Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

[PDF] Excursions into the Thought-world of the Pali Discourses


  • This topic is locked This topic is locked
3 replies to this topic

#1 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 04 May 2013 - 09:26 AM

Ini adalah sebuah buku yang ditulis oleh Bhikkhu Analayo yang membahas tentang istilah-istilah Pali yang banyak digunakan dalam sutta-sutta, terutama yang berhubungan dengan faktor-faktor atau keadaan mental yang harus ditinggalkan, yang harus dikembangkan dan yang harus dipahami sebagaimana adanya untuk melenyapkan dukkha. Semuanya dijelaskan berdasarkan perspektif sutta-sutta yang dilengkapi beberapa informasi dari karya-karya Pali yang belakangan, karya Mandarin yang sejajar, dan sumber lainnya. Buku ini terdiri dari dua bagian.

Bagian pertama "From Craving to Liberation" membahas tentang keinginan (tanha) dan nafsu (raga) sebagai akar kekotoran batin yang harus dipahami dan diatasi, kemudian berlanjut pada pembahasan tentang kemauan jahat (vyapada), kelambanan dan kemalasan (thinamiddha), kekhawatiran dan kegelisahan (uddhaccakukkucca), dan keraguan (vicikiccha). Lima faktor mental terakhir ini lebih dikenal sebagai rintangan batin (nivarana) yang banyak disebutkan dalam sutta-sutta.

Karena keinginan muncul bergantung pada perasaan menurut Paticcasamuppada, maka selainjutnya dibahas tentang perasaan (vedana) dan perenungan terhadap perasaan (vedananupassana), salah satu unsur dari empat penegakan perhatian (satipatthana) yang merupakan landasan meditasi Buddhis. Kemudian diikuti dengan penyelidikan tentang kebahagiaan (sukha) dan keseimbangan batin (upekkha), yang juga merupakan salah satu aspek dari perasaan namun juga merupakan buah dari praktek pandangan terang yang berhasil.

Dua bab terakhir dari bagian pertama membahas tentang pengetahuan dan pandangan atas segala sesuatu sebagaimana adanya (yathabutananadassana) sebagai tujuan utama pengembangan pandangan terang dan tentang pembebasan (vimutti) sebagai hasil pencapaian meditatif dari ketenangan maupun pandangan terang.

Bagian kedua "From Grasping to Emptiness" membahas tentang kemelekatan atau "cengkeraman" (upadana) , pandangan personalitas (sakkayaditthi), dan pandangan benar (sammaditthi), bentukan mental/kehendak (sankhara), pemikiran (vitakka), perhatian bijaksana (yoniso manasikara), pandangan terang (vipassana), ketenangan dan pandangan terang (samatha dan vipassana), konsentrasi (samadhi), keterasingan (viveka), pelepasan (vossaga), dan kekosongan (sunnata).

Seperti yang dijelaskan penulisnya sendiri dalam bagian pendahuluannya, buku ini ditulis berdasarkan entri Ensiklopedia Buddhis yang disusun penulis sehingga setiap pembahasan tidak perlu dibaca berurutan dari awal. Tujuan buku ini adalah untuk menyediakan bahan bagi kepentingan praktis bagi mereka yang mempelajari ajaran Buddha sebagai suatu sistem pengembangan mental/batin. Jadi, benar-benar sebuah buku yang sangat bermanfaat baik bagi semua kalangan Buddhis baik akademisi maupun praktisi Buddhis.

Link download:
Bagian 1: http://www.buddhismu...FromCraving.pdf
Bagian 2: http://www.buddhismu...romGrasping.pdf

rj1pgw.jpg


#2 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 06 May 2013 - 09:50 PM

Berikut saya menerjemahkan buku ini sedikit demi sedikit dan untuk kerapian, thread ini saya tutup.

rj1pgw.jpg


#3 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 06 May 2013 - 10:01 PM

Jalan-Jalan ke Dunia Pikiran dari Kotbah-Kotbah Pali

oleh: Bhikkhu Analayo

Bagian Pertama:
Dari Keinginan Menuju Pembebasan


Pendahuluan

Esai-esai yang dikumpulkan dalam buku ini merupakan versi yang direvisi dari entri-entri yang mulanya diterbitkan dalam Encyclopaedia of Buddhism, Sri Lanka. Penekanan utama saya dalam setiap kasus adalah untuk menjelajahi suatu istilah tertentu dari perspektif kotbah-kotbah awal Pali, sedangkan sumber-sumber lain – apakah karya-karya Pali yang belakangan, karya Mandarin yang sejajar, atau publikasi tentang hal tersebut yang ada – dianggap hanya dalam mode pelengkap.

Bagian pertama dari buku ini berhubungan terutama dengan faktor-faktor atau keadaan pikiran yang merugikan dan perlu untuk diatasi, bagian pertengahan beralih ke pengembangan pandangan terang, sedangkan bagian terakhir mengambil tema yang berhubungan dengan tujuan pengembangan demikian.

Demikianlah pemilihan mulai dengan menyelidiki “keinginan” dan “nafsu” sebagai akar kekotoran pikiran yang perlu dipahami dan diatasi. Mempertimbangkan bahwa nafsu sangat mirip dengan nafsu indera, yang pertama dalam daftar standar dari lima rintangan, pemilihan melewati istilah ini dan secara langsung beralih ke empat rintangan sisanya dari “niat jahat”, “kelambanan dan kemalasan”, “kegelisahan dan kecemasan” dan “keraguan”.

