Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

Permasalahan Umat Non Buddhis dalam Mempraktekkan Ajaran Buddha Dharma


  • Please log in to reply
11 replies to this topic

#1 Naruto_Uzumaki

Naruto_Uzumaki

    Tidak Baru Lagi

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 4
  • 165 posts
  • 3 thanks

Posted 05 August 2016 - 10:35 PM

Bisa dibilang ini adalah topik yang sangat serius untuk dipikirkan jalan keluarnya karena ini menyangkut tentang permasalahan yang dialami umat non buddhis dalam mempraktekkan ajaran buddhis.

 

Aku harap topik ini tidak sepi pendapat hanya karena topik ini ditaruh di Ruang Dharma.

 

Umat non buddhis memang bisa mempraktekkan ajaran buddha dharma sekalipun agamanya bukan agama buddha. Tetapi ada permasalahan bagi umat non buddhis dalam mempratekkan ajaran buddha dharma, terutama untuk umat non buddhis yg tidak bisa pindah ke agama Buddha karena rintangannya cukup besar.

 

Langsung saja ke inti permasalahan yg harus didiskusikan:

 

1. Salah satu syarat untuk mencapai tingkat kesucian versi theravada yaitu sotapanna adalah mematahkan pandangan tentang adanya Aku yang Kekal dan 2 belenggu yg lain, tetapi disisi lain umat non buddhis tetap harus percaya Tuhan karena ajarannya dan orang lain yang seagama dengannya.

Apakah umat non buddhis bisa mencapai minimal tingkat sotapanna sedangkan disisi lain dia harus percaya Tuhan karena ajarannya dan orang lain disekitarnya?

Jika umat non buddhis yg mempraktekkan buddhis menjawab saya percaya Tuhan ketika ditanya orang lain itu namanya bohong jika di dalam hartinya dia tidak percaya Tuhan hanya karena biar posisinya aman oleh orang lain.

 

2. Ketika umat non buddhis membaca mantra buddhis misalnya Namo Amitabha Buddha, tetapi disisi lain dia harus menjalankan ritual dari agama yg dianutnya, seberapa efektifkah mantra buddhis Namo Amitabha Buddha dalam membantu umat non buddhis baik yg memiliki tekad untuk terlahir ke sukhavati terlahir ke alam sukhavati sedangkan disisi lain dia harus menyembah Tuhan dari agama yg dianutnya?

 

3. Ketika umat non buddhis membaca mantra buddhis yg bisa mendatangkan rezeki misalnya mantra dewa bumi atau sutra raja agung, seberapa efektifkah mantra buddhis yg bisa mendatangkan rezeki, sedangkan disisi lain dia harus menjalankan ritual agama yg dianutnya?

Apakah bentrok antara mantra rezeki buddhis dg doa ritual agama yg dianutnya dapat membuat rezeki seseorang tambah sulit dicapai hanya karena ada unsur bentrok doa dari dua keyakinan yg berbeda?

 

4. Jika umat non buddhis yg sudah diterapi auranya oleh terapi aura yang tidak memandang SARA tetapi orang tsb harus percaya kekuasaan Tuhan, tetapi disisi lain hati umat non buddhis tidak percaya Tuhan dan berkeyakinan buddhis.

Apakah terapi aura tidak akan efektif untuk orang yg dalam hatinya baik tetapi tidak percaya Tuhan hanya karena berkeyakinan buddhis?

Yang menjadi masalahnya adalah kebanyakan para praktisi terapi aura tidak memandang SARA tetapi disarankan harus percaya adanya Tuhan, sehingga itulah yg dikawatirkan terapi aura tidak akan efektif untuk orang yg tidak percaya Tuhan hanya krn berkeyakinan buddhis di dalam hatinya.

 

5. Jika orang lain atau orang tuanya umat non buddhis ingin agar umat non buddhis tsb menjalankan perintah sesuai agama yang dianut, tetapi disisi lain umat non buddhis tersebut mempraktekkan ajaran buddhis yg itu artinya menyeleweng dari agama yg dianutnya.

Apakah itu termasuk perbuatan jahat kepada orang tua atau orang lain hanya karena mempraktekkan buddhis walaupun sembunyi-sembunyi apalagi terbuka malah tambah rumit jadinya?

