Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

Kotbah Keempat Sang Buddha

kotbah keempat buddha buddhisme awal mahavastu agama sutra madhyama agama

  • Please log in to reply
2 replies to this topic

#1 seniya

seniya

    Sahabat WDC

  • Members
  • 24
  • 406 posts
  • 12 thanks

Posted 10 April 2016 - 11:35 AM

Kotbah-kotbah paling awal yang diajarkan Sang Buddha pada masa awal pengajarannya yang tercatat dalam berbagai teks Buddhisme awal ada 3 kotbah yang terkenal:

1. Dhammacakkappavattana Sutta (Kotbah Pemutaran Roda Dhamma) di mana Sang Buddha mengajarkan tentang Jalan Mulia Berunsur Delapan sebagai Jalan Tengah dan Empat Kebenaran Mulia kepada lima pertapa yang kemudian menjadi para bhikkhu pertama. Kotbah ini tercatat dalam semua teks aliran Buddhisme awal, termasuk Mahavagga dalam Vinaya Pitaka dan Samyutta Nikaya dari Theravada, Lalitavistara Sutra dan Samyukta Agama dari Sarvastivada, Mahavastu dari Mahasanghika Lokottaravada.

2. Anattalakkhana Sutta (Kotbah tentang Karakteristik Bukan Diri) di mana Sang Buddha mengajarkan tentang lima kelompok unsur kehidupan sebagai bukan diri (anatta) kepada lima bhikkhu pertama sehingga mereka semua mencapai tingkat Arahant. Kotbah ini juga tercatat dalam Mahavagga dalam Vinaya Pitaka dan Samyutta Nikaya dari Theravada, Skandha Samyukta dalam Samyukta Agama dari Sarvastivada, Mahavastu dari Mahasanghika Lokottaravada.

3. Adittapariyaya Sutta (Kotbah tentang "Terbakar") di mana Sang Buddha mengajarkan tentang enam landasan indera yang terbakar oleh api nafsu, kebencian dan kebodohan batin kepada seribu orang bhikkhu yang sebelumnya adalah para pertapa berambut kusut yang memuja api. Kotbah ini dapat ditemukan dalam Mahavagga dalam Vinaya Pitaka dan Samyutta Nikaya dari Theravada, Samyukta Agama dari Sarvastivada.

Walaupun teks-teks awal (4 Nikaya/Agama) tidak mencatat secara lengkap narasi urutan kejadian dalam pengajaran awal Sang Buddha, Mahavagga dari Vinaya Pitaka Pali, Lalitavistara Sutra, dan Mahavastu mencatat urutan kejadian pengajaran awal ini dengan lengkap. Meskipun berbeda dalam detail kejadian, isi ketiga kotbah ini adalah sama dalam semua teks tersebut. Sedikit informasi bahwa Lalitavistara Sutra hanya mencatat kotbah pertama pemutaran roda Dhamma karena isi sutra tersebut berakhir di sini (namun ringkasan kotbah kedua tentang bukan diri tercatat dalam bentuk syair dalam sutra ini), sedangkan Mahavastu tidak mencatat kotbah ketiga tentang "terbakar" (menurut Mahavastu, pengajaran yang diberikan Sang Buddha kepada seribu bhikkhu mantan pertapa berambut kusut adalah bab Sahassavagga dari Dhammapada).

Berdasarkan urutan kejadian dalam Mahavagga, setelah Sang Buddha mengajarkan kotbah ketiga kepada seribu bhikkhu mantan pertapa berambut kusut, Beliau mengadakan perjalanan ke Rajagaha dan bertemu dengan Raja Bimbisara pertama kalinya setelah pencerahan-Nya. Menurut teks Pali, pada kesempatan ini Sang Buddha mengajarkan kotbah bertahap (anupubbikatha) mulai dari topik tentang berdana, menjalankan moralitas, kelahiran kembali di surga, bahaya kesenangan indera, dan pelepasan keduniawian kepada Raja Bimbisara dan para pengikutnya. Setelah pikiran mereka siap, Sang Buddha mengajarkan tentang Empat Kebenaran Mulia sehingga Raja Bimbisara dan para pengikutnya mencapai mata Dhamma bahwa apa pun yang tunduk pada kemunculan semuanya tunduk pada lenyapnya.

Mahavastu juga mencatat pertemuan Sang Buddha dengan Raja Bimbisara ini, tetapi sangat berbeda pada isi kotbah yang diajarkan. Di sini Sang Buddha mengajarkan tentang lima kelompok unsur kehidupan yang muncul dan lenyap serta menguraikan kemunculan bergantungan sebagai jalan tengah untuk menghindari kedua ekstrem pandangan eternalisme dan nihilisme. Kotbah ini tercatat juga dalam Sanghabedhavastu dari Mulasarvastivada yang ditemukan dalam manuskrip kuno Gilgit dan dalam Madhyama Agama kotbah 62 dengan judul "Kotbah tentang Raja Bimbisara Menemui Sang Buddha" dari Sarvastivada. Dengan demikian, kotbah kepada Raja Bimbisara dengan topik tentang kemunculan dan kelenyapan ini merupakan kotbah keempat Sang Buddha dalam masa awal pengajarannya.

