemikian jauhlah, bidang pemahaman, sedemikian jauhlah lingkaran berputar sejauh yang bisa dilihat dalam kehidupan ini, yaitu batin dan jasmani bersama dengan kesadaran." (DN 15 Mahanidana Sutta)"
(maaf quotenya belum ngerti caranya jadi kurang rapi tulisannya)

Ada tidak penjelasan yang lebih mendetil tentang cara untuk menghentikan akarnya (batin dan jasmani) yang merupakan akar bagi kesadaran? Sehingga dapat menghentikan kelahiran dan kerusakan? Apakah ada penjelasan dalam bentuk sutra atau hanya dapat dicapai melalui vipassana?

Terima kasih.


Ada, yaitu dengan melenyapkan akar awal mulanya yang tak lain adalah ketidaktahuan itu sendiri:

“Tetapi dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidaktahuan maka lenyap pula bentukan-bentukan kehendak; [2] dengan lenyapnya bentukan-bentukan kehendak, lenyap pula kesadaran; dengan lenyapnya kesadaran, lenyap pula batin-dan-jasmani; dengan lenyapnya batin-dan-jasmani, lenyap pula enam landasan indria; dengan lenyapnya enam landasan indria, lenyap pula kontak; dengan lenyapnya kontak, lenyap pula perasaan; dengan lenyapnya perasaan, lenyap pula ketagihan; dengan lenyapnya ketagihan, lenyap pula kemelekatan; dengan lenyapnya kemelekatan, lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya penjelmaan, lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, lenyap pula penuaan-dan-kematian, kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan.” (SN 12.1)

Cara untuk melenyapkan ketidaktahuan adalah dengan melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan:

"Dan apakah ketidaktahuan, apakah asal-mula ketidaktahuan, apakah lenyapnya ketidaktahuan, apakah jalan menuju lenyapnya ketidaktahuan? Tidak mengetahui penderitaan, tidak mengetahui asal-mula penderitaan, tidak mengetahui lenyapnya penderitaan, tidak mengetahui jalan menuju lenyapnya penderitaan – ini disebut ketidaktahuan. Dengan munculnya noda-noda maka muncul pula ketidaktahuan. Dengan lenyapnya noda-noda maka lenyap pula ketidaktahuan. Jalan menuju lenyapnya ketidak-tahuan adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar." (MN 9)

Tentu saja, meditasi sebagai pengembangan JMB8 adalah jalan langsung/satu arah (ekayano maggo) menuju lenyapnya ketidaktahuan alias menuju pencerahan sejati ini :)

rj1pgw.jpg


#23 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 04 May 2013 - 10:05 AM

Kesadaran bukanlah sesuatu yang dapat berdiri sendiri tanpa batin dan jasmani karena kesadaran muncul bergantung pada batin dan jasmani, tetapi kesadaran merupakan kondisi yang tersendiri bagi batin dan jasmani karena batin dan jasmani muncul bergantung pada kesadaran juga. Jadi, ada hubungan saling bergantungan/timbal balik antara kesadaran dan batin-jasmani.



Menurut Abhidhamma, pada saat kematian kesadaran terakhir pada kehidupan tersebut (disebut cuti citta = kesadaran kematian) lenyap, tetapi seketika itu juga suatu kesadaran baru muncul pada kehidupan berikutnya (disebut patisandhi vinnana = kesadaran penyambung/kelahiran kembali). Bersamaan dengan munculnya patisandhi vinnana, muncul juga batin (perasaan, persepsi, dan bentukan mental) serta jasmani yang berasal dari pertemuan sperma dan ovum orang tua yang dikondisikan oleh kamma.

Menurut MN 38 Mahatanhasankhaya Sutta:

26. “Para bhikkhu, kehamilan janin dalam rahim terjadi melalui perpaduan tiga hal. Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, tetapi saat itu bukan musim kesuburan ibu, dan tidak ada kehadiran gandhabba - dalam kasus ini tidak ada [266] kehamilan janin dalam rahim. Di sini, ada perpaduan ibu dan ayah, dan saat itu adalah musim kesuburan ibu, tetapi tidak ada kehadiran gandhabba - dalam kasus ini juga tidak ada kehamilan janin dalam rahim. Tetapi jika ada perpaduan ibu dan ayah, dan saat itu adalah musim kesuburan ibu, dan ada kehadiran gandhabba, melalui perpaduan ketiga hal ini maka kehamilan janin dalam rahim terjadi.