Menurut pemaparan standar dari kemunculan bergantungan, paticca samuppada, keinginan muncul bergantung pada perasaan, oleh karenanya pandangan terang harus dikembangkan berkaitan dengan perasaan sebagai salah satu aspek utama dari pengalaman manusia. Bagian kedua dari pemilihan ini memperhitungkan ini dengan menjelajahi pentingnya “perasaan” dan pengertian “perenungan terhadap perasaan”. Ini diikuti dengan suatu penyelidikan tentang “kebahagiaan” dan “keseimbangan”, keduanya yang adalah aspek dari perasaan dan pada saat yang sama istilah-istilah di mana arti pentingnya melampaui perasaan, karena keduanya adalah juga buah dari latihan pandangan terang yang berhasil, topik dari bagian terakhir dari buku ini.

Tema-tema sisanya yang diambil dalam bagian terakhir ini adalah “pengetahuan dan pandangan berdasarkan kenyataan” – tujuan pengembangan pandangan terang – dan konsep “pembebasan” dalam kotbah-kotbah Pali, yang mencakupi pencapaian dalam bidang ketenangan dan pandangan terang.

Sementara saya berusaha untuk menyusun topik-topik di atas dalam suatu cara yang bermakna, esai-esai dalam buku ini mulanya ditulis sebagai kontribusi independen. Mereka tidak membangun satu sama lain dan dengan demikian dapat dibaca dalam urutan apa pun yang disukai pembaca.

Ketika merevisi artikel-artikel Ensiklopedia aslinya, saya berusaha menyesuaikan penyajian saya pada para pembaca umum. Dengan demikian saya membuang catatan kaki da menggunakan tanda kurung untuk menyediakan referensi-referensi, memaksudkan dengan prosedur ini untuk membuatnya lebih muda bagi pembaca untuk meloncati informasi yang tidak segera diminati. Secara umum saya harap bahwa, tanpa mengorbankan kekakuan akademik, saya dapat menyajikan bahan-bahan dari kepentingan praktis bagi mereka yang mendekati Buddhisme sebagai suatu sistem pengembangan mental.

Menutup pendahuluan ini, saya ingin mengungkapkan terima kasih saya kepada semua yang telah membantu saya dengan berkomentar pada kumpulan ini dalam tahap drafnya, kepada penyunting Encyclopaedia of Buddhism untuk memberikan saya izin hak cipta, dan kepada Bhikkhu Bodhi untuk telah meletakan landasan pada semua tulisan saya melalui pengajaran beliau yang berbaik hati. Tidak perlu dikatakan, saya sendiri bertanggung jawab atas semua kesalahan sisanya.

1. Keinginan / Tanha


Berdasarkan analisis Buddhis awal terhadap kehidupan, keinginan atau tanha adalah sebab akar dari keadaan samsara yang sulit, yang menjadi faktor utama yang bertanggung jawab atas timbulnya dukkha, seperti yang disoroti dalam kebenaran mulia kedua. Disebabkan peran sangat pentingnya sebagai sebab utama keterikatan ini, tanha menjadi ciri khas dalam berbagai bacaan dan isi dari kotbah-kotbah awal dan membentuk topik dari sebuah keseluruhan bab dalam Dhammapada (Dhp 334-359).

Dalam esai ini, saya akan pertama-tama menjelajahi sifat dari tanha dengan bantuan sejumlah perumpamaan dari kotbah-kotbah Pali, yang membawakan berbagai aspek dari tanha (1.1). Berikutnya saya akan menyelidiki berbagai jenis keinginn dan mengkaji dalam beberapa rincian konsep keinginan terhadap ketiadaan, vibhavatanha (1.2). Setelah menjelajahi sifat keinginan, saya akan melanjutkan denagn menyelidiki munculnya keinginan (1.3), pengertian dari penghentiannya (1.4), dan langkah-langkah yang harus diambil untuk tiba pada kebebasan dari tanha (1.5).

1.1 Perumpamaan Keinginan


Istilah tanha secara harfiah berarti “kehausan”, suatu makna yang digemakan juga dalam sinonim dekatnya tasina. Tanha – sebagai suatu jenis kiasan dari kehausan yang menuntut pemuasan keinginan-keinginan – berwujud sebagai suatu perasaan dari kekurangan atau keinginan, dan memiliki akarnya dalam ketidakpuasan. Berbagai aspek keinginan dicerminkan dalam penggunaan sejangkauan perumpamaan dan kiasan dalam kotbah-kotbah.

Satu gambaran demikan mengatakan tentang terperangkap oleh keinginan, tertangkap dalam jala keinginan. Gambaran ini muncul dalam sebuah kotbah dalam Anguttara-nikaya yang menyelidiki seratus delapan perwujudan keinginan (AN II 211-213). Kotbah itu mulai dengan membedakan delapan belas bentuk keinginan internal dan delapan belas bentuk keinginan eksternal. Perwujudan internal keinginan adalah berbagai cara khayalan yang mulai dari gagasan dasar “aku”, yang kemudian membawa pada khayalan dengan jenis “aku seperti ini”, “apakah aku akan berbeda?”, “dapatkah aku menjadi seperti ini”, dst. Rekan eksternal mereka muncul ketika gagasan “aku” yang sama ini berhubungan dengan dunia luar, sebagai contoh dalam bentuk “dengan ini aku”, dst. Menambahkan dua modus ini bersama, dan menghubungkan mereka dengan masa lampau, masa sekarang dan masa depan, menghasilkan seratus delapan cara keterikatan, di mana menurut kotbah Anguttara-nikaya ini sama dengan terperangkap oleh tanha, tanha-jalina.

