Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

Apakah Tuhan itu sungguh ada?


  • Please log in to reply
24 replies to this topic

#1 durianbotak

durianbotak

    Newbie

  • Members
  • Pip
  • 1
  • 1 posts
  • 0 thanks

Posted 26 November 2015 - 03:15 AM

Hai teman-teman Buddhist, 

 

Menurut kalian semua apakah Tuhan itu benar-benar ada? 

 

Apa sajakah yang menurut kalian bukti bahwa Tuhan itu benar-benar ada?

 

Menurut saya Buddha itu bukanlah Tuhan, Beliau dahulunya merupakan manusia, namun Beliau dapat mencapai pencerahan yg sempurna.

 

Lalu apakah Tuhan itu benar-benar ada? 


  • coedcoed likes this

#2 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 45 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 27 November 2015 - 09:01 AM

Seandainya ADA kenapa?
Seandainya TIDAK ADA apakah kehidupan ini terhenti ?

Manusia seandainya tidak menderita ,maka pertanyaan tentang "ada tidaknya tuhan" bukanlah prioritas.

Sesungguhnya yg ditanyakan manusia adalah penyebab dan solusi dari derita.

Contoh : seandainya sama sekali tidak ada derita...apakah ada orang yg bertanya apa sebabnya sakit alzheimer dan apa obatnya ?

Sebab dan solusi ...ditanyakan utk tujuan mencegah dan melepaskan dari kondisi menderita akibat penyakit itu.

Ajaran Buddha telah menjelaskan sebab derita dan solusinya.
Maka keberadaan tuhan bukan prioritas.

Bahkan jika seseorang percaya tuhan.
Solusi tidak dicapai ketika seseorang percaya tuhan.

Solusi justru terjadi ketika seseorang sadar hukum hukum alam dan mulai melakukan action.

Disini terjadi perbedaan hasil antara percaya tuhan dan sadar hukum alam
  • Hendora Yap likes this
Cetanaham bhikkhave kammam vadami

#3 The Legend

The Legend

    Anggota Tetap WDC

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 18
  • 199 posts
  • 4 thanks

Posted 27 November 2015 - 10:59 AM

Hai teman-teman Buddhist, 

 

Menurut kalian semua apakah Tuhan itu benar-benar ada? 

 

Apa sajakah yang menurut kalian bukti bahwa Tuhan itu benar-benar ada?

 

Menurut saya Buddha itu bukanlah Tuhan, Beliau dahulunya merupakan manusia, namun Beliau dapat mencapai pencerahan yg sempurna.

 

Lalu apakah Tuhan itu benar-benar ada? 

 

Menurut anda, Tuhan itu yang bagaimana ?

Kalau Tuhan sebagaimana kisah dari ajaran lain, yang pencipta, yang Maha ini dan itu, dalam ajaran Buddha menolak hal tersebut.

Buddha memang bukan Tuhan, tetapi gelar orang yang telah mencapai kesadaran agung.



#4 CahayaPelita

CahayaPelita

    Tidak Baru Lagi

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 48
  • 65 posts
  • 6 thanks

Posted 27 November 2015 - 11:47 AM

Apabila seseorang mencintai perempuan bernama A , seseorang mengganti A dengan sebutan kekasih .

Apabila seseorang ketika sulit di tolong oleh A , seseorang memberikan gelar si A adalah malaikat penolongnya .

Sifat - sifat agung ( penolong ) Ada dengan gelar berbeda - beda .. Kesadaran , kosong , yesus , allah , kejernihan dan sebagainya .

Itu pendapat sederhana saya .

Semoga semua makhluk berbahagia .
Wajar dan sederhana , begini dan begitu tapi tidak harus begini dan begitu .

#5 msc

msc

    no vice

  • Moderators
  • 400
  • 5,128 posts
  • 103 thanks

Posted 27 November 2015 - 02:12 PM

Hai teman-teman Buddhist, 
 
Menurut kalian semua apakah Tuhan itu benar-benar ada? 
 
Apa sajakah yang menurut kalian bukti bahwa Tuhan itu benar-benar ada?
 
Menurut saya Buddha itu bukanlah Tuhan, Beliau dahulunya merupakan manusia, namun Beliau dapat mencapai pencerahan yg sempurna.
 
Lalu apakah Tuhan itu benar-benar ada?



Saya belum pernah melihat Tuhan dan Buddha.
Atau mungkin saya pernah melihat keduanya namun tidak mengenali.
Sesuatu yg belum pernah saya lihat, sulit dipastikan apakah benar2 ada ataupun tiada.

Boleh tahu ada apa anda mencari Tuhan?

#6 djoe

djoe

    Legenda WDC

  • Moderators
  • 229
  • 4,797 posts
  • 44 thanks

Posted 29 November 2015 - 11:08 AM

Hai teman-teman Buddhist,

Menurut kalian semua apakah Tuhan itu benar-benar ada?

Apa sajakah yang menurut kalian bukti bahwa Tuhan itu benar-benar ada?

Menurut saya Buddha itu bukanlah Tuhan, Beliau dahulunya merupakan manusia, namun Beliau dapat mencapai pencerahan yg sempurna.

Lalu apakah Tuhan itu benar-benar ada?

Sebelum kita tersesat dlm jawaban logis dan sistematis terlalu jauh, pernakah anda bertanya apakah pertanyaan anda sudah benar???

By refutation of the false, not by acquiring the truth, is the revelation of the TRUTH


#7 Hendora Yap

Hendora Yap

    Advanced Member

  • Members
  • PipPipPip
  • 8
  • 35 posts
  • 0 thanks

Posted 29 November 2015 - 12:56 PM

Saya punya kutipan tentang itu..

"Tuhan itu tidak ada, sampai kamu temukan kebenaran tentang ketiadaannya, maka dia ada"

 

Lupa pernah baca dari mana.. hehe :D


  • djoe likes this

#8 arieosho

arieosho

    Fenomena WDC

  • Members
  • 289
  • 6,099 posts
  • 43 thanks

Posted 17 February 2016 - 10:00 AM

Hai teman-teman Buddhist,

Menurut kalian semua apakah Tuhan itu benar-benar ada?

Apa sajakah yang menurut kalian bukti bahwa Tuhan itu benar-benar ada?

Menurut saya Buddha itu bukanlah Tuhan, Beliau dahulunya merupakan manusia, namun Beliau dapat mencapai pencerahan yg sempurna.

Lalu apakah Tuhan itu benar-benar ada?


Apakah Tuhan itu benar benar ada ?

Orang orang ingin bukti , tetapi ketika kita tanya apakah ada alam Nerakan ? Apakah ada alam asura ? Mereka yang yakin ajaran Buddha tentang ada nya 33 alam tidak dapat memberi bukti. Tetapi mereka meminta bukti keberadaan Tuhan. Ini tidak adil.

Ketika kita berbicara tentang TUHAN , tentulah bicara tentang Yang Menciptakan semua keberadaan ini. Jadi tidak berbicara tentang Yang Maha Kuasa.