Oleh sebab itu, pada kesempatan saya memberikan terjemahan kotbah keempat Sang Buddha yang diberi judul "Kotbah tentang Muncul dan Lenyapnya" (Utpadyananirudhyana Sūtra) mengikuti rekonstruksi judul yang dilakukan oleh Bhikkhu Ānandajoti berdasarkan versi kotbah yang ditemukan dalam Mahavastu (vol. III, hal. 443-9).
 
Sebagai bahan perbandingan, akan diberikan juga teks sutta yang serupa tetapi tidak sama dari Madhyama Agama kotbah 62.



#2 seniya

seniya

    Sahabat WDC

  • Members
  • 24
  • 406 posts
  • 12 thanks

Posted 10 April 2016 - 11:36 AM

Mahavastu
Kotbah tentang Muncul dan Lenyapnya


Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang mengadakan perjalanan di negeri Magadha bersama dengan perkumpulan para bhikkhu, yang berjumlah seribu orang, yang semuanya bebas dari kemelekatan, yang sebelumnya adalah para pertapa berambut kusut, memasuki kota Rajagaha, ibu kota Magadha, dan setelah tiba di sana Beliau berdiam di taman Latthivana di lembah Antagiri.

Kemudian Raja Bimbisara mendengar dari brahmana dan guru kerajaan bahwa Sang Bhagava sedang mengadakan perjalanan di negeri Magadha bersama dengan perkumpulan para bhikkhu, yang berjumlah seribu orang bhikkhu, yang semuanya bebas dari kemelekatan, yang sebelumnya adalah para pertapa berambut kusut, memasuki kota Rajagaha, ibu kota Magadha, dan setelah tiba di sana Beliau berdiam di taman Latthivana di lembah Antagiri.

Setelah mendengar hal ini, Raja Bimbisara memerintahkan menterinya mengumpulkan para brahmana dan perumah tangga dari Magadha, para tukang dan para pekerja untuk bersama-sama mengunjungi Sang Bhagava. Bersama-sama dengan dua belas nayuta (banyak tak terhitung) para brahmana dan perumah tangga dari Magadha, Raja Bimbisara dengan mengendarai kereta yang mengagumkan pergi meninggalkan kota Rajagaha menuju taman Latthivana di lembah Antagiri.

Kemudian Raja Bimbisara pergi sejauh jalan yang dapat ditempuh kereta dan melanjutkan dengan berjalan kaki mendekati Sang Bhagava. Setelah tiba di sana, ia memberikan penghormatan dan menyebutkan namanya tiga kali: “Sang Bhagava, aku raja Magadha, Seniya Bimbisara.”

Kemudian Sang Bhagava berkata: “Raja besar, sesungguhnya engkau adalah Seniya Bimbisara, raja Magadha.”

Setelah Raja Bimbisara memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Bhagava, ia duduk pada satu sisi. Beberapa penduduk Magadha memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Bhagava kemudian duduk pada satu satu sisi. Beberapa beramah tamah dengan Sang Bhagava dan bertukar salam kemudian duduk pada satu sisi. Beberapa menyebutkan kepada Sang Bhagava nama orang tuanya dan silsilahnya kemudian duduk pada satu sisi. Beberapa memberikan penghormatan kepada Sang Bhagava dengan tangan disatukan lalu duduk pada satu sisi. Dan beberapa setelah melihat Sang Bhagava dari jauh, duduk dengan berdiam diri.

Pada waktu itu Yang Mulia Uruvela Kassapa berada di antara perkumpulan para bhikkhu dan duduk tak jauh dari Sang Bhagava. Para penduduk Magadha mengetahui bahwa Yang Mulia Uruvela Kassapa adalah seorang guru besar yang dihormati [di antara para pertapa berambut kusut]. Mereka berpikir:

“Apakah Pertapa Gotama menjalankan kehidupan suci di bawah Uruvela Kassapa atau apakah Uruvela Kassapa menjalankan kehidupan suci di bawah Pertapa Gotama?”

Kemudian Sang Bhagava yang mengetahui pikiran para penduduk Magadha berkata kepada Yang Mulia Uruvela Kassapa dengan syair berikut:

“Apakah yang engkau lihat, Uruvela,
Sehingga engkau yang mengatakan tentang pertapaan keras meninggalkan upacara api?
Aku bertanya kepadamu, Kassapa,
Mengapa engkau meninggalkan upacara api?”

Yang Mulia Uruvela Kassapa menjawab:

“Dalam upacara api seseorang mengatakan tentang makanan dan minuman,
Juga rasa, kenikmatan indera, dan wanita.
Setelah memahami apa yang ternoda dalam kemelekatan,
Oleh sebab itu aku tidak menyenangi upacara-upacara dan persembahan.”

Sang Bhagava bertanya lagi:

“Jika pikiranmu tidak menyenangi
Makanan dan minuman dan juga rasa,
Dalam hal apakah di dunia para dewa dan manusia
Yang disenangi oleh pikiranmu, Kassapa?”