Hubungan yang disajikan dalam kotbah Anguttara-nikaya di atas antara jala keinginan dan munculnya gagasan diri muncul kembali dalam Mahatanhasankhaya-sutta. Kotbah ini menunjukkan bahwa bhikkhu Sati, yang dengan keras kepala menganut pandangan salah bahwa kesadaran yang sama berpindah dalam samsara, tertangkap dalam jala besar keinginan, mahatanha-jala (MN I 271). Hubungan antara keinginan dan pandangan secara umum menjadi jelas dalam sebuah kotbah dalam Samyutta-nikaya, di mana menurut kotbah ini pandangan spekulatif tentang tujuan masa depan seorang Tathagata setelah kematian hanyalah suatu hasil dari kesenangan dalam keinginan, tanha-rama, menikmati dan bergembira dalam keinginan, tanha-rata tanha-samudita (SN IV 390).

Perumpamaan jala muncul kembali dalam hal keinginan secara umum dalam sebuah syair dalam Theragatha, yang membandingkan seseorang yang telah menghancurkan jala keinginan, tanha-jala, dengan bulan yang tidak bercacat pada suatu malam yang cerah (Th 306). Dhammapada juga menggunakan perumpamaan ini, ketika ia memperlawankan sifat bagaikan jala dari keinginan dengan kebebasan yang dicapai Sang Buddha yang, berbeda dengan bentuk jebakan demikian, memiliki jangkauan tak terbatas, ananta-gocara (Dhp 180).

Aspek keinginan sebagai suatu bentuk keterikatan, bandhana (SN I 8), yang mendasari perumpamaan jala, juga muncul kembali dalam perumpamaan lain. Dikuasai keinginan, tasina, makhluk-makhluk berjalan berputar-putar yang dibandingkan dengan seekor kelinci yang tertangkap dalam perangkap (Dhp 342). Diliputi oleh selubung keinginan, tanha-chadana-chadita, mereka berada dalam keterikatan seperti seekor ikan dalam jebakan (Ud 76).

Gagasan keterikatan atau ikatan bersama juga mendasari suatu perumpamaan yang menyajikan keinginan sebagai seorang tukang jahit, tanha sibbani. Tukang jahit ini menjahit bersama kontak, munculnya dan lenyapnya; atau jika tidak ia menjahit bersama masa lampau, masa depan dan masa sekarang; atau jika tidak kesenangan, penderitaan, dan bukan-kesenangan-juga-bukan-penderitaan; atau jika tidak nama, bentuk dan kesadaran; atau jika tidak alat-alat indera, objek-objek indera dan kesadaran; atau jika tidak personalitas, munculnya dan lenyapnya (AN III 399-402, mengomentari Sn 1042). Apa pun dari perspektif yang saling melengkapi ini dianggap sebagai tukang jahit keinginan, hasilnya adalah kelanjutan kemenjadian, bhava, dan oleh karenanya kelanjutan dukkha.

Keinginan yang melekat ini, tanha visattika (Dhp 335), adalah suatu gandar yang mengikat makhluk-makhluk dalam kehidupan, tanha-yoga (It 50). Ia menyebabkan makhluk-makhluk menanggung beban lima kelompok unsur kehidupan, tanha vuccati bharadanam (SN III 26); kenyataanya ia bertanggung jawab untuk setiap kemunculan dan kehidupan suatu makhluk, satta (SN III 190). Saat kematian, makhluk yang demikian akan dibawa ke dalam kelahiran kembali berikutnya berdasarkan keinginan, tanhupadana, bagaikan suatu nyala api yang dibawa angin (SN IV 400). Yaitu, dari perspektif yang berkelana dalam samsara, keinginan adalah belenggu yang terbesar, tanha-samyojana (It 8).

Kumpulan gambaran lain berkembang di sekeliling tema tentang pertumbuhan secara alami. Gambaran ini memperingatkan kita atas bahaya mengizinkan keinginan untuk mengikuti jalan alaminya, dengan demikian menjadi selamanya lebih kuat. Aspek ini dapat dilihat dalam sebuah syair Dhammapada yang membandingkan kesuburan dari kecenderungan yang mendasari keinginan, tanhanusaya, dengan sebatang pohon yang tumbuh lagi setelah ditebang. Hal yang sama, selama akar-akarnya dibiarkan utuh, keinginan akan tumbuh (Dhp 338). Oleh karena itu keinginan bersama dengan akarnya perlu untuk dilenyapkan (SN I 16).

Gagasan pertumbuhan muncul kembali dalam sebuah kotbah dalam Anguttara-nikaya, di mana menurut kotbah ini keinginan adalah kelembaban, tanha sineho, di mana karenanya benih kesadaran tumbuh dalam lahan karma (AN I 223). Keinginan bagaikan sebuah tanaman menjalar, tanha-lata (Th 1094), yang perlu dipotong untuk mencapai kebebasan. Sebuah syair dalam Dhammapada mengambil gambaran yang sama, dengan menunjukkan bahwa dalam kasus mereka yang tidak waspada, keinginan akan tumbuh bagaikan sebuah tanaman menjalar, maluva viya (Dhp 334). Sebagai akibatnya, syair yang sama menjelaskan, makhluk-makhluk berlanjut dari satu kehidupan ke yang lain, yang dibandingkan dengan seekor monyet yang melompat dari pohon ke pohon mencari buah.

