Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

Bagaimana Cara Menerapkan Buddhisme Di Kehidupan Nyata Dalam Setiap Nafas?


  • Please log in to reply
68 replies to this topic

#1 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 08 April 2014 - 06:54 PM

Saya seorang awam yang tertarik dengan ajaran Buddhisme. Saya senang membaca buku-buku Buddhisme dan belajar mempratekkan meditasi berdasarkan panduan yang ada. Setiap kali membaca Dhammapada selalu membuat pikiran saya terasa damai. Saya tidak tahu ini benar atau tidak, tapi saya menyimpulkan bahwa salah satu ajaran Buddha Gautama adalah manusia hidup dalam ilusi duniawi dan manusia tidak akan pernah mencapai kebahagian selama mereka masih terikat pada ilusi ini. Saya sangat setuju dengan ajaran ini. Saya melihat manusia begitu terikat dengan konsep uang, kekuasaan, posisi/jabatan, wanita, dan sebagainya. Bukan hanya itu, manusia selalu ingin "lebih" (lebih baik) dari manusia lain. Beruntungnya, Buddhisme mengajarkan teknik untuk menghindari jebakan duniawi ini. Oleh sebab itu, saya mencoba menerapkan latihan meditasi agar dapat menjernihkan pikiran. Kebetulan waktu ini saya menemukan buku panduan meditasi vipassana di Gramedia.

Permasalahan yang saya alami adalah walaupun menyadari jeratan duniawi, saya tidak menemukan cara untuk bebas darinya di dunia nyata. Saya merasa sangat sulit bagi orang2 untuk menerima bahwa deadline proyek dan keuntungannya hanyalah ilusi. Saya kemudian berhenti dari pekerjaan saya untuk mencari kehidupan yang lebih tenang. Tapi masalahnya, keluarga menginginkan saya untuk memiliki pekerjaan, mencari istri, memiliki anak, dan membangun bisnis. Saya merasa bahwa semua ini hanya akan membuat saya semakin terikat pada ilusi duniawi dimana pada akhirnya saya akan seperti robot yang tanpa sadar mengikuti program yang ditanamkan pada otaknya tanpa ada alasan untuk mempertimbangkan mengapa berbuat demikian.

Pertanyaan saya adalah, sebagai seorang awam non Buddisht, apa yang harus saya lakukan agar tetap memiliki pikiran yang jernih bebas ilusi duniawi di dunia nyata? Saya pernah mencoba mengikuti acara ibadah di beberapa vihara setempat, membuat saya menyadari bahwa ada banyak aliran Buddishme yang berbeda (buku2 yang saya baca merujuk ke satu ajaran Buddha Gautama, yang saya sendiri tidak tahu masuk ke aliran apa). Apakah mengikuti ibadah juga adalah sebuah ikatan duniawi yang berfokus pada acara, sosialisi, dan khotbah, membuat saya cepat lupa bahwa pikiran harus jernih dalam setiap nafas sehingga tidak terikat pada hal duniawi termasuk khotbah? Bila pemikiran ini salah, karena saya belajar dari buku secara otodidak, saya akan senang sekali bila ada yang mau membantu saya meluruskannya.

#2 wen78

wen78

    ....

  • Moderators
  • 37
  • 1,294 posts
  • 10 thanks

Posted 09 April 2014 - 12:12 AM

Permasalahan yang saya alami adalah walaupun menyadari jeratan duniawi, saya tidak menemukan cara untuk bebas darinya di dunia nyata. Saya merasa sangat sulit bagi orang2 untuk menerima bahwa deadline proyek dan keuntungannya hanyalah ilusi. Saya kemudian berhenti dari pekerjaan saya untuk mencari kehidupan yang lebih tenang. Tapi masalahnya, keluarga menginginkan saya untuk memiliki pekerjaan, mencari istri, memiliki anak, dan membangun bisnis. Saya merasa bahwa semua ini hanya akan membuat saya semakin terikat pada ilusi duniawi dimana pada akhirnya saya akan seperti robot yang tanpa sadar mengikuti program yang ditanamkan pada otaknya tanpa ada alasan untuk mempertimbangkan mengapa berbuat demikian.

hidup di keduniawian tidak berarti pasti terikat dengan ilusi duniawi.
melepaskan keduniawian dan menjadi Bhikku, tidak berarti pasti berhasil melepaskan ilusi duniawi.
hidup dimana-pun, di kota besar, di hutan, di sangha, ... dll, semuanya sama saja. perbedaannya hanya rintangan yg akan dilaluinya dalam melatih diri.
selain itu, juga ada tanggung jawab. dan tanggung jawab itu bisa bertambah atau berkurang tergantung hidup dimana.

saya juga pernah dalam kondisi tanpa arah, dimana seolah2 diri hanyalah sebuah 'robot'.
namun sebenarnya kondisi seolah2 diri hanyalah sebuah 'robot' adalah sebuah ilusi.





Pertanyaan saya adalah, sebagai seorang awam non Buddisht, apa yang harus saya lakukan agar tetap memiliki pikiran yang jernih bebas ilusi duniawi di dunia nyata? Saya pernah mencoba mengikuti acara ibadah di beberapa vihara setempat, membuat saya menyadari bahwa ada banyak aliran Buddishme yang berbeda (buku2 yang saya baca merujuk ke satu ajaran Buddha Gautama, yang saya sendiri tidak tahu masuk ke aliran apa). Apakah mengikuti ibadah juga adalah sebuah ikatan duniawi yang berfokus pada acara, sosialisi, dan khotbah, membuat saya cepat lupa bahwa pikiran harus jernih dalam setiap nafas sehingga tidak terikat pada hal duniawi termasuk khotbah? Bila pemikiran ini salah, karena saya belajar dari buku secara otodidak, saya akan senang sekali bila ada yang mau membantu saya meluruskannya.

boleh tau definisi pikiran jernih?