Yang Maha Kuasa itu propaganda agama agama yang memiliki Tuhan , agar umat agama nya semakin yakin. Propaganda ini dilakukan karena manusia memiliki banyak masalah dan banyak kelemahan. Secara psikologi dapat di-injeksi dengan Propaganda Maha Kuasa dari TUHAN. Sehingga manusia tunduk dan taat.

Jadi , TUHAN , tidak relevan dibicarakan Maha Kuasa nya. Hanya dapat membahas apakah ADA Sang Pencipta yang di sebut sebagai TUHAN tetapi tidak dalam konteks Maha Kuasa.

Membahas bukanlah mengeluarkan sosok TUHAN di hadapan anda untuk anda lihat , untuk anda ketahui melalui panca-indra anda. Sama seperti ketika anda membahas KARMA atau KAMMA , anda tidak sodori bukti visual atau bukti kontak Panca indra tentang Keberadaan KARMA atau KAMMA.

TUHAN adalah Sang Pencipta. Apakah TUHAN itu benar benar ada ? Hanya membahas apakah TUHAN itu ADA. Pembahasan tidak masuk ke dalam keperluan pribadi anda , misal nya ; apakah anda membutuhkan TUHAN. ? Anda Butuh TUHAN atau Tidak Butuh , itu urusan anda.

Sebelum nya ada pendapat bahwa alam semesta terjadi sendiri nya. Apakah benar begitu ?

Kita lihat bangunan rumah anda , apakah itu terjadi sendiri nya ? Tidak !

Yang terjadi sendiri nya adalah Gua. Jika anda tinggal di Gua maka anda tidak mengetahui ada yang membuat rumah - gedung. Apakah gedung terjadi sendiri nya ? Kalau manusia gua akan heran melihat gedung.

Kita lihat , bagaimana campur tangan TUHAN dalam menciptakan alam semesta. Alam semesta memiliki ketetapan.

Kalau anda melihat Gua , anda tidak akan dapat melihat ketetapan nya, dibanding anda melihat gedung dan rumah anda.

Jadi sesuatu yang terjadi tanpa campur tangan pembuat , tidak beraturan.


Alam semesta memiliki ketetapan , sehingga anda dapat menghitung. Ada matematika , ada fisika ada kimia. Karena ada ketetapan maka semua dapat dihitung. Misal nya kecepatan laju cahaya itu tetap seperti itu jika tanpa hambatan. Kecepatan cahaya saja adalah sebuah hal yang tetap. Ada reaksi kimia , semua ada ketetapan , jika tidak ada ketetapan , orang tidak dapat membuat BOM Atom.

Dalam spiritual. Ada hukum KARMA yang berlaku. Apakah tanpa ketetapan bisa ada hukum yang muncul ? Itu Ada ketetapan , ada model cara kerja nya. Ini tidak dapat terjadi sendiri nya. Seperti ketika anda melihat Gua. Jika anda tinggal di Gua , anda tahu , itu terjadi sendiri nya . Jadi ada campur tangan Sang Pencipta - TUHAN sehingga ada HUKUM KARMA yang berlaku. Ada Model cara kerja nya sebagai sebab dan akibat. Model kerja nya adalah sebuah ketetapan tidak serampangan.

Berdasarkan hal yang sederhana ini saja kita melihat ada campur tangan Invisible Hand dan itulah TUHAN.
Jika anda minta bukti kontak panca-indra , itu tidak relevan . Karena tidak semua hal dibuktikan melalui kontak visual. Misal nya para Ilmuan mengetahui adalah gelombang gravitasi di alam semesta. Itu tidak berdasarkan kontak panca indra. Tetapi melalui sebuah media dan menterjemahkan nya sebagai ADA.

Hal yang sama , melihat ada nya ketetapan pada alam semesta , kita menterjemahkan TUHAN itu ADA.

.
Semua yang terjadi dan akan terjadi adalah berhubungan dengan KARMA. Apakah anda akan mencapai pencerahan agung sekarang atau di kelahiran yang akan datang ? Kejadian itu berhubungan dengan KARMA Baik anda. Maka mulailah dengan lHati Nurani agar semua pikiran dan tindakan anda menghasilkan KARMA baik. Jika KARMA baik anda telah memenuhi target , jalan akan terbuka. anda akan menemukan kebenaran apapun yang anda perlu sesuai dengan KARMA baik anda.. Hati Nurani.

#9 coedcoed

coedcoed

    Penggemar WDC

  • Members
  • 64
  • 966 posts
  • 16 thanks

Posted 17 February 2016 - 11:58 AM

Hai teman-teman Buddhist,

Menurut kalian semua apakah Tuhan itu benar-benar ada?

Apa sajakah yang menurut kalian bukti bahwa Tuhan itu benar-benar ada?

Menurut saya Buddha itu bukanlah Tuhan, Beliau dahulunya merupakan manusia, namun Beliau dapat mencapai pencerahan yg sempurna.

Lalu apakah Tuhan itu benar-benar ada?


YA, TENTU SAJA BENAR-BENAR ADA.
JKA ANDA BELUM MENGALAMINYA, PERTANYAAN COEDA TENTU SAJA 'APAKAH ANDA SUDAH MELAKUKAN KEHENDAK-KEHENDAK-NYA/PERINTAH-PERINTAH-NYA/FIRMAN-NYA/KEBENARAN-NYA?
Jika tidak bagaimana mungkin anda mengalami kesaksian perjumpaan pribadi, sedang pribadi tidak percaya?
Sebagaimana umat Buddhist, apakah sudah ada yang bertemu diantara para Buddha?
Coeda rasa yang banyak bercuap-cuap seolah-olah tlah tercerah, berpengetahuan buddhism belum pernah mengalami perjumpaan dengan Buddha. Tetapi banyak malah orang tua yang murni tulus hanya sebatas percaya dan berdoa/sembahyang meminta keselamatan, malah tahu dan mengalami perjumpaan.
Tetapi berbeda pula dengan perjumpaan yang dialami dalam praktek-praktek yang aliran tertentu yang dilakukan dengankekuatan pikiran. Sradha bukan kekuatan imaginasi pikiran. (As new age teaching)
Jika Buddha saja tidak tahu, apalagi TUHAN, Pencipta,penguasa alam semesta.
Klo coeda, tentu saja coeda sudah mengalami dahulu, tentu saja telah dikenali dan saling kenal baik Sakaymuni maupun Amithaba dan yang lain-lain, mementori coeda. Cari tulisan coeda ding.... tentang apa yang terjadi jika seseorang memasuki proses tercerahkan di alamkeBuddhaan.
Demikianlah penjelasan coeda yang simple.


"Barang siapa melihatku dalam wujud, barang siapa mencariku dalam suara. Dia memperaktekanjalan menyimpang danntidakmdapat melihat Hyang Tathagatha "


Matius 7:7-8 "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

1 Korintus 2:13-14 Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.
Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.

Yohanes 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."