Perumpamaan monyet yang melompat dari pohon ke pohon menyediakan jalan yang baik pada gagasan berkelana tiada akhir, suatu gagasan yang muncul di depan kumpulan gambaran lain yang menghubungkan keinginan dengan arus sungai. Tidak ada arus sungai seperti keinginan, n’atthi tanhasama nadi, sebuah syair Dhammapada memperingatkan (Dhp 251). Bacaan lain menunjukkan bahwa mereka yang berada di bawah kekuatan keinginan dibawa sepanjang arus, tanhadhipanna anusota-gamino (AN II 6). Karenanya tugas untuk memotong sepenuhnya keinginan bagaikan mengeringkan sebuah sungai yang mengalir cepat (Sn 3). Dengan pemahaman sepenuhnya atas keinginan, banjir akan diseberangi (Sn 1082), dan seseorang yang telah sepenuhnya melenyapkan keinginan, seorang Arahat, adalah seorang yang telah memotong arus, chinna-soto (SN IV 292).

Perlakuan yang lebih rinci atas gambaran arus dapat ditemukan dalam sebuah kotbah dalam Itivuttaka (It 113-115). Kotbah ini menggambarkan seorang laki-laki yang membiarkan dirinya dibawa sepanjang arus yang tenang. Seorang yang melihat dari tepi sungai itu memperingatkan laki-laki itu bahwa segera sungai itu akan menuju pada sebuah kolam dengan pusaran air dan makhluk-makhluk berbahaya. Bertemu dengan bahaya-bahaya ini, laki-laki yang terbawa sepanjang arus itu akan menderita kematian atau berjumpa dengan penderitaan yang sama dengan kematian. Gambaran ini menggambarkan sifat berbahaya dari arus keinginan dan menyuarakan peringatan keras terhadap yang mengalah pada semua tarikan yang terlalu kuatnya. Seluruh dunia, kenyataannya, dibawa ke sini dan di sana dengan kekuatan tarikan keinginan, tanhaya niyati loko (SN I 39). Keadaan sulit yang tidak berdaya yang berakibat dari jatuh dimangsa keinginan disoroti lagi dalam perumpamaan lain, yang membandingkan makhluk-makhluk di bawah pengaruh keinginan terhadap keberadaan, tanha-gatam bhavesu, untuk memancing dengan tipu daya dalam air yang akan mengering (Sn 776-777).

Bahaya yang melekat dalam mengalah pada keinginan, di mana perumpamaan ini memperingatkan, menjadi bahkan lebih jelas dalam kumpulan perumpamaan lain yang membandingkan keinginan dengan sebuah anak panah atau panah. Dunia terkena anak panah keinginan ini, tanha-sallena otinno (SN I 40), selalu terbakar oleh nafsu keinginan. Gambaran yang sama juga muncul kembali dalam beberapa syair dalam Theragatha, di mana para bhikkhu merumuskan tekad kuat bahwa mereka tidak akan mengambil makanan atau meninggalkan gubuk mereka (Th 223 dan 313), atau bahkan duduk sama sekali (Th 514), sampai anak panah keinginan akhirnya dicabut.

Sunakkhatta-sutta menyajikan latar belakang tambahan pada gambaran anak panah (MN II 260), dengan menjelaskan bahwa anak panah keinginan diolesi dengan racun ketidaktahuan dan telah mengenai luka enam landasan indera internal. Ahli bedah yang menarik keluar anak panah keinginan dari luka ini adalah Sang Tathagata, dan untuk mencabut anak panah ini membutuhkan perhatian sebagai alat bantunya dan kebijaksanaan mulia sebagai pisaunya. Sang Buddha sebagai tabib yang baik yang mengajarkan jalan menuju kebebasan dari keinginan oleh sebab itu disebut penghancur anak panah keinginan, tanha-sallassa hantara (SN I 192). Gambaran pelengkap juga diambil dari bidang penyakit fisik, yang menyajikan keinginan sebagai akar tumor, ganda-mula (SN IV 83), yang perlu dihancurkan untuk tiba pada keadaan batin yang sehat.

Sebuah kotbah dalam Samyutta-nikaya menunjukkan bahwa bahkan jika seorang bhikkhu tinggal di tempat yang jauh, jauh dari kontak dengan orang lain, sepanjang bhikkhu ini belum menghancurkan keinginan, ia tidak dapat benar-benar disebut sebagai seseorang yang tinggal dalam kesendirian. Alasannya adalah bahwa ia memiliki keinginan sebagai dirinya yang kedua, yaitu, sebagai temannya (SN IV 36).

Kotbah yang sama dengan demikian memperkenalkan gambaran lain yang berhubungan dengan keinginan: bahwa diri seseorang yang kedua, temannya yang selalu hadir, tanha dutiyo puriso (Sn 740). Gambaran ini membawa perasaan yang mendalam yang selalu hadir atas ketidakpuasan yang disebabkan keinginan, keinginan yang sangat mendarah daging dalam pengalaman kebiasaan seseorang atas dunia yang ia hampir bertanggung jawab. Kenyataannya, menurut bacaan lain tanha dapat dengan benar disebut suatu diri, tanha atta’ti (MN III 284). Yaitu, keinginan sangat berurat akar dalam pengalaman sehingga ia menjadi bagian dari perasaan identitas seseorang. Ini membuat pelenyapan keinginan semuanya lebih sulit, karena untuk mencapai kebebasan dari keinginan tidak hanya membutuhkan pengembangan pandangan terang di mana keinginan tidak dapat dielakkan berikatan dengan ketidakpuasan dan kekecewaan, tetapi juga membutuhkan pelepasan sebagian dari apa yang dialami sebagai “aku” dan “milikku”.