Jika umat non buddhis yg mempraktekkan buddhis menjawab saya percaya Tuhan ketika ditanya orang lain itu namanya bohong jika di dalam hatinya dia tidak percaya Tuhan hanya karena biar posisinya aman oleh orang lain.

 

 

 

Itulah inti permasalahannya. Semoga topik ini membantu umat non buddhis yg sedang mempratekkan buddhis.



#2 Naruto_Uzumaki

Naruto_Uzumaki

    Tidak Baru Lagi

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 4
  • 165 posts
  • 3 thanks

Posted 05 August 2016 - 10:45 PM

Bisa tolong Moderator ubah judul topik ini menjadi

  Permasalahan Umat Non Buddhis dalam Mempraktekkan Ajaran Buddha Dharma

 

Aku tidak bisa mengubah judulnya soalnya. Apakah aturannya memang member tidak diizinkan untuk mengubah judul topik? Delete topik pun juga tidak bisa?



#3 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 46 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 06 August 2016 - 12:10 PM

Bisa dibilang ini adalah topik yang sangat serius untuk dipikirkan jalan keluarnya karena ini menyangkut tentang permasalahan yang dialami umat non buddhis dalam mempraktekkan ajaran buddhis.
 
Aku harap topik ini tidak sepi pendapat hanya karena topik ini ditaruh di Ruang Dharma.
 
Umat non buddhis memang bisa mempraktekkan ajaran buddha dharma sekalipun agamanya bukan agama buddha. Tetapi ada permasalahan bagi umat non buddhis dalam mempratekkan ajaran buddha dharma, terutama untuk umat non buddhis yg tidak bisa pindah ke agama Buddha karena rintangannya cukup besar.


 
Langsung saja ke inti permasalahan yg harus didiskusikan:
 
1. Salah satu syarat untuk mencapai tingkat kesucian versi theravada yaitu sotapanna adalah mematahkan pandangan tentang adanya Aku yang Kekal dan 2 belenggu yg lain, tetapi disisi lain umat non buddhis tetap harus percaya Tuhan karena ajarannya dan orang lain yang seagama dengannya.
Apakah umat non buddhis bisa mencapai minimal tingkat sotapanna sedangkan disisi lain dia harus percaya Tuhan karena ajarannya dan orang lain disekitarnya?

GL : dia percaya TUHAN dengan Dia memiliki rintangan utk memeluk agama Buddha , adalah dua hal beda.

Seseorang bisa saja di ktpnya agama Islam ,Katholik, Kristen , Hindu. Tapi dia meyakini ajaran Dhamma Buddha.

Sedangkan ketika orang tsb percaya tuhan , maka jelas dia tidak paham ajaran Buddha.

Sedangkan dia bisa saja hidup sesuai JMB8 dan bisa saja dia mencapai tingkat kesucian sotapanna ketika avijja perlahan sirna.


Agama Buddha tidak membuat seseorang jadi suci.


-----------------------------

Jika umat non buddhis yg mempraktekkan buddhis menjawab saya percaya Tuhan ketika ditanya orang lain itu namanya bohong jika di dalam hartinya dia tidak percaya Tuhan hanya karena biar posisinya aman oleh orang lain.
 
2. Ketika umat non buddhis membaca mantra buddhis misalnya Namo Amitabha Buddha, tetapi disisi lain dia harus menjalankan ritual dari agama yg dianutnya, seberapa efektifkah mantra buddhis Namo Amitabha Buddha dalam membantu umat non buddhis baik yg memiliki tekad untuk terlahir ke sukhavati terlahir ke alam sukhavati sedangkan disisi lain dia harus menyembah Tuhan dari agama yg dianutnya?
GL : tetap bermanfaat
kata "seberapa efektif" ini bisa berkonotasi mantra seolah alat ,mesin,ilmu gaib yg jalan mirip santet pelet . Yg mana mantra bisa diperintah sekehendak hati.
Padahal mantra itu adalah penyatuan batin. Jika baca mantram ta pei chou haruslah batin memiliki sifat karakter avalokitesvara Boddhisatva mahasatva.

-------------------------------------
3. Ketika umat non buddhis membaca mantra buddhis yg bisa mendatangkan rezeki misalnya mantra dewa bumi atau sutra raja agung, seberapa efektifkah mantra buddhis yg bisa mendatangkan rezeki, sedangkan disisi lain dia harus menjalankan ritual agama yg dianutnya?
Apakah bentrok antara mantra rezeki buddhis dg doa ritual agama yg dianutnya dapat membuat rezeki seseorang tambah sulit dicapai hanya karena ada unsur bentrok doa dari dua keyakinan yg berbeda?