Salam, coeda.
JESUS bless u (THE WAY, THE TRUTH, AND THE LIFE)
Waktu tahun-tahun penantian kedatangan-NYA sudah semakin sempit. Bersiap-sedialah di segala waktu.

'Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.'

#10 arieosho

arieosho

    Fenomena WDC

  • Members
  • 289
  • 6,099 posts
  • 43 thanks

Posted 17 February 2016 - 01:28 PM

Yohanes 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."


Salam, coeda.
JESUS bless u (THE WAY, THE TRUTH, AND THE LIFE) = Aku adalah jalan , aku adalah kebenaran dan aku adalah hidup.


Coeda , kenapa Tuhan perlu disembah ? Apakah TUHAN ingin merasa berkuasa atas anak manusia ?

Apa maksud dari kata sembah ?

It saja , rekan Coeda . Semoga anda memberi pencerahan.

Paradigma baru posting adalah tidak berusaha menjatuhkan , kritik boleh tetapi harus netral. Karena tidak ada orang yang sempurna seperti coeda. Jadi harap maklum saja. Tidak perlu menghakimi siapapun atau kelompok mana pun.

Tidak ada orang yang sempurna seperti yang anda harapkan. Semua orang sedang belajar , memantapkan dan berusaha lebih baik dan lebih baik lagi.

Kembali ke pertanyaan : kenapa TUHAN ingin disembah ? Apa tujuan nya ? Apakah TUHAN kekurangan sesuatu ? Mohon , rekan coeda menberi pencerahan.

Arieosho. < The founder of oshoism enlightenment >

.
Semua yang terjadi dan akan terjadi adalah berhubungan dengan KARMA. Apakah anda akan mencapai pencerahan agung sekarang atau di kelahiran yang akan datang ? Kejadian itu berhubungan dengan KARMA Baik anda. Maka mulailah dengan lHati Nurani agar semua pikiran dan tindakan anda menghasilkan KARMA baik. Jika KARMA baik anda telah memenuhi target , jalan akan terbuka. anda akan menemukan kebenaran apapun yang anda perlu sesuai dengan KARMA baik anda.. Hati Nurani.

#11 arieosho

arieosho

    Fenomena WDC

  • Members
  • 289
  • 6,099 posts
  • 43 thanks

Posted 17 February 2016 - 01:52 PM


Salam, coeda.
JESUS bless u (THE WAY, THE TRUTH, AND THE LIFE)


Ini selingan rekan Coeda. Tentang ;

Aku adalah jalan , kebenaran dan hidup.

Kalau dalam tradisi Oshoism , itu sangat cocok untuk setiap orang ,bukan merepresentasikan Jesus.

Jalan adalah dibuat oleh manusia . Tidak pernah Tuhan membuat jalan. Demikian juga kebenaran. Bagi Tuhan , tidak ada kebenaran. Kebenaran hanya ada pada manusia , karena manusia berevolusi dari ketidak tahuan atau dari tidak benar.

Jadi kebenaran hanya ada pada manusia. Manusia menetapkan koridor kebenaran berdasarkan timbang rasa ke-adil-an , ke-jujur-an , juga berdasarkan Cinta kasih , toleransi , simpati dan sebagai nya .

Semua itu adalah telah ada dalam diri setiap manusia , tetapi orang suci zaman dahulu , membohongi anak manusia lain nya dengan tujuan yang baik , dengan mengatakan semua bahwa itu datang dari Tuhan Allah. Anak manusia wajib mengikuti nya.

Ketika kita tumbuh mandiri , kita akhir nya sadar , bahwa kebenaran datang dari manusia itu sendiri bukan dari sana.

Aku adalah Hidup. Artinya adalah kebenaran itu hanya dipakai saat anda masih hidup. Jadi jangan menunggu mati untuk mencapai kebenaran dan menemukan jalan menuju surga. Kalau sudah mati , anda sudah terlambat.

.
Semua yang terjadi dan akan terjadi adalah berhubungan dengan KARMA. Apakah anda akan mencapai pencerahan agung sekarang atau di kelahiran yang akan datang ? Kejadian itu berhubungan dengan KARMA Baik anda. Maka mulailah dengan lHati Nurani agar semua pikiran dan tindakan anda menghasilkan KARMA baik. Jika KARMA baik anda telah memenuhi target , jalan akan terbuka. anda akan menemukan kebenaran apapun yang anda perlu sesuai dengan KARMA baik anda.. Hati Nurani.

#12 seniya

seniya

    Sahabat WDC

  • Members
  • 24
  • 406 posts
  • 12 thanks

Posted 18 February 2016 - 06:49 AM

Jika dalam Kr*st*n dikatakan:

JESUS is THE WAY, THE TRUTH, AND THE LIFE

Maka dalam Buddhis juga bisa dinyatakan

DHAMMA is THE WAY, THE TRUTH, AND THE LIFE
(Dhamma adalah Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup)

Apakah Dhamma adalah Sang Jalan? Di sini, Dhamma adalah jalan menuju lenyapnya dukkha, yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan yang terdiri atas pandangan benar, pikiran benar, perbuatan benar, ucapan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar.

Apakah Dhamma adalah Kebenaran? Di sini, Dhamma adalah kebenaran mulia tentang dukkha, kebenaran mulia tentang sebab dukkha, kebenaran mulia tentang lenyapnya dukkha, dan kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya dukkha - Empat Kebenaran Mulia.

Apakah Dhamma adalah Hidup? Di sini, Sang Buddha telah menyatakan Kehidupan Suci (brahmacariya) dalam Dhamma yang diajarkannya untuk menapaki Sang Jalan dan menembus Kebenaran.

#13 coedcoed

coedcoed

    Penggemar WDC

  • Members
  • 64
  • 966 posts
  • 16 thanks

Posted 18 February 2016 - 08:38 AM

Coeda , kenapa Tuhan perlu disembah ? Apakah TUHAN ingin merasa berkuasa atas anak manusia ?
Apa maksud dari kata sembah ?
It saja , rekan Coeda . Semoga anda memberi pencerahan.
Paradigma baru posting adalah tidak berusaha menjatuhkan , kritik boleh tetapi harus netral. Karena tidak ada orang yang sempurna seperti coeda. Jadi harap maklum saja. Tidak perlu menghakimi siapapun atau kelompok mana pun.
Tidak ada orang yang sempurna seperti yang anda harapkan. Semua orang sedang belajar , memantapkan dan berusaha lebih baik dan lebih baik lagi.
Kembali ke pertanyaan : kenapa TUHAN ingin disembah ? Apa tujuan nya ? Apakah TUHAN kekurangan sesuatu ? Mohon , rekan coeda menberi pencerahan.
Arieosho. < The founder of oshoism enlightenment >
.

Pertanyaan coeda, mengapa bro Arie menempel namamu dengan kata'osho'?
Apa pengaruhnya terhadap kejiwaan/kehidupan (pola pandang kehidupan) bro Arieosho?


