Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

PROJECT PENERJEMAH TRIPITAKA


  • Please log in to reply
21 replies to this topic

#1 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 45 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 04 September 2014 - 07:46 AM

Saya tidak tahu harus mulai darimana ?

saya manusia tidak pandai dan manusia yang dipenuhi cacat di dalam batin...

tapi saya memiliki visi yang mungkin terlalu khayal ...

tak mungkin melakukannya sendiri.....

harus bersama sama.....

mungkin itu anda....

mari kita mulai....

apa pendapat anda?

kita selesaikan bersama.....

menterjemahkan seluruh isi kita TRIPITAKA ke dalam bahasa Indonesia yang bukan diterjemahkan dari bahasa inggris....melainkan langsung bahasa PALI

mungkin kita harus mendapatkan benda kitab TRIPITAKA di negara asalnya.....semua ini harus dirancang mulai sekarang...

 

Yang terhormat para senior........

mari bergabung melakukan roda Dhamma....

 

 

silahkan berpendapat.....

 

 

 

 

 

 

 

-------------------------------

 

 

saya pindahkan ke project
terimakasih


Cetanaham bhikkhave kammam vadami

#2 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 45 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 04 September 2014 - 07:58 AM

Mungkin saya akan mendirikan sebuah yayasan yang ditujukan khusus untuk visi penerjemahan ini.

di dalam yayasan tentu ada pendiri dan pengurus , tentu ada staff....tentu ada sallary ;) ...

jangan ragu ....nama anda semua yang tergabung dalam yayasan ini akan dimasukkan ensiklopedia indonesia....


  • The One likes this
Cetanaham bhikkhave kammam vadami

#3 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 04 September 2014 - 08:12 AM

Wao, sungguh mulia sekali Senior Golden Lotus cita-cita (visi misi) anda. Saya, entah bagian otak ataupun otot yang masih bisa dipake untuk visi misi anda. Mungkin saya bisa jadi OBnya kalau Anda butuh?

:lol2:

:namaste:



#4 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 45 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 04 September 2014 - 08:30 AM

ngeledek :D  kualat looh

nuclear_explosion_10.gif


Cetanaham bhikkhave kammam vadami

#5 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 04 September 2014 - 09:12 AM

Ampun Tuan Golden Lotus, mohon berkalpa-kalpa ampun.

Yang ledekan cuma bagian ini saja, "Saya, entah bagian otak ataupun otot yang masih bisa dipake untuk visi misi anda. Mungkin saya bisa jadi OBnya kalau Anda butuh?

:lol2:"

lebihnya serius, timbul dari hati saya live.



Thanked by 1 Member:
golden lotus

#6 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 45 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 04 September 2014 - 09:34 AM

baby-graphics-laughing-361390.gif

 

masalah pendirian yayasan sampai penyusunan kepengurusan dan staff ahli , masalah gedung kantor dan izin resmi ......masalah mudah dan sangat cepat meng handlenya...

 

masalah utama : informasi ter update mengenai ....

1. dimana di dunia ini terdapat kitab TRIPITAKA terlengkap bahasa original...disini kita harus memiliki...mungkin sebuah team akan dikirim untuk mendapatkan itu jika melalui internet diragukan kebenaran originalnya.

2. team staff ahli bahasa....

3. Lalu sampai detik ini ada berapa banyak bagian TRIPITAKA yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia...

4. Team yang didesain untuk mengecek kebenaran terjemahan team penerjemah di point 2

5. ........


  • The One likes this
Cetanaham bhikkhave kammam vadami

#7 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 45 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 04 September 2014 - 09:39 AM

Thread ini untuk study kelayakan pra-planning untuk sesuatu yang mungkin saja bisa terlaksana atau bahkan mungkin akan stop.....


Cetanaham bhikkhave kammam vadami

#8 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 45 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 04 September 2014 - 10:16 AM