GL : terdapat fakta diluar logika pengetahuan manusia.
Inti pertanyaan anda ...mantra dicampur keyakinan lain , bolehkah ??
Nurut saya BOLEH.
Para dewa membantu manusia diluar logic manusia dan para dewa bebas dari egosentris personifikasi.
Para dewa mungkin tidak mendatangkan hujan emas , tapi memberi petunjuk dimana ada emas.
Ada yg bilang tergantung jodoh dan karma.
Nurut saya TIDAK....
Para dewa memiliki kuasa yg melampaui energy terdefinisi. Namun para dewa pasti tidak mampumengubah hukum alam.
Para dewa bukan sang pencipta.
Perbuatan manusia berandil kuat dalam permohonannya pada para dewa.
pikiran para dewa tentu bukan pikiran GL ,
contoh : anda liat kucing mau mati tenggelam dan kakinya kejepit besi selokan.
Manusia saja bisa menolong kucing itu.
Demikian para dewa menolong manusia melampaui logika manusia.

----------------------------
 
4. Jika umat non buddhis yg sudah diterapi auranya oleh terapi aura yang tidak memandang SARA tetapi orang tsb harus percaya kekuasaan Tuhan, tetapi disisi lain hati umat non buddhis tidak percaya Tuhan dan berkeyakinan buddhis.
Apakah terapi aura tidak akan efektif untuk orang yg dalam hatinya baik tetapi tidak percaya Tuhan hanya karena berkeyakinan buddhis?
Yang menjadi masalahnya adalah kebanyakan para praktisi terapi aura tidak memandang SARA tetapi disarankan harus percaya adanya Tuhan, sehingga itulah yg dikawatirkan terapi aura tidak akan efektif untuk orang yg tidak percaya Tuhan hanya krn berkeyakinan buddhis di dalam hatinya.
 
GL : energy tidak mengenal tuhan atau bukan tuhan.

--------------------------------
5. Jika orang lain atau orang tuanya umat non buddhis ingin agar umat non buddhis tsb menjalankan perintah sesuai agama yang dianut, tetapi disisi lain umat non buddhis tersebut mempraktekkan ajaran buddhis yg itu artinya menyeleweng dari agama yg dianutnya.
Apakah itu termasuk perbuatan jahat kepada orang tua atau orang lain hanya karena mempraktekkan buddhis walaupun sembunyi-sembunyi apalagi terbuka malah tambah rumit jadinya?

GL : siapa yg berbuat jahat dan siapa korban dari perbuatan jahat tsb ?? Berbuat jahat kepada orang tua ??

Agama adalah keyakinan individu.
Tidak sependapat dgn orang tua tidak berarti berbuat jahat pada ortu. Yg penting disampaika dgn cara sebaiknya yg wajar dan sopan.

Masalah ortu tidak bisa menerimanya ,bergantung kebijakan anda . Mau pake cara sembunyi sembunyi atau terang terangan.
Tidak ada cara terbaik....semuanya bergantung dari diri orang non buddhist tsb.


Ajaran Dhamma Buddha tidak pernah memaksa seseorang memeluk agama Buddha.
Dan bahkan tidak melarang manusia meyakini agama lain. Dan bahkan tidak mengklaim ajaran buddha adalah SATU SATUNYA AJARAN paling benar ...
Justru agama lain lah yg anggap agama buddha memeluk menyembah berhala .
--------------------------------
Jika umat non buddhis yg mempraktekkan buddhis menjawab saya percaya Tuhan ketika ditanya orang lain itu namanya bohong jika di dalam hatinya dia tidak percaya Tuhan hanya karena biar posisinya aman oleh orang lain.
 
 
 
Itulah inti permasalahannya. Semoga topik ini membantu umat non buddhis yg sedang mempratekkan buddhis.


Bolehkah bohong ?

Jika saya katakan boleh....maka sya pembohong
Jika saya katakan tdk boleh...maka sya orang munafik.

Kembali pada diri anda mau bohong atau tidak.