Seperti umat Buddhist bahkan bersujud dihadapan ( bahkan ) rupang/patung Buddha?
Seolah-olah melakukan bakti dihadapan Buddha.
Mau merendahkan diri melakukan ajaran guru Buddha.
Bercita-cita menjadi Buddha, dan menyatu dengan Buddha.


Jika Seseorang hanyalah sebagai master dunia, tentu ia mencari pengagungan, jadi membutuhkan pemuja/murid.
Apakah master osho kekurangan sesuatu? Apakah master djoe kekurangan sesuatu?
Bagaimana dengan guru Buddha?
Bagaimana dengan umat? Seringkali seolah-olah merendhkan diri bersujud bahkan dihadapan rupang, tetapi sesungguhnya membawa 'keakuan.', memandang 'keakuan.', meninggikan 'keakuan.'
Mengapa coeda berkata demikian?
Karena berprilaku sebagai master (seolah-olah sudah sama dengan sang guru BUDDHA), tetapi dengan memandang dan meninggikan semata dirinya sendiri, konsep dirinya sendiri, sebenarnya sungguhkah ada kejujuran mempelajari, memahami dan mencerap dan melakukan ajaran guru Buddha? Atau sebenarnya hanya memandang diri dan meninggikan diri?
  • golden lotus likes this
Waktu tahun-tahun penantian kedatangan-NYA sudah semakin sempit. Bersiap-sedialah di segala waktu.

'Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.'

#14 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 45 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 18 February 2016 - 09:05 AM

Hai teman-teman Buddhist, 
 
Menurut kalian semua apakah Tuhan itu benar-benar ada? 
 
Apa sajakah yang menurut kalian bukti bahwa Tuhan itu benar-benar ada?
 
Menurut saya Buddha itu bukanlah Tuhan, Beliau dahulunya merupakan manusia, namun Beliau dapat mencapai pencerahan yg sempurna.
 
Lalu apakah Tuhan itu benar-benar ada?


Apakah Tuhan (maksud anda SANG PENCIPTA segala sesuatu) benar benar ADA ?

1. pencipta segala sesuatu , jadi pesawat terbang diciptakan tuhan ?

Kotoran sapi juga diciptakan tuhan ?

-->Jika ADA yg tidak diciptakan Tuhan maka Ia bukanlah pencipta segala sesuatu (ada yg tidak diciptakan tuhan) seperti setan , narkoba , penderitaan , dst dst

2. Lalu jika kotoran sapi merupakan proses pencernaan sapi ....apakah logic dikatakan
" tuhan mengapa menciptakan kotoran ?"

Benih rumput-->rumput-->dimakan sapi-->pencernaan sapi -->kotoran sapi -->terurai menjadi unsur unsur biology dan non biology.

mengapa harus butuh " Sang Pencipta"?

3.lalu darimana semua ini berasal ?

Mana yg lebih logis :
A. Segala unsur telah ADA semenjak "definisi waktu sirna" artinya pola berpikir ada waktu pointer sebagai awal bukanlah pembenaran itu penciptaan...sebab masih ada kronologi sebelum dan sebelum dan sebwlumnya lagi.

Ketika konsep waktu dan kronologi , diilustrasikan sirna....maka segala proses ini merupakan perpaduan unsur belaka.
Munculnya dinosaurus karena perpaduan segala faktor dikala itu memunculkan mahkluk dinosaurus.

ketika konsep TIME dipahami..maka waktu itu benar benar delusi.
Alam semesta tidak memiliki ukuran waktu.

Kita menghitung detik dari ukuran atom
Kita menghitung hari , minggu , bulan , tahun ...dgn pola musim , peredaran bulan , dan matahari

Lhaa di alam semesta...patokannya apa ??

"Waktu" hanyalah susunan frame frame perubahan dan dihitung berdasarkan patokan tertentu (atom , musim, bulan , matahari)

B.Tuhanlah pencipta alam semesta.

Lalu siapa yg ciptain Tuhan ?

Ooo...dia ada dgn sendirinya dari ketiadaan

Lalu jika tuhan bisa muncul dgn sendiri , berarti hal lain selain tuhan bisa muncul dgn sendirinya.


Tuhan itu tidak logic.
Dari berbagai sisi logika membuktikan tuhan itu khayalan manusia.

Tuhan hanya bisa diterima oleh PERASAAN MANUSIA yg butuh sosok .
Cetanaham bhikkhave kammam vadami

#15 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 45 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 18 February 2016 - 09:16 AM

Pertanyaan coeda, mengapa bro Arie menempel namamu dengan kata'osho'?
Apa pengaruhnya terhadap kejiwaan/kehidupan (pola pandang kehidupan) bro Arieosho?
Seperti umat Buddhist bahkan bersujud dihadapan ( bahkan ) rupang/patung Buddha?
Seolah-olah melakukan bakti dihadapan Buddha.
Mau merendahkan diri melakukan ajaran guru Buddha.
Bercita-cita menjadi Buddha, dan menyatu dengan Buddha.
Jika Seseorang hanyalah sebagai master dunia, tentu ia mencari pengagungan, jadi membutuhkan pemuja/murid.
Apakah master osho kekurangan sesuatu? Apakah master djoe kekurangan sesuatu?
Bagaimana dengan guru Buddha?
Bagaimana dengan umat? Seringkali seolah-olah merendhkan diri bersujud bahkan dihadapan rupang, tetapi sesungguhnya membawa 'keakuan.', memandang 'keakuan.', meninggikan 'keakuan.'
Mengapa coeda berkata demikian?
Karena berprilaku sebagai master (seolah-olah sudah sama dengan sang guru BUDDHA), tetapi dengan memandang dan meninggikan semata dirinya sendiri, konsep dirinya sendiri, sebenarnya sungguhkah ada kejujuran mempelajari, memahami dan mencerap dan melakukan ajaran guru Buddha? Atau sebenarnya hanya memandang diri dan meninggikan diri?


Setuju dgn tulisan coedcoed...koq tumben bisa waras ?

Haha...

Ampun om_/\_
Cetanaham bhikkhave kammam vadami

#16 coedcoed

coedcoed

    Penggemar WDC

  • Members
  • 64
  • 966 posts
  • 16 thanks

Posted 18 February 2016 - 10:26 AM

Ini selingan rekan Coeda. Tentang ;
Aku adalah jalan , kebenaran dan hidup.
Kalau dalam tradisi Oshoism , itu sangat cocok untuk setiap orang ,bukan merepresentasikan Jesus.
Jalan adalah dibuat oleh manusia . Tidak pernah Tuhan membuat jalan. Demikian juga kebenaran. Bagi Tuhan , tidak ada kebenaran. Kebenaran hanya ada pada manusia , karena manusia berevolusi dari ketidak tahuan atau dari tidak benar.
Jadi kebenaran hanya ada pada manusia. Manusia menetapkan koridor kebenaran berdasarkan timbang rasa ke-adil-an , ke-jujur-an , juga berdasarkan Cinta kasih , toleransi , simpati dan sebagai nya .
Semua itu adalah telah ada dalam diri setiap manusia , tetapi orang suci zaman dahulu , membohongi anak manusia lain nya dengan tujuan yang baik , dengan mengatakan semua bahwa itu datang dari Tuhan Allah. Anak manusia wajib mengikuti nya.
Ketika kita tumbuh mandiri , kita akhir nya sadar , bahwa kebenaran datang dari manusia itu sendiri bukan dari sana.
Aku adalah Hidup. Artinya adalah kebenaran itu hanya dipakai saat anda masih hidup. Jadi jangan menunggu mati untuk mencapai kebenaran dan menemukan jalan menuju surga. Kalau sudah mati , anda sudah terlambat.
.