Yang Mulia Uruvela Kassapa menjawab:

“Setelah melihat lenyapnya, keadaan yang damai, bebas dari kemelekatan,
Yang bersifat kosong, tidak melekat pada semua penjelmaan,
Yang tidak berubah, tidak diketahui oleh orang lain,
Oleh sebab itu aku tidak menyenangi upacara-upacara dan persembahan.

‘Melalui upacara api ia terbebaskan’,
dulu aku mempercayai hal ini.
Terbutakan, aku mengikuti kelahiran dan kematian,
Tidak melihat keadaan tertinggi yang tidak berubah.

Tetapi sekarang aku melihat keadaan yang tanpa gangguan,
Yang dengan baik diajarkan oleh Yang Tertinggi, Naga yang mulia.
Aku telah mencapai keadaan yang sempurna itu
Setelah melepaskan lingkaran kelahiran dan kematian.

Banyak makhluk hancur
Ketika mengadakan berbagai pertapaan keras,
Tidak mencapai kesempurnaan,
Tidak melampaui keragu-raguan.

Telah lama aku terkotori,
Terikat oleh belenggu pandangan salah,
Yang Melihat, Sang Bhagava, telah membebaskanku
Dari semua belengguku.”

Kemudian Yang Mulia Uruvela Kassapa setelah bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya di atas bahu, berlutut di atas tanah, menghormati Sang Bhagava dengan kepalanya pada kaki Sang Bhagava, mengelilinginya tiga kali, dan berkata: “Sang Bhagava adalah guruku, aku adalah siswa Sang Sugata.” Setelah menyaksikan hal ini, orang-orang Magadha mengetahui bahwa Yang Mulia Uruvela Kassapa menjalankan kehidupan suci di bawah San Bhagava.

Kemudian Sang Bhagava memberikan kotbah Dhamma kepada Raja Bimbisara beserta para brahmana dan perumah tangga dari Magadha:

“Bentuk jasmani muncul dan lenyap. Perasaan muncul dan lenyap. Persepsi muncul dan lenyap. Bentukan muncul dan lenyap. Kesadaran muncul dan lenyap.

Siswa mulia merenungkan bentuk jasmani tunduk pada kemunculan dan kelenyapan, merenungkan perasaan tunduk pada kemunculan dan kelenyapan, merenungkan persepsi tunduk pada kemunculan dan kelenyapan, merenungkan bentukan tunduk pada kemunculan dan kelenyapan, dan merenungkan kesadaran tunduk pada kemunculan dan kelenyapan.

Ia merenungkan bentuk jasmani sebagai tidak kekal, perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran sebagai tidak kekal. Ia merenungkan bentuk jasmani sebagai dukkha, perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran sebagai dukkha. Ia merenungkan bentuk jasmani sebagai bukan diri, perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran sebagai bukan diri.

Dengan merenungkan bentuk jasmani sebagai bukan diri, perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran sebagai bukan diri, ia mengetahui bentuk jasmani muncul dan lenyap, perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran muncul dan lenyap.

Dengan mengetahui hal ini, ia mengetahui bentuk jasmani adalah tidak kekal, perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah tidak kekal. Dengan mengetahui hal ini, ia mengetahui bentuk jasmani adalah dukkha, perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah dukkha. Dengan mengetahui hal ini, ia mengetahui bentuk jasmani adalah bukan diri, perasaan... persepsi... bentukan... kesadaran adalah bukan diri.

Dengan mengetahui hal ini, ia tidak melekat pada apa pun di dunia. Dengan tidak melekat, ia secara pribadi terbebaskan sepenuhnya dengan memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi kelangsungan yang lebih jauh’.”

Kemudian para penduduk Magadha berpikir: “Karena bentuk jasmani adalah bukan diri, perasaan adalah bukan diri, persepsi adalah bukan diri, bentukan adalah bukan diri, dan kesadaran adalah bukan diri, siapakah sang pelaku, yang melakukan perbuatan, yang menggerakkan, yang menyebabkan, atau yang meletakkannya? Siapakah yang mengambil bentukan-bentukan ini dan meletakkannya, karena bentukan-bentukan ini adalah kosong, bukan diri, dan bukan apa yang menjadi milik diri?”

Sang Bhagava, mengetahui dengan pikiran-Nya pemikiran para penduduk Magadha tersebut, berkata kepada para bhikkhu:

“Para bhikkhu, orang bodoh walaupun menganggap bahwa ia bukan diri, ia menyatakan bentuk jasmani, perasaan, persepsi, bentukan, dan kesadaran sebagai dirinya. Tetapi Aku tidak mengatakan bahwa diri adalah sang pelaku, yang melakukan perbuatan, yang menggerakkan, yang menyebabkan, atau yang meletakkannya, ia yang mengambil bentukan-bentukan ini di sini dan meletakkannya.

Bentukan-bentukan muncul dan lenyap, mereka muncul dengan sebab dan kondisi, mereka lenyap dengan sebab dan kondisi. Para bhikkhu, Sang Tathagata mengajarkan bahwa diri adalah bentukan-bentukan yang terlahir kembali melalui sebab dan kondisi; inilah yang mengambil bentukan-bentukan. Aku menyatakan muncul dan lenyapnya makhluk-makhluk.

