Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

Bagaimana Cara Menerapkan Buddhisme Di Kehidupan Nyata Dalam Setiap Nafas?


  • Please log in to reply
68 replies to this topic

#21 freedom

freedom

    Senior WDC

  • Moderators
  • 30
  • 1,301 posts
  • 8 thanks

Posted 10 April 2014 - 07:25 PM

Hi rekan NullPointer :)

Salam kenal.

Numpang ikutan posting ya.

CMIIW,
Jika saya membaca postingan kamu, sepertinya kamu menganggap begitu buruk dunia nyata dan ingin segera menghindarinya untuk mencapai bebas ilusi (mohon dikoreksi jika salah).

Postingan Om Hariyono sangat bagus,
Menurut saya, sebelum membebaskan diri dari dunia nyata (diluar diri), ada baiknya kamu memahami diri sendiri.

Teori yang pernah saya dengar,
Jika semua sudah kembali pada diri sendiri, segala sesuatu, gerakan, pikiran di inspeksi secara ketat, dari jam-menit-detik,
menurut saya, tiada hal dari luar diri yang dapat "menyentuh,merusak, mempengaruhi dan menggerakan" kamu diluar "kemauan" kamu.

saya akan seperti robot yang tanpa sadar mengikuti program yang ditanamkan pada otaknya tanpa ada alasan untuk mempertimbangkan mengapa berbuat demikian.

Saya suka dengan tulisan Om Hariyono :
Tidak memiliki keakuan apapun, bebas dari keakuan, kosong dari aku-perasaan apapun tentang aku,
kosong dari ide dan pikiran tentang aku- adalah kemurnian sejati.

Pergunakan ketidaksejatian dunia nyata, untuk mencapai apa yang kamu inginkan, keterbebasan dari ilusi.
Belajar dari "kebijaksanaan dan cintakasih" alam, belajar dari manusia, belajar dari hewan, belajar dari apa saja yang kamu temui.
Belajar memahami sebabjodoh yang ada dan itu semua ada di dunia nyata.

Mohon maaf, saya hanya menyampaikan teori saja.

Mohon dikoreksi jika ada tulisan saya yang salah dan mohon diberi petunjuk.

Terima kasih.

Semoga Semua Mahluk Berbahagia :)
~Peace Love
Freedom


#22 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 10 April 2014 - 08:20 PM

kalu aku boleh kasih saran dan partisipasi sbb :

tenang aja bro dan rilekskan semua unsur perpaduan yg menjadikan aku ... kemudian nikmati aja semuanya wkwkwkwk

dan pada saat ketika sdr tdk bisa menikmatinya lagi ,nah... saatnya berjuang untuk kebebasan sesuai seleranya masing2x wkwkwkwk

:lovely2:


Terima kasih atas sarannya. Saya cenderung berusaha untuk tidak menikmati kenikmatan karena rentan membuat pikiran terbawa arus dan terbuai dalam kenikmatan.

Mengingat kembali kata-kata The One, "hidup adalah peran".
Yang saya tangkap dari pesan ini adalah kita bisa/berpotensi untuk hidup tanpa terjerat kemelekatan.
Berusaha tanpa melekat kepada aktifitas (usaha) tersebut.
Dari luar kita tampak melekat, tapi dari dalam kita mengetahui/menyadari itu hanyalah sebuah sandiwara belaka.

Ada pepatah seperti ini,
Ketika masih awam, melihat jembatan diam di atas aliran sungai.
Ketika mulai belajar Dharma, melihat jembatan yang bergerak sedangkan aliran sungai sebagai diam.
Di kala sudah tercerahkan, kembali melihat jembatan diam di atas aliran sungai.

Tentu ini hanya dapat dipahami oleh para Tercerahkan.

Menurut pemikiran saya (secara teoritis), orang yang sudah Tercerahkan tiada berbeda dengan orang awam, dalam hal penampilannya, yang membedakannya adalah kebijaksanaan dalam menanggapi fenomena alam.

Saya bukan seorang praktisi (yang bermeditasi), tapi hanya mengandalkan kemampuan menangkap dan merenung sekedarnya dalam kejadian sehari-hari, jadi agak sulit untuk menjelaskannya dari sisi meditasi.

Menurut saya, adalah berbeda antara menghindar dengan tidak melekat.
Menghindar mungkin lebih mudah dilaksanakan, tapi tidak melekat adalah lebih sulit dalam penerapannya.

Tidak melekat adalah upaya dari dalam diri.
Bekerja tanpa bekerja.
Berusaha tapi tidak berusaha.
Berdiskusi tapi bukan berdiskusi.
Menghindar tapi tidak menghindar.
Memahami tapi tidak memahami.

Sulit memang untuk mencapai tahap seperti ini, tapi sulit bukanlah berarti mustahil.
Dengan usaha yang tanpa henti, niscaya suatu hari akan mendatangkan hasil.
Yang penting ingat point utamanya, berusaha tapi tidak melekat kepada target atau hasil yang diincar, hanya sekedar menjalani.

Dan agar tidak melenceng ke arah yang salah, ingat the rule no.1 : sila, samadhi, panna.

Cmiiw.


Terima kasih atas penjelasannya.

Bekerja tanpa bekerja. Berusaha tapi tidak berusaha. Kata2 ini mirip seperti di komik Zen yang saya baca. Sesungguhnya saya sampai sekarang masih belum memahami artinya.
Saya belum punya bayangan seperti apa kondisi pikiran untuk menerapkan hal ini, masih perlu banyak latihan lagi untuk memahaminya.

Benar !!
Itu adalah kemelekatan.

Tidak memiliki keakuan apapun, bebas dari keakuan, kosong dari aku-perasaan apapun tentang aku,
kosong dari ide dan pikiran tentang aku- adalah kemurnian sejati.
Kemurnian apapun yang benar-benar abadi tidak dapat menjadi kemelekatan dengan cara apapun,
Lepaskan tanpa ragu,
benar-benar bebas dari keakuan-inilah kemurnian sejati.
Ini bukanlah kemelekatan.
Kekosongan adalah kemurnian yang bukan kemelekatan.

Diri sendiri adalah kemelekatan.
Diri ini adalah kemelekatan.
Semua jenis kemelekatan masuk dalam dan sampai pada kata
‘diri sendiri’
atau
‘diri saya’.
Melekat pada keakuan sebagai keakuan,
dan kemudian karena menjadi milik keakuan,
melekat pada
‘saya’
dan
‘milik saya’,
inilah kemelekatan sejati,
jantung dan jiwa kemelekatan.
Semua kemelakatan digabungkan dalam kata ‘atta.’
Dengan mengoyak kebodohan yang menciptakan atta,
juga sekaligus mengoyak atta itu sendiri,
maka semua kemelekatam akan hilang.
Bila anda berlatih anapanasati (perhatian penuh terhadap pernafasan) dengan benar sampai benar-benar sukses,
kesuksesan yang benar,
bukan khayalan, anda akan menghancurkan semua kemelekatan dengan menyeluruh.
Hancurkan atta,
maka semua kemelekatan akan hancur dan kita tidak akan pernah membangunnya lagi.
Semoga anda mengalami kesuksesan dalam menghancurkan kemelekatan,
yaitu atta, keakuan.



Semoga berguna

Semoga semua makhluk berbahagia



Terima kasih atas panduannya, saya akan mencoba memahaminya dan menerapkannya sebisa mungkin dalam kehidupan sehari-hari.


Hi rekan NullPointer :)

Salam kenal.

Numpang ikutan posting ya.

CMIIW,
Jika saya membaca postingan kamu, sepertinya kamu menganggap begitu buruk dunia nyata dan ingin segera menghindarinya untuk mencapai bebas ilusi (mohon dikoreksi jika salah).

Postingan Om Hariyono sangat bagus,
Menurut saya, sebelum membebaskan diri dari dunia nyata (diluar diri), ada baiknya kamu memahami diri sendiri.

Teori yang pernah saya dengar,
Jika semua sudah kembali pada diri sendiri, segala sesuatu, gerakan, pikiran di inspeksi secara ketat, dari jam-menit-detik,
menurut saya, tiada hal dari luar diri yang dapat "menyentuh,merusak, mempengaruhi dan menggerakan" kamu diluar "kemauan" kamu.

saya akan seperti robot yang tanpa sadar mengikuti program yang ditanamkan pada otaknya tanpa ada alasan untuk mempertimbangkan mengapa berbuat demikian.

Saya suka dengan tulisan Om Hariyono :
Tidak memiliki keakuan apapun, bebas dari keakuan, kosong dari aku-perasaan apapun tentang aku,
kosong dari ide dan pikiran tentang aku- adalah kemurnian sejati.

Pergunakan ketidaksejatian dunia nyata, untuk mencapai apa yang kamu inginkan, keterbebasan dari ilusi.
Belajar dari "kebijaksanaan dan cintakasih" alam, belajar dari manusia, belajar dari hewan, belajar dari apa saja yang kamu temui.
Belajar memahami sebabjodoh yang ada dan itu semua ada di dunia nyata.

Mohon maaf, saya hanya menyampaikan teori saja.

Mohon dikoreksi jika ada tulisan saya yang salah dan mohon diberi petunjuk.

Terima kasih.

Semoga Semua Mahluk Berbahagia :)
~Peace Love
Freedom


Hi juga, terima kasih sudah mau memberikan panduan.

Jika saya membaca postingan kamu, sepertinya kamu menganggap begitu buruk dunia nyata dan ingin segera menghindarinya untuk mencapai bebas ilusi (mohon dikoreksi jika salah).


Sepertinya saya terlalu ekstrem atau melenceng, tapi saya hanya berusaha untuk tidak terikat pada konsep duniawi. Mungkin saya salah menangkap mengenai Buddhisme. Apakah benar bila saya menyimpulkan bahwa tujuan akhir dari penganut aliran Buddhisme adalah untuk melepaskan diri dari dunia nyata dan konsep-konsep duniawi?

Jika semua sudah kembali pada diri sendiri, segala sesuatu, gerakan, pikiran di inspeksi secara ketat, dari jam-menit-detik,
menurut saya, tiada hal dari luar diri yang dapat "menyentuh,merusak, mempengaruhi dan menggerakan" kamu diluar "kemauan" kamu.


