Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

Bagaimana Cara Menerapkan Buddhisme Di Kehidupan Nyata Dalam Setiap Nafas?


  • Please log in to reply
68 replies to this topic

#41 hadisantoso

hadisantoso

    semoga berguna

  • Members
  • 275
  • 4,714 posts
  • 67 thanks

Posted 12 April 2014 - 11:43 AM

thread ini rame,saya tergelitik untuk ikut nimbrung,tapi hanya bahas dari judul thread nya saja------

Bagaimana Cara Menerapkan Buddhisme Di Kehidupan Nyata Dalam Setiap Nafas?.

yang ditanya adalah cara atau resep,maka jawabannya adalah----tidak ada cara yang jitu.

kita umpamakan dengan pertanyaan yang mirip----

bagaimana cara menerapkan "disiplin diri" di jalan raya(mematuhi semua rambu2 lalulintas), adakah caranya?

jawabnya sama--tidak ada cara.

yang dibutuhkan adalah ----mengetahui,menyadari dan kemauan.
mengetahui---arti rambu atau ajaran Buddhist.
menyadari-----bahwa saya harus patuh pada semua rambu/ajaran.
kemauan------tekad untuk tidak melanggar.

kuncinya ada di kesadaran dan kemauan diri sendiri.

kalau di agama tetangga-----dari awal memang sudah dilengkapi dengan cara yang tersembunyi,
yaitu---ditakut takuti dan di iming iming.

bila patuh akan disenangi god masuk surga.
bila melanggar akan masuk neraka.

tapi ternyata cara "tersembunyi" itu juga tetap tidak berhasil,banyak umat yang melanggar/tidak patuh.

jawaban yang bukan jawaban adalah-----tergantung kesadaran dan kemauan.

mungkin ada yang bisa jawab pertanyaan susulan ini----- bagaimana bisa punya kesadaran penuh dan kemauan kuat ?

:lol2:

#42 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 12 April 2014 - 11:44 AM

Eits apa saya salah baca yah kalau post Anda sebelumnya menceritakan bahwa Anda pernah pergi sekali ke Vihara?
:lol2:


Iya, hanya sekali, setelah itu tidak pernah lagi. Dalam sekali itu, saya tidak mendapatkan banyak pencerahan. Saya juga pernah sekali menghadiri salah satu vihara lainnya dari aliran berbeda, tapi saya merasa seperti seolah-olah berada dalam gereja dimana terdapat gabungan antara Taoisme dan Buddishm. Saya merasa sangat asing sekali disitu.

Tapi kita kan tetap harus memperhatikan etika (sila).
Konsep berpakaian mewah atau lusuh adalah berkaitan dengan sudut pandang (panna).



Bila etika berkontradiksi dengan kemelekatan, maka mana yang harus diutamakan? Bila seandainya untuk beretika, harus melekat, maka mana yang harus diutamakan?

Menurut saya bukan begitu deh.
Dalam vipassana, tidak melabeli berarti tidak membeda-bedakan, bahkan tidak melabelinya sebagai lusuh atau tidak, indah atau tidak.
Hanya sekedar menyadari/mengamati sehingga pemikiran "lusuh" tidak sempat timbul.
Jika timbul pemikiran "lusuh" berarti (pikiran) pelabelan telah terjadi, ini artinya sudah tidak melihat apa adanya, penyadaran gagal terjadi.

Menyadari berarti mencegah kebiasaan melabeli dari pikiran bawah sadar agar tidak sempat timbul.
Jika keburu timbul, maka langkah selanjutnya adalah tetap pada metode,
Misalnya pelabelan "lusuh" timbul, maka cukup kembali mengamati pikiran "lusuh" tersebut, jangan berusaha menghilangkannya pun jangan terbawa olehnya.
Jika tidak berhasil mengamatinya dan terbawa sehingga timbul pelabelan berikutnya yaitu persepsi "indah", maka tetaplah pada metode, cukup mengamati persepsi yang timbul, dst.
Diharapkan lama2 kita akan menjadi lebih waspada.
Semakin sering berlatih, akan semakin tajam kesadarannya.
Jangan terlalu memaksa, juga jangan terlalu lemah, latihannya.


Iya benar, konon kata yang tertulis di buku, praktisi yang sudah ahli bisa menyadari ia akan memikirkan lusuh sebelum pikiran lusuh itu tiba sehingga ia bisa menghindarinya. Saya hanya menuliskan pengalaman saya yang masih belum mencapai tahap tersebut. Tapi konsep di atas sangat mirip seperti apa yang saya pelajari.

Tapi bukan berarti kita harus memproyeksikan pola pandang ini dalam kehidupan biasa (nyata).
Kita tetap bisa membedakan lusuh atau rapi tapi batin tidak boleh terpengaruh olehnya.
Batin selalu siaga penuh, mengetahui atau menyadari kebiasaan bawah sadar yang akan timbul.


Selama kita masih hidup di dunia dalam arti masih bergaul, bersosialisasi dan berhubungan dengan dunia, tentu kita harus menyesuaikannya bukan.

Aneh di mata dunia belum tentu langkah kita sudah salah.
Tapi yang jelas jika ingin menuju Kebenaran maka jangan terlalu mempedulikan apa kata dunia.

Apa yang anda jalankan atau terapkan dan ketahui di dalam, tidak selalu harus diproyeksikan ke luar (dunia) kecuali Anda benar-benar telah siap apapun kata orang, siap dengan segala konsekwensinya.
Jika belum siap maka sebaiknya hidup menyesuaikan dengan keadaan "pasar".

Tapi dalam hati Anda sepenuhnya sadar akan apa yang terjadi.
Itulah sebabnya dalam hati kita melihat suatu proses batin yang kelihatannya seperti suatu rangkaian sandiwara di film.

Berpura-pura yang saya maksud di atas bukanlah dalam konteks sebenarnya tapi lebih kepada kita melihat suatu rentetan proses sebab akibat yang terjadi dengan jelas.


Saya akan merenungkan ini lebih dalam lagi. Agak sulit untuk melakukannya, karena secara awam, proses pemikiran mempengaruhi segala sesuatu yang dipikirkan dan kemudian membentuk sifat dan karakter hingga secara tidak langsung mempengaruhi perilaku. Sebagai contoh, bila dalam pikiran tidak melekat pada uang, maka secara tidak lansung sifat dan karakter tidak akan mengejar uang. Demikian juga dengan perilakunya, misalnya saat menemukan beberapa lembar uang milik orang lain tergeletak di ATM, akan dianggap seperti menemukan pohon2 dan kerikil sehingga tidak ada niat untuk mengambilnya. Ini bukan karena membenci uang, tapi mungkin karena mindset. Secara tidak langsung, orang-orang duniawi akan menganggap aneh, misalnya orang bodoh yang tidak ingin duit.

