Jump to content


Welcome to Wihara.com


Sign In 

Create Account
Selamat datang di Wihara.com :D , Ayo Ikutan Bergabung jadi kamu bisa mendapatkan manfaat dari sini :
Manfaat2 nya di antara lain

- Nanya2 & Sharing Pengalaman Buddhist Kamu
- Meningkatkan Kebijaksanaan Kamu
- Belajar Ngendalikan Emosi
- Menjadi Orang yg Lebih Baik
- Lebih Bahagia Dalam Hidup
- Kenalan Antar Anak Buddhist di Kota Kamu
- Gathering di Kota Masing2

Yuk Bergabung Dengan Kita :D
 

Photo
- - - - -

Semoga semua menjadi lebih baik

diskusi politik agama

  • Please log in to reply
2 replies to this topic

#1 hariyono

hariyono

    Fenomena WDC

  • Members
  • 170
  • 6,928 posts
  • 44 thanks

Posted 23 October 2016 - 11:22 AM

Belakangan ini, diskusi politik di Indonesia begitu biadab.

Suku, ras dan agama dijadikan bahan untuk saling memaki dan mencaci di ranah publik.

Orang-orang yang dulunya dianggap cerdas kini berbalik menjadi beringas, mungkin karena sakit hati, karena tak lagi mendapat kue kekuasaan.

Berbagai kelompok kepentingan yang pikirannya primitif dibiarkan merajalela di ruang publik, dan menciptakan keresahan sosial.

Mengapa mutu diskusi politik di Indonesia menjadi begitu rendah?

Penyebabnya tentu tak sederhana.

Akarnya panjang ke masa lalu yang kini terlupakan.

Ada tiga hal yang kiranya perlu diperhatikan.

Krisis di dalam Ruang Publik

Pertama,
sgama telah menjadi begitu dominan di ruang publik, sehingga merobohkan nalar kritis yang merupakan unsur penting di dalam demokrasi.

Agama selalu sudah menjadi bagian dari hidup manusia.

Namun, ketika ia digunakan untuk membenarkan kepentingan-kepentingan politik yang tidak jujur, ia justru menciptakan petaka.

Akhirnya, kita menjadi bangsa yang berlebihan doa, namun kekurangan nalar.

Dunia kehidupan adalah sumber dari pembentukan identitas dan jati diri manusia.

Sementara, sistem adalah bagian yang menjalankan fungsi-fungsi praktis kehidupan bersama.

Dalam arti ini, menurut saya, agama bisa dilihat sebagai bagian dari sistem, sekaligus dunia kehidupan.

Namun, yang kini terjadi, bagian dari sistem agama menjajah dunia kehidupan .

Akibatnya, agama menjadi organisasi politik yang tidak lagi memahami kerumitan jiwa manusia, sekaligus kemajemukan hidup bersama.

Ia tidak lagi menyediakan kedamaian dan kebijaksanaan,

tetapi menjadi alat politik untuk menyebarkan kebohongan, kebencian dan perpecahan.

Kedua,
ekonomi juga merangsek ke dalam ruang publik, dan memaksakan cara berpikirnya ke berbagai bidang kehidupan.

Inilah yang disebut sebagai homo oeconomicus.

Apa yang awalnya merupakan sebuah pengandaian di dalam ilmu ekonomi,
kini dipaksakan menjadi kenyataan yang meliputi keseluruhan hidup manusia
termasuk politik.

Bidang-bidang lain yang bermakna bagi kehidupan manusia kini terpinggirkan, dan menjadi seolah tak punya nilai.

Pandangan ini kiranya juga menguraikan, bagaimana kehidupan bersama dijajah oleh kepentingan ekonomi yang mengendepankan akal budi instrumental.

Akal budi ini tidak mendorong orang untuk mencapai pemahaman bersama, melainkan menggunakan alam,

dan juga manusia, untuk mencapai kepentingan-kepentingan ekonomi jangka pendek semata.

Ketika ruang publik dan dunia politik dijajah oleh agama dan ekonomi, maka nalar pun lenyap.

Diskusi dan perdebatan publik menjadi biadab dan miskin wawasan.

Ini tidak hanya terjadi disini , tetapi di banyak negara lainnya yang berada di persimpangan politik, seperti Amerika Serikat.

Politik semacam itu hanya akan menghasilkan pemimpin-pemimpin bermutu rendah yang akan merugikan rakyat banyak.