Iya, dalam setiap meditasi, saya berusaha melihat segala sesuatu apa adanya. Keadaan ini membuat saya merasa nyaman, tenang dan tentram (dan ini adalah sebuah ilusi lagi dimana saya berusaha menyadari bahwa perasaaan nyaman ini tidak nyata, dan seterusnya). Apakah ini sudah benar? Saya membaca panduannya dari sebuah buku di Gramedia yang mengajarkan tentang meditasi Vipassana, tapi interpretasi bisa saja salah.

Permasalahannya, saat di dunia nyata, konsep duniawi seperti bisnis, cinta, politik, atau kekuasaan selalu muncul secara instan dalam pikiran saya. Pada saat bermeditasi, saya bisa menghembuskannya seiring nafas, mereka akan berlalu. Pada saat di dunia nyata, terutama saat berhadapan dengan manusia lain, konsep tersebut muncul secara instan dan mereka secara berantai menimbulkan buah pikiran lain sehingga pikiran saya tidak lagi kosong, melainkan penuh dengan konsep.

Solusinya, sepertinya saya memang harus berusaha lebih memahami ajaran Buddha, atau menyerah bila tidak sanggup.

#23 freedom

freedom

    Senior WDC

  • Moderators
  • 30
  • 1,301 posts
  • 8 thanks

Posted 10 April 2014 - 08:48 PM

Hi rekan NullPointer.

Oh, saya sangat berharap, semoga kamu tidak menyerah.

Mohon maaf, saya juga masih belajar mendalami Ajaran Buddha dan belum memahami secara nyata, hanya teori saja.
Dan saya belum paham meditasi.

Tiada yang ekstreem, selama kita masih membuka diri untuk menerima pemahaman dari lain (dengan catatan, diri sendiri punya "saringan").
Luarbiasa, kamu sudah mencapai tahap melihat segala sesuatu apa adanya.
Saya masih belajar untuk memahaminya, belum paham, apa itu "apa adanya", masih sering membuat kotak-kotak dalam tindakan, pikiran diri.

Saya yakin, Senior dan rekan-rekan WDC bersedia menjelaskan atas pertanyaan kamu.

Mari kita sama-sama bergandeng tangan, belajar dari semangat Sang Buddha, terus pantang menyerah, dengan tujuan, mencapai Kebebasan Sempurna.

Seiring dengan waktu, kita akan memahami dan menemukan jawaban dari pertanyaan, dengan catatan, jangan menyerah ya.

Sang Buddha bersabda, semua mahluk memiliki Benih Buddha.
Mari kita bersama-sama temukan "benih" tersebut, "tanam" di "tanah" dunia nyata, lalu beri "pupuk" dari Ajaran Buddha, lindungi dari "badai dan topan" pikiran dan tindakan tak terkontrol, menjadi pohon Kebebasan Sempurna.


Terima kasih.

Semoga Semua Mahluk Berbahagia :)

~Peace Love
Freedom
Nb. Jangan menyerah ya.


#24 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 11 April 2014 - 07:45 AM

Pengertian "berusaha tanpa berusaha" menurut saya mengarah pada point ketidakmelekatan.

Usaha, tindakan atau perbuatan tanpa disertai dengan kesadaran bisa berpotensi menjurus ke arah kebodohan, kebencian dan kemelekatan.
Dengan didahului oleh kesadaran sebelum bertindak atau melakukan sesuatu (baik oleh pikiran, ucapan dan jasmani) diharapkan dapat mencegah hal-hal yang tidak bermanfaat dan tidak baik, termasuk didalamnya faktor kemelekatan.

Jika kehidupan duniawi adalah ilusi dan ilusi harus dihindari, bagaimana dengan kehidupan Sang Buddha sendiri di dunia ini?
Tidakkah Beliau menjalankan sesuatu yang sia-sia?

Ada pepetah mengatakan bahwa "kehidupan sehari-hari adalah jalan".
Jika direnungkan, memang logis kata-kata bahwa "dengan menggunakan badan dan batin yang palsu ini, kita melatih diri untuk meraih yang asli (kebenaran)"
OKI, dikatakan bahwa terlahir sebagai manusia adalah kesempatan langka, dan bisa bertemu BuddhaDhamma adalah jauh lebih langka.

Mengejar hal duniawi adalah kemelekatan,
Mengejar Kebenaran sejati jugalah kemelekatan,
Menolak ilusi pun tidak terlepas dari unsur kemelekatan.
BuddhaDharma menawarkan solusi Jalan Tengah.

Sila, samadhi dan kebijaksanaan musti dijalankan berimbang.
Ketiganya saling menopang satu sama lain.
Jika kita fokus di salah satu saja dan menelantarkan yang lainnya maka hasilnya sulit untuk sempurna bahkan bisa menjadi racun atau menggigit balik.

#25 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 11 April 2014 - 07:58 AM

Mungkin Saudara Nullpointer bisa menggunakan metode sati atau perhatian penuh ini untuk membuktikan/melihat cara kerja pikiran dalam konteks "berusaha tanpa berusaha" ini.

Anda cukup mengamati saja apapun unsur batin (pemikiran, perasaan, persepsi, dan kesadaran) yang muncul, jangan menolak atau berusaha menghentikannya, juga jangan mengikuti atau terbuai olehnya.
Cukup memperhatikannya saja.

Lihat cara timbul dan lenyapnya, kemudian timbul dan lenyap lagi.
Kelebihan metode ini adalah ia bisa digunakan walaupun kita tidak sedang dalam posisi meditasi alias sedang beraktifitas seperti biasa.

#26 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 11 April 2014 - 09:17 AM

Sesuatu yang amat jelas dan pasti adalah setiap makhluk khususnya manusia manusia harus atau akan mati.
Dan dikatakan bahwa ketika mati, segala unsur yang membentuk "dirinya" akan luluh lantak, terurai satu persatu kembali ke sifat dasarnya masing-masing.

Barangkali hal inilah yang sering menjadi pendorong seseorang berpikiran bahwa hidup ini tidak kekal, hanya ilusi, dll.
Konon katanya ini juga yang melandasi seorang Pangeran Siddharta pergi meninggalkan kehidupan mewahnya sebagai seorang calon raja sekitar 2600 tahun yang lalu.

Manusia adalah pengejar kepuasan karena sangat sulit terpuaskan.
Semakin mengejar semakin pula haus akan kepuasan.
Kepuasan akan tampil sempurna ketika kita bisa menyukuri apa yang ada dan berhenti mengejarnya.

Namun konsep ini sering disikapi secara terbalik oleh sebagian orang sehingga mereka terlihat menjadi begitu pasif, lamban, malas atau tidak bersemangat.

Saya pikir, pemahaman yang benar terhadap konsep "berhenti mengejar" ini adalah menunjuk ke dalam batin bukanlah ke luar.
Dan pemahaman inilah yang melahirkan konsep, "mengejar tapi tidak mengejar".
Serta menjadi cikal bakal akan konsep "kosong adalah berisi, berisi adalah kosong".

Telaah juga peribahasa berikut ini :
"di luar tampak bergelombang/berombak besar, di dalam tenang bagaikan dasar lautan yang dalam".

Cmiiw.

#27 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 11 April 2014 - 12:18 PM

Hi rekan NullPointer.

Oh, saya sangat berharap, semoga kamu tidak menyerah.

Mohon maaf, saya juga masih belajar mendalami Ajaran Buddha dan belum memahami secara nyata, hanya teori saja.
Dan saya belum paham meditasi.

Tiada yang ekstreem, selama kita masih membuka diri untuk menerima pemahaman dari lain (dengan catatan, diri sendiri punya "saringan").
Luarbiasa, kamu sudah mencapai tahap melihat segala sesuatu apa adanya.
Saya masih belajar untuk memahaminya, belum paham, apa itu "apa adanya", masih sering membuat kotak-kotak dalam tindakan, pikiran diri.

Saya yakin, Senior dan rekan-rekan WDC bersedia menjelaskan atas pertanyaan kamu.

Mari kita sama-sama bergandeng tangan, belajar dari semangat Sang Buddha, terus pantang menyerah, dengan tujuan, mencapai Kebebasan Sempurna.

Seiring dengan waktu, kita akan memahami dan menemukan jawaban dari pertanyaan, dengan catatan, jangan menyerah ya.

Sang Buddha bersabda, semua mahluk memiliki Benih Buddha.
Mari kita bersama-sama temukan "benih" tersebut, "tanam" di "tanah" dunia nyata, lalu beri "pupuk" dari Ajaran Buddha, lindungi dari "badai dan topan" pikiran dan tindakan tak terkontrol, menjadi pohon Kebebasan Sempurna.


Terima kasih.

Semoga Semua Mahluk Berbahagia :)

~Peace Love
Freedom
Nb. Jangan menyerah ya.


Terima kasih atas dukungan dan semangantnya.

Pengertian "berusaha tanpa berusaha" menurut saya mengarah pada point ketidakmelekatan.

Usaha, tindakan atau perbuatan tanpa disertai dengan kesadaran bisa berpotensi menjurus ke arah kebodohan, kebencian dan kemelekatan.
Dengan didahului oleh kesadaran sebelum bertindak atau melakukan sesuatu (baik oleh pikiran, ucapan dan jasmani) diharapkan dapat mencegah hal-hal yang tidak bermanfaat dan tidak baik, termasuk didalamnya faktor kemelekatan.

Jika kehidupan duniawi adalah ilusi dan ilusi harus dihindari, bagaimana dengan kehidupan Sang Buddha sendiri di dunia ini?
Tidakkah Beliau menjalankan sesuatu yang sia-sia?

Ada pepetah mengatakan bahwa "kehidupan sehari-hari adalah jalan".
Jika direnungkan, memang logis kata-kata bahwa "dengan menggunakan badan dan batin yang palsu ini, kita melatih diri untuk meraih yang asli (kebenaran)"
OKI, dikatakan bahwa terlahir sebagai manusia adalah kesempatan langka, dan bisa bertemu BuddhaDhamma adalah jauh lebih langka.