#43 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 12 April 2014 - 12:05 PM

thread ini rame,saya tergelitik untuk ikut nimbrung,tapi hanya bahas dari judul thread nya saja------

Bagaimana Cara Menerapkan Buddhisme Di Kehidupan Nyata Dalam Setiap Nafas?.

yang ditanya adalah cara atau resep,maka jawabannya adalah----tidak ada cara yang jitu.

kita umpamakan dengan pertanyaan yang mirip----

bagaimana cara menerapkan "disiplin diri" di jalan raya(mematuhi semua rambu2 lalulintas), adakah caranya?

jawabnya sama--tidak ada cara.

yang dibutuhkan adalah ----mengetahui,menyadari dan kemauan.
mengetahui---arti rambu atau ajaran Buddhist.
menyadari-----bahwa saya harus patuh pada semua rambu/ajaran.
kemauan------tekad untuk tidak melanggar.

kuncinya ada di kesadaran dan kemauan diri sendiri.

kalau di agama tetangga-----dari awal memang sudah dilengkapi dengan cara yang tersembunyi,
yaitu---ditakut takuti dan di iming iming.

bila patuh akan disenangi god masuk surga.
bila melanggar akan masuk neraka.

tapi ternyata cara "tersembunyi" itu juga tetap tidak berhasil,banyak umat yang melanggar/tidak patuh.

jawaban yang bukan jawaban adalah-----tergantung kesadaran dan kemauan.

mungkin ada yang bisa jawab pertanyaan susulan ini----- bagaimana bisa punya kesadaran penuh dan kemauan kuat ?

:lol2:


Iya benar. Terima kasih atas partisipasinya. Dalam thread ini, saya yang hanya seorang pembaca Dhammapada menjadi menemukan banyak pemikiran mengenai ajaran Buddhism yang membuat saya semakin rajin mencari tahu. Walaupun dari bacaan di Dhammapada akhirnya bercabang semakin meluas (dan membuat saya semakin kewalahan mencernanya), kuncinya memang ada di kesadaran dan kemauan diri sendiri.

#44 hadisantoso

hadisantoso

    semoga berguna

  • Members
  • 275
  • 4,714 posts
  • 67 thanks

Posted 12 April 2014 - 12:15 PM

Iya benar. Terima kasih atas partisipasinya. Dalam thread ini, saya yang hanya seorang pembaca Dhammapada menjadi menemukan banyak pemikiran mengenai ajaran Buddhism yang membuat saya semakin rajin mencari tahu. Walaupun dari bacaan di Dhammapada akhirnya bercabang semakin meluas (dan membuat saya semakin kewalahan mencernanya), kuncinya memang ada di kesadaran dan kemauan diri sendiri.


walau sepertinya anda masih pemula,tapi yang anda ketahui sudah luar biasa.
semangatnya pun saya acungi jempol.

:clapping:

#45 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 12 April 2014 - 01:11 PM

thread ini rame,saya tergelitik untuk ikut nimbrung,tapi hanya bahas dari judul thread nya saja------

Bagaimana Cara Menerapkan Buddhisme Di Kehidupan Nyata Dalam Setiap Nafas?.

yang ditanya adalah cara atau resep,maka jawabannya adalah----tidak ada cara yang jitu.

kita umpamakan dengan pertanyaan yang mirip----

bagaimana cara menerapkan "disiplin diri" di jalan raya(mematuhi semua rambu2 lalulintas), adakah caranya?

jawabnya sama--tidak ada cara.

yang dibutuhkan adalah ----mengetahui,menyadari dan kemauan.
mengetahui---arti rambu atau ajaran Buddhist.
menyadari-----bahwa saya harus patuh pada semua rambu/ajaran.
kemauan------tekad untuk tidak melanggar.

kuncinya ada di kesadaran dan kemauan diri sendiri.

kalau di agama tetangga-----dari awal memang sudah dilengkapi dengan cara yang tersembunyi,
yaitu---ditakut takuti dan di iming iming.

bila patuh akan disenangi god masuk surga.
bila melanggar akan masuk neraka.

tapi ternyata cara "tersembunyi" itu juga tetap tidak berhasil,banyak umat yang melanggar/tidak patuh.

jawaban yang bukan jawaban adalah-----tergantung kesadaran dan kemauan.

mungkin ada yang bisa jawab pertanyaan susulan ini----- bagaimana bisa punya kesadaran penuh dan kemauan kuat ?

:lol2:


bagaimana bisa punya kesadaran penuh dan kemauan kuat ?
* Ehipassiko.
Menurut saya pembuktian oleh diri sendiri adalah cara terampuh untuk meningkatkan kesadaran dan kemauan.

Karena itu ada pepatah mengatakan pengalaman adalah guru terbaik.

Ibarat seorang anak kecil (batita) yang terus merengek ingin memegang dan ikut merasakan nikmatnya kopi panas yang sedang dinikmati oleh bapaknya.
Jika orang tuanya mengatakan akan bahaya panasnya kopi dalam gelas, anak yang belum mengerti bahasa akan tetap bersikeras mendapatkannya.
Sampai gelas tersebut tersentuh oleh anak tersebut dan mengalami sendiri panasnya gelas maka kelak dia akan selalu mengingat gelas tersebut sebagai sesuatu yang bisa menyakiti dirinya dan dia tidak akan lagi meminta memegangnya meskipun bapaknya menyodori atau menawarkannya, alih-alih memberikan peringatan agar tidak menyentuh gelas tersebut lagi.

Kesadaran yang timbul dari pembuktian atau pengalaman sendiri biasanya akan membekas lebih lama.
Apalagi jika hal tersebut dipandang sebagai sesuatu yang penting, tentu dia akan menekuni dan mencarinya lebih dalam dan intens.

#46 hariyono

hariyono

    Fenomena WDC

  • Members
  • 170
  • 6,928 posts
  • 44 thanks

Posted 12 April 2014 - 02:01 PM

bagaimana bisa punya kesadaran penuh dan kemauan kuat ?
* Ehipassiko .

:clapping:

itulah ajaran Buddha kalamasutta



Karena itu ada pepatah mengatakan pengalaman adalah guru terbaik.



itulah kitab yang patut dibaca
bukan kitab hasil pemikiran dan hayalan orang lain .