Lakukan apa yg seharusnya dilakukan, dan tidak melakukan apa yg seharusnya tidak dilakukan. ― ....


“Your beliefs become your thoughts, Your thoughts become your words, Your words become your actions, Your actions become your habits, Your habits become your values, Your values become your destiny.” ― Mahatma Gandhi


#3 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 09 April 2014 - 01:02 AM

Terima kasih sudah mau menjawab dan memberikan petunjuk.

saya juga pernah dalam kondisi tanpa arah, dimana seolah2 diri hanyalah sebuah 'robot'.
namun sebenarnya kondisi seolah2 diri hanyalah sebuah 'robot' adalah sebuah ilusi.


Bagi saya, masih sangat sulit sekali untuk bisa melihat kondisi saat ini sebagai ilusi. Saya memiliki tanggung jawab pada keluarga sebagai bentuk bakti sehingga tanggung jawab ini melekat pada pikiran saya. Di saat saya bekerja saya membangun portofolio, karir dan koneksi; padahal apa yang saya kejar tersebut tidak abadi. Di saat saya berkeluarga nanti; saya akan berjuang mendidik anak dan mengharapkan mereka sukses yang merupakan suatu harapan duniawi. Pada akhirnya saya berpikir bahwa saya seperti apa yang disebut sebagai 'orang bodoh' di Dhammapada dan buku2 Buddhisme yang saya baca. Saya terus melekat pada hal-hal duniawi padahal saya sadar bahwa mereka adalah ilusi yang membuat diri terlena. Ilusi tidak pantas untuk dikejar karena mereka adalah sumber sengsara. Bila diteruskan, saya merasa diri seperti seorang bodoh yang tahu tapi tidak melaksanakan.

boleh tau definisi pikiran jernih?


Mungkin saya memakai kata yang salah, mungkin seharusnya pikiran yang sadar? Yang saya maksud adalah pikiran yang seperti saat melaksanakan meditasi vipassana seperti yang saya baca di buku. Saat mendengar, sadar mendengar. Saat berbicara, sadar berbicara. Saat marah, sadar marah. Saat sedih, sadar sedih. Sadar, tapi tidak terbawa arus oleh pikiran, juga tidak memaksa untuk mengendalikan pikiran. Kalau saya tidak salah, tujuan dari Buddhisme adalah untuk mencapai kondisi pikiran seperti ini? Sulit sekali untuk menerapkan ini di dunia nyata, misalnya saat klien menolak proposal proyek, perasaan kecewa terkadang menjadi besar menguasai pikiran sehingga tidak sadar lagi. Saya menyebutnya tidak jernih karena biasanya pikiran menjadi liar dan tau2 berbagai tindakan lanjutan bisa terjadi tanpa saya sadari karena sudah terlelap dalam emosi tersebut.

#4 legend

legend

    Sekejap Saja

  • Moderators
  • 257
  • 5,704 posts
  • 80 thanks
  • LocationMalang

Posted 09 April 2014 - 06:27 AM

Bagi saya, masih sangat sulit sekali untuk bisa melihat kondisi saat ini sebagai ilusi. Saya memiliki tanggung jawab pada keluarga sebagai bentuk bakti sehingga tanggung jawab ini melekat pada pikiran saya. Di saat saya bekerja saya membangun portofolio, karir dan koneksi; padahal apa yang saya kejar tersebut tidak abadi. Di saat saya berkeluarga nanti; saya akan berjuang mendidik anak dan mengharapkan mereka sukses yang merupakan suatu harapan duniawi. Pada akhirnya saya berpikir bahwa saya seperti apa yang disebut sebagai 'orang bodoh' di Dhammapada dan buku2 Buddhisme yang saya baca. Saya terus melekat pada hal-hal duniawi padahal saya sadar bahwa mereka adalah ilusi yang membuat diri terlena. Ilusi tidak pantas untuk dikejar karena mereka adalah sumber sengsara. Bila diteruskan, saya merasa diri seperti seorang bodoh yang tahu tapi tidak melaksanakan.



Apa yang dilakukan oleh orang yang tercerahkan dengan orang awam dalam kehidupan sehari hari adalah sama, yang berbeda adalah kondisi batinnya. Kalau orang awam melakukan untuk mendapatkan sesuatu, sedangkan orang yang tercerahkan tidak untuk apa apa.


Mungkin saya memakai kata yang salah, mungkin seharusnya pikiran yang sadar? Yang saya maksud adalah pikiran yang seperti saat melaksanakan meditasi vipassana seperti yang saya baca di buku. Saat mendengar, sadar mendengar. Saat berbicara, sadar berbicara. Saat marah, sadar marah. Saat sedih, sadar sedih. Sadar, tapi tidak terbawa arus oleh pikiran, juga tidak memaksa untuk mengendalikan pikiran. Kalau saya tidak salah, tujuan dari Buddhisme adalah untuk mencapai kondisi pikiran seperti ini? Sulit sekali untuk menerapkan ini di dunia nyata, misalnya saat klien menolak proposal proyek, perasaan kecewa terkadang menjadi besar menguasai pikiran sehingga tidak sadar lagi. Saya menyebutnya tidak jernih karena biasanya pikiran menjadi liar dan tau2 berbagai tindakan lanjutan bisa terjadi tanpa saya sadari karena sudah terlelap dalam emosi tersebut.



Istilah yang tepat adalah kemelekatan batin. Karena itu melatih diri dengan Buddha Dharma untuk melepas kemelekatan batin.