300px-Tipitaka1.jpg

Sejarah Kitab Suci Tripitaka
Beberapa minggu setelah Sang Buddha wafat (483 SM) seorang Bhikkhu tua yang tidak disiplin bernama Subhaddha berkata : "Janganlah bersedih kawan-kawan, janganlah meratap, sekarang kita terbebas dari Pertapa Agung yang tidak akan lagi memberitahu kita apa yang sesuai untuk dilakukan dan apa yang tidak, yang membuat hidup kita menderita, tetapi sekarang kita dapat berbuat apa pun yang kita senangi dan tidak berbuat apa yang tidak kita senangi" (VinayaPitaka II,284).[2]Namun, Maha KassapaTheratidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh BhikkhuSubhaddha, beliau kemudian berkata: Mari avuso, kita akan membabarkan Dharma dan Vinaya, sebelum apa yang bukan Dharma mendapat angin dan berkembang, dan sebelum apa yang bukan Vinaya mendapat angin dan berkembang, Vinaya akan terdesak, sebelum mereka yang berbicara tentang apa yang bukan Dharma menjadi kuat dan mereka yang berbicara tentang Dharma menjadi lemah, sebelum mereka bicara tentang bukan Vinaya menjadi kuat dan mereka yang bicara tentang Vinaya menjadi lemah.”[3]Sehingga pada akhirnya, Maha KassapaThera pun memutuskan untuk mengadakan Pesamuan Agung (Konsili) di Rajagaha.
Dengan bantuan Raja Ajatasattu dari Magadha, 500 orang Arahat berkumpul di Gua Sattapanni, dekat Rajagaha, untuk mengumpulkan ajaran Sang Buddha yang telah dibabarkan selama ini dan menyusunnya secara sistematis. Yang Ariya Ananda, siswa terdekat Sang Buddha, mendapat kehormatan untuk mengulang kembali khotbah-khotbah Sang Buddha dan Yang AriyaUpali mengulang Vinaya (peraturan-peraturan). Dalam Pesamuan Agung Pertama inilah dikumpulkan seluruh ajaran yang kini dikenal sebagai Kitab Suci Tipitaka (Pali). Mereka yang mengikuti ajaran Sang Buddha seperti tersebut dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali) disebut Pemeliharaan Kemurnian Ajaran.[4]Pada mulanya Tipitaka (Pali) ini diwariskan secara lisan dari satu generasi ke genarasi berikutnya.[5] Satu abad kemudian terdapat sekelompok Bhikkhu yang berniat hendak mengubah Vinaya. Menghadapi usaha ini, para Bhikkhu yang ingin mempertahankan Dhamma-Vinaya sebagaimana diwariskan oleh Sang Buddha Gotama menyelenggarakan Pesamuan Agung Kedua dengan bantuan Raja Kalasoka di Vesali, di mana isi Kitab Suci Tipitaka (Pali) diucapkan ulang oleh 700 orang Arahat. Kelompok Bhikkhu yang memegang teguh kemurnian Dhamma-Vinaya ini menamakan diri Sthaviravada, yang kelak disebut Theravãda. Sedangkan kelompok Bhikkhu yang ingin mengubah Vinaya menamakan diri Mahasanghika, yang kelak berkembang menjadi mazhab Mahayana. Jadi, seabad setelah Sang Buddha Gotama wafat, Agama Buddha terbagi menjadi 2 mazhab besar Theravãda dan Mahayana.[6]Pesamuan Agung Ketiga diadakan di Pattaliputta (Patna) pada abad ketiga sesudah Sang Buddha wafat (249 SM) dengan pemerintahan di bawah Kaisar Asoka Wardhana. Kaisar ini memeluk Agama Buddha dan dengan pengaruhnya banyak membantu penyebarkanDhamma ke suluruh wilayah kerajaan. Pada masa itu, ribuan gadungan (penyelundup ajaran gelap) masuk ke dalam Sanghadangan maksud meyebarkan ajaran-ajaran mereka sendiri untuk meyesatkan umat. Untuk mengakhiri keadaan ini, Kaisar menyelenggarakan Pesamuan Agung dan membersihkan tubuh Sangha dari penyelundup-penyelundup serta merencanakan pengiriman para Duta Dhamma ke negeri-negeri lain.Dalam Pesamuan Agung Ketiga ini 100 orang Arahat mengulang kembali pembacaan Kitab Suci Tipitaka (Pali) selama sembilan bulan. Dari titik tolak Pesamuaan inilah Agama Buddha dapat tersebar ke suluruh penjuru dunia dan terhindar lenyap dari bumi asalnya.
Pesamuan Agung keempat diadakan di Aluvihara (Srilanka) di bawah lindungan Raja VattagamaniAbhaya pada permulaan abad keenam sesudah Sang Buddha wafat (83 SM). Pada kesempatan itu Kitab Suci Tipitaka (Pali) dituliskan untuk pertama kalinya. Tujuan penulisan ini adalah agar semua orang mengetahui kemurnian DhammaVinaya.Jika diurutkan keempat Pesamuan (Sidang Agung) tersebut akan tergambar seperti berikut.
Sidang Agung I (Konsili I)
Sidang Agung I diadakan pada tahun 543 SM (3 bulan setelah bulan Mei) dan berlangsung selama 2 bulan. Sidang ini dipimpin oleh Y.A. Maha KassapaTheradan dihadiri oleh 500 orang Bhikkhu yang semuanya telah mencapai tingkat Arahat. Sidang diadakan di GoaSatapani di kota Rajagaha. Sponsor sidang agung ini adalah Raja Ajatasatu.[7]
Tujuan dari sidang pertama ini adalah untuk menghimpun ajaran-ajaran Buddha Gotama yang diberikan di tempat-tempat yang berlainan, pada waktu-waktu yang berbeda dan kepada orang-orang yang berlainan pula selama 45 tahun.[8] Mengulang Dhamma dan Vinaya agar ajaran Sang Buddha tetap murni, kuat, melebihi ajaran-ajaran lainnya.[9]Dalam sidang tersebut Y.A. Upali mengulang tata tertib bagi para bhikkhu dan bhikkhuni (Vinaya) dan Y.A. Ananda mengulang khotbah-khotbah (Sutta) Buddha Gotama. Ajaran-ajaran ini dihafalkan di luar kepala dan diajarkan lagi kepada orang lain dari mulut ke mulut.Kesimpulan dari sidang pertama ini adalah Sangha tidak akan menetapkan hal-hal mana yang perlu dihapus dan hal-hal mana yang harus dilaksanakan, juga tidak akan menambah apa-apa yang telah ada. Mengadili Y.A. Ananda. Mengucilkan Chana. Agama Buddha masih utuh.
Sidang Agung II (Konsili II)
Sidang Agung II diadakan pada tahun 443 SM (100 tahun sesudah Sidang Agung I) dan berlangsung selama 4 bulan. Dipimpin oleh Y.A. Revata dan dibantu oleh YA. Yasa serta dihadiri oleh 700 Bhikkhu. Sidang diadakan di Vesali. Sponsor sidang agung ini adalah Raja Kalasoka.Dalam sidang kedua ini kesalahan-kesalahan Bhikkhu-Bhikkhu dari suku Vajjis yang melangggarpacittiya dibicarakan, diakui bahwa mereka telah melanggar Vinaya dan 700 Bhikkhu yang hadir menyatakan setuju. Pengulangan Vinaya dan Dhamma, yang dikenal dengan nama "SattaSati" atau "YasatheraSanghiti" karena Bhikkhu Yasa dianggap berjasa dalam bidang pemurnian Vinaya.[10]
Sidang ini diadakan untuk membicarakan tuntutan segolongan bhikkhu (golongan Mahasangika), yang menghendaki agar beberapa paraturan tertentu dalam Vinaya, yang dianggap terlalu keras, diubah atau diperlunak. Dalam sidang ini golongan Mahasangika memperoleh kekalahan dan sidang memutuskan untuk tidak mengubah Vinaya yang sudah ada.[11]
 
