Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

Bagaimana Cara Menerapkan Buddhisme Di Kehidupan Nyata Dalam Setiap Nafas?


  • Please log in to reply
68 replies to this topic

#61 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 15 April 2014 - 03:42 AM

Jika di terjemahkan no manas = sebagai tdk ber ide,tdk berkesimpulan,tdk berhayal,tdk mencetus, tdk menilai ... kemudian tdk ada lg yg perlu diucapkan(no ucapan), dan kemudian tdk ada yg diperbuat ,tdk ada yg diupayakan,tdk ada yg diusahakan,tdk meraih krn tdk ada yg diraih(no tindakan) = terhentinya Sangkhara

Apakah hal ini dinilai,disimpulkan sebagai sisi exstrim?


Ini yang berusaha saya praktekkan, dimana hal ini pada dunia nyata membuat saya terlihat pasif dan malas, Tidak akan keinginan, maka tidak ada niat, maka tidak ingin berstrategi, berjuang, dan sebagainya. Sebagai tambahan, saya akan berusaha menjalani hidup pada saat ini, detik ini juga, tanpa mengkhawatirkan masa depan atau memikirkan masa lalu (mungkin terlihat kurang waras bagi kebanyakan orang).

Masukan yang saya peroleh adalah:

Tidak melekat bukan berarti harus menolak kemelekatan itu sendiri.
Misalnya, saya berusaha untuk tidak melekat kepada pakaian mewah, bukan berarti saya harus memakai pakai lusuh atau sengaja tidak mencucinya.
Ini adalah kemelekatan di atas kemelekatan yang lain alias keluar dari kemelekatan yang satu dan terjebak masuk ke kemelekatan lainnya.
Keduanya adalah pandangan yang salah.

Dikatakan bahwa pada jaman Sang Buddha ada petapa telanjang.
Mereka mendeklarasikan diri sebagai "yang kembali atau menyatu dengan alam", saya pikir itu bukanlah solusi yang bijak dalam menindaklanjuti untuk melepaskan diri dari kemelekatan duniawi.


Secara logika, bila saya tidak melekat pada pakaian mewah, maka pikiran saya tidak akan memikirkan pakaian mewah, sehingga saya tidak akan memiliki niat untuk memakai pakaian mewah. Dalam hal ini, tidak melekat pada pakaian mewah akan menghasilkan pikiran yang tidak memakai pakaian mewah (mungkin saja pakaian lusuh atau pakaian lainnya). Tapi ini disebut merupakan sebuah pandangan yang salah, sehingga saya berusaha memperbaikinya.

Kasus di atas adalah pakaian. Secara garis besar, bila saya berusaha melepaskan ego, maka saya perlu mengganti kata 'pakaian' menjadi 'diri sendiri', sehingga logikanya menjadi:

Tidak melekat bukan berarti harus menolak kemelekatan itu sendiri.
Misalnya, saya berusaha untuk tidak melekat kepada ((diri sendiri)), bukan berarti saya harus ((tdk ada yg diupayakan,tdk ada yg diusahakan,tdk meraih)).
Keduanya adalah pandangan yang salah.


Saya juga sedang berusaha mencerna bagian ini:

Ilusi dalam pengertian Buddhis bukanlah kosong melompong (nihilistik) tapi lebih kepada kondisi perubahan atau keadaan yang saling bergantungan.

Melihat segala sesuatu sebagai "ada" atau kekal adalah pandangan salah.
Melihat segala sesuatu sebagai "kosong" atau tidak ada pun merupakan pandangan salah.

Keduanya adalah pandangan yang berkondisi, dan segala yang berkondisi adalah dukkha.


Setelah tidak meraih karena tidak ada lagi yang bisa diraih, bukankah semuanya kosong? Dalam hal ini, semuanya kosong karena ia timbul dari ide, khayalan, persepsi, dan konsep. Tapi melihat segala sesuatu sebagai "kosong" atau tidak ada pun merupakan pandangan salah. Dan tapi lagi, melihat sesuatu "ada" juga pandangan salah.

Salah satu saran yang saya peroleh adalah mencoba untuk hidup di dalam dunia nyata secara sadar tetapi 'berpura-pura' di luarnya. 'Sadar' di dalam, tetapi 'tidak sadar' (???) di luar. Saya merasa hal ini sulit diterapkan karena bila ide, khayalan, konsep, ilusi sudah tidak ada di dalam pikiran (anggap saja sudah lupa apa itu kaya dan miskin, apa itu sehat dan sakit), bagaimana bisa dimunculkan kembali di 'luar'? Dan bila harus dimunculkan kembali di 'luar', bukankah segala ide yang sudah ditinggalkan akan masuk kembali dalam pikiran?

#62 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 15 April 2014 - 09:26 AM

Ini yang berusaha saya praktekkan, dimana hal ini pada dunia nyata membuat saya terlihat pasif dan malas, Tidak akan keinginan, maka tidak ada niat, maka tidak ingin berstrategi, berjuang, dan sebagainya. Sebagai tambahan, saya akan berusaha menjalani hidup pada saat ini, detik ini juga, tanpa mengkhawatirkan masa depan atau memikirkan masa lalu (mungkin terlihat kurang waras bagi kebanyakan orang).

Masukan yang saya peroleh adalah:



Secara logika, bila saya tidak melekat pada pakaian mewah, maka pikiran saya tidak akan memikirkan pakaian mewah, sehingga saya tidak akan memiliki niat untuk memakai pakaian mewah. Dalam hal ini, tidak melekat pada pakaian mewah akan menghasilkan pikiran yang tidak memakai pakaian mewah (mungkin saja pakaian lusuh atau pakaian lainnya). Tapi ini disebut merupakan sebuah pandangan yang salah, sehingga saya berusaha memperbaikinya.