Ibarat Telunjuk Menunjuk Ke Bulan, Demikian Juga Kata Kata Hanya Menunjuk Ke Kebenaran...:D


#5 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 09 April 2014 - 10:10 AM

@NullPointer: coba baca di Kehidupan Seorang Umat Awam Buddhis

rj1pgw.jpg


#6 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 09 April 2014 - 11:28 AM

Salam kenal Senior NullPoint.
Selamat berpesta demokrasi sahabat WDC.

Thread ini mirip dengan thread http://www.wihara.co...ead.php?t=16313
jadi bagaimana kalau kita berkoalisi saja untuk mendapatkan suara terbanyak dari pendukung di WDC?
:lol2:

Metode yang paling ideal menurut saya adalah menerapkan Jalan Mulia Berunsur Delapan alias Sila-samadhi-Panna.
Untuk saat ini (sudah jalan (masih dalam tahap pengembangan) beberapa tahun terakhir) saya menerapkan metode satipatthana/perhatiaan penuh.
karena metode ini saya rasa cocok, mudah dan praktis (hampir selalu bisa) dipakai setiap saat dan dimanapun.

Kuncinya, menggunakan sati sebagai pengamat setiap pemikiran atau kejadian yang muncul dan tenggelam.
Hanya sekedar mengamati. Tidak menolak dan tidak terseret oleh kelima kelompok kehidupan yang muncul.
Masih mengalami kesulitan memang, tapi tidak menyerah hanya karena alasan sulit, yang penting jangan berhenti berusaha.

#7 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 09 April 2014 - 03:08 PM

@NullPointer: coba baca di Kehidupan Seorang Umat Awam Buddhis


Artikel yang bagus. Saya harus berjuang lebih keras agar bisa seperti itu. Tapi ada satu pertanyaan yang timbul, bila umat tersebut menghabiskan setiap waktunya merenungi ajaran Buddha, bukankah ia akan menyadari bahwa semua aktifitasnya adalah ilusi duniawi? Bila ia sudah memahami hal tersebut, apakah ia akan terus bekerja dan berumah tangga? Bila ia paham apa yang ia kejar adalah ilusi duniawi dan ajaran Buddha adalah melepaskan diri dari ilusi tersebut, tapi ia sendiri masih ingin hidup dalam ilusi tersebut, bukankah ini sama seperti yang disebut sebagai orang bodoh yang tahu tapi tidak melakukan? Bukankah berbuat baik atau berderma sekalipun adalah ilusi duniawi? Pertanyaan ini yang membuat saya sulit menerapkan Buddhism dalam kehidupan sehari-hari.

Salam kenal Senior NullPoint.
Selamat berpesta demokrasi sahabat WDC.

Thread ini mirip dengan thread http://www.wihara.co...ead.php?t=16313
jadi bagaimana kalau kita berkoalisi saja untuk mendapatkan suara terbanyak dari pendukung di WDC?
:lol2:

Metode yang paling ideal menurut saya adalah menerapkan Jalan Mulia Berunsur Delapan alias Sila-samadhi-Panna.
Untuk saat ini (sudah jalan (masih dalam tahap pengembangan) beberapa tahun terakhir) saya menerapkan metode satipatthana/perhatiaan penuh.
karena metode ini saya rasa cocok, mudah dan praktis (hampir selalu bisa) dipakai setiap saat dan dimanapun.

Kuncinya, menggunakan sati sebagai pengamat setiap pemikiran atau kejadian yang muncul dan tenggelam.
Hanya sekedar mengamati. Tidak menolak dan tidak terseret oleh kelima kelompok kehidupan yang muncul.
Masih mengalami kesulitan memang, tapi tidak menyerah hanya karena alasan sulit, yang penting jangan berhenti berusaha.


Iya, pertanyaannya hampir sama. Sebagai seorang non-Buddhis yang tertarik, sejujurnya saya tidak pernah ke vihara atau membaca sutta selain membaca Dhammapada. Ada banyak doktrin Buddhism lain yang tidak saya mengerti. Saya akan mencoba membaca lebih lanjut tentang sila, samadhi dan panna. Terima kasih atas panduannya. Bisa hidup tidak melekat dalam kehidupan sehari-hari adalah sesuatu yang sulit, tapi memang pantas dikejar. Walaupun orang-orang akan melihat saya sebagai anak muda yang malas, tidak berambisi dan tidak bisa sukses di kehidupan, saya akan berusaha tetap memahami panduan Buddhism dan mungkin suatu hari nanti saya bisa membantu orang2 melihat bahwa kesuksesan yang mereka inginkan adalah ilusi yang semu.

#8 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 09 April 2014 - 04:06 PM

Artikel yang bagus. Saya harus berjuang lebih keras agar bisa seperti itu. Tapi ada satu pertanyaan yang timbul, bila umat tersebut menghabiskan setiap waktunya merenungi ajaran Buddha, bukankah ia akan menyadari bahwa semua aktifitasnya adalah ilusi duniawi? Bila ia sudah memahami hal tersebut, apakah ia akan terus bekerja dan berumah tangga? Bila ia paham apa yang ia kejar adalah ilusi duniawi dan ajaran Buddha adalah melepaskan diri dari ilusi tersebut, tapi ia sendiri masih ingin hidup dalam ilusi tersebut, bukankah ini sama seperti yang disebut sebagai orang bodoh yang tahu tapi tidak melakukan? Bukankah berbuat baik atau berderma sekalipun adalah ilusi duniawi? Pertanyaan ini yang membuat saya sulit menerapkan Buddhism dalam kehidupan sehari-hari.