Jika dalam Kr*st*n dikatakan:JESUS is THE WAY, THE TRUTH, AND THE LIFEMaka dalam Buddhis juga bisa dinyatakanDHAMMA is THE WAY, THE TRUTH, AND THE LIFE(Dhamma adalah Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup)Apakah Dhamma adalah Sang Jalan? Di sini, Dhamma adalah jalan menuju lenyapnya dukkha, yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan yang terdiri atas pandangan benar, pikiran benar, perbuatan benar, ucapan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar.Apakah Dhamma adalah Kebenaran? Di sini, Dhamma adalah kebenaran mulia tentang dukkha, kebenaran mulia tentang sebab dukkha, kebenaran mulia tentang lenyapnya dukkha, dan kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya dukkha - Empat Kebenaran Mulia.Apakah Dhamma adalah Hidup? Di sini, Sang Buddha telah menyatakan Kehidupan Suci (brahmacariya) dalam Dhamma yang diajarkannya untuk menapaki Sang Jalan dan menembus Kebenaran.


Rupanya kalian tidak mencerap tulisan penjelasan coeda tentang 'dhamma, Dhamma, DHAMMA.'
perbedaan segenggam daun simpadha di hutan pohon simpadha. (Dhamma dengan DHAMMA)
Kemaha-tak terhinggaannya, dapatkah dibandingan setetes air dengan air di seluruh lautan, sungai dan danau?
Dhamma adalah ajaran guru Buddha untuk petunjuk umat menapaki sehingga menembus kebenaran pembebasan dari kekhyalan menemukan kualitas kesejatian kehidupan makhluk.
Tetapi seluruh yang tercipta berjalan pada ketetapannya masing-masing di dalam kuasa hukum DHAMMA.
Bukan kebetulan random, tetapi ada ketetapan/kuasa yang mengikatnya.itulah hukum DHAMMA. Baik yang salah atau benar atau mengalami kemerosotan atau yang menyimpang keluar jalur atau memberontak.
Dhamma adalah ajaran guru Buddha, tetapi keberadaan kehidupan para Buddha di dalam DHAMMA.
Tetapi pemikiran atau konsep pemikiran manusia duniawi atau master-master duniawi itu adalah dhamma, berbeda dengan Dhamma, apalagi dari sumber kebenarannya, DHAMMA. Itu hanya berkualitas duniawi, sebatas materi, jiwa khayal, atau melekati yang berkondisi. Anicca anatta dukkha. Dan Kualitas seperti ini yang dituju jelaskan dalam Paticcasamuppada.

Janganlah berbuat jahat
Lakukan berbuat kebajikan
Sucikan hati dan pikiran.
Dengan delapan utama
Itu tindakan usaha/jalan untuk mencapai 'dream', 'cita-cita' makhluk keTuhanan.

Metta, karuna upekha mudita
Ini kualitas yang disebut 'BRAHMAVIHARA.'
mengapa guru Buddha mengajarkan menyatakan ini untuk dikembangkan menjadi kualitas umat?
Apakah istilah penggunaan kata 'BRAHMA' pada kualitas utama BRAHMAVIHARA yang harus dikembangkan dimaksudkan ditujukan sama dengan istilah makhluk 'Brahma'?
Jika keberadaan makhluk hanyalah berasal dari ketiadaan hampa, semata hasil karma, untuk apakah usaha memperjuangkan kualitas-kualitas unggul tsb pada makhluk?
Kualitas-kualitas tersebut lalu muncul dari mana dan merujuk kemana/apa? Mengapa malah harus dimunculkanndan dirujuk untuk dikembangkan?
Jadi apakah keberadaan kehidupan makhluk hanya berasal dari kekosongan, kebetulan, dan sebatas hasil karma semata?
Tahukan kalian paticcasamuppada menjelaskan proses timbul tenggelamnya apa?
Mengapa keberadaan kehidupanmu yang sejati dikaitkan dengan fenomena-fenomena karma atau makna 'kekosongan' secara harafiah?
Fenomena, kekhayalan tidak ada kaitannya dengan keberadaan kesejatian hidup makhluk. Mengapa malah dimaknai sebagai sumber keberadaan kehidupan?
Tuh kan... coeda taukan tentang ajaran guru Buddha, coeda menjelaskan? Bukan asal ngomongin begini begitu konsep sendiri tapi merasa sebagai master yang tercerahkan, master keBuddhaan....

Salam, coeda.
GOD loves u.




Perbandingan Ayat-ayat Alkitab :
XXXXXXXX


Edited by legend, 19 February 2016 - 10:17 AM.
tidak diijinkan ada kutipan dari alkitab

Waktu tahun-tahun penantian kedatangan-NYA sudah semakin sempit. Bersiap-sedialah di segala waktu.

'Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.'

#17 coedcoed

coedcoed

    Penggemar WDC

  • Members
  • 64
  • 966 posts
  • 16 thanks

Posted 18 February 2016 - 10:31 AM

Apakah Tuhan (maksud anda SANG PENCIPTA segala sesuatu) benar benar ADA ?
1. pencipta segala sesuatu , jadi pesawat terbang diciptakan tuhan ?
Kotoran sapi juga diciptakan tuhan ?
-->Jika ADA yg tidak diciptakan Tuhan maka Ia bukanlah pencipta segala sesuatu (ada yg tidak diciptakan tuhan) seperti setan , narkoba , penderitaan , dst dst
2. Lalu jika kotoran sapi merupakan proses pencernaan sapi ....apakah logic dikatakan
" tuhan mengapa menciptakan kotoran ?"
Benih rumput-->rumput-->dimakan sapi-->pencernaan sapi -->kotoran sapi -->terurai menjadi unsur unsur biology dan non biology.
mengapa harus butuh " Sang Pencipta"?
3.lalu darimana semua ini berasal ?
Mana yg lebih logis :
A. Segala unsur telah ADA semenjak "definisi waktu sirna" artinya pola berpikir ada waktu pointer sebagai awal bukanlah pembenaran itu penciptaan...sebab masih ada kronologi sebelum dan sebelum dan sebwlumnya lagi.
Ketika konsep waktu dan kronologi , diilustrasikan sirna....maka segala proses ini merupakan perpaduan unsur belaka.
Munculnya dinosaurus karena perpaduan segala faktor dikala itu memunculkan mahkluk dinosaurus.
ketika konsep TIME dipahami..maka waktu itu benar benar delusi.
Alam semesta tidak memiliki ukuran waktu.
Kita menghitung detik dari ukuran atom
Kita menghitung hari , minggu , bulan , tahun ...dgn pola musim , peredaran bulan , dan matahari
Lhaa di alam semesta...patokannya apa ??
"Waktu" hanyalah susunan frame frame perubahan dan dihitung berdasarkan patokan tertentu (atom , musim, bulan , matahari)
B.Tuhanlah pencipta alam semesta.
Lalu siapa yg ciptain Tuhan ?
Ooo...dia ada dgn sendirinya dari ketiadaan
Lalu jika tuhan bisa muncul dgn sendiri , berarti hal lain selain tuhan bisa muncul dgn sendirinya.
Tuhan itu tidak logic.
Dari berbagai sisi logika membuktikan tuhan itu khayalan manusia.
Tuhan hanya bisa diterima oleh PERASAAN MANUSIA yg butuh sosok .