Kasus di atas adalah pakaian. Secara garis besar, bila saya berusaha melepaskan ego, maka saya perlu mengganti kata 'pakaian' menjadi 'diri sendiri', sehingga logikanya menjadi:



Saya juga sedang berusaha mencerna bagian ini:



Setelah tidak meraih karena tidak ada lagi yang bisa diraih, bukankah semuanya kosong? Dalam hal ini, semuanya kosong karena ia timbul dari ide, khayalan, persepsi, dan konsep. Tapi melihat segala sesuatu sebagai "kosong" atau tidak ada pun merupakan pandangan salah. Dan tapi lagi, melihat sesuatu "ada" juga pandangan salah.

Menanggapi tentang pikiran, mari kita coba analisis contoh yang diberikan Sdr. Wen78 pada thread sebelah.

susah untuk menjelaskan apakah ini adalah buah karma dari A dan pasti bukan dari B.
ada yg dipengaruhi yg sedikit faktor dan ada yg dipengaruhi banyak faktor.
contoh sederhana,
karena lapar, maka makan.
namun bila lapar, belum tentu makan. akan ada faktor dari luar dan faktor dari dalam.
bila ada makanan dan lapar, tapi ada keinginan untuk diet, maka tidak makan.
bila tidak ada 'makanan' tapi sudah kelaparan, maka juga bisa makan. pikiran sudah 'membuka' persepsi definisi 'makanan' dimana daun mentah juga adalah makanan.
apa yg ditanam dalam diri baik apa yg ada di dalam rasa, persepsi, pikiran, keinginan, ego,...dll baik terpengaruh dari luar atau tidak terpengaruh, itu yg akan dituai.
bisa dikatakan kita hanya bisa 'judging a book from it's cover' dalam hal karma seseorang atau lingkungan.
tapi kita bisa 'not judging a book from it's cover' terhadap karma diri sendiri. karena kita sendiri yg menanamnya sendiri(kita sendiri yg menulis buku itu sendiri).


(Definisi) lapar adalah reaksi/kerja tubuh sedangkan perasaan lapar adalah bagian dari kerja pikiran.
Keduanya bisa berkaitan karena adanya kerja pikiran.

Biasanya ketika lapar, akan timbul keinginan untuk mengatasinya misalnya dengan makan.

Rasa lapar adalah faktor pemicu timbulnya ide, penilaian, dan terutama keinginan.

Pada kasus tertentu, seseorang mungkin tidak memiliki keinginan untuk makan karena alasan diet, tidak ada makanan, atau sedang puasa.

Bahkan pada kasus tertentu, seseorang bisa saja tidak timbul rasa lapar untuk jangka waktu tertentu (diluar kebiasaan manusia umumnya) misalnya sedang sibuk/fokus dengan aktifitas tertentu, sedang bermeditasi, dll.

Nah kaitannya dengan topik kita, misalnya kita memandang segala sesuatu sebagai ilusi, maka lapar adalah ilusi, makan juga adalah ilusi, keinginan untuk makan pun ilusi, karena tidak ada diri di sana (diri ilusi),
sehingga timbul perasaan jenuh, tidak bergairah, menolak segala ide yang muncul, menolak semua pemikiran yang muncul, menolak semua keinginan---->
Tapi jangan lupa bahwa apapun yang kita lihat sebagai ilusi pun adalah ilusi (pandangan kita terhadap sifat ilusif segala sesuatu juga tak lepas dari sifat ilusif itu sendiri), karena orang yang memiliki pandangan tersebut adalah juga ilusi).

Dan satu hal lagi yang penting (sebagai penawar/penetralisir agar tidak jatuh pada kekosongan sisi negatif (ilusi kosong melompong)) adalah bahwa pandangan/tindakan kita yang berlawanan dengan "pandangan segala sesuatu adalah ilusi" menjadi memiliki pandangan bahwa "segala sesuatu adalah BUKAN ilusi pun haruslah dipandang sebagai ilusi JUGA."

Dengan demikian maka hasilnya atau tindakan kita tidak hanya akan menolak satu sisi saja tapi bisa menerima semua sisi karena menyadari bahwa apa yang ditolak, sebenarnya adalah bentuk kemelekatan lainnya.

Karena bahkan jika kita tidak memiliki keinginan apa2, tidak memiliki ide, pandangan, pemikiran, atau tidak memiliki tindakan apa2 pun tidaklah mencerminkan bahwa "tindakan tanpa tindakan" atau "pandangan tanpa pandangan" tersebut adalah bukan ilusi.

Ini yang bisa membawa kita jatuh pada sisi ekstrim lainnya setelah terlepas dari sisi ekstrim satunya (melekat kepada keberadaan).

Salah satu saran yang saya peroleh adalah mencoba untuk hidup di dalam dunia nyata secara sadar tetapi 'berpura-pura' di luarnya. 'Sadar' di dalam, tetapi 'tidak sadar' (???) di luar. Saya merasa hal ini sulit diterapkan karena bila ide, khayalan, konsep, ilusi sudah tidak ada di dalam pikiran (anggap saja sudah lupa apa itu kaya dan miskin, apa itu sehat dan sakit), bagaimana bisa dimunculkan kembali di 'luar'? Dan bila harus dimunculkan kembali di 'luar', bukankah segala ide yang sudah ditinggalkan akan masuk kembali dalam pikiran?