 
Sidang Agung III (Konsili III)
            Sidang Agung III ini diadakan pada tahun 313 SM (atau sekitar 230 tahun setelah Sidang Agung I), di ibukota Kerajaan Asoka yaitu Pataliputta dan dipimpin oleh Y.A. TissaMoggaliputta. Sponsor Sidang Agung ini adalah Raja Asoka dari Suku Mauriya. Tujuan sidang ini adalah untuk menertibkan perbedaan pendapat yang mengaktifkan perpecahandidalamSangha. Di samping itu, sidang juga memeriksa kembali dan menyempurnakan kanon (kitab suci) Palidalam rangka memurnikan ajaran Sang Buddha. Raja Asoka meminta agar para Bhikkhu mengadakan upacara Uposatha setiap bulan, agar BhikkhuSangha bersih dari oknum-oknum yang bermaksud tidak baik.[12]
Sidang ini menghasilkan keputusan untuk menghukum Bhikkhu-Bhikkhuselebor. Selain itu, dalam sidang ini ajaran Abhidhamma diulang secara terperinci dan tersendiri oleh Y.A. Maha Kassapa, sehingga lengkaplah sudah kanon Pali yang terdiri atas tiga kelompok besar (Vinaya, Sutta, dan Abidhamma) walaupun masih belum dituliskan dalam kitab-kitab dan masih dihafal diluar kepala.[13] Jadi pengertian Tipitaka mulai lengkap (timbul) pada Konsili III. Y.A. Tissa memilih 10.000 orang BhikkhuSangha yang benar-benar telah memahami Ajaran Sang Buddha untuk menghimpun Ajaran tersebut menjadi Tipitaka dan perhimpunan tersebut berlangsung selama 9 bulan. Pada saat itu Sangha sudah terpecah dua, yaitu: Theravãda (Sthaviravada) dan Mahasanghika. Sementara itu ada ahli sejarah yang mengatakan bahwa pada Konsili III ini bukan merupakan konsili umum, tetapi hanya merupakan suatu konsili yang diadakan oleh Sthaviravada.[14]
Sidang Agung IV (Konsili IV)
Diadakan pada masa pemerintahan Raja VattagamaniAbhaya (tahun 101 - 77 SM). Dipimpin oleh Y.A. RakhitaMahathera dan dihadiri oleh 500 Bhikkhu. Sidang diadakan di Alu Vihara (AlokaVihara) di Desa Matale, Srilanka. Tujuan dari sidang keempat ini adalah mencari penyelesaian karena melihat terjadinya kemungkinan-kemungkinan yang mengancam Ajaran-ajaran dan kebudayaan-kebudayaan Agama Buddha oleh pihak-pihak lain. Keputusan sidang ini adalah supaya Tipitaka disempurnakan komentar dan penjelasannya serta menuliskan Tipitaka dan komentarnya di atas daun lontar. Konsili ini diakui sebagai konsili yang ke IV oleh sekte Theravada.[15]Dan pada akhirnya, Sidang ini berhasil secara resmi menulis ajaran-ajaran Buddha Gotama di daun-daun lontar yang kemudian dijadikan buku Tipitaka dalam bahasa Pali. Kitab Suci Tipitaka terdiri atas: VinayaPitaka, SuttaPitaka, dan AbhidhammaPitaka.[16]
Sebagai tambahan pengetahuan dapat dikemukakan bahwa pada abad pertama sesudah Masehi, Raja Kaniska dari Afganistan mengadakan Pesamuan Agung yang tidak dihadiri oleh kelompok Theravãda. Bertitik tolak pada Pesamuaan ini, Agama Buddha mazhab Mahayana berkembang di India dan kemudian meyebar ke negeri Tibet dan Tiongkok. Pada Pasamuan ini disepakati adanya kitab-kitab suci Buddhis dalam Bahasa Sanskerta dengan banyak tambahan sutra-sutra baru yang tidak terdapat dalam Kitab Suci Tipitaka (Pali).
Dengan demikian, Agama Buddha mazhab Theravãda dalam pertumbuhannya sejak pertama sampai sekarang, termasuk di Indonesia, tetap mendasarkan penghayatan dan pembabaran Dhamma - Vinaya pada kemurnian Kitab suci tipitaka (Pali) sehingga dengan demikian tidak ada perbedaan dalam hal ajaran antara Theravãda di Indonesia dengan Theravada di Thailand, Srilanka, Burma maupun di negara-negara lain. Sampai abad ketiga setelah Sang Buddha wafat mazhab Sthaviravada terpecah menjadi 18 sub mazhab, antara lain: Sarvastivada, Kasyapiya, Mahisasaka, Theravãda dan sebagainya. Pada dewasa ini 17 sub mazhab Sthaviravada itu telah lenyap. Yang masih berkembang sampai sekarang hanyalah mazhab Theravãda (ajaran para sesepuh). Dengan demikian nama Sthaviravada tidak ada lagi. Mazhab Theravãda inilah yang kini dianut oleh negara-negara Srilanka, Burma, Thailand, dan kemudian berkembang di Indonesia dan negara-negara lain.[17]
Untuk Pesamuan Agung kelima sendiri diadakan di Mandalay (Birma), pada abad ke 20 sesudah Sang Buddha wafat (tahun 1871 M) dengan bantuan Raja Mindon. Hasil penting pada pesamuan ini yaitu kitab Suci Tripitaka yang diprasastikan (dipahatkan) pada 729 buah lempengan marmer (batu pualam) dan diletakkan di bukit Mandalay. Dan Pesamuan Agung keenam diadakan di Rangoon pada hari Vesakha puja tahun Buddhis 2498 dan berakhir pada tahun Buddhis 2500 atau tahun 1956 Masehi.[18]
Ajaran agama Buddha bersumber pada kitab Tripitaka yang merupakan kumpulan khotbah, keterangan, perumpamaan, dan percakapan yang pernah dilakukan sang Buddha dengan para siswa dan pengikutnya. Dengan demikian, isi kitab tersebut semuanya tidak hanya berasal dari kata-kata sang Buddha sendiri melainkan juga kata-kata dan komentar-komentar dari para siswanya[19]. Oleh para siswanya sumber ajaran tersebut dipilah menjadi tiga kelompok besar yang dikenal dengan ‘pitaka’ (keranjang), yaitu Sutra Pitaka atau SuttaPitaka, WinayaPitaka, dan AbbidharmaPitaka atau AbbidhammaPitaka.
Sutra Pitaka
Sutra (bahasa Sansakerta) atau Sutta (bahasa Pali) mempunyai arti sederhana yaitu ‘benang’. Benang adalah tali halus yang dipintal dari kapas atau sutera, yang gunanya untuk menjahit atau merangkai sesuatu. Setiap khotbah Hyang Buddha seperti kata-kata yang dirangkai menjadi satu dengan indah dan satu sama lain tidak dapat dipisahkan, tidak acak-acakan serta tidak saling bertentangan, oleh sebab itu khotbah Hyang Buddha disebut ‘sutra’[20]. Sutra-sutra itu dikumpulkan dan disusun menjadi satu disebut Sutra Pitaka. Sutra Pittakasendiri berisi dharma (dalam bahasa Pali: dhamma) atau ajaran Buddha kepada muridnya[21]. Kitab Sutra Pitakajuga memuat uraian-uraian tentang cara hidup yang berguna bagi para bhikkuatau biksu dan pengikut yang lain.[22]Kitab ini terdiri atas lima 'kumpulan' (nikaya) atau buku, yaitu:[23]