Mengejar hal duniawi adalah kemelekatan,
Mengejar Kebenaran sejati jugalah kemelekatan,
Menolak ilusi pun tidak terlepas dari unsur kemelekatan.
BuddhaDharma menawarkan solusi Jalan Tengah.

Sila, samadhi dan kebijaksanaan musti dijalankan berimbang.
Ketiganya saling menopang satu sama lain.
Jika kita fokus di salah satu saja dan menelantarkan yang lainnya maka hasilnya sulit untuk sempurna bahkan bisa menjadi racun atau menggigit balik.


Selama ini mungkin saya terlalu berfokus ke samadhi dan terlalu terikat untuk mengejar kesadaran. Saya akan memperbaiki bagian ini dan melihatnya dari cara ini.

Salah satu alasan saya untuk berfokus ke kesadaran terlebih dahulu adalah sebuah pengalaman nyata. Pada suatu hari, saya pergi ke vihara yang cukup mewah dimana ada banyak patung-patung raksasa (dilihat dari sisi duniawi). Ini adalah untuk pertama kalinya saya mengikuti acara Buddhisme dalam grup kecil. Karena apa yang saya baca di buku dan saya kagumi tentang Buddhisme adalah sudut pandangnya mengenai kemelekatan, maka saya datang dengan pakaian sederhana: celana pendek, baju yang cukup lusuh. Saya pikir ini adalah salah satu bentuk ekspresi bahwa keindahan duniawi hanyalah ilusi dan semua orang memiliki posisi yang sama di vihara (bukan berdasarkan atribut duniawi mereka).

Pada saat acara akan dimulai, seorang bikuni yang memimpin acara seolah-olah menegur secara halus bahwa umat yang baik harus tampil secara rapi dan seindah mungkin dihadapan Buddha sebagai bentuk respek pada Buddha itu sendiri. Memakai pakaian yang lusuh adalah bentuk tidak respek pada Sang Buddha. Pada saat itu, perasaan kecewa muncul dalam pikiran saya (dan ini pastinya Mara yang sedang mempengaruhi saya bukan karena bikuni tersebut). Pakaian indah dan rapi adalah konsep duniawi. Respek harus dengan pakaian indah juga adalah konsep duniawi. Mengapa konsep duniawi harus diutamakan di vihara yang notabene mengejar kelepasan dari konsep duniawi? Seperti yang saudara bilang, belajar dari dunia ilusi, secara tidak langsung sang bikuni telah mengajarkan pada saya untuk lebih berhati-hati agar tidak terikat pada konsep duniawi.

Sejak saat itu, saya mengambil pandangan yang berbeda. Saya berusaha menyadarkan pikiran saya terlebih dahulu sebelum memantapkan diri beraktifitas di vihara. Hingga saat ini, saya masih berkutat di ketidakmelekatan. Tujuannya, bila saya sudah berada di vihara, saya berharap tidak akan mengutamakan konsep duniawi lagi nantinya. Patung2 besar, vihara serba luas, derma dari umat yang jumlahnya ribuan, gengsi dan prestige sangat gampang sekali mempengaruhi pikiran yang lemah dan tidak terlatih. Saya pikir Sang Buddha tidak mengutamakan ini bahkan ketika ajaranNya berkembang.

Tapi saran saudara memang tepat, bila saya terlalu mengutamakan samadhi, saya bisa masuk ke jalan yang salah yang menjadi racun yang menggigit balik. Saya akan berusaha merenungkan kembali pandangan saya.

Mungkin Saudara Nullpointer bisa menggunakan metode sati atau perhatian penuh ini untuk membuktikan/melihat cara kerja pikiran dalam konteks "berusaha tanpa berusaha" ini.

Anda cukup mengamati saja apapun unsur batin (pemikiran, perasaan, persepsi, dan kesadaran) yang muncul, jangan menolak atau berusaha menghentikannya, juga jangan mengikuti atau terbuai olehnya.
Cukup memperhatikannya saja.

Lihat cara timbul dan lenyapnya, kemudian timbul dan lenyap lagi.
Kelebihan metode ini adalah ia bisa digunakan walaupun kita tidak sedang dalam posisi meditasi alias sedang beraktifitas seperti biasa.


Terima kasih atas sarannya. Metode ini sepertinya hampir sama seperti vipasanna yang saya baca di buku dan saya pelajari selama ini.

Sesuatu yang amat jelas dan pasti adalah setiap makhluk khususnya manusia manusia harus atau akan mati.
Dan dikatakan bahwa ketika mati, segala unsur yang membentuk "dirinya" akan luluh lantak, terurai satu persatu kembali ke sifat dasarnya masing-masing.

Barangkali hal inilah yang sering menjadi pendorong seseorang berpikiran bahwa hidup ini tidak kekal, hanya ilusi, dll.
Konon katanya ini juga yang melandasi seorang Pangeran Siddharta pergi meninggalkan kehidupan mewahnya sebagai seorang calon raja sekitar 2600 tahun yang lalu.

Manusia adalah pengejar kepuasan karena sangat sulit terpuaskan.
Semakin mengejar semakin pula haus akan kepuasan.
Kepuasan akan tampil sempurna ketika kita bisa menyukuri apa yang ada dan berhenti mengejarnya.

Namun konsep ini sering disikapi secara terbalik oleh sebagian orang sehingga mereka terlihat menjadi begitu pasif, lamban, malas atau tidak bersemangat.

Saya pikir, pemahaman yang benar terhadap konsep "berhenti mengejar" ini adalah menunjuk ke dalam batin bukanlah ke luar.
Dan pemahaman inilah yang melahirkan konsep, "mengejar tapi tidak mengejar".
Serta menjadi cikal bakal akan konsep "kosong adalah berisi, berisi adalah kosong".

Telaah juga peribahasa berikut ini :
"di luar tampak bergelombang/berombak besar, di dalam tenang bagaikan dasar lautan yang dalam".

Cmiiw.


Ketika berhenti mengejar, bukankah orang-orang duniawi akan melihatnya sebagai pasif, lambat, malas dan tidak bersemangat?

Ketika dari dalam batin sudah tidak menginginkan apa pun lagi, bukankah dari luarnya secara otomatis akan tidak berambisi?

Ketika dalam batin sudah tidak ingin mengejar dan berhenti mengejar, walaupun seisi dunia mengejar kemewahan duniawi, bukankah dirinya dari luar juga tidak akan ikut arus mengejar kemewahan duniawi/ilusi?

Bila dirinya dari luar terlihat sama seperti orang2 duniawi lainnya yang mengejar kemewahan duniawi/ilusi, maka bukankah dalam pikirannya ada keinginan untuk mengejar ilusi tersebut? Bila tidak keinginan untuk mengejar dalam pikirannya, bagaimana dari luar, ia bisa terlihat mengejar?

#28 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 11 April 2014 - 01:11 PM

Terima kasih atas dukungan dan semangantnya.



Selama ini mungkin saya terlalu berfokus ke samadhi dan terlalu terikat untuk mengejar kesadaran. Saya akan memperbaiki bagian ini dan melihatnya dari cara ini.

Salah satu alasan saya untuk berfokus ke kesadaran terlebih dahulu adalah sebuah pengalaman nyata. Pada suatu hari, saya pergi ke vihara yang cukup mewah dimana ada banyak patung-patung raksasa (dilihat dari sisi duniawi). Ini adalah untuk pertama kalinya saya mengikuti acara Buddhisme dalam grup kecil. Karena apa yang saya baca di buku dan saya kagumi tentang Buddhisme adalah sudut pandangnya mengenai kemelekatan, maka saya datang dengan pakaian sederhana: celana pendek, baju yang cukup lusuh. Saya pikir ini adalah salah satu bentuk ekspresi bahwa keindahan duniawi hanyalah ilusi dan semua orang memiliki posisi yang sama di vihara (bukan berdasarkan atribut duniawi mereka).

Pada saat acara akan dimulai, seorang bikuni yang memimpin acara seolah-olah menegur secara halus bahwa umat yang baik harus tampil secara rapi dan seindah mungkin dihadapan Buddha sebagai bentuk respek pada Buddha itu sendiri. Memakai pakaian yang lusuh adalah bentuk tidak respek pada Sang Buddha. Pada saat itu, perasaan kecewa muncul dalam pikiran saya (dan ini pastinya Mara yang sedang mempengaruhi saya bukan karena bikuni tersebut). Pakaian indah dan rapi adalah konsep duniawi. Respek harus dengan pakaian indah juga adalah konsep duniawi. Mengapa konsep duniawi harus diutamakan di vihara yang notabene mengejar kelepasan dari konsep duniawi? Seperti yang saudara bilang, belajar dari dunia ilusi, secara tidak langsung sang bikuni telah mengajarkan pada saya untuk lebih berhati-hati agar tidak terikat pada konsep duniawi.

Sejak saat itu, saya mengambil pandangan yang berbeda. Saya berusaha menyadarkan pikiran saya terlebih dahulu sebelum memantapkan diri beraktifitas di vihara. Hingga saat ini, saya masih berkutat di ketidakmelekatan. Tujuannya, bila saya sudah berada di vihara, saya berharap tidak akan mengutamakan konsep duniawi lagi nantinya. Patung2 besar, vihara serba luas, derma dari umat yang jumlahnya ribuan, gengsi dan prestige sangat gampang sekali mempengaruhi pikiran yang lemah dan tidak terlatih. Saya pikir Sang Buddha tidak mengutamakan ini bahkan ketika ajaranNya berkembang.

Tapi saran saudara memang tepat, bila saya terlalu mengutamakan samadhi, saya bisa masuk ke jalan yang salah yang menjadi racun yang menggigit balik. Saya akan berusaha merenungkan kembali pandangan saya.

Tidak melekat bukan berarti harus menolak kemelekatan itu sendiri.
Misalnya, saya berusaha untuk tidak melekat kepada pakaian mewah, bukan berarti saya harus memakai pakai lusuh atau sengaja tidak mencucinya.
Ini adalah kemelekatan di atas kemelekatan yang lain alias keluar dari kemelekatan yang satu dan terjebak masuk ke kemelekatan lainnya.
Keduanya adalah pandangan yang salah.