Di sini "gandhabba" menunjuk pada arus kesadaran yang berasal dari kehidupan sebelumnya yang membawa akumulasi total dan kecenderungan kamma dan ciri pribadi.



Seperti dijelaskan di atas, sebelum kesadaran kelahiran kembali muncul, harus ada kematian suatu makhluk dari kehidupan sebelumnya terlebih dahulu di mana kesadaran kematiannya berakhir.



Citta = nama (batin), yaitu perpaduan tak terpisahkan dari kesadaran dan faktor-faktor mental yang selalu menyertainya (cetasika: perasaan, persepsi, dan bentukan mental). Dengan munculnya kesadaran pertama pada kehidupan sekarang, bersamaan muncul juga faktor-faktor mental yang selalu menyertainya tsb. Dengan demikian, citta muncul bersamaan dengan patisandhi vinnana yang memang tidak terpisahkan darinya.



Tidak masalah karena pertanyaan bagus :lol2:

Menurut Abhidhamma, ketika suatu makhluk meninggal proses fisik/jasmaninya berhenti, kecuali masih mempertahankan suhu tubuh sampai jasad terurai. Namun proses pikiran/kesadaran tidak berhenti selama masih ada keinginan (tanha) untuk berlanjut dalam samsara yang berakar dari ketidaktahuan (avijja) dan dikondisikan oleh kamma.



Ada, yaitu dengan melenyapkan akar awal mulanya yang tak lain adalah ketidaktahuan itu sendiri:

“Tetapi dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidaktahuan maka lenyap pula bentukan-bentukan kehendak; [2] dengan lenyapnya bentukan-bentukan kehendak, lenyap pula kesadaran; dengan lenyapnya kesadaran, lenyap pula batin-dan-jasmani; dengan lenyapnya batin-dan-jasmani, lenyap pula enam landasan indria; dengan lenyapnya enam landasan indria, lenyap pula kontak; dengan lenyapnya kontak, lenyap pula perasaan; dengan lenyapnya perasaan, lenyap pula ketagihan; dengan lenyapnya ketagihan, lenyap pula kemelekatan; dengan lenyapnya kemelekatan, lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya penjelmaan, lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, lenyap pula penuaan-dan-kematian, kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan.” (SN 12.1)

Cara untuk melenyapkan ketidaktahuan adalah dengan melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan:

"Dan apakah ketidaktahuan, apakah asal-mula ketidaktahuan, apakah lenyapnya ketidaktahuan, apakah jalan menuju lenyapnya ketidaktahuan? Tidak mengetahui penderitaan, tidak mengetahui asal-mula penderitaan, tidak mengetahui lenyapnya penderitaan, tidak mengetahui jalan menuju lenyapnya penderitaan – ini disebut ketidaktahuan. Dengan munculnya noda-noda maka muncul pula ketidaktahuan. Dengan lenyapnya noda-noda maka lenyap pula ketidaktahuan. Jalan menuju lenyapnya ketidak-tahuan adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar." (MN 9)

Tentu saja, meditasi sebagai pengembangan JMB8 adalah jalan langsung/satu arah (ekayano maggo) menuju lenyapnya ketidaktahuan alias menuju pencerahan sejati ini :)


Tanya lagi yach :)
Kesadaran yang dilenyapkan dalam 12 sebab musabab itu apakah kesadaran yang sedang kita bahas yaitu Vinnana?
Berarti vinnana yang kita "gunakan" sehari2 adalah "salah" karena termasuk dampak dari ketidaktahuan?

Seperti sekarang, kita sedang membahas tentang pikiran dan kesadaran, yang bekerja (sedang membahas thread ini) kan adalah kesadaran (vinnana) juga? Ataukah kita sedang atau bisa menggunakan yang selain vinnana?

Bila tidak menggunakan kesadaran(vinnana), lalu unsur mental apa yang mesti/bisa/seharusnya kita gunakan dalam menjalankan JMB8 untuk melenyapkan termasuk kesadaran ini sendiri?
Dan ketika ketidaktahuan berhasil dilenyapkan oleh JMB8, apa yang tersisa?
Apakah ketika mencapai pencerahan, sudah tidak memiliki atau tidak menggunakan unsur vinnana (kesadaran) lagi?