<>-Dighanikaya, Dighanikaya terdiri dari 34 sutrapanjang terbagi menjadi tiga vagga : Sîlakkhandhavagga, Mahavagga dan Patikavagga. Beberapa di antara sutta-sutta yang terkenal ialah : BrahmajalaSutta (yang memuat 62 macam pandangan salah), SamannaphalaSutta (menguraikan buah kehidupan seorang petapa), SigalovadaSutta (memuat patokan-patokan yang penting bagi kehidupan sehari-sehari umat berumah tangga), MahasatipatthanaSutta (memuat secara lengkap tuntunan untuk meditasi Pandangan Terang, Vipassana), MahaparinibbanaSutta (kisah mengenai hari-hari terakhir Sang Buddha Gotama)
<>-Majjhimanikaya, merupakan buku kedua dari SuttaPitaka yang memuat kotbah-kotbah menengah. Buku ini terdiri atas tiga bagian (pannasa); dua pannasa pertama terdiri atas 50 sutta dan pannasa terakhir terdiri atas 52 sutta; seluruhnya berjumlah 152 sutta. Beberapa sutta di antaranya ialah : RatthapalaSutta, VasetthaSutta, AngulimalaSutta, AnapanasatiSutta, KayagatasatiSutta dan sebagainya.
<>-Angutaranikaya, merupakan buku ketiga dari SuttaPitaka, yang terbagi atas sebelas nipata (bagian) dan meliputi 9.557 sutta. Sutta-sutta disusun menurut urutan bernomor, untuk memudahkan pengingatan.
<>-Samyuttanikaya, merupakan buku keempat dari SuttaPitaka yang terdiri atas 7.762 sutta. Buku ini dibagi menjadi lima vagga utama dan 56 bagian yang disebut Samyutta.
<>-Khuddakanikaya, terdiri atas 15 kitab.
a.  Khuddakapatha, berisi empat teks: Saranattaya, Dasasikkhapada, Dvattimsakara, Kumarapañha, dan lima sutta : Mangala, Ratana, Tirokudda, Nidhikanda dan MettaSutta.
b. Dhammapada, terdiri atas 423 syair yang dibagi menjadi dua puluh enam vagga. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
c. Udana, merupakan kumpulan delapan puluh sutta, yang terbagi menjadi delapan vagga. Kitab ini memuat ucapan-ucapan Sang Buddha yang disabdakan pada berbagai kesempatan.
d. Itivuttaka, berisi 110 sutta, yang masing-masing dimulai dengan kata-kata : vuttamhetambhagava (demikianlah sabda Sang Bhagava).
e. SuttaNipata, terdiri atas lima vagga : Uraga, Cûla, Maha, Atthaka dan ParayanaVagga. Empat vagga pertama terdiri atas 54 prosa berirama, sedang vagga kelima terdiri atas enam belas sutta.
f. Vimanavatthu, menerangkan keagungan dari bermacam-macam alam deva, yang diperoleh melalui perbuatan-perbuatan berjasa.
g. Petavatthu, merupakan kumpulan cerita mengenai orang-orang yang lahir di alam Peta akibat dari perbuatan-perbuatan tidak baik.
h. Theragatha, kumpulan syair-syair, yang disusun oleh para Thera semasa hidup Sang Buddha. Beberapa syair berisi riwayat hidup para Thera, sedang lainnya berisi pujian yang diucapkan oleh para Thera atas Pembebasan yang telah dicapai.
i. Therigatha, buku yang serupa dengan Theragatha yang merupakan kumpulan dari ucapan para Theri semasa hidup Sang Buddha.
j. Jataka, berisi cerita-cerita mengenai kehidupan-kehidupan Sang Buddha yang terdahulu. 
k. Niddesa, terbagi menjadi dua buku : Culla-Niddesa dan Maha-Niddesa. Culla-Niddesa berisi komentar atas KhaggavisanaSutta yang terdapat dalam ParayanaVagga dari SuttaNipata; sedang Maha-Niddesa menguraikan enam belas sutta yang terdapat dalam AtthakaVagga dari SuttaNipata.
l. Patisambhidamagga, berisi uraian skolastik tentang jalan untuk mencapai pengetahuan suci. Buku ini terdiri atas tiga vagga : Mahavagga, Yuganaddhavagga dan Paññavagga, tiap-tiap vagga berisi sepuluh topik (katha).
m. Apadana, berisi riwayat hidup dari 547 bhikkhu, dan riwayat hidup dari 40 bhikkhuni, yang semuanya hidup pada masa Sang Buddha.
n. Buddhavamsa, terdiri atas syair-syair yang menceritakan kehidupan dari dua puluh lima Buddha, dan Buddha Gotama adalah yang paling akhir.
o. Cariyapitaka, berisi cerita-cerita mengenai kehidupan-kehidupan Sang Buddha yang terdahulu dalam bentuk syair, terutama menerangkan tentang 10 paramî yang dijalankan oleh Beliau sebelum mencapai Penerangan Sempurna, dan tiap-tiap cerita disebut Cariya.
Kitab Sutra Pitaka ini juga tidak hanya memuat ucapan-ucapan Buddha Gautama saja melainkan ucapan para therasemasa hidupnya, dan juga riwayat hidup dari para bhikku dan bhikkuni. Kitab-kitab tersebut antara lain adalah kitab Dhammapada yang mengutarakan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Buddha dan cara yang diajarkannya untuk menyembuhkan penyakit yang terdapat dalam diri manusia. Buku ini terdiri atas 423 syair dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Selain Dhammapada juga ada kitab Udana yang berisi ucapan-ucapan Buddha yang disampaikan pada berbagai kesempatan, theragata yang merupakan kumpulan syair yang disusun oleh para thera semasa Buddha masih hidup. Beberapa syair berisi riwayat hidup para thera, dan lainnya berisi pujian yang diucapkan para thera atas pembebasan yang telah mereka capai.Riwayat hidup Buddha yang terdahulu dan kehidupan dari 25 Buddha lainnya juga diceritakan dalam Sutranikaya ini, terutama kitab-kitab Jataka, Apadana, Buddhavamsa, dan CariyaPitaka.[24]
VinayaPitaka
WinayaPittaka berisi peraturan-peraturan untuk mengatur tata tertib sangha atau jemaat, kehidupan sehari-hari para biksu atau bhikku atau rahib, dan sebagainya[25]. Selain itu, kitab suci VinayaPitaka ini juga berisi peraturan-peraturan bagi para Bhikku dan Bhikkuni.[26] dan terdiri atas Sutra Vibanga, Khandaka, dan Parivawa[27].