Ya terserah semua tulisanmu itu...
Itu kan dari sudut pandang logikamu....
Sebagai makhluk yang tercerah bro GL kan...
Seperti juga knsep pemikiran yang lain, belum tentu sama.
Seperti juga tulisan coeda, mau diprcaya atau tidak, coeda membagi penjelasan,
Seperti ajaran guru Buddha yang dicangkok mendukung pandangan master-master kebijaksanaan berfilsafat dalam kualitas mereka.
Xi..xi..xi...
Baca penjelasan coeda di atas, reply #16.
Waktu tahun-tahun penantian kedatangan-NYA sudah semakin sempit. Bersiap-sedialah di segala waktu.

'Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.'

#18 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 45 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 18 February 2016 - 11:05 AM

Rupanya kalian tidak mencerap tulisan penjelasan coeda tentang 'dhamma, Dhamma, DHAMMA.'
perbedaan segenggam daun simpadha di hutan pohon simpadha. (Dhamma dengan DHAMMA)
Kemaha-tak terhinggaannya, dapatkah dibandingan setetes air dengan air di seluruh lautan, sungai dan danau?
Dhamma adalah ajaran guru Buddha untuk petunjuk umat menapaki sehingga menembus kebenaran pembebasan dari kekhyalan menemukan kualitas kesejatian kehidupan makhluk.
Tetapi seluruh yang tercipta berjalan pada ketetapannya masing-masing di dalam kuasa hukum DHAMMA.
Bukan kebetulan random, tetapi ada ketetapan/kuasa yang mengikatnya.itulah hukum DHAMMA. Baik yang salah atau benar atau mengalami kemerosotan atau yang menyimpang keluar jalur atau memberontak.
Dhamma adalah ajaran guru Buddha, tetapi keberadaan kehidupan para Buddha di dalam DHAMMA.
Tetapi pemikiran atau konsep pemikiran manusia duniawi atau master-master duniawi itu adalah dhamma, berbeda dengan Dhamma, apalagi dari sumber kebenarannya, DHAMMA. Itu hanya berkualitas duniawi, sebatas materi, jiwa khayal, atau melekati yang berkondisi. Anicca anatta dukkha. Dan Kualitas seperti ini yang dituju jelaskan dalam Paticcasamuppada.
Janganlah berbuat jahat
Lakukan berbuat kebajikan
Sucikan hati dan pikiran.
Dengan delapan utama
Itu tindakan usaha/jalan untuk mencapai 'dream', 'cita-cita' makhluk keTuhanan.
Metta, karuna upekha mudita
Ini kualitas yang disebut 'BRAHMAVIHARA.'
mengapa guru Buddha mengajarkan menyatakan ini untuk dikembangkan menjadi kualitas umat?
Apakah istilah penggunaan kata 'BRAHMA' pada kualitas utama BRAHMAVIHARA yang harus dikembangkan dimaksudkan ditujukan sama dengan istilah makhluk 'Brahma'?
Jika keberadaan makhluk hanyalah berasal dari ketiadaan hampa, semata hasil karma, untuk apakah usaha memperjuangkan kualitas-kualitas unggul tsb pada makhluk?
Kualitas-kualitas tersebut lalu muncul dari mana dan merujuk kemana/apa? Mengapa malah harus dimunculkanndan dirujuk untuk dikembangkan?
Jadi apakah keberadaan kehidupan makhluk hanya berasal dari kekosongan, kebetulan, dan sebatas hasil karma semata?
Tahukan kalian paticcasamuppada menjelaskan proses timbul tenggelamnya apa?
Mengapa keberadaan kehidupanmu yang sejati dikaitkan dengan fenomena-fenomena karma atau makna 'kekosongan' secara harafiah?
Fenomena, kekhayalan tidak ada kaitannya dengan keberadaan kesejatian hidup makhluk. Mengapa malah dimaknai sebagai sumber keberadaan kehidupan?
Tuh kan... coeda taukan tentang ajaran guru Buddha, coeda menjelaskan? Bukan asal ngomongin begini begitu konsep sendiri tapi merasa sebagai master yang tercerahkan, master keBuddhaan....
Salam, coeda.
GOD loves u.
Perbandingan Ayat-ayat Alkitab :
Yohanes 1:1-5 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Ibrani 1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.


kalo mau belajar agama Buddha...
Jangan berusaha memasukkannya di ajaran Kristen.

Atau anda membandingkannya...tapi kliatannya anda tidak sedang "study banding agama"
Anda lebih terlihat seperti sedang memberi CERAMAH tentang agama Buddha.
Dan sya sangat heran anda berada di koridor KRISTEN.

Maaf ..sya terlalu bodoh memahami isi pikiran anda.

Ruwet bin mbulet..

Cukup simple lhaa...mau belajar Buddha atau Kristen ?
Atau mau meluruskan seolah berkata "ajaran Buddha perlu diluruskan oleh ajaran Kristen "

Haha...
Capede cpd..cuapeeeek deh bertahun tahun bahas muter muter kayak bajaj aja loe ...

Daaah daaah...udah yee qw mau cabuut dulu...cuaaapekkk buangeet deh...