Konteks luar dan dalam menurut saya hanyalah sebuah konsep.
Jangan disikapi terlalu serius dalam arti secara harafiah.
Luar dan dalam sebenarnya tidaklah begitu tepat untuk menggambarkan hal ini.

Berpura-pura dalam hal ini bukanlah dalam arti seperti orang yang penuh kepalsuan tapi lebih kepada melakukan sesuatu tanpa melekat/terseret kepada tindakan tersebut.
Melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan asas manfaat bukan berdasarkan keinginan atau nafsu dan kebodohan/ketidaktahuan.

Kesadaran tidaklah akan menyebabkan kita menjadi lupa tapi justru membuat kita selalu waspada dengan apa yang terjadi pada diri.

Ibarat sumber api yang dapat dinyalakan dan dipadamkan sesuai dengan momentnya (situasi dan kondisi).

Dikatakan bahwa perbedaan antara yang sudah tercerahkan dengan yang belum adalah terletak pada pemikiran atau cara pandang saja.
Orang yang sudah tercerahkan dapat melihat kedua sisi, orang yang belum tercerahkan hanya melihat satu sisi.

Tujuan seorang Buddhis adalah berusaha mengembangkan kebijaksanaan sehingga dapat melihat lebih jauh sesuai dengan apa adanya segala sesuatu.
Dan saya pikir ini yang sedang kita upayakan bersama di sini.

Cmiiw.

#63 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 15 April 2014 - 12:07 PM

Nah kaitannya dengan topik kita, misalnya kita memandang segala sesuatu sebagai ilusi, maka lapar adalah ilusi, makan juga adalah ilusi, keinginan untuk makan pun ilusi, karena tidak ada diri di sana (diri ilusi),
sehingga timbul perasaan jenuh, tidak bergairah, menolak segala ide yang muncul, menolak semua pemikiran yang muncul, menolak semua keinginan---->
Tapi jangan lupa bahwa apapun yang kita lihat sebagai ilusi pun adalah ilusi (pandangan kita terhadap sifat ilusif segala sesuatu juga tak lepas dari sifat ilusif itu sendiri), karena orang yang memiliki pandangan tersebut adalah juga ilusi).
Dan satu hal lagi yang penting (sebagai penawar/penetralisir agar tidak jatuh pada kekosongan sisi negatif (ilusi kosong melompong)) adalah bahwa pandangan/tindakan kita yang berlawanan dengan "pandangan segala sesuatu adalah ilusi" menjadi memiliki pandangan bahwa "segala sesuatu adalah BUKAN ilusi pun haruslah dipandang sebagai ilusi JUGA."


Sepertinya saya mulai memahaminya setelah digabungkan dengan pengetahuan dari:

Jika di terjemahkan no manas = sebagai tdk ber ide,tdk berkesimpulan,tdk berhayal,tdk mencetus, tdk menilai ... kemudian tdk ada lg yg perlu diucapkan(no ucapan), dan kemudian tdk ada yg diperbuat ,tdk ada yg diupayakan,tdk ada yg diusahakan,tdk meraih krn tdk ada yg diraih(no tindakan) = terhentinya Sangkhara


Sebagai contoh, ada puluhan nyamuk ganas yang menggigit saat saya mencoba latihan meditasi. Pada awalnya ada keinginan untuk mengusir (melekat). Tapi saya menahan diri untuk tidak mengusir (ini melekat pada satu sisi ekstrim lainnya). Lalu muncul rasa ingin menggaruk. Saya berusaha untuk tidak menggaruk (ini melekat pada satu sisi ekstrim lainnya). Kemudian, saya berusaha untuk hanya memperhatikan dan hanya memperhatikan. Keinginan untuk menggaruk itu berhenti. Rasa gatal itu juga tidak ada lagi. Setelah itu, saya tidak menggaruk bukan lagi karena menahan diri, dan saya membiarkan diri digigit nyamuk bukan lagi karena saya menyiksa diri sendiri. Apakah ini salah satu contoh penerapan dari yang dimaksud dengan terlepas dari ilusi?

Karena bahkan jika kita tidak memiliki keinginan apa2, tidak memiliki ide, pandangan, pemikiran, atau tidak memiliki tindakan apa2 pun tidaklah mencerminkan bahwa "tindakan tanpa tindakan" atau "pandangan tanpa pandangan" tersebut adalah bukan ilusi.
Ini yang bisa membawa kita jatuh pada sisi ekstrim lainnya setelah terlepas dari sisi ekstrim satunya (melekat kepada keberadaan).


Sepertinya ini bertentangan dengan yang saya kutip di atas yang berkaitan dengan no manas? Atau ada bagian yang terlewati sehingga saya tidak menemukan jalan penghubungnya?

Melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan asas manfaat bukan berdasarkan keinginan atau nafsu dan kebodohan/ketidaktahuan.
Kesadaran tidaklah akan menyebabkan kita menjadi lupa tapi justru membuat kita selalu waspada dengan apa yang terjadi pada diri.
Ibarat sumber api yang dapat dinyalakan dan dipadamkan sesuai dengan momentnya (situasi dan kondisi).


Pada saat saya memperhatikan pikiran, saya hanya memperhatikan. Tapi sering kali dalam kehidupan nyata, saya harus mengambil keputusan. Setiap keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang berkondisional. Bagaimana cara menyikapinya? Anggap saja saya adalah seorang karyawan, dan sebuah perusahaan multinasional lain menawarkan pekerjaan yang lebih baik dengan salary yang lebih besar. Saya berusaha untuk sadar dan mengatasi dalam situasi ini, dimana keputusan yang saya ambil bisa berupa:

1) Hasrat untuk penghasilan besar, keinginan untuk menjadi lebih baik, semuanya adalah ilusi yang tercipta karena kemelekatan pada ego. Bila saya mengikuti keinginan tersebut, maka pikiran saya akan semakin menjadi-jadi (berbunga-bunga, senang, planning, dsb), sehingga saya menolaknya.
2) Menolaknya berarti berada pada satu titik ekstrim. Selain itu, menolak juga bisa jadi adalah masih ada pemikiran terikat pada zona nyaman saat ini.
3) Diam saja, tidak menerima juga tidak menolak --> si recruiter mungkin akan bingung.