Teman yang selalu hadir ini sangat kuat dan sering mengambil peranan utama, sangat besar sehingga, dengan keinginan sebagai diri seseorang yang kedua, seseorang dengan mudah menjadi budak keinginan, tanha-dasa. Pengertian menjadi budak keinginan dinyatakan dalam Ratthapala-sutta (MN II 71). Menurut kotbah ini, Raja Koravya bingung oleh kenyataan bahwa Ratthapala yang muda dan sehat, putra orang terkaya di kota, telah memutuskan untuk meninggalkan semua miliknya dan sanak keluarganya di belakang untuk meninggalkan keduniawian sebagai bhikkhu Buddhis. Ketika menjelaskan kepada raja apa yang telah memotivasinya, Ratthapala menunjuk pada gambaran menjadi budak keinginan, tanha-daso.

Ditanya oleh raja untuk menyatakan pengertian gambaran ini, Ratthapala bertanya apakah yang akan dilakukan raja jika ia mendengar bahwa di antara daerah perbatasan di sebelah timur suatu negeri dapat ditemukan penuh dengan kekayaan dan mudah ditaklukkan. Sang raja menjawab bahwa ia pasti akan menaklukkannya. Ratthapala terus bertanya pertanyaan yang sama untuk daerah yang ditemukan di arah lain, termasuk daerah-daerah yang ditemukan jauh di seberang lautan. Dalam setiap kasus raja menyatakan bahwa ia akan berharap untuk menaklukkannya. Dengan cara ini, Ratthapala dapat membawa kembali raja pada ketidakpuasan dari kehausan kekuasaannya, suatu cara keinginan dengan sesuai dinyatakan dari bidang pengalaman raja sendiri. Secara cukup bertentangan, keinginan untuk lebih banyak kekuasaan itulah yang mengubah raja menjadi seorang budak, budak keinginan.

Edited by ariyakumara, 07 May 2013 - 06:25 AM.

rj1pgw.jpg


#4 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 07 May 2013 - 10:05 PM

1.2 Jenis-Jenis Keinginan

Penguraian standar kebenaran mulia kedua membedakan antara keinginan indera, kama-tanha, keinginan terhadap keberadaan, bhava-tanha, dan keinginan terhadap ketiadaan, vibhava-tanha (misalnya SN V 421). Yang pertama dari ini, keinginan indera, dapat berwujud dalam hubungan dengan salah satu dari enam indera, yang menghasilkan enam jenis keinginan berdasarkan masing-masing objek indera. Ini adalah enam tanha-kaya, yang terdiri dari rupa-tanha, sadda-tanha, gandha-tanha, rasa-tanha, photthabba-tanha dan dhamma-tanha (misalnya DN III 244). Keinginan terhadap keberadaan dapat berupa terhadap bentuk materi atau non-materi dari kehidupan, yang menghasilkan rupa-tanha dan arupa-tanha, di mana Sangiti-sutta mendaftarkannya bersama dengan nirodha-tanha, “keinginan terhadap kelenyapan” (DN III 216).

Sangiti-sutta juga menyajikan sekumpulan dari empat jenis keinginan yang lebih khusus berhubungan dengan kehidupan seorang bhikkhu atau bhikkhuni, cattaro tanhupadana, yang terdiri dari keinginan yang berhubungan dengan jubah, makanan, tempat tinggal dan bentuk kehidupan (DN III 228). Tiga yang pertama dari empat hal ini muncul kembali dalam Sutta-nipata (Sn 339).

Sebagai tambahan, keinginan dapat juga berhubungan dengan pandangan, ditthi-tanha (AN II 12), empat makanan (SN II 101), kekayaan (Dhp 355), atau kebutuhan secara umum, adana-tanha (Sn 1103).

Dari tiga jenis keinginan yang disebutkan dalam kebenaran mulia kedua, konsep yang membangkitkan minat tertentu adalah tentang keinginan terhadap “ketiadaan” atau “ketidak-menjadian”, vibhava. Untuk memastikan pengertian dari jenis keinginan ini, saya akan pertama-tama menyelidiki istilah vibhava itu sendiri, di mana setelahnya saya akan beralih ke vibhava-tanha.

Vibhava muncul secara teratur dalam kotbah-kotbah awal bersama dengan sinonim seperti “kemusnahan”, uccheda, dan “penghancuran”, vinasa. Suatu pandangan yang mengemukakan ketiadaan masa depan, vibhava-ditthi, adalah suatu ekstrem yang memiliki lawannya dalam pandangan yang mengemukakan keberadaan eksternal. Mereka yang menganut salah satu dari dua jenis pandangan ini berselisih satu sama lain dan, di bawah pengaruh keinginan dan kemelekatan, tidak akan dapat mencapai pembebasan (MN I 65). Tertangkap dalam dua jenis pandangan ini, manusia tertinggal di belakang atau melampaui terlalu jauh tujuan (It 43). Menganut vibhava-ditthi melampaui terlalu jauh tujuan, sebagai hasil dari kejijikan dengan kehidupan seseorang mengembangkan kesenangan dalam gagasan tentang ketiadaan, melihat pelenyapan diri saat kematian sebagai damai dan luhur.