Dengan mata dewa-Ku yang murni dan melampaui penglihatan manusia biasa, Aku melihat makhluk-makhluk muncul dan lenyap, Aku melihat makhluk-makhluk terlahir cantik dan buruk rupa, bahagia dan menderita, hina dan mulia berdasarkan perbuatan mereka. Tetapi Aku tidak mengatakan bahwa diri adalah sang pelaku, yang melakukan perbuatan, yang menggerakkan, yang menyebabkan, atau yang meletakkannya, ia yang mengambil bentukan-bentukan ini di sini dan meletakkannya. Adalah bentukan-bentukan yang muncul dan lenyap, mereka muncul dengan sebab dan kondisi, mereka lenyap dengan sebab dan kondisi.

“Para bhikkhu, terdapat pandangan kelangsungan dan pemusnahan tanpa sebab. Tetapi ia yang melihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar bahwa bentukan-bentukan muncul dengan sebab dan kondisi tidak menganut pandangan kelangsungan (eternalisme = sassataditthi); ia yang melihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar bahwa bentukan-bentukan lenyap dengan sebab dan kondisi tidak menganut pandangan pemusnahan (nihilisme = ucchedaditthi). Demikianlah, para bhikkhu, tanpa mendekati salah satu dari kedua ekstrem ini, Sang Tathagata mengajarkan Dhamma di tengah-tengah:

Dengan ketidaktahuan sebagai kondisi, bentukan muncul;
Dengan bentukan sebagai kondisi, kesadaran muncul;
Dengan kesadaran sebagai kondisi, nama-dan-bentuk muncul;
Dengan nama-dan-bentuk sebagai kondisi, enam landasan indera muncul;
Dengan enam landasan indera sebagai kondisi, kontak muncul;
Dengan kontak sebagai kondisi, perasaan muncul;
Dengan perasaan sebagai kondisi, ketagihan muncul;
Dengan ketagihan sebagai kondisi, kemelekatan muncul;
Dengan kemelekatan sebagai kondisi, penjelmaan muncul;
Dengan penjelmaan sebagai kondisi, kelahiran muncul;
Dengan kelahiran sebagai kondisi, usia tua, kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan dan keputusasaan muncul;
Demikianlah asal mula keseluruhan kumpulan penderitaan ini.

Tetapi dengan lenyapnya ketidaktahuan, maka bentukan lenyap;
Dengan lenyapnya bentukan, maka kesadaran lenyap;
Dengan lenyapnya kesadaran, maka nama-dan-bentuk lenyap;
Dengan lenyapnya nama-dan-bentuk, maka enam landasan indera lenyap;
Dengan lenyapnya enam landasan indera, maka kontak lenyap;
Dengan lenyapnya kontak, maka perasaan lenyap;
Dengan lenyapnya perasaan, maka ketagihan lenyap;
Dengan lenyapnya ketagihan, maka kemelekatan lenyap;
Dengan lenyapnya kemelekatan, maka penjelmaan lenyap;
Dengan lenyapnya penjelmaan, maka kelahiran lenyap;
Dengan lenyapnya kelahiran, maka usia tua, kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan dan keputusasaan lenyap;
Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.”

Demikianlah apa yang dikatakan Sang Bhagava. Ketika kotbah ini diucapkan, Raja Bimbisara mencapai mata Dhamma yang tanpa noda, murni, dan jernih terhadap semua fenomena. Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Bhagava, dan berkata:

“Sang Bhagava, sekarang aku berlindung kepada Sang Bhagava, Dhamma, dan Sangha. Sejak hari ini semoga Sang Bhagava menerimaku sebagai seorang umat awam yang telah menyatakan berlindung [kepada Tiga Permata] seumur hidupku.”

Demikian pula sebelas nayuta para brahmana dan perumah tangga dari Magadha mencapai mata Dhamma yang tanpa noda, murni, dan jernih terhadap semua fenomena. Dua belas nayuta penduduk Magadha mengambil perlindungan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Raja Bimbisara, para bhikkhu, dan para penduduk Magadha bergembira dengan apa yang dikatakan Sang Bhagava.

#3 seniya

seniya

    Sahabat WDC

  • Members
  • 24
  • 406 posts
  • 12 thanks

Posted 10 April 2016 - 11:37 AM

Madhyama Agama 62
Kotbah tentang Raja Bimbisāra Bertemu Sang Buddha


Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha, yang sedang berdiam di negeri Magadha dengan sejumlah besar bhikkhu – seribu orang bhikkhu, semuanya bebas dari kemelekatan, yang telah mencapai kebenaran, sebelumnya para pertapa berambut-kusut – sedang mendekati Rājagaha, kota Magadha.

Kemudian, raja Magadha, Bimbisāra, mendengar bahwa Sang Bhagavā, yang sedang berdiam di negeri Magadha dengan sejumlah besar bhikkhu – seribu orang bhikkhu, semuanya bebas dari kemelekatan, yang telah mencapai kebenaran, sebelumnya para pertapa berambut-kusut – telah datang ke Rājagaha, kota Magadha.

