Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

Klipping: "Penasihat Spiritual" Generasi Muda Tebango


  • Please log in to reply
No replies to this topic

#1 tumult077

tumult077

    Penggemar WDC

  • Members
  • 79
  • 1,377 posts
  • 50 thanks

Posted 12 December 2015 - 10:06 AM

Koran KOMPAS, Sabtu, 12 Desember 2015, halaman 16


METAWADI
“Penasihat Spiritual” Generasi Muda Tebango


Generasi yang akan datang ditentukan oleh generasi sekarang dalam mendidik generasi muda. Metawadi (36), warga Dusun Tebango, Desa Pemenang, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, bisa menjawabnya. Ia menemukan cara untuk mengobati penyakit sosial seperti kebiasaan mabuk-mabukan yang biasa dilakukan generasi muda dan kalangan orang tua. Ia menggunakan pendekatan budaya dan agama Buddha yang umumnya dipeluk masyarakat dusun itu.


Oleh Khaerul Anwar


Saya duduk-duduk di pinggir jalan (dusun itu), ada segerombolan anak-anak tengah bermain-main. Saya dengar, kok, ucapan mereka tidak pas, ucapan caci maki sepertinya jadi kebiasaan,” tutur Meta, panggilan akrab Metawadi membuka cerita.

Kenyataan itu dirasakannya tahun 2004, saat Meta pulang kampung setelah tiga tahun menyelesaikan kuliah di Sekolah Tinggi Agama Buddha Smaratungga di Boyolali, Jawa Tengah.

Kondisi yang nyaris sama terjadi pada generasi muda yang suka mabuk-mabukan dengan tuak, minuman lokal. Malah, ada siswa sekolah yang tidak bisa mengerjakan soal ujian dan ulangan di sekolah karena kondisinya setengah teler setelah malam sebelumnya minum tuak. Kondisi yang memprihatinkan lagi, terjadi disharmonisasi dalam rumah tangga karena tidak ada dialog antara anak dan orangtua. Selain itu, anak-anak acap kali membangkang terhadap ayah dan ibunya.

Atas realitas sosial itu, Meta “turun tangan”. Ia memulainya dengan pendekatan agama. Ia mengumpulkan 30 anak di sebuah berugak (bale-bale) untuk belajar, berdiskusi, dan mengikaji Kitab Tripitaka, kitab suci agama Buddha, yang merupakan agama penduduk dusun itu. Kegiatan ini dilakukan tiap hari sepulang anak-anak dari sekolah, pukul 16.00-18.00 Kegiatan ini mendapat sambutan baik dari kalangan orangtua. Namun, ketika kegiatan itu baru berjalan beberapa bulan, Meta pun ditinggal “murid-murid”-nya.


PENDIDIKAN

Meta tidak putus asa. Ia kemudian mengumpulkan anak-anak usia dini dan remaja untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung, belajar bahasa Inggris, matematika, selain juga diajak diskusi soal agama. Ia kemudian membentuk Sanggar Budi Dharma yang menjadi media untuk belajar menari dan seni budaya.

Untuk mendirikan fasilitas belajar-mengajar dan berkesenian itu, Meta menyisihkan 10 meter persegi halaman rumahnya kemudian merogoh koceknya dari upah sebagai sopir mobil travel dan pemandu wisata. Selain itu, ia juga menyisihkan dari honor sebagai guru meditasi dan sebagai guru agama di SMP Negeri 1 Pemenang.

Khusus hari Minggu, mata pelajarannya adalah pendidikan karakter. Pendidikan ini diberikan dengan mengenal alam, belajar antre, pendidikan budi pekerti, belajar menyelesaikan persoalan dengan dialog tidak dengan kekerasan. Ia pun mengajarkan menghormati makhluk hidup, bahkan tidak membunuh binatang, semut sekalipun.