Orang yg berbohong tidak berarti jahat
Orang yg jujur tidak berarti baik suci

Jahat suci baik buruk...anda sendiri ygmerasakan vipaka atas setiap action
Cetanaham bhikkhave kammam vadami

#4 seniya

seniya

    Sahabat WDC

  • Members
  • 24
  • 406 posts
  • 12 thanks

Posted 06 August 2016 - 12:59 PM

Bisa dibilang ini adalah topik yang sangat serius untuk dipikirkan jalan keluarnya karena ini menyangkut tentang permasalahan yang dialami umat non buddhis dalam mempraktekkan ajaran buddhis.
 
Aku harap topik ini tidak sepi pendapat hanya karena topik ini ditaruh di Ruang Dharma.
 
Umat non buddhis memang bisa mempraktekkan ajaran buddha dharma sekalipun agamanya bukan agama buddha. Tetapi ada permasalahan bagi umat non buddhis dalam mempratekkan ajaran buddha dharma, terutama untuk umat non buddhis yg tidak bisa pindah ke agama Buddha karena rintangannya cukup besar.
 
Langsung saja ke inti permasalahan yg harus didiskusikan:
 
1. Salah satu syarat untuk mencapai tingkat kesucian versi theravada yaitu sotapanna adalah mematahkan pandangan tentang adanya Aku yang Kekal dan 2 belenggu yg lain, tetapi disisi lain umat non buddhis tetap harus percaya Tuhan karena ajarannya dan orang lain yang seagama dengannya.
Apakah umat non buddhis bisa mencapai minimal tingkat sotapanna sedangkan disisi lain dia harus percaya Tuhan karena ajarannya dan orang lain disekitarnya?
Jika umat non buddhis yg mempraktekkan buddhis menjawab saya percaya Tuhan ketika ditanya orang lain itu namanya bohong jika di dalam hartinya dia tidak percaya Tuhan hanya karena biar posisinya aman oleh orang lain.


Pada masa Sang Buddha masih hidup, terdapat banyak pertapa non-Buddhis dan umat awam non-Buddhis yang menjalankan JMB8 setelah berdiskusi dengan Sang Buddha atau salah satu siswanya. Mereka setelah bersungguh2 menjalankan JMB8 itu apakah sebagai bhikkhu/ni atau upasaka/upasika akhirnya berhasil meninggalkan kepercayaan/pandangan lama mereka dan banyak yang berhasil mencapai kesucian Sotapanna bahkan Arahant. Ketika ditanya tentang keyakinan mereka, mereka tidak ragu menjawab dengan jujur, misalnya dalam kasus perumah tangga Upali yang sebelumnya adalah pengikut Nigantha (Jainisme) menjadi seorang Sotapanna setelah berdiskusi dengan Sang Buddha dalam MN 56
 
Intinya, jika seseorang bersungguh-sungguh menjalankan JMB8 terlepas dari agama yang dianutnya, ia pasti akan memperoleh pandangan benar dan meninggalkan pandangan salah, dan jika ia mencapai kesucian Sotapanna, ia pasti tidak berbohong tentang keyakinan kokohnya dalam Buddha, Dhamma dan Sangha.
 

5. Jika orang lain atau orang tuanya umat non buddhis ingin agar umat non buddhis tsb menjalankan perintah sesuai agama yang dianut, tetapi disisi lain umat non buddhis tersebut mempraktekkan ajaran buddhis yg itu artinya menyeleweng dari agama yg dianutnya.
Apakah itu termasuk perbuatan jahat kepada orang tua atau orang lain hanya karena mempraktekkan buddhis walaupun sembunyi-sembunyi apalagi terbuka malah tambah rumit jadinya?
Jika umat non buddhis yg mempraktekkan buddhis menjawab saya percaya Tuhan ketika ditanya orang lain itu namanya bohong jika di dalam hatinya dia tidak percaya Tuhan hanya karena biar posisinya aman oleh orang lain.
 
 
 
Itulah inti permasalahannya. Semoga topik ini membantu umat non buddhis yg sedang mempratekkan buddhis.