Dalam contoh di atas, apa yang harus saya lakukan?

#64 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 15 April 2014 - 03:47 PM

Sepertinya saya mulai memahaminya setelah digabungkan dengan pengetahuan dari:



Sebagai contoh, ada puluhan nyamuk ganas yang menggigit saat saya mencoba latihan meditasi. Pada awalnya ada keinginan untuk mengusir (melekat). Tapi saya menahan diri untuk tidak mengusir (ini melekat pada satu sisi ekstrim lainnya). Lalu muncul rasa ingin menggaruk. Saya berusaha untuk tidak menggaruk (ini melekat pada satu sisi ekstrim lainnya). Kemudian, saya berusaha untuk hanya memperhatikan dan hanya memperhatikan. Keinginan untuk menggaruk itu berhenti. Rasa gatal itu juga tidak ada lagi. Setelah itu, saya tidak menggaruk bukan lagi karena menahan diri, dan saya membiarkan diri digigit nyamuk bukan lagi karena saya menyiksa diri sendiri. Apakah ini salah satu contoh penerapan dari yang dimaksud dengan terlepas dari ilusi?

Jika ini terjadi maka saya akan mengusirnya secara pelan sambil menyadari segala proses mental yang terjadi, dari mengetahui adanya nyamuk yang menggigit, rasa gatal yang timbul, keinginan untuk mengusir, keinginan atau keengganan untuk menggaruk, dstnya.
Dan saya besok2 akan mencari tempat yang terhindar dari nyamuk misalnya memasang kelambu.

Menyiasati sifat ilusi tidak selalu harus melakukan kebalikannya secara ekstrim tapi lebih kepada melakukannya dengan unsur kesadaran dan kebijaksanaan.

Sepertinya ini bertentangan dengan yang saya kutip di atas yang berkaitan dengan no manas? Atau ada bagian yang terlewati sehingga saya tidak menemukan jalan penghubungnya?

Benar pak, memang berkontradiksi.
Misalnya pada contoh kasus nyamuk. Bagaimana jika yang terjadi adalah kebelet atau perut mules?
Apakah dengan kita menghindari timbulnya keinginan/ide untuk buang air lantas akan bisa mengatasi proses tubuh tersebut?

Pada saat saya memperhatikan pikiran, saya hanya memperhatikan. Tapi sering kali dalam kehidupan nyata, saya harus mengambil keputusan. Setiap keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang berkondisional. Bagaimana cara menyikapinya? Anggap saja saya adalah seorang karyawan, dan sebuah perusahaan multinasional lain menawarkan pekerjaan yang lebih baik dengan salary yang lebih besar. Saya berusaha untuk sadar dan mengatasi dalam situasi ini, dimana keputusan yang saya ambil bisa berupa:

1) Hasrat untuk penghasilan besar, keinginan untuk menjadi lebih baik, semuanya adalah ilusi yang tercipta karena kemelekatan pada ego. Bila saya mengikuti keinginan tersebut, maka pikiran saya akan semakin menjadi-jadi (berbunga-bunga, senang, planning, dsb), sehingga saya menolaknya.
2) Menolaknya berarti berada pada satu titik ekstrim. Selain itu, menolak juga bisa jadi adalah masih ada pemikiran terikat pada zona nyaman saat ini.
3) Diam saja, tidak menerima juga tidak menolak --> si recruiter mungkin akan bingung.

Dalam contoh di atas, apa yang harus saya lakukan?

Kita hanya memperhatikan, menyadari dan mewaspadai apa yang terjadi dalam pikiran, bukan melarang pikiran bergerak/berpikir, mengambil pilihan/keputusan.

Apa yang terjadi pada pikiran, kita berusaha untuk mengamatinya.
Melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana.
Jika timbul keinginan untuk menanggapi maka keinginan itu yang kita perhatikan.
Apapun reaksi pikiran yang timbul, cukup diperhatikan saja.
Bukan melawan atau menurutinya.
Jika timbul keinginan untuk melawan, maka bagian itu (keinginan untuk melawan) yang diamati.

Pada kasus yang Anda ceritakan, saya akan menanggapinya seperti orang umumnya.
Jika ingin menerima job tersebut maka terimalah dalam tahap wajar.
Jika timbul kesenangan maka amati prosesnya, dari mana rasa senang timbul, di mana/kenapa bisa lenyap.

Jika timbul penolakkan maka amati juga sebab-sebab yang melatarnya.
Dari mana timbulnya dan kapan lenyapnya.

Jika timbul perasaan netral (tidak menerima pun tidak menolak) maka lihat juga perasaan netral tersebut selain itu juga memperhatikan bagaimana reaksi mukanya si recruiter.
:P

Tujuan kesadaran dan perhatian penuh adalah agar kita dapat memahami cara kerja pikiran sehingga pada suatu saat kita dapat melihat ketiga corak umum (dukkha, anicca dan anatta) dan hukum sebab akibat.

Cmiiw.

#65 wen78

wen78

    ....