Jika memang benar2 sudah menyadari bahwa kehidupan duniawi adalah semu, maka anda boleh memutuskan menjadi bhikkhu atau menjadi samanera terlebih dahulu. Berbuat kebajikan (sila) dan berderma (dana) bukanlah ilusi duniawi semata, namun termasuk landasan jasa selain meditasi/pengembangan batin (bhavana) karena dana dan sila mendukung seseorang mengembangkan batinnya dalam meditasi. Bagi anda yang masih baru dalam Buddhisme, menurut saya, jangan terburu-buru memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi, cobalah berlatih dahulu sebagai umat awam karena pada masa Sang Buddha hidup pun banyak umat awam yang mencapai kesucian (bahkan ada yang lebih baik daripada para bhikkhu). Jika memang sudah merasakan manfaat praktek Buddhisme yang sederhana ini dan benar2 ingin mendalami praktek yang lebih mendalam dengan tekad yang kuat, barulah anda bisa memutuskan untuk menjadi anggota monastik.

Baca juga thread dg topik serupa di http://www.wihara.co...ead.php?t=16197

rj1pgw.jpg


#9 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 09 April 2014 - 04:38 PM

Saya pernah berpikir untuk memilih jalan hidup tidak berkeluarga (tidak menikah) tapi juga tidak masuk anggota sangha (karena merasa belum memenuhi syarat) alias menjom blo.
Namun karena niatnya kurang kuat akhirnya memilih jalan berkeluarga juga dengan memanfaatkan segala yang ada dengan metode apa adanya (metode yang diperoleh dari mengikuti retreat dan belajar otodidak dari buku atau forum) dan harapannya nanti bisa menularkan sedikit banyak kepada keluarga.
:lol2:

Prinsipnya, tidak menuntut terlalu tinggi terhadap diri sendiri dalam hal keberhasilan jalan Dhamma juga tidak terlalu lalai dalam menempuh jalan ini.
Lebih baik sedikit demi sedikit (menyicil) tahapan latihannya daripada menyerah pada keadaan yang ada.

Hidup berkeluarga memang tidak mudah untuk menerapkan Dharma namun selalu ada kesempatan jika kita bijak menyiasati dan memanfaatkannya.
Saya pikir akar kamma (kamma bawaan) sangat berperan dalam hal ini, untuk itu kita mesti berusaha melanjutkan akar karma ini pada kehidupan saat kini.

Belajar atau berlatih BuddhaDhamma sangat penting untuk bisa mengatur iramanya, harus tahu kapan majunya dan kapan bertahan. Ada saatnya menambah semangat pelatihan dan ada saatnya melepas gas (mengerem).

#10 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 09 April 2014 - 04:49 PM

Artikel yang bagus. Saya harus berjuang lebih keras agar bisa seperti itu. Tapi ada satu pertanyaan yang timbul, bila umat tersebut menghabiskan setiap waktunya merenungi ajaran Buddha, bukankah ia akan menyadari bahwa semua aktifitasnya adalah ilusi duniawi? Bila ia sudah memahami hal tersebut, apakah ia akan terus bekerja dan berumah tangga? Bila ia paham apa yang ia kejar adalah ilusi duniawi dan ajaran Buddha adalah melepaskan diri dari ilusi tersebut, tapi ia sendiri masih ingin hidup dalam ilusi tersebut, bukankah ini sama seperti yang disebut sebagai orang bodoh yang tahu tapi tidak melakukan? Bukankah berbuat baik atau berderma sekalipun adalah ilusi duniawi? Pertanyaan ini yang membuat saya sulit menerapkan Buddhism dalam kehidupan sehari-hari.



Iya, pertanyaannya hampir sama. Sebagai seorang non-Buddhis yang tertarik, sejujurnya saya tidak pernah ke vihara atau membaca sutta selain membaca Dhammapada. Ada banyak doktrin Buddhism lain yang tidak saya mengerti. Saya akan mencoba membaca lebih lanjut tentang sila, samadhi dan panna. Terima kasih atas panduannya. Bisa hidup tidak melekat dalam kehidupan sehari-hari adalah sesuatu yang sulit, tapi memang pantas dikejar. Walaupun orang-orang akan melihat saya sebagai anak muda yang malas, tidak berambisi dan tidak bisa sukses di kehidupan, saya akan berusaha tetap memahami panduan Buddhism dan mungkin suatu hari nanti saya bisa membantu orang2 melihat bahwa kesuksesan yang mereka inginkan adalah ilusi yang semu.


Sebelumnya, mungkin Rekan Nullpointer berkenan menjelaskan apa yang dimaksud dengan ilusi duniawi? karena saya merasa ini yang menjadi point utama atau point penggerak yang mendorong terjadinya gejola batin diri Senior Nullpointer dan berusaha melepaskan darinya. Dan saya pikir ini cukup penting untuk kita bahas terlebih dahulu agar didapatkan solusi yang baik lagi.

silakan.

#11 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 09 April 2014 - 05:25 PM

Artikel yang bagus. Saya harus berjuang lebih keras agar bisa seperti itu. Tapi ada satu pertanyaan yang timbul, bila umat tersebut menghabiskan setiap waktunya merenungi ajaran Buddha, bukankah ia akan menyadari bahwa semua aktifitasnya adalah ilusi duniawi? Bila ia sudah memahami hal tersebut, apakah ia akan terus bekerja dan berumah tangga? Bila ia paham apa yang ia kejar adalah ilusi duniawi dan ajaran Buddha adalah melepaskan diri dari ilusi tersebut, tapi ia sendiri masih ingin hidup dalam ilusi tersebut, bukankah ini sama seperti yang disebut sebagai orang bodoh yang tahu tapi tidak melakukan? Bukankah berbuat baik atau berderma sekalipun adalah ilusi duniawi? Pertanyaan ini yang membuat saya sulit menerapkan Buddhism dalam kehidupan sehari-hari.