Setelah mendengar hal itu, Bimbisāra, raja Magadha, mengumpulkan armada pasukannya yang berunsur empat, yaitu, pasukan gajah, pasukan kuda, pasukan kereta, dan pasukan pejalan kaki. Setelah mengumpulkan armada pasukannya yang berunsur empat, ia pergi mengunjungi Sang Buddha ditemani oleh tak terhitung orang, [suatu kumpulan yang] panjangnya satu liga.

Kemudian Sang Bhagavā, yang melihat dari jauh bahwa Bimbisāra, raja Magadha, datang, meninggalkan jalan dan pergi ke sebatang pohon banyan kerajaan yang berkembang dengan baik, menempatkan alas duduknya di bawahnya, dan duduk bersila, bersama-sama dengan kumpulan para bhikkhu.

Bimbisāra, raja Magadha, melihat dari jauh Sang Bhagavā di antara pepohonan hutan, yang dimuliakan dan indah, bagaikan rembulan di tengah-tengah bintang-bintang, dengan cahaya yang cemerlang, bercahaya bagaikan sebuah gunung emas, diberkahi dengan penampilan yang gagah dan keagungan yang mulia, dengan indera-indera yang tenang, bebas dari halangan, sempurna dan terdisiplinkan, dengan pikirannya yang tenang dan damai. Melihat hal ini, [raja] turun dari keretanya.

Seperti raja khattiya yang telah [dinobatkan dengan] percikan air pada kepalanya, yang adalah penguasa orang-orangnya dan berkuasa atas seluruh negeri, ia dilengkapi dengan lima lencana kerajaan: pertama, sebilah pedang; kedua, sebuah payung; ketiga, sebuah hiasan kepala kerajaan; keempat, sebuah kipas dengan pegangan yang berhiaskan permata; dan kelima, sandal berhiasan. Setelah melepaskan semua ini dan meninggalkan armada pasukannya yang berunsur empat di belakang, ia mendekati Sang Buddha dengan berjalan kaki.

Tiba di sana, ia memberikan penghormatan dan tiga kali mengumumkan namanya, “Sang Bhagavā, aku raja Magadha, Seniya Bimbisāra.” [Ia mengatakan] ini tiga kali.

Kemudian, Sang Bhagavā berkata, “Raja besar, sesungguhnya, sesungguhnya, engkau adalah Seniya Bimbisāra, raja Magadha.”

Kemudian Seniya Bimbisāra, raja Magadha, setelah mengumumkan namanya tiga kali, memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan duduk pada satu sisi. Beberapa di antara para penduduk Magadha memberikan penghormatan [dengan kepala mereka] pada kaki Sang Buddha dan kemudian duduk pada satu sisi; beberapa bertukar salam dengan Sang Buddha dan kemudian duduk pada satu sisi; beberapa menyalami Sang Buddha dengan telapak tangan disatukan [untuk menghormat] dan kemudian duduk di satu sisi; dan beberapa, setelah melihat Sang Buddha dari jauh, duduk dengan berdiam diri.

Pada waktu itu, Yang Mulia Uruvela Kassapa sedang duduk di antara kumpulan [para bhikkhu]. Yang Mulia Uruvela Kassapa dengan baik diingat oleh penduduk Magadha, diingat oleh mereka sebagai seorang guru besar dan dihormati dan seorang Manusia Sejati, bebas dari kemelekatan.

Kemudian para penduduk Magadha berpikir:

"Apakah pertapa Gotama berlatih dalam kehidupan suci di bawah Uruvela Kassapa atau apakah Uruvela Kassapa berlatih dalam kehidupan suci di bawah pertama Gotama?"

Pada waktu itu Sang Bhagavā, mengetahui apa yang dipikirkan penduduk Magadha, membacakan suatu syair kepada Yang Mulia Uruvela Kassapa:

"Uruvela [Kassapa], apakah yang engkau lihat

Bahwa engkau berhenti [menyembah] api dan datang ke sini?
Katakan kepadaku, Kassapa,
Mengapa engkau tidak lagi [mengadakan] pengorbanan api?"

[Uruvela Kassapa menjawab:]

"Aku menyembah api demi keinginan
Untuk makanan dan minuman dengan berbagai rasa.
[Tetapi] penglihatan atas jalan [tengah] muncul, seperti ini,
Oleh karena itu, aku tidak lagi bergembira dalam pengorbanan [demikian]."

[Sang Buddha bertanya lebih lanjut:]

"Kassapa, [walaupun] pikiranmu tidak bergembira
Dalam makanan dan minuman dengan berbagai rasa,
Katakan kepadaku, Kassapa,
Mengapa engkau tidak bergembira dalam [menjadi] penghuni di surga?"

[Uruvela Kassapa menjadi:]

"[Karena] melihat kedamaian, lenyapnya,
Dan yang tidak berkondisi, aku tidak menginginkan kelangsungan [apa pun],
Paling kecil dari semua [adalah] surga yang dihormati.
Oleh karena itu, aku tidak lagi mengadakan pengorbanan api.