Setelah menyadari semuanya,
terpenting niat kita menjalankan Dhamma ( kebenaran ) dalam kehidupan sehari-hari,
bukan hanya kita sekedar menyadari dan ber teory untuk kepentingan populeritas pribadi atau aliran.
Ingat!
Jalan menuju ke Buddhaan,
hanya dapat dilalui dengan praktik Dhamma dalam kehidupan sehari-hari,
bukan hanya ber teory.

:lotus:





Semoga semua makhluk berbahagia


#47 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 12 April 2014 - 02:09 PM

walau sepertinya anda masih pemula,tapi yang anda ketahui sudah luar biasa.
semangatnya pun saya acungi jempol.

:clapping:


Saya juga merasakan member-member baru yang join akhir2 nih bukan pemula biasa.
Jadi saya membatin bahwa mungkin saja mereka adalah para Senior yang datang untuk memberikan ujian saringan kepada sebagian pelajar di sini.
Saya anggap ini (pertanyaan dari para member) hanya sebagai lahan untuk latihan/belajar.

Habis "soal ujiannya" sulit-sulit semua.
Mesti peras otak, banting jari.
:lol2:

#48 hadisantoso

hadisantoso

    semoga berguna

  • Members
  • 275
  • 4,714 posts
  • 67 thanks

Posted 12 April 2014 - 02:27 PM

[IMG][IMG]http://i1356.photobucket.com/albums/q739/kimlonglie/ehipasiko_zps6b14f73c.jpg[/IMG][/IMG]

#49 yoh***s

yoh***s

    i dont know

  • Members
  • 31
  • 1,794 posts
  • 8 thanks

Posted 12 April 2014 - 02:47 PM

Tidak, tidak menolak. Menyadari dia ada dan dia akan tenang/lenyap. Saya sulit menemukan kata-katanya, tapi di buku meditasi yang saya baca ditulis bahwa: "Pikiran seperti anak kecil. Bila ia ditekan, maka ia akan semakin liar dan melawan. Bila ia diikuti, maka ia akan semakin menjadi-jadi. Cukup 'sadarin' (<= saya tidak tahu kata2 yang tepat) saja, kalo ga dapat perhatian, dia akan pergi sendiri."


terimakasih jawaban sdr yg mencerahkan _/|\_

Saya sendiri tidak tahu apa dunia berikutnya. Mungkin yang disebut sebagai The Path dalam Dhammpada? Seperti pada verse 281:

In speech ever watchful with mind well-restrained
never with body do unwholesomeness.
So should one purify these three kamma-paths
winning to the Way made known by the Seers.

Disini sering kali disebut sebagai The Path atau The Way, mungkin ini identik dengan dunia berikutnya yang tidak dipenuhi konsep duniawi? Sebagai seorang non-Buddhist, saya ingin tahu apa jawaban Anda sendiri atas pertanyaan ini?


the way to freedoom ... freedom everithing ................. itu kalu buddhis seperti aku

3 path kamma adalah pikiran ucapan dan tindakan .................. free from pikiran , ucapan ,dan tindakan

ultimate free begin frrom manas ... tanpa manas , no ucapan ,no tindakan

no manas ,no ucapan ,no tindakan ......... no shankara, no kesadaran ,no landasan 6 indera , no kesan ,no ............ jati (aku>>>---- lahir -sakit- tua- menderita -mati)

no sangkara becouse jhanna (telah cemerlang dlm memahami ,telah jelas dlm melihat ,telah Tau>>>> menyadari )

OOoo ya No sangkara no Alam ......... wkwkwkwkwkwk Alam ngak bisa nemukan " si " Anatta wkwkwkwkwkwkwkwkk

#50 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 12 April 2014 - 03:21 PM

@NullPointer: Karena anda sudah membaca Dhammapada, mungkin sebaiknya anda membaca sutta (kotbah Sang Buddha) yang terdapat dalam Nikaya-Nkaya. Sebagai awal dapat dimulai dari buku Kumpulan Kotbah Sang Buddha yang berisi kumpulan sutta-sutta yang telah disusun berdasarkan topik (dari yang bersifat keduniawian sampai jalan menuju pembebasan dan tercapainya pembebasan).

Sedangkan sutta-sutta dalam Nikaya-Nikaya Pali dapat anda baca pada link berikut:

1. Digha Nikaya (Kumpulan Kotbah Panjang Sang Buddha): http://dhammacitta.org/dcpedia/Dīgha_Nikāya
2. Samyutta Nikaya (Kumpulan Kotbah Berkelompok Sang Buddha): http://dhammacitta.org/dcpedia/Saṃyutta_Nikāya (belum lengkap)
3. Majjhima Nikaya (Kumpulan Kotbah Menengah Sang Buddha): http://dhammacitta.org/dcpedia/Majjhima_Nikāya
4. Anguttara Nikaya (Kumpulan Kotbah Numerik Sang Buddha):
* buku 1: http://dhammacitta.o...ic,23647.0.html
* buku 2: http://dhammacitta.o...ic,23682.0.html
* buku 3: http://dhammacitta.o...ic,23775.0.html
* buku 4: http://dhammacitta.o...ic,23851.0.html
* buku 5: http://dhammacitta.o...ic,23950.0.html
* buku 6: http://dhammacitta.o...ic,24201.0.html
* buku 7: http://dhammacitta.o...ic,24435.0.html
* buku 8: http://dhammacitta.o...ic,24471.0.html
* buku 9: http://dhammacitta.o...ic,24525.0.html
* buku 10: http://dhammacitta.o...ic,24624.0.html
* buku 11: http://dhammacitta.o...ic,24627.0.html

Versi ebook lengkap dapat di-download di:
1. Digha Nikaya: http://dhammacitta.o...ng-sang-buddha/
2. Samyutta Nikaya: http://dhammacitta.o...ok-sang-buddha/
3. Majjhima Nikaya: http://dhammacitta.o...ah-sang-buddha/
4. Anguttara Nikaya (masih dalam proses editing dan akan segera diterbitkan)

Selain itu untuk menambah pengetahuan tentang Buddhisme terdapat juga anda juga dapat membuka ensiklopedia Buddhis online DCPedia yang berisi banyak artikel tentang Buddhisme berdasarkan Nikaya-Nikaya.

rj1pgw.jpg


#51 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 12 April 2014 - 03:54 PM

Bila etika berkontradiksi dengan kemelekatan, maka mana yang harus diutamakan? Bila seandainya untuk beretika, harus melekat, maka mana yang harus diutamakan?

* Bila etika berkontradiksi dengan kemelekatan ---> saya memilih mengutamakan etika tentunya.
Mungkin maksud Anda adalah "Bila etika berkontradiksi dengan ketidakmelekatan"
--->ini harus dilihat kasusnya dulu.
Lebih jelasnya mungkin Anda berkenan memberikan contohnya?