Dikatakan bahwa pada jaman Sang Buddha ada petapa telanjang.
Mereka mendeklarasikan diri sebagai "yang kembali atau menyatu dengan alam", saya pikir itu bukanlah solusi yang bijak dalam menindaklanjuti untuk melepaskan diri dari kemelekatan duniawi.

Atau dalam kisah lainnya, Pangeran Siddharta yang bertapa ala penyiksaan diri, tanpa makan, tanpa istirahat.
Alhasil, penderitaan hebat yang didapat, alih-alih mencapai Penerangan.
Hasilnya (pencerahan sempurna) justrus diraih ketika Beliau menerapkan sistem keseimbangan/Jalan Tengah, tidak terlalu keras dan tidak terlalu kendor latihannya.
Menghindari kedua sisi ekstrim.

Jika segalanya adalah bersifat ilusi, lalu mengapa kita mesti membedakan yang satu dengan lainnya?
Jika kemewahan, kekayaan, kecantikan, ketampanan adalah ilusi, lalu apakah kebalikannya dari semua itu (kesederhanaan, kemiskinan, kelusuhan) adalah bukan ilusi?

Jika segalanya adalah ilusi, buat apalah kita merawat tubuh kita dengan cara makan, membersihkannya, melindunginya dari angin dan matahari?
Bahkan, untuk apa kita membahas ini semua di sini dan sekarang, bukankah semua omongan ini adalah ilusi belaka?

Justru, bukankah banyak orang telah mendapatkan Kebenaran dari tubuh ilusi ini, dari konsep ajaran (Dhamma), dan dari fenomena ilusi lainnya?

Kembali, point utamanya adalah di kemelekatan bukan tampilan objek atau fenomena lingkungan, termasuk diri kita.
Dan kemelekatan adalah berasal dari batin kita, dan lenyap persis di batin (pikiran) juga.
Bukan di tempat lain.

Terima kasih atas sarannya. Metode ini sepertinya hampir sama seperti vipasanna yang saya baca di buku dan saya pelajari selama ini.

Ya kalau tidak salah termasuk.

Ketika berhenti mengejar, bukankah orang-orang duniawi akan melihatnya sebagai pasif, lambat, malas dan tidak bersemangat?

Ketika dari dalam batin sudah tidak menginginkan apa pun lagi, bukankah dari luarnya secara otomatis akan tidak berambisi?

Ketika dalam batin sudah tidak ingin mengejar dan berhenti mengejar, walaupun seisi dunia mengejar kemewahan duniawi, bukankah dirinya dari luar juga tidak akan ikut arus mengejar kemewahan duniawi/ilusi?

Bila dirinya dari luar terlihat sama seperti orang2 duniawi lainnya yang mengejar kemewahan duniawi/ilusi, maka bukankah dalam pikirannya ada keinginan untuk mengejar ilusi tersebut? Bila tidak keinginan untuk mengejar dalam pikirannya, bagaimana dari luar, ia bisa terlihat mengejar?


"Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya"
Demikian nasehat orang bijak di sana dan di sini.
Metode ini ternyata berlaku juga dalam dunia pembinaan diri juga mereka yang konon sudah mencapai pencerahan tingkat lanjut.

Ini yang dimaksud, mengejar tapi tidak mengejar.
Seperti yang tampak pada kehidupan Sang Buddha.
Dikatakan bahwa beliau telah berhasil membimbing tak terhingga muridnya hingga mencapai kesucian batin.
Tidakkah ini terlihat begitu ambisius dan bersemangat, juga seolah-olah mengejar suatu tujuan?

Mengejar, tidak hanya soal mengejar hal duniawi bukan tapi juga nonduniawi maupun spiritual.

Ibaratnya kita beraksi atau berperan dalam suatu pentas sandiwara.
Atau seorang aktor yang bermain dalam sebuah film.
Sang aktor tersebut mengetahui dengan pasti bahwa apa yang dilakukannya dalam film tersebut bukannya kenyataan tapi dia harus melakukannya dengan sungguh-sungguh agar menghasilnya tontonan atau film yang menarik/maksimal.
Dia tidak betul-betul marah ketika marah.
Dia hanya berpura-pura menangis ketika adegan sedihnya.
Dia hanya berpura-pura bekerja membanting tulang ketika bagian dia diharuskan berperan sedemikian.

Meskipun mengetahui itu hanyalah action/ilusi namun dia tetap melakukannya namun dalam hatinya dia tetap sadar bahwa itu hanyalah sandiwara belaka.

(Kok sepertinya mengarahnya ke topik "hidup adalah peran" iyah ?)
:lol2:

Tapi memang demikianlah adanya hidup ini, bukan, sahabat2.
:)

Cmiiw.
  • freedom likes this

#29 hadisantoso

hadisantoso

    semoga berguna

  • Members
  • 275
  • 4,714 posts
  • 67 thanks

Posted 11 April 2014 - 01:25 PM

Tidak melekat bukan berarti harus menolak kemelekatan itu sendiri.
Misalnya, saya berusaha untuk tidak melekat kepada pakaian mewah, bukan berarti saya harus memakai pakai lusuh atau sengaja tidak mencucinya.
Ini adalah kemelekatan di atas kemelekatan yang lain alias keluar dari kemelekatan yang satu dan terjebak masuk ke kemelekatan lainnya.
Keduanya adalah pandangan yang salah.

Dikatakan bahwa pada jaman Sang Buddha ada petapa telanjang.
Mereka mendeklarasikan diri sebagai "yang kembali atau menyatu dengan alam", saya pikir itu bukanlah solusi yang bijak dalam menindaklanjuti untuk melepaskan diri dari kemelekatan duniawi.

Atau dalam kisah lainnya, Pangeran Siddharta yang bertapa ala penyiksaan diri, tanpa makan, tanpa istirahat.
Alhasil, penderitaan hebat yang didapat, alih-alih mencapai Penerangan.
Hasilnya (pencerahan sempurna) justrus diraih ketika Beliau menerapkan sistem keseimbangan/Jalan Tengah, tidak terlalu keras dan tidak terlalu kendor latihannya.
Menghindari kedua sisi ekstrim.

Jika segalanya adalah bersifat ilusi, lalu mengapa kita mesti membedakan yang satu dengan lainnya?
Jika kemewahan, kekayaan, kecantikan, ketampanan adalah ilusi, lalu apakah kebalikannya dari semua itu (kesederhanaan, kemiskinan, kelusuhan) adalah bukan ilusi?

Jika segalanya adalah ilusi, buat apalah kita merawat tubuh kita dengan cara makan, membersihkannya, melindunginya dari angin dan matahari?
Bahkan, untuk apa kita membahas ini semua di sini dan sekarang, bukankah semua omongan ini adalah ilusi belaka?

Justru, bukankah banyak orang telah mendapatkan Kebenaran dari tubuh ilusi ini, dari konsep ajaran (Dhamma), dan dari fenomena ilusi lainnya?

Kembali, point utamanya adalah di kemelekatan bukan tampilan objek atau fenomena lingkungan, termasuk diri kita.
Dan kemelekatan adalah berasal dari batin kita, dan lenyap persis di batin (pikiran) juga.
Bukan di tempat lain.


Ya kalau tidak salah termasuk.



"Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya"
Demikian nasehat orang bijak di sana dan di sini.
Metode ini ternyata berlaku juga dalam dunia pembinaan diri juga mereka yang konon sudah mencapai pencerahan tingkat lanjut.

Ini yang dimaksud, mengejar tapi tidak mengejar.
Seperti yang tampak pada kehidupan Sang Buddha.
Dikatakan bahwa beliau telah berhasil membimbing tak terhingga muridnya hingga mencapai kesucian batin.
Tidakkah ini terlihat begitu ambisius dan bersemangat, juga seolah-olah mengejar suatu tujuan?

Mengejar, tidak hanya soal mengejar hal duniawi bukan tapi juga nonduniawi maupun spiritual.

Ibaratnya kita beraksi atau berperan dalam suatu pentas sandiwara.
Atau seorang aktor yang bermain dalam sebuah film.
Sang aktor tersebut mengetahui dengan pasti bahwa apa yang dilakukannya dalam film tersebut bukannya kenyataan tapi dia harus melakukannya dengan sungguh-sungguh agar menghasilnya tontonan atau film yang menarik/maksimal.
Dia tidak betul-betul marah ketika marah.
Dia hanya berpura-pura menangis ketika adegan sedihnya.
Dia hanya berpura-pura bekerja membanting tulang ketika bagian dia diharuskan berperan sedemikian.

Meskipun mengetahui itu hanyalah action/ilusi namun dia tetap melakukannya namun dalam hatinya dia tetap sadar bahwa itu hanyalah sandiwara belaka.

(Kok sepertinya mengarahnya ke topik "hidup adalah peran" iyah ?)
:lol2:

Tapi memang demikianlah adanya hidup ini, bukan, sahabat2.
:)

Cmiiw.


pembahasan yang sangat bagus master.

:lol2:

#30 wen78

wen78

    ....

  • Moderators
  • 37
  • 1,294 posts
  • 10 thanks

Posted 11 April 2014 - 01:25 PM

Ketika berhenti mengejar, bukankah orang-orang duniawi akan melihatnya sebagai pasif, lambat, malas dan tidak bersemangat?

bagaimana bisa berhenti mengejar jika diri mengejar untuk berhenti mengejar?
'berhenti mengejar' yg salah kaprah, akan menghasilkan dri yg pasif, lambat, malas dan tidak bersemangat





Ketika dari dalam batin sudah tidak menginginkan apa pun lagi, bukankah dari luarnya secara otomatis akan tidak berambisi?

bagaimana tidak ada ambisi, padahal diri berambisi agar dalam batin tidak menginginkan apa-pun lagi?





Ketika dalam batin sudah tidak ingin mengejar dan berhenti mengejar, walaupun seisi dunia mengejar kemewahan duniawi, bukankah dirinya dari luar juga tidak akan ikut arus mengejar kemewahan duniawi/ilusi?