Terima kasih sdr Arya. :)

#24 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 04 May 2013 - 12:15 PM

Tanya lagi yach :)
Kesadaran yang dilenyapkan dalam 12 sebab musabab itu apakah kesadaran yang sedang kita bahas yaitu Vinnana?
Berarti vinnana yang kita "gunakan" sehari2 adalah "salah" karena termasuk dampak dari ketidaktahuan?


Sama, silahkan baca SN 12.1

Seperti sekarang, kita sedang membahas tentang pikiran dan kesadaran, yang bekerja (sedang membahas thread ini) kan adalah kesadaran (vinnana) juga? Ataukah kita sedang atau bisa menggunakan yang selain vinnana?


Dalam setiap aktivitas mental yang kita lakukan, kesadaran (vinnana) selalu ada, bahkan ketika kita dalam keadaan tidak sadar atau tidur (yang disebut kesadaran bawah sadar/bhavanga citta menurut Abhidhamma).

Bila tidak menggunakan kesadaran(vinnana), lalu unsur mental apa yang mesti/bisa/seharusnya kita gunakan dalam menjalankan JMB8 untuk melenyapkan termasuk kesadaran ini sendiri?


Karena kesadaran selalu hadir dalam segala aktivitas mental, kita tidak bisa menghindarinya, namun kita bisa menjaga kesadaran dengan pandangan benar (sammaditthi) sehingga muncul kebijaksanaan (panna):

MN 43 Mahavedalla Sutta

3. “’Seorang yang bijaksana, seorang yang bijaksana’ dikatakan, teman. Sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan, ’seorang yang bijaksana’?”

“’Seorang yang dengan bijaksana memahami, seorang yang dengan bijaksana memahami,’ teman; itulah mengapa dikatakan, ‘seorang yang bijaksana.’ Dan apakah yang seseorang dengan bijaksana memahami? Ia dengan bijaksana memahami: ‘Ini adalah penderitaan’; ia dengan bijaksana memahami: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; ia dengan bijaksana memahami: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; ia dengan bijaksana memahami: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’ ‘Seorang yang dengan bijaksana memahami, seorang yang dengan bijaksana memahami,’ teman; itulah mengapa dikatakan, ‘seorang yang bijaksana.’

[...]

5. “Kebijaksanaan dan kesadaran, teman – apakah kondisi-kondisi ini tergabung atau terpisah? Dan apakah mungkin memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lain untuk menggambarkan perbedaan antara keduanya?”

“Kebijaksanaan dan kesadaran, teman – kondisi-kondisi ini adalah tergabung, bukan terpisah, dan adalah tidak mungkin untuk memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lain untuk menggambarkan perbedaan antara keduanya. Karena apa yang seseorang pahami dengan bijaksana, maka itulah yang ia sadari, dan apa yang ia sadari, maka itulah yang ia pahami dengan bijaksana. [293] Itulah mengapa kondisi-kondisi ini tergabung, bukan terpisah, dan adalah tidak mungkin untuk memisahkan kondisi-kondisi ini satu sama lain untuk menggambarkan perbedaan antara keduanya.”

[MA: Pernyataan ini merujuk pada kebijaksanaan dan kesadaran pada peristiwa baik pandangan terang maupun jalan lokuttara. Kedua ini bergabung dalam hal bahwa keduanya muncul dan lenyap secara bersamaan dan saling berbagi landasan dan obyek indria tunggal yang sama. Akan tetapi, keduanya bukan tidak terpisahkan karena, sementara kebijaksanaan selalu memerlukan kesadaran, namun kesadaran dapat terjadi tanpa kebijaksanaan.]

6. “Apakah perbedaannya, teman, antara kebijaksanaan dan kesadaran, kondisi-kondisi ini yang tergabung, bukan terpisah?”

“Perbedaannya, teman, antara kebijaksanaan dan kesadaran, kondisi-kondisi ini yang tergabung, bukan terpisah, adalah: kebijaksanaan harus dikembangkan, kesadaran harus dipahami sepenuhnya.”

[MA: Kebijaksanaan, sebagai faktor jalan pandangan benar, harus dikembangkan sebagai satu faktor sang jalan. Kesadaran, karena termasuk di antara kelima kelompok unsur kehidupan yang berada dalam kebenaran mulia penderitaan, harus dipahami sepenuhnya – sebagai tidak kekal, penderitaan, dan bukan-diri.]