* Bila seandainya untuk beretika, harus melekat, maka mana yang harus diutamakan?
Tergantung mana yang lebih "urgent".
Mungkin lebih jelas jika disertai contoh kasus.

Tapi intinya, kita tidak seharusnya serta merta beralasan bahwa kemelekatan adalah tidak baik maka ketidakmelekatan harus diletakkan atau diposisikan pada tingkat tertinggi.

Terkadang untuk menuju kebebasan dari suatu kemelekatan kita membutuhkan pengorbanan berupa etika yang ketat dan mengikat, seolah-olah kita melekat dengan berbagai etika tertentu.

Misalnya, dalam menjinakkan seekor kuda, pertama kita bisa mengikatnya pada sebatang pohon.
Mula2 kuda tersebut akan meronta-ronta, tersiksa oleh ikatan dan berusaha melepaskan dirinya dari keterikatan untuk kembali ke alam bebas.
Lama2 kuda tersebut akan capek sendiri dan tunduk pada ikatannya.
Sampai suatu hari dia tidak akan memberontak lagi dan bahkan menjadi jinak ketika dilepaskan talinya.

Kuda ibarat pikiran liar.
Pohon+tali ibarat sila.

Jadi untuk melepaskan diri dari kemelekatan terkadang kita mesti mengendalikan diri dulu dengan berbagai etika yang kelihatannya mengikat.
Tapi setelah berhasil melewatinya maka kebebasan akan diraih.

Bagaikan para pahlawan negara yang harus berjuang mati-matian melawan penjajah untuk mendapatkan kemerdekaan.
Jika tidak memaksakan diri untuk menderita terlebih dulu maka penjajahan akan tetap dirasakan.

Tapi terkadang seseorang melakukannya terlalu ekstrim sehingga justru hal tersebut justru menghambat perkembangannya.

Iya benar, konon kata yang tertulis di buku, praktisi yang sudah ahli bisa menyadari ia akan memikirkan lusuh sebelum pikiran lusuh itu tiba sehingga ia bisa menghindarinya. Saya hanya menuliskan pengalaman saya yang masih belum mencapai tahap tersebut. Tapi konsep di atas sangat mirip seperti apa yang saya pelajari.





Saya akan merenungkan ini lebih dalam lagi. Agak sulit untuk melakukannya, karena secara awam, proses pemikiran mempengaruhi segala sesuatu yang dipikirkan dan kemudian membentuk sifat dan karakter hingga secara tidak langsung mempengaruhi perilaku. Sebagai contoh, bila dalam pikiran tidak melekat pada uang, maka secara tidak lansung sifat dan karakter tidak akan mengejar uang. Demikian juga dengan perilakunya, misalnya saat menemukan beberapa lembar uang milik orang lain tergeletak di ATM, akan dianggap seperti menemukan pohon2 dan kerikil sehingga tidak ada niat untuk mengambilnya. Ini bukan karena membenci uang, tapi mungkin karena mindset. Secara tidak langsung, orang-orang duniawi akan menganggap aneh, misalnya orang bodoh yang tidak ingin duit.


Mungkin ini yang dimaksud dalam pepatah bahwa :
"Sebelum berlatih, melihat gunung sebagai gunung,
Pada saat berlatih, melihat gunung bukan sebagai gunung,
Dan setelah berlatih, melihat gunung tetap seperti gunung."

Sering kali di tengah pelatihan diri, kita menjadi memiliki pandangan terbalik dari sebelumnya.

Seperti konsep sunyata (kekosongan) :
kosong adalah berisi, berisi adalah kosong ini jika disikapi dengan tidak hati-hati akan jatuh pada kekosongan belaka (kekosongan melompong).
Orang tersebut bahkan tidak bisa membedakan kosong dan isi.
Menjadi tidak bergairah dalam hidupnya karena merasa hampa.
Kehidupan menjadi tidak berarti karena dipandang sebagai fana (kosong).
Tidak dapat membedakan kecopetan dengan berdana.
Dan bahkan dirinya tidak menemukan alasan yang tepat untuk menghargai indahnya Kebenaran.

Ketidakmelekatan adalah berbeda dengan keengganan atau keputusasaan, apalagi kebodohan.

Cmiiw.

#52 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 13 April 2014 - 06:47 AM

@Senior NullPointer mungkin link ini bisa melengkapi pembahasan kita.
http://www.wihara.co...read.php?t=9828

#53 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 13 April 2014 - 07:16 AM

Mengenai soal etika yang kelihatannya mengikat (kontradiksi dengan ketidakmelekatan), ini dilakukan terkadang kita mesti mengikatkan diri dengan hal kecil (etika atau sila) dulu untuk melepaskan diri dari kemelekatan yang lebih besar.

#54 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 13 April 2014 - 08:19 AM

@Senior NullPointer mungkin link ini bisa melengkapi pembahasan kita.
http://www.wihara.co...read.php?t=9828


Ilusi dalam pengertian Buddhis bukanlah kosong melompong (nihilistik) tapi lebih kepada kondisi perubahan atau keadaan yang saling bergantungan.

Melihat segala sesuatu sebagai "ada" atau kekal adalah pandangan salah.
Melihat segala sesuatu sebagai "kosong" atau tidak ada pun merupakan pandangan salah.

Keduanya adalah pandangan yang berkondisi, dan segala yang berkondisi adalah dukkha.

cmiiw.

#55 hadisantoso

hadisantoso

    semoga berguna

  • Members
  • 275
  • 4,714 posts
  • 67 thanks

Posted 14 April 2014 - 10:45 AM

bagaimana bisa punya kesadaran penuh dan kemauan kuat ?
* Ehipassiko.
Menurut saya pembuktian oleh diri sendiri adalah cara terampuh untuk meningkatkan kesadaran dan kemauan.

Karena itu ada pepatah mengatakan pengalaman adalah guru terbaik.

Ibarat seorang anak kecil (batita) yang terus merengek ingin memegang dan ikut merasakan nikmatnya kopi panas yang sedang dinikmati oleh bapaknya.
Jika orang tuanya mengatakan akan bahaya panasnya kopi dalam gelas, anak yang belum mengerti bahasa akan tetap bersikeras mendapatkannya.
Sampai gelas tersebut tersentuh oleh anak tersebut dan mengalami sendiri panasnya gelas maka kelak dia akan selalu mengingat gelas tersebut sebagai sesuatu yang bisa menyakiti dirinya dan dia tidak akan lagi meminta memegangnya meskipun bapaknya menyodori atau menawarkannya, alih-alih memberikan peringatan agar tidak menyentuh gelas tersebut lagi.