Sang Bhagavā adalah yang tertinggi,
Sang Bhagavā tidak memiliki pikiran salah,
Beliau telah merealisasi dan tercerahkan pada semua hal.
Aku telah menerima Dharma tertinggi [beliau]."

Kemudian Sang Bhagavā berkata, “Kassapa, engkau seharusnya mempertunjukkan kekuatan batin[mu], untuk membangkitkan keyakinan dan kegembiraan dalam perkumpulan.”

Kemudian Yang Mulia Uruvela Kassapa melakukan suatu pertunjukan kekuatan batin sehingga ia menghilang dari tempat duduknya dan muncul di timur, melayang melalui udara seraya mempertunjukkan empat posisi tubuh, di mana yang pertama adalah berjalan, kedua adalah berdiri, ketiga adalah duduk, dan keempat adalah berbaring.

Lagi, ia memasuki konsentrasi pada [unsur] api. Ketika Yang Mulia Uruvela Kassapa telah memasuki konsentrasi pada [unsur] api, muncul dari tubuhnya nyala api dengan berbagai warna: biru, kuning, merah, dan putih, dan di tengah-tengahnya air jernih. Ketika api muncul dari bagian bawah tubuhnya, air muncul dari bagian atas tubuhnya; ketika api muncul dari bagian atas tubuhnya, air muncul dari bagaian bawah tubuhnya.

Dengan cara yang sama [ia muncul] di selatan ... di barat ... di utara, melayang melalui udara seraya mempertunjukkan empat posisi tubuh, di mana yang pertama adalah berjalan, kedua adalah berdiri, ketiga adalah duduk, dan keempat adalah berbaring.

Lagi, ia memasuki konsentrasi pada [unsur] api. Ketika Yang Mulia Uruvela Kassapa telah memasuki konsentrasi pada [unsur] api, muncul dari tubuhnya nyala api dengan berbagai warna: biru, kuning, merah, dan putih, dan di tengah-tengahnya air jernih. Ketika api muncul dari bagian bawah tubuhnya, air muncul dari bagian atas tubuhnya; ketika api muncul dari bagian atas tubuhnya, air muncul dari bagaian bawah tubuhnya.

Kemudian Yang Mulia Uruvela Kassapa, setelah menyelesaikan pertunjukan kekuatan batinnya, memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan berkata:

"Sang Bhagavā, Sang Buddha adalah guruku; aku adalah siswa Sang Buddha. Sang Buddha memiliki pengetahuan yang meliputi segalanya; aku tidak memiliki pengetahuan yang meliputi segalanya."

Kemudian Sang Bhagavā berkata, “Demikianlah, Kassapa; demikianlah, Kassapa. Aku memiliki pengetahuan yang meliputi segalanya; engkau tidak memiliki pengetahuan yang meliputi segalanya.”

Pada waktu itu, Yang Mulia Uruvela Kassapa membacakan suatu syair tentang dirinya sendiri:

"Pada masa lampau ketika aku tidak mengetahui,
Aku memberikan pengorbanan kepada api agar terbebaskan.
Walaupun sudah tua, aku bagaikan terlahir buta.
Aku memiliki [pandangan] salah dan tidak melihat kebenaran tertinggi.

Sekarang aku melihat jalan tertinggi
Yang diajarkan sang nāga yang tertinggi:
Yang tidak berkondisi, pembebasan akhir dari penderitaan.
Ketika itu terlihat, kelahiran dan kematian diakhiri."

Setelah menyaksikan hal ini, para penduduk Magadha berpikir:

"Pertapa Gotama tidak berlatih dalam kehidupan suci di bawah Uruvela Kassapa; Uruvela Kassapa berlatih dalam kehidupan suci di bawah pertapa Gotama."

Sang Bhagavā, mengetahui bahwa pikiran para penduduk Magadha, kemudian mengajarkan Dharma kepada Seniya Bimbisāra, raja Magadha, dengan menasehati, mendorong, dan menggembirakannya.

Setelah dengan berbagai cara terampil mengajarkannya Dharma, setelah menasehati, mendorong, dan menggembirakannya, [beliau melakukan] seperti yang dilakukan semua Buddha ketika pertama kali mengajarkan Dharma sejati untuk menggembirakan para pendengarnya: beliau mengajarkannya tentang kedermawanan, jasa, kelahiran kembali di surga, kerugian keinginan indera, dan kekotoran dari kelahiran dan kematian [yang berulang], dengan memuji kebosanan dan kemurnian dari unsur-unsur sang jalan. Sang Bhagavā memberikan raja besar itu ajaran-ajaran demikian.