Contoh nyata dari jenis pandangan anihilasionis yang mengemukakan ketiadaan masa depan adalah pendiran yang menurut Samannaphala-sutta dianut oleh Ajita Kesakambali (DN 155). Posisi yang dihubungkan dengannya menyatakan bahwa manusia hanyalah terdiri dari empat unsur. Ketika seseorang meninggal, semua yang terjadi adalah bahwa tubuh akan dibawa ke tempat kremasi, tulang-tulang akan menjadi putih dan semua persembahan berubah menjadi abu. Menganggap beberapa bentuk kehidupan setelah kematian, menurut ajaran ini, hanyalah omong kosong, karena orang bodoh dan orang bijaksana sama akan dimusnahkan saat kematian dan lenyap sepenuhnya. Seperti yang ditunjukkan Sandaka-sutta, menganut ajaran yang demikian mengubah penghidupan suatu kehidupan yang didedikasikan pada kemajuan spiritual tidak berarti (MN I 515).

Keadaan dari mereka yang menganut anihilasionisme sangat jelas digambarkan dalam Pancattaya-sutta, yang membandingkan keadaan menyedihkannya dengan seekor anjing yang diikat pada sebuah tiang dan terus-menerus berlari berputar-putar di sekeliling tiang ini (MN II 232). Poin dari gambaran ini adalah bahwa, walaupun didorong oleh kekecewaan dengan pengalaman personal, sakkaya, anihilasionisme tidak dapat melampaui pengertian yang melekat dari identitas. Alih-alih, anihilisionis tetap berlari, seakan-akan, berputar-putar di sekeliling keberadaan personal yang berusaha mereka tinggalkan. Dengan bagaimana pun cara para brahmana dan pertapa demikian dapat menyatakan vibhava sebagai jalan keluar dari bhava, mereka tidak akan dapat lepas dari keberadaan (Ud 33). Hanya dengan meninggalkan di belakang hal-hal yang terkait dengan vibhava dan bhava kemenjadian masa depan dapat dilampaui, vibhavanca bhavanca vippahaya ... khinapunabbhavo (Sn 514).

Pergeseran yang menentukan dari perspektif yang dibutuhkan untuk benar-benar melampaui kemenjadian dapat lebih baik dihargai setelah melihat lebih dekat pada suatu tekad yang disajikan sebuah kotbah dalam Samyutta-nikaya sebagai ungkapan dari pandangan anihilasionis, uccheda-ditthi (SN III 99). Tekad ini dibaca: “semoga aku tidak ada, semoga tidak ada bagiku, aku tidak akan ada dan tidak akan ada bagiku”, no c' assam, no ca me siya, na bhavissami, na me bhavissati. Kotbah Samyutta-nikaya menunjukkan bahwa tekad ini berakar dalam ketidaktahuan dan suatu ungkapan dari keinginan.

Tetapi sebuah kotbah dalam Anguttara-nikaya, mencatat jenis tekad ini sebagai yang tertinggi di antara pandangan heterodoks, aggam bahirakanam ditthigatanam (AN V 63). Alasan untuk penilaian yang disukai secara komparatif ini dalam kotbah Anguttara-nikaya mungkin bahwa ungkapan yang agak mirip dianut dalam lingkungan Buddhis, dengan perbedaan yang kecil tetapi meyakinkan. Ungkapan yang dimodifikasi dari tekad ini berbunyi: “semoga tidak ada, semoga tidak ada bagiku, tidak akan ada, dan tidak akan ada bagiku”, no c'assa, no ca me siya, na bhavissati, na me bhavissati (MN II 24; SN III 55; AN IV, 70; Ud 78). Dengan menggantikan rumusan orang pertama dalam bentuk kata kerja dengan orang ketiga, perlunya melampaui gagasan diri yang tersirat dalam pendekatan anihilasionis menjadi jelas.

Sebuah kotbah dalam Samyutta-nikaya menjelaskan bagaimana tekad ini dapat membawa pada pelenyapan belenggu-belenggu yang lebih rendah dan seterusnya menuju pembebasan akhir. Orang-orang duniawi yang tidak terlatih tidak menyadari bahwa masing-masing dari lima kelompok unsur kehidupan adalah tidak kekal, tidak memuaskan, dan tanpa diri. Para siswa mulia, sebaliknya, memahami sifat sejati dari lima kelompok unsur kehidupan dan setelah itu menerapkannya pada tekad “semoga tidak ada, semoga tidak ada bagiku, tidak akan ada, tidak akan ada bagiku”. Berlatih dengan cara ini, pelenyapan belenggu-belenggu yang lebih rendah dapat diharapkan (SN III 57).

Jika tekad ini tidak menyebabkan munculnya ketakutan, dan jika semua nafsu berkenaan dengan lima kelompok unsur kehidupan teratasi, maka kesadaran menjadi tidak berkembang, apatitthita, dan pembebasan akan dicapai. Anenjasappaya-sutta mencatat bahwa kemelekatan pada keseimbangan yang dikembangkan dalam cara ini perlu dihindari agar latihan sesuai dengan ungkapan ini membawa pada pembebasan akhir (MN II 265).