Kesadaran yang timbul dari pembuktian atau pengalaman sendiri biasanya akan membekas lebih lama.
Apalagi jika hal tersebut dipandang sebagai sesuatu yang penting, tentu dia akan menekuni dan mencarinya lebih dalam dan intens.


EHIPASSIKO------datang --lihat---dan buktikan.

maka sejatinya ehipassiko hanya menghasilkan buktikan atau membuktikan.
membuktikan apa?
membuktikan bahwa harus begini dan tidak boleh begitu.
membuktikan bahwa ajaran ini,konsep ini adalah benar adanya.

tapi apakah sudah menyadarkan yang bersangkautan untuk mengikuti ,mentaati,melaksanakannya? belum !!!

sebagai perumpamaan------

semua orang mengetahui dengan pasti,bahwa marah,benci ,dendam itu tidak baik(sudah ehipassiko),tapi siapa yang sudah mampu tidak marah,tidak benci dan tidak dendam ?

semua orang mengetahui dengan pasti,bahwa rambu lalu lintas harus dipatuhi bila ingin aman, tapi siapa yang sudah mampu menjalankan motor/mobil 40 km/jam di dalam kota?

semua orang sudah mengetahui dengan pasti,bahwa kasih harus disalurkan kepada semua sesama makhluk ,membantu/menolong sesama manusia jangan pilih2, tapi siapa yang sudah bisa melaksanakan dengan baik,oh ini sama2 ethnis,oh ini sama2 suku,oh ini se-agama, oh ini se-aliran,oh ini sepaham,oh ini pernah menyerang/membantah saya, dsb


ehipassiko hanya membuat umat lebih mantap dan yakin,tapi belum bisa membangkitkan kesadaran dan kemauan keras untuk melakukan dan mererapkan ajaran Buddhist dalam setiap nafas/setiap langkah.
disitu masih ada hal jodoh, karma ,situasi dan kondisi yang mempengaruhi.

lalu ----apa yang bisa membakar semangat dan keinginan keras untuk menjadi umat yang baik dan benar ???

silahkan dikoreksi.


:lol2:

#56 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 14 April 2014 - 11:58 AM

EHIPASSIKO------datang --lihat---dan buktikan.

maka sejatinya ehipassiko hanya menghasilkan buktikan atau membuktikan.
membuktikan apa?
membuktikan bahwa harus begini dan tidak boleh begitu.
membuktikan bahwa ajaran ini,konsep ini adalah benar adanya.

tapi apakah sudah menyadarkan yang bersangkautan untuk mengikuti ,mentaati,melaksanakannya? belum !!!

Proses Ehipassiko menyangkut diri sendiri bukan orang lain.
Kita sulit mengetahui tingkatan Ehipassiko seseorang.

Keberhasilan membuktikan (ehipassiko) bisa menimbulkan dua reaksi yaitu menolak dan menuruti/menaati/mengikuti.

Membuktikan , bisa berarti membuktikan kebenaran dan kesalahan (kebenaran suatu kesalahan).
Jika hal yang dibuktika adalah bersifat positif (kebenaran) maka cenderung kita akan mengambilnya atau menerapkannya, ini pun tergantung tingkat kepentingan kita sendiri akan hal yang dibuktikan tersebut.

Sedangkan jika hal yang berhasil dibuktikannya adalah yang bersifat negatif/suatu kesalahan maka dirinya cenderung akan menghindari/menolak hal tersebut.

sebagai perumpamaan------

semua orang mengetahui dengan pasti,bahwa marah,benci ,dendam itu tidak baik(sudah ehipassiko),tapi siapa yang sudah mampu tidak marah,tidak benci dan tidak dendam ?

Apa benar semua orang mengetahui dengan pasti akan hal2 tersebut?
Atau apakah benar orang2 tersebut telah membuktikan sendiri, atau hanya membaca atau mendengar dari orang lain?

Dan hal tidak baik seperti apa yang dapat ditimbulkan oleh sifat marah,benci dan dendam?

Konsep tidak baik sendiri tentu masih memiliki tingkatan atau kadarnya sendiri atau bersifat relatif.
Misalnya tidak baik terhadap apa, apakah tidak baik untuk kesehatan, tidak baik untuk orang lain, atau tidak baik untuk hidup.

Misalnya jika efek karma (buah karma) adalah langsung terjadi sesaat setelah perbuatan dilakukan, mungkin semua orang akan berlomba-lomba melakukan perbuatan baik saja.

semua orang mengetahui dengan pasti,bahwa rambu lalu lintas harus dipatuhi bila ingin aman, tapi siapa yang sudah mampu menjalankan motor/mobil 40 km/jam di dalam kota?

Apakah dengan menjalankan kendaraan 40 km/jam adalah titik teraman?

Bahkan jika informasi tentang kecelakaan (meninggal di tempat) berikut data kecepatan kendaraan pada saat terjadi kecelakaan tersebut diumumkan dengan jelas pun belum tentu akan dengan serta merta membuat setiap orang akan mengendarai dengan kelambatan 40 km/jam, oleh karena apa?
Karena setiap orang berbeda kepentingannya dalam memandang hal tersebut.

semua orang sudah mengetahui dengan pasti,bahwa kasih harus disalurkan kepada semua sesama makhluk ,membantu/menolong sesama manusia jangan pilih2, tapi siapa yang sudah bisa melaksanakan dengan baik,oh ini sama2 ethnis,oh ini sama2 suku,oh ini se-agama, oh ini se-aliran,oh ini sepaham,oh ini pernah menyerang/membantah saya, dsb

Saya agak ragu dengan pernyataan "semua orang sudah mengetahui dengan pasti" ini apakah benar-benar sudah mengetahui dengan pasti dalam arti yang sesungguhnya, apakah benar-benar sudah membuktikannya sendiri, bukan hanya membaca atau mendengar dari orang lain.

Karena bukannya tidak ada dalam sejarah yang kita baca atau lihat, orang yang
memiliki kasih tanpa syarat kan?
Bahkan pada jaman sekarang kita masih bisa menemukan orang-orang seperti itu.

Sangatlah berbeda antara pembuktian oleh diri sendiri secara langsung dengan kepercayaan karena mendengar dari orang lain atau membaca dari buku atau majalah.

Saya pikir hal inilah yang membuat Anda mengatakan atau berpikir bahwa Ehipassiko tidaklah seefektif seperti yang saya katanya.

ehipassiko hanya membuat umat lebih mantap dan yakin,tapi belum bisa membangkitkan kesadaran dan kemauan keras untuk melakukan dan mererapkan ajaran Buddhist dalam setiap nafas/setiap langkah.
disitu masih ada hal jodoh, karma ,situasi dan kondisi yang mempengaruhi.

lalu ----apa yang bisa membakar semangat dan keinginan keras untuk menjadi umat yang baik dan benar ???

silahkan dikoreksi.