<>-Kitab Sutra Vibangaberisi peraturan-peraturan bagi para bhikkhu dan bhikkhuni. Bhikkhu-vibanga berisi 227 peraturan yang mencakup delapan jenis pelanggaran, di antaranya terdapat empat pelanggaran yang menyebabkan dikeluarkannya seorang bhikkhu darisanghadan tidak dapat menjadi bhikkhu lagi seumur hidup.Keempat pelanggaran itu adalah : berhubungan kelamin, mencuri, membunuh atau menganjurkan orang lain bunuh diri, dan membanggakan diri secara tidak benar tentang tingkat-tingkat kesucian atau kekuatan-kekuatan batin luar biasa yang dicapai. Untuk ketujuh jenis pelanggaran yang lain ditetapkan hukuman dan pembersihan yang sesuai dengan berat ringannya pelanggaran yang bersangkutan. Bhikkhuni-vibanga berisi peraturan-peraturan yang serupa bagi para Bhikkhuni, hanya jumlahnya lebih banyak.
<>-Kitab Khandakaterbagi atas Mahavagga dan Cullavagga. Kitab Mahavagga berisi peraturan-peraturan dan uraian tentang upacara penahbisan bhikkhu, upacara Uposatha pada saat bulan purnama dan bulan baru di mana dibacakan Patimokkha (peraturan disiplin bagi para bhikkhu), peraturan tentang tempat tinggal selama musim hujan (vassa), upacara pada akhir vassa (pavarana), peraturan-peraturan mengenai jubah Kathina setiap tahun, peraturan-peraturan bagi bhikkhu yang sakit, peraturan tentang tidur, tentang bahan jubah, tata cara melaksanakan sanghakamma (upacara sangha), dan tata cara dalam hal terjadi perpecahan. Sedangkan Kitab Cullavagga berisi peraturan-peraturan untuk menangani pelanggaran-pelanggaran, tata cara penerimaan kembali seorang bhikkhu ke dalam Sangha setelah melakukan pembersihan atas pelanggarannya, tata cara untuk menangani masalah-masalah yang timbul, berbagai peraturan yang mengatur cara mandi, mengenakan jubah, menggunakan tempat tinggal, peralatan, tempat bermalam dan sebagainya, mengenai perpecahan kelompok-kelompok bhikkhu, kewajiban-kewajiban guru (acariya) dan calon bhikkhu (samanera), pengucilan dari upacara pembacaan Patimokkha, penahbisan dan bimbingan bagi bhikkhuni, kisah mengenai Pesamuan Agung Pertama di Rajagaha, dan kisah mengenai Pesamuan Agung Kedua di Vesali
<>-Parivara memuat ringkasan dan pengelompokan peraturan Vinaya yang disusun dalam bentuk tanya jawab untuk dipergunakan dalam pengajaran dan ujian.
Skema umum isi VinayaPitaka[28]:
<>- Bagian yang berhubungan dengan Pratimoksa atau Patimokha, yaitu peraturan-peraturan untuk para biksu atau bikkhu yang dinamakan ‘bagian bhikku’ (bhikkuvibhanga).
<>-Bagian yang sama untuk para bhikkuni.
<>-Suatu bagian yang dinamakan ‘khandhaka’ (kelompok), tiap-tiap kelompok berhubungan dengan suatu aspek khusus mengenai kehidupan dari sangha, seperti pentahbisan, upasattha, memenuhi ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan pakaian, jubah, obat-obatan, makanan, tempat tinggal, dan lain sebagainya.
Abbidharma Pitaka
Abidharma atau abhidhamma adalah susunan ceramah dan perkembangan logika tentang dharma dari ajaran Hyang Buddha, membahas filsafat dan metafisika, juga sastra, memberikan definisi kata-kata BuddhaDharma, dan penjelasan terperinci mengenai filsafat dengan sistematis, memantapkan suatu metode mengenai latihan spiritual oleh para sesepuh dari aliran atau sekte pada waktu itu, kumpulan dari kitab Abidharma ini dinamakan AbidharmaPitaka[29]. Sehingga AbbidharmaPitakaberisi ajaran yang lebih mendalam mengenai hakikat dan tujuan hidup manusia, ilmu pengetahuan yang membawa pada kelepasan dan lain sebagainya[30].
AbbidharmaPitakajuga berisi uraian filsafat Buddha-dharma yang disusun secara analitis dan mencakup berbagai bidang seperti ilmu jiwa, sastra, logika, etika, dan metafisika. Kitab ini terdiri dari 7 buah buku, yaitu: Dhammasangani, Vibhanga, Dathukatha, Puggalapannatti, Kathavatthu, Yamaka, dan Patthana. Berbeda dengan kitab Sutra Pitaka dan VinayaPitaka yang menggunakan bahasa naratif, sederhana dan mudah dimengerti umum, gaya bahasa kitab AbbidharmaPitaka bersifat sangat teknis dan analitis[31]. Kitab ini terdiri atas tujuh buah buku (pakarana), yaitu :
1. Dhammasangani, terutama menguraikan etika dilihat dari sudut pandangan ilmu jiwa.
2. Vibhanga, menguraikan apa yang terdapat dalam buku Dhammasangani dengan metode yang berbeda. Buku ini terbagi menjadi delapan bab (vibhanga), dan masing-masing bab mempunyai tiga bagian : Suttantabhajaniya, Abhidhannabhajaniya dan Pññapucchaka atau daftar pertanyaan-pertanyaan.
3. Dhatukatha, terutama membicarakan mengenai unsur-unsur batin. Buku ini terbagi menjadi empat belas bagian.
4. Puggalapaññatti, menguraikan mengenai jenis-jenis watak manusia (puggala), yang dikelompokkan menurut urutan bernomor, dari kelompok satu sampai dengan sepuluh, sepsertisistimdalan Kitab AnguttaraNikaya. 
5. Kathavatthu, terdiri atas dua puluh tiga bab yang merupakan kumpulan percakapan-percakapan (katha) dan sanggahan terhadap pandangan-pandangan salah yang dikemukakan oleh berbagai sekte tentang hal-hal yang berhubungan dengan theologi dan metafisika. 
6. Yamaka, terbagi menjadi sepuluh bab (yang disebut Yamaka) : Mûla, Khandha, Ayatana, Dhatu, Sacca, Sankhara, Anusaya, Citta, Dhamma dan Indriya. 
7. Patthana, menerangkan mengenai "sebab-sebab" yang berkenaan dengan dua puluh empat Paccaya (hubungan-hubungan antara batin dan jasmani).
Namun, selain pengelompokan diatas, kitab-kitab agama Buddha juga dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu kitab-kitab Sutra dan kitab-kitab Sastra. Kitab Sutra adalah  kitab-kitab yang dipandang berisi ucapan Buddha sendiri meskipun ditulis jauh sesudah ia meninggal dunia, sedangkan kitab Sastra adalah uraian-uraian yang ditulis oleh para tokoh yang ternama. Uraian-uraian tersebut biasanya disusun secara sistematis[32].