Jika kita membandingkan pandangan Anda dengan kehidupan nyata Buddha Gautama, yang mungkin menjadi landasan timbulnya pandangan seperti yang Anda pegang saat ini yaitu hidup adalah ilusi.

Menurut Anda, apa yang dilakukan atau dilakoni Sang Buddha dalam hidupnya (seperti yang kita baca dalam sejarah dan suttanya), apakah beliau menjalani suatu kehidupan yang ilusif ataukah tidak?
Misalnya Beliau membabarkan khotbah kepada orang lain, berpindapatta dan menikmati hasilnya, bermeditasi, dll, apakah kegiatan semacam ini tergolong ilusif ataukah real?

Jika ini dikatakan ilusif, bukankah ini akan menjadi persis seperti yang Anda katakan bahwa sudah tahu tapi masih melakukannya?

Jika dikatakan bukan ilusif lalu apakah kita menamakannya sebagai yang real, tapi sesuatu yang real bukankah seharusnya tidak pernah berubah?

#12 wen78

wen78

    ....

  • Moderators
  • 37
  • 1,294 posts
  • 10 thanks

Posted 09 April 2014 - 08:16 PM

Bagi saya, masih sangat sulit sekali untuk bisa melihat kondisi saat ini sebagai ilusi. Saya memiliki tanggung jawab pada keluarga sebagai bentuk bakti sehingga tanggung jawab ini melekat pada pikiran saya. Di saat saya bekerja saya membangun portofolio, karir dan koneksi; padahal apa yang saya kejar tersebut tidak abadi. Di saat saya berkeluarga nanti; saya akan berjuang mendidik anak dan mengharapkan mereka sukses yang merupakan suatu harapan duniawi. Pada akhirnya saya berpikir bahwa saya seperti apa yang disebut sebagai 'orang bodoh' di Dhammapada dan buku2 Buddhisme yang saya baca. Saya terus melekat pada hal-hal duniawi padahal saya sadar bahwa mereka adalah ilusi yang membuat diri terlena. Ilusi tidak pantas untuk dikejar karena mereka adalah sumber sengsara. Bila diteruskan, saya merasa diri seperti seorang bodoh yang tahu tapi tidak melaksanakan.



Mungkin saya memakai kata yang salah, mungkin seharusnya pikiran yang sadar? Yang saya maksud adalah pikiran yang seperti saat melaksanakan meditasi vipassana seperti yang saya baca di buku. Saat mendengar, sadar mendengar. Saat berbicara, sadar berbicara. Saat marah, sadar marah. Saat sedih, sadar sedih. Sadar, tapi tidak terbawa arus oleh pikiran, juga tidak memaksa untuk mengendalikan pikiran. Kalau saya tidak salah, tujuan dari Buddhisme adalah untuk mencapai kondisi pikiran seperti ini? Sulit sekali untuk menerapkan ini di dunia nyata, misalnya saat klien menolak proposal proyek, perasaan kecewa terkadang menjadi besar menguasai pikiran sehingga tidak sadar lagi. Saya menyebutnya tidak jernih karena biasanya pikiran menjadi liar dan tau2 berbagai tindakan lanjutan bisa terjadi tanpa saya sadari karena sudah terlelap dalam emosi tersebut.

berbalik ke pertanyaan awal,
agar tetap memiliki pikiran yang selalu sadar, harus melatih diri.
intinya, tidak aja 'jalan tol' untuk mencapainya.
teori memang mudah, prakteknya tidak semudah itu.

Lakukan apa yg seharusnya dilakukan, dan tidak melakukan apa yg seharusnya tidak dilakukan. ― ....


“Your beliefs become your thoughts, Your thoughts become your words, Your words become your actions, Your actions become your habits, Your habits become your values, Your values become your destiny.” ― Mahatma Gandhi


#13 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 10 April 2014 - 03:39 AM

Jika memang benar2 sudah menyadari bahwa kehidupan duniawi adalah semu, maka anda boleh memutuskan menjadi bhikkhu atau menjadi samanera terlebih dahulu. Berbuat kebajikan (sila) dan berderma (dana) bukanlah ilusi duniawi semata, namun termasuk landasan jasa selain meditasi/pengembangan batin (bhavana) karena dana dan sila mendukung seseorang mengembangkan batinnya dalam meditasi. Bagi anda yang masih baru dalam Buddhisme, menurut saya, jangan terburu-buru memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi, cobalah berlatih dahulu sebagai umat awam karena pada masa Sang Buddha hidup pun banyak umat awam yang mencapai kesucian (bahkan ada yang lebih baik daripada para bhikkhu). Jika memang sudah merasakan manfaat praktek Buddhisme yang sederhana ini dan benar2 ingin mendalami praktek yang lebih mendalam dengan tekad yang kuat, barulah anda bisa memutuskan untuk menjadi anggota monastik.

Baca juga thread dg topik serupa di http://www.wihara.co...ead.php?t=16197


Keluarga tidak akan menerima kondisi saya menjadi seorang biksu dan sebagai seorang anak sulung, saya masih ingin berbakti pada keluarga. Untuk sementara, saya akan menerima kenyataan menjadi orang bodoh yang sadar tapi tidak melakukan. Mungkin ini adalah pilihan yang terbaik.