Hueh hue hue :)
Cetanaham bhikkhave kammam vadami

#19 seniya

seniya

    Sahabat WDC

  • Members
  • 24
  • 406 posts
  • 12 thanks

Posted 18 February 2016 - 11:53 AM

Rupanya kalian tidak mencerap tulisan penjelasan coeda tentang 'dhamma, Dhamma, DHAMMA.'
perbedaan segenggam daun simpadha di hutan pohon simpadha. (Dhamma dengan DHAMMA)
Kemaha-tak terhinggaannya, dapatkah dibandingan setetes air dengan air di seluruh lautan, sungai dan danau?
Dhamma adalah ajaran guru Buddha untuk petunjuk umat menapaki sehingga menembus kebenaran pembebasan dari kekhyalan menemukan kualitas kesejatian kehidupan makhluk.
Tetapi seluruh yang tercipta berjalan pada ketetapannya masing-masing di dalam kuasa hukum DHAMMA.
Bukan kebetulan random, tetapi ada ketetapan/kuasa yang mengikatnya.itulah hukum DHAMMA. Baik yang salah atau benar atau mengalami kemerosotan atau yang menyimpang keluar jalur atau memberontak.
Dhamma adalah ajaran guru Buddha, tetapi keberadaan kehidupan para Buddha di dalam DHAMMA.
Tetapi pemikiran atau konsep pemikiran manusia duniawi atau master-master duniawi itu adalah dhamma, berbeda dengan Dhamma, apalagi dari sumber kebenarannya, DHAMMA. Itu hanya berkualitas duniawi, sebatas materi, jiwa khayal, atau melekati yang berkondisi. Anicca anatta dukkha. Dan Kualitas seperti ini yang dituju jelaskan dalam Paticcasamuppada.
Janganlah berbuat jahat
Lakukan berbuat kebajikan
Sucikan hati dan pikiran.
Dengan delapan utama
Itu tindakan usaha/jalan untuk mencapai 'dream', 'cita-cita' makhluk keTuhanan.
Metta, karuna upekha mudita
Ini kualitas yang disebut 'BRAHMAVIHARA.'
mengapa guru Buddha mengajarkan menyatakan ini untuk dikembangkan menjadi kualitas umat?
Apakah istilah penggunaan kata 'BRAHMA' pada kualitas utama BRAHMAVIHARA yang harus dikembangkan dimaksudkan ditujukan sama dengan istilah makhluk 'Brahma'?
Jika keberadaan makhluk hanyalah berasal dari ketiadaan hampa, semata hasil karma, untuk apakah usaha memperjuangkan kualitas-kualitas unggul tsb pada makhluk?
Kualitas-kualitas tersebut lalu muncul dari mana dan merujuk kemana/apa? Mengapa malah harus dimunculkanndan dirujuk untuk dikembangkan?
Jadi apakah keberadaan kehidupan makhluk hanya berasal dari kekosongan, kebetulan, dan sebatas hasil karma semata?
Tahukan kalian paticcasamuppada menjelaskan proses timbul tenggelamnya apa?
Mengapa keberadaan kehidupanmu yang sejati dikaitkan dengan fenomena-fenomena karma atau makna 'kekosongan' secara harafiah?
Fenomena, kekhayalan tidak ada kaitannya dengan keberadaan kesejatian hidup makhluk. Mengapa malah dimaknai sebagai sumber keberadaan kehidupan?
Tuh kan... coeda taukan tentang ajaran guru Buddha, coeda menjelaskan? Bukan asal ngomongin begini begitu konsep sendiri tapi merasa sebagai master yang tercerahkan, master keBuddhaan....
Salam, coeda.
GOD loves u.
Perbandingan Ayat-ayat Alkitab :
Yohanes 1:1-5 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Ibrani 1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.


Mau meluruskan beberapa hal saja sehubungan ajaran Buddha yg anda kutip:

Pertama, Simsapa Sutta tdk menyatakan adanya ajaran lain selain 4KM yg diajarkan Sang Buddha krn segenggam daun simsapa yg dimaksud adalah 4KM yg membawa pada tujuan akhir kehidupan suci (Nibbana), sisanya dedaunan di hutan yg banyak sekali itu tdk berhubungan dg kehidupan suci dan pencapaian tujuah akhir (Nibbana). Silahkan baca sendiri isi sutta-nya di https://dhammacitta....tta_(Thanissaro)

Kedua, istilah "kehidupan suci" (brahmacariya) tidak berhubungan dg sosok makhluk yg disebut Brahma. Kehidupan suci itu menunjuk pd pola kehidupab yg dijalani oleh para pertapa Buddhis, yg dlm sutta2 awal disebut pelatihan bertahap yg dimulai seseorang meninggalkan keduniawian menjadi seorang bhikkhu sampai pelatihannya membuahkan hasil dg pencapaian jhana2 dan pembebasan akhir (Nibbana), spt dlm MN 125 berikut:

 

13-14. “Demikian pula Aggivessana, seorang Tathāgata muncul di dunia ini, sempurna, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal segala alam, pemimpin yang tanpa bandingan bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, suci. Beliau menyatakan pada dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, pada generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para pangeran dan rakyatnya, apa yang telah Beliau tembus oleh diriNya sendiri dengan pengetahuan langsung. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dengan makna dan kata-kata yang benar, dan Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang murni dan sempurna. “Seorang perumah-tangga atau putra perumah-tangga atau seseorang yang terlahir dalam salah satu kasta lainnya mendengar Dhamma itu. Setelah mendengar Dhamma ia memperoleh keyakinan pada Sang Tathāgata. Dengan memiliki keyakinan itu, ia merenungkan sebagai berikut: ‘Kehidupan rumah tangga ramai dan berdebu; kehidupan meninggalkan keduniawian terbuka lebar. Tidaklah mudah, selagi hidup dalam rumah, juga menjalani kehidupan suci yang murni dan sempurna seperti kulit kerang yang digosok. Bagaimana jika aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’ Kemudian pada kesempatan lainnya, dengan meninggalkan keuntungan kecil atau besar, dengan meninggalkan lingkaran keluarga kecil atau besar, ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Adalah dengan cara ini seorang siswa mulia keluar ke ruang terbuka; karena para dewa dan manusia melekat pada kelima utas kenikmatan indria.

15. “Kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu, jadilah bermoral, terkendali dengan pengendalian Pāṭimokkha, sempurna dalam perbuatan dan tempat-tempat yang dikunjungi, dan melihat dengan takut pada pelanggaran sekecil apapun, terlatih oleh peraturan-peraturan latihan.’

16. “Ketika, Aggivessana, siswa mulia itu telah menjadi bermoral … dan melihat dengan takut pada pelanggaran sekecil apapun, terlatih dengan menjalankan peraturan-peraturan latihan, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu, jagalah pintu-pintu indriamu. Ketika melihat bentuk dengan mata, jangan menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena jika engkau membiarkan indria mata tanpa terjaga, kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan dapat menyerangmu, latihlah jalan pengendaliannya, jagalah indria mata, jalankanlah pengendalian indria mata. Ketika mendengar suara dengan telinga … Ketika mencium bau-bauan dengan hidung … Ketika mengecap rasa dengan lidah … Ketika menyentuh objek-sentuhan dengan badan … Ketika mengenali objek-pikiran dengan pikiran, jangan menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena jika engkau membiarkan indria pikiran tanpa terjaga, kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan dapat menyerangmu, latihlah jalan pengendalian, jagalah indria pikiran, jalankanlah pengendalian indria pikiran.’