Berdasarkan Alagaddupama-sutta, para pertapa dan brahmana pada masa tersebut berpendapat bahwa Sang Buddha adalah seorang anihilasionis, karena mereka berpikir bahwa Beliau mengajarkan kemusnahan, penghancuran dan ketiadaan dari suatu makhluk yang ada, sato sattassa ucchedam vinasam vibhavam pannapeti (MN I 140). Sebagai tanggapan pada penilaian yang salah atas ajaran-Nya yang demikian, Sang Buddha menunjukkan bahwa apa yang Beliau ajarkan hanyalah dukkha dan penghentiannya.

Jenderal Siha dan Brahmana Veranja memiliki pemahaman salah atas ajaran Sang Buddha yang demikian. Sebagai tanggapan atas anggapan mereka bahwa Beliau adalah seorang anihilasionis, Sang Buddha menerima, dengan candaan, bahwa dalam suatu cara Beliau sesungguhnya dapat dianggap mengajarkan kemusnahan: Beliau mengajarkan kemusnahan keadaan-keadaan mental yang tidak bermanfaat, yaitu kemusnahan nafsu, kemarahan dan delusi (Vin I 235 = AN IV 182; Vin III 2 = AN IV 174).

Tidak hanya para pertapa dan brahmana, tetapi kadang-kadang bahkan para bhikkhu Buddhis dapat memiliki pemahaman yang salah dalam hal ini. Menurut sebuah kotbah dalam Samyutta-nikaya, bhikkhu Yamaka telah menyatakan bahwa seorang Arahat akan dimusnahkan saat kematian (SN III 109). Ini sama dengan mengadopsi salah satu dari empat cara meramalkan tujuan masa depan dari seorang yang tercerahkan, di mana menurut ini seorang Tathagata – suatu istilah yang kadangkala menunjuk pada seorang yang terbebaskan secara umum – ada setelah kematian, atau tidak ada, atau ada dan tidak ada, atau bukan ada juga bukan tidak ada.

Sang Buddha dengan konsisten menolak mengambil salah satu dari posisi ini (misalnya MN I 484). Masalah dasar yang terlibat dalam usulan demikian sama dengan satu usulan yang digambarkan dalam Pancattaya-sutta dengan perumpamaan seekor anjing yang terus-menerus berlari berputar-putar di sekeliling sebuah tiang di mana ia terikat, yang menunjukkan keberadaan diri yang diasumsikan di mana prediksi dibuat. Pernyataan salah Bhikkhu Yamaka diambil oleh Sariputta untuk penyelidikan yang lebih dekat, dengan akibatnya Yamaka harus mengakui bahwa tidak mungkin untuk menemukan seorang Tathagata dalam kebenaran dan kenyataan bahkan di sini dan sekarang, oleh karenanya apa yang dapat dikatakan tentang keberadaan atau ketiadaan masa depan seorang Tathagata setelah kematian (SN III 112).

Apa yang terjadi saat kematian seorang yang tercerahkan dijelaskan dengan singkat dan padat oleh samanera Adhimutta, yang akan dibunuh oleh sekawanan perampok. Tidak terganggu oleh ketakutan atas kematian apa pun, ia mengatakan kepada pemimpin kawanan itu bahwa, dari perspektifnya, tidak ada sebab untuk meratap pada kemungkinan akan dibunuh, karena hanya sankhara yang akan lenyap, sankhara vibhavissanti, tattha ka paridevana (Th 715).

Setelah penyelidikan atas istilah vibhava, kita sekarang akan siap untuk beralih ke keinginan terhadap ketiadaan atau ketidak-menjadian demikian, vibhava-tanha.

Contoh yang menyakinkan untuk keinginan demikian adalah niat bunuh diri, dalam pengertian keinginan jenis itu yang mendorong seseorang untuk secara sengaja mengakhiri kehidupan. Tetapi, karena vibhava-tanha secara eksplisit disebutkan dalam penyajian ringkas tentang munculnya dukkha dalam kebenaran mulia kedua, bersama dengan kekuatan pendorong dasar seperti keinginan indera dan keinginan terhadap keberadaan, kama-tanha dan bhava-tanha, seseorang mengharapkan vibhava-tanha akan memiliki pengertian yang lebih luas daripada semata-mata keinginan untuk melakukan bunuh diri.

Disini menariknya bahwa Brahmajala-sutta memberikan daftar tujuh landasan, vatthu, yang membawa pada munculnya pandangan anihilasionis (DN I 34; lihat juga Bodhi 1978). Tujuh hal ini adalah cara yang berbeda-beda mengidentifikasi sejenis diri dan kelenyapannya. Yang pertama dari tujuh cara ini mengidentifikasi diri dengan tubuh fisik, dengan menganggap bahwa dengan kematian tubuh diri akan musnah. Cara berpikir ini akan berhubungan dengan jenis penalaran yang mendorong bunuh diri, yang menganggap bahwa, dengan memotong kehidupan seseorang dan dengan sengaja membawa kematian pada tubuh fisik, semua masalah akan berakhir. Apakah ini didasarkan pada suatu kepercayaan tentang suatu diri atau hanya pada gagasan diri yang tersirat, dasar pemikiran di belakang usaha bunuh diri yang demikian akan menemukan solusi dengan berusaha lepas dari tubuh fisik.