Bila dirinya dari luar terlihat sama seperti orang2 duniawi lainnya yang mengejar kemewahan duniawi/ilusi, maka bukankah dalam pikirannya ada keinginan untuk mengejar ilusi tersebut? Bila tidak keinginan untuk mengejar dalam pikirannya, bagaimana dari luar, ia bisa terlihat mengejar?

saat ini bukankah kita juga bisa mengatakan kita sedang mengejar ilusi bagaimana untuk 'tidak mengejar'?
apa yg terjadi saat sudah tidak mengejar? hanya saat diri sudah tidak mengejar, baru tau apa yg sesungguhnya.
karena kita tidak bisa menggambarkan kondisi apa yg terjadi didalam diri dan apa yg terlihat dari luar.

Lakukan apa yg seharusnya dilakukan, dan tidak melakukan apa yg seharusnya tidak dilakukan. ― ....


“Your beliefs become your thoughts, Your thoughts become your words, Your words become your actions, Your actions become your habits, Your habits become your values, Your values become your destiny.” ― Mahatma Gandhi


#31 yoh***s

yoh***s

    i dont know

  • Members
  • 31
  • 1,794 posts
  • 8 thanks

Posted 11 April 2014 - 02:08 PM

Terima kasih atas sarannya. Saya cenderung berusaha untuk tidak menikmati kenikmatan karena rentan membuat pikiran terbawa arus dan terbuai dalam kenikmatan.



Terima kasih atas penjelasannya.


terima kasih kembali _/\_ ............... , ada yg menikmati keramaian , ada yg menikmati kesunyiaan , ada juga yg menikmati kelima kegemaran dlm wujud halus dan kasar .......... kalu boleh tanya ,apa kah yg saudara maksut dengan kecenderungan adalah berusaha untuk tdk menikmati apapun juga dengan kata lain menolak ???


Sepertinya saya terlalu ekstrem atau melenceng, tapi saya hanya berusaha untuk tidak terikat pada konsep duniawi. Mungkin saya salah menangkap mengenai Buddhisme. Apakah benar bila saya menyimpulkan bahwa tujuan akhir dari penganut aliran Buddhisme adalah untuk melepaskan diri dari dunia nyata dan konsep-konsep duniawi?


sepertinya tdk juga melenceng sdr ku :namaste2:

hanya kalimat sdr tentang dunia nyata ,ini perlu diluruskan ,jika sdh terlepas dari dunia nyata ,kemanakah dunia berikutnya ??? masih nyata atau tdk nyata atau keduannya ???

konsep konsep duniawi , seolah sdr memiliki pandangan konsep tergolong beberapa bagiaan , lalu adakah konsep yg tdk duniawi ???

so...

sebelum yoh***s menilai kesimpulan sdr tentang tujuan akhir dari penganut Buddhis, ada baiknya sdr jawab dulu pertanyaan yoh***s diatas , agar yoh***s menjadi jelas dan bahagia :D

namun demikian

jika Buddhis seperti aku juga punya pandangan dlm Tujuan Buddhis... yaitu kebebasan

#32 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 11 April 2014 - 02:29 PM

pembahasan yang sangat bagus master.

:lol2:


Mohon bimbingannya master senior.
:lol2:

#33 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 11 April 2014 - 02:53 PM

@Senior NullPointer
Apakah Anda sudah pernah belajar meditasi dari seorang guru?
Ataukah pernah mengikuti retreat meditasi yang diselenggarakan oleh guru tertentu?
Ataukah Anda pernah mengonsultasikan hasil latihan meditasi sendiri kepada seorang guru meditasi tertentu?

Atau hanya belajar secara otodidak dari buku meditasi?
Kalau tidak salah, biasanya sebuah buku meditasi terkadang ada tertulis saran bahwa sebaiknya kita menemukan seorang guru sebagai pembimbing.

Sebaiknya Anda mengikuti retreat tertentu minimal sekali atau dua kali untuk dijadikan pondasi berlatih mandiri seterusnya. Namun jika bisa sering mengikutinya tentu akan lebih baik lagi.

Karena terkadang (menurut pengalaman di buku, dan memang benar saya alami juga) apa yang kita baca di buku belum tentu sesuai dengan interpretasi kita, dan pada saatnya meditasi mandiri bisa berbeda penerapannya dengan apa yang tertulis di buku.

Karena jika dilihat dari sudut pandang Anda dengan klaim bahwa Anda belajar dari buku tentang vipassana, saya melihat ada perbedaan metode penerapannya.

Apa yang diajarkan metode vipassana bukankah "hanya sekedar menyadari" terhadap segala fenomena yang timbul, tidak boleh melabelinya.
Sedangkan apa yang dijelaskan dari sudut pandang Anda, saya melihat Anda menolak satu sisi dan melekat kepada sisi lainnya.

Misalnya kasus berpakaian ketika ke Vihara,
Menurut Anda, seorang Buddha tidak akan mempermasalahkan cara berpakaian kita tapi tidak berarti lantas kita harus mempersepsikan bahwa Buddha akan senang ketika melihat kita berpakaian lusuh seperti itu bukan?
Lagipula, di Vihara tidak semua orang berpikiran persis seperti Buddha bukan?
(Mohon abaikan contoh ini jika contoh yang Anda berikan adalah mengenai pengalaman masa lalu Anda atau Anda sudah tidak berpandangan seperti itu lagi sekarang).

Atau misalnya di forum ini, kita tidak bisa mempersepsikan bahwa setiap umat Buddha adalah tidak terlalu melekat dengan kata-kata, lalu kita dengan seenaknya berkata-kata tidak etis di sini bukan, toh kata-kata baik dan buruk hanyalah ilusi.
Kita tidak seharusnya berpikir seperti itu.

Metode vipassana adalah termasuk samadhi dan suatu samadhi harus dilandasi oleh sila dan kebijaksanaan.
Sila-samadhi-panna semestinya dijalankan berbarengan agar tidak tampak aneh jadinya.

Cmiiw.

#34 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 12 April 2014 - 12:13 AM

Dikatakan bahwa pada jaman Sang Buddha ada petapa telanjang.
Mereka mendeklarasikan diri sebagai "yang kembali atau menyatu dengan alam", saya pikir itu bukanlah solusi yang bijak dalam menindaklanjuti untuk melepaskan diri dari kemelekatan duniawi.
Atau dalam kisah lainnya, Pangeran Siddharta yang bertapa ala penyiksaan diri, tanpa makan, tanpa istirahat.
Alhasil, penderitaan hebat yang didapat, alih-alih mencapai Penerangan.


Terima kasih. Saya dapat memahami ini bahwa menyiksa diri adalah bentuk kemelekatan.

Hasilnya (pencerahan sempurna) justrus diraih ketika Beliau menerapkan sistem keseimbangan/Jalan Tengah, tidak terlalu keras dan tidak terlalu kendor latihannya.
Menghindari kedua sisi ekstrim.
Jika segalanya adalah bersifat ilusi, lalu mengapa kita mesti membedakan yang satu dengan lainnya?
Jika kemewahan, kekayaan, kecantikan, ketampanan adalah ilusi, lalu apakah kebalikannya dari semua itu (kesederhanaan, kemiskinan, kelusuhan) adalah bukan ilusi?


Jangan terlalu keras dan jangan terlalu kendor, bukankah ini adalah pikiran yang berfluktuasi, seperti yang tertulis di kutipan Dhammapada berikut ini?

One of unsteady mind,
who doesn’t know True Dhamma,
who is of wavering confidence
wisdom fails to win.

Iya, benar sekali. Kemiskinan, kesederhanaan, dan kelusuhan juga adalah ilusi sama halnya denga kemewahan dan kekayaan. Orang-orang yang terikat pada ilusi memandangnya sebagai 2 hal yang berbeda, satu positif dan satu negatif. Orang-orang cenderung mengagungkan yang baik/positif dan menghindari yang buruk/negatif. Padahal mereka sama saja, sama-sama ilusi.

Jika segalanya adalah ilusi, buat apalah kita merawat tubuh kita dengan cara makan, membersihkannya, melindunginya dari angin dan matahari?
Bahkan, untuk apa kita membahas ini semua di sini dan sekarang, bukankah semua omongan ini adalah ilusi belaka?
Justru, bukankah banyak orang telah mendapatkan Kebenaran dari tubuh ilusi ini, dari konsep ajaran (Dhamma), dan dari fenomena ilusi lainnya?


Dhammapada verse 40 menuliskan:

Verse 40. Weapons To Defeat Death

Having known this urn-like body,
made firm this mind as fortress town,
with wisdom-weapon one fights Mara
while guarding booty, unattached.

Ajaran Buddha sepertinya mengutamakan pikiran yang kokoh dan mengingat bahwa tubuh ini begitu lemah. Terima kasih atas ajarannya, saya sekarang mengerti bahwa ini bukan berarti tubuh tidak harus dirawat.

Mengejar, tidak hanya soal mengejar hal duniawi bukan tapi juga nonduniawi maupun spiritual.


Iya, benar. Bermeditasi dengan sebuah tujuan berarti melekat pada tujuan tersebut.

Ibaratnya kita beraksi atau berperan dalam suatu pentas sandiwara.
Atau seorang aktor yang bermain dalam sebuah film.
Sang aktor tersebut mengetahui dengan pasti bahwa apa yang dilakukannya dalam film tersebut bukannya kenyataan tapi dia harus melakukannya dengan sungguh-sungguh agar menghasilnya tontonan atau film yang menarik/maksimal.
Dia tidak betul-betul marah ketika marah.
Dia hanya berpura-pura menangis ketika adegan sedihnya.
Dia hanya berpura-pura bekerja membanting tulang ketika bagian dia diharuskan berperan sedemikian.

Meskipun mengetahui itu hanyalah action/ilusi namun dia tetap melakukannya namun dalam hatinya dia tetap sadar bahwa itu hanyalah sandiwara belaka.