17. “Ketika, Aggivessana, siswa mulia itu telah menjaga pintu-pintu indrianya, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu, makanlah secukupnya. Dengan merenungkan dengan bijaksana, seorang siswa mulia memakan makanan bukan untuk kenikmatan juga bukan untuk mabuk juga bukan demi kecantikan dan kemenarikan fisik, tetapi hanya untuk ketahanan dan kelangsungan tubuh ini, untuk mengakhiri ketidak-nyamanan, untuk menunjang kehidupan suci, dengan mempertimbangkan: “Dengan demikian aku akan mengakhiri perasaan lama tanpa membangkitkan perasaan baru dan aku akan menjadi sehat dan tanpa cela dan dapat hidup dalam kenyamanan.”’

18. “Ketika, [135] Aggivessana, siswa mulia itu telah menjalani praktik makan secukupnya, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu, tekunilah keawasan. Selama siang hari, sambil berjalan mondar-mandir dan duduk, murnikanlah pikiranmu dari kondisi-kondisi yang merintangi. Pada jaga pertama malam hari, sambil berjalan mondar-mandir dan duduk, murnikanlah pikiranmu dari kondisi-kondisi yang merintangi. Pada jaga pertengahan malam hari engkau harus berbaring di sisi kanan dalam postur singa, dengan satu kaki di atas kaki lainnya, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, setelah mencatat dalam pikirannya waktu untuk terjaga. Setelah terjaga, pada jaga ke tiga malam hari, sambil berjalan mondar-mandir dan duduk, murnikanlah pikiranmu dari kondisi-kondisi yang merintangi.’

19. “Ketika, Aggivessana, siswa mulia itu telah menekuni keawasan, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu, milikilah perhatian dan kewaspadaan penuh. Bertindaklah dengan penuh kewaspadaan ketika berjalan maju dan mundur … ketika melihat ke depan dan ke belakang … ketika menekuk dan merentangkan bagian-bagian tubuh … ketika mengenakan jubah dan membawa jubah luar dan mangkukmu … ketika makan, minum, mengunyah makanan, dan mengecap … ketika buang air besar dan buang air kecil … ketika berjalan, berdiri, duduk, jatuh terlelap, terjaga, berbicara, dan berdiam diri.’

20. “Ketika, Aggivessana, siswa mulia itu telah memiliki perhatian dan kewaspadaan penuh, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu, datangilah tempat tinggal terasing: hutan, bawah pohon, gunung, jurang, gua di lereng gunung, tanah pekuburan, belantara, ruang terbuka, tumpukan jerami.’

21. “Ia mendatangi tempat tinggal terasing: hutan … tumpukan jerami. Ketika kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan ia duduk bersila, menegakkan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di depannya. Dengan meninggalkan ketamakan terhadap dunia, ia berdiam dengan pikiran bebas dari ketamakan; ia memurnikan pikirannya dari ketamakan. Dengan meninggalkan permusuhan dan kebencian, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari permusuhan, berbelas kasih demi kesejahteraan makhluk-makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari permusuhan dan kebencian. Dengan meninggalkan kelambanan dan ketumpulan, ia berdiam dengan bebas dari kelambanan dan ketumpulan, mempersepsikan cahaya, penuh perhatian, dan penuh kewaspadaan; ia memurnikan pikirannya dari kelambanan dan ketumpulan. Dengan meninggalkan kegelisahan dan penyesalan, ia berdiam dengan tanpa terganggu dengan pikiran yang damai; ia memurnikan pikirannya dari kegelisahan dan penyesalan. [136] Dengan meninggalkan keragu-raguan, ia berdiam setelah melampaui keragu-raguan, kebingungan sehubungan dengan kondisi-kondisi yang bermanfaat; ia memurnikan pikirannya dari keragu-raguan.

22. “Setelah meninggalkan kelima rintangan, ketidak-sempurnaan pikiran ini yang melemahkan kebijaksanaan, ia berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia. Ia berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan … pikiran sebagai pikiran … objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia.

23. “Seperti halnya, Aggivessana, penjinak gajah yang menanam sebuah tiang besar di tanah dan mengikatkan leher gajah hutan pada tiang itu untuk menundukkan kebiasaan-kebiasaan hutannya … dan untuk menanamkan padanya kebiasaan-kebiasaan yang disenangi manusia, demikian pula empat landasan perhatian ini adalah pengikat pikiran siswa mulia itu untuk menundukkan kebiasaan-kebiasaannya yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga, untuk menaklukkan ingatan-ingatan dan kehendak-kehendak yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga, untuk menghilangkan kesedihan, keletihan, dan demam yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga, dan agar ia dapat mencapai jalan sejati dan mencapai Nibbāna.

24. “Kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu, berdiamlah dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani, tetapi jangan memikirkan pikiran-pikiran keinginan indria. Berdiamlah dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan … pikiran sebagai pikiran … objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran, tetapi jangan memikirkan pikiran-pikiran keinginan indria.’

25. “Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua … jhāna ke tiga … jhāna ke empat.

26. “Ketika pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan mengingat kehidupan lampau. Ia mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penyusutan-dunia, banyak kappa pengembangan-dunia, banyak kappa penyusutan-dan-pengembangan-dunia: ‘Di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di tempat lain; dan di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di sini.’ Demikianlah dengan segala aspek dan ciri-cirinya ia mengingat banyak kehidupan lampau.

27. “Ketika pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk. Dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin. Ia memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka sebagai berikut: ‘Makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam pandangan, memberikan dampak pandangan salah dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam rendah, dalam kesengsaraan, bahkan di dalam neraka; tetapi makhluk-makhluk ini, yang berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan pencela para mulia, berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam yang bahagia, bahkan di alam surga.’ Demikianlah dengan mata-dewa yang murni dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin, dan ia memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka.

28. “Ketika pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’

29. “Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’

30. “Bhikkhu itu mampu menahankan dingin dan panas, lapar dan haus, dan kontak dengan lalat, nyamuk, angin, matahari, dan binatang-binatang melata; ia mampu menahankan ucapan-kasar, kata-kata yang tidak menyenangkan dan perasaan jasmani yang telah muncul yang menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk, tidak menyenangkan, menyusahkan, dan mengancam kehidupan. Karena bebas dari segala nafsu, kebencian, dan delusi, bersih dari kerusakan, ia menjadi layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, suatu lahan jasa yang tiada taranya bagi dunia.

 

Selebihnya tentang ajaran Kr*st*n yang anda bawakan itu sudah OOT krn di forum Buddhis, bukan tempat utk Kr*st*nisasi



#20 coedcoed

coedcoed

    Penggemar WDC

  • Members
  • 64
  • 966 posts
  • 16 thanks

Posted 18 February 2016 - 01:02 PM

Coeda gak usah panjang lebar mengutip kutipan bro Seniya...
Silahan jelaskan maksud sedikit kutipanmu ini :

26-29. “Ketika pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni … (*seperti Sutta 51, §§24-27) *… Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’
Waktu tahun-tahun penantian kedatangan-NYA sudah semakin sempit. Bersiap-sedialah di segala waktu.

'Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.'




0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close