Sebelumnya, mungkin Rekan Nullpointer berkenan menjelaskan apa yang dimaksud dengan ilusi duniawi? karena saya merasa ini yang menjadi point utama atau point penggerak yang mendorong terjadinya gejola batin diri Senior Nullpointer dan berusaha melepaskan darinya. Dan saya pikir ini cukup penting untuk kita bahas terlebih dahulu agar didapatkan solusi yang baik lagi.
silakan.


Jika kita membandingkan pandangan Anda dengan kehidupan nyata Buddha Gautama, yang mungkin menjadi landasan timbulnya pandangan seperti yang Anda pegang saat ini yaitu hidup adalah ilusi.

Menurut Anda, apa yang dilakukan atau dilakoni Sang Buddha dalam hidupnya (seperti yang kita baca dalam sejarah dan suttanya), apakah beliau menjalani suatu kehidupan yang ilusif ataukah tidak?
Misalnya Beliau membabarkan khotbah kepada orang lain, berpindapatta dan menikmati hasilnya, bermeditasi, dll, apakah kegiatan semacam ini tergolong ilusif ataukah real?

Jika ini dikatakan ilusif, bukankah ini akan menjadi persis seperti yang Anda katakan bahwa sudah tahu tapi masih melakukannya?

Jika dikatakan bukan ilusif lalu apakah kita menamakannya sebagai yang real, tapi sesuatu yang real bukankah seharusnya tidak pernah berubah?


Saya masih belum menemukan makna ilusi dan kenyataan yang sesungguhnya. Yang ada dalam benak saya adalah bila saya berkeluarga, saya memandang istri dan anak saya sebagai anggota keluar yang cantik dan lucu2. Saya akan terbiasa melekat pada pandangan ini padahal ini adalah ilusi (mereka akan tua dan meninggal). Pada saat berbisnis, walaupun dalam hati, saya ingin sekali menawarkan jasa dan produk secara gratis bagi mereka yang membutuhkan, saya tidak dapat melakukannya karena alasan biaya operasional (bahan mentah, karyawan, dsb). Lalu saya membuat alasan bahwa ini adalah win-win solution, kita saling membutuhkan. Konsep ini adalah sebuah ilusi yang saya pakai untuk meringankan perasaan bersalah dan mewajarkan mengambil keuntungan. Saya akan melekat pada konsep ilusi ini supaya saya punya alasan untuk berbisnis.

Saya tidak tahu banyak tentang kehidupan Sang Buddha, tapi saya merasa bila saya membayangkan kehidupannya di masa lampau, saya terikat pada sebuah ilusi, pandangan atas Buddha yang diciptakan oleh pikiran saya untuk memproyeksikan kehidupan Sang Buddha. Mengenai "tahu tapi masih melakukannya", dalam benak saya, ini tergantung pada si pelakunya. Bila Sang Buddha berkhotbah demi meningkatkan income vihara-nya, menambah jumlah pengikut, atau agar terkenal, maka ia adalah "tahu tapi masih melakukannya" seperti yang disebut2 dalam Dhammapada. Bila ia bermeditasi dan mengikuti ritual semata-mata karena ini adalah rutinitas atau demi tujuan tertentu, maka ia bisa saja terikat pada ilusi rutinitas dan tujuan yang kehilangan arti.

Dalam kasus saya di dunia nyata, misalnya, saya ingin membagi2kan produk secara gratis, tapi ada karyawan yang harus digaji, gedung yang disewa, pajak untuk dibayar dan biaya operasional lainnya. Saya sadar bahwa semua itu adalah sebuah konsep (misalnya konsep salary dan konsep pajak diciptakan oleh manusia di Barat). Konsep ini bukan kebenaran sejati sehingga saya menganggap mereka sebagai ilusi. Tapi bila saya berusaha melepaskan diri dari konsep ini, misalnya saya tetap membagi2kan produk secara gratis, maka karyawan akan meninggalkan saya dan bank akan menyita gedung2 saya. Memikirkan ini membuat ego saya membesar dan meronta ketakutan. Keterikatan ini membuat saya menderita. Agar lebih tenang, saya membuat konsep baru, "saya akan ambil keuntungan sedikit saja, yang penting masih bisa cukup hidup lah." Tapi konsep ini menimbulkan sebuah ketergantungan ilusi baru dimana pada kenyataannya, saya sendiri tidak tahu kapan hidup saya berakhir. Pada akhirnya, konsep "Yah, jalanin saja!" membuat saya seperti orang yang sadar tidak tidak melakukan (di Dhammapada). Saya sadar banyak konsep ilusi yang melekat pada pikiran saya, tapi saya tidak ingin lepas dari ilusi tersebut.

berbalik ke pertanyaan awal,
agar tetap memiliki pikiran yang selalu sadar, harus melatih diri.
intinya, tidak aja 'jalan tol' untuk mencapainya.
teori memang mudah, prakteknya tidak semudah itu.


Terima kasih. Saya akan berusaha semakin melatih diri.

#14 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 10 April 2014 - 08:07 AM

Bisa tidak kita mendefinisikan ilusi sebagai sesuatu yang tidak kekal (anicca), tidak tetap karena berubah terus menerus?
Misalnya :
- manusia akan berubah dari janin menjadi terlahirkan sebagai bayi,
- bayi akan beranjak dewasa, - - hidup akan menuju kematian, - yang sehat bisa menjadi sakit,
- dalam berbisnis tidak selalu mendapatkan keuntungan
- karyawan walaupun dibayarkan gajinya pun belum tentu akan bekerja dengan kita selamanya,
- khotbah Sang Buddha tidak berlangsung selamanya,
- bahkan ajaran Buddha tentang bagaimana melepaskan diri dari ilusi pun tidaklah kekal,
- dlsb.