  • Moderators
  • 37
  • 1,294 posts
  • 10 thanks

Posted 16 April 2014 - 12:18 AM

Sebagai contoh, ada puluhan nyamuk ganas yang menggigit saat saya mencoba latihan meditasi. Pada awalnya ada keinginan untuk mengusir (melekat). Tapi saya menahan diri untuk tidak mengusir (ini melekat pada satu sisi ekstrim lainnya). Lalu muncul rasa ingin menggaruk. Saya berusaha untuk tidak menggaruk (ini melekat pada satu sisi ekstrim lainnya). Kemudian, saya berusaha untuk hanya memperhatikan dan hanya memperhatikan. Keinginan untuk menggaruk itu berhenti. Rasa gatal itu juga tidak ada lagi. Setelah itu, saya tidak menggaruk bukan lagi karena menahan diri, dan saya membiarkan diri digigit nyamuk bukan lagi karena saya menyiksa diri sendiri. Apakah ini salah satu contoh penerapan dari yang dimaksud dengan terlepas dari ilusi?

terlepas dari ilusi saat diri hanya sekedar duduk. sekedar menyadari nafas. sekedar menyadari apa yg timbul dan lenyap.





Pada saat saya memperhatikan pikiran, saya hanya memperhatikan. Tapi sering kali dalam kehidupan nyata, saya harus mengambil keputusan. Setiap keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang berkondisional. Bagaimana cara menyikapinya? Anggap saja saya adalah seorang karyawan, dan sebuah perusahaan multinasional lain menawarkan pekerjaan yang lebih baik dengan salary yang lebih besar. Saya berusaha untuk sadar dan mengatasi dalam situasi ini, dimana keputusan yang saya ambil bisa berupa:

1) Hasrat untuk penghasilan besar, keinginan untuk menjadi lebih baik, semuanya adalah ilusi yang tercipta karena kemelekatan pada ego. Bila saya mengikuti keinginan tersebut, maka pikiran saya akan semakin menjadi-jadi (berbunga-bunga, senang, planning, dsb), sehingga saya menolaknya.
2) Menolaknya berarti berada pada satu titik ekstrim. Selain itu, menolak juga bisa jadi adalah masih ada pemikiran terikat pada zona nyaman saat ini.
3) Diam saja, tidak menerima juga tidak menolak --> si recruiter mungkin akan bingung.

Dalam contoh di atas, apa yang harus saya lakukan?

tidak semuanya adalah ilusi.
coba bedakan antara berpikir sedang sadar dan sadar sedang berpikir terlebih dahulu.
setelah bisa membedakan 2 hal tersebut, dan sudah bisa membedakannya dalam kehidupan sehari2, baru masuk yg mana ilusi dan yg mana bukan ilusi.
tidak bisa langsung masuk ke ilusi. semua ada proses dan tahapannya.
jika dipaksakan, nanti bingung sendiri.

Lakukan apa yg seharusnya dilakukan, dan tidak melakukan apa yg seharusnya tidak dilakukan. ― ....


“Your beliefs become your thoughts, Your thoughts become your words, Your words become your actions, Your actions become your habits, Your habits become your values, Your values become your destiny.” ― Mahatma Gandhi


#66 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 16 April 2014 - 07:53 AM

* Kesulitan untuk menerima Kebenaran/Kesunyataan,
* kemelekatan terhadap apa yang dianggap/disepakati sebagai Kebenaran, atau
* keinginan untuk mengejar apa yang dianggap sebagai Kebenaran,
adalah dukkha.

Tidak melekat kepada Kebenaran (apa yang dianggapnya sebagai Kebenaran) tidak berarti tidak mempedulikanNya.

Kepedulian diwujudkan dalam bentuk tindakan dan penerapan terhadap Kebenaran dalam dirinya bukan dengan usaha mempertahankannya secara membabi buta.

Usaha penerangan (menjelaskan sesuai apa adanya) tetap dilakukan, namun tidak berusaha mempertahankannya dengan cara memaksa.

Menyadari segala fenomena yang berkondisi adalah tidak kekal adanya, sehingga tidak terseret oleh arus perubahan itu sendiri.
Menyadari segala tindakan dan pikiran yang timbul dan tenggelam.

Kemelekatan dan penolakkan terhadap Kebenaran adalah sama-sama kemelekatan.

#67 NullPointer

NullPointer

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 0
  • 34 posts
  • 0 thanks

Posted 16 April 2014 - 01:53 PM

Jika ini terjadi maka saya akan mengusirnya secara pelan sambil menyadari segala proses mental yang terjadi, dari mengetahui adanya nyamuk yang menggigit, rasa gatal yang timbul, keinginan untuk mengusir, keinginan atau keengganan untuk menggaruk, dstnya.
Dan saya besok2 akan mencari tempat yang terhindar dari nyamuk misalnya memasang kelambu.


Terima kasih. Saya mulai menyadari bagian ini. Alangkah malang nasib nyamuk, mereka tidak perlu dihindari. Nyamuk tidak salah, jangan dihindari.

Benar pak, memang berkontradiksi.
Misalnya pada contoh kasus nyamuk. Bagaimana jika yang terjadi adalah kebelet atau perut mules?
Apakah dengan kita menghindari timbulnya keinginan/ide untuk buang air lantas akan bisa mengatasi proses tubuh tersebut?


Ini adalah untuk pertamakalinya saya menyadari bahwa terdapat kontradiksi dalam aliran Buddhism. Saya akan berusaha menyikapinya dengan lebih sering membaca Dhammapada.