Pada hari yang sama, anak-anak, remaja, dan pemuda dusun itu bergotong royong membersihkan pantai. Mereka mengumpulkan sampah plastik di seputar kawasan pantai Pelabuhan Bangsal yang menjadi pintu keluar masuk obyek wisata Gili Trawangan. Sampah itu dikumpulkan lalu dibawa ke tempat pembuangan akhir sampah agar sampah bisa diangkut petugas Dinas Kebersihan Kabupaten Lombok Utara.


“Saya tidak mau disalahkan oleh generasi mendatang karena tidak pernah berbuat untuk penduduk dan dusun ini.”


Generasi muda, yang umumnya karyawan hotel di Gili Trawangan, diajarkan menyisihkan 20 persen dari penghasilannya. Caranya, mereka tidak menumpang ojek sepeda motor, tetapi berjalan kaki saat pulang dan pergi kerja dari rumahnya ke Pelabuhan Bangsal yang berjarak sekitar 1 km dari kampungnya. Uang yang semula dipakai ongkos ojek itu disumbangkan untuk kegiatan sosial.

Apa yang dilakukan Meta itu didapat dalam naskah Lontar Tentulak, peninggalan leluhur dusun itu. Satu kalimat dalam naskah yang membekas dalam benak Meta: “Ia menyatu dengan alam, dan Ia memberikan segalanya”. Itu diartikannya “jagat raya dan isinya adalah anugerah Tuhan kepada manusia dan segenap makhluk, karenanya jagat raya harus dijaga demi kelangsungan hidup manusia.”

Saat tertentu, Meta mengajak generasi muda pergi ke hutan untuk mengujungi peninggalan leluhur penduduk dusun itu di hutan, bermeditasi, dan menanam bibit pohon. Umat Buddha di dusun itu kini dalam kegiatan keagamaan mengenakan baju hitam yang menjadi ide Meta. Namun, ide itu diprotes warga karena “Seragam” itu dinilai tidak lazim. Bahkan, Meta pun sempat “disidang” oleh para petinggi agama Buddha. Namun, persoalan akhirnya bisa selesai setelah mereka mendengar argumentasi Meta.


BHAKTI ANAK

Kepedulian Meta terhadap kondisi sosial dusun itu tidak selalu mulus. Ia sering harus berhadapan dengan para petinggi setempat. Meta ditunding sok alim dan menyampaikan “ajaran sesat”. Padahal, menurut Meta, yang dilakukannya berakar dari tradisi lokal, juga sejalan denga Lima Perintah Dasar Umat Buddha: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak mengatakan yang tidak baik, dan tidak makan-minum yang membuat ketagihan.

Salah satu dari Lima Perintah dan peninggalan leluhur itu diimplementasikannya lewat acara Bhakti Anak Kepada Orangtua. Tujuannya, di antaranya, membangun hubungn harmoni antara orangtua dan anak tadi. Bhakti itu dilakukan dengan mengumpulkan orangtua lalu duduk berderet di halaman wihara. Saat itulah, anak-anak mencukur rambut orangtuanya, menggunting kuku dan membersihkan kotoran yang melekat di kaki ayah-ibu mereka dengan sabun. Dalam prosesi itu, agaknya terjadi suasana haru dan mungkin dialog batin karena orangtua dan anaknya sampai ada yang bertangisan.

Atas kiprahnya itu, Meta mengaku, “Saya tidak mau disalah oleh generasi mendatang karena tidak pernah berbuat untuk penduduk dan dusun ini,” ujar Meta yang dijuluki “Penasihat Spiritual” Generasi Muda Dusun itu.


METAWADI

- Lahir: Dusun Tebango, 12 Desember 1979
- Istri: Saryati
- Anak: - Karisma Yesa Wijayanti (12)
-Geo Sangkareang Nandu (6)
- Orangtua: Rumiasip-Rafidah
- Pendidikan:
- SDN 5 Pemenang lulus 1991
- SMP PGRI Pemenang lulus 1994
- SMEA 2 Mataram lulus 1997
- Sekolah Tinggi Agama Buddha Smaratungga, Boyolali, Jawa Tengah, Lulus 2004




0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close