Kok sepertinya segalanya bersifat ilusif?
Tidak ada yang bisa atau boleh dilekati dong?

Seperti kata senior Djoe, bagaikan bunga diangkasa yang tak dapat digenggam.

Segala yang berkondisi adalah tidak kekal.
Pertanyaannya, adakah sesuatu yang tidak berkondisi?

Segala fenomena adalah tanpa inti.
Atau segala sesuatu adalah sunya (kosong), kosong yang tidak benar-benar kosong karena berwujud.

Mengetahui segala sesuatu adalah kosong/ilusi tidak berarti harus menghindarinya namun seperti kata Anda yang penting tidak melekatinya.

Karena jika kita menghindari yang palsu/ilusi dan mengejar yang asli/kebenaran maka kita masih berada dalam lingkup kemelekatan, dan kita tahu permasalahannya ada di point kemelekatan bukan di soal ilusi atau realnya.

Karena yang ilusi bisa menjadi nyata dan yang nyata bisa menjadi ilusi.
Ingat peraturan no.1 : kosong adalah berisi, berisi adalah kosong.
:lol2:

Cmiiw.

#15 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 10 April 2014 - 10:39 AM

Bisa tidak kita mendefinisikan ilusi sebagai sesuatu yang tidak kekal (anicca), tidak tetap karena berubah terus menerus?
Misalnya :
- manusia akan berubah dari janin menjadi terlahirkan sebagai bayi,
- bayi akan beranjak dewasa, - - hidup akan menuju kematian, - yang sehat bisa menjadi sakit,
- dalam berbisnis tidak selalu mendapatkan keuntungan
- karyawan walaupun dibayarkan gajinya pun belum tentu akan bekerja dengan kita selamanya,
- khotbah Sang Buddha tidak berlangsung selamanya,
- bahkan ajaran Buddha tentang bagaimana melepaskan diri dari ilusi pun tidaklah kekal,
- dlsb.

Kok sepertinya segalanya bersifat ilusif?
Tidak ada yang bisa atau boleh dilekati dong?

Seperti kata senior Djoe, bagaikan bunga diangkasa yang tak dapat digenggam.

Segala yang berkondisi adalah tidak kekal.
Pertanyaannya, adakah sesuatu yang tidak berkondisi?

Segala fenomena adalah tanpa inti.
Atau segala sesuatu adalah sunya (kosong), kosong yang tidak benar-benar kosong karena berwujud.

Mengetahui segala sesuatu adalah kosong/ilusi tidak berarti harus menghindarinya namun seperti kata Anda yang penting tidak melekatinya.

Karena jika kita menghindari yang palsu/ilusi dan mengejar yang asli/kebenaran maka kita masih berada dalam lingkup kemelekatan, dan kita tahu permasalahannya ada di point kemelekatan bukan di soal ilusi atau realnya.

Karena yang ilusi bisa menjadi nyata dan yang nyata bisa menjadi ilusi.
Ingat peraturan no.1 : kosong adalah berisi, berisi adalah kosong.
:lol2:

Cmiiw.


Terima kasih atas pencerahannya. Iya, benar, masalahnya bukan di ilusinya tapi di kemelekatannya.

Mengetahui segala sesuatu adalah kosong/ilusi tidak berarti harus menghindarinya namun seperti kata Anda yang penting tidak melekatinya.


Bagaimana cara menerapkannya? Tidak menghindari, namun juga tidak melekatinya? Apakah yang dilakukan oleh umat Buddha dalam hal ini? Menerima konsep ilusi tersebut dan menganggapnya wajar? Misalnya, melihat selembar uang sebagai sekedar kumpulan angka, selembar kertas, atau manifestasi dari kekuasaan dan ambisi.

#16 hariyono

hariyono

    Fenomena WDC

  • Members
  • 170
  • 6,928 posts
  • 44 thanks

Posted 10 April 2014 - 10:49 AM

Setiap manusia menginginkan kebebasan dalam hidupnya.
Kebebasan untuk berkeinginan itu adalah menjadi harapan.
Tetapi benarkah ketika engkau memiliki kebebasan untuk berkeinginan akan membuat hidupmu benar-benar bebas?
Tidak,
karena itu justru membuatmu tidak bisa bebas dari berkeinginan.

Oleh sebab itu,
bebaskanlah dirimu dengan kebebasan dari berkeinginan,
maka engkau akan merasakan kebebasan yang sesungguhnya.
Keinginan tidak akan mengikatmu lagi untuk menikmati kebebasan.




#17 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 10 April 2014 - 11:56 AM

Setiap manusia menginginkan kebebasan dalam hidupnya.
Kebebasan untuk berkeinginan itu adalah menjadi harapan.
Tetapi benarkah ketika engkau memiliki kebebasan untuk berkeinginan akan membuat hidupmu benar-benar bebas?
Tidak,
karena itu justru membuatmu tidak bisa bebas dari berkeinginan.

Oleh sebab itu,
bebaskanlah dirimu dengan kebebasan dari berkeinginan,
maka engkau akan merasakan kebebasan yang sesungguhnya.
Keinginan tidak akan mengikatmu lagi untuk menikmati kebebasan.



Sepertinya saya sangat terikat pada konsep dan kata-kata. Saya hanya bisa menemukan ketiadaan ini di saat bermeditasi. Saat terjun ke dunia nyata, sangat sulit mencapai kondisi seperti saat bermeditasi. Tampaknya saya perlu lebih sering bermeditasi untuk tidak melekat pada konsep dan bisa melihat segala sesuatu apa adanya dengan pikiran yang sadar.