Ketiga,
di Indonesia, kesalehan pribadi kerap kali tidak sejalan dengan keadaban publik.

Orang bisa saleh secara pribadi, namun beringas secara publik.

Ia bisa rajin berdoa dan mengikuti ritual keagamaan, tetapi sekaligus kejam di jalan raya, dan gemar melakukan korupsi.

Diri manusia seolah berubah, ketika ia menjadi bagian dari massa.

Orang bisa saleh secara pribadi, tetapi menjadi beringas,

ketika ia menjadi bagian dari pengendara motor jalan raya yang gemar menerobos berbagai tanda lalu lintas.

Massa ini pun memiliki beragam bentuk dan ciri.

Namun, ia memiliki satu ciri dasar yang sama, yakni kekuatan di dalam jumlah.

Jumlah seolah membenarkan segalanya. Hal yang salah berubah menjadi benar, ketika banyak orang mendukung dan menyukainya.

Kekuatan jumlah bisa mengubah jati diri orang dalam sekejap.

Kerumunan massa semacam ini juga ditopang oleh miskinnya nalar yang disebarkan oleh tafsiran sesat berbagai ajaran agama (massa para fanatik religius),
dan logika mutlak ekonomi yang merangsek masuk ke dalam kehidupan bersama kita (massa konsumen yang rakus dan tak peduli).


Politik Beradab

Apakah politik Indonesia masih bisa diselamatkan dari kebiadaban yang ia buat sendiri?

Harapan selalu ada.

Namun, politik itu adalah tata kelola harapan.

Kita maju satu langkah untuk mundur setengah langkah.

Ada dua hal yang kiranya bisa dilakukan.

Pertama, kita perlu terus bersikap kritis pada penjajahan ruang publik yang dilakukan oleh agama dan ekonomi.

Ruang publik demokratis adalah ruang publik untuk semua pihak, baik kalangan yang beragama, ataupun tidak.

Ia adalah ruang terbuka, tempat berbagai pembicaraan tentang masalah hidup bersama dilakukan, tanpa rasa takut.

Sikap kritis ini perlu dikembangkan di berbagai jenjang pendidikan, baik di dalam keluarga, maupun di dalam berbagai tingkat institusi pendidikan.

Kedua, kita perlu mengembangkan sikap keadaban publik sejalan dengan kesalehan pribadi.

Orang bisa tetap saleh secara pribadi, dan kesalehan itu tercermin di dalam perilakunya di ranah umum,
seperti jalan raya, maupun panggung politik. Inti dasar dari kesalehan adalah kebijaksanaan dan keterbukaan.

Orang semacam ini jauh dari kebencian dan rasa iri, serta siap untuk hidup bersama di dalam kemajemukan.

Selama sikap kritis terawat, maka sikap beradab masih dalam jangkauan harapan.

Selama kesalehan pribadi menyebar keluar ke dalam kehidupan bersama, maka politik yang beradab masih bisa diwujudkan.

Indonesia, terutama Jakarta, kini dalam pertaruhan.

Apakah ia akan jatuh ke dalam ketakutan dan kebiadaban, atau maju menyongsong keterbukaan, demokrasi, keadilan serta kemakmuran bersama?

Kita tunggu jawabannya.


Semoga bermanfaat

Semoga akan datang lebih baik dari hari hari yang telah berlalu

Semoga semua makhluk berbahagia

#2 gempitara

gempitara

    Newbie

  • Members
  • Pip
  • 0
  • 5 posts
  • 0 thanks

Posted 18 January 2017 - 09:48 AM

semoga saja semuanya menjadi lebih-lebih baik dan terbaik



#3 memeycute

memeycute

    Newbie

  • Members
  • Pip
  • 0
  • 5 posts
  • 0 thanks

Posted 21 June 2017 - 09:22 AM

di negara ini persaingan politik membawa bawa agama







Also tagged with one or more of these keywords: diskusi, politik, agama

0 user(s) are reading this topic

0 members, 0 guests, 0 anonymous users

 
x

Halo :)

Halo :), Selamat Datang di Wihara.com :D

Yuk bergabung dengan kita, di jamin jadi lebih bijaksana, baik & sabar hehe

Kamu bisa bertanya2 ataupun sharing2 pengalaman kamu sebagai Buddhist

Ayo tunggu apa lagi, bergabung skrg :D. Click di "Register". Thanks :)
register close