Jadi, dalam kehidupan sehari-hari selalu amati kesadaran kita dengan penuh kebijaksanaan/pandangan benar, itu baru aktivitas mental yang benar untuk melenyapkan dukkha. :)

Dan ketika ketidaktahuan berhasil dilenyapkan oleh JMB8, apa yang tersisa?
Apakah ketika mencapai pencerahan, sudah tidak memiliki atau tidak menggunakan unsur vinnana (kesadaran) lagi?

Terima kasih sdr Arya. :)


Lenyapnya ketidaktahuan (avijja) berarti munculnya pengetahuan (vijja), yaitu kebijaksanaan yang bersumber dari pandangan benar yang melihat segala sesuatu sebagaimana adanya.

Unsur kesadaran tetap ada selama fungsi pancakkhandha masih berlanjut dalam kehidupan terakhir seorang yang telah tercerahkan, namun tidak akan ada lagi produksi penjelmaaan kembali kesadaran di masa yang akan datang melalui 12 rantai sebab akibat yang saling bergantungan. Seorang yang telah tercerahkan tidak melekat pada kesadaran lagi, ia mengetahui sepenuhnya dan sebagaimana adanya kesadaran adalah tidak kekal, menderita dan bukan diri karena kebijaksanaan selalu hadir dalam setiap aktivitas mentalnya.

MN 38 Mahatanhasankhaya Sutta

30. “Ketika melihat suatu bentuk dengan mata, ia [orang biasa yang belum tercerahkan] menginginkannya jika bentuk itu menyenangkan; ia tidak menginginkannya jika bentuk itu tidak menyenangkan. Ia berdiam dengan perhatian pada jasmani tidak ditegakkan, dengan pikiran terbatas, dan ia tidak memahami sebagaimana adanya kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan di mana kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat lenyap tanpa sisa. Masuk ke dalam apa yang disukai maupun tidak disukai, apapun perasaan yang ia rasakan – apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – ia bergembira dalam perasaan itu, menyambutnya, dan terus-menerus menggenggamnya. Sewaktu ia melakukan hal itu, kegembiraan muncul dalam dirinya. Sekarang kegembiraan dalam perasaan adalah kemelekatan. Dengan kemelekatannya sebagai kondisi, maka penjelmaan [muncul]; dengan penjelmaan sebagai kondisi, maka kelahiran; dengan kelahiran sebagai kondisi, maka penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan muncul. Demikianlah asal-mula keseluruhan kumpulan penderitaan ini.

40. “Ketika melihat suatu bentuk dengan mata, ia [siswa mulia yang telah berlatih atau tidak berlatih lagi] tidak menginginkannya jika bentuk itu menyenangkan; ia tidak menolaknya jika bentuk itu tidak menyenangkan. Ia berdiam dengan perhatian pada jasmani ditegakkan, dengan pikiran tanpa batas, dan ia memahami sebagaimana adanya kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan di mana kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat lenyap tanpa sisa. Setelah meninggalkan apa yang disukai maupun tidak disukai, apapun perasaan yang ia rasakan – apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – ia tidak bergembira dalam perasaan itu, tidak menyambutnya, dan tidak terus-menerus menggenggamnya. Karena ia tidak melakukan hal itu, kegembiraan dalam perasaan lenyap dalam dirinya. Dengan lenyapnya kegembiraan, maka lenyap pula kemelekatan; dengan lenyapnya kemelekatan, maka lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya penjelmaan, maka lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.

Edited by ariyakumara, 04 May 2013 - 12:18 PM.

rj1pgw.jpg


#25 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 04 May 2013 - 03:09 PM

Anumodana yang Ariyakumara atas usaha mencari sumber dan penjelasan yang bermanfaat ini.
:)

#26 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 04 May 2013 - 04:29 PM

Anumodana yang Ariyakumara atas usaha mencari sumber dan penjelasan yang bermanfaat ini.
:)


Sama2, sdr. msc, tapi jangan pake "yang" donk, kayak udah "eyang" #tepokjidat :sweat_002:

rj1pgw.jpg


#27 bodohsatva

bodohsatva

    Senior WDC

  • Members
  • 5
  • 1,147 posts
  • 0 thanks

Posted 05 June 2013 - 11:00 PM

Anumodana..
Sungguh posting yg sangat bagus dan mencerahkan...
Dari yg pernah saya baca "bagai samudra dan ombak, pikiran dan kesadaran tidak terpisahkan"
Apa pernyataan ini bisa dibenarkan?