:lol2:


Jodoh, kamma, situasi dan kondisi didapatkan atau bersumber dari mana?
Bagaimana seseorang bisa memiliki jodoh, karma, dan kondisi yang mendukung?
Nah, mungkin ini perlu Anda renungkan dan kemudian Ehipassikokan sendiri untuk membuktikannya.

:lol2:

#57 freedom

freedom

    Senior WDC

  • Moderators
  • 30
  • 1,301 posts
  • 8 thanks

Posted 14 April 2014 - 12:55 PM

Hi rekan NullPointer :)

Ikut posting lagi ya :)

Saya tertarik dengan ulasan postingan kamu :

Pada saat acara akan dimulai, seorang bikuni yang memimpin acara seolah-olah menegur secara halus bahwa umat yang baik harus tampil secara rapi dan seindah mungkin dihadapan Buddha sebagai bentuk respek pada Buddha itu sendiri.

Mohon informasi, apakah cara berpakaian kamu sehari-hari, sama dengan cara berpakaian saat kamu ke Vihara ?

Umat-umat yang datang, berasal dari berbagai kalangan, berbagai latar pendidikan, berbagai dasar ajaran (belum tentu dari Buddhist).
Secara umum, etika berpakaian , penting untuk kenyamanan, tata krama dan tertibnya serta konsentrasi kegiatan ibadah.
Apa jadinya jika umat datang dengan berpakaian ala di pantai ?

Nah, yang jadi pertanyaan adalah, apakah kamu ada sharing pendapat dengan Bikhuni, mengenai argumentasi kamu ? :

Pakaian indah dan rapi adalah konsep duniawi. Respek harus dengan pakaian indah juga adalah konsep duniawi. Mengapa konsep duniawi harus diutamakan di vihara yang notabene mengejar kelepasan dari konsep duniawi? Seperti yang saudara bilang, belajar dari dunia ilusi, secara tidak langsung sang bikuni telah mengajarkan pada saya untuk lebih berhati-hati agar tidak terikat pada konsep duniawi.

Sesungguhnya, di Vihara, banyak pembina-pembina untuk diajak tukar pikiran, sharing dharma Sang Buddha.
Sejak saat itu, saya mengambil pandangan yang berbeda. Saya berusaha menyadarkan pikiran saya terlebih dahulu sebelum memantapkan diri beraktifitas di vihara.

Semoga kamu masih ingin mencobanya, ajak Bikhu/ Bikhuni, umat-umat lain, ajak sharing pelajaran dharma dengan Beliau-beliau pembina ini.
Siapa tahu, kamu mendapatkan "sesuatu" dari mereka dan Vihara beserta umat-umat dan Senior didalamnya, dapat menjadi arena berlatih diri untuk menerapkan Buddhisme dalam setiap nafas.

Saya kagum dengan kamu, ingin menerapkan Buddhisme dalam setiap nafas dan saya banyak belajar dari jawaban posting kamu dalam thread ini.
Saya sudah berkali-kali berkunjung Vihara, baca buku Dharma Sang Buddha, belum ada keterpanggilan kuat untuk dalam aplikasi nyata.
Saya baru belajar mengumpulkan teori-teori saja.

Ini saja postingan dari saya :)

Mohon bimbingan dan koreksi jika ada kesalahan dalam postingan saya :namaste2:

Terima kasih.

Semoga Semua Mahluk Berbahagia :)

~Peace Love
Freedom


#58 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 14 April 2014 - 01:10 PM

terimakasih jawaban sdr yg mencerahkan _/|\_
the way to freedoom ... freedom everithing ................. itu kalu buddhis seperti aku

3 path kamma adalah pikiran ucapan dan tindakan .................. free from pikiran , ucapan ,dan tindakan

ultimate free begin frrom manas ... tanpa manas , no ucapan ,no tindakan

no manas ,no ucapan ,no tindakan ......... no shankara, no kesadaran ,no landasan 6 indera , no kesan ,no ............ jati (aku>>>---- lahir -sakit- tua- menderita -mati)

no sangkara becouse jhanna (telah cemerlang dlm memahami ,telah jelas dlm melihat ,telah Tau>>>> menyadari )

OOoo ya No sangkara no Alam ......... wkwkwkwkwkwk Alam ngak bisa nemukan " si " Anatta wkwkwkwkwkwkwkwkk


Terima kasih atas pengetahuannya. Ini sepertinya yang ada dalam pikiran saya dari awal. Tapi setelah beberapa diskusi panjang dengan @msc, saya melihat pandangan lain dimana 'no manas, no ucapan, no tindakan, no self' adalah sisi ekstrim dari 'manas, ucapan, tindakan, dan self'.

@NullPointer: Karena anda sudah membaca Dhammapada, mungkin sebaiknya anda membaca sutta (kotbah Sang Buddha) yang terdapat dalam Nikaya-Nkaya. Sebagai awal dapat dimulai dari buku Kumpulan Kotbah Sang Buddha yang berisi kumpulan sutta-sutta yang telah disusun berdasarkan topik (dari yang bersifat keduniawian sampai jalan menuju pembebasan dan tercapainya pembebasan).

Sedangkan sutta-sutta dalam Nikaya-Nikaya Pali dapat anda baca pada link berikut:

1. Digha Nikaya (Kumpulan Kotbah Panjang Sang Buddha): http://dhammacitta.org/dcpedia/Dīgha_Nikāya
2. Samyutta Nikaya (Kumpulan Kotbah Berkelompok Sang Buddha): http://dhammacitta.org/dcpedia/Saṃyutta_Nikāya (belum lengkap)
3. Majjhima Nikaya (Kumpulan Kotbah Menengah Sang Buddha): http://dhammacitta.org/dcpedia/Majjhima_Nikāya
4. Anguttara Nikaya (Kumpulan Kotbah Numerik Sang Buddha):
* buku 1: http://dhammacitta.o...ic,23647.0.html
* buku 2: http://dhammacitta.o...ic,23682.0.html
* buku 3: http://dhammacitta.o...ic,23775.0.html
* buku 4: http://dhammacitta.o...ic,23851.0.html
* buku 5: http://dhammacitta.o...ic,23950.0.html
* buku 6: http://dhammacitta.o...ic,24201.0.html
* buku 7: http://dhammacitta.o...ic,24435.0.html
* buku 8: http://dhammacitta.o...ic,24471.0.html
* buku 9: http://dhammacitta.o...ic,24525.0.html
* buku 10: http://dhammacitta.o...ic,24624.0.html
* buku 11: http://dhammacitta.o...ic,24627.0.html

Versi ebook lengkap dapat di-download di:
1. Digha Nikaya: http://dhammacitta.o...ng-sang-buddha/
2. Samyutta Nikaya: http://dhammacitta.o...ok-sang-buddha/
3. Majjhima Nikaya: http://dhammacitta.o...ah-sang-buddha/
4. Anguttara Nikaya (masih dalam proses editing dan akan segera diterbitkan)

Selain itu untuk menambah pengetahuan tentang Buddhisme terdapat juga anda juga dapat membuka ensiklopedia Buddhis online DCPedia yang berisi banyak artikel tentang Buddhisme berdasarkan Nikaya-Nikaya.