(Kok sepertinya mengarahnya ke topik "hidup adalah peran" iyah ?)
:lol2:


Saya senang dengan contoh seperti ini karena dengan contoh lebih mudah dipahami. Tapi pertanyaan saya kenapa si aktor masih harus menjalani peran sandiwara ini? Bukankah ini membuat sang aktor melekat pada perannya dan juga sandiwara tersebut? Kenapa sang aktor tidak menjalani hidupnya yang nyata dan berhenti bermain sandiwara? Atau setidaknya, bila sang aktor ingin mengajak rekan2 aktornya untuk kembali ke dunia nyata, sang aktor memang harus tetap berada di panggung untuk menyadarkan teman2nya, tapi tujuan akhirnya adalah semua aktor meningalkan panggung sandiwara dan kembali ke dunia nyata? Bila memang fokusnya demikian, saya pikir sang aktor harus terlepas dari ikatan skenario dan tidak boleh berpura-pura dengan skenarionya.

#35 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 12 April 2014 - 12:19 AM

bagaimana bisa berhenti mengejar jika diri mengejar untuk berhenti mengejar?
'berhenti mengejar' yg salah kaprah, akan menghasilkan dri yg pasif, lambat, malas dan tidak bersemangat
bagaimana tidak ada ambisi, padahal diri berambisi agar dalam batin tidak menginginkan apa-pun lagi?
saat ini bukankah kita juga bisa mengatakan kita sedang mengejar ilusi bagaimana untuk 'tidak mengejar'?
apa yg terjadi saat sudah tidak mengejar? hanya saat diri sudah tidak mengejar, baru tau apa yg sesungguhnya.
karena kita tidak bisa menggambarkan kondisi apa yg terjadi didalam diri dan apa yg terlihat dari luar.


Terima kasih atas panduannya, saya akan mencoba berusaha menyadari lebih lanjut bagaimana caranya untuk tidak mengejar apa pun dalam dunia nyata. Bila diterjemahkan secara harfiah dari tata bahasa dan secara awam, 'tidak mengejar apa pun di dunia nyata' sekilas identik seperti 'tidak melakukan apa-apa di dunia'. Tapi dari berbagai diskusi yang ada dan saya sendiri merasa demikian, ini bukanlah yang dimaksud.

#36 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 12 April 2014 - 12:30 AM

terima kasih kembali _/\_ ............... , ada yg menikmati keramaian , ada yg menikmati kesunyiaan , ada juga yg menikmati kelima kegemaran dlm wujud halus dan kasar .......... kalu boleh tanya ,apa kah yg saudara maksut dengan kecenderungan adalah berusaha untuk tdk menikmati apapun juga dengan kata lain menolak ???


Tidak, tidak menolak. Menyadari dia ada dan dia akan tenang/lenyap. Saya sulit menemukan kata-katanya, tapi di buku meditasi yang saya baca ditulis bahwa: "Pikiran seperti anak kecil. Bila ia ditekan, maka ia akan semakin liar dan melawan. Bila ia diikuti, maka ia akan semakin menjadi-jadi. Cukup 'sadarin' (<= saya tidak tahu kata2 yang tepat) saja, kalo ga dapat perhatian, dia akan pergi sendiri."

sepertinya tdk juga melenceng sdr ku :namaste2:

hanya kalimat sdr tentang dunia nyata ,ini perlu diluruskan ,jika sdh terlepas dari dunia nyata ,kemanakah dunia berikutnya ??? masih nyata atau tdk nyata atau keduannya ???

konsep konsep duniawi , seolah sdr memiliki pandangan konsep tergolong beberapa bagiaan , lalu adakah konsep yg tdk duniawi ???

so...

sebelum yoh***s menilai kesimpulan sdr tentang tujuan akhir dari penganut Buddhis, ada baiknya sdr jawab dulu pertanyaan yoh***s diatas , agar yoh***s menjadi jelas dan bahagia :D

namun demikian

jika Buddhis seperti aku juga punya pandangan dlm Tujuan Buddhis... yaitu kebebasan


Saya sendiri tidak tahu apa dunia berikutnya. Mungkin yang disebut sebagai The Path dalam Dhammpada? Seperti pada verse 281:

In speech ever watchful with mind well-restrained
never with body do unwholesomeness.
So should one purify these three kamma-paths
winning to the Way made known by the Seers.

Disini sering kali disebut sebagai The Path atau The Way, mungkin ini identik dengan dunia berikutnya yang tidak dipenuhi konsep duniawi? Sebagai seorang non-Buddhist, saya ingin tahu apa jawaban Anda sendiri atas pertanyaan ini?

#37 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 12 April 2014 - 12:51 AM

@Senior NullPointer
Apakah Anda sudah pernah belajar meditasi dari seorang guru?
Ataukah pernah mengikuti retreat meditasi yang diselenggarakan oleh guru tertentu?
Ataukah Anda pernah mengonsultasikan hasil latihan meditasi sendiri kepada seorang guru meditasi tertentu?


Tidak pernah, saya bahkan tidak pernah ke vihara.

Atau hanya belajar secara otodidak dari buku meditasi?
Kalau tidak salah, biasanya sebuah buku meditasi terkadang ada tertulis saran bahwa sebaiknya kita menemukan seorang guru sebagai pembimbing.

Sebaiknya Anda mengikuti retreat tertentu minimal sekali atau dua kali untuk dijadikan pondasi berlatih mandiri seterusnya. Namun jika bisa sering mengikutinya tentu akan lebih baik lagi.

Karena terkadang (menurut pengalaman di buku, dan memang benar saya alami juga) apa yang kita baca di buku belum tentu sesuai dengan interpretasi kita, dan pada saatnya meditasi mandiri bisa berbeda penerapannya dengan apa yang tertulis di buku.


Iya, benar. Saya juga takut memiliki interpretasi yang salah atas apa yang saya baca. Saya akan mencoba mencari seorang guru atau mengikuti latihan meditasi.


Karena jika dilihat dari sudut pandang Anda dengan klaim bahwa Anda belajar dari buku tentang vipassana, saya melihat ada perbedaan metode penerapannya.

Apa yang diajarkan metode vipassana bukankah "hanya sekedar menyadari" terhadap segala fenomena yang timbul, tidak boleh melabelinya.
Sedangkan apa yang dijelaskan dari sudut pandang Anda, saya melihat Anda menolak satu sisi dan melekat kepada sisi lainnya.

Misalnya kasus berpakaian ketika ke Vihara,
Menurut Anda, seorang Buddha tidak akan mempermasalahkan cara berpakaian kita tapi tidak berarti lantas kita harus mempersepsikan bahwa Buddha akan senang ketika melihat kita berpakaian lusuh seperti itu bukan?
Lagipula, di Vihara tidak semua orang berpikiran persis seperti Buddha bukan?
(Mohon abaikan contoh ini jika contoh yang Anda berikan adalah mengenai pengalaman masa lalu Anda atau Anda sudah tidak berpandangan seperti itu lagi sekarang).


Iya, benar, hanya sekedar menyadari dan tidak boleh melabeli. Mungkin ada sedikit salah sangka: saya tidak dengan sengaja suka berpakaian lusuh, tapi ini memang merupakan hobi saya dari dulu. Iya, saya memang terikat pada kelusuhan pakaian. Tapi intinya, pakaian adalah sebuah ilusi, bukan? Berpakaian lusuh atau berpakaian mewah, sama saja dengan tidak berpakaian, bukan? Jadi, bagi saya, bila seseorang mempermasalahkan hal ini, maka ada konsep 'pakaian' yang melekat padanya. Bukankah seharusnya dalam meditasi vipassana, terjadi langkah-langkah seperti berikut ini:

  • Orang itu memakai pakaian lusuh <-- melihatnya dan sadar
  • Rasanya sungguh tidak indah sekali <-- sebuah emosi muncul dalam pikiran dan sadar
  • ... (lanjut ke pikiran lain dengan tenang)

Tapi terkadang, seperti yang sering saya alami di dunia nyata, pikiran bisa berantai seperti:

  • Orang itu memakai pakaian lusuh <-- melihatnya
  • Rasanya sungguh tidak indah sekali <-- sebuah emosi muncul dalam pikiran tapi tidak disadari
  • Orang ini sadar ga sih dia lagi ibadah <-- emosi semakin besar
  • Orang ini dari mana sih? Maunya apa sih? <-- pikiran semakin tidak terkendali namun tak disadari
  • Namoamitabha.. Namoamitabha... <-- mulut sedang melafalkan ucapan
  • Orang ini salah, dia perlu diberi pelajaran <-- pikiran membentuk sebuah konsep duniawi, sebuah ilusi yang dianggap benar
  • Jangan-jangan dia mau menghina Buddha <-- pikiran membentuk asumsi
  • Coba lihat si A, dia selalu rapi, kalo semua umatku kayak gini, bisa gawat <-- pikiran semakin liar
  • ... (efeknya ada perasaan tidak tenang)


Atau misalnya di forum ini, kita tidak bisa mempersepsikan bahwa setiap umat Buddha adalah tidak terlalu melekat dengan kata-kata, lalu kita dengan seenaknya berkata-kata tidak etis di sini bukan, toh kata-kata baik dan buruk hanyalah ilusi.
Kita tidak seharusnya berpikir seperti itu.

Metode vipassana adalah termasuk samadhi dan suatu samadhi harus dilandasi oleh sila dan kebijaksanaan.
Sila-samadhi-panna semestinya dijalankan berbarengan agar tidak tampak aneh jadinya.

Cmiiw.


Iya, benar juga. Walaupun demikian, konsep tampak aneh sepertinya agak duniawi, seolah-olah harus mengikuti dunia ini agar tidak terlihat aneh. Ini adalah bentuk kemelekatan pada dunia. Saya berharap seiring waktu saya akan semakin menyadarinya. Terima kasih atas panduannya.

#38 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 12 April 2014 - 09:50 AM

Terima kasih. Saya dapat memahami ini bahwa menyiksa diri adalah bentuk kemelekatan.



Jangan terlalu keras dan jangan terlalu kendor, bukankah ini adalah pikiran yang berfluktuasi, seperti yang tertulis di kutipan Dhammapada berikut ini?

One of unsteady mind,
who doesn’t know True Dhamma,
who is of wavering confidence
wisdom fails to win.

Bukankah keadaan pikiran ini (tidak terlalu tegang dan tidak terlalu kendor) justru berada dalam keadaan stabil (seimbang)?
Bukan sebentar tegang sebentar kendor maksudnya.