The Four Reliances
First, rely on the spirit and meaning of the teachings, not on the words;
Second, rely on the teachings, not on the personality of the teacher;
Third, rely on real wisdom, not superficial interpretation;
And fourth, rely on the essence of your pure Wisdom Mind, not on judgmental perceptions.


#28 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 06 June 2013 - 07:38 AM

Anumodana..
Sungguh posting yg sangat bagus dan mencerahkan...
Dari yg pernah saya baca "bagai samudra dan ombak, pikiran dan kesadaran tidak terpisahkan"
Apa pernyataan ini bisa dibenarkan?


Benar, pikiran dan kesadaran tidak terpisahkan karena apa yang dipikirkan seseorang itu juga termasuk kesadarannya dan apa yang disadari seseorang di sana juga termasuk proses berpikirnya. Jadi kesadaran dan pikiran adalah hal yang serupa tetapi tidak sama :)

rj1pgw.jpg


#29 samudra_mangala

samudra_mangala

    Anggota Tetap WDC

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 40
  • 156 posts
  • 19 thanks
  • Locationkalideres

Posted 06 September 2016 - 04:37 PM

citta, vinnana, mano

 

citta : pikiran/kesadaran yg bisa muncul di semua alam

vinnana : kesadaran

mano dhatu : elemen pikiran

mano vinnana dhatu : elemen kesadaran berpikir

mano kamma : perbuatan yg dilakukan oleh pikiran

 

citta itu adl wujud tunggal dari semua jenis kesadaran. yg fungsinya hanya mengetahui, citta akan terbagi mjd 89 jenis citta berdasarkan faktor mental yg bersekutu dengannya

 

vinnana itu adl kesadaran yg berhubungan dgn indera. contoh kesadaran mata (cakku vinnana), kesadaran telinga, dst sampai kesadaran berpikir

fungsi dr kesadaran ini hanyalah mengalami objek dr landasan indera melalui kontak. kesadaran ini berhubungan dengan pengalaman seseorang thd sebuah objek

 

mano vinnana adl kesadaran yg menerima objek pikiran (dhamma dhatu). misal : kita sedang mengingat pacar, dan perhatian kita tertuju pd ingatan tsb.

yg termasuk dlm mano vinnana dhatu adl mano dvarajana citta (kesadaran yg mengarahkan objek melalui pintu pikiran) dan santirana citta (kesadaran yg memeriksa)

vinnana itu sendiri termasuk ke dalam 89 jenis citta

 

sedangkan jenis2 citta yg lain sebagian besar berfungsi utk menjalankan suatu aktifitas atau perbuatan berhubungan dgn pikiran, ucapan ataupun jasmani

diantaranya citta yg berhubungan dgn akusala,kusala dan kiriya

 

mano dhatu atau elemen pikiran lebih kepada citta yg berfungsi utk mengubah objek fisik menjadi objek pikiran seperti bentukan, suara, bau mjd sebuah citra di otak yg bisa dicerap oleh pikiran. saat melihat batu, tdk mungkin batu tsb akan masuk ke otak kita, yg masuk hanyalah citra yg ditangkap oleh mata kita dan diubah mjd elemen pikiran. yg termasuk dlm mano dhatu adl pancadvaravajjana citta dan sampaticana citta

pancadvaravajjana citta adl kesadaran yg mengarahkan objek ke 5 pintu indera, dan sampaticana citta adl kesadaran yg menerima objek yg telah dicerap oleh pintu indera.

 

dlm pancakhanda ada istilah vinnana dlm nama khanda. vinnana yg dimaksud adl kesadaran yg tunggal atau citta yg terdiri dr 89 jenis

dlm paticca samupada, yg dimaksud dengan vinnana adalah patisandhi citta (kesadaran tumimbal lahir) bukan kesadaran yg berhubungan dgn indera. kesadaran yg berhubungan dgn indera dimasukkan dlm kelompok nama dan rupa

 

dlm istilah pikiran adl pelopor, pikiran adalah pembentuk. yg dimaksud disini adalah mano vinnana bukanlah citta. krn fungsi dr mano/pikiran ini adalah mempersepsikan objek yg dialami. dr persepsi yg muncul inilah timbul kehendak (cetana) yg mendorong munculnya javana citta (kesadaran utk berbuat). sehingga muncul istilah akusala/kusala mano kamma