Sang Buddha mengetahui bahwa pikiran [raja] bergembira, siap, lunak, dapat menahan, ringan, terpusat, bebas dari keragu-raguan, bebas dari rintangan, [memiliki] kemampuan dan kekuatan untuk menerima Dharma sejati, sesuai dengan ajaran pokok semua Buddha. Sang Bhagavā kemudian mengajarkannya tentang penderitaan, munculnya, lenyapnya dan jalan [menuju lenyapnya]:

"Raja besar, bentuk materi muncul dan lenyap. Engkau seharusnya mengetahui muncul dan lenyapnya bentuk materi. Raja besar, perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran muncul dan lenyap. Engkau seharusnya mengetahui muncul dan lenyapnya kesadaran. Raja besar, seperti halnya ketika hujan turun dengan deras, gelembung-gelembung muncul dan lenyap di permukaan air, demikianlah, raja besar, muncul dan lenyapnya bentuk materi. Raja besar, perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran muncul dan lenyap. Engkau seharusnya mengetahui muncul dan lenyapnya kesadaran.

Raja besar, jika seorang anggota keluarga mengetahui muncul dan lenyapnya bentuk materi, maka ia mengetahui bahwa tidak akan ada kemunculan kembali bentuk materi [yang sama] pada masa yang akan datang.

Raja besar, jika seorang anggota keluarga mengetahui muncul dan lenyapnya perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran, maka ia mengetahui bahwa tidak akan ada kemunculan kembali kesadaran [yang sama] pada masa yang akan datang.

Raja besar, jika seorang anggota keluarga [dengan cara ini] mengetahui bentuk materi sebagaimana adanya, maka ia tidak melekat pada bentuk materi, tidak berspekulasi tentang bentuk materi, tidak terkotori [oleh] bentuk materi, tidak berdiam dalam bentuk materi, dan tidak bergembira dalam bentuk materi sebagai “aku adalah ini.”

Raja besar, jika seorang anggota keluarga [dengan cara ini] mengetahui perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran sebagaimana adanya, maka ia tidak melekat pada kesadaran, tidak berspekulasi tentang kesadaran, tidak terkotori [oleh] kesadaran, tidak berdiam dalam kesadaran, dan tidak bergembira dalam kesadaran sebagai “aku adalah ini.”

Raja besar, jika seorang anggota keluarga tidak melekat pada bentuk materi, tidak berspekulasi tentang bentuk materi, tidak terkotori [oleh] bentuk materi, tidak berdiam dalam bentuk materi, dan tidak bergembira dalam bentuk materi sebagai “aku adalah ini,” maka ia tidak akan lagi melekat pada bentuk pada masa yang akan datang.

Raja besar, jika seorang anggota keluarga tidak melekat pada perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran sebagaimana adanya, maka ia tidak melekat pada kesadaran, tidak berspekulasi tentang kesadaran, tidak terkotori [oleh] kesadaran, tidak berdiam dalam kesadaran, dan tidak bergembira dalam kesadaran sebagai “aku adalah ini,” maka ia tidak akan lagi melekat pada kesadaran pada masa yang akan datang.

Raja besar, seorang anggota keluarga demikian telah menjadi tidak terukur, tidak terhitung, tidak terbatas. Ia telah mencapai kedamaian. Jika ia telah menjadi tidak melekat dari lima kelompok unsur kehidupan, ia tidak akan lagi melekat pada kelompok unsur kehidupan apa pun."

Kemudian para penduduk Magadha berpikir:

"Jika bentuk materi tidak kekal, perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran tidak kekal, maka siapakah yang menjalani dan yang mengalami penderitaan dan kebahagiaan?"

Sang Bhagavā, mengetahui pikiran para penduduk Magadha, berkata kepada para bhikkhu:

"Seorang duniawi yang bodoh, yang tidak terpelajar, menganggap dirinya sebagai “aku adalah diri” dan melekat pada diri. Namun, tidak ada diri; tidak ada yang menjadi milik diri; [semua ini] adalah kosong dari diri dan kosong dari apa pun yang menjadi milik diri. Ketika fenomena muncul, mereka muncul; ketika fenomena lenyap, mereka lenyap. Semua ini [hanyalah] gabungan sebab dan kondisi, yang memunculkan penderitaan. Jika sebab dan kondisi tidak ada, maka semua penderitaan akan lenyap. Adalah karena gabungan sebab dan kondisi sehingga makhluk-makhluk hidup berlanjut dan semua fenomena muncul. Sang Tathāgata, setelah melihat semua makhluk hidup terus-menerus muncul, menyatakan: Terdapat kelahiran dan terdapat kematian. Dengan mata dewa, yang dimurnikan dan melampaui [penglihatan] manusia, aku melihat makhluk-makhluk ketika mereka meninggal dan terlahir kembali gagah atau jelek, bagus atau tidak bagus, ketika mereka datang dan pergi di antara alam-alam kehidupan yang baik atau buruk, sesuai dengan perbuatan mereka [sebelumnya]. Aku melihat ini sebagaimana adanya. Jika makhluk-makhluk hidup ini berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan dan pikiran, jika mereka tidak menghina para orang mulia, menganut pandangan salah, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan benar, maka karena sebab dan kondisi ini, saat hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka pasti akan pergi ke alam kehidupan yang baik, [bahkan] ke alam surga.