Beda tipis antara fleksibel dengan plin plan (tidak tetap).
Kadang memang sulit membedakannya.

Iya, benar sekali. Kemiskinan, kesederhanaan, dan kelusuhan juga adalah ilusi sama halnya denga kemewahan dan kekayaan. Orang-orang yang terikat pada ilusi memandangnya sebagai 2 hal yang berbeda, satu positif dan satu negatif. Orang-orang cenderung mengagungkan yang baik/positif dan menghindari yang buruk/negatif. Padahal mereka sama saja, sama-sama ilusi.

OKI, tidak melekat bukan berarti harus menolaknya karena menolak adalah bentuk halus dari kemelekatan.
Juga tidak mencari alasan untuk memanjakan diri.

Sebelum dapat mengontrol keinginan/nafsu (hidup dalam kesederhanaan), memang sebaiknya berusaha lebih mengekang keinginan untuk selalu hidup mewah, sampai saatnya kita sudah tidak mengejar atau bernafsu lagi barulah kembali ke penampilan semula tapi tidak terlalu ekstrim juga.
Sederhana tapi agung.
Ini hanya lebih kepada permainan mind set saja.

Karena itu sila pada aliran tertentu sangat ketat, karena tujuannya untuk membentuk dasar yang kuat.
Jika sudah terbentuk akarnya maka dengan sendirinya tidak perlu terlalu membedakan (bukan kebablasan juga) antara yang mewah dan sederhana.
Hidup berdasarkan kebutuhan bukan keinginan semata.

Dhammapada verse 40 menuliskan:

Verse 40. Weapons To Defeat Death

Having known this urn-like body,
made firm this mind as fortress town,
with wisdom-weapon one fights Mara
while guarding booty, unattached.

Ajaran Buddha sepertinya mengutamakan pikiran yang kokoh dan mengingat bahwa tubuh ini begitu lemah. Terima kasih atas ajarannya, saya sekarang mengerti bahwa ini bukan berarti tubuh tidak harus dirawat.

Sebenarnya saya kurang Pede juga untuk menanggapi pertanyaan Saudara.
Karena saya sendiri masih dalam tahap belajar juga.
Saya menjawab berdasarkan gabungan beberapa sumber yang pernah saya baca atau dengar ditambah sedikit pengalaman merenung.

Saya pikir Saudara cukup bisa menyaring dan memilah.
Saya hanya berusaha berbagi berdasarkan apa yang saya tahu saja.
Juga dengan harapan ada teman-teman yang mau mengoreksi jika ada pandangan saya yang keliru.
:lol2:

Iya, benar. Bermeditasi dengan sebuah tujuan berarti melekat pada tujuan tersebut.

Sebenarnya kurang tepat juga jika dikatakan bermeditasi tidak boleh bertujuan.
Karena tanpa tujuan lalu untuk apa kita melakukannya?
Mungkin lebih baiknya, ada tujuan (tapi tujuan jangka panjang) tapi tidak melekat atau fokus (terbawa-bawa) padanya, hanya sekedar menjalani saja.
Istilahnya, tetapkanlah tujuan kemudian lepaskanlah.
Karena jika melekat pada tujuan tertentu justru akan mengganggu latihan kita.

Saya senang dengan contoh seperti ini karena dengan contoh lebih mudah dipahami. Tapi pertanyaan saya kenapa si aktor masih harus menjalani peran sandiwara ini? Bukankah ini membuat sang aktor melekat pada perannya dan juga sandiwara tersebut? Kenapa sang aktor tidak menjalani hidupnya yang nyata dan berhenti bermain sandiwara? Atau setidaknya, bila sang aktor ingin mengajak rekan2 aktornya untuk kembali ke dunia nyata, sang aktor memang harus tetap berada di panggung untuk menyadarkan teman2nya, tapi tujuan akhirnya adalah semua aktor meningalkan panggung sandiwara dan kembali ke dunia nyata? Bila memang fokusnya demikian, saya pikir sang aktor harus terlepas dari ikatan skenario dan tidak boleh berpura-pura dengan skenarionya.


Ada sedikit kerancuan di sini. Memang menjadi konsekwensinya jika saya memakai contoh sandiwara aktor.

Maafkan saya lupa memberikan garis merah atau peringatan bahwa kita seharusnya hanya melihat pada saat dia sedang berperan saja, tidak boleh melihat atau menyinggung bagian kehidupan nyata si aktor.
Anggap saja perannya si aktor di film/pentas = kehidupan nyatanya kita di dunia.

Kan ada lagu "dunia ini bagaikan panggung sandiwara".
Orang yang mengatakan kalimat ini saya pikir dia bukanlah bermaksud bahwa orang2 di dunia termasuk dia sendiri sedang berpura-pura dalam hidupnya tapi lebih kepada penyadaran atau penglihatan (suatu pencerahan kecil) secara global akan arti kehidupan ini.

Sangatlah sulit bagi kita untuk memilih peran sesuai keinginan kita.
Saya pikir Ini juga yang mendasari sebagian orang menyebutnya sebagai kodrat, dan yang lainnya menamakannya sebagai akibat karma.
Sebebas-bebasnya kita memilih, kebebasan kita tetaplah ada batasnya.

Misalnya setiap yang terlahirkan harus mengalami kematian.
Memang seseorang berhak atau bisa memilih untuk mengakhiri hidupnya saat ini juga, tapi apakah setiap orang memiliki keinginan atau pemikiran seperti demikian, jelas tidak bukan?
OKI, ini dinamakan keadaan berkondisi (ada sebab-sebab yang menyebabkannya terjadi) bukan Kebenaran mutlak.

Jadi mengenai tanggapan atau pertanyaan Pak NullPointer mengenai mengapa si aktor tidak mengakhiri sandiwaranya, ini mirip dengan bertanya kenapa kita tidak segera mengakhiri hidup?
Tidakkah ini justru terkesan melarikan diri dari kenyataan?
Dan melarikan diri itu mungkin saja dilandasi oleh suatu kemelekatan karena terjadi penolakan.

Mengenai point mengapa si aktor masih tetap bertahan di panggung meski sudah mengetahui bahwa dirinya sedang bersandiwara sebenarnya sudah tidak relevan lagi untuk dijawab.

Tapi jika dikaitkan ke kehidupan nyata, saya juga berpikir seperti Anda bahwa mereka rata-rata bertujuan untuk membimbing makhluk atau orang lain.
Bukankah Sang Buddha sendiri pun tetap tinggal (tetap hidup dalam tubuhnya) di dunia ilusi ini ketika sudah mencapai Pengetahuan Sempurna mengenai rahasia alam semesta?

Dan bisa dikatakan kita mengetahui bahwa dunia ini adalah ilusi juga berasal dari kata-kata beliau bukan?
Tapi toh beliau juga memutuskan tetap tinggal di dunia dan tidak memilih segera meninggalkannya.

Memang sewaktu mengetahui (pertama menyadari) bahwa hidup ini adalah bersifat ilusi (anicca/tidak kekal), pengen rasanya segera keluar darinya atau malas untuk meneruskannya.
Buat apa melakukan sesuatu yang sudah jelas-jelas tidak nyata.
Hanya membuang waktu, tenaga dan perasaan.
Tidakkah ini konyol?

Jangan sampai atau terlalu lama berpikiran seperti itu karena bisa berbahaya, apalagi bagi kita yang masih "mentah".
Lebih baik segera menentukan suatu tujuan yang positif.
Karena itu mempelajari Dhamma sangat penting mengetahui atau memiliki pondasi yang kokoh (sila samadhi dan kebijaksanaan).
Tentukan tujuan jangka panjangnya.
Hidup ala atau bersudut pandang secara global, jangan per-part (bagian-bagian)

Cmiiw.
Maaf kalau ada bagian (pertanyaan) yang terlewatkan.

#39 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 12 April 2014 - 11:10 AM

Tidak pernah, saya bahkan tidak pernah ke vihara.

Eits apa saya salah baca yah kalau post Anda sebelumnya menceritakan bahwa Anda pernah pergi sekali ke Vihara?
:lol2:

Iya, benar. Saya juga takut memiliki interpretasi yang salah atas apa yang saya baca. Saya akan mencoba mencari seorang guru atau mengikuti latihan meditasi.

Ya itu gunanya untuk meng kros-cek apa yang telah kita baca atau pelajari.
Di forum ini juga kita bisa melakukannya, memastikan kembali apakah yang kita pegang atau yakini sudah benar belum arahnya.
Cocokan dengan berbagai sumber, keterbukaan.

Iya, benar, hanya sekedar menyadari dan tidak boleh melabeli. Mungkin ada sedikit salah sangka: saya tidak dengan sengaja suka berpakaian lusuh, tapi ini memang merupakan hobi saya dari dulu. Iya, saya memang terikat pada kelusuhan pakaian. Tapi intinya, pakaian adalah sebuah ilusi, bukan? Berpakaian lusuh atau berpakaian mewah, sama saja dengan tidak berpakaian, bukan? Jadi, bagi saya, bila seseorang mempermasalahkan hal ini, maka ada konsep 'pakaian' yang melekat padanya.

Tapi kita kan tetap harus memperhatikan etika (sila).
Konsep berpakaian mewah atau lusuh adalah berkaitan dengan sudut pandang (panna).

Bukankah seharusnya dalam meditasi vipassana, terjadi langkah-langkah seperti berikut ini:

  • Orang itu memakai pakaian lusuh <-- melihatnya dan sadar
  • Rasanya sungguh tidak indah sekali <-- sebuah emosi muncul dalam pikiran dan sadar
  • ... (lanjut ke pikiran lain dengan tenang)

Menurut saya bukan begitu deh.
Dalam vipassana, tidak melabeli berarti tidak membeda-bedakan, bahkan tidak melabelinya sebagai lusuh atau tidak, indah atau tidak.
Hanya sekedar menyadari/mengamati sehingga pemikiran "lusuh" tidak sempat timbul.
Jika timbul pemikiran "lusuh" berarti (pikiran) pelabelan telah terjadi, ini artinya sudah tidak melihat apa adanya, penyadaran gagal terjadi.