 

ada perbedaan antara kesadaran yg membentuk nama dan rupa (patisandhi citta) dengan kesadaran yg mengalami objek (vinnana). vinnana hanya muncul ketika ada landasan indera (salayatana). jika ada bayi yg lahir tanpa memiliki landasan indera maka dia akan seperti patung, yg kehidupannya hanya ditopang oleh bhavanga citta (bawah sadar) sampai kekuatan kamma yg menopang kehidupannya habis. jd selama dia hidup, dia tdk akan memperoleh pengalaman baru berkaitan dgn objek diluar dirinya. jd selama janin yg terbentuk blm memiliki landasan indera maka yg ada hanya rupa dan bhavanga citta. blm ada persepsi, blm ada perasaan, blm ada bentukan2 mental yg lain krn blm tjd kontak

 

istilah batin dan jasmani adl asal mula dr kesadaran yaitu jasmani yg berupa landasan indera dan objek/aramana serta batin yg berupa faktor mental/cetasika (phasa/kontak, manasikara/perhatian). keempat syarat ini yg menyebabkan timbulnya kesadaran/vinnana

 

pada saat org sedang tidur/ dlm kondisi tdk sadar yg bekerja hanyalah bawah sadar/bhavanga citta bkn vinnana. vinnana hanya muncul ketika seseorang dlm kondisi sadar itulah kenapa disebut kesadaran

 

jika seseorang sdh berhasil mencapai pencerahan, maka bhavanga citta saat berubah mjd cutti citta tdk akan membentuk patisandi citta kembali. dengan tdk ada patisandi citta maka tdk ada nama dan rupa baru yg terbentuk di salah satu alam. tdk ada nama rupa maka tdk akan ada vinnana


Uppādā vā bhikkhave Tathāgatānaṃ anuppādā vā Tathāgatānaṃ, ṭhitāva sā dhātu dhammaṭṭhitatā dhamma-niyāmatā:

Sabbe saṅkhārā aniccāti.Sabbe saṅkhārā dukkhāti.Sabbe dhammā anattāti.

"Sunnam idam attena va attaniyena va"

"Atthi bhikkhave ajatam abhutam akatam asankhatam, no cetam bhikkhave abhavisam abhutam akatam asankhatam, nayidha jatasa bhutassa sankhatassa nissaranam pannayetha. Yasma ca kho bhikhave atthi sankhatassa nissaranam pan naya `ti"


#30 djoe

djoe

    Legenda WDC

  • Moderators
  • 229
  • 4,797 posts
  • 44 thanks

Posted 07 September 2016 - 09:01 AM

Benar, pikiran dan kesadaran tidak terpisahkan karena apa yang dipikirkan seseorang itu juga termasuk kesadarannya dan apa yang disadari seseorang di sana juga termasuk proses berpikirnya. Jadi kesadaran dan pikiran adalah hal yang serupa tetapi tidak sama :)


Karena itu kita tidak bisa mengatakan mereka sama atau berbeda, karena mereka cuma konsep dan kabel dalam rangka komunikasi

Karena mereka bukan sebuah entitas yg real dan tidak benar benar eksis sebagai objek cuma konsep penjelasan dlm rangka komunikasi

By refutation of the false, not by acquiring the truth, is the revelation of the TRUTH


#31 beri

beri

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPip
  • 0
  • 24 posts
  • 0 thanks

Posted 20 June 2017 - 09:45 AM

maha citta

maha vijnana


-sukkha ada 7:

  1. sukkha pikiran 2. sukkha badan 3. sukkha wahyu 4. sukkha kemauan 5. sukkha keinginan 6. sukkha perasaan 7. sukkha kesadaran

 

 

-sati kuat menyeluruh dari mama papa

   oleh sebab ada mama dan papa -> sati kuat menyeluruh

 

   suatu hari ada anak bernama kebaikan,

   dia bertapa tapi tidak memperoleh hasil.

   selanjutnya dia bermeditasi pernapasan juga tidak memperoleh hasil.

   akibat dia punya mama dan papa yang keren dia langsung dapat sati kuat menyeluruh akibat tekad mamanya dan tekad papanya,

 





0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close