Pada kasus nyamuk dan kebelet/perut mules, mungkin sebaiknya rasakan bahwa pikiran itu ada, tapi tidak menghindarinya dan tidak mengikutinya. Sulit dijelaskan dengan kata-kata, kebelet/perut mules itu akan pergi pada saat meditasi, tidak seperti menurut logika yang kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. Logika tidak bekerja pada saat bermeditasi. Bila memang seandainya tidak tahan, tentu sebaiknya pergi ke toilet.

Tujuan kesadaran dan perhatian penuh adalah agar kita dapat memahami cara kerja pikiran sehingga pada suatu saat kita dapat melihat ketiga corak umum (dukkha, anicca dan anatta) dan hukum sebab akibat.


Setelah memahami cara kerja pikiran, buang jauh2 pikiran tersebut, bukan? Ada pepatah yang bilang seperti pada awalnya mempelajari doktrin, setelah memahaminya, semua doktrin dibuang dan tidak berlaku lagi.

terlepas dari ilusi saat diri hanya sekedar duduk. sekedar menyadari nafas. sekedar menyadari apa yg timbul dan lenyap.
tidak semuanya adalah ilusi.
coba bedakan antara berpikir sedang sadar dan sadar sedang berpikir terlebih dahulu.
setelah bisa membedakan 2 hal tersebut, dan sudah bisa membedakannya dalam kehidupan sehari2, baru masuk yg mana ilusi dan yg mana bukan ilusi.
tidak bisa langsung masuk ke ilusi. semua ada proses dan tahapannya.
jika dipaksakan, nanti bingung sendiri.


Berpikir sedang sadar adalah berpikir saya mengerti, berpikir saya sudah sadar, berpikir saya tahu.
Sadar sedang berpikir mungkin adalah saat dimana pikiran tidak punya tempat untuk melekat pada diri sendiri lagi.

* Kesulitan untuk menerima Kebenaran/Kesunyataan,
* kemelekatan terhadap apa yang dianggap/disepakati sebagai Kebenaran, atau
* keinginan untuk mengejar apa yang dianggap sebagai Kebenaran,
adalah dukkha.


Benar sekali. Ini adalah pikiran yang sangat terikat dan tidak bebas. Terikat pada konsep kebenaran.

Tidak melekat kepada Kebenaran (apa yang dianggapnya sebagai Kebenaran) tidak berarti tidak mempedulikanNya.


Ini adalah salah satu hal yang saya suka dari Buddhism. Bukan Buddha, bukan juga Tuhan, yang akan menolong kita. Buddha dan Boddhisatva bukanlah dewa yang dapat mengabulkan permintaan kita. Kita tidak dididik untuk menyembah Buddha, tidak didik untuk takut padanya. Buddha tidak menerapkan aturan mana yang baik dan mana yang jahat untuk membeda2kan manusia menjadi manusia suci dan manusia berdosa. Setiap manusia memiliki Buddha nature yang harus mereka latih sendiri. Bila mereka mengabaikannya, mereka tidak berdosa, mereka hanya bodoh. Tidak ada Buddha yang dapat menawarkan jalan singkat menuju pencerahan; semua tergantung pada latihan manusia itu sendiri.

Kepedulian diwujudkan dalam bentuk tindakan dan penerapan terhadap Kebenaran dalam dirinya bukan dengan usaha mempertahankannya secara membabi buta.


Benar, mempertahankan kebenaran secara membabi buta berarti melekat pada kebenaran itu. Ini bukan jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha.

Usaha penerangan (menjelaskan sesuai apa adanya) tetap dilakukan, namun tidak berusaha mempertahankannya dengan cara memaksa.
Menyadari segala fenomena yang berkondisi adalah tidak kekal adanya, sehingga tidak terseret oleh arus perubahan itu sendiri.
Menyadari segala tindakan dan pikiran yang timbul dan tenggelam.


Segala sesuatu yang bisa dijelaskan tidak akan kekal dan bisa menimbulkan kesalahan persepsi sehingga tidak baik untuk dipaksakan.
Tapi menyadari saja tidak cukup. Hal lain yang saya senang dari Buddhism adalah ajaran ini tidak hanya mengajarkan doktrin seperti di agama lainnya (misalnya harus berbuat baik, memberikan pipi kiri untuk ditampar bagi yang menampar pipi kanan, dsb). Doktrin kasih sayang, dsb adalah sesuatu yang bagus. Tapi mereka tidak efektif karena hanya ada dalam renungan. Mereka terasa damai hanya sangat direnungi atau saat berada di tempat ibadah. Di luar itu, doktrin sangat sulit diterapkan. Yang saya sukai dari Buddhism adalah ia mengajarkan metode praktek. Praktek untuk 'menaklukkan' pikiran sehingga bisa menerapkan doktrin tersebut setiap saat.

Kemelekatan dan penolakkan terhadap Kebenaran adalah sama-sama kemelekatan.


Kemelakatan pada doktrin kemelekatan dan penolakan terhadap kebenaran juga adalah kemelakatan.
Penolakan terhadap doktrin kemelekatan dan penolakan terhadap kebenaran juga adalah kemelakatan.

Terlena pada kenikmatan duniawi adalah kemelekatan, menghindarinya juga adalah kemelekatan.
Tidak berada di jalan tengah adalah kemelekatan, berada di jalan tengah juga adalah kemelekatan.

Menyadari diri melekat adalah kemelekatan, tidak menyadari diri melekat juga adalah kemelekatan.
Tidak menyadari diri melekat adalah kemelekatan, menyadari diri melekat juga adalah kemelekatan.