Menyadari berarti mencegah kebiasaan melabeli dari pikiran bawah sadar agar tidak sempat timbul.
Jika keburu timbul, maka langkah selanjutnya adalah tetap pada metode,
Misalnya pelabelan "lusuh" timbul, maka cukup kembali mengamati pikiran "lusuh" tersebut, jangan berusaha menghilangkannya pun jangan terbawa olehnya.
Jika tidak berhasil mengamatinya dan terbawa sehingga timbul pelabelan berikutnya yaitu persepsi "indah", maka tetaplah pada metode, cukup mengamati persepsi yang timbul, dst.
Diharapkan lama2 kita akan menjadi lebih waspada.
Semakin sering berlatih, akan semakin tajam kesadarannya.
Jangan terlalu memaksa, juga jangan terlalu lemah, latihannya.

Tapi bukan berarti kita harus memproyeksikan pola pandang ini dalam kehidupan biasa (nyata).
Kita tetap bisa membedakan lusuh atau rapi tapi batin tidak boleh terpengaruh olehnya.
Batin selalu siaga penuh, mengetahui atau menyadari kebiasaan bawah sadar yang akan timbul.

Metode ini fungsinya untuk mencegah tindakan yang tidak bermanfaat yang bisa kita lakukan dan menimbulkan tindakan bermanfaat yang seharusnya dilakukan.

Makanya ada pepatah mengatakan bahwa "ke dalam diri kita harus bertindak bijaksana, sedangkan ke luar diri kita harus bersikap welas asih".
Bukan menetralkan atau menyamaratakan semuanya.
Tidak membedakan kerapian dan kelusuhan, berpakaian atau tidak berpakaian, pada tatanan tertentu adalah salah.
Ketidakmelekatan bukan ditujukan pada penampilan di luar tapi lebih kepada kondisi batin (di dalam).

Kita tetap membedakan hak milik.
Kita tetap menghargai hak milik orang lain.
Konsep tidak melekat adalah lebih dituju pada diri sendiri.


Tapi terkadang, seperti yang sering saya alami di dunia nyata, pikiran bisa berantai seperti:

  • Orang itu memakai pakaian lusuh <-- melihatnya
  • Rasanya sungguh tidak indah sekali <-- sebuah emosi muncul dalam pikiran tapi tidak disadari
  • Orang ini sadar ga sih dia lagi ibadah <-- emosi semakin besar
  • Orang ini dari mana sih? Maunya apa sih? <-- pikiran semakin tidak terkendali namun tak disadari
  • Namoamitabha.. Namoamitabha... <-- mulut sedang melafalkan ucapan
  • Orang ini salah, dia perlu diberi pelajaran <-- pikiran membentuk sebuah konsep duniawi, sebuah ilusi yang dianggap benar
  • Jangan-jangan dia mau menghina Buddha <-- pikiran membentuk asumsi
  • Coba lihat si A, dia selalu rapi, kalo semua umatku kayak gini, bisa gawat <-- pikiran semakin liar
  • ... (efeknya ada perasaan tidak tenang)

Ini adalah cara kerja pikiran (pancakhanda) dan tujuan meditasi adalah untuk mengetahuinya sampai ke akarnya.

Sebelum berlatih meditasi kita dikendalikan oleh pikiran, mereka muncul sesukanya tanpa menghiraukan kita.
Meditasi bertujuan untuk mengontrol, mengerti dan memahami cara kerjanya.
Diharapkan suatu saat nanti kita akan bebas menggunakan kekuatan dari pikiran tersebut untuk hal yang lebih bermanfaat.

Iya, benar juga. Walaupun demikian, konsep tampak aneh sepertinya agak duniawi, seolah-olah harus mengikuti dunia ini agar tidak terlihat aneh. Ini adalah bentuk kemelekatan pada dunia. Saya berharap seiring waktu saya akan semakin menyadarinya. Terima kasih atas panduannya.

Selama kita masih hidup di dunia dalam arti masih bergaul, bersosialisasi dan berhubungan dengan dunia, tentu kita harus menyesuaikannya bukan.

Aneh di mata dunia belum tentu langkah kita sudah salah.
Tapi yang jelas jika ingin menuju Kebenaran maka jangan terlalu mempedulikan apa kata dunia.

Apa yang anda jalankan atau terapkan dan ketahui di dalam, tidak selalu harus diproyeksikan ke luar (dunia) kecuali Anda benar-benar telah siap apapun kata orang, siap dengan segala konsekwensinya.
Jika belum siap maka sebaiknya hidup menyesuaikan dengan keadaan "pasar".

Tapi dalam hati Anda sepenuhnya sadar akan apa yang terjadi.
Itulah sebabnya dalam hati kita melihat suatu proses batin yang kelihatannya seperti suatu rangkaian sandiwara di film.

Berpura-pura yang saya maksud di atas bukanlah dalam konteks sebenarnya tapi lebih kepada kita melihat suatu rentetan proses sebab akibat yang terjadi dengan jelas.

Cmiiw.

#40 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 12 April 2014 - 11:17 AM

Karena itu sila pada aliran tertentu sangat ketat, karena tujuannya untuk membentuk dasar yang kuat.
Jika sudah terbentuk akarnya maka dengan sendirinya tidak perlu terlalu membedakan (bukan kebablasan juga) antara yang mewah dan sederhana.
Hidup berdasarkan kebutuhan bukan keinginan semata.


Kalo boleh saya tahu, aliran yang dimaksud itu apa ya? Apakah Mahayana? Dalam memilih vihara dan mencari guru, saya menemukan banyak aliran Buddhism yang memiliki sudut pandang berbeda. Saya sadar bahwa mereka seperti jari menunjuk ke bulan, ada banyak cara menunjuk ke bulan, tapi bulan tetap hanya satu. Tapi terkadang, saya merasa ada yang sedikit kontradiksi, tapi ini hanya curhat dan diluar topik pertanyaan saya.

Sebenarnya saya kurang Pede juga untuk menanggapi pertanyaan Saudara.
Karena saya sendiri masih dalam tahap belajar juga.
Saya menjawab berdasarkan gabungan beberapa sumber yang pernah saya baca atau dengar ditambah sedikit pengalaman merenung.

Saya pikir Saudara cukup bisa menyaring dan memilah.
Saya hanya berusaha berbagi berdasarkan apa yang saya tahu saja.
Juga dengan harapan ada teman-teman yang mau mengoreksi jika ada pandangan saya yang keliru.
:lol2:


Saya tetap berterima kasih banyak sudah mau membagi2kan pengetahuan Buddishm disini.

Sebenarnya kurang tepat juga jika dikatakan bermeditasi tidak boleh bertujuan.
Karena tanpa tujuan lalu untuk apa kita melakukannya?
Mungkin lebih baiknya, ada tujuan (tapi tujuan jangka panjang) tapi tidak melekat atau fokus (terbawa-bawa) padanya, hanya sekedar menjalani saja.
Istilahnya, tetapkanlah tujuan kemudian lepaskanlah.
Karena jika melekat pada tujuan tertentu justru akan mengganggu latihan kita.


Mungkin seperti bernafas, saya terus bernafas sampai saya lupa dan tidak melekat pada tujuannya, walaupun pada dasarnya bernafas memang memiliki tujuan.

Jadi mengenai tanggapan atau pertanyaan Pak NullPointer mengenai mengapa si aktor tidak mengakhiri sandiwaranya, ini mirip dengan bertanya kenapa kita tidak segera mengakhiri hidup?
Tidakkah ini justru terkesan melarikan diri dari kenyataan?
Dan melarikan diri itu mungkin saja dilandasi oleh suatu kemelekatan karena terjadi penolakan.

Memang sewaktu mengetahui (pertama menyadari) bahwa hidup ini adalah bersifat ilusi (anicca/tidak kekal), pengen rasanya segera keluar darinya atau malas untuk meneruskannya.
Buat apa melakukan sesuatu yang sudah jelas-jelas tidak nyata.
Hanya membuang waktu, tenaga dan perasaan.
Tidakkah ini konyol?
Jangan sampai atau terlalu lama berpikiran seperti itu karena bisa berbahaya, apalagi bagi kita yang masih "mentah".
Lebih baik segera menentukan suatu tujuan yang positif.
Karena itu mempelajari Dhamma sangat penting mengetahui atau memiliki pondasi yang kokoh (sila samadhi dan kebijaksanaan).
Tentukan tujuan jangka panjangnya.
Hidup ala atau bersudut pandang secara global, jangan per-part (bagian-bagian)


Mungkin ini karena perbedaan aliran dengan yang saya baca di buku meditasi? Dalam buku tersebut, perjuangan menghindari ilusi tidak dilakukan dengan mengakhiri hidup tapi dengan melatih pikiran sehingga mencapai kondisi pikiran yang disebut nirvana. Aliran seperti Hinayana berfokus pada pikiran. Berdasarkan artikel di Wikipedia yang barusan saya baca, aliran seperti Mahayana tidak bertujuan untuk mencapai nirvana. Saran yang umum adalah belajar Hinayana terlebih dahulu agar pikiran tidak melekat (vertikal dalam diri) lalu belajar Mahayana untuk berbuat baik pada sesama (horizontal ke lingkungan).

Konsep hampa adalah berisi dan berisi adalah kosong yang disebutkan oleh saudara msc mungkin adalah konsep dalam Mahayana, seperti dalam kutipan berikut ini:

Mahayana Buddhism is divided into two systems of thought: the Madhyamika and the Yogacara. The Madhyamikas were so called on account of the emphasis they laid on the middle view. Here, the middle path, stands for the non-acceptance of the two views concerning existence and nonexistence, eternity and non eternity, self and non-self. In short, it advocates neither the theory of reality nor that of the unreality of the world, but merely of relativity. It is, however, to be noted that the Middle Path propounded at Sarnath by the Buddha had an ethical meaning, while that of the Madhyamikas is a metaphysical concept.


Saya menemukan bahwa konsep kekosongan dan ilusi ini (dimana kosong adalah berisi dan berisi adalah hampa) hampir sama seperti pada aliran Taoisme walaupun saya hanya membaca Tao Te Ching secara sekilas dan tidak mendalaminya.




0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close