Dalam hal ini, jika ia benar-benar berusaha berbakti kepada orang tuanya, maka ia seharusnya berusaha mendorong orang tuanya berkeyakinan dalam Buddha, Dhamma dan Sangha juga, seperti yang dilakukan Bhikkhu Sariputta menjelang akhir hayatnya berusaha mengajarkan Dhamma kepada ibunya yang masih berkeyakinan Brahmanisme (ibu Sariputta adalah ibu dari tujuh orang Arahant, karena anak-anaknya berjumlah tujuh orang semuanya menjadi bhikkhu dan mencapai tingkat Arahant, tetapi ia sendiri tidak percaya Buddha Dhamma). Dalam AN 2.33 dikatakan:

 

“Para bhikkhu, ada dua individu yang tidak dapat dengan mudah dibalas. Apakah dua ini? Ibu dan ayah seseorang.

 

“Bahkan jika seseorang menggendong ibunya di satu bahunya dan ayahnya di bahu lainnya, dan selagi ia melakukan demikian ia memiliki umur kehidupan selama seratus tahun, dan hidup selama seratus tahun; dan jika ia melayani mereka dengan cara meminyaki mereka dengan balsam, dengan cara memijat mereka, memandikan mereka, dan menggosok bagian-bagian tubuh mereka, dan mereka bahkan membuang kotoran dan air kencing mereka di sana, ia masih tetap belum cukup melakukan untuk kedua orangtuanya, juga belum membalas mereka. Bahkan jika ia mengangkat orangtuanya menjadi raja tertinggi dan penguasa di seluruh penjuru bumi ini yang berlimpah dengan tujuh pusaka, ia tetap masih belum cukup melakukan untuk kedua orangtuanya, juga belum membalas mereka. Karena alasan apakah? Orangtua adalah bantuan besar bagi anak-anak mereka; mereka membesarkan anak-anak mereka, memberi mereka makan, dan menunjukkan dunia ini kepada mereka.

 

“Tetapi, para bhikkhu, jika orangtuanya tidak berkeyakinan, ia mendorong, memantapkan, dan menegakkan mereka dalam keyakinan; jika, orangtuanya tidak bermoral, ia mendorong, memantapkan, dan menegakkan mereka dalam perilaku bermoral; jika orangtuanya adalah orang-orang kikir, ia mendorong, memantapkan, dan menegakkan mereka dalam kedermawanan; jika orangtuanya tidak bijaksana, ia mendorong, memantapkan, dan menegakkan mereka dalam kebijaksanaan: maka dengan cara demikian, ia telah cukup melakukan untuk orangtuanya, membalas mereka, dan melakukan lebih dari cukup untuk mereka.”



#5 djoe

djoe

    Legenda WDC

  • Moderators
  • 229
  • 4,797 posts
  • 44 thanks

Posted 06 August 2016 - 01:29 PM

1. Salah satu syarat untuk mencapai tingkat kesucian versi theravada yaitu sotapanna adalah mematahkan pandangan tentang adanya Aku yang Kekal dan 2 belenggu yg lain,

============

Anda sendiri sudah tahu salah satu syarat utk terlepas dr samsara adalah mematahkan bwlwnggu ini.

Jadi jgn dibingungkan dgn hal hal ekternal dr batin anda.

Anda hanya perlu menyelidiki batin anda swndiri

Selama anda tidak memegang pandangann apapun maka anda tidak akan dibingungkan dgn hal hal ekternal

Karena justru pandangan adalah hambatan itu sendiri

Ajaran buddha bukan tentang menyangkal kepercayaan ini dan mengganti dgn kepercayaan lain, mengganti satu pandangan dgn pandangan lain tetapi mengajak kita melihat lebih jernih dan menyelidiki pandangan tsbt utk melihat apakah pemikiran kita bisa dipertahankan atau tidak.

By refutation of the false, not by acquiring the truth, is the revelation of the TRUTH


#6 golden lotus

golden lotus

    Re-Birth

  • Members
  • 247
  • 3,260 posts
  • 46 thanks
  • LocationSurabaya

Posted 08 August 2016 - 07:26 PM

"Karena justru pandangan adalah hambatan itu sendiri"
(Djoe)

45485668-appreciation_20word_20art.jpg
Cetanaham bhikkhave kammam vadami

#7 Naruto_Uzumaki

Naruto_Uzumaki

    Tidak Baru Lagi

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 4
  • 165 posts
  • 3 thanks

Posted 20 August 2016 - 05:25 PM

Topik ini belum semuanya terjawab. Jadi aku harap topik ini tidak tenggelam. Terima kasih.