#68 yoh***s

yoh***s

    i dont know

  • Members
  • 31
  • 1,794 posts
  • 8 thanks

Posted 18 April 2014 - 06:36 AM

Ini yang berusaha saya praktekkan, dimana hal ini pada dunia nyata membuat saya terlihat pasif dan malas, Tidak akan keinginan, maka tidak ada niat, maka tidak ingin berstrategi, berjuang, dan sebagainya. Sebagai tambahan, saya akan berusaha menjalani hidup pada saat ini, detik ini juga, tanpa mengkhawatirkan masa depan atau memikirkan masa lalu (mungkin terlihat kurang waras bagi kebanyakan orang).


terlihat pasif dan malas karena penglihatan orang, terlihat rajin dan aktif juga penglihatan orang, apalagi terlihat tdk waras dan waras juga pikiran orang ......... sekarang kita harus mengambil pilihan untuk menjadi bahagia atau apa pun itu termaksut tdk menjadi apapun wkwkwkwk ,.... yg utama adalah apa yg kita utamakan

namun

orang-orang ada di samsara ( terbelenggu oleh lahir, tua, sakit, dan kemudian mati ) ........ bagi yg mau bebas memang kelihatannya bakal diluar jalur Samsara wkwkwkwkwkwkwk

#69 daimond

daimond

    Baru bergabung

  • Members
  • PipPipPip
  • 4
  • 41 posts
  • 0 thanks

Posted 01 October 2015 - 12:08 PM

Sungguh mengejutkan apa yang wa baca diatas, dalam agama buddha ada penghidupan benar, seperti tercantum dalam dhammacakkapavattana sutta kotbah pertama Buddha kepada 5 pertapa dan kondanna yang mampu memahami nya terlebih dahulu hingga menjadi contoh bahwa manusia bisa menerima dhamma yang di babarkan Buddha Gautama.

Tapi harus di ingat (YA) kondana sudah menjadi pertapa meninggalkan keduniawian hingga bila di telusuri tentu nya penghidupan benar tidak berbicara ttg perkerjaan mereka sehari hari (seperti berdagang, berburu, bertani, dsb).

Tapi penghidupan benar bicara tentang keseharian mereka hidup sehari hari yang membatasi diri mereka untuk melatih diri, Buddha secara halus mengatakan pembatasan diri untuk melatih diri mereka bukan sepenuh nya tidak benar, tapi mereka melatih diri mereka terlalu ekstreme hingga diajarkan jalan tengah middle path way.

Untuk umat awam yang masih ada dan hidup dalam keduniawian tentu tidak bisa di samakan dgn Yang Ariya kondanna yang telah jatuh bangun melatih diri untuk mencapai pencerahan baru setelah mendengar kotbah dhammacakkapavattana sutta hingga mampu menfilter (menyaring) mana yang sesuai dhammacakkapavattana sutta dan yang bukan hingga mampu mencapai pencerahan.

Jadi penghidupan benar (right way to life or right livelihood)bagi umat awam berbicara tentang gaya hidup, pola hidup, dan kebiasaan kebiasaan yang anda perbuat sehari hari baik yang anda sadari dan perbuatan yang anda anggap remeh.

Pengertian paling sederhana adalah bila sangha adalah vinaya sedang untuk umat awam adalah sila (pancasila, atthasila, dasasila), hidup sedehana.

Tapi sebenarnya tidak lah sesederhana itu.

Jadi makan dan minum lah yang secukupnya dan jumlah yang wajar: makan 3 x sehari, atau makan 2x sehari (pagi-siang), makan 2x (pagi-sore).
Hindari kudapan yang berlebihan.

Bersihkan dan rapikan diri anda dgn baik dan wajar: mandi 2x sehari, menggosok gigi 2x sehari, mencuci tangan anda dgn bijaksana, mengenakan pakaian yang sederhana, rapi, yang sesuai etika tempat dan waktu. Gunakan alat komunikasi anda pada tempatnya.

Menjaga kesehatan anda dgn olahraga yang ringan seperti berjalan kaki yang santai di sekitar lingkungan anda, berenang, taichi, pilates, yoga (untuk melenturkan dan meregangkan otot), mempelajari seni bela diri untuk mempertahankan kehidupan yang ada saat ini.

Beretika: murah senyum, menyapa yang tua dan muda, beramah tamah, suka membantu dan menolong, buang sampah pada tempatnya, mengantri pada tempatnya, penuh khanti.

Bekerja dgn baik dan pada waktunya

Beristirahat lah dgn baik dan pada waktunya

Sediakan waktu untuk mempelajari dhamma, mendengar dhammadesana, bermeditasi, melihat keseharian anda.

Thus have I heard:

On one occasion the Blessed One was living in the Deer Park at Isipatana (the Resort of Seers) near Varanasi (Benares). Then he addressed the group of five monks (bhikkhus):

"Monks, these two extremes ought not to be practiced by one who has gone forth from the household life. (What are the two?) There is addiction to indulgence of sense-pleasures, which is low, coarse, the way of ordinary people, unworthy, and unprofitable; and there is addiction to self-mortification, which is painful, unworthy, and unprofitable.

"Avoiding both these extremes, the Tathagata (The Perfect One)[1] has realized the Middle Path; it gives vision, gives knowledge, and leads to calm, to insight, to enlightenment and to Nibbana. And what is that Middle Path realized by the Tathagata...? It is the Noble Eightfold path, and nothing else, namely: right understanding, right thought, right speech, right action, right livelihood, right effort, right mindfulness and right concentration. This is the Middle Path realized by the Tathagata which gives vision, which gives knowledge, and leads to calm, to insight, to enlightenment, and to Nibbana.

"The Noble Truth of Suffering (dukkha), monks, is this: Birth is suffering, aging is suffering, sickness is suffering, death is suffering, association with the unpleasant is suffering, dissociation from the pleasant is suffering, not to receive what one desires is suffering — in brief the five aggregates subject to grasping are suffering.