Menurut aliran Hinayana yang dianggap sebagai kitab-kitab Sutra ialah kitab-kitab yang dulu dikumpulkan pada Muktamar Buddhis pertama, sekitar tahun 383 S.M. Dan semua kitab yang muncul setelah itu tidak diakui keasliannya. Namun, berbeda dengan Hinayana, aliran Mahayana berpendapat bahwa kitab-kitab Sutra yang muncul setelah Muktamar pertama pun dipandang asli dan diyakini diucapkan oleh sang Buddha sendiri.
Dengan demikian, berkaitan  dengan kitab suci Tripitaka yang merupakan sumber ajaran agama Buddha seperti yang telah diterangkan  di atas, ada dua pandangan yang beda, yakni antara golongan Theravada dan Mahayana. Golongan pertama menganggap bahwa kitab Tripitaka yang dikumpulkan pada Pasamuan Agung yang pertama tahun 483 S.M. saja yang dapat dianggap sebagai ajaran yang diajarkan sendiri oleh Buddha, sedangkan golongan Mahayana selain menerima Tripitaka sebagai sumber ajarannya juga menjadikan kitab-kitab Sutra dan Sastra sebagai sumber ajarannya. Kitab-kitab tersebut antara lain adalah Karandavyriha, Sukhavatiyuha, Lalitavistara, Mahayanacradhautpada, Saddharmapundarika, Madyamika-sutra, Yogacara-bhumi-sastra, Milindapanha, dan lain-lain[33].
Perbedaan Kitab Suci Tripitaka Pada aliran Hinayana dan Mahayana
Seluruh naskah aliran Theravada (Hinayana) menggunakan bahasa Pali, yaitu bahasa yang dipakai di sebagian India (Khususnya daerah Utara) pada zaman Sang Buddha. Cukup menarik untuk dicatat, bahwa tidak ada filsafat atau tulisan lain dalam bahasa Pali selain kitab suci agama Buddha Theravada, yang disebut kitab suci Tipitaka, oleh karenanya, istilah "ajaran agama Buddha berbahasa Pali” sinonim dengan Agama Buddha Theravada. Agama Buddha Theravada dan beberapa sumber lain berpendapat, bahwa Sang Buddha mengajarkan semua ajarannya dalam bahasa Pali, di India, Nepal dan sekitarnya selama 45 tahun terakhir hidupnya, sebelum Beliau mencapai Parinibbana.
Seluruh naskah aliran Mahayana pada awalnya berbahasa Sansekerta dan dikenal sebagai Tripitaka. Oleh karena itu istilah Agama Buddha berbahasa Sansekerta sinonim dengan agama Buddha Mahayana. Bahasa Sansekerta adalah bahasa klasik dan bahasa tertua yang dipergunakan oleh kaum terpelajar di India, selain naskah agama Buddha Mahayana, kita menjumpai banyak catatan bersejarah dan agama, atau naskah filsafat tradisi setempat lainnya ditulis dalam bahasa Sansekerta.[34] Hal inilah yang menyebabkan kitab suci dalam Hinayana berbahasa Palidengan sedikit campuran bahasa Sanskrit, sedangkan kitab suci dalam Mahayana murni dalam bahasa Sanskrit. Kitab suci Hinayana yang tertulis dalam bahasa Paliitulah yang dinamakan Tipitaka, sedangkan kitab suci Mahayanayang tertulis dalam bahasa Sanskrit dinamakan Tripitaka-Mahayana(Mahatripitaka) dengan bagian-bagian tertentu yang jumlahnya lebih banyak, Tripitaka-Mahayana mencakup Tipitaka Hinayana, tetapi Tipitaka Hinayana tidak mencakup Tripitaka-Mahyana.[35]
Secara umum, para Bhikkhu dari aliran Theravada maupun Mahayana tidak menyediakan waktunya untuk mempelajari ajaran di luar ajaran yang dianutnya. Namun demikian walaupun mereka mengetahui sedikit ajaran yang lain, mereka rupanya menghafalkan ajaran yang terdapat dalam kitab suci yang dianutnya (terutama Theravada). Alasan untuk tidak mempelajari ajaran yang lain, karena isi setiap kitab suci satu aliran amat banyak. Jika kitab suci kedua aliran tersebut dikumpulkan menjadi satu, kira-kira tiga set buku EncyclopediaBritannica.[36]
Alasan lain, jelaslah berkenaan dengan pandangan psikologi bahwa seseorang akan lebih memperhatikan ajaran yang dianutnya. Tujuan utama sebagian besar bhikkhu dari kedua aliran ini adalah praktik, bukan pemujaan.. Dari semua alasan di atas, hanya sedikit bhikkhu yang menyediakan waktu dan tenaganya untuk membuka mata pada ajaran yang lain selain ajaran yang dianutnya. Berkaitan dengan kitab suci yang dijadikan pedoman oleh masing-masing aliran (Hinayana dan Mahayana), pembagian isi di dalamnya dapat dilihat pada tabel berikut.[37]
Sebagai tambahan, sutra-sutra dari aliran Hinayana juga terdapat dalam Tripitaka Mahayana dengan sebutan Agama Sutra (A Han Cing). Agama Sutra sebagian besarisinya tidak berbeda dengan apa yang terdapat di NikayaPali. Agama Sutra ini terdiri dari : Dhirghagama, Madhyamagama, Samyuktagama, dan Ekottarikagama.[38]
Dalam Tripitaka Mahayana terdapat pula tujuh kitab Abhidharma dari golongan Sarvastivada (berbeda dengan AbhidhammaPali), yaitu:Jnanaprasthana, Samgitiprayaya, Prakaranapada, Vijnanakayasya, Dhatukaya, Dharmaskandha, Prajnaptisastra.[39]
Penutup
Dari paparan di atas, sekiranya teranglah bahwa memang suatu agama akan memiliki pandangan khusus mengenai kitab sucinya. Pandangan itu memang tidak akan sama, namun demikianlah kitab suci sebagai unsur penting agama ditempatkan dalam agama. Agama Buddha dengan pandangan sendiri, menempatkan Tripitaka sebagai kitab suci yang didalamnya memuat ‘perkataan-perkataan’ sang Buddha Gautama di tempatkan pada kedudukan khusus. Kitab suci ini memang memiliki sejarah yang tidak singkat, di mulai dengan di hafal secara lisan oleh siswa-siwa dan pengikut sang Buddha, dikumpulkan oleh para pemuka-pemuka agama saat itu, ditulis dan dibentuk sehingga menjadi sebuah ‘kitab’, dan selanjutnya kemudian di kanosisasikan.
Kitab suci Tripitaka milik agama Buddha ini tidak serumit seperti halnya kitab suci milik agama Hindu. Tripitaka hanya terdiri dari tiga kelompok -yang disebut ‘keranjang’ (pitaka)- yang didalamnya juga terbagi lagi ke dalam bagian-bagian yang lebih spesifik. Hanya saja yang menarik, setiap aliran dalam agama Hindu kebanyakan memiliki ‘khas’nya masing-masing perihal kitab suci ini.
 