#8 djoe

djoe

    Legenda WDC

  • Moderators
  • 229
  • 4,797 posts
  • 44 thanks

Posted 23 August 2016 - 08:10 AM

Kasih yg specifik bagian mana yg jadi masalah

Menurut saya anda sendiri yg membuatnya jadi masalah karena sebenarnya tidak ada masalah

By refutation of the false, not by acquiring the truth, is the revelation of the TRUTH


#9 legend

legend

    Sekejap Saja

  • Moderators
  • 257
  • 5,704 posts
  • 81 thanks
  • LocationMalang

Posted 23 August 2016 - 11:50 AM

Semua ajaran Buddha lebih menekankan melihat praktek ke diri sendiri.

Praktek yang keluar diri, tentunya tidak ada masalah karena tergantung individu yang menjalankan.

Seperti kesucian sotapana, selama persyaratan memenuhi tetap dikatakan sudah mencapai kesucian tersebut, walaupun dia masih mempraktekkan ajaran diluar ajaran Buddha.

Ibarat Telunjuk Menunjuk Ke Bulan, Demikian Juga Kata Kata Hanya Menunjuk Ke Kebenaran...:D


#10 legend

legend

    Sekejap Saja

  • Moderators
  • 257
  • 5,704 posts
  • 81 thanks
  • LocationMalang

Posted 23 August 2016 - 11:51 AM

Ajaran Buddha ajaran universal, jadi tidak ada kotak kotak di dalamnya.

Ibarat Telunjuk Menunjuk Ke Bulan, Demikian Juga Kata Kata Hanya Menunjuk Ke Kebenaran...:D


#11 beri

beri

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPip
  • 0
  • 24 posts
  • 0 thanks

Posted 20 June 2017 - 10:05 AM

    Bisa dibilang ini adalah topik yang sangat serius untuk dipikirkan jalan keluarnya karena ini menyangkut tentang permasalahan yang dialami umat non buddhis dalam mempraktekkan ajaran buddhis.
 
Aku harap topik ini tidak sepi pendapat hanya karena topik ini ditaruh di Ruang Dharma.
 
Umat non buddhis memang bisa mempraktekkan ajaran buddha dharma sekalipun agamanya bukan agama buddha. Tetapi ada permasalahan bagi umat non buddhis dalam mempratekkan ajaran buddha dharma, terutama untuk umat non buddhis yg tidak bisa pindah ke agama Buddha karena rintangannya cukup besar.
 
Langsung saja ke inti permasalahan yg harus didiskusikan:
 
1. Salah satu syarat untuk mencapai tingkat kesucian versi theravada yaitu sotapanna adalah mematahkan pandangan tentang adanya Aku yang Kekal dan 2 belenggu yg lain, tetapi disisi lain umat non buddhis tetap harus percaya Tuhan karena ajarannya dan orang lain yang seagama dengannya.
Apakah umat non buddhis bisa mencapai minimal tingkat sotapanna sedangkan disisi lain dia harus percaya Tuhan karena ajarannya dan orang lain disekitarnya?
Jika umat non buddhis yg mempraktekkan buddhis menjawab saya percaya Tuhan ketika ditanya orang lain itu namanya bohong jika di dalam hartinya dia tidak percaya Tuhan hanya karena biar posisinya aman oleh orang lain.

 

 

 

semua agama , tuhan dan  Buddha adalah sama saja, cuma beda suku doang kali ya

 
 
2. Ketika umat non buddhis membaca mantra buddhis misalnya Namo Amitabha Buddha, tetapi disisi lain dia harus menjalankan ritual dari agama yg dianutnya, seberapa efektifkah mantra buddhis Namo Amitabha Buddha dalam membantu umat non buddhis baik yg memiliki tekad untuk terlahir ke sukhavati terlahir ke alam sukhavati sedangkan disisi lain dia harus menyembah Tuhan dari agama yg dianutnya?

 

semua agama , tuhan dan  Buddha adalah sama saja, cuma beda suku doang kali ya

3. Ketika umat non buddhis membaca mantra buddhis yg bisa mendatangkan rezeki misalnya mantra dewa bumi atau sutra raja agung, seberapa efektifkah mantra buddhis yg bisa mendatangkan rezeki, sedangkan disisi lain dia harus menjalankan ritual agama yg dianutnya?
Apakah bentrok antara mantra rezeki buddhis dg doa ritual agama yg dianutnya dapat membuat rezeki seseorang tambah sulit dicapai hanya karena ada unsur bentrok doa dari dua keyakinan yg berbeda?