"The Noble Truth of the Origin (cause) of Suffering is this: It is this craving (thirst) which produces re-becoming (rebirth) accompanied by passionate greed, and finding fresh delight now here, and now there, namely craving for sense pleasure, craving for existence and craving for non-existence (self-annihilation).

"The Noble Truth of the Cessation of Suffering is this: It is the complete cessation of that very craving, giving it up, relinquishing it, liberating oneself from it, and detaching oneself from it.

"The Noble Truth of the Path Leading to the Cessation of Suffering is this: It is the Noble Eightfold Path, and nothing else, namely: right understanding, right thought, right speech, right action, right livelihood, right effort, right mindfulness and right concentration.[2]

"'This is the Noble Truth of Suffering': such was the vision, the knowledge, the wisdom, the science, the light that arose in me concerning things not heard before. 'This suffering, as a noble truth, should be fully realized': such was the vision, the knowledge, the wisdom, the science, the light that arose in me concerning things not heard before. 'This suffering, as a noble truth has been fully realized': such was the vision, the knowledge, the wisdom, the science, the light that arose in me concerning things not heard before.

"'This is the Noble Truth of the Origin (cause) of Suffering': such was the vision, the knowledge, the wisdom, the science, the light that arose in me concerning things not heard before. 'This Origin of Suffering as a noble truth should be eradicated': such was the vision, the knowledge, the wisdom, the science, the light that arose in me concerning things not heard before. 'This Origin of suffering as a noble truth has been eradicated': such was the vision, the knowledge, the wisdom, the science, the light that arose in me concerning things not heard before.

"'This is the Noble Truth of the Cessation of Suffering': such was the vision, the knowledge, the wisdom, the science, the light that arose in me concerning things not heard before. 'This Cessation of suffering, as a noble truth, should be realized': such was the vision, the knowledge, the wisdom, the science, the light that arose in me concerning things not heard before. 'This Cessation of suffering, as a noble truth has been realized': such was the vision, the knowledge, the wisdom, the science, the light that arose in me concerning things not heard before.

"'This is the Noble Truth of the Path leading to the cessation of suffering': such was the vision, the knowledge, the wisdom, the science, the light that arose in me concerning things not heard before. 'This Path leading to the cessation of suffering, as a noble truth, should be developed': such was the vision, the knowledge, the wisdom, the science, the light that arose in me concerning things not heard before. 'This Path leading to the cessation of suffering, as a noble truth has been developed': such was the vision, the knowledge, the wisdom, the science, the light that arose in me concerning things not heard before.

"As long as my knowledge of seeing things as they really are, was not quite clear in these three aspects, in these twelve ways, concerning the Four Noble Truths,[3] I did not claim to have realized the matchless, supreme Enlightenment, in this world with its gods, with its Maras and Brahmas, in this generation with its recluses and brahmanas, with its Devas and humans. But when my knowledge of seeing things as they really are was quite clear in these three aspects, in these twelve ways, concerning the Four Noble Truths, then I claimed to have realized the matchless, supreme Enlightenment in this world with its gods, with its Maras and Brahmas, in this generation with its recluses and brahmanas, with its Devas and humans. And a vision of insight arose in me thus: 'Unshakable is the deliverance of my heart. This is the last birth. Now there is no more re-becoming (rebirth).'"

This the Blessed One said. The group of five monks was glad, and they rejoiced at the words of the Blessed One.

When this discourse was thus expounded there arose in the Venerable Kondañña the passion-free, stainless vision of Truth (dhamma-cakkhu; in other words, he attained sotapatti, the first stage of sanctity, and realized: "Whatever has the nature of arising, has the nature of ceasing."

Now when the Blessed One set in motion the Wheel of Truth, the Bhummattha devas (the earth deities) proclaimed: "The Matchless Wheel of Truth that cannot be set in motion by recluse, brahmana, deva, Mara, Brahma, or any one in the world, is set in motion by the Blessed One in the Deer Park at Isipatana near Varanasi."

Hearing these words of the earth deities, all the Catummaharajika devas proclaimed: "The Matchless Wheel of Truth that cannot be set in motion by recluse, brahmana, deva, Mara, Brahma, or any one in the world, is set in motion by the Blessed One in the Deer Park at Isipatana near Varanasi." These words were heard in the upper deva realms, and from Catummaharajika it was proclaimed in Tavatimsa... Yama... Tusita... Nimmanarati... Paranimmita-vasavatti... and the Brahmas of Brahma Parisajja... Brahma Purohita... Maha Brahma... Parittabha... Appamanabha... Abhassara... Parittasubha... Appamana subha... Subhakinna... Vehapphala... Aviha... Atappa... Sudassa... Sudassi... and in Akanittha: "The Matchless Wheel of Truth that cannot be set in motion by recluse, brahmana, deva, Mara, Brahma, or any one in the world, is set in motion by the Blessed One in the Deer Park at Isipatana near Varanasi."

Thus at that very moment, at that instant, the cry (that the Wheel of Truth is set in motion) spread as far as Brahma realm, the system of ten thousand worlds trembled and quaked and shook. A boundless sublime radiance surpassing the effulgence (power) of devas appeared in the world.

Then the Blessed One uttered this paean of joy: "Verily Kondañña has realized; verily Kondañña has realized (the Four Noble Truths)." Thus it was that the Venerable Kondañña received the name, "Añña Knondañña' — Kondañña who realizes."


http://www.accesstoi...6.011.piya.html
  • Top1 likes this




0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close