                                               
 
                                                 Daftar Pustaka :
 
Hadikusuma, Hilman. 1983. Antropologi Agama. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Hadiwijono, Harun. 2010. Agama Hindu dan Buddha. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
Mulki, Ardian. 2002. Sekilas Tentang Buddha. Surabaya: CV Mutiara Publisher.
Romdhon, dkk. 1988. Agama-Agama di Dunia. Jakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press.
T., Suwarto. 1995. Buddha Dharma Mahayana. Palembang: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia.

[1]Harun Hadiwijono,Agama Hindu dan Buddha, (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2010), h. 63
[2]http://id.wikipedia.org/wiki/Tipi%E1%B9%ADaka, diakses pada hari Minggu 05 Mei 2013, pukul 21.50 WIB.
[3]http://www.tripitaka.info/index.php/mengenal-tripitaka, diakses pada hari Minggu 05 Mei 2013, pada pukul 21.00 WIB.
[4]http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=5414.0, diakses pada hari Minggu 05 Mei 2013, pada pukul 22.00 WIB.
[5]http://id.wikipedia.org/wiki/Tipi%E1%B9%ADaka, diakses pada hari Minggu 05 Mei 2013, pada pukul 21.50 WIB.
[6]http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=5414.0, diakses pada hari Minggu 05 Mei 2013, pada pukul 22.00 WIB.
[7]http://id.wikipedia.org/wiki/Tipi%E1%B9%ADaka, diakses pada hari Minggu 05 Mei 2013, pada pukul 21.50 WIB.
[8]http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/, diakses pada hari Senin 06 Mei 2013, pada pukul 23.15 WIB.
[9]http://tanhadi.blogspot.com/2011/04/sejarah-tipitaka-kitab-suci-agama.html, diakses pada hari Senin 06 Mei 2013, pada pukul 22.00 WIB.
[10]http://id.wikipedia.org/wiki/Tipi%E1%B9%ADaka, diakses pada hari Minggu 05 Mei 2013, pada pukul 21.50 WIB.
[11]http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/, diakses pada hari Senin 06 Mei 2013, pada pukul 23.15 WIB.
[12]http://tanhadi.blogspot.com/2011/04/sejarah-tipitaka-kitab-suci-agama.html, , diakses pada hari Senin 06 Mei 2013, pada pukul 22.00 WIB.
[13]http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/, diakses pada hari Senin 06 Mei 2013, pada pukul 23.15 WIB.
[14]http://id.wikipedia.org/wiki/Tipi%E1%B9%ADaka, diakses pada hari Minggu 05 Mei 2013, pada pukul 21.50 WIB.
[15]http://id.wikipedia.org/wiki/Tipi%E1%B9%ADaka, diakses pada hari Minggu 05 Mei 2013, pada pukul 21.50 WIB.
[16]http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/, diakses pada hari Senin 06 Mei 2013, pada pukul 23.15 WIB.
[17]http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=5414.0, diakses pada hari Minggu 05 Mei 2013, pada pukul 22.00 WIB.
[18]http://www.tripitaka.info/index.php/mengenal-tripitaka, diakses pada hari Minggu 05 Mei 2013, pada pukul 21.00 WIB.
[19]Romdhon, dkk., Agama-Agama di Dunia, (Jakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988), h. 112
[20]Suwarto T., Buddha Dharma Mahayana.(Palembang: Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia, 1995), h. 844
[21]Harun Hadiwijono,Agama Hindu dan Buddha, h. 63
[22] Hilman Hadikusuma, Antropologi Agama, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1983), h. 215
[23]Romdhon, dkk., Agama-Agama di Dunia, h. 112
 
[24]Romdhon, dkk., Agama-Agama di Dunia, h. 113
[25] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha. h. 63
[26] Hilman Hadikusuma, Antropologi Agama, h.214
[27]Romdhon, dkk., Agama-Agama di Dunia, h. 112
[28]Suwarto T., Buddha Dharma Mahayana. h. 843
[29]Suwarto T., Buddha Dharma Mahayana. h. 844
[30] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, h. 63
[31]Romdhon, dkk., Agama-Agama di Dunia, h. 113
[32] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, h. 64
[33]Romdhon, dkk., Agama-Agama di Dunia, h. 113
[34]http://www.facebook....an-mahayana.htm, diakses pada hari Selasa 07 Mei 2013, pada pukul 23.00 WIB.
[35]http://www.wihara.com/forum/theravada/4197-secara-ringkas-mahayana-dan-hinayana-theravada.html, diakses pada hari Senin 06 Mei 2013, pada pukul 22.00 WIB.
[36] http://www.facebook....n-mahayana.html, diakses pada hari Selasa 07 Mei 2013, pada pukul 23.00 WIB.
[37]http://www.oocities.org/tokyo/garden/9609/Tipitaka/GuideToTipitaka1.htm, diakses pada hari Senin 06 Mei 2013, pada pukul 22.30 WIB
[38]ArdianMulki,Sekilas Tentang Buddha, (Surabaya: CV Mutiara Publisher, 2002), h. 56
[39]ArdianMulki, Sekilas Tentang Buddha,h. 58

  • muni likes this
Cetanaham bhikkhave kammam vadami

Thanked by 1 Member:
muni

#9 wen78

wen78

    ....

  • Moderators
  • 37
  • 1,294 posts
  • 10 thanks

Posted 12 September 2014 - 12:53 PM

mungkin memerlukan banyak pihak untuk mewujudkan hal ini. karena menerjemahkan adalah hal yg sangat sulit.

beberapa sutra yg sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, masih ada yg beranggapan memiliki terjemahan yg kurang tepat.

 

mungkin dibutuhkan masukan dari para ahli bahasa dan pihak sangha yg sudah benar2 memahami isi dari sutra tsb. sehingga tidak keluar dari makna yg sesungguhnya.


  • golden lotus likes this

Lakukan apa yg seharusnya dilakukan, dan tidak melakukan apa yg seharusnya tidak dilakukan. ― ....


“Your beliefs become your thoughts, Your thoughts become your words, Your words become your actions, Your actions become your habits, Your habits become your values, Your values become your destiny.” ― Mahatma Gandhi


Thanked by 1 Member:
golden lotus

#10 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 45 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 19 September 2014 - 10:44 AM

mungkin memerlukan banyak pihak untuk mewujudkan hal ini. karena menerjemahkan adalah hal yg sangat sulit.
beberapa sutra yg sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, masih ada yg beranggapan memiliki terjemahan yg kurang tepat.
 
mungkin dibutuhkan masukan dari para ahli bahasa dan pihak sangha yg sudah benar2 memahami isi dari sutra tsb. sehingga tidak keluar dari makna yg sesungguhnya.