#18 yoh***s

yoh***s

    i dont know

  • Members
  • 31
  • 1,794 posts
  • 8 thanks

Posted 10 April 2014 - 01:15 PM

kalu aku boleh kasih saran dan partisipasi sbb :

tenang aja bro dan rilekskan semua unsur perpaduan yg menjadikan aku ... kemudian nikmati aja semuanya wkwkwkwk

dan pada saat ketika sdr tdk bisa menikmatinya lagi ,nah... saatnya berjuang untuk kebebasan sesuai seleranya masing2x wkwkwkwk

:lovely2:

#19 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 10 April 2014 - 01:52 PM

Terima kasih atas pencerahannya. Iya, benar, masalahnya bukan di ilusinya tapi di kemelekatannya.



Bagaimana cara menerapkannya? Tidak menghindari, namun juga tidak melekatinya? Apakah yang dilakukan oleh umat Buddha dalam hal ini? Menerima konsep ilusi tersebut dan menganggapnya wajar? Misalnya, melihat selembar uang sebagai sekedar kumpulan angka, selembar kertas, atau manifestasi dari kekuasaan dan ambisi.


Mengingat kembali kata-kata The One, "hidup adalah peran".
Yang saya tangkap dari pesan ini adalah kita bisa/berpotensi untuk hidup tanpa terjerat kemelekatan.
Berusaha tanpa melekat kepada aktifitas (usaha) tersebut.
Dari luar kita tampak melekat, tapi dari dalam kita mengetahui/menyadari itu hanyalah sebuah sandiwara belaka.

Ada pepatah seperti ini,
Ketika masih awam, melihat jembatan diam di atas aliran sungai.
Ketika mulai belajar Dharma, melihat jembatan yang bergerak sedangkan aliran sungai sebagai diam.
Di kala sudah tercerahkan, kembali melihat jembatan diam di atas aliran sungai.

Tentu ini hanya dapat dipahami oleh para Tercerahkan.

Menurut pemikiran saya (secara teoritis), orang yang sudah Tercerahkan tiada berbeda dengan orang awam, dalam hal penampilannya, yang membedakannya adalah kebijaksanaan dalam menanggapi fenomena alam.

Saya bukan seorang praktisi (yang bermeditasi), tapi hanya mengandalkan kemampuan menangkap dan merenung sekedarnya dalam kejadian sehari-hari, jadi agak sulit untuk menjelaskannya dari sisi meditasi.

Menurut saya, adalah berbeda antara menghindar dengan tidak melekat.
Menghindar mungkin lebih mudah dilaksanakan, tapi tidak melekat adalah lebih sulit dalam penerapannya.

Tidak melekat adalah upaya dari dalam diri.
Bekerja tanpa bekerja.
Berusaha tapi tidak berusaha.
Berdiskusi tapi bukan berdiskusi.
Menghindar tapi tidak menghindar.
Memahami tapi tidak memahami.

Sulit memang untuk mencapai tahap seperti ini, tapi sulit bukanlah berarti mustahil.
Dengan usaha yang tanpa henti, niscaya suatu hari akan mendatangkan hasil.
Yang penting ingat point utamanya, berusaha tapi tidak melekat kepada target atau hasil yang diincar, hanya sekedar menjalani.

Dan agar tidak melenceng ke arah yang salah, ingat the rule no.1 : sila, samadhi, panna.

Cmiiw.

#20 hariyono

hariyono

    Fenomena WDC

  • Members
  • 170
  • 6,928 posts
  • 44 thanks

Posted 10 April 2014 - 05:04 PM

Sepertinya saya sangat terikat pada konsep dan kata-kata. Saya hanya bisa menemukan ketiadaan ini di saat bermeditasi. Saat terjun ke dunia nyata, sangat sulit mencapai kondisi seperti saat bermeditasi. Tampaknya saya perlu lebih sering bermeditasi untuk tidak melekat pada konsep dan bisa melihat segala sesuatu apa adanya dengan pikiran yang sadar.





Benar !!
Itu adalah kemelekatan.

Tidak memiliki keakuan apapun, bebas dari keakuan, kosong dari aku-perasaan apapun tentang aku,
kosong dari ide dan pikiran tentang aku- adalah kemurnian sejati.
Kemurnian apapun yang benar-benar abadi tidak dapat menjadi kemelekatan dengan cara apapun,
Lepaskan tanpa ragu,
benar-benar bebas dari keakuan-inilah kemurnian sejati.
Ini bukanlah kemelekatan.
Kekosongan adalah kemurnian yang bukan kemelekatan.

Diri sendiri adalah kemelekatan.
Diri ini adalah kemelekatan.
Semua jenis kemelekatan masuk dalam dan sampai pada kata
‘diri sendiri’
atau
‘diri saya’.
Melekat pada keakuan sebagai keakuan,
dan kemudian karena menjadi milik keakuan,
melekat pada
‘saya’
dan
‘milik saya’,
inilah kemelekatan sejati,
jantung dan jiwa kemelekatan.
Semua kemelakatan digabungkan dalam kata ‘atta.’
Dengan mengoyak kebodohan yang menciptakan atta,
juga sekaligus mengoyak atta itu sendiri,
maka semua kemelekatam akan hilang.
Bila anda berlatih anapanasati (perhatian penuh terhadap pernafasan) dengan benar sampai benar-benar sukses,
kesuksesan yang benar,
bukan khayalan, anda akan menghancurkan semua kemelekatan dengan menyeluruh.
Hancurkan atta,
maka semua kemelekatan akan hancur dan kita tidak akan pernah membangunnya lagi.
Semoga anda mengalami kesuksesan dalam menghancurkan kemelekatan,
yaitu atta, keakuan.



Semoga berguna

Semoga semua makhluk berbahagia





0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close