Terima kasih atas link-nya. Belakangan ini setelah berdiskusi di forum, saya banyak googling membaca artikel. Kalo ada sutta yang bisa dibaca seperti di atas, akan lebih lengkap lagi.

Ilusi dalam pengertian Buddhis bukanlah kosong melompong (nihilistik) tapi lebih kepada kondisi perubahan atau keadaan yang saling bergantungan.

Melihat segala sesuatu sebagai "ada" atau kekal adalah pandangan salah.
Melihat segala sesuatu sebagai "kosong" atau tidak ada pun merupakan pandangan salah.

Keduanya adalah pandangan yang berkondisi, dan segala yang berkondisi adalah dukkha.

cmiiw.


Setelah melakukan googling, saya menyadari bahwa saya mungkin telah memilih kata yang tidak tepat, 'ilusi'. Sepertinya ada perbedaan yang sangat mendasar antara tradisi Threavada dan Mahayana dalam hal ini. Pada pandangan Threavada, ilusi dilihat sama seperti di Dhammapada yang saya baca:

The idea of emptiness as lack of inherent existence has very little to do with what the Buddha himself said about emptiness. His teachings on emptiness — as reported in the earliest Buddhist texts, the Pali Canon — deal directly with actions and their results, with issues of pleasure and pain. To understand and experience emptiness in line with these teachings requires not philosophical sophistication, but a personal integrity willing to admit the actual motivations behind your actions and the actual benefits and harm they cause


Ilusi berhubungan dengan sunyata dimana berhubungan dengan motivasi dibalik aksi. Sebagai pembaca Dhammapada, pandangan awal saya tentangi ilusi dan kekosongan adalah ini.

Pada tradisi Mahayana, ilusi sepertinya memiliki konsep yang sangat besar. Tradisi Mahayana sepertinya membawa konsep ilusi ke sebuah filosofi global. Segala sesuatunya adalah kosong dan berisi, ada dan tiada. Hidup harus berada di jalan yang tengah yang tidak berada dalam satu titik ekstrim. Tulisan yang saya buat ini ada dan tiada. Oleh sebab itu, konsep non dualism disebut tidak dapat dipahami melalui tulisan, konsep, dsb selain melalui kegiatan (penyadaran). Walaupun sudah sadar tentang konsep non dualism dan menyadi satu dengan dunia, seseorang masih tetap berada dalam dualism ini. Satu-satunya yang bebas dari dualism adalah nirvana, yang tidak dapat dicapai (karena manusia selalu dalam dualism, sehingga yang terbaik yang bisa dilakukan manusia adalah menyadari dualism). Karena konsep dualism penting dalam tradisi Mahayana tetapi tidak dapat dipahami melalui kata-kata dan konsep (karena ini terikat pada satu ekstrim), maka sepertinya akan sulit mendiskusikannya. Saya merasakan ini ada hubungannya dengan Toism dimana Tao adalah segala sesuatu yang ada disekitar kita tetapi tidak kita sadari. Tao tidak memiliki nama tetapi Tao ada. Menanyakan apa itu Tao sama dengan seperti ikan yang bertanya air ada dimana.

Saya menemukan kutipan menarik mengenai tradisi Zen, salah satu cabang tradisi Mahayana, di Wikipedia, seperti berikut ini:

Gudo Wafu Nishijima criticizes the use of the term of mindfulness and idealistic interpretations of the practice from the Zen standpoint:

However recently many so-called Buddhist teachers insist the importance of "mindfulness." But such a kind of attitudes might be insistence that Buddhism might be a kind of idealistic philosophy. Therefore actually speaking I am much afraid that Buddhism is misunderstood as if it was a kind of idealistic philosophy. However we should never forget that Buddhism is not an idealistic philosophy, and so if someone in Buddhism reveres mindfulness, we should clearly recognize that he or she can never be a Buddhist at all.[24]

Muho Noelke, the abbot of Antaiji, explains the pitfalls of consciously seeking mindfulness.

We should always try to be active coming out of samadhi. For this, we have to forget things like "I should be mindful of this or that." If you are mindful, you are already creating a separation ("I - am - mindful - of - ...."). Don't be mindful, please! When you walk, just walk. Let the walk walk. Let the talk talk (Dogen Zenji says: "When we open our mouths, it is filled with Dharma"). Let the eating eat, the sitting sit, the work work. Let sleep sleep.[25]


Aliran Zen sepertinya men-kritik mindfulness bahwa mindfulness (sati) sendiri adalah membuat pemisahan dan tidak berada di jalan tengah (seperti dalam konsep dualism di Mahayana). Sekali lagi saya merasa bahwa konsep dualism ini sangat sulit dipahami dengan konsep, teori, dan kata-kata, maka sulit untuk diajarkan/didiskusikan selain dengan merasakannya sendiri.

Saya mulai mencari tahu mengenai buku Buddhism yang sering saya baca dan menemukan bahwa pandangan si pengarang lebih condong ke tradisi Theravada. Karena nama si pengarang diawali dengan 'Ajahn' (yang berarti guru), ia mungkin berkaitan dengan Thai Forest Tradition. Artikel berikut ini adalah deskripsi tentang Thai Forest Tradition yang saya temukan di Wiki:

In Thailand, Buddhism plays a central role in society. In the early 1900s, the urban monasteries often served as scholastic learning centers. Monks usually receive their education in monasteries and earn the rough equivalent of "graduate degrees" in Pali and Tipitaka studies, without necessarily engaging in the meditative practices described in the scriptures. During that period, it was also generally believed that it was no longer possible to achieve awakening. Because of the tendency in urban monastic life towards scholarship, debate, greater social activity and so on, some monks believed the original ideals of the monastic life (sangha) had been compromised. It was in part a reaction against this perceived dilution in Buddhism which led Ajahn Sao and Ajahn Mun to the simpler life associated with the forest tradition and meditation practice. Forest monasteries are situated far away from urban areas, usually in the wilderness or very rural areas of Thailand. One finds such monastic settings in other Buddhist countries as well such as Sri Lanka, Cambodia and Myanmar. The Forest Tradition revival is an attempt to reach back to past centuries before modernization, and reclaim old discipline standards, as an attempt to stave off increasing laxness in contemporary monastic life.