Mengetahui bahwa ini adalah demikian, aku tidak mengatakan kepada mereka, “Adalah diri yang dapat merasakan, dapat berbicara, yang memberikan ajaran-ajaran, yang melakukan pengembangan, yang mengajarkan pengembangan, yang mengalami buah perbuatan baik atau buruk di sini dan di sana.” Dalam hal ini, seseorang mungkin berpikir, “Ini tidak sesuai; ini tidak dapat dipertahankan.”

[Tetapi walaupun mereka keberatan] proses ini yang terjadi sesuai dengan Dharma: Karena ini, itu muncul; jika sebab ini tidak muncul, itu tidak muncul. Karena ini ada, itu ada; jika ini lenyap, itu lenyap. Dengan kata lain: dengan ketidaktahuan sebagai kondisi terdapat bentukan kehendak; (dan seterusnya sampai dengan) dengan kelahiran sebagai kondisi terdapat usia tua dan kematian. Jika ketidaktahuan lenyap, bentukan kehendak lenyap (dan seterusnya sampai dengan) jika kelahiran lenyap, usia tua dan kematian lenyap."

[Sang Buddha berkata:] “Raja besar, apakah yang engkau pikirkan? Apakah bentuk materi kekal atau tidak kekal?”

[Raja] menjawab, “Ia tidak kekal, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lagi, “Jika ia tidak kekal, apakah ia adalah penderitaan atau bukan penderitaan?”

[Raja] menjawab, “Ia adalah penderitaan [karena] ia berubah, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lagi, “Jika ia tidak kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan, apakah seorang siswa mulia yang terpelajar menganggapnya sebagai ‘Ini adalah aku, ini adalah milikku, aku milik itu’?”

[Raja] menjawab, “Tidak, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha bertanya lagi]: “Raja besar, apakah yang engkau pikirkan? Apakah perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran kekal atau tidak kekal?”

[Raja] menjawab, “Ia tidak kekal, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lagi, “Jika ia tidak kekal, apakah ia adalaah penderitaan atau bukan penderitaan?”

[Raja] menjawab, “Ia adalah penderitaan [karena] ia berubah, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lagi, “Jika ia tidak kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan, apakah seorang siswa mulia yang terpelajar menganggapnya sebagai: ‘Ini adalah aku, ini adalah milikku, aku milik itu’?”

[Raja] menjawab, “Tidak, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha berkata:]

"Oleh karena itu, engkau seharusnya berlatih dengan cara ini:

Apa pun bentuk materi di sana, apakah masa lampau, masa depan, atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, baik atau buruk, jauh atau dekat, semua itu bukan aku, semua itu bukan milikku, dan aku bukan milik itu.

Engkau seharusnya dengan bijaksana merenungkannya dan mengetahuinya sebagaimana adanya.

Raja besar, “Apa pun perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran di sana, apakah masa lampau, masa depan, atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, baik atau buruk, jauh atau dekat, semua itu bukan aku, semua itu bukan milikku, dan aku bukan milik itu.” Engkau seharusnya dengan bijaksana merenungkannya dan mengetahuinya sebagaimana adanya.

Raja besar, jika seorang siswa mulia yang terpelajar merenungkan dengan cara ini, maka ia menjadi kecewa dengan bentuk materi, kecewa dengan perasaan ... dengan persepsi ... dengan bentukan kehendak ... dengan kesadaran. Setelah menjadi kecewa, ia menjadi bosan. Setelah menjadi bosan, ia mencapai pembebasan. Setelah mencapai pembebasan, ia mengetahui bahwa ia terbebaskan. Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain.”

Ketika Sang Buddha menyampaikan ajaran ini, [pikiran] Seniya Bimbisāra, raja Magadha, menjadi bebas dari kekotoran-kekotoran, dan [sehubungan] dengan semua fenomena, mata Dharma muncul [dalam dirinya]; dan [pikiran] delapan puluh ribu dewa dan dua belas ribu orang penduduk Magadha menjadi bebas dari kekotoran-kekotoran, dan [sehubungan] dengan semua fenomena, mata Dharma muncul [dalam diri mereka].

Kemudian Seniya Bimbisāra, raja Magadha, melihat Dharma, mencapai Dharma, merealisasi Dharma yang sangat murni; ia meninggalkan keragu-raguan, mengatasi kebingungan; ia tidak akan mengambil guru lain, tidak akan pernah mengikuti [guru] lain; ia tanpa ketidakpastian.

Setelah mencapai buah realisasi dan mencapai ketanpagentaran dalam Dharma Sang Bhagavā, [raja] bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan [dengan kepalanya] pada kaki Sang Buddha, dan berkata:

"Sang Bhagavā, aku sekarang mengambil perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan komunitas para bhikkhu. Semoga Sang Bhagavā sudi menerimaku sebagai seorang pengikut awam; sejak hari ini sampai kehidupan berakhir, aku mengambil perlindungan [kepada Tiga Permata] selama hidupku."

Ini adalah apa yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, Seniya Bimbisāra, raja Magadha, delapan puluh ribu dewa, dua belas ribu orang penduduk Magadha, dan seribu orang bhikkhu bergembira dan mengingatnya dengan baik.





Also tagged with one or more of these keywords: kotbah keempat buddha, buddhisme awal, mahavastu, agama sutra, madhyama agama

0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close