Dalam perlakuannya atas pandangan anihilasionis, Brahmajala-sutta juga memberikan daftar kemungkinan mengidentifikasi diri dengan suatu tubuh fisik surgawi yang diberi makanan dengan makanan kasar, atau dengan tubuh buatan pikiran yang dianugerahi anggota tubuh dan indera-indera. Empat landasan terakhir untuk pandangan anihilasionis dalam Brahmajala-sutta meliputi empat pencapaian tak berbentuk, yaitu pencapaian ruang tanpa batas, kesadaran tanpa batas, ketiadaan, dan bukan-persepsi-pun-bukan-tanpa-persepsi.

Dari perspektif berusaha menemukan suatu makna yang lebih dalam dan ruang lingkup yang lebih luas dari pengertian untuk istilah vibhava-tanha, empat landasan terakhir untuk pandangan anihilasionis yang didaftarkan dalam Brahmajala-sutta membangkitkan minat. Mereka menyatakan bahwa ketiadaan atau ketidak-menjadian mungkin dibayangkan sebagai suatu tujuan untuk dicapai melalui latihan meditasi di India kuno, khususnya melalui pencapaian dari alam tak berbentuk mana pun.

Karena pengalaman dari alam-alam tak berbentuk ini memerlukan sejumlah keahlian dan latihan meditasi yang cukup, suatu pandangan anihilasionis yang berkaitan pada pencapaian atau pengalaman atas keadaan-keadaan ini tidak layak diasumsikan bahwa semua makhluk ditakdirkan pada anihilasionis demikian. Yaitu, dari perspektif para penganut pandangan demikian, anihilasi mungkin tidak dianggap sebagai takdir yang tidak dapat dielakkan dari semua makhluk, tetapi alih-alih sebagai suatu tujuan untuk dicapai melalui suatu bentuk yang benar dari latihan perilaku dan meditasi.

Gagasan di belakang tekad atas kemusnahan yang demikian dapat digabung dengan suatu bentuk realitas tertinggi, yang dianggap sama dengan ruang tanpa batas, atau kesadaran tanpa batas, atau ketiadaan, atau bukan-persepsi-pun-bukan-tanpa-persepsi. Dengan mencapai suatu penyatuan demikian saat kematian dari tubuh, sifat diri mana pun akan dengan berhasil dimusnahkan.

Dukungan atas penafsiran ini dapat dikumpulkan dari Dhatuvibhanga-sutta, yang menggambarkan pengembangan pandangan terang dan ketidakmelekatan yang berkaitan dengan pengalaman pencapaian tak berbentuk (MN III 244). Dalam bagian penutup dari penggambaran ini, Dhatuvibhanga-sutta menunjukkan bahwa pada titik ketinggian dari pengembangan meditatif dan kedewasaan pandangan terang ini seseorang akan bebas dari niat dan kehendak yang berkaitan dengan keberadaan atau berkaitan dengan ketiadaan, n' eva abhisankharoti nabhisañcetayati bhavaya va vibhavaya va.

Dalam konteks ini, niat dan kehendak yang berkaitan dengan vibhava kebanyakan pasti tidak menunjuk pada dorongan bunuh diri mana pun. Alih-alih, pengertian dari bacaan ini tampaknya bahwa seseorang yang telah mencapai keadaan pengembangan mental yang tinggi ini menjauhkan diri dari ketertarikan dalam berbagai bentuk kehidupan dan dalam jenis penyatuan dengan suatu realitas tertinggi, seperti yang tampak tersirat dalam penggambaran Brahmajala-sutta.

Bahwa beberapa orang yang sezaman dengan Sang Buddha menganggap kemusnahan sebagai suatu tujuan untuk dicapai melalui suatu cara perilaku dan latihan tertentu akan juga tersirat dalam tekad yang disebutkan di atas “semoga aku tidak ada, semoga tidak ada bagiku, aku tidak akan ada dan tidak akan ada bagiku”, no c' assam, no ca me siya, na bhavissami, na me bhavissati (SN III 99). Karena informasi ini dengan jelas melibatkan suatu tekad, di sini lagi ia tidak masuk akan menganggap bahwa semua makhluk ditakdirkan pada kemusnahan. Atau pun rumusan ini tidak muncul semata-mata sebagai ungkapan dari niat bunuh diri, sebaliknya kotbah yang disebutkan di atas dalam Anguttara-nikaya tidak akan menyatakan tekad ini sebagai yang tertinggi di antara pandangan-pandangan heterodoks (AN V 63). Alih-alih, apa yang dinyatakan tekad ini sangat mungkin adalah suatu bentuk kemusnahan yang membutuhkan usaha dan latihan, seperti yang sesungguhnya dibutuhkan untuk mencapai alam-alam tak berbentuk.

Dari perspektif ini, maka, vibhava-tanha dapat dipahami terdiri atas keinginan terhadap kemusnahan dalam suatu pengertian materialis dan spiritualis, yang menjangkau dari keinginan untuk menghancurkan tubuh fisik dengan bunuh diri sampai tekad untuk meninggalkan di belakang perasaan sifat diri melalui suatu penyatuan dengan suatu realitas tertinggi. Faktor yang menentukan yang dimiliki cara-cara keinginan yang berbeda ini secara umum adalah perasaan suatu diri yang diasumsikan yang tersembunyi di belakangnya. Dari suatu perspektif Buddhis, semua bentuk keinginan ini tak lain adalah perwujudan ketidaktahuan, karena betapa pun halusnya pengalaman yang mereka tujukan, kebenaran dari hal itu adalah bahwa pada pokoknya tidak ada suatu diri yang dimusnahkan.

rj1pgw.jpg





0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close