Secara garis besar, sepertinya Thai Forest Tradition adalah bentuk protes pada monasteries yang dilihatnya terlalu terikat pada teori dan rutinitas (mendapatkan gelar, berdebat, bersosialisasi, dsb) sehingga sulit mencapai pencerahan.

Atau mungkin sang pengarang adalah bagian dari kategori meditative monk (saya tidak tahu apa meditative monk dan Thailand forest tradition adalah hal yang berbeda?), seperti dalam artikel Wikipedia berikut ini:

Meditation monks, often called forest monks because of their association with certain wilderness-dwelling traditions, are considered to be specialists in meditation. While some forest monks may undertake significant study of the Pali Canon, in general meditation monks are expected to learn primarily from their meditation experiences and personal teachers, and may not know more of the Tipitaka than is necessary to participate in liturgical life and to provide a foundation for fundamental Buddhist teachings.


Bila dilihat dari deksripsi di atas, meditation monk secara umum hanya membaca Tipitaka sebagai panduan dasar dan berusaha memahami ajaran Buddha melalui pengalaman meditasi dan bimbingan guru secara personal. Bila dilihat dari konsep dualism, secara umum, sepertinya ini terlihat masuk ke satu titik ekstrim bila dilihat dari luar? Walaupun demikian, entah mengapa, saya merasa sangat tertarik dengan pandangan Thai forest tradition dan cara hidup meditation monks. Apakah ada komunitasnya di Indonesia? Dimana saya bisa mempelajari informasi mengenai mereka lebih lanjut? Bila harus berangkat ke Thailand, apakah ada agency di Indonesia yang membuat persiapan atau pelatihan terlebih dahulu?

Mengenai soal etika yang kelihatannya mengikat (kontradiksi dengan ketidakmelekatan), ini dilakukan terkadang kita mesti mengikatkan diri dengan hal kecil (etika atau sila) dulu untuk melepaskan diri dari kemelekatan yang lebih besar.


Pada buku yang saya baca, pernah ada cerita para biksu harus memakan kodok yang dibusukkan dan berulat karena sulit menyediakan pasokan makanan lain. Ini sepertinya salah satu contoh untuk mengutamakan ketidakmelekatan di atas sila.

Dalam koan Zen, juga ada cerita biksu senior yang menggendong cewek melewati sungai. Ini tidak melekat pada sila untuk sementara (dengan menyentuh wanita). Atau mungkin pada dasarnya ia tidak pernah melanggar sila karena keinginannya akan hasrat wanita memang tidak ada, hanya ingin membantunya menyebarangi sungai.

#59 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 14 April 2014 - 01:48 PM

Hi rekan NullPointer :)

Ikut posting lagi ya :)

Saya tertarik dengan ulasan postingan kamu :

Pada saat acara akan dimulai, seorang bikuni yang memimpin acara seolah-olah menegur secara halus bahwa umat yang baik harus tampil secara rapi dan seindah mungkin dihadapan Buddha sebagai bentuk respek pada Buddha itu sendiri.

Mohon informasi, apakah cara berpakaian kamu sehari-hari, sama dengan cara berpakaian saat kamu ke Vihara ?

Umat-umat yang datang, berasal dari berbagai kalangan, berbagai latar pendidikan, berbagai dasar ajaran (belum tentu dari Buddhist).
Secara umum, etika berpakaian , penting untuk kenyamanan, tata krama dan tertibnya serta konsentrasi kegiatan ibadah.
Apa jadinya jika umat datang dengan berpakaian ala di pantai ?


Saya tidak memakai pakaian formal, tapi saya memakai pakaian sehari-hari seperti yang dipakai saat santai. Benar, bisa jadi masalah juga bila setiap umat tidak tertib mengikuti ibadah.

Nah, yang jadi pertanyaan adalah, apakah kamu ada sharing pendapat dengan Bikhuni, mengenai argumentasi kamu ? :


Tidak. Setelah acara selesai, seingat saya seperti berjalan mengelilingi ruangan, sang bikuni berjalan keluar dari ruangan dan saya merasa segan untuk mencegatnya dan bertanya lebih lanjut tentang ajaran Sang Buddha.

Saya kagum dengan kamu, ingin menerapkan Buddhisme dalam setiap nafas dan saya banyak belajar dari jawaban posting kamu dalam thread ini.
Saya sudah berkali-kali berkunjung Vihara, baca buku Dharma Sang Buddha, belum ada keterpanggilan kuat untuk dalam aplikasi nyata.
Saya baru belajar mengumpulkan teori-teori saja.

Ini saja postingan dari saya :)

Mohon bimbingan dan koreksi jika ada kesalahan dalam postingan saya :namaste2:

Terima kasih.

Semoga Semua Mahluk Berbahagia :)

~Peace Love
Freedom[/COLOR]


Sejak membaca buku Dhammpada, saya merasa sangat tertarik dan damai. Salah satau ajaran dalam Dhammapada adalah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dalam setiap nafas. Sejak itu saya mencoba mencari tahu tentang Buddhisme dan sangat ingin menerapkannya. Saya sering kali gagal. Hampir selalu gagal. Saya bukan siapa-siapa dan apa yang saya tulis tidak patut dicontoh karena apa yang saya ketahui hanya menyentuh kulit.

#60 yoh***s

yoh***s

    i dont know

  • Members
  • 31
  • 1,794 posts
  • 8 thanks

Posted 14 April 2014 - 06:20 PM

Terima kasih atas pengetahuannya. Ini sepertinya yang ada dalam pikiran saya dari awal. Tapi setelah beberapa diskusi panjang dengan @msc, saya melihat pandangan lain dimana 'no manas, no ucapan, no tindakan, no self' adalah sisi ekstrim dari 'manas, ucapan, .


Jika di terjemahkan no manas = sebagai tdk ber ide,tdk berkesimpulan,tdk berhayal,tdk mencetus, tdk menilai ... kemudian tdk ada lg yg perlu diucapkan(no ucapan), dan kemudian tdk ada yg diperbuat ,tdk ada yg diupayakan,tdk ada yg diusahakan,tdk meraih krn tdk ada yg diraih(no tindakan) = terhentinya Sangkhara

Apakah hal ini dinilai,disimpulkan sebagai sisi exstrim?




0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close