Memerlukan banyak pihak......PASTI
Cetanaham bhikkhave kammam vadami

#11 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 45 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 19 September 2014 - 10:47 AM

Mengapa hanya ada 1 senior yg tulus mendukung roda dhamma ini ?
Cetanaham bhikkhave kammam vadami

#12 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 45 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 19 September 2014 - 10:58 AM

Senior the one...menantang saya utk jadi arahat.....wkwkwk ini sama saja dgn sebuah pertanyaan ,"sanggupkah meninggalkan pekerjaan duniawi ?"
jawaban : saya nyatakan menyerah thd tantangan senior the one.....ha ha haaa
Sekarang ,
Saya balik menantang senior the one ,
Utk masuk di project ini ...hehehe bagaimana senior?...apakah tantangan golden lotus diterima ?
Cetanaham bhikkhave kammam vadami

#13 muni

muni

    Penggemar WDC

  • Members
  • 31
  • 520 posts
  • 3 thanks

Posted 19 September 2014 - 12:06 PM

Saya ikut mendukung.

 

Sabbe satta bhavantu sukhitata.


  • The One likes this

Thanked by 1 Member:
golden lotus

#14 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 19 September 2014 - 12:32 PM

Perlu diinformasikan di sini bahwa bahasa Pali itu bukan bahasa asli Sang Buddha, melainkan suatu dialek dari bahasa Magadhi (bahasa yang digunakan di kerajaan Magadha kuno yang beribukota di Rajagaha pada masa Sang Buddha). Selengkapnya bisa dibaca di http://www.wihara.co...li/#entry778183
  • golden lotus and The One like this

rj1pgw.jpg


Thanked by 1 Member:
golden lotus

#15 Edogawa

Edogawa

    Detective Conan

  • Members
  • 44
  • 3,032 posts
  • 21 thanks

Posted 19 September 2014 - 02:36 PM

Sekedar usul, sebaiknya tidak hanya menerjemahkan Tipitaka Pali saja (yang hanya mewakili ajaran Theravada), tetapi juga teks-teks Buddhisme awal lainnya seperti Agama Sutra Sanskrit, Kanon Tripitaka Mandarin, Kanon Tibetan, dan sutta-sutta yang terdapat dalam manuskrip kuno Prakrit, Gandhari, Khotan dan Uighur. Semua teks ini dalam bahasa aslinya lengkap disediakan dalam http://suttacentral.net/


  • The One likes this

rj1pgw.jpg


Thanked by 1 Member:
golden lotus

#16 The One

The One

    Sahabat WDC

  • Moderators
  • 56
  • 2,351 posts
  • 32 thanks

Posted 19 September 2014 - 10:55 PM

&nbsp;

Senior the one...menantang saya utk jadi arahat.....wkwkwk ini sama saja dgn sebuah pertanyaan ,"sanggupkah meninggalkan pekerjaan duniawi ?"
jawaban : saya nyatakan menyerah thd tantangan senior the one.....ha ha haaa
Sekarang ,
Saya balik menantang senior the one ,
Utk masuk di project ini ...hehehe bagaimana senior?...apakah tantangan golden lotus diterima ?

&nbsp;

Saya tidak punya minat, sumber daya pikiran dan materi untuk proyek seperti ini. Untuk kandidat terbaik saya rasa Sdr. Ariyakumara dan Bapak Tanhadi, sebab setahu saya mereka yang fasih dalam literatur Buddhisme di forum ini. Untuk proyek seperti ini, sukarelawan harus punya visi dan kapasitas yang mumpuni.


:namaste:
  • golden lotus likes this

#17 The One

The One

    Sahabat WDC

  • Moderators
  • 56
  • 2,351 posts
  • 32 thanks

Posted 19 September 2014 - 11:05 PM

&nbsp;

Sekedar usul, sebaiknya tidak hanya menerjemahkan Tipitaka Pali saja (yang hanya mewakili ajaran Theravada), tetapi juga teks-teks Buddhisme awal lainnya seperti Agama Sutra Sanskrit, Kanon Tripitaka Mandarin, Kanon Tibetan, dan sutta-sutta yang terdapat dalam manuskrip kuno Prakrit, Gandhari, Khotan dan Uighur. Semua teks ini dalam bahasa aslinya lengkap disediakan dalam http://suttacentral.net/

&nbsp;

Ini lebih masuk akal untuk dilakukan. Langkah awal mungkin menerjemahkan dulu, ekspedisi akan memerlukan banyak seluk beluk, harus kenal dengan pemuka Buddhis setempat, interaksi dengan karakteristik masyarakat lokal, akses teks-teks kuno yang mungkin tertutup untuk orang awam, dan lain-lain. Belum tentu maksud baik sukarelawan ini diterima oleh warga-warga setempat.

Jika sebatas survey masih masuk akal, tapi yang realistis tentu mulai dari membantu menerjemahkan (modal sewa tempat, peralatan kantor dan staf-staf penerjemah).


:lotus:

Thanked by 1 Member:
golden lotus

#18 stream386

stream386

    Anggota Tetap WDC

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 18
  • 241 posts
  • 8 thanks

Posted 20 September 2014 - 12:49 AM

saya ikut mendukung :smile:



Thanked by 1 Member:
golden lotus

#19 The One

The One

    Sahabat WDC

  • Moderators
  • 56
  • 2,351 posts
  • 32 thanks

Posted 20 September 2014 - 09:10 AM

Jika yayasan sosial, saya siap bantu tanpa digaji, sekitar setahun terakhir ini.

:namaste:

Thanked by 1 Member:
golden lotus

#20 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 45 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 22 September 2014 - 09:00 PM

Terima kasih para senior yg telah memberikan masukan.
Saya berpikir sebuah yayasan Buddhis yg tidak dimiliki oleh satu orang.
melainkan setiap part nya adalah manusia penting di yayasan itu.
saya pasti akan berusaha mendirikan yayasan Bddhisme.
Mungkin utk kegiatan sosial seperti yatim piatu ,panti jompo, bantuan biaya kesehatan
....Barulah disela sela itu terdapat kegiatan menterjemahkan bahasa asing...termasuk pula sirkulasi pembagian buku buku Dhamma secara gratis.
Mohon masukan para senior...
Nammo Amitabha...
Cetanaham bhikkhave kammam vadami




0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close