 

semua agama , tuhan dan  Buddha adalah sama saja, cuma beda suku doang kali ya

4. Jika umat non buddhis yg sudah diterapi auranya oleh terapi aura yang tidak memandang SARA tetapi orang tsb harus percaya kekuasaan Tuhan, tetapi disisi lain hati umat non buddhis tidak percaya Tuhan dan berkeyakinan buddhis.
Apakah terapi aura tidak akan efektif untuk orang yg dalam hatinya baik tetapi tidak percaya Tuhan hanya karena berkeyakinan buddhis?
Yang menjadi masalahnya adalah kebanyakan para praktisi terapi aura tidak memandang SARA tetapi disarankan harus percaya adanya Tuhan, sehingga itulah yg dikawatirkan terapi aura tidak akan efektif untuk orang yg tidak percaya Tuhan hanya krn berkeyakinan buddhis di dalam hatinya.

 

semua agama , tuhan dan  Buddha adalah sama saja, cuma beda suku doang kali ya

5. Jika orang lain atau orang tuanya umat non buddhis ingin agar umat non buddhis tsb menjalankan perintah sesuai agama yang dianut, tetapi disisi lain umat non buddhis tersebut mempraktekkan ajaran buddhis yg itu artinya menyeleweng dari agama yg dianutnya.
Apakah itu termasuk perbuatan jahat kepada orang tua atau orang lain hanya karena mempraktekkan buddhis walaupun sembunyi-sembunyi apalagi terbuka malah tambah rumit jadinya?
Jika umat non buddhis yg mempraktekkan buddhis menjawab saya percaya Tuhan ketika ditanya orang lain itu namanya bohong jika di dalam hatinya dia tidak percaya Tuhan hanya karena biar posisinya aman oleh orang lain.

 

semua agama , tuhan dan  Buddha adalah sama saja, cuma beda suku doang kali ya​

Itulah inti permasalahannya. Semoga topik ini membantu umat non buddhis yg sedang mempratekkan buddhis.

​terima kasih ku ucapkan


-sukkha ada 7:

  1. sukkha pikiran 2. sukkha badan 3. sukkha wahyu 4. sukkha kemauan 5. sukkha keinginan 6. sukkha perasaan 7. sukkha kesadaran

 

 

-sati kuat menyeluruh dari mama papa

   oleh sebab ada mama dan papa -> sati kuat menyeluruh

 

   suatu hari ada anak bernama kebaikan,

   dia bertapa tapi tidak memperoleh hasil.

   selanjutnya dia bermeditasi pernapasan juga tidak memperoleh hasil.

   akibat dia punya mama dan papa yang keren dia langsung dapat sati kuat menyeluruh akibat tekad mamanya dan tekad papanya,

 


#12 beri

beri

    Baru Bergabung

  • Members
  • PipPip
  • 0
  • 24 posts
  • 0 thanks

Posted 20 June 2017 - 10:15 AM

agama Buddha tujuannya nibbana

agama Kristen tujuannya anak tuhan

agama hindu tujuannya petapa

agama islam tujuannya jadi ummat nabi Muhammad

 

awalnya semua makhluk tidak beragama pada awal kejadiannya, karena ada islam jadilah islam, karena islam tobat karena terlalu banyak kambing mati jadilah tao, oleh sebab tao tobat karena banyak gangguannya jadilah Kristen dan Buddha.


-sukkha ada 7:

  1. sukkha pikiran 2. sukkha badan 3. sukkha wahyu 4. sukkha kemauan 5. sukkha keinginan 6. sukkha perasaan 7. sukkha kesadaran

 

 

-sati kuat menyeluruh dari mama papa

   oleh sebab ada mama dan papa -> sati kuat menyeluruh

 

   suatu hari ada anak bernama kebaikan,

   dia bertapa tapi tidak memperoleh hasil.

   selanjutnya dia bermeditasi pernapasan juga tidak memperoleh hasil.

   akibat dia punya mama dan papa yang keren dia langsung dapat sati kuat menyeluruh akibat tekad mamanya dan tekad papanya,

 





0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close